Dongeng Motivasi: Tinggi Menuju Angkasa

Di cerita sebelumnya, Rufi berusaha mati-matian mencari bunga AntiEntupanLebahtus untuk obat penawaran penyakit EntupanLebahtus yang ia derita. Tanpa disangka, ia bertemu kembali dengan Pino dan Poni yang tengah kebingungan karena bunga AntiEntupanLebahtus yang sudah berhasil mereka kumpulkan untuk ibu mereka dibuang oleh monyet preman bertato. Timbul pertentangan batin dalam diri Rufi walau pada akhirnya ia mengambil sebuah keputusan dengan bulat. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak kelanjutan kisah Petualangan Rufi Rusa dalam dongeng “Tinggi Menuju Angkasa” berikut ini.

Perkenalan Karakter

Karakter utama dalam dongeng motivasi kali ini adalah Rufi, Libi, dan Rena.

Rufi, rusa jantan remaja beranjak dewasa. Hampir berumur 20 tahunan jika disetarakan usia manusia. Cekatan, ulet, dan suka berpikir. Yatim piatu. Diam-diam mencintai Rena.

Libi, musang jantan, sepantaran Rufi. Terkenal licik dan suka menipu di hutan. Tidak suka bersosialisasi jika tidak ada untungnya bagi dia.

Rena, rusa betina remaja beranjak dewasa. Sepantaran dengan Rufi usianya. Memiliki wajah yang cantik menawaran dan bulu yang berkilauan. Lembut dan baik hati.

Karakter pendukung dalam cerita kali ini, baik yang ikut terlibat maupun hanya disebutkan namanya, adalah kakek Tore, Pino, dan Poni.

Tinggi Menuju Angkasa

— Enam hari setelah Libi Musang kembali ke hutan —

“Jadi kamu benar-benar ingin pulang sekarang?”, tanya Libi Musang.

“Ya,” jawab Rufi Rusa sambil memasukkan beberapa kantong snack ke dalam tas ransel berwarna hitam miliknya. “Besok hari ulang tahun Rena, sahabatku. Aku ingin ada di sana pada saat itu. Lagipula, jalan tembus dari hutan ke lembah kan sudah selesai dibangun. Apabila aku berlari seharian, pasti besok aku sudah sampai di lembah.”

“Oh, begitu,” ujar Libi pura-pura acuh.

Tiba-tiba Rufi menghentikan aktivitas beres-beresnya dan menatap ke arah Libi. “Ngomong-ngomong, luka di badanmu itu karena apa? Bukannya beberapa hari lalu kamu baik-baik aja?”

“Ini?” jawab Libi sambil mengalihkan pandangannya ke seberang. Ada dua ekor anak tupai dan induknya sedang berjalan beriringan dengan penuh semangat. Dari tawa dan senyum mereka yang lepas sepertinya mereka sedang bersuka cita. Dengan suara yang agak pelan ia melanjutkan kata-katanya. “Bukan apa-apa. Hanya lecet sedikit gara-gara terjatuh waktu main futsal dua hari lalu”

“Hmmm,” Rufi terdiam sejenak dan kemudian menata kembali barang-barang di dalam ranselnya. Ia tidak percaya dengan jawaban Libi karena ia yakin 200% bahwa Libi lah yang mengambil bunga AntiEntupanLebahtus yang ada di dalam hutan semak berduri, memasukkannya ke dalam kotak, dan diam-diam meletakkannya di belakang Rufi pada saat kemarin ia duduk di tepi danau. Namun Rufi juga menyadari bahwa si musang yang selama ini licik dan hanya mementingkan diri sendiri itu mungkin malu untuk mengakui bahwa ia telah melakukan perbuatan baik.

“Lenganmu bagaimana?” tanya Libi. “Sudah sembuh?”

“Sudah. Nih!” jawab Rufi sambil menyodorkan lengannya yang dibalut perban. “Dokter Surip juga kemarin menyarankan untuk membalutnya dengan perban, agar tidak terkena debu dan mempercepat proses penyembuhannya. Ya udah, aku langsung start action aja. Daripada bengkak terus-terusan.”

Libi melirik sekilas ke arah lengan Rufi dan kembali mengarahkan pandangannya ke seberang jalan.

“Yak, beres sudah,” ujar RUfi sambil mengencangkan tali pengikat ranselnya dan memanggulnya di punggung. “Kalau begitu aku pamit dulu ya.”

“Ya, ya, pergi sana. Hati-hati,” kata Libi, masih dengan gaya yang sok cuek.

“Libi,” panggil Rufi lembut.

“Huh? Apa?” Libi menolehkan kepalanya ke arah Rufi.

“Terima kasih banyak ya,” ujar Rufi sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya.

“Terima kasih? Untuk apa?”

Rufi tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya ke arah Libi dan terus berjalan, atau lebih tepatnya berlari kecil, ke arah perbatasan hutan.

“Hei!!! Terima kasih untuk apa???” teriak Libi.

Tak lama kemudian Rufi pun hilang dari pandangan Libi.

“Dasar rusa bodoh pembohong…” gumam Libi lirih.


Keesokan harinya, tibalah Rufi di lembah tempat tinggal kelompoknya. Beberapa ekor rusa yang melihat kedatangannya sejenak menghentikan aktivitas mereka untuk menyapa dan menanyakan kabar Rufi. Dengan ramah Rufi membalas sapaan mereka.

“Halo Rufi, bagaimana kabarmu?” tanya kakek Tore.

“Baik, kek. Sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus memberikan banyak pelajaran bagi hidupku.”

Kakek Tore tersenyum bangga.

Thanks God I’ve never stop dreaming,” ujar kakek Tore sok bule. “Aku tahu bahwa suatu saat kamu akan menjadi orang yang bijaksana, Rufi.”

Rufi hanya tersenyum mendengar perkataan kakek Tore. Tiba-tiba ia sadar bahwa dari tadi ia belum melihat Rena. “Ngomong-ngomong si Rena ada dimana ya, kek? Aku sudah menyiapkan kado untuknya nih.”

“Kalo tidak salah ia tadi bilang akan berjemur di lapangan rumput sebelah barat air terjun. Dari dua hari lalu ia menanyakan kamu loh.”

“Oh, ya?” jawab Rufi sambil tersenyum. “Kalau begitu aku segera ke sana, kek.”


Rufi melangkahkan kakinya memasuki lapangan rumput hijau yang hampir seluas lapangan bola itu. Tangan kirinya memegang perban yang membalut lengan kanannya. Meskipun sejak tadi ia terus berusaha untuk ramah dan tersenyum di hadapan rusa-rusa yang lain — terutama kakek Tore — sebenarnya dari semalam bekas gigitan lebah EntupanLebahtus yang ada di lengannya terasa membara. Bahkan ia merasakan panas dalam tubuhnya yang seolah menjalar, dari lengan hingga ke ujung kaki dan rambutnya.

Sejenak ia menghentikan langkahnya dan memandang sekelilingnya. Memori saat ia dan Rena sering bermain di lapangan rumput ini bagaikan terputar kembali di pikirannya. Seperti sebuah film pendek.

Tersenyum Rufi melangkahkan kakinya kembali, ke arah pohon beringin besar yang tumbuh di bagian tengah lapangan rumput tersebut. Ia yakin Rena berada di sana. Menunggunya.

“Lapangan rumput,” RUfi berujar dalam hati, “kamu memang menyimpan banyak kenanganku bersama Rena.”

Sekitar 20 langkah kemudian, pohon beringin besar itu mulai terlihat. Tiba-tiba…

“Tolong, ada pemburu,” teriak Rena sambil berlari kencang ke arah Rufi.

Rufi tersentak dan bergegas menyongsong Rena. Matanya menyipit, mencoba mencari tahu dimana lokasi para pemburu yang dimaksud Rena. Ternyata benar, sekitar 100 meter di belakangnya, ada setidaknya 5 orang pemburu berpakaian hijau coklat sedang membidikkan senapannya ke arah Rena.

Sekejab kemudian Rena sudah sampai di tempat Rufi berdiri. Rufi pun membalikkan badannya, bersiap untuk berlari di belakang Rena. “Ayo Rena, lari sekuat tenaga. Begitu keluar dari lapangan rumput ini kita pasti bisa dengan mudah meloloskan diri dari para pemburu jahat tersebut.”

Tanpa menghentikan langkahnya Rena menoleh ke arah Rufi dan mengangguk. “Kamu juga, Rufi.”

Rufi menjejakkan kakinya ke tanah, mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tapi tiba-tiba lututnya terasa lemas. Panas membara. Demikian pula jantungnya yang terasa semakin berdebar dan berdetak kencang.

“Sepertinya memang sudah waktunya…” kata Rufi dalam hati. Ia menatap ke arah Rena berlari dan melihat bahwa sahabat yang dicintainya itu sudah hampir sampai di pinggir lapangan. Ia pun kemudian membalikkan badannya, ke arah para pemburu yang kini sudah semakin dekat dengan dirinya.

Rufi menarik nafas panjang. Ia kerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menahan sakit di kakinya dan mulai berlari ke arah para pemburu.


Rena hampir menabrak kakek Tore ketika ia berlari melewati tikungan pertama yang ada di dekat lapangan rumput.

“Ada apa Rena? Kenapa kamu berlari seperti itu?”

“Ada pemburu, kek! Mereka mengejarku dan Rufi!”

“Apa?? Kalau begitu, cepat sembunyi di balik gundukan tanah yang ada di dekat semak belukar itu. Mana Rufi?”

“Dia ada di bela…”

Dorrrr!!!!!

Kata-kata Rena terhenti oleh sebuah suara tembakan yang cukup keras terdengar.

Dorrrr!!!!! Dorrrr!!!!!

Rena dan kakek Tore menatap ke arah lapangan rumput. Mereka terdiam. Meski tahu apa yang mungkin telah terjadi pada Rufi, mereka tetap berdiri di sana dan berharap akan ada keajaiban.

Lapangan rumput yang sempat gaduh ketika ledakan tersebut meletus perlahan-lahan mulai tenang kembali. Sunyi. Hanya ada suara rumput yang bergesekan karena tertiup angin.

Dan dari arah suara tembakan tersebut, tampak seekor kupu-kupu berwarna putih biru terbang melayang. Tinggi menuju angkasa.

bersambung…

Moral Cerita

Pesan moral yang bisa diambil dari cerita ini adalah:

“Perbuatan baik kadang membutuhkan konsekuensi yang cukup besar. Jika Anda memutuskan untuk melakukannya, jangan pernah sesali hal itu di kemudian hari.”

Cerita ini saya tulis pada tanggal 10 September 2009. Arsip publikasi pertama tulisan ini bisa dibaca di: https://web.archive.org/web/20100113195503/http://dongengmotivasi.com/tinggi-menuju-angkasa.htm

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply