Review Manga Dragon Head (Young Magazine, 1995)

Manga “Dragon Head” karangan Minetaro Mochizuki ini, dalam sebuah artikel, ditasbihkan sebagai salah satu kisah survival terbaik yang pernah ada. Rasa penasaran membuat saya tergoda untuk mencarinya. Untungnya tidak ada kesulitan. Versi scanlate-nya tersedia komplit, dari chapter 1 hingga 89, di berbagai situs baca manga online. Lalu bagaimana ceritanya? Apakah memang layak mendapatkan label tersebut?

Sinopsis Singkat

Review Manga Dragon Head (Young Magazine, 1995)

Dalam perjalanan pulang dari kegiatan sekolah di luar kota, cahaya terang tiba-tiba muncul di langit. Saat tersadar, kereta yang ditumpangi oleh Teru Aoki dan teman-teman sekolahnya sudah dalam keadaan berantakan dan rusak parah di bawah tanah. Semua penumpangnya meninggal, kecuali dia dan dua orang murid lainnya: Ako Seto dan Nobuo. Terjebak dalam kondisi tak berdaya di tengah kegelapan selama berhari-hari membuat mereka mulai kehilangan akal. Hingga akhirnya sebuah gempa bumi besar terjadi dan membuka jalan keluar menuju dunia baru yang jauh berbeda dengan yang selama mereka kenal.

Penulis: Minetaro Mochizuki
Artis: Minetaro Mochizuki
Publikasi: 1995 ~ 2000
Penerbit: Young Magazine
Genre: Tragedi, Horor, Drama, Misteri, Psikologi, Sci-Fi
Status: Tamat (89 chapter / 10 volume)

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Kita mulai dari cerita. Secara garis besar, cerita dalam “Dragon Head” dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah saat Teru, Ako, dan Nobuo terjebak dalam kegelapan di jalur kereta bawah tanah; bagian kedua saat Teru dan Ako mulai berkenalan dengan dunia luar setelah terjadinya bencana pemicu utama; dan bagian ketiga adalah saat mereka menuju dan berada di Tokyo untuk mencoba memecahkan misteri apa yang sebenarnya telah terjadi.

Minetaro menggambarkan penyebab utama terjadinya bencana dengan cukup meyakinkan. Ledakan dahsyat dari Gunung Fuji adalah pemicunya. Ingat, yang terjadi adalah ‘ledakan’, bukan sekedar ‘letusan’ gunung berapi. Sebagai penggemar film-film mengenai bencana alam, saya bisa menerima asal muasal terjadinya bencana dalam manga ini tanpa merasa perlu untuk komplain.

Ada tiga hal yang lantas membuat kenyamanan membaca sedikit terganggu.

Pertama adalah dialognya. Jika diminta memberi nilai, saya bahkan tidak tahu harus memberi angka berapa. Di satu sisi, saat karakter (siapapun) sedang sendiri, dialog yang ia ucapkan dalam hati selalu yang itu itu saja.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku tidak mengerti”
“Kenapa mereka melakukan itu?”

Saya yakin hampir di semua chapter dialog tersebut eksis. Saking seringnya jadi membosankan dan tidak masuk akal.

Di sisi lain, saat sedang terjadi dialog antar karakter (sebagian yah, tidak semua), kata-kata yang muncul benar-benar berbobot dan memberikan wawasan baru bagi saya. Khususnya mengenai psikologi manusia yang sebenarnya menjadi tema utama manga “Dragon Head”. Saya banyak belajar hal baru yang terkait dengan ketakutan dalam diri manusia berkat dialog-dialog tersebut.

Ketidaknyamanan kedua berasal dari sub-plot para ilmuwan yang sedang membuat eksperimen cara menghilangkan rasa takut dari diri manusia (di sepertiga bagian akhir cerita). Terasa seperti sempalan dan dipaksakan keberadaannya dalam cerita.

Yang ketiga adalah karakter utama Teru yang seolah bagai Superman. Walau bisa cedera atau terluka, tapi terlalu beruntung dan tidak masuk akal ketika dia bisa terus bertahan melihat segala permasalahan yang ia hadapi. Sang mangaka mungkin ingin menciptakan sosok tokoh utama yang dramatis, namun sayangnya malah blunder dan membuat kisahnya jadi makin jauh dari realita.

Untuk nilai positifnya sendiri, Minetaro berhasil menyampaikan cerita tentang psikologi manusia dengan sangat baik. Temanya pun fokus, tentang ketakutan. Mulai dari ketakutan terhadap kegelapan / kesendirian, ketakutan terhadap lingkungan / kondisi sekitar yang berubah drastis, serta ketakutan terhadap orang lain, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Seandainya tidak ternodai 3 hal di atas pasti kualitasnya akan jauh meningkat.

Dari segi ilustrasi atau artwork, yah, khas manga era 90-an ya. Tidak bisa dibandingkan dengan era sekarang yang jauh lebih bagus. Satu saja yang tidak saya suka, penggambaran bencana yang seringkali tidak jelas dan harus benar-benar berkonsentrasi terlebih dahulu untuk memahaminya.

Berhubung tidak terlalu banyak manga tentang survival dan psikologi yang layak baca, dengan mengabaikan segala kekurangannya, manga “Dragon Head” rasanya masih pantas dan direkomendasikan untuk dibaca.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply