Comic Talk 040719: Di-Prank Robert Kirkman

Bertahun-tahun silam, bahkan sebelum komik “The Walking Dead” (TWD) diadaptasi ke layar kaca dan saat ini menjadi salah satu serial televisi yang banyak ditunggu kehadirannya, sang pengarang, Robert Kirkman, menyatakan bahwa Rick Grimes BUKANLAH tokoh utama dalam komik tersebut. Artinya, suatu saat karakter tersebut bisa saja mati atau menghilang dan posisi sentralnya digantikan oleh karakter lain. Carl Grimes misalnya. Yang sama-sama ngikutin TWD sejak awal ada yang masih ingat dengan ucapan Kirkman tersebut?

Sebagian pernyataan Kirkman terbukti di The Walking Dead edisi #192. Karakter Rick Grimes benar-benar terbunuh, tewas di tangan Sebastian Milton. Atau lebih tepatnya di tangan Carl. Tanpa tahu apa yang sudah terjadi, Carl masuk ke kamar Rick untuk membangunkan ayahnya. Yang ia temui adalah sosok Rick yang sudah berubah menjadi zombie. Secara reflek, Carl pun menembakkan pistolnya tepat ke arah dahi Rick.

Seperti diketahui, Sebastian adalah anak dari walikota CommonWealth, Pamela Milton. Ia kesal karena sejak kedatangan Rick di CommonWealth, sistem yang telah dikembangkan oleh ibunya sedikit demi sedikit dihancurkan oleh Rick. Puncaknya, ia merasa perlu untuk menyingkirkan Rick, agar segala sesuatunya bisa kembali seperti sediakala.

Tentu saja harapan Sebastian tidak menjadi kenyataan. Setelah mengetahui bahwa si pelaku adalah anaknya sendiri, Pamela memastikan bahwa Sebastian akan ditahan di balik jeruji di sepanjang sisa hidupnya. Dan janji itu benar-benar ia tepati.

Cover komik The Walking Dead 193

Pasca insiden tersebut, alur cerita lompat ke masa 10 tahun setelahnya dalam edisi #193. Dan lagi-lagi, seperti yang pernah dinyatakan oleh Kirkman, giliran Carl yang menjadi sosok sentralnya. Namun siapa yang menyangka, aksi Carl yang kini telah menikah dengan Sophia tersebut hanya berdurasi 1 edisi. Benar, kisah “The Walking Dead” ternyata berakhir di edisi #193. Tamat. The End.

Di satu sisi, edisi pamungkas TWD membawa kita sekilas pada kehidupan karakter-karakter yang tersisa. Kondisi dunia diceritakan telah mulai membaik dengan jumlah zombie yang semakin lama semakin berkurang. Maggie bahkan telah didapuk menjadi presiden bagi komunitas penduduk yang ada saat ini. Begitu pula dengan Michonne, yang telah mewariskan pedangnya pada Carl, karena ia kini bertugas sebagai hakim agung.

Pada akhirnya kita memang tidak tahu apa yang sebenarnya telah mengubah manusia menjadi zombie. Yah, seperti ucapan Kirkman sejak awal, bahwa ia sendiri dulu tidak memikirkan hal itu sama sekali. Fokusnya hanyalah menggambarkan apa yang bisa dan mungkin terjadi pada manusia di kala virus zombie mewabah. Bukan tentang zombienya, apalagi pemicunya.

Di sisi lain, ‘janji’ Kirkman untuk melanjutkan kisah “The Walking Dead” tanpa Rick Grimes ternyata hanya isapan jempol. Sama sekali tidak terbukti. Kecuali kalau cerita 1 edisi bisa dianggap sebagai pembuktian. Bagi saya sih tidak.

Saya sih coba memahami keputusan Kirkman. Faktanya, dalam beberapa tahun terakhir, antusiasme pembaca TWD semakin lama semakin berkurang. Soal “minat” ya yang perlu digarisbawahi. Berbeda dengan segi penjualan yang tidak terlalu terpengaruh, masih tetap eksis di jajaran 10 besar komik laris di setiap rilisannya.

Saya pribadi termasuk yang sudah kehilangan minat dengan TWD. Pola cerita yang diangkat itu itu saja. Bangun komunitas, ada konflik internal ATAU ada musuh dari luar yang hendak menguasai atau menghancurkan komunitas, bumbu serangan kelompok zombie, lantas komunitas yang bersangkutan hancur. Selalu seperti itu. Visi Kirkman untuk tidak mengutak-atik elemen zombie membuatnya menjadi kelebihan sekaligus kekurangan utama serial komik yang telah ia bangun bertahun-tahun.

Halaman pamungkas The Walking Dead

Ah, sudahlah. Yang jelas, saya dan fans komik “The Walking Dead” sepertinya telah di-prank oleh Robert Kirkman…

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply