Rekap Sinopsis Circle Episode 3 (29 Mei 2017)

Di sinopsis Circle: Two Worlds Connected episode sebelumnya, Kim Beom-Gyoon (Ahn Woo-yeon) menghilang begitu saja pasca mengatakan akan menyelidiki sebuah markas persembunyian alien dan memberitahu Kim Woo-Jin (Yeo Jin-goo) bahwa pelaku sebenarnya adalah Bluebird. Tanpa disangka, Woo-Jin justru bertemu dan berkenalan dengan Han Jung-yeon (Gong Seung-yeon), mahasiswi yang diduga sebagai alien oleh Beom-Gyoon. Melihat kehadiran Jung-yeon ke kamar motel Beom-Gyoon yang tanpa sengaja terekam oleh kamera membuat Woo-Jin curiga bahwa Jung-yeon memang benar alien yang telah membuat kakaknya menghilang. Sementara itu, di tahun 2037, Kim Min-Ji kembali menyerang seorang pria. Korbannya kali ini adalah walinya sendiri, Park Jin-Gyu. Anehnya, Jin-Gyu menyangkal bahwa dulu Min-Ji pernah diculik saat ia masih kecil. Apa yang sebenarnya terjadi? Simak yuk kelanjutan ceritanya di sinopsis Circle episode 3 berikut ini.

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 3 Part 1

Judul: BETA Project

Tahun 2017. Malam saat Beom-Gyoon menghilang. Saat Woo-Jin menelponnya, Beom-Gyoon ternyata sedang berada di depan sebuah bangunan tua yang sudah terbengkalai. Ia hendak masuk untuk memastikan bahwa tempat itu adalah benar markas alien seperti yang ia curigai, namun baru sesaat melangkah, sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Kau juga menganggapku begitu?” tanya Jung-yeon merespon cengkraman Woo-Jin di kerah bajunya. “Kau menganggap aku ini alien?”

Jung-yeon menepis tangan Woo-Jin yang saat itu masih terdiam mendengar respon Jung-yeon.

“Apa itu masuk akal?” tanya Jung-yeon lagi. “Kalian berdua memang gila.”

Jung-yeon lantas berbalik badan dan pergi meninggalkan Woo-Jin.

“Terus kenapa kau mondar mandir di kamar orang lain seperti orang gila?” balas Woo-Jin.

Ia lalu melangkah menghampiri Jung-yeon dan bertanya, “Kenapa kau pergi ke kamar 315 di Motel Sejong?”

“Ku rasa kakakmu itu pelakunya,” jawab Jung-yeon.

“Atas kejahatan apa?” tanya Woo-Jin.

“Insiden di kampus. Itu bukan bunuh diri. Tapi kakakmu berada di TKP tiap ada kejadian itu, jadi ku rasa dia pelakunya. Makanya aku mengejarnya,” jelas Jung-yeon.

“Kau yakin kalau kau bukan pelakunya?” Woo-Jin balik bertanya. “Kalau kau selalu memata-matai kakakku, itu artinya kau juga ada di sana. Kau mencoba melakukan sesuatu jika kakakku melihatmu.”

“Bicara apa kau ini?”

“Kakakku menghilang. Dia mengejarmu.. lalu dia menghilang.”

“Kakakmu.. menghilang?” respon Jung-yeon seolah tidak percaya.

“Sekarang ini kau mau membodohiku?” ganti Woo-Jin yang tidak percaya dengan respon Jung-yeon.

“Kau yakin dia menghilang?” tanya Jung-yeon sekali lagi.

“Jangan sok tak tahu!” bentak Woo-jin sembari memegang kedua lengan Jung-yeon.

Tiba-tiba datang sunbae Lee (Shin Joo-hwan), menanyakan apa yang sedang terjadi. Woo-Jin memintanya untuk pergi saja, tapi Lee justru tidak terima dan mulai memukul Woo-Jin. Woo-Jin tidak tinggal diam dan membalasnya.

Woo-Jin, Jung-yeon, dan Lee kini berada di kantor polisi. Woo-jin ternyata diam saja meski Lee mengaku bahwa Woo-Jin yang memukul duluan. Ia juga tetap diam saat Lee menyindir kelakuan Woo-Jin yang tidak berbeda dengan kakaknya. Hal itu membuat Jung-yeon jadi penasaran.

Mendengar nama Kim Woo-Jin disebut, detektif Hong Jin-hong (Seo Hyun-cheol) yang berada di meja di belakang mereka langsung ngeh dengan hubungan Woo-Jin dengan Beom-Gyoon, orang yang sedang ia cari-cari. Ia segera mengambil alih meja dari polisi yang saat itu sedang betugas.

“Dimana kakakmu sekarang?” tanya Jin-Hong tanpa basa-basi.

“Apa?” balas Woo-Jin heran.

“Oh, itu karena ada yang ingin ku tanyakan padanya. Aku tidak bisa menghubunginya. Kau tahu dimana kakakmu, bukan? Kau kan adiknya.”

“Aku juga tidak tahu. Dia sebenarnya belum pulang beberapa hari atau mengangkat telponnya.”

“Kau tidak menyembunyikan dia, kan?” tanya Jin-Hong curiga.

“Buat apa juga aku melakukannya?” bantah Woo-Jin. “Toh dia tak bersalah.”

“Oh, tidak ada juga yang bilang kalau dia bersalah. Ku rasa ini cuma kebetulan saja. Kakakmu itu agak aneh,” dalih Jin-Hong. “Dia masuk penjara karena mengejar alien. Dan dia mendapat perawat psikologis. Bukankah insiden yang menyebabkan kakakmu di penjara dan insiden di Universitas Handam agak mirip?”

