Review Manga A Silent Voice / Koe no Katachi (2013)

Muter-muter Youtube gak sengaja liat video AMV yang berisi cuplikan dari anime “Koe no Katachi” a.k.a “A Silent Voice” / “The Shape of The Voice”. Baca-baca komen, ternyata banyak yang menyanjung cerita anime tersebut. Penasaran, langsung gercep cari versi aslinya. Ya, anime tersebut memang merupakan adaptasi dari manga karya Yoshitoki Ōima yang diterbitkan di majalah Weekly Shōnen Magazine pada periode bulan Agustus 2013 hingga November 2014 lalu. Dan untungnya ketemu. Sesuai ekspektasi, kah?

Sinopsis Singkat

Review Manga A Silent Voice / Koe no Katachi (2013)

Bosan dengan rutinitasnya di sekolah, siswa SD Shouya Ishida memutuskan untuk melampiaskannya pada murid baru bernama Shouku Nishimiya yang kebetulan mengalami tuna rungu. Aksi bully-nya diikuti oleh teman-teman sekelasnya dan makin hari makin menjadi. Hingga suatu saat ibu Nishimiya tidak tahan lagi harus terus-terusan membeli alat bantu dengar yang dirusakkan oleh Ishida dkk dan memindahkan Nishimya ke sekolah lain. Teman-teman sekelas Ishida sendiri sebaliknya justru kompak menumpahkan kesalahan pada Ishida seorang. Tidak itu saja, sejak saat itu Ishida dijauhi oleh teman-temannya dan acap di-bully.

Dipenuhi oleh penyesalan dan rasa bersalah, di tahun terakhirnya sebagai murid SMA, Ishida bertekad untuk memperbaiki semuanya. Misinya satu: bertemu kembali dengan Nishimiya dan mengembalikan masa-masa sekolah Nishimiya yang dulu ia hancurkan. Dalam perjalanannya, Ishida juga kembali bertemu dengan teman-teman SD yang sempat meninggalkannya. Akankah segalanya kembali normal seperti sediakala?

Penulis: Yoshitoki Ōima
Artis: Yoshitoki Ōima
Publikasi: 7 Agustus 2013 – 19 November 2014
Penerbit: Kodansha
Genre: Drama
Status: 7 Volume (Completed)

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Jujur, cerita “A Silent Voice” ini tidak sepenuhnya sesuai dengan harapan saya. Mungkin fifti fifti. Di awal terasa menyenangkan untuk diikuti, namun semakin mendekati akhir justru terasa membosankan dan bertele-tele. Saya seperti tengah membaca manga yang penulisnya sedang berada dalam tekanan untuk bisa menyelesaikan ceritanya dalam jumlah chapter yang sudah dibatasi. Begitu memasuki pertengahan, alur terasa mandeg dan tidak lagi ada niatan untuk meng-eksplor cerita maupun karakternya lebih dalam lagi. Alih-alih yang tersaji hanyalah plot-plot sederhana dan klise.

Hal lain yang membuat kecewa adalah keberadaan karakter Nishimaya yang ujung-ujungnya tidak lebih dari sekedar jembatan bagi Ishida dan teman-temannya. Hubungan antar keduanya tidak sekuat yang saya pikirkan bakal terjadi. Padahal premisnya sudah tepat: Ishida yang menyesal dan ingin bertobat; Nishimiya yang sebenarnya sejak dulu menyimpan rasa cinta. Pada akhirnya tema yang diusung mengerucut pada sosok Ishida seorang. Pada kepribadiannya yang sempat menutup diri dan tidak ingin berteman dengan siapa pun.

Bisa jadi memang saya sendiri yang salah memahami judulnya. Suara senyap yang dimaksud bukanlah berasal dari karakter Nishimiya, melainkan isi hati sebenarnya dari karakter Ishida yang sejak insiden di SD merasa kesepian.

Bagaimana menurut teman-teman?

Oh ya. Dari sisi karakter pendukung, buat saya cukup pas. Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda. Sedikit banyak juga memberi dampak yang berbeda pada Ishida dan Nishimiya. Tidak ada karakter yang eksistensinya dipertanyakan.


Secara keseluruhan, manga “The Shape of The Voice” ini masih cukup layak untuk dibaca. Saya tidak menonton versi anime-nya, tapi sebaiknya baca versi manga-nya saja terlebih dahulu. Kebetulan bagian ending di versi aslinya lebih panjang, tidak ‘dipotong’ secara nanggung seperti versi anime-nya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply