Kamus Bahasa Semarang Lengkap

Meski sudah berkali-kali ke Semarang, termasuk ketemuan dengan teman-teman yang asli warga kota tersebut, saya baru tahu beberapa bulan terakhir kalau kota ini (dan sekitarnya) punya bahasa daerahnya sendiri, bahasa Semarang atau disebut juga Semarangan. Maka jadilah artikel ini sebagai pembuka seri tulisan Kamus Bahasa Season 2 di situs Curcol.Co. Siapa tahu bermanfaat bagi yang ingin tinggal di sana dalam jangka waktu lama. Atau setidaknya untuk sekedar menambah pengetahuan, hehehe.

Sekilas Kota Semarang

Lambang kota

Kota Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah. Luas wilayahnya yang mencapai 373,78 km2 menjadikannya sebagai kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia setelah Jakarta, Surabaya, Medan, dan Bandung. Data terbaru di tahun 2019 menyatakan bahwa jumlah penduduk kota yang berbatasan dengan Laut Jawa (utara), kabupaten Demak (timur), kabupaten Semarang (selatan), dan kabupaten Kendal (barat) ini adalah 1.6 juta jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk 4.469/km2. Mayoritas beragama Islam.

Kontur wilayah yang berbukit-bukit membuat kota Semarang secara geografis terbagi menjadi dua, yaitu Kota Atas dan Kota Bawah. Kota Atas meliputi daerah Kecamatan Banyumanik, Gajahmungkur, Tembalang, Mijen, Banyumanik, Gunung Pati, dan Ngaliyan. Sedang kota Bawah meliputi Kecamatan Semarang Tengah, Semarang Barat, Semarang Utara, Semarang Timur, Semarang Selatan, Tugu, Genuk, Gayamsari, dan Pedurungan.

Nama “Semarang” sendiri, secara etimologis, berasal dari kata “sem” dan “arang”. Kata pertama berarti “asam” atau “pohon asam”, sementara kata kedua berarti “jarang”. Jika digabungkan maka bisa dimaknai sebagai “wilayah dengan pohon asam yang jarang”. Asal mulanya adalah ketika Ki Ageng Pandanaran I datang ke pulau Tirang di dekat pelabuhan Bergota. Di sana ia melihat adanya pohon-pohon asam yang tumbuh berjarak satu sama lain (jarang jarang). Nama ini sempat berubah menjadi “Samarang” di masa kolonialisme Hindia – Belanda.

Pembagian Wilayah

Secara umum wilayah kota Semarang dapat dibagi menjadi 5, yaitu:

  • Wilayah Semarang Pusat, mencakup seluruh kecamatan Semarang Tengah, Semarang Selatan, sisi selatan kecamatan Semarang Timur, sisi utara kecamatan Gajahmungkur, dan sisi utara kecamatan Candirsari.
  • Wilayah Semarang Utara, mencakup seluruh kecamatan Semarang Utara, sisi utara kecamatan Semarang Timur, sisi utara kecamatan Gayamsari, dan sisi barat serta utara kecamatan Genuk.
  • Wilayah Semarang Timur, mencakup seluruh kecamatan Pedurungan, sisi selatan kecamatan Gayamsari, sisi utara kecamatan Tembalang, dan sisi selatan serta timur kecamatan Genuk.
  • Wilayah Semarang Barat, mencakup seluruh kecamatan Semarang Barat, Ngaliyan, Mijen, dan Tugu.
  • Wilayah Semarang Selatan mencakup seluruh kecamatan Banyumanik, Gunungpati, sisi selatan kecamatan Tembalang, sisi selatan kecamatan Candisari, sisi selatan kecamatan Gajahmungkur.

Kendati demikian, berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia, pembagian wilayah di atas tidak bersifat mengikat secara administratif. Penyebutannya acap digunakan untuk mengetahui letaknya, secara relatif, dari pusat kota saja.

Sementara itu, secara yuridis kota ini terbagi menjadi 16 wilayah administratif kecamatan dan 177 wilayah administratif kelurahan. Berikut daftar kecamatan dan kelurahan yang ada di kota Semarang.

Kecamatan Kelurahan
Banyumanik Pudakpayung, Gedawang, Jabungan, Padangsari, Banyumanik, Srondol Wetan, Pedalangan, Sumurboto, Srondol Kulon, Tinjomoyo, Ngesrep
Candisari Candi, Jatingaleh, Jomblang, Kaliwiru, Karanganyargunung, Tegalsari, Wonotingal
Gajahmungkur Bendanduwur, Bendanngisor, Bendungan, Gajahmungkur, Karangrejo, Lempongsari, Petompon, Sampangan
Gayamsari Gayamsari, Kaligawe, Pandean Lamper, Sambirejo, Sawah Besar, Siwalan, Tambakrejo
Genuk Bangetayu Kulon, Bangetayu Wetan, Banjardowo, Gebangsari, Genuksari, Karangroto, Kudu, Muktiharjo Lor, Penggaron Lor, Sembungharjo, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan, Trimulyo
Gunungpati Cepoko, Gunungpati, Jatirejo, Kalisegoro, Kandri, Mangunsari, Ngijo, Nongkosawit, Pakintelan, Patemon, Plalangan, Pongangan, Sadeng, Sekaran, Sukorejo, Sumurejo
Mijen Cangkiran, Bubakan, Jatibarang, Jatisari, Karangmalang, Kedungpane, Mijen, Ngadirgo, Pesantren, Polaman, Purwosari, Tambangan, Wonolopo, Wonoplumbon,
Ngaliyan Bambankerep, Beringin, Gondoriyo, Kalipancur, Ngaliyan, Podorejo, Purwoyoso, Tambak Aji, Wonosari
Pedurungan Gemah, Kalicari, Muktiharjo Kidul, Palebon, Pedurungan Kidul, Pedurungan Lor, Pedurungan Tengah, Penggaron Kidul, Plamongan Sari, Tlogomulyo, Tlogosari Kulon, Tlogosari Wetan,
Semarang Barat Bojongsalaman, Bongsari, Cabean, Gisikdrono, Kalibanteng Kidul, Kalibanteng Kulon, Karangayu, Kembangarum, Krapyak, Krobokan, Manyaran, Ngemplaksimongan, Salamanmloyo, Tambakharjo, Tawangmas, Tawangsari
Semarang Selatan / Barusari, Bulustalan, Lamper Kidul, Lamper Lor, Lamper Tengah, Mugassari, Peterongan, Pleburan, Randusari, Wonodri
Semarang Tengah Bangunharjo, Brumbungan, Gabahan, Jagalan, Karangkidul, Kauman, Kembangsari, Kranggan, Miroto, Pandansari, Pekunden, Pendrikan Kidul, Pendrikan Lor, Purwodinatan, Sekayu
Semarang Timur / Semarang Wétan Bugangan, Karangtempel, Karangturi, Kebonagung, Kemijen, Mlatibaru, Mlatiharjo, Rejomulyo, Rejosari, Sarirejo, Bandarharjo
Semarang Utara / Semarang Lor Lor, Dadapsari, Kuningan, Panggung Kidul, Panggung Lor, Plombokan, Purwosari, Tanjungmas
Tembalang Bulusan, Jangli, Kedungmundu, Kramas, Mangunharjo, Meteseh, Rowosari, Sambiroto, Sendangguwo, Sendangmulyo, Tandang, Tembalang
Tugu Jerakan, Karanganyar, Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Mangunharjo, Randu Garut, Tugurejo

Bahasa Jawa Semarang

Bahasa Jawa Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang digunakan di Karisedanan Semarang. Sekilas tidak jauh berbeda dengan di daerah lainnya di pulau Jawa, khususnya area Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hanya sebagian saja yang mengalami ‘modifikasi’, baik dari segi arti maupun penggunaan sehari-hari. Ini yang lantas disebut sebagai bahasa Semarangan.

Sebagai contoh, kata “ora” atau “ra” dalam bahasa Jawa yang berarti “tidak” dalam dialek Semarangan berubah menjadi “orak” atau “rak”. Contoh lain, frase “yo ora” yang berarti “ya tidak” berubah menjadi “yo orak too”. Ada juga “kuwi ugo” yang berarti “itu juga” yang berubah menjadi “kuwi barang”.

Sama halnya dengan beberapa wilayah lain di Jawa, dialek Semarangan punya kata-kata khas yang sering diucapkan dan menjadi pembeda. Seperti “piye jal?” (bagaimana coba?), “apik ik” (bagus sekali), “he’e” (iya), dan lain-lain.

Bahasa Prokem Semarang

Bahasa prokem Semarang pada dasarnya memiliki konsep yang sama dengan bahasa walikan Malang, dimana tatanan huruf yang ada dipindah urutannya. Yang membedakan, bukan urutan hurufnya yang dibalik begitu saja, melainkan berdasarkan tabel aksara Jawa.

Perhatikan gambar berikut.

Tabel aksara Jawa

Keduapuluh aksara Jawa di atas dibagi menjadi dua kelompok. Sepuluh pertama dibaca sesuai urutan, sedang sisanya dibaca terbalik. Dua deret tersebut lantas disusun dalam dua baris. Setelah itu, masing-masing huruf konsonan pada kata baku bahasa Jawa ditukar dengan huruf dari baris yang berlawan. Untuk huruf vokal sendiri diabaikan / dibiarkan sesuai aslinya.

Dengan mengaplikasikan rumus di atas, maka urutannya menjadi sebagai berikut:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
ha na ca ra ka da ta sa wa la
nga tha ba ga ma nya ya ja dha pa

Lalu bagaimana cara mengubah kata baku menjadi bahasa prokem? Berikut contohnya.

Bahasa Jawa baku Bahasa Prokem Semarang
bapak (ba + pa + k) ba->ca + pa->la + k->m = calam
mangan (ma + nga + n) ma->ka + nga->ha + n->th = kahath
turu (tu + ru) tu->yu + ru->gu = yugu

Gampang, kan? Tinggal dicari saja padanan hurufnya dari tabel di atas. Jika huruf baku ada di baris 1, berarti huruf prokemnya ada di baris 2 pada kolom yang sama. Begitu pula sebaliknya.

Kamus Bahasa Semarang

Berikut ini kumpulan kata-kata dalam bahasa Semarang, baik yang merupakan bahasa Semarangan asli maupun bahasa prokem (yang umum digunakan sehari-hari), beserta arti dan maknanya dalam bahasa Indonesia. Kamus bahasa Semarang lengkap ini kami susun dari berbagai sumber terpercaya, namun tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan atau kesalahan dalam penyusunannya. Jadi, jangan sungkan-sungkan untuk mengoreksinya melalui kolom komentar yang ada di bawah, ya. Begitu pula jika ada kata-kata lain yang perlu untuk ditambahkan. Cuss diinfokan di bawah.

Kata Semarangan Artinya
Aeng-aeng banyak maunya
Aleman manja
Ambung cium
Ameh akan, mau, hampir
Asem ki, asem ik umpatan tentang sesuatu yang tidak diharapkan
Atis dingin untuk minuman atau sejuk untuk hawa
Atos keras (benda), sinis (omongan)
Badhek bau tidak sedap
Bah orang / cah
Bajindul ungkapan kesal khas semarang
Bak-buk impas
Balangan rombengan / bekas
Banger bau tidak sedap seperti bau amis/ sampah
Bei tangga siku / tangga yang asa kakinya
Bekah-bekuh mengeluh
Belgedes ungkapan kesal khas semarang
Bentengan sejenis permainan kejar-kejaran anak, di daerah lain ada yang bernama jek-jekan
Benthik sejenis permainan anak, di daerah lain ada yang menamakannya pathil lele
Blaik / Lhais suatu ungkapan tentang kekagetan
Blanggem ubi goreng
Blasak kesasar, sesat
Blumbang jurang
Blusuk ungkapan kesal khas semarang
Bobor tidak laku
Bongkrek tempe basi
Boro-boro jangankan
Brei dewasa
Brom pit sepeda motor
Blaik Ungkapan kekagetan atau menakut-nakuti untuk bercanda
Cah bocah, pangilan khas semarang
Caklam bapak
Camak emak, ibu
Car selesai, bar
Ceng ceng po sahabat kental
Ciak makan
Ciamik hebat, keren, bagus
Ciblek cilik-cilik betah melek, istilah untuk kupu-kupu malam abg
Coa-coa menggosip, ngomong membesarkan/ menyebarkan isu atau fitnah
Coa ngomong besar
Congyang sejenis minuman keras khas semarang
Coro suami / istri
Damu tiup
Dapuran ungkapan kasar pada kelakuan orang
Datsu sejenis angkutan kota, aslinya merupakan kependekn dari merk kendaraan daihatsu
Deknen dia
Demit setan / hantu
Denok mbak, gadis dewasa
Denyom perempuan, gadis, kekasih wanita
Dhit uang
Dikedhuk diaduk
Dilimpe dibantai/ dihajar
Dis sudah
Ditekak-tekuk diperbaiki dengan berbagai cara
Dlongop melamun
Dol putus/rusak
Dudukan galian
Enggok-enggokan tikungan
Gacuk andalan, modal
Galap balap, pit galap = sepeda balap
Gali preman pasar
Gamdho, gomdhe banyak uang
Gamjet, gomjet bokek
Gam tidak, rak
Gathi berani
Gembeng orang yang suka menangis/ tidak berani
Gemblek selingkuhan
Genjot mengayuh, bisa juga berkonotasi lain seperti digenjot = dipukuli tanpa ampun
Gentho orang yang memegang suatu kawasan.
Gerang dewasa
Gethe sini
Gilo-gilo penjual aneka jajanan pasar yang didorong dengan gerobak dorong.
Githik dipukul
Gojek, gojekan bercanda
Gombal mukiyo ngomong gombal alias bohong
Gomom rokok
Gondes geblek (lebih halus dari goblog), kepala batu / keras kepala, Gondrongan Deso / bergaya kampungan
Gothek perahu
Gotho sana
Grak-grek berbuat macam macam
Grapyak mudah bergaul
Gress masih baru
Growang berlubang
Gundul pecengis sejenis hantu yang menyerupai potongan kepala manusia yang sedang meringis
Gung belum
He eh iya atau mengiyakan
Ik akhiran yang menegaskan tentang sesuatu
Ijik masih
Ita-itu berbuat macam macam
Itir-itir
Iwak ikan
Jadwal sandal
Jan ungkapan kesal
Jare katanya
Jarke dibiarkan
Jeblog berlumpur atau jelek (nilai)
Jebule padahal
Jejum besok
Jelayu sepatu
Jembet penakut, tidak berani
Jemopah sekolah
Jem dulu
Jeng-jeng jalan-jalan
Jes semacam toss, khas semarang
Jetheng senang
Jet uang
Jikuk mengambil sesuatu
Jilum mengambil sesuatu
Jipeh meminjam
Jipungan permainan petak umpat
Jirih penakut, tidak berani
Jogjig kendaraan untuk menghaluskan jalan yang sedang diaspal
Jolo siapa
Jon panggilan khas
Juju payudara
Jumeh kaya
Juthat khitan, sunat
Kacung pembantu
Kahat makan
Kahit bermain kartu
Kakeane semacam makian
Kaliren kelaparan
Kamso kata makian untuk membodohkan seseorang, serupa 'ndeso'
Kandani ok tanggapan mengiyakan ungkapan orang lain
Kangkrengane versi halus dari 'kakeane'
Kapiran kelaparan
Kas bang / mas, panggilan atau sapaan akrab
Katut terbawa
Kayi mati
Keblondrok membeli sesuatu tapi tidak sesuai harapan
Kecelik tertipu
Kei beri, kasih
Kelebon kemasukkan
Kemaki sombong, besar kepala
Kemayu ungkapan bagi perempuan yang suka bergaya
Kementus sombong, besar kepala
Kemlinthi tengil, nakal, nyebelin
Kempling mengkilap, seperti baru
Kenang mas, perjaka dewasa
Kenthip jauh banget, mabuk
Keplek main kartu
Kesuwen kelamaan
Ketar-ketir waswas, khawatir
Kiye mengandung
Klamu jalan
Klowor tidak rapi
Kolir miskin, tidak bisa makan
Komble pelacur
Konangan ketahuan, dipergoki
Kongkow nongkrong
Kopen terpelihara
Koplak goblok, bodoh
Kopros sebutan bagi orang yang berpenampilan urakan / tidak rapi
Kopyor pecah
Kota-kota jalan-jalan ke kota
Koya banyak omong tapi tidak berani berbuat seperti yang diomongkan
Koyor kendaraan roda 2
Krenyeh kualitas rendah untuk suatu barang, bisa disamakan dengan ecek-ecek
Kukut tutup jualan
Kupeh kembali
Lautan istirahat jam 12 siang buat pekerja
Leda-lede sama halnya grakgrek atau ita-itu
Lepek mangga
Lha ungkapan khas semarang, biasanya mengawali perkataan
Lheb hebat dan ok, kadang ditekankan jadi lheb ghodek
Lib / cup mengincar (ngecing) sesuatu
Lik sebutan bagi orang yang berjualan
Lungset tidak rapi (belum digosok)
Luweh lebih, biar
Madani menyamakan
Madhet menikah
Magate karate
Mbatik menyalin, dalam hal ini pekerjaan rumah (pr), sebelum jam pelajaran mulai
Mbeling nakal, bandel
Mbengok teriak
Mberung marah
Mbesengek ungkapan kesal
Mbois bergaya sok, gembagus
Mbojo pacaran
Mbuh tidak tau
Megom berpenyakit kulit
Memi beri
Mentu keluar
Merso bekerja
Mlencing mengambil barang orang tanpa bayar
Mlengse meleset atau tidak tepat sasaran
Mlocot, mlonyot luka bakar, namun biasa digunakan sebagai kata makian
Moci minum wedang poci, bisa juga berkonotasi negatif
Modhar hancur (kasar)
Modhe kamu
Molom berpenyakit telinga
Mudhi itu
Mudun sebutan orang yang tinggal di candi, banyumanik, maupun srondol yang mau ke kota
Munggah suatu sebutan untuk menyatakan tujuan ke kota atas, seperti srondol, ngesrep dan banyumanik.
Montor garuk mesin excavator
Montor mabur pesawat terbang
Namatke mengamati, melihat dengan seksama
Naming namun
Nas semacam pause atau time out untuk permainan anak-anak
Ndaho sohor/ termasyur
Ndak iya apa iya
Ndas kepala
Nda sapaan khas semarang, penghalusan dari ndes
Ndesit kata halus dari kata umpatan ndeso, berarti kampungan atau tidak punya sopan santun
Ndes sapaan khas semarang, singkatan dari gondes
Ndobol kurang lebih sama seperti gombal mukiyo, tapi lebih kasar
Ndolor berakal
Ndoyong a jong sikap ndoyong yang diperagakan ala suhu a jong, jago kungfu jaman dulu dari semarang
Ndoyong sesuatu yang miring atau tidak stabil, rawan jatuh. Bisa untuk orang (karena mabuk), atau benda.
Ndrawasi mengkhawatirkan
Ndredeg gemetar, berdebar debar
Ndul sapaan seperti halnya ndes
Necis berpakaian rapi
Ngagel mau, hendak
Ngameh banyak
Ngarahku menurut pendapat saya
Ngasi ungkapan khas "jo ngasi"
Ngatham anak
Ngece mengejek
Ngekek tertawa terbahak-bahak
Ngeleh lapar
Ngengkrengan perkiraan biaya
Ngentos, ngenthos menunggu lama sekali
Ngepek mencontek
Ngeper merasa rendah
Ngerek mengangkat, menarik ke atas
Ngernyi tahu
Ngetham enak
Nggambleh ngomong tong kosong tapi sampai berbusa-busa
Nggambus omong kosong, nggedabrus atau bohong
Nggapleki kata makian, kampungan
Nggasruh ngawur
Nggataki, nggathaki sama dengan nggambus (berbohong)
Nggateli menyebalkan
Nggedebus omong kosong atau jagoan omong kosong
Nggendera ngetop, terkenal
Nggonduk gondok, dongkol
Nggragas rakus
Nggreges panas dingin
Ngicuk ibu
Ngijo bisa
Ngimi ini
Ngincim mengancam
Nginguk melihat
Ngiras suka jajan
Ngiyum dapat
Nglayap keluar rumah jalan jalan
Ngobrok buang air besar di celana
Ngoce minum
Ngoce minum, tapi lebih dikonotasikan untuk minuman keras
Ngokah rumah
Ngokong bicara
Ngolo apa
Ngothek bicara lantang, ngothek-ngothek
Ngreyen mencoba sesuatu yang baru
Njedul muncul
Njembling buncit
Njeplak asal ngomong
Njlimet rumit
Ntes barusan
Nunum bersetubuh
Nyamari mengkhawatirkan
Nyamari tidak terlihat jelas dalam konotasi sesuatu yang berbahaya
Nyebahi menjengkelkan
Nyegrik bersikap tidak menyenangkan
Nyeleneh tidak sesuai aturan / kebiasaan
Nyetut mengambil barang orang tanpa ijin
Ok akhiran untuk menegaskan sesuatu yang telah dilakukan
Ot omong tok, hanya bicara tapi tidak bisa melakukan
Pak sapaan khas semarang, singkatan dari bapak. Bisa digunakan untuk menghormati teman akrab dan menganggap diri sama-sama dewasa
Pathang laki-laki, cowok
Pating tlecek ungkapan untuk sesuatu yang jumlahnya banyak
Patiya terlalu
Peceren air kotor / got
Pedhot putus atau kalah bersaing
Pekok bodoh
Pemes pisau silet
Petengseng banyak polah
Pit kebo sepeda onthel yang sudah tua
Piye jal bagaimana coba
Plengeh orang yang tidak bisa apa apa
Plinteng, plintheng ketapel
Pongkring gering, kurus
Potnye psk
Precil kecil
Prek celetukan untuk dibiarkan
Puho pergi
Rjj rak jak jak, tidak ajak ajak
Rw rica waung / rica anjing
Ra mang tidak usah
Rak wis mempermudah masalah
Ratan jalan raya
Reka rekae pura-puranya
Rempon dikeroyok
Repek senang
Reti mengerti
Rewo-rewo ramai ramai, bersama-sama
Rodo membawa
Ropem mencari
Ruwi besar
Rob air laut naik ke permukaan
Sak-sake sembarangan
Sakbajek sangat banyak
Sakjose ungkapan yang berarti 'paling'
Sali kaya
Sangar menakutkan
Sanggong menunggu
Sarakke karena
Sebeh semeh bapak dan ibu
Sebeh, sebehan ilmu hitam, jimat
Seje hanya itu
Semawis sebutan halus untuk kota semarang
Semok seksi dan montok
Semprul ungkapan rasa kesal
Senep ungkapan tidak suka pada orang lain
Sengak berbau apek, ketus
Sengit ungkapan benci pada sesorang
Senthet retak, tidak waras
Shonji mantra
Sikim belati
Silir sejuk karena angin
Singsot bersiul
Songsro gerobak dorong
Sontoloyo ungkapan rasa kesal pada sesorang
Stel kendho pelan pelan
Stin kelereng, stinan = bermain kelereng
Stut sabuk
Suk suk peng sejenis permainan anak
Surungan minuman penghantar makanan, biasanya berkonotasi pada minuman keras
Tekke berarti 'utekke' atau otaknya, sesuatu yang tidak masuk akal untuk dilakukan
Temangsang nyangkut
Tepu tipu, berkata bohong
Tese tekke versi halus
Thetek bengek berbagai macamnya
Tho ya sama dengan 'dong' dalam dialek betawi
Thok cap / stempel
Tikel kelipatan
Tingnyi kemana
Tok hanya
Trek-trekan kebut kebutan
Tumplek bleg semua bercampur jadi satu
Udud merokok
Ujug-ujug tiba-tiba
Ujung-ujung keliling bersilaturahmi
Umbul mainan gambar dari semacam kertas karton yang cara mainnya dilempar ke atas
Undha-undhi hampir sama
Urun ikut serta
Usum musim
Wagu sesuatu yang dianggap tidak oke dan cenderung katrok
Walah aduh
Waung anjing
Wedhus balap sama seperti waung (anjing)
Yem habis
Yisto singkatan dari yo wis to (ya sudah kan)
Yugum alat kelamin perempuan

UPDATE 15/01/20: Tambahan kata ‘rob’, ‘montor garuk’, ‘montor mabur’, ‘gondes’, ‘blaik’, ‘lhais’

kamus bahasa semarang lengkap

7 Comments

  1. Mankyos 41661

    Ralat
    Gondes/Ndes = Gondrongan Deso / bisa juga maksudnya gayanya kampungan
    Montor garuk = alat mesin Bego
    Montor mabur = Pesawat
    Blaik/Lhais
    Rob = air laut naik ke permukaan (diserap oleh Bahasa Indonesia)

  2. adi

    kamso=singkatan kampungan tur ndeso
    songsro? songkro? =gerobak kecil
    kenthip = tinggi sekali -> layangane diumbulke sampe kenthip
    -> omonagne kenthip

    singkatan2 :
    randendit= ora ndiwe duit
    pitiki =piye to iki
    mangpi =limang rupiah

  3. Ikhwal

    Untuk “aku kangen/rindy kamu, apa kabar?” Dalam bahasa Semarang apa ya? Terima kasih

    • yuyu kangkang

      basa semarangan jarang sing lenjeh ngene ki, hehehe
      apa aku tok ya, hehehe karang ra tau mbojo jaman sekolah

      biasane sing do ngomong ngene ki sing basane indonesia nan hehehe

  4. Bru

    Basa walikan yg dijelaskan itu basa walikan yogyakarta..kalau basa walikan malang lebih ke membaca daei belakang misal : arek malang jadi kera ngalam.
    Perbanyak referensi lagi

Leave a Reply