Review Manga Kyou Mei Machi (E★Everystar, 2018)

Sama halnya dengan manga “King’s Game” dan “King’s Game: Origin“, Kyou Mei Machi (狂鳴街) juga terbit di majalah bulanan E★Everystar. Manga karangan Kamiya Shinji ini menawarkan sesuatu yang berbeda dalam tema life survival di dunia ala zombie. Sudah ada 25 chapter yang dihadirkan, namun sayangnya saat artikel ini ditulis sedang berada dalam status hiatus alias berhenti sementara. Sengaja biar penggemarnya geregetan mungkin.

Sinopsis Singkat

Cover manga Kyou Mei Machi 1

Dimulai dari suara serangga, sebuah wabah misterius menyerbu negara Jepang. Kaum wanita yang mendengar suara tersebut akan menjadi ganas dan dipenuhi nafsu membunuh terhadap kaum pria. Tidak butuh waktu lama hingga wabah tersebut menguasai hampir seluruh wilayah Jepang hingga dunia internasional mengambil tindakan untuk memutuskan akses Jepang terhadap dunia luar.

Penulis: Kamiya Shinji
Artis: Ashitani Abayo
Genre: Horor, Misteri, Action
Serialisasi: E★Everystar
Status: Ongoing

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Pertama-tama, suka banget dengan ilustrasinya. Ekspresi wajahnya jelas. Saat sedang adegan action pun masih tetap bisa dicerna. Perlu jadi catatan plus karena banyak juga manga sejenis yang gambarnya jadi sulit dipahami begitu masuk ke adegan penuh aksi, apalagi yang berdarah-darah.

Premis ceritanya sendiri cukup unik. Yah mungkin karena tema zombie sudah cukup padat, jadi mau tidak mau harus cari pembeda. Setidaknya lumayan berhasil. Kaum wanita yang seringkali digambarkan jadi korban kekerasan kaum pria, di sini justru sebaliknya. Satu persatu manusia yang berjenis kelamin laki-laki harus menghembuskan nafas terakhirnya di tangan mereka.

Alur cerita secara keseluruhan sebenarnya sudah bisa ditebak. Tidak jauh berbeda dengan komik sejenis. Sebagian besar twist yang dihadirkan sejauh ini pun jadi tidak terlalu mengejutkan lagi. Seperti tentang keberadaan mata-mata di antara para karakter utama, maupun tentang salah satu dari mereka yang sebenarnya merupakan hasil eksperimen. Terlalu umum untuk dibilang twist, kan?

Kendati demikian, ada satu twist yang mampu bikin saya senyum senyum sendiri. Yaitu saat belakangan diketahui bahwa yang menjadi gila karena terpengaruh suara serangga bukan hanya manusia, melainkan juga binatang. Apesnya, saat itu para tokoh utama sedang berada di salah satu kota di Jepang yang memiliki kebun binatang. Asli seru banget pas bagian ini, hehehe.


Karena masih belum berakhir, saya belum bisa menyimpulkan kualitas ceritanya secara keseluruhan. Mungkin nanti akan di-update lagi pembahasannya setelah kisahnya tamat. Yang pasti sih, sejauh ini, meski alurnya tidak benar-benar unik, tapi saya masih bisa menikmatinya. Terutama gegara ilustrasinya yang apik. Dua jempol untuk Ashitani.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply