Review Komik Justice League of America #3 (2017)

Di cerita sebelumnya, meski sempat terjadi konflik internal, kawanan The Extremist berhasil meneruskan misinya dan kini menguasai negara Kravia. Batman dkk hendak menyelamatkan penduduk Kravia yang tidak berminat tunduk pada Lord Havoc, pimpinan The Extremist, namun usaha mereka dimentalkan oleh pasukan bersenjata negara itu sendiri, yang sudah menyatakan kesetiaannya pada Lord Havoc dan mengakuinya sebagai pemimpin mereka. Para anggota Justice League of America kemudian mencoba untuk berkolaborasi dengan militer Gardenia, negara tetangga Kravia, yang sudah mulai ketar-ketir dengan sepak terjang Lord Havoc. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis komik Justice League of America #3 berikut ini?

Sinopsis Komik *SPOILER*

“THE EXTREMISTS” part three! The Extremists now control a nation, and within its borders, all is ordered and protected—all but free will. But how do seven people, even the JLA, fight an entire country? And even if they could, no one can truly prepare for the catastrophic design Dreamslayer has in store for reality itself.

Story: Steve Orlando
Art: Diogenes Neves (Pencils) / Ruy Jose, Marc Deering (Inks)
Color: Hi-Fi
Letter: Clayton Cowles
Judul Edisi: The Extremists Part Three
Tanggal Rilis: 29 Maret 2017

Sementara Lord Havoc mendatangi satu persatu pemimpin negara-negara yang bertetangga dengan Kravia, Batman dan anggota Justice League of America lainnya menemui Bogna, wanita pemimpin kaum pemberontak di Nadezhoras, Kravia. Sempat enggan bekerjasama dengan superhero, Bogna akhirnya setuju untuk menerima bantuan dari Vixen dkk. Dan perjuangan untuk mengembalikan Kravia ke tangan masyarakat pun dimulai. Anggota JLA berbagi tugas untuk mengkonfrontasi masing-masing anggota The Extremists. Lobo menghadapi Tracer, The Atom dan Killer Frost menangani Death Bat, Black Canary melawan Gorgon, dan The Ray mencoba mengatasi Dreamslayer, yang ternyata justru yang terkuat di antara anggota The Extremists lainnya, termasuk Lord Havoc sendiri.

Bagaimana dengan Batman? Bersama Vixen dan Bogna, mereka menyerbu langsung ke tempat Lord Havoc berada, tepatnya di Kravitoras, ibukota Kravia. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, yang jelas, di penghujung halaman, tameng Liberty yang dimiliki Lord Havoc sudah sukses direbut oleh Batman.


Saya benar-benar jatuh hati dengan serial komik ini. Sesuai harapan, eksistensi Batman di dalam grup Justice League of America tidak terlalu menonjol. Bahkan yang terlihat berperan sebagai pemimpin adalah Vixen, persis dengan apa yang diminta oleh Batman pada saat ia meminangnya untuk bergabung dengan JLA. Meski belum banyak tersaji adegan action, tapi saya juga suka dengan pengaturan medan tempur masing-masing anggota JLA yang berbeda. Tidak seperti di Justice League yang selalu saja keroyokan di tempat yang sama.

Dari segi cerita juga saya rasa masih solid dan sejalan dengan visi JLA yang diusung Batman. Tidak sekedar menyelesaikan masalah, namun berusaha untuk menginspirasi rakyat biasa. Semuanya tanpa topeng sehingga bisa terlihat ketulusan aksi mereka. Pengecualian untuk Batman, karena seperti kata Vixen, wajah Batman ya topengnya itu, hehehe. Poin plus pula untuk adanya joke one liner ini, yang seperti kita tahu memang sudah menjadi tradisi komik-komik superhero DC Comics.

Oh ya, mohon maaf untuk sinopsis kali ini tidak ada preview halaman komiknya. Sudah sempat nyiapin sih, tapi gak sengaja malah kepotong semua gambarnya jadi separuh 😀 Mau nyiapin lagi dah terlanjur males, hehehe.

Tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply