Review Komik Year Of The Villain: Hell Arisen #1 (DC Comics, 2019)

Ini adalah bagian pamungkas dari skenario panjang Year Of The Villain yang sudah berjalan berbulan-bulan lamanya. Pertarungan puncak antara Apex Lex (Lex Luthor) dan Batman Who Laughs bakalan tersaji, dengan Superman, Batman, dkk di tengah-tengah mencoba untuk bertahan dan mencari jalan mengalahkan Perpetua. Siapakah yang pada akhirnya akan berdiri sebagai sang juara? Simak kisah pembukanya dalam sinopsis komik Year Of The Villain: Hell Arisen #1 di bawah ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Year Of The Villain: Hell Arisen #1 (DC Comics, 2019)

DC’s “Year of the Villain” begins its sinister conclusion! Lex Luthor has brought Perpetua back from her cosmic grave and restored her power! Now the Multiverse lives in fear that she might wipe out all existence. The only thing that could stop her are the forces of the Dark Multiverse- which means it’s Luthor’s mission to defeat the Batman Who Laughs! But if Batman and Superman couldn’t stop him, what chance does Luthor stand? Spinning out of the end of the “Justice/ Doom War” in Justice League #38 and the conclusion of the epic “Infected” arc from Batman/Superman #5, DC’s two top villains face off in a battle royal-and the fate of all reality hangs in the balance!

Story: James Tynion IV
Art: Steve Epting
Color: Nick Filardi
Letter: Travis Lanham
Judul Edisi: Hell Arisen Part One
Tanggal Rilis: 18 Desember 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Setahun yang lalu. Di LexCorp R&D. Batman Who Laughs sedang terpojok dengan Lex Luthor beserta pasukan robotnya berdiri di hadapannya. Menganggap keberadaan Batman Who Laughs hanyalah sebagai pengganggu di dunianya, Lex berniat untuk menghabisinya saat itu juga. Namun dengan cerdas Batman Who Laughs memainkan kata-kata dan mempengaruhi Lex secara psikologis. Dan pada akhirnya, seperti sudah diketahui, Lex membatalkan niatnya dan memutuskan untuk menawan Batman Who Laughs.

Sekarang. Di Centropolis, Earth-3. Apex Lex mendatangi Crime Syndicate dan meminta mereka untuk ikut dengannya menemui Perpetua.

Di pesawat luar angkasa Godhead, Crime Syndicate bertemu dengan Perpetua. Mereka meminta bagian dari kekuasaan terhadap multiverse mengingat mereka sudah mendukung aksi Perpetua. Saat itulah mereka baru menyadari bahwa penduduk Earth-3 baru saja diubah menjadi Apex Predator oleh Perpetua. Dan syarat yang diberikan oleh Perpetua agar keinginan Crime Syndicate bisa terkabul adalah mereka harus membuktikan diri mampu untuk menangani dan pemimpin Apex Predator yang ada di Earth-3.

Sepeninggal Crime Syndicate, Apex Lex menyatakan keanehannya karena sudah pernah menyaksikan sendiri bagaimana jagat Earth-3 hancur dan juga sebagian anggota Crime Syndicate tersebut tewas di depan matanya, namun kini mereka terlihat baik-baik saja. Perpetua menjelaskan bahwa multiverse punya kemampuan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki segala sesuatu ke jalur yang ia anggap benar. Itu sebabnya Perpetua berniat untuk menghancurkan multiverse dan membentuknya sesuai dengan apa yang ia inginkan.

Apex Lex lantas hendak menuju Earth-10. Perpetua mencegahnya. Sebaliknya, ia meminta Lex untuk kembali ke dunianya, Earth-0, karena mulai timbul anomali yang bisa menggagalkan rencana mereka. Anomali tersebut berasal dari dark multiverse. Lex diminta untuk melenyapkan dark multiverse secepat mungkin dari Earth-0.

Di Metropolis Museum of Science. Lex tiba bersama dengan beberapa Apex Predator yang mengawalnya. Tanpa membuang waktu, ia mengakses sistem komputer miliknya di sana dan memerintahkan sistem untuk mencari keberadaan Batman Who Laughs.

Tanpa ia duga, The Secret Six (minus The Commissioner yang telah tertangkap di Batman/Superman #5) tiba-tiba muncul dan mengepungnya di sana. Pasukan Apex Predator yang mengawal Lex pun dengan mudah sudah mereka taklukkan. Kedatangannya di sana ternyata sudah diperkirakan oleh Batman Who Laughs, yang sesaat kemudian ‘menyapa’ Lex dari balik layar komputer.

Kini Kara Zor-El, Scarab, Deathbringer, Sky Tyrant, dan King Shazam bersiap untuk menyerang Apex Lex.


Meski tidak banyak perkembangan cerita di dalam edisi pembuka ini, namun menurut saya sudah cukup untuk membangkitkan adrenalin sekaligus rasa penasaran bakal dibawa kemana kisah pamungkas dari Year of The Villain ini. Gak mungkin dong Lex kalah begitu saja. Apalagi ini baru edisi pertama.

Satu-satunya yang agak bikin males adalah gelembung dialog dari Batman Who Laughs yang sejak dulu diberi warna latar hitam dan tulisan merah. Sulit sekali untuk membaca tulisannya dengan kombinasi warna seperti itu. Di edisi ini sebenarnya Batman Who Laughs sempat bertemu dengan Rip Hunter, namun terus terang saya malas membaca apa yang mereka berdua bicarakan…

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , , ,

Reply