Review Komik Batman: Europa #4 (2016)

Setelah sekian lama menunggu (sambil nyanyi-nyanyi lagunya bang haji Rhoma Irama yang judulnya menunggu), terbit juga edisi pamungkas dari mini seri Batman: Europa. Meski hanya dijadwalkan rilis sebanyak 4 issue, tapi komik ini sukses memikat hati banyak fans Batman, terutama dengan kisahnya yang fresh dan juga gambarnya yang memikat. Mungkin sedikit rekap bagi yang belum sempat membaca tiga edisi pertamanya, dalam komik ini, diceritakan Batman dan Joker sama-sama terserang virus Colossus yang mematikan. Menurut si pembuat virus yang masih belum diketahui siapa orangnya, mereka hanya punya waktu 7 hari lagi untuk hidup. Mau tidak mau, keduanya terpaksa bekerjasama untuk mencari si pelaku, demi mendapatkan antidot dari virus tersebut. Nah, bagaimanakah akhir kisahnya? Siapa sebenarnya penjahat utama di balik virus Colossus? Apa motifnya? Simak jawaban dari semua pertanyaan tersebut dalam sinopsis Batman Europa #4 berikut ini.

Sinopsis Komik

batmaneuropa4

As they reel from the effects of the Colossus virus, Batman and The Joker make their final stand in the ruins of Rome’s Coliseum. At last, their true enemy reveals his identity for one final showdown. Weakened by sickness and forced into an uneasy alliance with his greatest foe, how can Batman focus on what he needs to do to survive?

Story: Brian Azzarello, Matteo Casali
Art / Color: Gerald Parel
Judul Edisi: 4. Rome
Tanggal Rilis: 3 Februari 2016

Efek virus Colossus pada Batman dan Joker sudah mencapai puncaknya. Seorang Batman bahkan sempat terganggu konsentrasinya dengan menuduh Joker yang menyuntikkan virus tersebut kepadanya. Jujur sih, saya selama ini mengira skenario itu yang terjadi di sini. Tapi ternyata tidak.

Setibanya di Colloseum, mereka menemukan jubah atau kostum yang dipakai oleh sosok yang telah membunuh Nina di edisi sebelumnya dalam kondisi terbakar. Dan akhirnya terbukalah identitas penjahat yang selama ini telah membuat Batman dan Joker penasaran… Bane!

Tanpa panjang lebar, ia pun langsung menghajar keduanya, sembari bercerita tentang asal muasal virus Colossus tersebut, juga tentang Joker yang sebenarnya masih punya kesempatan untuk menyelamatkan Nina saat Bane membunuhnya, namun ia lebih memilih untuk diam dan melihat saja sambil tersenyum. Batman yang terdesak berhasil menggunakan ultrasonic bat beacon saat Bane lengah dan membuatnya diserbu oleh ribuan kelelawar.

25_18

Kondisi pun berbalik. Dengan sisa-sisa tenaganya, dan dengan dihantui rasa penyesalan terhadap kematian Nina, Batman akhirnya sukses melumpuhkan Bane. Virusnya? Dengan Bane yang sempat berucap bahwa Batman dan Joker adalah dua karakter yang saling melengkapi dan yang satu sama-sama tidak bisa hidup dengan yang lain, Batman menyadari bahwa sebenarnya darah mereka masing-masing merupakan antivirus atau antidot dari virus yang lain. Eh, bingung ya kalimatnya? Intinya, darah Joker adalah antidot dari virus yang menyerang Batman, sedang darah Batman adalah antidot dari virus yang menyerang Joker.

25_26

Sempat mempertimbangkan untuk sama-sama tidak menyembuhkan virus mereka, Batman dan Joker dengan cara yang jauh dari elegan lalu memutuskan untuk tidak melakukan hal tersebut. Virus pun ternetralisir dan tubuh mereka kembali normal seperti semula. Di ending, Batman terlihat menyerang Joker, namun tidak tergambar secara jelas apa yang setelah itu terjadi.


Gambarnyaaaaa 😮 Keren bingits, gaes! Bener-bener bikin mata gak berkedip saat ngebalik halaman demi halamannya (dalam arti harfiah, secara bacanya yang versi digital, hehehe). Yang agak sedikit mengganggu hanya penggambaran karakter Joker yang sedikit ala kartun, tapi rapopo wes, termaafkan oleh art-nya yang super duper keren.

Ceritanya sendiri, well, that’s a surprise. Bener-bener gak nyangka kalau pelakunya adalah Bane. Apalagi bagi orang awam, atau yang kurang begitu paham dengan dunia per-Batman-an, Bane lebih dikenal sebagai sosok yang mengandalkan kekuatan fisik. Padahal, selain kuat secara fisik, ia sebenarnya adalah salah satu musuh Batman yang memiliki tingkat intelektual tinggi, alias super cerdas. Jadi jelas wajar jika ia berada di balik layar Colossus.

Endingnya, meski Batman sempat mengalami kebimbangan atas apa yang harus ia lakukan terhadap Joker, tapi pilihannya sudah bisa ditebak. Well, saya rasa semua paham kok, mengharapkan si manusia kelelawar dengan attitude yang berbeda seperti yang dihadirkan di Justice League Gods and Monster adalah suatu hil yang mustahal.

Tema artikel yang berhubungan: , , , ,

Reply