Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 5 & Preview Episode 6 (5 Januari 2017)

Di sinopsis Solomon’s Perjury episode sebelumnya, Han Ji-Hoon (Jang Dong-Yoon) memastikan Choi Woo-Hyuk (Back Cheol-Min) bakal datang ke pengadilan sekolah. Namun demikian, saat Ko Seo-Yeon (Kim Hyun-Soo) memintanya untuk menceritakan lebih detil tentang bagaimana ia bisa meyakinkan Woo-Hyuk, Ji-Hoon sama sekali tidak mau bercerita. Hal tersebut membuat Seo-Yeon curiga terhadapnya. Sementara itu, tanpa diduga muncul seseorang yang mengaku sebagai kakak dari Lee So-Woo (Seo Young-Joo), Lee Tae-Woo (Yeo Hoi-Hyeon), dan ia memberikan sebuah amplop pada Seo-Yeon yang menurutnya adalah bukti bahwa So-Woo tidak melakukan bunuh diri. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 5 kali ini?

Dok. gambar dan video © JTBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 5

Adegan flashback saat Ji-Hoon bertemu dengan Woo-Hyuk. Setelah bertemu dengan Ji-Hoon, Woo-Hyuk ternyata mengajaknya ke sebuah minimarket dan memintanya untuk meminum soju agar ia mabuk. Ji-Hoon menolak karena ia tidak suka minum-minum.

“Aku tidak tahu apakah kamu sedang mempermainkanku atau berbohong tentang mempercayaiku, aku butuh melihatmu di saat terburukmu agar aku bisa melakukan sesuatu, bodoh. Jadi minumlah,” ujar Woo-Hyuk.

Ji-Hoon terdiam dan memandang gelas bir yang sebelumnya disodorkan Woo-Hyuk. Perlahan ia pun meraihnya.

Beberapa waktu kemudian, Han Kyung-Moon (Cho Jae-Hyun) pulang ke apartemen dan mendapati sepatu dan pakaian Ji-Hoon yang tergeletak begitu saja di lantai dan juga tempat tidur Ji-Hoon. Ia mengetuk pintu kamar mandi Ji-Hoon dan menanyakan apakah Ji-Hoon baik-baik saja. Dari dalam kamar mandi, terdengar jawaban Ji-Hoon yang mengatakan bahwa ia sedang mandi. Kyung-Moon mengangguk lantas pergi keluar dari kamar Ji-Hoon.

Di dalam kamar mandi, masih dengan pakaian lengkap, Ji-Hoon mengguyur tubuhnya dengan air shower. Ia lalu berdiri di depan kaca sambil mengingat kembali saat dulu ayahnya (yang asli) memukuli ibunya dan ia hanya bisa bersembunyi melihatnya dari balik meja sambil menangis. Membayangkan hal tersebut membuat air mata Ji-Hoon kembali meleleh.

Keluar dari kamar mandi, Ji-Hoon mendapati bajunya yang sudah dilipat rapi dan ayahnya membawakan segelas air madu untuknya. Kyung-Moon ternyata tahu bahwa Ji-Hoon baru saja mabuk dan ia sama sekali tidak marah.

“Aku mengecewakanmu, bukan?” tanya Ji-Hoon.

“Memang,” jawab Kyung-Moon sambil tertawa. “Tapi aku rasa kamu pasti punya alasan untuk itu. Kamu bukan tipe orang yang bertindak serampangan. Sepertiku.”

“Ayah, apa aku mirip sepertimu?” tanya Ji-Hoon lagi.

“Tentu saja, kamu menurun dariku. Lihat. Alismu, matamu, hidungmu, semua mirip denganku. Dan rambutmu, itu sama. Dan tinggimu. Kamu lebih tinggi karena aku banyak memberimu makanan yang bagus saat kamu kecil, kalau tidak tinggimu sepantaran denganku,” jelas Kyung-Moon.

Sambil membelai rambut Ji-Hoon yang masih basah, Kyung-Moon berjanji akan membuatkannya hangover soup untuknya esok pagi dan memintanya untuk memakannya. Ji-Hoon mengangguk.

“Itu adalah hangover soup pertama yang aku buat untukmu,” ujar Kyung-Moon seraya tertawa dan berlalu meninggalkan Ji-Hoon.

Seo-Yeon tiba di kamarnya. Setelah duduk di kursi meja belajarnya, ia melihat kembali amplop yang diberikan Tae-Woo dan teringat perkataannya bahwa So-Woo tidak bunuh diri. Perlahan Seo-Yeon mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Ji-Hoon.

“Apa yang terjadi jika Lee So-Woo tidak melakukan bunuh diri?”

Di kamarnya, Ji-Hoon membaca pesan dari Seo-Yeon tersebut dan hanya bisa terdiam tanpa bisa membalasnya.

Seo-Yeon bangun kesiangan dan bergegas menyiapkan barang-barangnya. Untungnya, tanpa disangka Bae Joon-Young (Seo Ji-Hoon) menunggunya di depan rumah dengan membawa sepeda. Mereka lantas berboncengan menuju ke sekolah dan berhasil tiba tepat waktu. Setibanya di kelas, kedua sahabatnya, Lee Yoo-Jin (Ahn Sol-Bin) dan Kim Soo-Hee (Kim So-Hee), kaget dengan Seo-Yeon yang tumben-tumbennya bisa terlambat. Seo-Yeon pun hanya tersenyum sembari melirik ke arah Joon-Young saat mereka menanyakan penyebabnya.

Di saat jeda pelajaran, Ji-Hoon, Seo-Yeon, dan rekan-rekannya yang lain mengadakan audisi untuk pemilihan juri di pengadilan sekolah. Di saat audisi hampir berakhir, bu guru Kim (Shin Eun-Jung) masuk dan meminta mereka untuk mengaudisi Baek Hae-Ri, siswi yang tidak hanya terkenal sok, melainkan juga punya sejarah berpacaran dengan Woo-Hyuk.

Kehadirannya membuat klub sidang sekolah terpecah menjadi dua pihak. Seo-Yeon, Soo-Hee, dan Choi Seung-Hyun (Ahn Seung-Kyoon) menentangnya, sementara Ji-Hoon, Joon-Young, dan Yoo-Jin menyetujuinya. Pada akhirnya, suara dari Kim Min-Suk (Woo Ki-Hoon) yang mendukung keberadaan Hae-Ri di pihak juri untuk lebih menyeimbangkan komposisinya membuat yang lain harus menerima kehadirannya.

Lee Joo-Ri (Shin Se-Hwui) keluar dari ruang dokter usai menjalani sesi konsultasinya. Ibunya (Kim Jung-Young) yang sedari tadi menunggunya di ruang tunggu lantas mengajaknya untuk pulang. Dalam perjalanan keluar, Joo-Ri melihat beberapa orang pasien di sana yang berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arahnya.

“Aku tidak mau melakukan sesi konsultasi lagi,” ujar Joo-Ri pada ibunya saat mereka sudah berada di dalam mobil.

“Apa? Kenapa? Apa kamu tidak suka psikolognya? Haruskah aku mencari tempat lain?” tanya ibunya.

“Aku hanya tidak ingin. Aku tidak akan melakukannya,” jawab Joo-Ri.

“Apakah itu karena orang-orang di sana mengenalimu?”

“Aku bilang aku tidak ingin. Kenapa kamu terus menanyaiku?” respon Joo-Ri dengan nada tinggi.

“Apa kamu ingin pindah, Joo-Ri? Ayo kita pindah, kita akan punya tempat baru, rumah baru, dan hidup yang baru, kamu bisa berpindah sekolah juga,” tawar ibunya.

“Apa maksudmu? Kenapa aku harus pindah sekolah? Apa salahku?”

“Kamu tidak melakukan hal yang salah. Ibu tahu itu.”

“Tapi kenapa kita pindah? Apakah kita melarikan diri?”

“Yang aku ingin katakan adalah kita akan punya hidup yang lebih mudah di tempat dimana orang-orang tidak mengenali kita,” jelas ibunya.

“Orang-orang yang mengenaliku?” tegas Joo-Ri. “Itu mungkin mudah bagimu karena kamu tidak berada di media sosial. Tidak peduli dimana aku pergi atau siapapun yang aku temui, aku Lee Joo-Ri, orang yang mengupload video insiden Jeong-Guk High School. Tidak peduli kemanapaun aku pergi atau siapapun yang temui itu semua sama!”

Joo-Ri lantas meminta ibunya untuk meminggirkan mobilnya. Ibunya segera meminta maaf, namun Joo-Ri keukeuh minta untuk turun dari mobil. Mau tidak mau ibu Joo-Ri menuruti permintaan anaknya itu. Dengan kesal, Joo-Ri keluar dari mobil dan pergi meninggalkan ibunya.

Seo-Yeon gundah. Ia hendak mengirim pesan pada Joo-Ri, namun tidak menemukan kalimat yang tepat. Pada akhirnya, ia langsung to the point memberitahu Joo-Ri tentang jadwal sidang pertama pengadilan sekolah besok pagi.

“Apa alasanmu untuk memberitahuku?” balas Joo-Ri.

“Aku akan senang jika kamu bisa datang dan melihatnya,” balas Seo-Yeon kembali. “Karena ini adalah sidang untukmu.”

Membacanya, Joo-Ri tidak lagi membalasnya. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam sakunya lantas melanjutkan langkahnya.

Lee Sung-Min (Lee Do-Gyeom) menemui Woo-Hyuk di taman sebuah apartemen tempat ia dan keluarganya tinggal saat ini pasca rumah mereka terbakar. Sung-Min berbasa-basi menanyakan apakah tempat tersebut nyaman, yang direspon dengan ketus oleh Woo-Hyuk.

“Kenapa kamu akan melakukannya?” tanya Sung-Min kemudian. “Sidang. Apa yang akan kamu dapatkan?”

“Aku juga punya alasan,” jawab Woo-Hyuk.

“Alasan apa?” tanya Sung-Min heran.

“Orang itu. Dia bilang dia akan membuatku tidak bersalah apapun yang terjadi. Orang yang bernama Han Ji Hoon.”

“Apa kamu mempercayainya?”

“Jika aku tidak mempercayainya, apa yang bisa aku lakukan di situasi ini? Siapa yang tahu apalagi yang akan hilang dariku jika aku tidak melakukan apa-apa.”

Seraya beranjak dari tempat duduknya, Woo-Hyuk melanjutkan kata-katanya, “Kamu bisa datang untuk melihat besok jika kamu mau. Dan pastikan Kim Dong-Hyun menjaga mulutnya.”

Ia pun kembali masuk ke apartemennya.

Pak wakasek (Ryu Tae-Ho) dan bu guru wali kelas (Ji E-Suu) menemui ibu Seo-Yeon (Kim Yeo-Jin) di rumahnya. Mereka meminta agar ibu Seo-Yeon mau membantu mereka menghentikan Seo-Yeon dalam mengadakan sidang.

“Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan sidang ini berlanjut,” tambah pak wakasek. “Sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap sekolah dan sebagai seorang pengajar selama 30 tahun. Ini kasus kriminal sungguhan, dimana seseorang telah mati. Jika Seo-Yeon berhenti, murid yang lain juga akan mundur. Itu sebabnya aku datang untuk mengajukan permintaan ini.”

“Aku minta maaf,” respon ibu Seo-Yeon sembari membungkukkan kepalanya, “Aku.. aku tidak bisa meminta Seo-Yeon untuk melakukan itu.”

“Tapi tidak bisakah kamu mempertimbangkan dari sudut pandang sekolah?” pinta pak wakasek.

“Aku memahami sudut pandang sekolah. Aku tidak sepenuhnya senang membiarkan Seo-Yeon melakukan ini,” jawab ibu Seo-Yeon, “Aku akan memberikannya selamat dengan tangan terbuka jika ia mengatakan ia akan berhenti dari sidang sekarang ini. Tapi, itu hanya jika Seo-Yeon berhenti dengan keinginannya sendiri. Bukan ia berhenti karena tekanan dariku atau orang dewasa lain terhadapnya, tapi ketika ia datang kepadaku setelah mencoba semuanya dan berkata, ‘Ibu, aku tidak ingin melakukan ini lagi’. Aku percaya orangtua adalah orang yang memberi kemudahan jalan bagi anak mereka, tapi arahnya harus ditentukan sendiri oleh anak itu. Aku membesarkan Seo-Yeon seperti itu. Dan ia akan terus menjalani hidup seperti itu. Aku tidak bisa meminta Seo-Yeon untuk tidak melakukan itu.”

Di ruang klub, Soo-Hee mengagumi dirinya sendiri yang sukses mengatur posisi tempat duduk di sidang sehingga wajah mereka bisa terlihat jelas oleh para pengunjung yang hadir. Yoo-Jin sedikit tidak setuju karena ia merasa bagian wajahnya yang kurang bagus yang akan terlihat dari posisi duduk Ji-Hoon. Ia lantas meminta pendapat Seo-Yeon, namun Seo-Yeon sedang serius mempelajari materi untuk sidang besok, sehingga tidak terlalu memperhatikan pembicaraan mereka. Untung saja keduanya sudah tahu sifat Seo-Yeon sehingga tidak terlalu mempermasalahkannya.

Seo-Yeon tiba-tiba mendapat kiriman pesan dari ibunya, berupa pengumuman daftar murid yang terlibat dalam sidang sekolah. Ia lantas menghubunginya ibunya dan mendapat kabar bahwa pihak sekolah telah mengirimkan pengumuman tersebut ke orangtua masing-masing.

“Cepat pulang,” pintanya pada Soo-Hee dan Yoo-Jin.

“Ada apa tiba-tiba?” tanya Yoo-Jin heran.

“Sekolah menulis nama-nama kita dan mengirimkannya ke nomer koresponden masing-masing. Lewat SMS,” jelas Seo-Yeon.

Mendengarnya, Soo-Hee dan Yoo-Jin langsung panik dan bergegas pulang ke rumah mereka. Seo-Yeon pun mengabarkan berita tersebut kepada yang lainnya.

Joon-young sedang berada di kamarnya saat pesan dari Seo-Yeon masuk ke ponselnya. Ia segera berdiri untuk mendatangi kamar ibunya (Lee Gyung-Sim) tapi terlambat, ibunya sudah membacanya dan di saat yang sama masuk ke kamar Joon-Young. Tanpa basa-basi ia langsung menampar anaknya.

“Apa ini? Aku bertanya kepadamu, apa ini?” tanya ibunya.

Joon-Young tidak menjawabnya dan hanya terdiam menatap ibunya.

“Kamu tidak akan menjawabku?” bentak ibunya sembari menampar Joon-Young sekali lagi.

“Sepertinya kamu berpikir kamu adalah sesuatu yang spesial saat ini, tapi kamu tahu seberapa besarnya penghinaan ini? Beraninya kamu! Tanpa ijinku!” lanjut ibunya, yang kemudian mengobrak-abrik meja belajar Joon-Young.

“Hentikan!” bentak Joon-Young.

“Berhenti?” tanya ibunya. “Siapa kamu beraninya memberiku perintah? Tidak dewasa, tidak berguna. Apakah kamu sudah lupa siapa yang membesarkanmu? Beraninya kamu meninggikan suaramu!”

“Aku sungguh membencimu. Ibu, aku sungguh membencimu,” respon Joon-Young sembari menahan tangis.

Dengan kesal ibunya hendak menamparnya kembali. Tapi kali ini Joon-Young menghindar, lalu pergi meninggalkan ibunya begitu saja.

Seo-Yeon hendak pulang ke rumah dan mendapati Ji-Hoon sedang berdiri di depan taman tempat dimana So-Woo ditemukan meninggal.

“Bagaimana kamu tahu?” tanya Seo-Yeon. “Ini tempat dimana Lee So-Woo ditemukan. Bagaimana kamu tahu?”

“Aku membacanya dari data sidang,” jawab Ji-Hoon.

Terdiam sejenak, Seo-Yeon lalu berkata, “Maaf untuk kemarin. Tentang mengatakan kepadamu kamu punya banyak rahasia. Aku tidak cepat tanggap, tapi aku punya wawasan. Jadi saat aku berbicara dengan seseorang, aku bisa melihat seperti apa orang itu dan apa yang mereka pikirkan. Aku tidak bisa melihatmu sama sekali. Itu pasti sebabnya kenapa aku merasakan demikian. Bahwa ada tembok penghalang.”

“Tidakkah lebih baik untuk tidak tahu apa yang orang lain pikirkan?” tanya Ji-Hoon. “Seseorang pernah memberitahuku bahwa mengetahui apa yang tidak ingin kamu tahu, melihat apa yang tidak ingin kamu lihat, sungguh menyakitkan. Itu menghalangimu dari bisa menyukai orang.”

“Seberapa banyak dariku yang bisa kamu lihat?” tanya Seo-Yeon.

“Aku tidak yakin. Tidak banyak. Mungkin karena kamu pendek?” jawab Ji-Hoon.

“Apa?” respon Seo-Yeon yang tidak nyambung dengan candaan Ji-Hoon.

“Kamu mengagumkan,” lanjut Ji-Hoon sembari tersenyum. “Aku merasakan itu di depan rumah Lee Joo-Ri. Ketika aku melihatmu menundukkan kepalamu di hadapan orang lain bahkan setelah disiram dengan air di tengah musim dingin.”

“Baguslah kalau aku terlihat mengagumkan. Aku hampir mati beku pada hari itu,” respon Seo-Yeon.

“Ini dingin, jadi kamu bisa pergi lebih dahulu. Aku meninggalkan sesuatu di ruang klub,” ujar Ji-Hoon.

“Mulai besok kita berada di pihak penuntut dan pengacara. Ini terakhir kalinya kita bertemu tanpa harus berargumen. Setelah hari ini, kita akan merasa berselisih hanya dengan melihat satu sama lain.”

“Mari kita lakukan sidang yang bagus,” balas Ji-Hoon seraya menyodorkan tangannya untuk bersalaman.

Seo-Yeon menyambut uluran tangan Ji-Hoon dan berkata, “Mari berjuang dengan baik, hingga akhir.”

Di ruang klub, Ji-Hoon mendapati Joon-Young sedang tidur di sofa. Tahu bahwa ia berencana tidur di sana karena pergi dari rumah, Ji-Hoon pun menawarkan agar Joon-Young menginap di tempatnya.

Malam harinya, Seo-Yeon berkirim pesan pada teman-temannya dan menanyakan kondisi mereka. Seung-Hyun menjawab bahwa kakinya kini mati rasa karena ia barusan meminta maaf selama sejam. Sementara itu, Soo-Hee diusir keluar rumah, sedang Min-Suk dan Yoo-Jin aman. Saat Seo-Yeon menanyakan tentang Joon-Young yang tidak membalas pesannya, Ji-Hoon yang mewakili, dan mengatakan bahwa Joon-Young baik-baik saja dan kini sedang ada bersamanya.

Saat hendak tidur, Joon-Young menanyakan kenapa Ji-Hoon mau menjadi pengacara Woo-Hyuk.

“Bagaimana denganmu?” tanya Ji-Hoon balik. “Aku dengar murid-murid SMA Jeong-Guk tidak menyukai Choi Woo-Hyuk. Tapi kenapa kamu membelanya?”

“Aku melihat Lee So-Woo,” jawab Joon-Young, “Saat terakhir Lee So-Woo.”

“Seperti apa dia? Lee So-Woo?”

“Ia terlihat damai. Seperti ia sudah memilih untuk itu sejak awal. Dari ekspresinya ia terlihat nyaman.”

Ji-Hoon terdiam mendengarnya.

“Oh, iya, hari itu aku juga melihat seorang pria,” lanjut Joon-Young. “Seseorang sedang memandang ke arah taman bunga. Pada saat itu, aku tidak berpikir terlalu banyak tentangnya, tapi sekarang setelah dipikir lagi sepertinya itu agak aneh.”

“Apa yang dikatakan polisi tentang itu?” tanya Ji-Hoon.

“Aku tidak mengatakannya, karena aku masih panik,” jawab Joon-Young.

“Bagaimana dengan yang lain? Apakah yang lain tahu?”

“Tidak. Aku bahkan tidak yakin, jadi aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan hal itu. Bagaimana menurutmu? Haruskah aku memberitahu yang lain?”

“Tidak, itu hanya akan menimbulkan drama,” respon Ji-Hoon.

Ia kemudian memberi tanda pada Joon-Young agar tidur karena jika terus mengobrol mereka akan terjaga hingga pagi. Pikiran Ji-Hoon kemudian melayang, di saat Joon-Young menemukan mayat Lee So-Woo. Orang yang barusan disebutkan oleh Joon-Young ternyata adalah dirinya sendiri.

Hari sidang pertama pun tiba. Seo-Yeon dan teman-temannya, dengan diawasi oleh bu guru Kim, bersama-sama menyiapkan ruangan yang digunakan sebagai tempat sidang. Namun belum apa-apa masalah sudah mulai datang.

“Apa maksudmu juri tidak mau berpartisipasi dalam sidang? Mengapa tiba-tiba?” tanya Seo-Yeon.

“Itu karena pengumuman kemarin. Dasar lemah. Bagaimana bisa mereka dikalahkan oleh orangtua mereka sendiri,” omel Soo-Hee.

“Berapa orang yang tersisa?” tanya Seo-Yeon.

“Lima,” jawab Yoo-Jin. “Haruskah aku meminta beberapa orang yang aku kenal untuk mengisinya?”

“Juri bukanlah penonton. Di saat keputusan tergantung pada juri, kita tidak bisa mengganti mereka begitu saja,” respon Seo-Yeon.

“Haruskah kita menunda sidang hingga besok dan memilih juri lagi hari ini?” tanya Soo-Hee.

“Sekolah mengirimkan pengumuman dengan nama kita di sana, seperti itu. Siapa yang ingin menjadi juri?” timpal Seung-Hyun.

“Mari kita lakukan sesuai rencana,” ujar Ji-Hoon. “Tidak peduli bagaimana sekolah mencoba menghalangi, kita tidak bisa mundur. Jika kita jatuh sekali, mereka akan mendorong kita dua kali, dan jika kita jatuh dua kali, mereka akan mendorong kita tiga kali. Pada akhirnya, seluruh sidang akan berantakan.”

“Kamu benar,” tambah Seo-Yeon yang sudah mulai bersemangat kembali, “Dari awal, kita memulai dengan berbagai tudingan. Mari kita fokus untuk memulai sidang hari ini.”

“Oke! Ayo kita terobos saja seperti banteng!” respon Soo-Hee, lantas mengajak yang lain untuk tos.

Memasuki ruang sidang, Seo-Yeon dkk kaget mendapati ruangan yang dipenuhi pengunjung. Mereka tidak menyangka bakal seramai itu. Sidang pun dimulai. Namun lagi-lagi, masalah muncul. Saat hakim (Min-Suk) sedang menjelaskan mengenai jalannya sidang, seorang ibu-ibu yang berdiri di belakang memotong.

“Maafkan aku, meski ini hanya sidang pura-pura, tidakkah ini terlalu berlebihan?” ujar ibu tersebut. “Apa kalian melakukan ini dengan ijin orangtua?”

“Pengunjung tidak diperbolehkan untuk berbicara,” respon Min-Suk.

“Aku bukan pengunjung, tapi ibu dari murid sekolah ini. Juga, apa-apaan semua ini dibandingkan keharusan untuk belajar?” lanjut ibu tersebut.

“Ibu! Kamu mempermalukanku!” bisik seorang murid yang duduk di tengah ruang sidang.

“Harap tenang, atau tinggalkan tempat ini jika tidak ingin melihat,” balas seorang bapak-bapak, pengunjung lain.

“Siapa bilang aku tidak ingin melihat? Aku hanya mengatakannya karena aku peduli terhadap anak-anakku.”

Adu pendapat keduanya pun berlanjut dan semakin memanas. Beberapa orangtua lain bahkan ikut nimbrung. Tanpa diduga, Hye-Rin yang sedari tadi menyimak dari kursi juri beranjak dan maju ke depan panggung.

“Ahjumma, siapa kamu mencoba untuk menghentikan kami? Kami bilang kami akan melakukannya!” ujarnya tegas.

“Sikap berbicara macam apa itu?” respon ibu-ibu tadi.

“Ada apa dengan cara bicaraku? Jika aku berbicara yang benar, apakah itu membuatku tidak dihargai?” balas Hye-Rin. “Ahjumma, kamu juga tidak punya aturan.”

Untuk menenangkan suasana, Min-Suk mengetokkan palunya dan meminta semuanya untuk diam. Bu guru Kim juga memberi instruksi pada Hye-Rin untuk berhenti dan duduk kembali di tempatnya. Dan kembali ibu-ibu yang ada di belakang memicu keributan. Min-Suk mengetok-ngetokkan palunya, tapi mereka semua tetap sibuk berdebat sendiri. Ia pun memutuskan untuk menekuk batang microphone yang ada di hadapannya sehingga menimbulkan suara feedback yang melengking. Semuanya terdiam.

“Mulai dari sekarang, siapapun yang mengganggu akan dikeluarkan,” ucapnya tegas.

Ibu-ibu yang di belakang akhirnya duduk kembali dengan kesal. Sebagai gantinya, seorang ibu dari barisan kursi lain berdiri.

“Tidak bisakah kamu berhenti sekarang?” tanyanya.

Yoo-Jin kaget melihatnya. Ibu itu ternyata adalah ibu dari Min-Suk sendiri.

“Harap tenang,” respon Min-Suk.

“Aku memberitahumu untuk tidak ikutan. Kenapa kamu membuat keadaan jadi buruk? Berhentilah segera,” lanjut ibu Min-Suk.

“Aku memperingatkanmu bahwa kamu bisa dikeluarkan,” Min-Suk kembali mengingatkan ibunya.

“Kim Min-Suk!” bentak ibunya.

“Jika aku tetap diam lalu siapa yang akan membantu? Seseorang di kelas kami meninggal. Ia menggunakan seragam yang sama dengan kami, ia belajar di kelas yang sama dengan kami, ia makan di meja yang sama dengan kami. Ia meninggal. Di momen seperti ini, butuh ijin atau tidak, akan pergi ke universitas atau tidak, apakah itu sungguh penting?” jelas Min-Suk.

“Min-Suk, apa yang kamu pikirkan?” ibunya masih tidak bisa menerima.

“Harap keluarkan dia,” perintah Min-Suk.

“Sikap macam apa itu terhadap ibumu sendiri!” ujar ibunya.

“Aku bilang keluarkan dia!” tegas Min-Suk.

Dua orang murid yang bertugas sebagai penjaga sidang menghampiri ibu Min-Suk. Dengan kesal, ibu Min-Suk pun pergi meninggalkan ruang sidang.

“Aku akan mengatakan ini lagi,” ujar Min-Suk. “Siapapun pengunjung yang berbicara tanpa ijin dari hakim akan diminta untuk meninggalkan ruangan. Terdakwa Choi Woo-Hyuk, dipersilahkan untuk masuk.”

Perlahan Woo-Hyuk melangkah masuk ke dalam ruangan. Murid-murid yang menonton jalannya sidang terkejut mengetahui Woo-Hyuk benar-benar datang ke sidang tersebut. Beberapa di antaranya segera memotret sosok Woo-Hyuk yang duduk di kursi terdakwa. Tidak itu saja, berita mengenai kedatangan Woo-Hyuk segera menyebar ke penjuru sekolah, sehingga murid-murid lain yang sebelumnya tidak berminat untuk menonton bergegas mendatangi ruang sidang.

Sementara itu, bu dekan (Oh Yoon-Hong) memberitahu Kyung-Moon dan pak wakasek yang sedang berada di ruang kepala sekolah mengenai hal tersebut. Kyung-Moon lalu meminta bu dekan untuk mengatur agar siaran sidang tersebut bisa ditonton melalui layar televisi yang ada di ruang kepsek.

“Aku tidak menyangka pengumuman itu akan membawa efek sebaliknya, memberikan banyak atensi terhadap sidang ini,” ujar pak wakasek menyesal seraya menghidupkan layar televisinya.

Hakim (Min-Suk) mempersilahkan jaksa penuntut (Seo-Yeon) untuk membacakan dasar dakwaannya. Setelah sekilas memperkenalkan diri, Seo-Yeon memulainya.

“Hingga saat ini, kematian Lee So Woo dianggap sebagai bunuh diri. Itu karena ia tidak menghadiri sekolah selama 2 minggu sebelum meninggal dan karena fakta bahwa ia menderita depresi. Bagaimanapun, murid SMA Jeong-Guk tahu yang sebenarnya. Lee So Woo terlibat perkelahian besar dengan Choi Woo-Hyuk beberapa hari sebelum ia meninggalkan sekolah. Nyatanya, itu lebih seperti penyerangan satu arah daripada perkelahian.”

“Apa yang kamu bilang?” sergah Woo-Hyuk.

“Aku melihatnya sendiri,” lanjut Seo-Yeon tanpa mempedulikan ucapan Woo-Hyuk, “Tidak hanya aku yang melihatnya. Beberapa murid juga mungkin melihatnya.”

“Itu karena ia memulainya,” potong Woo-Hyuk.

Ji-Hoon memegangi lengan Woo-Hyuk dan memberitanya tanda untuk tetap tenang.

“Namun begitu, Lee So Woo harus menemui panel kekerasan sekolah sebagai penyerang. Itu karena tidak seorang pun, termasuk aku, tidak seorang pun mau membuat pernyataan mengenai inside di laboratorium sains,” ucap Seo-Yeon.

Beberapa murid terlihat menunduk malu mendengarnya.

“Pada hari dimana panel kekerasan sekolah dimulai, Lee So Woo mengosongkan lokernya dan pergi meninggalkan sekolah,” lanjut Seo-Yeon, “Ia berumur 18 tahun. Itu pasti satu-satunya pilihan yang ia bisa lakukan di hadapan keputusan yang tidak adil. Itu keinginannya sendiri. Ia tidak berhenti sekolah untuk menyiapkan aksi bunuh dirinya.”

“Jaksa penuntut, harap tidak menyatakan asumsi atau pendapatmu, hanya fakta saja,” hakim mengingatkan.

“Ya,” respon Seo-Yeon, “Dua minggu dari hari itu, pada tanggal 26 Desember 2016, sekitar pukul 6 pagi… Aku akan langsung saja. Dakwaannya adalah pernyataan dari seorang saksi mata yang ada di tempat kejadian. Tayangan The News Adventure juga membeberkan bukti yang mengarah pada kemungkinan Lee So Woo telah dibunuh. Karena itu aku, berdasarkan bukti yang ada di surat dakwaan dan pada tayangan tersebut, mendakwa Choi Woo Hyuk terhadap pembunuhan Lee So Woo.”

Setelah memberi hormat pada pengunjung, Seo-Yeon kembali ke tempat duduknya. Hakim lantas mempersilahkan pengacara / pembela untuk merespon dakwaan tersebut.

“Itu mimpi,” ujar Ji-Hoon tegas sembari melangkah menuju ke hadapan pengunjung. Ia melanjutkan, “Jaksa penuntut sedang bermimpi sekarang.”

Di ruang kepsek, pak wakasek kaget melihat keberadaan Ji-Hoon yang notabene berasal dari sekolah lain.

“Kenapa murid sekolah lain ikut-ikutan dalam hal ini? Kepala sekolah seni Jeong-Guk bahkan tidak mau memberitahuku tentang dirinya,” ujar pak wakasek kesal.

“Dia anakku,” respon Kyung-Moon dingin.

Pak wakasek terkejut mendengarnya dan langsung membisu.

Kembali ke ruang sidang.

“Menggunakan fakta bahwa tertuduh adalah murid bermasalah di sekolah sebagai dasar dari dirinya melakukan kejahatan pembunuhan, itu adalah mimpi. Menggunakan dakwaan dari sumber yang tidak jelas serta jurnalisme kuning untuk membuat penilaian juga merupakan mimpi. Choi Woo Hyuk tidak membunuh Lee So Woo. Ia tidak bersalah. Itu fakta yang tidak dibantah oleh seorang pun. Sebagai hasilnya, tuduhan jaksa penuntut dan sidang pengadilan ini sendiri adalah mimpi. Juga, aku punya bukti yang mendasari hal ini. Itu saja.”

Sekilas info, jurnalisme kuning (yellow jornalism) adalah jurnalisme yang berdasarkan atas fakta yang dilebih-lebihkan atau hanya sekedar mencari sensasi.

Saksi pertama yang dihadirkan oleh pengacara adalah detektif Oh (Shim Yi-Young). Ji-Hoon memintanya untuk menegaskan alasan pihak kepolisian menyimpulkan bahwa yang terjadi pada Lee So Woo adalah benar kasus bunuh diri. Ji-Hoon kemudian menunjukkan bukti hasil penyelidikan dari pihak kepolisian dan medis terhadap luka di tubuh Lee So Woo yang semuanya diakibatkan oleh jatuh dari ketinggian, bukan karena diserang seseorang. Terakhir, ia pun meminta untuk menggunakan laporan medis tersebut sebagai barang bukti pertama dari pihak pembela. Hakim menyetujuinya.

Ponsel Ko Sang-Joong (Ahn Nae-Sang), ayah Seo-Yeon, yang juga sedang berada di ruang sidang bersama ibu Seo-Yeon tiba-tiba berbunyi. Agar tidak mengganggu jalannya sidang, Sang-Joong pergi keluar untuk menerimanya. Ternyata ia menerima laporan bahwa ada 6 polis asuransi yang dimiliki oleh CEO Choi (Choi Joon-Yong) terkait dengan pembakaran di rumahnya. Untuk mengurusnya, ia memutuskan untuk meninggalkan sidang dan menuju kantor polisi. Di saat bersamaan, Joo-Ri, dengan mengenakan topi dan pakaian serba hitam, masuk ke dalam ruang sidang.

Kini giliran pihak penuntut untuk melakukan cross-examination terhadap saksi. Pertanyaan pertama darinya adalah apakah detektif Oh 100% yakin bahwa kematian Lee So Woo adalah bunuh diri.

“Aku 99% yakin terhadap keputusan itu,” jawab detektif Oh. “Dengan pekerjaanku, aku tidak bisa 100% yakin terhadap apapun. Bahkan jika itu sangat kecil, tetap ada kemungkinan bahwa (keputusan) itu bisa dibantah.”

“Itu benar. Bahkan hanya dengan 1% saja, situasi bisa berbalik,” respon Seo-Yeon.

Ia kemudian melangkah ke OHP dan meletakkan sesuatu di atasnya seraya berkata, “Ini adalah bukti dari 1% itu.”

Semua orang, termasuk detektif Oh, terkejut begitu melihat dua buah tiket bioskop yang muncul di layar.

“Ini adalah tiket bioskop yang diberikan oleh Lee So Woo kepada kakaknya. Lihat tanggalnya, 26 Desember. Ini hari dimana kamu bilang ia melakukan bunuh diri. Jika Lee So Woo sungguh melakukan bunuh diri, kenapa ia membuat rencana untuk menonton film di hari setelahnya?” jelas Seo-Yeon.

Suasana ruang sidang menjadi berisik. Woo-Hyuk mulai menjadi kesal, sementara reporter Park (Heo Jung-Do) mencatat sesuatu di notesnya. Ji-Hoon selalu pengacara mencoba mengajukan keberatan karena barang bukti tersebutnya sebelumnya tidak diberitahukan kepadanya sebelum sidang. Seo-Yeon menegaskan bahwa menurut aturan, menunjukkan barang bukti dan saksi sebelum sidang adalah rekomendasi, bukan kewajiban.

“Kredibilitas dari barang bukti ini belum diverifikasi,” balas Ji-Hoon.

“Aku menerimanya langsung dari anggota keluarga,” respon Seo-Yeon.

Untuk mengatasinya, hakim meminta kedua belah pihak untuk menemuinya di belakang. Ji-Hoon tetap mengajukan keberatannya terhadap barbuk tersebut, namun pada akhirnya mau menerimanya asalkan yang memberikannya, Tae-Woo, mau ikut bersaksi di dalam sidang. Hakim menyetujuinya.

Pada saat diminta untuk bersaksi, Tae-Woo menyatakan hal yang sama seperti yang sebelumnya dinyatakan oleh Seo-Yeon. Ia meyakini adiknya tidak mungkin melakukan bunuh diri karena ia mengajaknya pergi nonton di hari setelah ia ditemukan meninggal.

“Aku akan memasukkan tiket bioskop ini sebagai barang bukti pertama,” ujar Seo-Yeon pada hakim.

Ia kemudian menoleh pada juri dan melanjutkatkan kata-katanya, “Karena korban telah membuat janji di hari setelah kematiannya, ia tidak mungkin berencana untuk melakukan bunuh diri dan itu adalah kematian yang tidak bisa ceritakan pada siapapun. Ini mengakhiri pemeriksaan dari pihak penuntut.”

Setelah terdiam sejenak, Ji-Hoon lantas maju untuk melakukan pemeriksaan silang.

“Apa hubunganmu dengan Lee So Woo?” tanyanya pada Tae-Woo.

“Aku kakaknya,” jawab Tae-Woo.

“Aku tidak bertanya tentang hubungan semacam itu. Apakah kamu dekat, jauh, seberapa sering kalian ngobrol? Seberapa besar pengaruh kalian terhadap kehidupan masing-masing? Tidak sebagai kakak terhadap adik, melainkan sebagai individu. Seperti apa hubunganmu dengan Lee So-Woo?”

“Itu.. aku tidak dekat dengannya,” jawab Tae-Woo.

“Sampai sejauh mana kamu tidak dekat dengannya?” tanya Ji-Hoon.

“Kami tidak saling menyukai. So Woo membenciku, dan aku membenci So Woo.”

“Jika seperti itu, kalau begitu berapa kali Lee So Woo pernah mengajakmu untuk nonton bareng?”

“Itu pertama kalinya.”

“Bertingkah berbeda dengan kebiasaan adalah tanda-tanda umum dari seseorang yang berencana untuk melakukan bunuh diri,” simpul Ji-Hoon.

“Aku keberatan. Itu aturan baku, bukan kepastian yang absolut,” respon Seo-Yeon.

Ji-Hoon mengabaikannya dan melanjutkan penjelasannya, “Aku punya satu contoh lagi. Perkelahian di laboratorium sains. Lee So Woo adalah murid yang tidak pernah sekalipun membuat keributan. Sebaliknya, ia pendiam dan berkepribadian introvert, jadi ia tidak dekat dengan yang lainnya. Lee So Woo, dua minggu sebelum kematiannya, terlibat perkelahian besar di laboratorium sains sekolah dengan tertuduh, yang ditakuti oleh para murid dan bahkan dijuluki tiran. Ini sesuatu yang umumnya tidak akan dilakukan Lee So Woo. Karena ini, memberikan tiket dan membuat rencana dengan kakaknya yang bahkan tidak dekat dengannya, aku menyimpulkan bahwa semuanya adalah tindakan dari seseorang yang berniat untuk melakukan bunuh diri.”

Ji-Hoon kemudian melangkah menghampiri Tae-Woo dan menanyakan apakah ia boleh mengakhiri penyelidikannya.

“Tidak,” jawab Tae-Woo setelah sempat terdiam sejenak. “Perkelahian di ruang lab, itu bukan sesuatu yang tidak normal sama sekali. So Woo adalah orang yang bisa melakukan itu, tidak, ia adalah orang seperti itu. Ia suka memprovokasi. Ia menikmatinya. Ia selalu seperti itu. Ia selalu memikirkan cara untuk melukai orang lain dan ada kalanya aku sungguh berpikir ia adalah iblis. Itu sebabnya aku membencinya. Dan itu pula sebabnya aku berpikir bahkan ini adalah pembunuhan. Ia adalah tipe orang yang melakukan pembunuhan, bukan bunuh diri. Jika ia sungguh anak yang lemah, aku bakal melakukan segala cara untuk melindunginya, namun itu bahkan berat bagiku untuk melakukannya. Ia anak seperti itu. Saudara kecilku.”

Semua orang terdiam mendengarnya. Woo-Hyuk tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dengan kesal dan pergi meninggalkan ruang sidang. Melihat hal itu, Ji-Hoon mengajukan resesi pada hakim, yang direspon dengan pemberian 20 menit break untuk jalannya sidang.

“Aku akan mengungkapnya,” janji Ji-Hoon pada Tae-Woo yang masih tertunduk lesu di kursi saksi sebelum ia memberi hormat dan pergi. “Hal macam apa yang dialami oeh Lee So Woo, aku pasti akan mengungkapnya.”

Reporter Park menemui detektif Oh yang sedang mengambil segelas kopi dari vending machine. Detektif Oh agak malas meresponnya, tapi reporter Park cuek saja dan mengungkapkan ‘kecurigaannya’ terhadap sosok Ji-Hoon, yang merupakan orang asing di sekolah Jeong-Guk dan sekaligus anak dari ketua LBH yayasan sekolah.

“Mengapa ia bermain-main dengan mata pencarian ayahnya?” tanya reporter Park.

“Aku rasa ia hanya ingin melakukan apa yang biasa dilakukan anak-anak,” jawab detektif Oh.

“Aku sudah bertemu dengannya dan aku tidak berpikir ia tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa berpikir. Kamu mungkin sudah memperhatikannya juga,” balas reporter Park.

Detektif Oh tidak merespon dan memilih melangkah pergi. Reporter Park mengikuti sembari menganggunya dengan meminta pernyataannya terhadap barang bukti yang tadi baru muncul dengan gaya seperti wartawan yang sedang beraksi.

“Choi Woo Hyuk, kamu tahu apa halangan utama kita dalam sidang ini?” tanya Ji-Hoon pada Woo-Hyuk yang sedang kesal di ruang terdakwa.

“Jangan khawatir dengan Lee Joo Ri. Aku akan menghancurkannya,” jawab Woo-Hyuk.

“Tidak. Halangan terbesar dan terkuat di sidang ini adalah orang-orang yang ada di luar sana. Mereka berprasangka. Mereka jijik terhadapmu. Itu sbeabnya, berhati-hatilah dengan semua kata-kata dan tidnakanmu. Itu adalah alasan kita ada di sini hari ini,” ujar Ji-Hoon.

Woo-Hyuk merespon dengan menendang kursi yang ada di hadapannya. Sudah kebal dengan sikapnya, Ji-Hoon tidak menanggapinya dan memintanya untuk menghapalkan kembali jawabannya pada saat nanti diperiksa di depan sidang.

“Bagaimana ia memulainya?” tanya Ji-Hoon pada terdakwa Woo-Hyuk.

“Ia melihatku dengan tatapan tidak enak,” jawab Woo-Hyuk.

“Jadi tidak ada sesuatu sebelumnya? Hanya karena tindakan Lee So Woo pada hari itu kamu merasa tidak nyaman?” tanya Ji-Hoon lagi.

Woo-Hyuk tidak langsung membalas. Ingatannya kembali pada saat itu, saat dimana So-Woo menatapnya dan memprovokasinya dengan sindiran. Namun begitu, sesuai dengan skenario yang sudah disiapkan bersama Ji-Hoon, ia tidak mengatakan hal itu dan kembali menegaskan bahwa So-Woo hanya menatapnya dengan pandangan tidak enak saja hingga ia tersinggung dan mereka pun berkelahi.

“Itu bukan masalah besar, aku melupakannya beberapa saat kemudian,” tambah Woo-Hyuk.

“Aku mengerti,” respon Ji-Hoon. Ia lantas berjalan menuju ke hadapan pengunjung dan melanjutkan ucapannya, “Perkelahian di ruang sains antara terdakwa dengan Lee So Woo, insiden itu terlalu kecil untuk bisa memotivasi terjadinya pembunuhan. Itu adalah tipe perkelahian yang dialami semua murid setidaknya sekali di sekolah. Sebagai hasilnya, terdakwa tidak punya cukup dendam pada Lee So Woo untuk membunuhnya.”

Berikutnya Seo-Yeon sebagai jaksa penuntut maju untuk melakukan pemeriksaan ulang. Tanpa membuang waktu, ia langsung meminta Woo-Hyuk untuk memberikan alibinya di waktu kejadian.

“Dari tanggal 25 Desember sekitar pukul 10 malam hingga 26 Desember pukul 1 pagi, aku sedang minum alkohol bersama temanku Lee Sung Min dan Kim Dong-Hyun. Oke?”

“Ini adalah alibi yang bisa dibuat oleh siapapun. Kedua orang yang bisa memberikan pernyataan itu juga memiliki hubungan dekat denganmu,” respon Seo-Yeon.

“Kalau begitu tanya saja sendiri langsung, mereka ada di sana!” balas Woo-Hyuk kesal.

Seo-Yeon menoleh ke arah Sung-Min dan Dong-Hyun (Hak Jin) yang duduk bersebelahan di antara pengunjung yang hadir. Keduanya langsung menjadi gugup.

“Kim Dong-Hyun, bisakah kamu mendukung alibi terdakwa pada malam itu?” tanya Seo-Yeon.

Hakim memotong dan mengingatkan Seo-Yeon bahwa ia tidak bisa menanyai pengunjung yang hadir di ruang sidang.

“Maafkan aku, kalau begitu aku mengajukan Kim Dong-Hyun sebagai saksi,” respon Seo-Yeon.

“Apakah kamu sudah selesai memeriksa terdakwa?” tanya Min-Suk.

“Belum,” jawab Seo-Yeon.

“Kalau begitu aku menolak permintaanmu. Harap melakukan pemeriksaan satu per satu,” balas Min-Suk.

“Kalau begitu jika aku ingin mendengar pernyataan orang ini dan pernyataan orang itu, aku harus bergantian menaikkan dan menurunkan keduanya? Seperti itu?” tanya Seo-Yeon.

Hakim Min-Suk terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk sementara memperbolehkan permohonan Seo-Yeon. Setelah meminta Dong-Hyun untuk berdiri, Seo-Yeon mengulangi pertanyaannya.

“Saksi, terdakwa baru saja bersaksi bahwa kamu dan Lee Sung-Min dapat mendukung alibinya. Pada waktu lee So Woo meninggal, pada tanggal 25 Desember tengah malam, apa yang kamu lakukan, dimana, apakah ada saksi mata lain di sana, dan hal lain apa yang masih kamu ingat?”

Dong-Hyun terdiam dan menoleh ke arah sekelilingnya.

“Aku tidak tahu,” ujarnya kemudian.

“Bahkan ingatan yang samar pun akan membantu,” respon Seo-Yeon, “Katakan saja.”

“Aku tidak tahu,” ujar Dong-Hyun sembari menoleh ke arah Woo-Hyuk. “Aku sedang tidak bersamanya. Choi Woo Hyuk berbohong, alibinya palsu!”

Seluruh pengunjung terkejut dan reflek menoleh ke arah Woo-Hyuk yang menjadi emosi mendengar ucapan Dong-Hyun.

Preview Episode 6

Berikut adalah video preview episode 6 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 6 selengkapnya

Reply