Review Manga Tomogui Kyoushitsu (Shonen Jump+, 2019)

Dari dulu saya sudah mengagumi dunia manga karena punya banyak ide cerita yang fantastis dan terkadang tidak terpikirkan sebelumnya, tapi minggu-minggu ini kekaguman saya sepertinya bertambah satu level lagi. Ada dua judul yang mencuri perhatian saya, yaitu “King’s Game” (dibahas minggu depan) dan “Tomogui Kyoushitsu”. Yang disebut terakhir kemungkinan besar terinspirasi oleh “King’s Game”, mengingat konsep cerita yang diusung hampir mirip. Sengaja saya bahas dulu karena ceritanya tidak serumit “sumber inspirasinya” itu.

Manga “Tomogui Kyoushitsu” (友食い教室) ditulis oleh Yusura Kankitsu dan diilustrasikan oleh Yuu Sawase. Komik bergenre horor ini mengangkat tema survival game yang terjadi di lingkungan kelas sebuah SMA. Total ada 39 chapter yang dibukukan oleh Shonen Jump+ menjadi 4 volume.

Sinopsis Singkat

Cover manga Tomogui Kyoushitsu 1

Suatu hari, murid kelas 1-A sebuah SMA tiba-tiba mendapat kiriman email misterius di ponsel mereka masing-masing. Dengan judul “Game of Eating Friends” / “The Friends-Eater Game”, email tersebut mencantumkan kondisi kesehatan murid yang bersangkutan serta jenis vaksinnya. Bagi yang menerima status “infected” (terinfeksi), maka ia harus mencari murid lain yang mendapat status “donor’ dan MEMAKAN bagian tubuh yang telah ditentukan sebagai vaksin. Apabila gagal melakukannya, maka murid yang dianggap terinfeksi akan mati begitu saja.

Seiring berjalannya game, diketahui juga bahwa status infeksi bisa menular melalui sentuhan fisik, yang membuat kondisi kelas menjadi makin kacau.

Review Singkat

Meski sudah berpengalaman menonton film-film sadis seperti seri “The Hostel” atau “Wrong Turn”, saya masih bisa merinding juga membaca manga serem ini. Sebenarnya tidak banyak adegan brutal di sini, namun ide “teman makan teman” demi bertahan hidup yang diangkat benar-benar bikin bulu kuduk berdiri.

Pada perkembangannya memang sedikit aneh karena dalam waktu singkat murid-murid di kelas tersebut dengan mudahnya beradaptasi. Sebagian juga memanfaatkan keadaan demi kesenangan pribadi. Di satu sisi bisa menerima karena latar belakang karakter adalah murid SMA yang sudah remaja. Namun di sisi lain tetap saja merasa tidak masuk akal.

Twist di bagian ending cukup menarik dan tidak terduga. Agak tidak meyakinkan juga sih sejujurnya, tapi setidaknya Yusura Kankitsu mengemasnya dengan baik.


Yang suka cerita sadis, silahkan langsung merapat.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply