Review Manga Dead Tube (Akita Shouten, 2014)

“Dead Tube” (デッドチューブ, Deddo Chūbu) adalah manga sadis yang ditulis oleh Mikoto Yamaguchi. Chapter pertamanya dirilis pada tanggal 19 April 2014 lalu di majalah Champion Red dan masih terus tayang hingga sekarang. Sebagian sudah dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk volume oleh penerbit Akita Shouten. Total secara keseluruhan pada saat artikel ini ditulis ada 15 volume. Banyak adegan kekerasan dan s3ksual yang dihadirkan di setiap halamannya. Bagi yang merasa masih bocil alias 17 tahun ke bawah, sebaiknya tidak usah membacanya. Lha wong yang dewasa aja juga belum tentu kuat.

Sinopsis Singkat

Review Manga Dead Tube (Akita Shouten, 2014)

Tomohiro Machiya adalah anggota dari klub Film Research di sekolahnya. Suatu hari, siswi paling populer Mai Mashiro memintanya untuk merekam semua kegiatannya selama dua hari berturut-turut. Tidak hanya di sekolah, melainkan juga di rumah. Kegiatan yang awalnya terlihat biasa biasa tersebut berujung pada aksi Mashiro yang dengan dingin membunuh seseorang saat mereka hendak berhubungan s3ks. Tanpa disangka, Machiya ternyata menjadi bernafsu saat melihatnya.

Belakangan diketahui bahwa Mashiro tengah mengikuti kontes Dead Tube di sebuah situs. Pemenangnya ditentukan berdasarkan jumlah view pada video mereka. Apapun boleh dilakukan karena pihak penyelenggara akan otomatis melindungi pemenangnya meski mereka berbuat kriminal atau melanggar hukum sekalipun. Sebaliknya, peserta yang jumlah viewnya paling sedikit, harus menanggung hukuman dari tindak kejahatan yang dilakukan oleh peserta-peserta yang lain.

Dari aksi pertamanya bersama Mashiro itu, Machiya semakin lama semakin terseret jauh ke dalam kancah Dead Tube. Adiknya sendiri, Machiya Kana, bahkan menjadi korban. Akankah suatu saat nanti ia berhasil keluar dari dunia gelap tersebut?

Penulis: Mikoto Yamaguchi
Artis: Touta Kitakawa
Publikasi: Champion Red
Penerbit: Akita Shoten
Genre: Adult, Horror, Mature, Mystery, Romance, School life, Shounen, Tragedy
Status: Ongoing (19 April 2014 – sekarang)

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Walau ditulis pada tahun 2014, “Dead Tube” banyak menggambarkan fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini. Tidak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh penjuru dunia. Dimana ada sebagian orang yang menghamba pada popularitas dan nekad melakukan apa saja agar bisa populer. Entah dalam arti yang baik maupun buruk. Tinggal kombinasikan itu dengan iming-iming harta, dan jadilah mereka seburuk-buruknya manusia.

Manga ini jelas bukan untuk semua orang. Seperti sudah saya sampaikan di paragraf pembuka, yang dewasa pun belum tentu sanggup membacanya. Banyak adegan kekerasan brutal yang terkadang melebihi batas pemikiran logika: kok tega sih melakukan hal seperti itu?

Di sisi lain,”Dead Tube” masih berusaha untuk sebisa mungkin menyajikan alasan di setiap kejadian. Apa yang menyebabkan seseorang bisa atau mau melakukannya. Dan ini membuat kita berpikir, karena bibit jahat manusia acap tidak murni berasal dari jiwanya (sifat psikopat misalnya), melainkan dipicu oleh tragedi yang pernah ia alami. Terutama bullying.

Keseluruhan cerita disuguhkan dalam bentuk artwork yang menarik. Bahkan ketika harus menampilkan adegan berdarah-darah, panel demi panelnya masih tetap nyaman terlihat. Nyaman dalam arti pembacanya (alias saya) tidak kesulitan dalam memahami konteks yang hendak disampaikan pengarang.


Mungkin yang membuat manga “Dead Tube” terasa agak aneh adalah pemilihan karakter sentralnya yang rata-rata berusia remaja. Terlalu gelap dan terkesan tidak masuk akal di beberapa bagian. Masa sih anak-anak SMA bisa sampai sejauh itu cara berpikirnya hanya demi uang. Di sisi lain, saya pribadi setidaknya jadi merasa kalau ini benar-benar cerita komik. Kecil kemungkinan untuk sungguh terjadi di dunia nyata. Bisa terus membacanya tanpa ada beban moral.

Jika teman-teman ingin membaca manga ini, pastikan sudah terbiasa membaca atau menonton hal-hal yang berbau sadis, ya. Daripada ntar nyesel sendiri, hehehe.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply