Review Komik The Extinction Parade: War (2014)

Petualangan duo wanita vampir Vrauwe dan Laila berlanjut dalam komik The Extinction Parade: War, bagian kedua dari trilogi The Extinction Parade. Masih mengusung duo Max Brooks (writer) dan Raulo Caceres (art), pun masih terpublikasi dalam 5 edisi melalui penerbit Avatar. Yang jadi pertanyaan kini, apakah ceritanya masih sekeren volume perdananya?

extinctionparadewar

Melanjutkan ending cerita sebelumnya, kakak beradik Vrauwe dan Laila stand by di daerah jembatan untuk menghadang serbuan para zombie. Meskipun bisa menghajar mereka tanpa terdeteksi, tapi berulang kali mereka terkena cipratan darah zombie yang kemudian masuk ke dalam tubuh mereka, mengakibatkan ketahanan tubuh mereka drop. Dan meski bisa mengalahkan ribuan zombie tiap malamnya, gerombolan zombie tersebut terus saja berdatangan, bahkan ada pula yang berasal dari negeri Cina, dan ini membuat mereka frustrasi.

Untuk bisa terus bertahan, Vrauwe punya ide untuk menggunakan seng (atau plat besi) sebagai ‘sarung tinju’ mereka. Dengan demikian, kulit mereka akan terlindungi dari cipratan darah zombie.

ss_epw_3

Saat mereka sedang asik bertarung dengan teknik barunya, muncul rekan vampir mereka Adilah. Ia memperkenalkan seni bela diri baru yang khusus ia kembangkan untuk melawan para zombie, yaitu Skull Dancing. Dengan mempertimbangkan kemampuan dan keseimbangan tubuh vampir yang di atas rata-rata manusia biasa serta kekuatan kaki yang secara alami berada di atas tangan, maka Adilah menemukan jurus Skull Dancing yang memanfaatkan kombinasi kekuatan loncatan dan keseimbangan tubuh vampir, gaya gravitas, dan tendangan.

ss_epw_4

Lelah bertarung dengan tangan dan besarnya resiko terkena darah zombie membuat Vrauwe dan Laila memutuskan untuk mencoba jurus Skull Dancing. Adilah pun tidak segan melatih mereka tahap demi tahap. Mulai dari cara meloncat yang benar, cara mendarat dengan memanfaatkan gravitasi, cara menendang, dan sebagainya.

Saat malamnya mereka beristirahat, Adilah bercerita tentang rumor adanya tentara vampir yang saat ini sedang disiapkan di berbagai penjuru dunia, khusus untuk berperang melawan zombie. Harapan untuk menang itu membuat esoknya mereka bersemangat untuk berlatih. Saat Adilah sedang memberikan motivasi bagi Vrauwe dan Laila, muncul 6 orang vampir rekan mereka, dengan bersenjatakan pedang.

ss_epw_6

Dengan menggunakan pedang yang hanya tinggal sabet sana sini jelas lebih efektif ketimbang mempelajari jurus Skull Dancing. Vrauwe dan Laila kemudian berpindah menggunakan senjata tajam ini (pemberian dari rekan mereka yang baru datang), sementara Adilah memilih untuk tidak ikutan karena menggunakan pedang adalah cara manusia untuk berperang sedangkan ia tidak mau mengikuti cara manusia.

Sialnya, salah satu keris tiba-tiba patah (setelah yang punya gaya-gayaan, hehehe). Vrauwe, Laila, dan 3 orang lainnya (termasuk si pemilik keris) memutuskan untuk kembali ke Kuala Lumpur untuk mengambil pedang dan senjata tajam lainnya di Museum Nasional. Sempat terjadi konfrontasi dengan segerombolan pencuri yang sedang mengambil harta museum, tapi tentu saja bisa dengan mudah mereka kalahkan. Vrauwe sendiri agak heran karena para pencuri tersebut sama sekali tidak punya rasa takut pada mereka dan hanya berekspresi datar saja, termasuk saat dibunuh.

Setelah mendapatkan berbagai baju tempur dan senjata pedang, mereka berlima keluar dari museum, siap untuk bertarung kembali dengan zombie. Belum lagi pertempuran dimulai, muncul kawanan vampir lainnya, dengan membawa senjata api 😀

ss_epw_8

Salah seorang dari mereka ternyata adalah Adilah. Meskipun akhirnya mau menggunakan senjata manusia, namun ia tetap pede untuk tidak bisa disamakan dengan mereka, karena ia bisa menggunakan senjata api tersebut dengan cara yang lebih gila daripada manusia.

Dan seperti sebelum-sebelumnya, Vrauwe dan Laila pun kembali mencoba bertarung dengan menggunakan senjata yang baru. Senapan dan pistol. Sempat ada pula vampir yang datang dengan menggunakan senjata laras panjang ala tentara-tentara jaman dulu. Tapi hanya eksis beberapa halaman ia sudah mati gara-gara ngawur menggunakan senjatanya sendiri, hehehe.

Tak lama yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga — tentara vampir. Dengan menggunakan helikopter, ia mengajak mereka ke markas tentara vampir, menemui pimpinan mereka. Tapi karena kapasitas terbatas, hanya Laila, Vrauwe, Adilah, dan dua rekannya yang ikut.

Di markas, mereka dikenalkan dengan pemimpin lapangan para tentara vampir, yang ternyata adalah Nguyen (yang seragamnya perasaan mirip banget ama kostumnya Michael Jackson). Saat sedang menjelaskan visi dan misinya, mereka mendapat laporan bahwa bangsa zombie sudah siap menyerbu markas. Alih-alih berusaha untuk mengalahkan mereka, ternyata Nguyen memerintahkan untuk membiarkan mereka terlebih dahulu sembari mempelajari strategi-strategi perang yang ada.

Vrauwe dan Laila makin galau melihat tentara-tentara lain yang kelihatan sedang serius di pos masing-masing ternyata bertingkah meragukan. Ada yang lagi bingung dengan ‘default browser’, ada yang penasaran kenapa di radar ada bunyi bipp bipp, dan malah ada yang telpon-telponan dengan teman di SEBELAHNYA.

ss_epw_12

Adu argumen dengan Nguyen membuka fakta bahwa markas tersebut sebelumnya adalah milik tentara manusia, yang direbut paksa oleh Nguyen dan pasukannya. Mengetahui bahwa apa yang dilakukan Nguyen sudah melenceng dari tujuan utama mereka untuk menyelamatkan umat manusia, Vrauwe dan Laila memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Mereka kemudian menuju ke bekas rumah mereka (saat masih menjadi manusia) dan berdiam diri di sana.


Ketika pertama kali membaca The Extinction Parade: War ini, jujur saja saya kecewa. Yang saya lihat, Brooks membuang-buang halaman dengan secara bertele-tele menjabarkan tentang cara vampir berperang. Rasanya berusaha menggunakan senjata yang paling canggih untuk bertempur adalah suatu pemikiran yang wajar. Apalagi vampir dulunya juga manusia.

Namun saat membaca ulang untuk keperluan review ini saya baru memahami jalan pikiran Brooks dan juga maksud sebenarnya dari bagian kedua ini. Pada dasarnya yang coba disampaikan di sini adalah, dengan kondisi saat ini yang sudah jauh berbeda dengan sebelumnya, bagaimana seorang (?) vampir harus bisa beradaptasi dan berevolusi mengikuti perkembangan situasi. Sama seperti halnya dengan manusia yang dari jaman ke jaman selalu berevolusi dan berkembang. Pada akhirnya, kembali sama seperti manusia, kedua tokoh utama dihadapkan dengan sebuah pilihan moral — yang satu bisa membuat mereka mungkin lebih santai menghadapi perperangan tapi bertentangan dengan moral mereka, sedangkan yang satu lagi sebaliknya. Dan untuk ini, saya meralat pemberian bintang 2 yang awalnya sudah saya berikan untuk poin cerita 🙂

Bagian terakhir dari trilogi adalah Extinction Parade: Endangered. Kalau tidak salah akan mulai terbit pada bulan Oktober 2015 ini. Semoga tidak molor.

Reply