Review Komik A Righteous Thirst for Vengeance #1-#2 (Image Comics, 2021)

Belakangan saya lebih banyak membaca manga karena bosan dengan komik barat. Apalagi keluaran DC Comics. Padahal saya penggemar deretan superhero mereka.

Miniseri anyar keluaran Image Comics, bertajuk “A Righteous Thirst for Vengeance”, tak dinyana sukses menggoda saya untuk kembali masuk ke dunia perkomikan.

Yah setidaknya untuk saat ini.

Seperti apa ceritanya? Yuk simak sinopsis dan juga review singkatnya di bawah.

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Tentang A Righteous Thirst for Vengeance #1-#2

cover a righteous thirst for vengeance 1

cover a righteous thirst for vengeance 1

When an unassuming man stumbles upon a dark-web contract assassin’s vicious plot to kill an innocent target, he turns himself into one. The Professional meets Road to Perdition in this story of a family’s unlikely guardian being hunted by rich and powerful men who are used to getting away with everything.

Sonny digs into the dark web to discover the Blue Jackal’s next victim. He soon realizes he is not the only man on the job.

Story: Rick Remender
Art / Color / Letter: André Lima Araújo
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 6 Oktober 2021 (#1) / 10 November 2021 (#2)

Alur Cerita / Sinopsis Komik

Di Vancouver, Kanada.

Seorang pria, belakangan diketahui bernama Wen, melakukan perjalanan ke sebuah tempat terpencil di pinggir kota.

Di sebuah minimarket, ia tak sengaja bertabrakan dengan seorang pria, mengakibatkan barang belanjaan yang dibawa pria tersebut jatuh berhamburan.

Termasuk di antaranya lakban (duct tape), alkohol, dan cairan pelancar pipa pembuangan air.

Wen juga sempat melihat seekor burung (merpati?) yang sekarat di depan halte bus. Tidak tega melihatnya, Wen sengaja membunuhnya, dengan cara menginjaknya, sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.

Malam tiba. Wen akhirnya tiba di tempat yang dituju. Sebuah rumah di tengah hutan. Ditinggali oleh Mary Sullivan dan suaminya.

Melihat pintu tidak terkunci, Wen nekat masuk ke dalam.

Ia pun terkejut mendapati Mary dan pasangannya telah tewas dalam kondisi terikat di sebuah ruangan. Kondisi tubuh keduanya menunjukkan mereka baru mengalami siksaan fisik yang keji.

Lebih mengagetkan lagi, beberapa barang belanjaan milik pria yang ia tabrak sebelumnya di minimarket terlihat di sana.

Setelah buru-buru menghapus sidik jarinya, Wen segera kabur meninggalkan rumah.

Tanpa ia sadari, darah burung merpati yang masih menempel di alas sepatunya mengakibatkan jejak kaki yang jelas di sepanjang langkahnya.

Beberapa jam kemudian, Wen tiba di apartemen.

Sekilas ia mengecek hasil pemeriksaan medis yang sepertinya tidak baik.

Dengan tenang ia lantas membuka sebuah lubang tersembunyi di lantai dan mengambil sebuah flash disk.

Menggunakan flash disk tersebut, Wen mengakses sebuah program rahasia. Belum jelas, namun tampaknya berkaitan dengan kontrak pembunuh bayaran.

Terlihat tugas membunuh Mary Sullivan berstatus komplit dengan Blue Jackal sebagai pengeksekusinya.

Walau sempat terkejut, Wen lalu menerima kontrak baru. Tugasnya adalah membunuh seorang wanita bernama Neva Romero.

Detektif Curro dan detektif Green memeriksa TKP pembunuhan Mary Sullivan.

Curro mengaku tidak menemukan barang bukti satu pun. Ia yakin pelakunya adalah seseorang yang profesional di bidangnya.

Sepeninggal Curro, Green mendapati jejak kaki darah di luar rumah. Ia pun meminta tim forensik untuk memeriksanya.

Wen terdiam di apartemennya. Terlintas di benaknya untuk menghubungi 911. Ia membatalkan niatnya setelah ingat bahwa pihak kepolisian tidak akan mempedulikan laporan yang berkaitan dengan kontrak pembunuhan yang ia terima.

Wen lantas menuju sebuah rumah sakit. Setelah menemui ibunya, ia lalu memberikan bergepok uang pada pihak kasir. Seluruhnya untuk keperluan pengobatan sang ibu.

Malam harinya, Wen tiba di depan apartemen Neva.

Ia bertemu dengan seorang pria di sana, yang juga ditugaskan untuk membunuh Neva.

Pria tersebut menawarkan obat pada Wen. Wen hanya terdiam dan tidak mengambilnya.

Tanpa memaksa, pria tersebut kemudian mengajak Wen untuk masuk dan melaksanakan tugas mereka lebih awal.

Wen lagi-lagi hanya terdiam dan mengikuti pria tersebut dari belakang.

Setelah menyusup masuk ke apartemen Neva, pria tersebut perlahan mengeluarkan sebuah pistol dari balik bajunya.

Neva rupanya tengah menyiapkan masakan di dapur. Ia terkaget-kaget melihat kedatangan keduanya.

Simpulan

“A Righteous Thirst for Vengeance” adalah jenis komik yang tidak banyak berbicara melalui dialog. Kita harus jeli menyimpulkan sendiri apa yang sebenarnya terjadi melalui panel demi panelnya.

Untungnya, artwork karya André Lima Araújo di dua edisi pertamanya ini cukup jelas menggambarkan situasi yang ada.

Dengan hanya akan ada 5 edisi di dalam miniseri komik ini, untuk kelanjutan artikel ini mungkin akan sekalian saya gabungkan edisi #3, #4, dan #5-nya.

Versi digital dari komik ini bisa diperoleh di Comixology.

rk a righteous thirst for vengeance

Leave a Reply