Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 3 & Preview Episode 4 (23 Desember 2016)

Di sinopsis Solomon’s Perjury episode sebelumnya, entah siapa yang mengirim, surat dakwaan juga tiba di tangan Mr. Park (Heo Jung-Do), reporter dari acara TV News Adventure. Ia pun membuat liputan tentang kejadian di SMA Yeong Guk, yang membuat posisi Choi Woo-Hyuk (Back Cheol-Min) semakin tersudut. Liputan tersebut juga membuat Park Cho-Rong (Seo Shin-Ae) memaksa Lee Joo-Ri (Shin Se-Hwui) untuk mengaku secara terus terang di kantor polisi tentang pembunuhan Lee So-Woo (Seo Young-Joo). Joo-Ri menolak dan berbalik mengata-ngatai Cho-Rong. Cho-Rong yang sakit hati berlari meninggalkan Joo-Ri dan tanpa diduga tertabrak mobil hingga koma. Joo-Ri sendiri, setelah teman-temannya tahu bahwa ia yang menulis surat dakwaan, mengalami pem-bully-an hingga suaranya hilang. Di tengah kegalauan melihat kondisi sekolah yang makin tidak terkendali, Ko Seo-Yeon (Kim Hyun-Soo) dikonfrontasi oleh reporter Park, yang membuatnya membulatkan tekad untuk memulai penyelidikan sendiri atas kasus kematian Lee So-Woo. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 3 kali ini?

Dok. gambar dan video © JTBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 3

1 tahun yang lalu. Han Ji-Hoon (Jang Dong-Yoon) dan rekan-rekannya sedang manggung untuk kegiatan amal di sebuah rumah sakit. Lee So-Woo (Seo Young-Joo) terlihat sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.

“Itu beresiko,” ujar So-Woo saat Ji-Hoon usai manggung dan tanpa sadar melewati So-Woo dalam perjalanan meninggalkan rumah sakit. “Ini rumah sakit. Jika kamu terus datang ke sini, seseorang mungkin akan mengenalimu.”

“Haruskah aku mengatakan dengan keras kepadamu?” lanjut So-Woo, “Agar semua temanmu bisa mendengarnya, haruskah aku mengatakannya dengan lebih keras? Tentang masa lalumu? Ini akan menjadi menarik. Pelajar populer dari SMA Jeong-Guk, bekerja sukarela di RS ini, sebelumnya adalah pasien di sini, di bagian penyakit jiwa. Bagaimana jika orang mengetahuinya?”

“Lakukan apa yang kamu inginkan!” respon Ji-Hoon seraya melangkah menghampiri So-Woo. “Hidupku tidak akan lebih buruk dari yang sekarang. Jadi sebarkanlah gosip, tandai aku dengan surat Scarlett, lakukan yang kamu mau.”

“Hei, Han Ji-Hoon,” ujar So-Woo sembari tertawa.

Ji-Hoon melakukan hal yang sama. Keduanya ternyata teman lama yang sudah lama tidak bertemu.

“Apa kamu baik-baik saja?” tanya So-Woo.

“Ya. Bagaimana denganmu?” tanya Ji-Hoon balik.

“Tidak bisakah kamu melihat apa yang aku kenakan?” jawab So-Woo.

Ji-Hoon baru memperhatikan baju pasien yang dikenakan So-Woo di balik jaketnya.

Ji-Hoon terdiam di kamarnya, menatap ke arah jendela. Ayahnya, Han Kyung-Moon (Cho Jae-Hyun), sesaat kemudian masuk ke kamar dan menanyakan kenapa Ji-Hoon tidak menjawab ajakannya untuk makan malam.

“So-Woo, ia bukan seseorang yang akan membunuh dirinya sendiri,” respon Ji-Hoon.

Di saat yang sama, Seo-Yeon juga sedang terdiam di kamarnya, memikirkan kembali semua yang telah terjadi semenjak kematian So-Woo. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, berasal dari Bae Joon-Young (Seo Ji-Hoon) yang mengabarkan jika dirinya sudah tiba di rumah. Seo-Yeon hendak membalasnya, namun ia terdiam sejenak seolah sedang memikirkan sesuatu.

Di kamarnya, Joon-Young yang baru usai mandi membaca pesan balasan dari Seo-Yeon yang mengajaknya untuk bertemu. Dengan penuh semangat ia langsung berganti baju yang keren dan bergegas menemui Seo-Yeon. Ia pun jadi keki begitu tahu tidak hanya dirinya saja yang diajak bertemu, melainkan juga tiga orang sahabat Seo-Yeon yang lain: Lee Yoo-Jin (Ahn Sol-Bin), Kim Soo-Hee (Kim So-Hee), dan Choi Seung-Hyun (Ahn Seung-Kyoon).

Setelah berbasa-basi, Seo-Yeon mulai mengungkapkan alasannya mengundang mereka bertemu.

“Teman-teman, dalam waktu dekat aku mungkin akan memulai sebuah masalah besar,” ujar Seo-Yeon.

“Kamu? Masalah? Macam apa?” tanya Yoo-Jin.

“Kami tidak harus membuat masalah, kita sudah cukup mendapatkannya belakangan ini,” respon Soo-Hee.

“Tidak bisakah kita mendapat satu hari yang tenang?” tambah Seung-Hyun.

“Tidak, bukan masalah fisik semacam itu,” jelas Seo-Yeon. “Ada hal yang baru saja aku putuskan.”

Joon-Young menanyakan hal yang dimaksud Seo-Yeon, tapi Seo-Yeon tidak mau memberitahukannya untuk saat ini. Ia hanya memastikan bahwa hal tersebut tidak akan mempengaruhi teman-temannya. Namun begitu, teman-temannya menyatakan bakal mendukung apapun keputusan itu. Seo-Yeon pun lega mendengarnya.

Detektif Oh (Shim Yi-Young) mendatangi Choi Woo-Hyuk, Lee Sung-Min (Lee Do-Gyeom), dan juga Kim Dong-Hyun (Hak Jin) yang sedang minum-minum di bar. Ia kembali menanyakan tentang apa yang mereka lakukan pada tanggal 25 Desember lalu. Dengan kesal Woo-Hyuk memberitahunya bahwa ia tidak ingat apa yang terjadi dan yang jelas saat itu ia sedang bersama Sung-Min dan Dong-Hyun. Sung-Min mengamininya, namun Dong-Hyun secara mencurigakan justru menghindar dan berdalih hendak ke kamar kecil karena perutnya mendadak sakit. Woo-Hyuk jadi marah dan membentaknya. Detektif Oh segera menarik kerah bajunya untuk mencegahnya berbuat lebih jauh.

“Apa yang kamu takutkan?” tanya detektif Oh. “Apa yang begitu kamu takutkan hingga kamu tidak bisa memberitahuku apa yang terjadi pada tanggal 25 Desember?”

Woo-Hyuk hanya terdiam.

“Aku juga berpikir kamu tidak akan bertindak sejauh itu,” lanjut detektif Oh, “Jadi katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Tidakkah kamu merasa kecewa karena orang-orang mencurigaimu seperti ini?”

Woo-Hyuk masih saja menutup mulutnya.

“Choi Woo-Hyuk! Apakah kamu mengerti situasi yang sedang kamu hadapi?” tanya detektif Oh. “Kamu tidak punya alibi. Kamu butuh informasi dimana kamu berada, apa yang kamu lakukan, dan dengan siapa pada saat Lee So-Woo meninggal. Itu yang kamu butuhkan untuk membuktikan kamu tidak bersalah.”

“Lalu bisakah kamu membuktikan aku bersalah?” tanya Woo-Hyuk balik. “Kamu juga tidak punya bukti kalau aku membunuhnya.”

Detektif Oh tidak bisa menjawabnya. Woo-Hyuk lantas mengajak teman-temannya untuk pergi. Setelah Woo-Hyuk dan Sung-Min melangkah lebih dulu, Dong-Hyun mendekati detektif Oh.

“Aku punya alibi sendiri. Aku tidak bersama mereka. Aku tidak tahu apa yang mereka kerjakan pada malam itu,” bisik Dong-Hyun.

Belum sempat Dong-Hyun bercerita lebih detil, Woo-Hyuk sudah memanggilnya. Ia pun terpaksa pergi mengikuti mereka.

Di kantor polisi, ibu Woo-Hyuk tiba-tiba datang dengan marah-marah karena investigasi terhadap kasus kematian So-Woo dibuka kembali. Detektif Oh menjelaskan bahwa adanya surat dakwaan sebagai bukti baru mengharuskan mereka membuka kembali kasus tersebut. Dengan kesal, ibu Woo-Hyuk pergi sembari mengancam akan menuntut orang yang telah menulis surat dakwaan tersebut. Detektif Oh dan juga Ko Sang-Joong (Ahn Nae-Sang) yang kebetulan berada di sana hanya bisa menarik nafas dalam melihatnya.

Kepala sekolah (Yoo Ha-Bok) mengadu pada Kyung-Moon karena ia diberhentikan dari tugasnya di saat ia hendak masuk masa pensiun. Ia memohon pada Kyung-Moon untuk membantu mengembalikan posisinya karena ia tidak pernah menerima surat dakwaan seperti yang dituduhkan kepadanya. Setelah pak kepsek pergi, Kyung-Moon memanggil asistennya dan memintanya untuk melacak pengiriman surat dakwaan yang ditujukan pada stasiun TV beberapa waktu lalu.

SMA Yeong-Guk mengadakan pertemuan kelas bagi seluruh siswa dimana pak wakasek (Ryu Tae-Ho) yang didapuk menjadi kepsek sementara memberikan arahannya melalui layar monitor yang ada di tiap kelas. Sebagian siswa malas-malasan menyimak. Apes bagi Soo-Hee, ia menguak sesaat sebelum bu dekan / kepala guru (Oh Yoon-Hong) masuk ke kelas.

“Hei, kamu, bagaimana bisa kamu menguap seperti itu di saat guru berbicara? Hargailah.” bentak bu dekan.

“Aku minta maaf,” respon Soo-Hee.

Usai berpidato, pak wakasek memberi waktu 5 menit bagi semua siswa untuk rehat dan menenangkan diri. Yoo-Jin yang sedang membuka ponselnya memberitahu yang lain bahwa ada kabar bahwa Joo-Ri bakal dituntut oleh ibu Woo-Hyuk. Soo-Hee dan Seo-Yeon kaget mendengarnya.

Tanpa diduga, bu dekan kembali lagi dan langsung menghampiri Soo-Hee.

“Aku akan memotong 1 poin darimu karena berbicara di saat pertemuan. Siapa namamu?” tanya bu dekan.

“Pertemuan sudah berakhir,” jawab Soo-Hee.

“Belum. Dua poin karena berbicara saat pertemuan. Nama?”

“Tapi aku berbicara padamu, guru,” dalih Soo-Hee.

“Tiga poin karena berbicara saat pertemuan. Nama!” respon bu dekan tanpa menghiraukan ucapan Soo-Hee.

“Jika aku menyebutkan namaku, apakah itu dihitung sebagai berbicara saat pertemuan juga?”

Yoo-Jin memberi tanda pada Soo-Hee untuk mengalah.

“Empat poin karena berbicara saat pertemuan. Apa kamu masih mau terus melanjutkan?” tanya bu dekan.

Seo-Yeon tiba-tiba menimpali, mengatakan bahwa mereka memang salah karena berbicara. Bu dekan kemudian menjawab bahwa ini bukan masalah berbicara saat pertemuan, tapi karena mereka tidak membantu di saat sekolah sedang berusaha untuk mengembalikan kondisi seperti semula pasca kematian So-Woo.

“Ini semua karena kalian tidak dewasa sehingga kita harus mengalami ini,” ujar bu dekan.

Setelah mencatat nama mereka masing-masing, bu dekan hendak pergi meninggalkan kelas. Seo-Yeon tiba-tiba berdiri.

“Permisi. Aku tidak mengerti apa yang baru saja anda katakan pada kami,” ujarnya pada bu dekan. “Kenapa itu salah kami karena sekolah menjadi seperti ini?”

“Apa yang kamu bilang?” tanya bu dekan. “Salah siapa itu kalau bukan kesalahanmu? Semua yang terjadi di kelas ini. Jawab aku. Siapa lagi yang seharusnya disalahkan untuk ini kalau bukan kalian?”

“Sekolah,” jawab Seo-Yeon setelah terdiam sejenak.

Semua teman-temannya kaget mendengarnya.

“Ikuti aku,” perintah bu dekan.

Seo-Yeon tetap berdiri di tempatnya. Bu dekan kembali mengulang perintahnya, tapi Seo-Yeon tetap tidak bergeming.

“Tidak. Katakan saja di sini jika anda ingin mengatakan sesuatu kepadaku,” respon Seo-Yeon.

“Kamu!” teriak bu dekan lantang.

Teriakan tersebut membuat guru wali kelas (Ji E-Suu) yang sedang berada di kelas sebelah serta murid-murid lain datang menghampiri kelas 2-1 tempat Seo-Yeon dan bu dekan berada. Bu wali kelas coba melerai tapi bu dekan menolak.

“Ia menaikkan suaranya padaku saat hendak mendisiplinkannya,” dalih bu dekan. “Apa kamu minum obat yang salah? Atau jadi gila? Jika kamu hanya ingin mendengar kata-kata yang indah dan bagus, kamu sebaiknya berhenti dari sekolah.”

Salah seorang murid di belakang Seo-Yeon diam-diam merekam aksi mereka. Bu dekan baru menyadari bahwa tidak hanya murid tersebut saja yang melakukannya, melainkan juga murid lain di belakangnya, termasuk murid kelas lain yang menonton dari luar ruang kelas. Saat bu dekan mengancam akan menyita ponsel mereka, mereka justru terus memfoto dan merekam ulah bu dekan hingga ia jadi murka.

“Ini lelucon bagimu? Sekolah sedang kacau, tapi kalian tenang saja membuat lelucon di kelas dan di internet?” ujarnya kesal.

“Jadi apa yang seharusnya kita lakukan?” timpal Seo-Yeon.

“Kamu menerima surat dakwaan juga. Kamu menerimanya, tapi kamu bersembunyi di belakang sekolah seolah tidak ada yang terjadi. Sekarang kamu bertingkah tidak merasa bersalah dan menyalahkan sekolah untuk itu?” respon bu dekan. “Kamu orang yang terburuk di sini!”

Sementara teman-temannya yang lain terkejut mendengar hal itu, Seo-Yeon terdiam.

“Itu sebabnya…” ujar Seo-Yeon kemudian, “Aku berniat untuk berhenti bersikap tidak bersalah. Aku tidak akan lagi berpura-pura tidak tahu apa-apa, atau seolah tidak punya urusan dengan semua ini, atau bersembunyi.”

Seo-Yeon lantas menyapukan pandangannya ke arah teman-teman sekelasnya.

“Tidakkah kalian semua lelah? Kita hanya duduk berdiam diri, mendengarkan perkataan orang dewasa. Kita berharap mereka akan membantu dan menyelesaikan semua ini. Kita hanya menunggu mereka untuk melakukan sesuatu. Tapi lihat apa yang terjadi.”

“Tutup mulutmu!” sergah bu dekan.

“Aku menerima surat dakwaan, tapi aku tidak mengatakan sesuatu seperti seorang pengecut. Tapi kita harus melihat ke bulan apabila seseorang menunjuk ke bulan, bukan melihat jarinya. Tidakkah ada yang lebih penting ketimbang siapa yang menulisnya atau siapa yang menerimanya?”

“Aku bilang tutup mulutmu!” bentak bu dekan.

“Apa yang terjadi pada Cho-Rong? Kenapa kepala sekolah membuang suratnya? Apakah surat itu benar atau salah? Apakah Choi Woo-Hyuk melakukan sesuatu pada So-Woo? Tidakkah itu yang kita penasaran? Jika kalian berpikir tentang ini, Lee So-Woo adalah awal dari semua ini. Aku rasa kita juga berhak untuk tahu. Jika tidak ada orang yang akan memberitahu kita, kita harus mencari tahu apa yang terjadi dan bagaimana. Jadi, mari kita cari tahu sendiri, alasan Lee So-Woo meninggal.”

Tanpa diduga, bu dekan tiba-tiba menampar Seo-Yeon. Tidak itu saja, ia juga melanjutkan dengan beberapa kali memukul kepala Seo-Yeon. Joon-Young segera berdiri di antara di depan Seo-Yeon untuk menghadang bu dekan, diikuti oleh beberapa murid lain yang berusaha untuk menahannya. Suasana kelas pun jadi rusuh.

Ibu Seo-Yeon (Kim Yeo-Jin) sedang berada di salon saat salah seorang temannya memberitahunya mengenai video Seo-Yeon yang ditampar oleh bu dekan, yang kini beredar di internet. Setibanya di rumah, ia segera masuk ke kamar Seo-Yeon dan menanyakan mengapa ia tidak memberitahu orang tuanya mengenai kejadian itu, karena ibunya tidak berniat untuk tinggal diam melihat perlakuan bu dekan pada Seo-Yeon.

“Bagaimana cara tercepat untuk menangani ini? Polisi? Departemen pendidikan?” tanya ibu Seo-Yeon pada suaminya yang juga baru tahu tentang kejadian itu. “Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja.”

“Ibu, aku tidak diam saja karena tidak punya sesuatu untuk dikatakan. Aku sedang memikirkan apa yang akan ku lakukan,” ujar Seo-Yeon.

“Tentang apa?” tanya ibunya.

“Kamu sudah melihat videonya. Aku mengatakan yang sesunggunya, bahwa aku akan mencari tahu bagaimana Lee So-Woo meninggal,” jawab Seo-Yeon. “Aku sungguh akan menginvestigasi insiden itu sendiri.”

“Kenapa kamu? Kenapa harus kamu yang melakukannya?” tanya ibunya tidak percaya.

“Pada saat ia menghadapi bahaya yang bukan kesalahannya, aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak ingin seperti itu lagi. Aku ingin mengatakan yang benar dan memberitahu apa yang salah,” jelas Seo-Yeon.

Sang-Joong coba untuk menenangkan Seo-Yeon dan memintanya untuk tidak memikirkan hal itu dan menyerahkannya pada dirinya.

“Haruskah aku mengikuti semua yang kamu katakan?” bantah Seo-Yeon. “Aku sampai pada kesimpulan ini setelah memikirkannya untuk sementara waktu. Kenapa tidak ada seorang pun yang menghargainya? Kita tidak boleh punya pendapat? Opini?”

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia ini, mengatakan hal-hal yang naif semacam itu,” respon ibunya.

“Dunia macam apa yang hanya orang dewasa yang tahu?” balas Seo-Yeon. “Tetap diam di saat teman kita mati? Hanya melihat, lari, dan melupakannya?”

“Kamu hanya stress karena akan menjadi senior,” ujar Sang-Joong.

“No,” bantah Seo-Yeon kembali, “Aku lebih rasional dari yang biasanya. Aku berpikir dengan jernih. Jangan perlakukan aku seperti aku gila hanya karena pendapatku berbeda dengan orang dewasa.”

Dengan kesal Seo-Yeon lantas mengambil jaketnya dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Ibunya mencoba memanggilnya, tapi tidak dihiraukan.

Ji-Hoon membaca diskusi di blog sekolah dan melihat video tentang Seo-Yeon. Berkali-kali ia mengulang bagian dimana Seo-Yeon mengatakan bahwa ia berniat untuk mencari tahu alasan Lee So-Woo meninggal (sesaat sebelum ia ditampar).

Seo-Yeon sedang berjalan tak tentu arah di lingkungan sekitar rumahnya saat sebuah pesan masuk, berasal dari Pengawas Jeung-Guk (Jeung-Guk Watchman).

“Pelajar hebat, kerja bagus sudah membuat keributan,” tulis Pengawas Jeung-Guk.

Seo-Yeon tersenyum senang membacanya. Ia lalu menanyakan kemana perginya Pengawas Jeong-Guk selama ini, namun si Pengawas, alias Ji-Hoon, mengabaikan pertanyaannya dan berbalik menanyakan rencana Seo-Yeon selanjutnya. Karena Seo-Yeon tidak menjawabnya, Ji-Hoon lantas menyebutkan hal-hal apa saja yang harus disiapkan oleh Seo-Yeon. Mulai dari mengumpulkan barang bukti, hingga membuat diskusi dan investigasi yang rasional.

“Kita akan bertahan hingga akhir untuk menemukan kebenaran,” pesan Pengawas Jeung-Guk.

Berbekal saran dari Pengawas Jeung-Guk, sejak itu Seo-Yeon mulai mempelajari buku-buku tentang hukum dengan giat. Ji-Hoon, yang diam-diam melakukan hal yang sama, terus melakukan koordinasi dengan Seo-Yeon, sebagai Pengawas Jeung-Guk tentunya.

Sang-Joong heran dengan Seo-Yeon yang juga belum keluar dari kamarnya untuk sarapan karena sudah hampir waktunya berangkat ke sekolah. Ibu Seo-Yeon yang masih kesal dengan anaknya cuek saja, hingga Sang-Joong mendatangi kamar Seo-Yeon sendiri untuk memeriksanya.

Melihat Seo-Yeon tertidur di mejanya, Sang-Jong mencoba membangunkannya. Saat itulah ia membaca sebuah proposal yang baru saja diselesaikan oleh Seo-Yeon. Beberapa saat kemudian istrinya datang. Melihat Sang-Joong sedang membaca sesuatu, ia pun menghampirinya. Sang-Joong lalu memintanya untuk membaca proposal tersebut.

Alarm ponsel Seo-Yeon berbunyi. Ia terbangun dan baru menyadari kedua orang tuanya ada di belakangnya.

“Ko Seo-Yeon,” ujar ibunya sembari melambaikan proposal yang dibuat Seo_Yeon, “Haruskah kamu bertindak sejauh ini? Kamu yakin?”

Seo-Yeon mengangguk. Sang-Joong tersenyum, lantas menepuk pundak Seo-Yeon dan membelai lembut rambut anaknya. Ibu Seo-Yeon jadi kesal melihatnya dan pergi meninggalkan mereka.

Detektif Oh mendatangi rumah Joo-Ri dan memberitahunya tentang tuntutan yang diajukan oleh ibu Woo-Hyuk. Joo-Ri berdalih bahwa Park Cho-Rong yang menulis surat tersebut. Detektif Oh berpura-pura percaya dan meminta Joo-Ri untuk menjelaskan dengan detil apa yang terjadi. Alih-alih melakukannya, Joo-Ri merespon dengan mengusir detektif Oh pergi dari rumahnya.

Seo-Yeon bersama ibunya menemui pak wakasek dan ibu wali kelas untuk membicarakan mengenai kejadian yang dialami Seo-Yeon. Pak wakasek meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Melihat bu dekan tidak ada di sana, ibu Seo-Yeon mempertanyakannya. Pak wakasek beralasan bahwa bu dekan sedang sakit dan urusan itu tidak memperlukan kehadiran bu dekan karena Seo-Yeon dianggap sudah melanggar kewenangan guru.

Tanpa disangka-sangka, ibu Seo-Yeon jadi marah mendengarnya dan menganggap sekolah telah begitu saja menyalahkan Seo-Yeon atas apa yang terjadi.

“Bukan itu maksud kami…” ujar pak wakasek gugup.

“Seperti itulah yang kamu katakan. Ia memulainya, dan ia berhak untuk dipukul,” potong ibu Seo-Yeon.

“Mrs. Ko, ku mohon agar tidak emosional,” pinta pak wakasek.

“Lalu kamu mengharapkan aku duduk di sini dan minum teh sementara putriku ditampar di sekolah oleh seorang guru?” sembur ibu Seo-Yeon.

Seo-Yeon hanya terdiam, tidak menyangka ibunya bakal bersikap seperti itu.

“Putriku ini, putriku. Ia menangis selama tiga hari dan tidak makan sama sekali,” tambah ibu Seo-Yeon. “Itulah yang sedang ia alami, tapi gurunya sendiri bahkan tidak muncul? Tidak ada permintaan maaf darinya? Kamu sungguh ingin memulai sesuatu?”

Tanpa menunggu jawaban, ibu Seo-Yeon lantas mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya, menanyakan apa saja yang harus ia persiapkan untuk memproses permasalahan itu secara hukum. Sambil menanggapi instruksi suaminya dari ujung telpon, ibu Seo-Yeon beranjak pergi dan meninggalkan pak wakasek serta bu wali kelas begitu saja. Dengan canggung Seo-Yeon menyusul ibunya keluar.

“Ibu,” panggil Seo-Yeon saat mereka sudah berada di lorong. “Kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini? Aku bahkan belum mulai bicara.”

“Ayahmu tidak mengangkatnya kok,” ujar ibunya sembari tersenyum, “Inilah dunia yang harus kamu tahu. Kamu harus tahu bagaimana cara menakuti seseorang, jika mereka menghindari tanggung jawab mereka. Begitulah caranya kamu mendapat kesempatan lebih. Jadi sekarang, kamu bisa melakukan apa yang kamu inginkan. Bicaralah dengan jelas, seperti yang sudah kita latih.”

Seo-Yeon mengangguk lega. Ia segera melangkah masuk kembali ke dalam ruang wakasek.

“Aku akan mencoba berbicara dengan ibuku,” ujar Seo-Yeon pada pak wakasek, “Tapi sebaliknya, mohon lihatlah ini.”

Pak wakasek menerima proposal yang disodorkan oleh Seo-Yeon dan membacanya.

“Proposal untuk pengadilan sekolah?” tanyanya heran.

“Ya. Aku ingin membuka pengadilan sekolah terhadap insiden Lee So-Woo. Ku mohon ijinkanlah,” jawab Seo-Yeon tegas.

Bingung menanggapinya, pak wakasek kemudian memanggil bu dekan. Sementara itu, Seung-Hyun dan temannya menguping dari balik pintu sembari menginformasikan pada Yoo-Jin yang sedang berada di kelas tentang apa yang sedang terjadi melalui SMS. Mendengar Seo-Yeon mengajukan proposal pengadilan sekolah, Kim Min-Suk (Woo Ki-Hoon) yang biasanya diam tiba-tiba bangkit dan merebut ponsel Yoo-Jin untuk membaca informasi dari Seung-Hyun. Tanpa berkata apa-apa, ia lantas pergi meninggalkan kelas.

Di ruang wakasek, bu dekan mempertanyakan proposal yang dibuat Seo-Yeon.

“Kamu begitu naif. Kamu pikir sekolah akan menyetujui permintaan omong kosong seperti itu?” tanya bu dekan.

Tanpa menjawabnya, Seo-Yeon mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan video bu dekan yang sedang menamparnya. Bu dekan jadi emosi melihatnya, tapi pak wakasek mengingatnya untuk menahan diri. Giliran pak wakasek yang kemudian mencoba untuk mencegah keinginan Seo-Yeon dengan alasan sudah waktunya bagi Seo-Yeon untuk belajar karena ia akan segera naik kelas menjadi senior.

“Ini bukan situasi dimana aku bisa fokus dalam pelajaranku,” respon Seo-Yeon. “Itu sebabnya kenapa pengadilan sekolah lebih dibutuhkan. Inilah cara kami bisa menyelesaikannya.”

“Sekolah sudah melakukan pekerjaan itu,” dalih pak wakasek.

“Sekolah melakukannya dengan salah,” balas Seo-Yeon. “Sekolah hanya mencoba untuk melewati ini tanpa mendapat kritikan. Mereka hanya berpikir seberapa cepat orang bisa melupakannya. Kamu hanya sibuk menghindari masalah dan melindungi dirimu sendiri.”

“Menghadapi secara langsung bukan selalu jawaban yang terbaik,” ujar pak wakasek. “Sudah beberapa waktu sejak peristiwa itu terjadi. Sekolah sudah mulai kembali normal. Tapi di saat seperti ini, kamu ingin mengangkap insiden Lee So-Woo kembali? Itu hanya akan mengakibatkan kebingungan yang lebih besar di sekolah.”

“Itu yang aku katakan. Kamu setidaknya membiarkan murid yang lain fokus (belajar),” tambah bu dekan.

Pintu tiba-tiba diketuk dan Min-Suk masuk ke dalam.

“Aku tidak akan duduk diam jika tidak ada yang dilakukan terhadap insiden ini,” ujarnya tanpa basa-basi.

“Ada apa denganmu?” tanya bu dekan.

“Dekan membuktikan bahwa dirinya tidak pantas menjadi seorang guru,” jawab Min-Suk tanpa sungkan, “Hanya karena seorang murid menyuarakan pendapatnya, ia ditampar. Aku tidak ingin menghadiri sekolah seperti itu. Aku tidak ingin mempertaruhkan hidupku di sekolah yang begitu tidak masuk akal.”

Semua yang ada di dalam ruangan terdiam.

“Kamu bilang murid-murid adalah prioritas terbesarmu,” ujarnya pada pak wakasek, mengacu pada pidato yang ia bawakan sebelumnya di saat pertemuan murid, “Buktikanlah! Buktikan bahwa murid-murid adalah prioritasmu, bahkan di saat itu tidak menggaransi keuntungan sekolah.”

Dengan lesu pak wakasek memegangi kepalanya dan menunduk, lantas meminta semua yang ada di sana untuk meninggalkan ruangan.

“Kim Min-Suk, hari ini…”

“Hentikan. Kamu akan mengatakan sesuatu yang emosional, bukan?” potong Min-Suk di saat ia dan Seo-Yeon berjalan kembali ke kelas. “Jangan lakukan itu. Aku benci hal-hal semacam itu.”

Seo-Yeon tersenyum mendengarnya.

Seo-Yeon tiba kembali di kelasnya.

“Aku tidak tahu apakah kalian sudah mendengarnya. Aku mengajukan pada kepala sekolah untuk membuka pengadilan sekolah,” ujar Seo-Yeon di hadapan teman-temannya. “Jika aku bisa menjelaskan kepadamu, tujuan dari pengadilan sekolah ini adalah…”

“Apa ini, lelucon?” potong salah seorang temannya. “Kita akan jadi senior segera, buat apa kita mengadakan pengadilan sekolah?”

Dan satu demi satu teman sekelas Seo-Yeon menyuarakan ketidaksetujuan mereka.

“Aku mengerti,” respon Seo-Yeon, “Aku akan langsung ke poinnya kalau begitu. Aku akan mengadakan pengadilan sekolah atas insiden Lee So-Woo. Kita akan menginvestigasi sendiri dan mendiskusikannya dalam pengadilan sekolah. Ayo kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka bilang aku membutuhkan persetujuan kalian untuk ini karena ini tidak pernah dilakukan sebelumnya. Jadi di sini, aku hanya ingin meminta tanda tangan dari masing-masing untuk menyetujuinya diadakannya pengadilan sekolah. Hanya nomer identitas sekolah dan nama kalian.”

Semua langsung berpura-pura sibuk belajar dan mengabaikan Seo-Yeon. Pada akhirnya hanya sahabatnya saja yang mengacungkan tangan untuk menandatangani persetujuan tersebut. Mereka adalah Joon-Young, Yoo-Jin, Soo-Hee, Seung-Hyun, dan teman Seung-Hyun (yang dipaksa oleh Seung-Hyun).

“Kita hancur. Tidak hanya dalam satu cara, tapi sepenuhnya,” ujar Seung-Hyun.

“Kamu sebaiknya memperhatikan perkataanmu,” respon Soo-Hee.

“Seo-Yeon,” panggil Yoo-Jin, “Aku akan melakukannya karena kamu meminta. Tapi sejujurnya aku tidak yakin apa yang kamu minta dariku.”

“Hei, apakah kamu pernah melihat Ko Seo-Yeon salah?” bela Soo-Hee. “Percaya saja padanya dan ikuti saja. Jadi, berapa banyak tanda tangan yang kita butuhkan?”

Dengan jarinya Seo-Yeon memberikan angka 5.

“50 murid?” tanya Soo-Hee, “Itu tidak terlalu buruk.”

“500,” tambah Seo-Yeon. “Kita butuh 500 tandatangan karena itu harus suara mayoritas.”

Sempat terkejut, Soo-Hee berusaha menyemangati yang lain bahwa mereka bisa melakukannya.

“Satu lagi, kita punya tiga hari untuk melakukannya,” ujar Seo-Yeon.

Soo-Hee tidak gentar dan terus menyemangati yang lain bahwa mereka pasti bisa.

“Siap untuk tantangan?” tanyanya sembari mengacungkan jempolnya pada yang lain.

Dan satu demi satu dari mereka menyambut acungan jempol tersebut.

Dengan berbagai cara mereka mulai mencoba untuk mengumpulkan tandatangan sebanyak mungkin. Mulai dari undian berhadiah tiket nonton konser, bagi-bagi minuman gratis, membantu jadi juara game online, hingga membagi-bagikan form selebaran. Namun begitu, tetap saja masih banyak yang tidak mendukung adanya pengadilan sekolah.

“Kamu pikir kamu bisa melakukannya?” tanya Ji-Hoon pada Seo-Yeon yang sedang berada sendirian di kelas.

“Apa itu?” tanya Seo-Yeon heran.

“Pengadilan sekolah yang coba kamu buat, kamu pikir kamu bisa melakukannya dengan benar?” tanya Ji-Hoon lagi.

“Tunggu dulu. Siapa kamu, kamu dari sekolah yang berbeda,” sergah Seo-Yeon.

“Aku Han Ji-Hoon dari Jeung-Guk Arts School,” jelas Ji-Hoon.

“Aku tahu siapa kamu. Yang aku tanyakan, apa yang kamu lakukan di sini menanyakan tentang itu?”

“Karena kamu kehilangan poinnya di sini. Bagaimana pengadilan yang sesungguhnya dimulai?”

“Kenapa aku harus menjawabnya?”

“Kamu pasti tidak tahu.”

“Aku tahu. Seorang penuntut harus mendakwa seseorang untuk memulai pengadilan.”

“Siapa penuntut dalam pengadilan ini?”

“Aku. Ini bukan pendakwaan formal tapi aku adalah orang yang mengajukannya.”

“Lalu apa tugasmu?”

“Secara teknis aku akan menjadi penuntut umum. Apakah kamu hanya ingin menantangku tentang bagaimana pengadilan berlangsung?”

“Jika ada tuntutan, apa kamu mengikuti sidang pengadilan kriminal?”

“Ya. Ini kasus kriminal. Apa kamu butuh detil lebih? Aku akan mengikuti model praktis sidang pengadilan kriminal.”

“Apa itu sidang kriminal praktis?”

“Untuk melihat apakah terdakwa dapat dihukum berdasarkan undang-undang atas perkara hukum.”

“Untuk mencari apakah terdakwa dapat dihukum adalah tujuannya, tapi sidang ini tidak kewenangan. Lalu, apa yang harus diputuskan?”

“Tentu saja apakah terdakwa bersalah atau tidak.”

“Siapa yang bersalah? Siapa yang bersalah atau tidak bersalah?”

Pertanyaan tersebut membuat Seo-Yeon terdiam.

“Kamu ingin aku menjawabnya untukmu?” tanya Ji-Hoon. “Terdakwa.”

“Aku tahu itu.”

“Kalau begitu, siapa terdakwa dalam pengadilan ini?”

“Choi Woo-Hyuk”

“Kamu lihat apa yang kamu lupakan di sini? Syarat mendasar dari sebuah pengadilan adalah argumen verbal antara penuntut dan terdakwa. Untuk mengatakan kamu ingin mengadakan pengadilan tanpa adanya penuntut atau terdakwa…”

“Bagaimana bisa penuntut di sini yang dipermasalahkan?” sergah Seo-Yeon.

“Dalam kasus kriminal, penggugat adalah (jaksa) penuntut. Penuntut adalah kamu dan terdakwa adalah Choi Woo-Hyuk. Kamu pikir kamu bisa mendatangkan Choi Woo-Hyuk ke pengadilan?”

“Aku tidak membutuhkannya di sana. Sebenarnya, lebih baik jika ia tidak ada di sana. Aku yakin ia akan menjadi kasar pada murid lain dan mengacaukan semua.”

“Itu prasangka.”

“Itu dari pengalaman. Kamu hanya tidak tahu karena kamu berasal dari sekolah yang berbeda.”

“Lalu siapa yang akan membela Choi Woo-Hyuk dari sekolahmu? Kamu sudah membuktikannya sendiri. Semua murid dari SMA Jeung-Guk punya prasangka dan kebencian terhadapnya. Lalu siapa yang bisa membela Woo-Hyuk dengan baik dalam sikap yang rasional? Itu bukan pengadilan jika kamu sudah memutuskan jika terdakwa bersalah. Terutama jika kamu bahkan tidak memberinya kesempatan untuk membela dirinya. Itu Witch Hunt.”

“Jaga omonganmu. Apa yang kamu tahu tentang ini?”

“Kalau begitu lakukan dengan benar. Untuk mengadakan pengadilan yang adil, pertama kamu butuh Choi Woo-Hyuk di kursi terdakwa. Kedua, Choi Woo-Hyuk butuh orang yang obyektif untuk membelanya. Seorang murid dari sekolah lain.”

“Mungkin kamu tidak melihatnya dengan jelas, tapi hanya untuk mendapatkan tandatangan dari murid sekolah kami sendiri saja sudah sulit. Bagaimana aku bisa mendapatkan murid dari sekolah lain?”

Ji-Hoon duduk di hadapan Seo-Yeon dan menatapnya.

“Kamu?” tanya Seo-Yeon.

Di luar, Soo-Hee dan Yoo-Jin melewati ruang kelas. Melihat Seo-Yeon sedang bersama Ji-Hoon, mereka pun menguping dari luar.

“Kamu ingin mengambil bagian dalam sidang ini?” tanya Seo-Yeon lagi.

Ji-Hoon mengangguk. Namun Seo-Yeon yang sudah kadung kesal dengan sikap Ji-Hoon sebelumnya menolak mentah-mentah.

“Terima kasih sudah datang ke sini, tapi aku tidak membutuhkan bantuanmu. Bahkan jika aku mendapat bantuan dari orang lain, itu bukan darimu. Jika kamu ingin menyemangatiku, lakukan dari jauh,” tegas Seo-Yeon.

Ia pun membereskan barang-barangnya lantas pergi meninggalkan Ji-Hoon. Di luar, Yoo-Jin dan Soo-Hee mempertanyakan keputusan Seo-Yeon barusan karena dengan kondisi saat ini mereka membutuhkan bantuan sebisa mungkin. Seo-Yeon keukeuh pada pendiriannya dan pergi meninggalkan mereka.

Setibanya di rumah, Seo-Yeon melampiaskan kekesalannya pada Ji-Hoon dengan memukuli bonekanya.

Pak wakasek menemui pak kepsek, Kyun-Moon, dan ketua dewan (Lee Ho-Jae). Pak kepsek langsung memarahinya tanpa basa-basi, tapi ketua dewan justru sebaliknya, mendukung keputusan pak wakasek. Pak wakasek kemudian menambahkan bahwa keputusannya juga sudah melalui pertimbangan untuk kebaikan sekolah. Selain itu, hingga hari kedua ini mereka belum mengumpulkan separuh dari tandatangan yang dibutuhkan. Kyung-Moon yang juga tidak setuju dengan adanya pengadilan sekolah meminta agar pak wakasek mempersiapkan respon yang dibutuhkan untuk berjaga-jaga seandainya mereka berhasil mendapatkan tandatangan yang diminta.

Seo-Yeon mencoba menghubungi Yoo-Jin dan Soo-Hee, namun akunnya diblok oleh mereka. Malam harinya, sepulang sekolah, ia curhat pada Joon-Young yang hanya terdiam mendengar omelan Seo-Yeon tentang sikap kedua sahabatnya itu. Seo-Yeon lantas meminjam ponsel Joon-Young untuk membuka akun sosmed mereka. Saat itulah ia melihat poster konser yang diadakan oleh Han Ji-Hoon dan rekan-rekannya dari klub musik rock di sebuah cafe.

Bersama Joon-Young, Seo-Yeon kemudian mendantangi tempat tersebut, yang sudah dipenuhi oleh murid-murid dari sekolahnya. Sempat terlihat sosok Soo-Hee, Yoo-Jin, dan Seung-Hyun sedang membagikan selebaran, yang langsung berlari bersembunyi di saat Seo-Yeon melihat mereka. Di lantai Seo-Yeon mendapati selembar kertas yang terjatuh, kertas berisi form persetujuan diadakannya pengadilan sekolah.

Sebuah surat untuk Joo-Ri tiba. Dengan panik Joo-Ri membukanya. Dan benar, itu adalah surat tuntutan yang dilakukan oleh ibu Woo-Hyuk. Joo-Ri jadi kalap dan melemparkan serta membanting semua barang yang ada di kamarnya. Ibunya (Kim Jung-Young) yang melihatnya kemudian memastikan bahwa ia akan melakukan segala cara untuk membuat Joo-Ri merasa lebih baik.

Konser memasuki bagian akhir. Lagu terakhir disebut oleh Ji-Hoon adalah lagu yang dipersembahkan untuk temannya yang baru saja pergi meninggalkan dirinya, lagu yang sedih dan syahdu. Ji-Hoon terlihat begitu menghayati saat lagu tersebut dibawakan.

Usai konser, Seo-Yeon mendatangi Ji-Hoon di ruang ganti.

“Aku tidak pernah mengatakan ini di hadapan orang lain sebelumnya. Kamu bertingkah terlalu pede. Kenapa kamu membuat dirimu terlibat? Kita bisa saja melakukannya tanpa dirimu. Apakah kamu sungguh harus membuatku tampak seperti orang bodoh? Aku tidak melakukan ini hanya karena emosiku. Pengadilan tidak untuk bersenang-senang. Itu juga bukan lelucon. Jadi tinggalkan aku dan teman-temanku dan masalah yang ada di sekolahku sendiri.”

Seo-Yeon menutup kata-katanya dengan berterima kasih atas tandatangan yang sudah terkumpul berkat konser tersebut, lalu berpamitan pergi.

“Kenapa kamu pikir hanya kamu yang tulus melakukannya?” tanya Ji-Hoon tiba-tiba.

Ia lalu melangkah menghampiri Seo-Yeon dan melanjutkan kata-katanya, “Aku juga melakukannya dengan tulus.”

“Kamu kenal Lee So-Woo?” tanya Seo-Yeon.

“Tidak,” jawab Ji-Hoon tanpa ragu.

Preview Episode 4

Berikut adalah video preview episode 4 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 4 selengkapnya

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply