Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 4 & Preview Episode 5 (24 Desember 2016)

Di sinopsis Solomon’s Perjury episode sebelumnya, jiwa keadilan Ko Seo-Yeon (Kim Hyun-Soo) membuatnya tidak tahan lagi untuk berdiam diri. Sebuah insiden dengan bu dekan (Oh Yoon-Hong) memicunya untuk mengajukan proposal diadakannya pengadilan sekolah. Pak Wakasek (Ryu Tae-Ho) yang menjadi kepala sekolah sementara menggantikan pak kepsek (Yoo Ha-Bok) yang tersandung kasus surat dakwaan tidak kuasa menghalanginya. Ia pun memberi syarat pengumpulan 500 tandatangan dari murid SMA Yeung-Guk sebelum bisa menyetujui proposal tersebut. Dengan bantuan teman-temannya, termasuk Han Ji-Hoon (Jang Dong-Yoon), Seo-Yeon mulai berjuang demi terungkapnya kebenaran dalam insiden kematian Lee So-Woo. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 4 kali ini?

Dok. gambar dan video © JTBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 4

Begitu Seo-Yeon keluar dari ruang ganti, Lee Yoo-Jin (Ahn Sol-Bin) langsung menanyakan apakah Ji-Hoon jadi bergabung dengan mereka. Ia juga meminta maaf karena sudah diam-diam merencanakan konser itu bersama yang lain.

“Kamu tidak harus memblokirku,” ujar Seo-Yeon kesal, “Kamu tidak tahu betapa khawatirnya aku?”

“Kamu akan membuat masalah kalau kamu melihat konsep posternya,” balas Kim Soo-Hee (Kim So-Hee).

“Tapi begitu..”

“Aw, jadi kamu sedih karenanya?” goda Yoo-Jin sembari mencubit pipi Seo-Yeon.

“Jadi apa yang akan kita lakukan? Apa dia bergabung?” tanya Choi Seung-Hyun (Ahn Seung-Kyoon). “Dia keluar?”

“Aku bergabung,” jawab Ji-Hoon.

Yoo-Jin girang mendengarnya. Ji-Hoon lantas mendatangi Bae Joon-Young (Seo Ji-Hoon) dan menyodorkan tangan untuk berkenalan dengannya.

Ibu Lee Joo-Ri (Kim Jung-Young), dengan didampingi oleh Lee Joo-Ri (Shin Se-Hwui), membuat sebuah rekaman video yang menyatakan bahwa Joo-Ri hanya sekedar membantu temannya yang menjadi saksi sebuah pembunuhan. Ia tidak terima dengan orang tua tertuduh yang kemudian menuntut putrinya, serta teman sekelas Joo-Ri yang mem-bully-nya. Dengan mengangkat kondisi Joo-Ri yang kini tidak bisa bicara karena syok dan juga tidak bisa bersekolah lagi, ia mempertanyakan tertuduh yang justru bisa baik-baik saja menjalani aktivitasnya.

Seo-Yeon dkk menyerahkan 525 form lembar persetujuan diadakannya pengadilan sekolah pada pak wakasek (Ryu Tae-Ho). Sebagai tambahan, mereka juga mengajukan pembentukan klub sekolah baru.

Merespon hal itu, bu dekan (Oh Yoon-Hong) kemudian memberitahu para guru bahwa untuk membentuk klub sekolah diperlukan seorang guru sebagai sponsor. Semua guru menolak dengan berbagai alasan. Ia pun tersenyum senang dan berniat untuk melaporkan hal tersebut pada wakasek.

“Aku akan melakukannya,” tanpa disangka-sangka bu guru Kim (Shin Eun-Jung) tiba-tiba bersuara.

Bu dekan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah bu guru Kim dengan kesal.

“Aku bisa bertanggung jawab terhadap klub pengadilan sekolah,” lanjut bu guru Kim.

Bu guru Kim menunjukkan ruangan di sekolah yang bakal menjadi ruang klub bagi Seo-Yeon dkk. Mereka kaget mendapati ruangan yang berantakan dan kotor. Bu guru Kim juga mengerjai mereka dengan mengatakan ada kulit ular di pojokan. Yoo-Jin dan Seung-Hyun jadi panik mendengarnya.

“Mari kita mulai bekerja kalau begitu, untuk merayakan peluncuran klub kita,” ajak Seo-Yeon.

Bahu membahu mereka mulai bekerja membereskan dan membersihkan ruangan tersebut. Dan akhirnya tugas pertama mereka pun usai.

Ji-Hoon berlari mendatangi rumah Lee So-Woo (Seo Young-Joo). Ia mendapati So-Woo di kamarnya sedang merobek-robek kertas. Terlihat banyak pula buku dan kertas berserakan di lantai kamarnya.

“Ada apa?” tanya Ji-Hoon, “So-Woo, apa yang terjadi?”

Alih-alih menjawab, So-Woo justru berbalik menatap tajam ke arah Ji-Hoon.

Ji-Hoon terbangun dari tidurnya. Tidak jelas apakah yang barusan adalah mimpi atau adegan flashback. Mengecek ponselnya, ia membaca pesan dari Seo-Yeon yang mengabarkan adanya pertemuan pertama klub pengadilan sekolah mereka besok siang.

Ji-Hoon lantas mendatangi ruang kerja ayahnya, Han Kyung-Moon (Cho Jae-Hyun). Belum sempat berkata apa-apa, ayahnya memintanya untuk berdiri sejenak, lantas tertawa.

“Ini mengingatkanku di saat kamu masih muda,” ujarnya, “Setiap kali kamu mendapat mimpi buruk, kamu akan mengetuk pintu itu dan memeriksa apakah aku ada di sini. Wow, putraku sudah tumbuh besar.”

Ji-Hoon terdiam mendengarnya.

“Ada apa? Mimpi buruk lagi?” tanya Kyung-Moon.

“Tidak,” jawab Ji-Hoon singkat.

“Kenapa kamu ragu? Tidak ada yang tidak bisa kamu bagikan kepadaku,” respon ayahnya.

“Ayah, aku akan ada di pengadilan sekolah,” ujar Ji-Hoon, “Aku ingin mengatakan padamu sendiri, sebelum kamu mendengarnya dari orang lain.”

“Ji-Hoo, So-Woo melakukan bunuh diri. Ia tidak lagi ada di sini. Aku tahu ini berat, tapi kamu harus menerimanya.”

“Tidak seperti itu,” balas Ji-Hoon, “Orang-orang… aku tidak suka orang-orang terus membicarakan tentangnya.”

Kyung-Moon tidak lagi bisa berkata-apa. Ji-Hoon pun berpamitan untuk kembali tidur. Namun saat ia hendak melangkah keluar, ayahnya tiba-tiba memanggilnya.

“Apakah So-Woo mengatakan sesuatu kepadamu?” tanya Kyung-Moon.

Ji-Hoon hanya menatap ke arah ayahnya.

“Lupakan saja, kembalilah tidur,” respon ayahnya kemudian.

Hari berganti. Kyung-Moon mendatangi pak wakasek di sekolah. Seraya menyerahkan buku tentang peraturan sekolah yang ia ambil dari lemari buku, Kyung-Moon meminta agar pak wakasek melakukan segala cara untuk membatalkan terbentuknya klub sekolah.

“Kamu bisa menemukan alasannya,” tegas Kyung-Moon, “Jika kamu tidak bisa menemukannya, ubah peraturan sekolah. Atau buat yang baru.”

“Tapi.. Mr. Han, jika kita melakukannya, itu mungkin akan membuat para murid memberontak lebih kuat lagi,” ujar pak wakasek.

“Tapi ini lebih penting,” balas Kyung-Moon, “Insiden Lee So-Woo, anak-anak tidak boleh tahu lebih dari sekarang ini. Matikan di saat yang tepat, sehingga itu tidak mengakibatkan masalah yang lebih besar. Mengerti?”

“Ya, aku mengerti,” jawab pak wakasek.

Ji-Hoon tiba di ruang klub di saat teman-teman Seo-Yeon mengeluh dengan banyaknya hal yang harus mereka kerjakan.

“Sekolah memberikan kita batas waktu. Kita harus menyelesaikan seluruh sidang sebelum bulan Maret, di saat semester baru dimulai,” ujar Seo-Yeon pada Ji-Hoon.

Tanpa berbicara apa-apa, Ji-Hoon menghampiri papan jadwal yang dibuat oleh Seo-Yeon dan membacanya.

“Jadi kita membuat jadwal yang sesuai, dengan penugasan peran,” lanjut Seo-Yeon. “Aku adalah (jaksa) penuntut dan kamu adalah pengacara terdakwa. Sisanya juga dibagi untuk penuntut dan pengacara. Itu untuk hari pertama sidang.”

“Terlalu lambat,” respon Ji-Hoon, “Mari kita pindahkan tanggal sidang perdana ke hari Kamis.”

“Kamis?” tanya Seung-Hyun kaget.

“Kita tidak perlu terburu-buru hanya karena waktu kita diperpendek,” dalih Seo-Yeon. “Kita sudah mendapat persetujuan untuk sidang ini.”

“Sekolah belum menyetujuinya,” ujar Ji-Hoon. “Sejak saat kamu mengajukannya, dan sampai saat ini, sekolah tidak pernah menyetujuinya. Bukan begitu?”

“Kita tidak punya bayangan bagaimana cara melakukan ini,” timpal Yoo-Jin. “Kita mungkin saja akan memalukan diri kita sendiri dengan memajukannya ke hari Kamis.”

“Dia benar. Terlalu banyak orang yang menunggu kita untuk gagal,” tambah Soo-Hee. “Kita harus melakukan dengan baik untuk menunjukkan pada mereka.”

“Aku khawatir bahwa kita mungkin tidak akan mendapat kesempatan sama sekali,” jelas Ji-Hoon. “Sekolah tidak mengatakan apa-apa hingga kemarin, tapi tiba-tiba mereka memberitahu pada kita untuk mempercepatnya. Mereka pasti sudah membahasnya secara internal. Mereka berhenti memberi kita tekanan hari ini, tapi kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan berikutnya. Waktu bagi kita untuk mempersiapkan sidang adalah waktu dimana mereka akan menemukan alasan untuk membatalkan sidang ini. Jangan berikan pada mereka waktu itu. Mari kita percepat waktu sidang pertama. Kita harus memantapkan sidang tersebut seperti yang sesungguhnya. Inilah cara kita mengamankan kesempatan untuk mencari sesuatu dan membuktikannya.”

Ji-Hoon kemudian menambahkan bahwa untuk sidang pertama, sebaiknya mereka mengabaikan hal-hal yang bersifat tambahan dan fokus pada tiga hal utama saja. Yaitu, (1) apakah Choi Woo-Hyuk punya alibi di malam terjadinya insiden; (2) apakah Choi Woo-Hyuk punya motif untuk membunuh Lee So-Woo; dan (3) apakah surat dakwaan benar. Seo-Yeon menyetujuinya.

“Jika sidang pertama di adakan pada hari Kamis, berarti kita harus membawa Choi Woo-Hyuk pada hari Kamis juga,” ujarnya.

“Lee Sung-Min dan Kim Dong-Hyun juga. Nama mereka ada di dalam surat,” tambah Yoo-Jin.

“Kita hanya butuh Choi Woo-Hyuk,” timpal Joon-Young, “Dialah yang mendorong So-Woo.”

Ji-Hoon setuju dengan pendapat Joon-Young.

“Masalahnya dia seperti bos mafia,” ujar Seung-Hyun. “Tidak akan mudah untuk membawanya. Ini tidak seperti kita bisa memborgolnya dan menyeretnya ke pengadilan.”

“Kita akan beruntung kalau dia tidak memukuli kita,” tambah Soo-Hee.

“Aku yang akan membawanya,” tegas Jin-Hoon. “Aku pengacaranya. Aku akan membawanya, sebagai pengacaranya.”

“Kalau begitu, aku yang bertanggung jawab untuk membawa Lee Joo-Ri sebagai saksi kunci,” respon Seo-Yeon.

Ji-Hoon lantas mengajak mereka semua untuk meninggalkan ruang klub dan mengurus Woo-Hyuk. Yoo-Jin mengatakan bahwa mereka belum memutuskan siapa yang akan menjadi hakim di pengadilan. Dengan pede Soo-Hee menimpali bahwa hal tersebut tidak perlu didiskusikan karena sudah ada kandidat utama untuk peran tersebut.

Kandidat yang dimaksud ternyata adalah Kim Min-Suk (Woo Ki-Hoon). Soo-Hee dan Seo-Yeon lantas memaksa Yoo-Jin untuk menemui Min-Suk dan memintanya untuk menjadi hakim. Meski sempat enggan karena sering berantem dengannya, Yoo-Jin menuruti keinginan mereka.

“Apa kamu sungguh berpikir Kim Min-Suk akan setuju untuk menjadi hakim?” tanya Seo-Yeon pada Soo-Hee saat Yoo-Jin masuk ke dalam kelas untuk menemui Min-Suk. “Mereka bahkan tidak terlalu suka satu sama lain.”

“Pikirkan tentang itu. Dua anak muda saling mengatai satu sama lain setiap kali mereka bertemu. Tidakkah kamu pernah melihat ini di suatu tempat?” tanya Soo-Hee.

“Oh, dari kelas literatur,” jawab Seo-Yeon yakin.

“Ah, bukan dari pelajaran sekolah,” respon Soo-Hee kesal. “Itu bagian pertama dari semua film komedi romantis. Mereka menolak kalau mereka saling cinta. Kamu tahu fase itu, saat mereka berkelahi karena mereka saling menyukai.”

“Tidak mungkin! Yoo-Jin dan Kim Min-Suk?” balas Seo-Yeon tidak percaya.

Teori Soo-Hee terbukti benar. Sesaat kemudian Min-Suk keluar dengan malu-malu, disusul oleh Yoo-Jin yang keluar dengan gaya penuh kemenangan. Seo-Yeon hanya bisa melongo melihatnya.

Joon-Young dan Seung-Hyun masuk ke dalam bus untuk menuju tempat Woo-Hyuk dkk biasa nongkrong. Tanpa diduga, Ji-Hoon yang mengajak mereka pergi justru urung naik dan pergi meninggalkan halte bus.

“Dasar pengkhianat. Ia meninggalkan kita di medan perang,” respon Seung-Hyun kesal.

Dong-Hyun memberitahu Woo-Hyuk tentang adanya pengadilan sekolah. Woo-Hyuk memintanya untuk mengabaikan saja hal itu.

“Tapi kamu tahu, pada hari itu…”

Belum sempat Dong-Hyun menyelesaikan kata-katanya, perut Woo-Hyuk sakit dan ia pun pergi ke toilet. Di saat yang sama, Seung-Hyun dan Joon-Young tiba, dengan memasukkan wajah mereka dalam-dalam di balik mantel dan topi yang mereka kenakan agar tidak ketahuan.

“Apa kamu mencurigai kita?” tanya Sung-Min tanpa basa-basi pada Dong-Hyun.

“Kapan?” tanya Dong-Hyun balik.

“Hari dimana kita minum di bar, kamu keluar belakangan,” jawab Sung-Min. “Apa yang kamu katakan pada detektif itu?”

“Aku tidak mengatakan apapun,” bantah Dong-Hyun.

“Itu semua tergambar di wajahmu,” balas Sung-Min tidak percaya. “Apa yang kamu katakan padanya?”

“Hei, aku punya alasan bagus untuk itu. Kalian berdua menghilang tanpaku malam itu. Lalu kalian terus mengatakan bahwa kalian tidak ingat apa-apa. Dan Lee So-Woo mati pada jam itu! Seseorang mengatakan bahwa ia melihat kalian,” ujar Dong-Hyun.

Mendengarnya, Seung-Hyun segera mengeluarkan ponselnya dan memberitahu yang lain tentang hal tersebut.

“Aku sudah bilang kepadamu kita terlalu mabuk untuk mengingatnya,” jawab Sung-Min.

“Itu yang kamu akui. Sejujurnya, bagaimana aku tahu apa yang kalian kerjakan?” balas Dong-Hyun.

“Apa yang hendak kamu katakan?” respon Sung-Min sembari melangkah mendekati Dong-Hyun dan menarik kerah bajunya. Dong-Hyun tidak tinggal diam dan melakukan hal yang sama pada Sung-Min.

Sesaat kemudian Woo-Hyuk tiba.

“Apa yang kalian lakukan?” tanyanya.

Ji-Hoon duduk di sebuah cafe. Ia rupanya janjian dengan detektif Oh. Setelah mengenalkan diri, detektif Oh rupanya menyadari bahwa Ji-Hoon adalah anak Kyung-Moon. Ji-Hoon pun meminta agar detektif Oh merahasiakan hal tersebut pada yang lain.

“Lee Joo-Ri, aku rasa ia akan membuat langkah terlebih dahulu,” ujar Ji-Hoon.

“Apa maksudmu, ia akan membuat langkahnya?” tanya detektif Oh bingung.

“Ia sedang terpojok di tembok. Mendapat tuntutan, dan pengadilan sekolah akan menanyainya tentang keabsahan surat dakwaan.”

“Aku mengerti ia stress menghadapi tuntutan, tapi ia menulis dan mengirimkan surat itu pada polisi sendiri. Kamu pikir pengadilan sekolah bisa menggoyahkannya?”

“Untuk anak umur 19 tahun, sekolah adalah seluruh hidupnya. Orang-orang di sekolah adalah semua yang ia kenal. Lebih dari segalanya, ia ketakutan,” jelas Ji-Hoon.

“Jadi kamu pikir ia akan melakukan sesuatu?” tanya detektif Oh.

“Aku yakin ia akan mencoba menggunakan media,” jawab Ji-Hoon. “Ia mungkin akan menambahkan beberapa detil ke ceritanya sehingga orang akan memperhatikan. Tapi caranya akan sama. Internet atau TV, ia juga mungkin akan tampil.”

“Dan kenapa kamu menceritakan ini padaku? Sepertinya tidak ada yang bisa aku bantu.”

“Detektif Oh, kamu bisa melindunginya.”

“Aku bisa melindungi Lee Joo-Ri?” tanya detektif Oh heran.

“Dari Choi Woo-Hyuk. Choi Woo-Hyuk tidak bisa datang ke sekolah, pengadilan sekolah bakal jadi peristiwa besar, dan ia tidak bisa menyediakan alibi yang tepat. Ia akan meledak jika Lee Joo-Ri memprovokasinya saat ini.”

“Bagaimana kamu tahu tentang alibinya?”

“Aku punya telinga, di sini dan di sana,” jawab Ji-Hoon seraya menunjukkan ponselnya.

Seo-Yeon hendak pergi ke rumah Joo-Ri. Ibunya (Kim Yeo-Jin) memberinya semangat agar usahanya bisa berhasil.

“Kamu sudah tidak lama tidak menemui Joo-Ri, bukan?” tanya ibunya. “Semoga berjalan lancar, pastikan tidak ada kesalahpahaman.”

Seo-Yeon mengiyakan. Dalam perjalanan ia bertemu dengan Yoo-Jin dan Soo-Hee yang akan menemaninya pergi ke tempat Joo-Ri. Yoo-Jin meminta Soo-Hee mengontrol emosinya saat berada di rumah Joo-Ri.

“Kapan aku kehilangan emosiku?” tanya Soo-Hee kesal.

“Setiap saat,” jawab Yoo-Jin.

Seo-Yeon tersenyum melihat tingkah mereka. Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu dimana ternyata dulu ia cukup dekat dengan Lee Joo-Ri.

Tiba di rumah Joo-Ri, begitu tahu bahwa mereka bertiga yang hendak mengadakan pengadilan sekolah, ibu Joo-Ri hendak mengusirnya. Tapi Joo-Ri mencegahnya dan meminta ibunya untuk membiarkan mereka masuk.

Di kamar Joo-Ri, Seo-Yeon mencoba berbasa-basi dengannya. Melihat respon Joo-Ri yang kasar, Soo-Hee mulai naik pitam dan memarahinya. Seo-Yeon lantas meminta Soo-Hee dan Yoo-Jin untuk menunggu di luar kamar saja. Sebelum keluar, Soo-Hee masih sempat memberi tanda pada Joo-Ri bahwa ia akan mengawasinya.

“Kamu tahu dari awal. Kamu tahu aku tidak akan duduk diam dengan surat itu,” ujar Seo-Yeon. “Kamu mempercayaiku. Itu sebabnya kamu mengirimkan surat itu. Apa aku benar?”

Karena masih berpura-pura tidak bisa bicara, Joo-Ri menjawab dengan menggunakan tablet.

“Hentikan pembicaraan tak berguna ini. Aku tahu kamu datang ke sini untuk membahas tentang pengadilan sekolah.”

“Aku datang ke sini untuk membahas tentang sidang,” respon Seo-Yeon, “Aku datang untuk memintamu untuk menjadi saksi. Tapi sekarang setelah aku melihatmu, aku tidak bisa. Itu menyakitiku. Aku tidak tahu apakah yang kamu akui itu benar atau tidak. Tidak hanya aku, tidak ada seorang pun yang tahu. Tapi kenapa kamu sudah dihukum? Kamu hanya menerima semua tuduhan sendiri. Semua karena kamu menyuarakan pendapatmu. Itu tidak adil, dan itu salah. Kamu tidak seharusnya bersembunyi seperti ini, tidak bisa melakukan apa-apa. Aku rasa itu akan membuatku merasa sangat frustrasi.”

“Lalu apa?” tanya Joo-Ri dengan tabletnya. “Kamu ingin aku berhenti bersembunyi dan keluar ke sidang, jadi aku bisa lebih disalahkan?”

“Mungkin itu solusi yang lebih baik,” jawab Seo-Yeon, “Disalahkan, dengan jari menunjuk ke arahmu. Tapi kamu tidak akan sendiri. Kami akan bersamamu.”

Hati Joo-Ri mulai bimbang. Ia terlihat mulai luluh.

“Kamu sungguh ingin aku datang ke sidang?” tanyanya.

Seo-Yeon mengangguk.

“Kalau begitu kamu menjauhlah,” respon Joo-Ri, masih dengan tabletnya. “Aku akan memberikan testimoni jika kamu keluar dari pengadilan.”

Seo-Yeon terdiam sejenak, lantas mengiyakan dan berjanji akan melakukannya. Joo-Ri kaget mendengarnya.

“Kalau begitu kau akan benar datang dan bersaksi?” tanya Seo-Yeon memastikan.

Belum sempat Joo-Ri menjawabnya, Soo-Hee tiba-tiba masuk ke kamar dengan disusul oleh Yoo-Jin. Soo-Hee masih tidak terima dengan sikap Joo-Ri terhadap mereka yang ingin membantunya. Ia terus mengomeli Joo-Ri, bahkan merebut tabletnya dan melemparkannya.

“Apa? Kamu tidak terima? Kamu selalu merasa inferior terhadap Seo-Yeon dan hari ini seharusnya akan jadi harimu untuk membalasnya, bukan? Kamu membenciku karena sudah menyimpulkannya?” ujar Soo-Hee.

Seo-Yeon coba untuk menghentikannya, namun Soo-Hee masih terus menuangkan uneg-unegnya.

“Hanya karena kamu pernah dekat dengannya sebelumnya, kamu sudah membuat kesalahan besar!” lanjut Soo-Hee, “Ia tidak menganggapmu sebagai teman, itu hanya kasihan. Kamu tidak punya teman lain!”

Yoo-Jin akhirnya mendorong Soo-Hee agar keluar meninggalkan kamar Joo-Ri. Baik Joo-Ri maupun Seo-Yeon tidak lagi bisa berkata apa-apa. Seo-Yeon pun melangkah keluar, meninggalkan Joo-Ri yang kemudian menangis.

Di sebuah rumah makan, Soo-Hee yang sudah mulai tenang meminta maaf pada kedua temannya.

“Aku bisa saja ditahan jika bukan karena kalian,” ujarnya.

“Kamu merasa sedang bercanda?” sergah Yoo-Jin kesal. “Apa yang kita lakukan sekarang? Sudah berakhir antara Joo-Ri dan kita.”

Yoo-Jin lantas mengecek di internet jangan-jangan Joo-Ri sudah menulis sesuatu yang buruk tentang mereka. Soo-Hee sendiri menanyakan apakah Seo-Yeon sungguh berniat mundur dari sidang apabila Joo-Ri mau bersaksi. Seo-Yeon mengiyakan.

“Ia yang lebih dibutuhkan di sidang ini, lebih dari aku,” ujar Seo-Yeon. “Pengadilan butuh Joo-Ri, bukan aku.”

Dengan kaget tiba-tiba Yoo-Jin menunjukkan apa yang ia dapat di internet. Video rekaman yang dilakukan ibu Joo-Ri sebelumnya, yang barusan ia publikasikan.

Dampak dari video tersebut, detektif Oh dimarahi oleh atasannya karena masih belum juga menutup investigasi ulang kasus Lee So-Woo. Sementara itu, dari studio TV, reporter Park (Heo Jung-Do) dan kru juga melihatnya. Kru reporter Park hendak mem-follow-up video tersebut, namun tanpa disangka reporter Park mencegahnya. Alih-alih, ia meminta kameramen untuk mengikutinya ke suatu tempat.

Seung-Hyun datang ke ruang klub, terkejut dengan perkembangan situasi. Sudah ada yang lainnya di sana.

“Apa kita perlu mengadakan doa bersama atau sejenisnya?” tanya Seung-Hyun. “Hal buruk terus saja terjadi! Apa tempat ini membawa nasib buruk?”

Yang lain hanya terdiam dengan lesu.

“Apa kamu pikir Lee Joo-Ri jadi gila karenaku?” tanya Soo-Hee tiba-tiba.

“Apa ada yang terjadi?” tanya Joon-Young.

Yoo-Jin lantas menceritakan apa yang terjadi saat mereka menemui Joo-Ri.

“Dasar preman! Kapan kamu akan dewasa?” respon Seung-Hyun kesal. “Bagaimana jika seluruh sidang dibatalkan karenamu?”

Beberapa saat kemudian tanpa diduga reporter Park datang dengan ditemani oleh bu guru Kim. Seo-Yeon dkk mengira ia bakal membuat berita tentang video Joo-Ri. Mereka pun terkejut begitu mengetahui reporter Park justru berjanji untuk tidak akan membuat liputan tentang itu. Sebaliknya, ia berniat untuk membuat liputan tentang pengadilan sekolah mereka.

“Kamu tidak akan datang dengan tangan kosong,” respon Ji-Hoon dingin. “Apa yang bisa kamu lakukan pada kita sebagai imbalannya?”

“Aku suka pria ini. Ia mengerti,” balas reporter Park sembari mengajak Ji-Hoon tos, yang kemudian diabaikan begitu saja oleh Ji-Hoon.

“Tentu saja aku punya sesuatu untuk ditawarkan. Apa yang kamu usulkan?” tanya reporter Park pada Ji-Hoon.

“Untuk membuat pengadilan sekolah menjadi debat publik,” jawab Ji-Hoon.

“Kamu ingin membuat pengadilan sekolah muncul ke publik sehingga sekolah tidak bisa menghentikannya?” tanya reporter Park.

Dan dengan santai reporter Park menyetujuinya. Ia pun mempersiapkan rekaman tentang hal itu, dengan bantuan bu guru Kim yang berpura-pura menyatakan bahwa sekolah sangat mendukung adanya pengadilan sekolah, dan berjanji akan menayangkannya akhir minggu ini juga. Yoo-Jin, Soo-Hee, dan Seung-Hyun girang melihatnya.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Joon-Young pada Seo-Yeon yang sedari tadi hanya berdiam diri.

“Kamu tidak boleh meliput tentang Lee Joo-Ri,” jawab Seo-Yeon sembari menoleh ke arah reporter Park, “Tidak mengkritik atau melindungi. Berjanjilah kamu tidak akan melakukannya. Berjanjilah padaku.”

“Oke,” jawab reporter Park.

“Untuk merayakan fakta bahwa aku mungkin saja mendapat masalah dari sekolah, makan malam aku yang traktir,” ujar bu guru Kim pada Seo-Yeon dkk.

“Bagaimana kalau steak?” respon Seung-Hyun.

“Untuk merayakan aku akan mendapat masalah… di bawah $10 per orang, aku yang traktir,” ralat bu guru Kim.

Soo-Hee lantas memberitahu bu guru Kim bahwa ia tahu tempat makan yang murah. Sebelum mereka pergi, Ji-Hoon berpamitan untuk pergi terlebih dahulu dan tidak ikut dengan mereka.

“Ibu, aku berterimakasih karena kamu sudah membantu kami,” ujar Seo-Yeon pada bu guru Kim di saat mereka makan. “Tapi bukankah kamu akan mendapat masalah untuk ini?”

“Seo-Yeon, kamu tahu sesuatu? Orang biasa melakukan perbuatan yang luar biasa,” respon bu guru Kim.

“Apa maksudmu?” tanya Seo-Yeon bingung.

“‘Melindungi yang lemah’, ‘Memperbaiki yang salah’, ‘Tidak berbohong’, orang-orang dengan nilai-nilai dasar seperti ini dalam diri mereka adalah orang-orang biasa, seperti kalian. Merekalah yang akan mengubah dunia. Bukan orang-orang yang luar biasa, atau perbuatan yang luar biasa. Kamu akan menyadari bahwa sungguh sulit untuk menjaga nilai-nilai yang paling dasar. Sangat mudah untuk melupakan apa yang mendasar di saat ingin mendapat kenyamanan lebih dalam hidup. Tapi aku teringat dengan nilai-nilai itu saat melihat kalian. Apa yang seharusnya menjadi dasar dan biasa. Jadi, jangan khawatirkan tentang aku, oke?”

Seo-Yeon dan teman-temannya tersenyum senang mendengar jawaban bu guru Kim.

Ji-Hoon ternyata pergi mendatangi tempat bilyard tempat Woo-Hyuk dkk biasa nongkrong.

“Woo-Hyuk. Kamu Choi Woo-Hyuk, bukan?” tanyanya pada Woo-Hyuk yang baru saja tiba bersama Sung-Min.

“Siapa memangnya kamu? Pergilah!” respon Woo-Hyuk kasar.

“Aku pengacaramu,” jawab Ji-Hoon.

Keduanya lantas pergi ke pelataran sebuah minimarket untuk membicarakan hal tersebut.

“Kamu menyuruhku untuk datang ke pengadilan sekolah?” tanya Woo-Hyuk.

“Ya. Sebagai tertuduh atas pembunuhan Lee So-Woo,” jawab Ji-Hoon.

“Buat apa aku melakukan itu?” tanya Woo-Hyuk lagi. “Aku yakin semua itu sudah diputuskan oleh kalian. Pengacara apanya. Kamu seharusnya pergi dari sini sebelum aku menghajarmu.”

“Aku percaya padamu,” ujar Ji-Hoon.

Woo-Hyuk yang sedang melangkah pergi menghentikan langkahnya saat mendengarnya.

“Kamu tidak membunuh So-Woo. Aku percaya padamu,” Ji-Hoon mengulangi lagi perkataannya.

“Kamu pikir aku akan pergi untuk sesuatu seperti itu?” sergah Woo-Hyuk. “Apa aku tampak begitu naif?”

“Aku tahu rasanya disalahkan atas sesuatu yang tidak pernah kita lakukan,” balas Ji-Hoon. “Aku mengerti betapa marah dan frustrasinya dirimu. Jadi datanglah ke sidang. Tidakkah kamu ingin menjelaskan dirimu dan apa yang kamu rasakan kepada orang-orang? Tidakkah kamu ingin mengatakan kalau kamu tidak melakukannya? Kalau kamu tidak bersalah?”

Woo-Hyuk merespon dengan menampar Ji-Hoon.

“Aku akan membunuhmu lain waktu. Sama seperti (aku membunuh) Lee So-Woo,” ujar Woo-Hyuk.

CEO Choi (Choi Joon-Yong) dalam perjalanan pulang ke rumah. Pada Kyung-Moon yang sedang menelponnya, ia memastikan akan memerintahkan istrinya untuk mencabut gugatan terhadap Joo-Ri agar tidak semakin memperkeruh keadaan.

Setibanya di rumah, CEO Choi mendapati ibunya sedang membersihkan pintu garasi yang dicoreti tulisan “pembunuh” oleh seseorang. Ia segera meminta ibunya untuk berhenti melakukannya dan mencari-cari Woo-Hyuk.

“Jangan ganggu Woo-Hyuk, aku saja yang menghapusnya,” ujar ibu CEO Choi alias nenek Woo-Hyuk.

Mendengar ribut-ribut di luar, istri CEO Choi keluar dan menanyakan apa yang terjadi. Ia pun langsung kena damprat oleh suaminya karena sudah seenaknya membuat gugatan tanpa sepengetahuannya dan menimbulkan masalah seperti sekarang. Dengan kesal, seraya masuk kembali ke dalam rumah, istri CEO Choi mengatakan bahwa besok ia akan mencabut gugatan itu.

Tak lama Woo-Hyuk tiba di rumah. Tanpa basa-basi, CEO Choi langsung menyeretnya.

“Aku sudah bilang kepadamu untuk tetap di rumah selama aku dalam perjalanan bisnis, bukan?” ujarnya. “Lihat apa yang terjadi di saat kamu keluar.”

“Aku tidak melakukan apa-apa,” bantah Woo-Hyuk.

“Tidak melakukan apa-apa? Semua ini karenamu,” balas ayahnya sembari menunjuk ke arah tulisan di pintu garasi. “Dari siapa kamu mendapat kepribadian yang buruk macam ini?”

CEO Choi lantas mulai memukuli dan menendang Woo-Hyuk sambil terus mengomelinya. Neneknya tidak tahan melihatnya dan berusaha menghentikan mereka. Setelah berhasil menjauh dari ayahnya, Woo-Hyuk lalu kembali pergi meninggalkan rumah. Neneknya mencoba memanggilnya kembali, tapi tidak dihiraukan oleh Woo-Hyuk.

Sebuah mobil truk datang ke kediaman keluarga Choi. Seseorang naik ke lantai 2, lantas tak lama kemudian pergi dengan meninggalkan api yang mulai berkobar.

Woo-Hyuk menghabiskan malam di warnet. Saat sedang asyik tidur, ponselnya berbunyi. Melihat ibunya yang menelpon, ia pun mematikannya. Sesaat kemudian telponnya kembali berbunyi. Dengan kesal ia mengangkatnya. Entah apa yang dikatakan ibunya, tapi raut muka Woo-Hyuk tiba-tiba berubah dan ia bergegas pergi meninggalkan warnet.

Tiba di rumahnya, Woo-Hyuk mendapati rumahnya sudah hampir ludes terbakar sementara kedua orang tuanya berada di luar.

“Dimana nenek?” tanya Woo-Hyuk pada ibunya.

Ibunya tidak menjawab dan terus menangis. Woo-Hyuk pun sadar bahwa neneknya masih berada di dalam rumah. Tanpa pikir panjang ia berlari menuju rumahnya, namun beberapa orang petugas pemadam kebakaran kemudian mencegahnya.

Di ruang klub, Yoo-Jin, Soo-Hee, dan Seung-Hyun membahas berita tentang kebakaran di rumah Woo-Hyun.

“Aku rasa seseorang membakar rumahnya karena video itu,” ujar Seung-Hyun.

“Ini tentang Choi Woo-Hyuk. Neneknya tidak melakukan apa-apa,” respon Soo-Hee prihatin.

Tiba-tiba Seo-Yeon berpamitan pada yang lain dan mengatakan akan menyelesaikan tugasnya di rumah saja.

Dalam perjalanan pulang, Seo-Yeon bertemu dengan ibunya yang baru selesai berbelanja.

“Ibu, apakah mungkin…”

“Tidak,” potong ibunya, “Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku sudah dengar apa yang terjadi. Itu bukan kesalahanmu.”

“Bukan masalah apa itu kesalahanku, tapi aku berpikir apa mungkin pengadilan sekolah sudah membuat keadaan jadi memburuk,” respon Seo-Yeon.

“Kalau begitu ini salahku sudah memilikimu, dan juga kesalahan ibuku sudah memiliku, berlanjut hingga seluruh nenek moyang kita,” balas ibunya. “Seo-Yeon, jika seseorang melakukan hal buruk, itu adalah kesalahan orang itu sendiri. Jangan merasa bertanggung jawab terhadap tindakan orang lain. Yang kamu lakukan adalah memperbaiki apa yang salah.”

“Apakah itu ‘dunia orang dewasa’ yang harus aku pelajari juga?” tanya Seo-Yeon.

“Tidak. Aku hanya mengatakan padamu agar jangan terlalu keras pada dirimu sendiri,” jawab ibunya sembari membelai rambutnya, “Kamu adalah putriku yang berharga, kamu seharusnya memperlakukan dirimu dengan respek yang sama. Jangan membebani dirimu lebih dari yang seharusnya. Ok?”

“Oke,” jawab Seo-Yeon sambil tersenyum.

Di kantor polisi, Ko Sang-Joong (Ahn Nae-Sang) melihat ibu Woo-Hyuk yang sedang menangis saat dimintai keterangan.

“Istri Mr. Choi?” tanyanya pada detektif Oh dengan berbisik.

Detektif Oh mengiyakan.

“Apa yang sudah mereka ketahui sejauh ini? Bagaimana hal itu terjadi?” tanya Sang-Joong lagi.

“Mereka bilang itu dilakukan secara profesional,” jawab detektif Oh.

“Pembakar profesional?”

“Ya. Awalnya mereka mengira itu perbuatan iseng. Tapi dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang ada, itu semua dilakukan oleh seorang ahli. Tim investigasi yang bertugas juga heran.”

Sang-Joong menarik nafas dalam mendengarnya.

“Mr. Ko,” lanjut detektif Oh, “Aku sungguh tidak ingin mempertimbangkan ini, tapi aku pikir tim keuangan seharusnya memeriksa catatan asuransi Mr. Choi.”

“Aku juga memikirkan hal yang sama,” respon Sang-Joong.

Sesaat kemudian seorang petugas keluar dan menanyakan apakah mereka melihat Woo-Hyuk yang seharusnya menunggu untuk diperiksa di kursi yang ada di lorong. Keduanya mengaku tidak melihatnya. Tak lama ponsel detektif Oh berbunyi.

Di kamarnya, Ji-Hoon membaca komentar-komentar yang ada di blog sekolah tentang kebakaran yang dialami keluarga Woo-Hyuk. Dengan kesal ia menghapus komentar-komentar yang kasar. Tiba-tiba detektif Oh menelponnya dan memberitahunya sesuatu.

Tak lama kemudian, di rumah Seo-Yeon, seseorang menghubungi Seo-Yeon. Seo-Yeon terlihat buru-buru meninggalkan rumah dan berjanji akan tiba di tempat yang diberitahu oleh si penelpon dalam waktu lima menit.

Woo-Hyuk ternyata berada di depan rumah Joo-Ri. Dengan penuh emosi ia menendangi pintu rumah Joo-Ri dan meminta Joo-Ri agar keluar. Joo-Ri sendiri hanya melihat dari balik jendela kamarnya dengan ketakutan. Beberapa saat kemudian Seo-Yeon tiba di sana.

“Apa yang kamu lakukan, Choi Woo-Hyuk?” tanya Seo-Yeon.

Tanpa menjawabnya, Woo-Hyuk mendorong Seo-Yeon menjauh, lantas mengambil pot yang ada di halaman. Seo-Yeon kembali berlari ke hadapannya dan mencoba menghadangnya.

“Hentikan, Choi Woo-Hyuk,” pinta Seo-Yeon.

“Pergi dari hadapanku,” respon Woo-Hyuk.

“Kamu hanya sedang emosi,” ujar Seo-Yeon coba menenangkan. “Bagaimana bisa itu adalah kesalahannya? Kenapa kamu selalu menyalahkannya? Kamu tidak berpikir kamu juga bertanggung jawab? Dasar kamu pengecut!”

Woo-Hyuk tambah emosi mendengar perkataan Seo-Yeon. Ia pun mengangkat pot yang ia bawa tinggi-tinggi dan hendak menghantamkannya ke kepala Seo-Yeon. Untunglah Ji-Hoon tiba-tiba datang dan langsung menabrak Woo-Hyuk hingga menjauh. Tidak terima, Woo-Hyuk lantas menyerang Ji-Hoon, tapi Ji-Hoon kembali menabraknya hingga keduanya berguling di jalan.

Tanpa diduga, ibu Joo-Ri tiba-tiba keluar dan langsung menyiram Seo-Yeon dengan air. Joo-Ri yang melihatnya bergegas turun ke bawah. Begitu pula dengan Woo-Hyuk dan Ji-Hoon yang segera menghentikan perkelahian mereka.

“Kalian sungguh parah,” teriak ibu Joo-Ri, “Ada apa dengan kalian semua? Biarkan Joo-Ri-ku sendiri. Ku mohon!”

“Tidakkah kamu sudah berlebihan?” tanya Soo-Hee yang baru saja tiba bersama dengan yang lain pada ibu Joo-Ri.

“Kalian anak-anak yang buruk! Kalian seperti setan!” respon ibu Joo-Ri yang mulai menangis.

Seo-Yeon maju selangkah lantas menundukkan kepalanya.

“Aku minta maaf,” ujarnya.

Semuanya tertegun melihatnya. Termasuk Joo-Ri yang ada di balik pintu pagar. Seo-Yeon masih terus menunduk dan meminta maaf, sementara ibu Joo-Ri terus menangis dan terduduk di tanah. Beberapa saat kemudian detektif Oh datang. Sadar tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya memisahkan Woo-Hyuk dari Ji-Hoon.

Ji-Hoon dan Joon-Young tiba di ruang klub dan mendapati pakaian Seo-Yeon yang sedang dikeringkan di sana. Berdua mereka berkeliling untuk mencari keberadaan Seo-Yeon. Ji-Hoon yang menemukannya terlebih dahulu, sedang duduk di tangga darurat sembari menangis. Alih-alih menghampirinya, Ji-Hoon memutuskan untuk menenangkannya sebagai Jeung-Guk Watchman.

“Patung Buddha yang aku beli dari Lumbini jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping,” pesan Jeung-Guk Watchman pada Seo-Yeon.

“Semua jadi terpecah. Tangan, kaki, leher, dan jari kaki. Semuanya pecah berkeping-keping hingga aku berlutut kepadanya. Aku mengambil lem dari laciku dan mulai menempelkan mereka kembali.”

Seo-Yeon hendak membalasnya, namun pesan dari Jeung-Guk Watchman kembali masuk.

“Di saat itulah sang Budha membelai kepalaku, yang selalu mencoba demikian keras agar tidak hancur dan berkata, ‘Kamu bisa mendapatkan kembali semua kepingan yang pecah jika sesuatu pecah berkeping-keping. Kamu bisa hidup dengan semua kepingan yang pecah itu, jika sesuatu pecah berkeping-keping.”

Seo-Yeon mulai meneteskan air mata. Saat itulah Joon-Young tiba dengan membawa segelas teh hangat.

“Kamu menemukanku. Aku sedang bersembunyi,” ujar Seo-Yeon sembari menghapus air matanya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Joon-Young.

“Tidak apa-apa. Aku sungguh tidak apa-apa,” jawab Seo-Yeon, lantas mengajak Joon-Young untuk kembali ke ruang klub.

“Ambil ini. Aku yakin kamu kedinginan,” ujar Joon-Young sambil menyodorkan gelas teh hangat yang ia bawa.

Dari balik tembok, Ji-Hoon tersenyum mengetahui Seo-Yeon sudah baikan.

Setibanya di ruang klub, Seo-Yeon kaget mendapati setumpuk barang yang ada di meja. Ternyata Yoo-Jin membelikan berbagai selimut, pakaian, bahkan termos penghangat untuk Seo-Yeon dengan menggunakan kartu kredit milik ibunya.

Sementara itu, Ji-Hoon yang sedang berjalan pulang ke rumahnya, mendapati Woo-Hyuk sedang menunggunya di tengah jalan.

Kyung-Moon memanggil penjaga sekolah yang sudah diketahui sebagai orang yang memfitnah kepala sekolah dengan surat dakwaan yang robek. Ia berdalih bahwa semua itu ia lakukan karena kepala sekolah sudah mengkambinghitamkan dirinya begitu saja tanpa mau tahu penjelasannya. Setelah mendengar alasannya, Kyung-Moon mempersilahkannya untuk pergi. Penjaga sekolah lega mendengarnya.

“Kamu yakin kita bisa membiarkannya pergi seperti itu?” tanya asisten Kyung-Moon sepeninggal si penjaga sekolah.

“Bagaimana dengan pengadilan sekolahnya?” tanya Kyung-Moon.

“Hari pertama sidang berlangsung 2 hari lagi,” jawab asistennya.

“Choi Woo-Hyuk setuju untuk datang ke pengadilan,” ujar Ji-Hoon sambil lalu kepada Seo-Yeon dkk di ruang klub.

Mereka semua kaget sekaligus juga penasaran bagaimana Ji-Hoon bisa berhasil mengajak Woo-Hyuk untuk datang ke sidang. Apalagi Ji-Hoon yakin 100% bahwa Woo-Hyuk pasti akan datang, meski yang lain menyangsikan.

“Jangan khawatir, bukan itu tujuannya,” jawab Ji-Hoon.

“Kalau begitu, apa tujuannya sebenarnya?” tanya Seo-Yeon.

Ji-Hoon terdiam.

“Aku tidak sempat memikirkannya hingga sekarang,” lanjut Seo-Yeon, “Tapi sekarang aku pikir dia tidak punya alasan untuk datang ke pengadilan. Jika ia benar tidak bersalah, ia tidak punya alasan untuk membuktikannya karena pengadilan juga tidak punya wewenang yang sesungguhnya. Dan jika ia sungguh melakukan sesuatu pada So-Woo, jika sesuatu seperti itu terjadi, itu adalah alasan lebih baginya untuk tidak datang ke pengadilan. Itu sebabnya kita harus mengerti motifnya dengan jelas. Apa yang kalian berdua bicarakan?”

Ji-Hoon tetap terdiam.

“Kamu punya terlalu banyak rahasia,” respon Seo-Yeon.

Min-Suk tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan memberitahu Seo-Yeon bahwa ia dipanggil ke ruang guru. Dengan sedikit heran Seo-Yeon lantas menuju ke tempat yang dimaksud. Ada bu guru Kim di sana, dengan seorang pria.

“Ucapkan salam. Ia adalah kakak So-Woo, Lee Tae-Woo,” ujar bu guru Kim.

Bu guru Kim kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

“Itu bukan bunuh diri,” ujar Tae-Woo, “So-Woo tidak membunuh dirinya sendiri.”

Tae-Woo lalu mengeluarkan selembar amplop dari balik jaketnya dan meletakkannya di hadapan Seo-Yeon.

“Ini buktinya,” ujar Tae-Woo.

Sementara Seo-Yeon terdiam karena masih tidak percaya dengan perkembangan situasi, dari balik pintu terlihat Ji-Hoon sedang mengawasinya.

Preview Episode 5

Berikut adalah video preview episode 5 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 5 selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,  cek plat kendaran sudah keluar.

Reply