“Bukan dia,” kembali Woo-Jin membantah.

“Terus dimana dia? Kenapa kami tidak bisa menghubunginya kalau tak ada yang salah.”

“Aku yakin sesuatu terjadi padanya. Dia mungkin melakukan hal-hal gila, tapi dia tidak pernah tak mengangkat telponku. Tapi sekarang dia tak mengangkat telpon dariku. Pasti ada apa-apa yang menimpanya. Dia menghilang. Jadi jika Anda punya waktu seperti ini, tolong carilah kakakku. Aku tidak peduli dia di RSJ atau di penjara. Jadi tolong, tolong cari kakakku,” pinta Woo-Jin.

Setelah urusan di kantor polisi selesai, Jung-yeon yang sedari tadi memperhatikan Woo-Jin saat berada di kantor polisi memintanya untuk ikut dengannya. Ia ingin membuktikan bahwa bukan dia pelaku pembunuhan seperti yang dituduhkan oleh Beom-Gyoon.

Tiba di kamar Jung-yeon (yang ada di rumah temannya), ia mengeluarkan sebuah kotak dari laci mejanya. Di dalamnya terdapat beberapa hasil investigasinya yang menegaskan bahwa semua insiden yang terjadi di kampus mereka bukanlah kasus bunuh diri. Ditambah lagi, keempat orang korban ternyata memiliki gejala yang sama sebelum mereka meninggal. Yakni mengalami sakit kepala dan mimisan.

“Jadi yang mana bukti hingga kau yakin kakakku pelakunya?” tanya Woo-Jin.

“Aku sedang menyelidiki kejadian tersebut dan kakakmu mengira aku ini alien, jadi dia mengejarku. Makanya kami saling bertemu tak sengaja dan mengira kalau salah satu dari kami penjahatnya,” beber Jung-yeon. “Bukankah itu sebabnya detektif mengira dia pelakunya? Tapi kalau pelakunya bukan aku atau kakakmu dan kakakmu menghilang saat melihat kejadian ini, menurutmu siapa dalang di balik semua ini? Pelaku yang sebenarnya.. kita harus menemukannya.”

“Aku paham kenapa kakakku menyelidiki ini, tapi kenapa kau melakukannya juga?”

Jung-yeon mengambil beberapa lembar foto dari dalam kotak dan menunjukkannya pada Woo-Jin. Korban pertama, Kang So-Yoon, ternyata adalah sahabat baiknya. Karena tahu persis kepribadian So-Yoon yang ceria, Jung-yeon yakin bahwa So-Yoon tidak mungkin melakukan bunuh diri.

“Kami pernah berencana pergi ke Eropa bersama,” tambah Jung-yeon lirih sambil meneteskan air mata.

Melihatnya, Woo-Jin jadi teringat saat dulu ia, Beom-Gyoon, dan si wanita alien pernah menonton film sedih bersama-sama. Ia dan Beom-Gyoon saat itu menangis, tapi si wanita alien, meski mengaku sedih, sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Hal ini membuat kecurigaan Woo-Jin terhadap Jung-yeon semakin berkurang.

Setelah meredakan kesedihannya, Jung-yeon meminta untuk diperbolehkan melihat hasil investigasi Beom-Gyoon, untuk mencari petunjuk. Woo-Jin memperbolehkannya. Niat mereka nyaris gagal karena pemilik motel hendak membuang barang-barang yang ada di kamar yang diinapi Beom-Gyoon karena uang sewanya belum dibayar. Mau tak mau Woo-Jin melunasinya.

Setelah mengubek-ubek catatan investigasi Beom-Gyoon, mereka berdua tidak berhasil menemukan apa-apa.

“Tapi… kenapa aku?” tanya Jung-yeon setelah melihat foto-foto di kamera Beom-Gyoon yang hanya berisi tentangnya. “Kenapa kalian mengira aku ini alien?”

Woo-Jin terdiam. Ingatannya kembali saat dulu sosok alien di hadapannya mendadak berubah wujud menjadi mirip Jung-yeon. Pun begitu, alih-alih menceritakan yang sebenarnya, ia sedikit berbohong.

“Ada orang yang mirip denganmu saat kami masih kecil. Makanya kakakku mungkin mengira kamu itu alien,” dalih Woo-Jin.

“Jadi orang yang mirip aku itu alien?” respon Jung-yeon sambil tertawa.

“Kakakku mempercayainya,” balas Woo-Jin.

“Kalau kau? Bukannya dia satu-satunya yang mempercayainya? Kelihatannya kau juga mempercayai sesuatu.”

“Aku tidak tertarik dengan itu,” jawab WOo-Jin setelah terdiam sejenak.

“Kalau begitu berhentilah mencurigaiku dan berhenti melakukan usaha yang sia-sia.”

Jung-yeon kemudian menemukan daftar 10 nama di selembar kertas. 4 di antaranya, sudah diberi tanda silang, adalah korban insiden bunuh diri. Saat membacanya, Woo-Jin mengenal satu nama dalam daftar tersebut. Kim Nan-Hee, mahasiswi di kelasnya yang sempat mengalami mimisan sesaat sebelum Jung-yeon waktu itu masuk ke kelas.

“Kenapa? Kau mengenalnya?” tanya Jung-yeon.

“Kim Nan-Hee juga seperti itu,” jawab Woo-Jin. “Sakit. Mimisan.”

Mendengar hal itu, Jung-yeon segera mengajak Woo-Jin untuk bergegas menuju asrama mahasiswi. Setibanya di sana, mereka sempat mendapat informasi dari petugas keamanan bahwa sebelum mereka sudah ada orang lain yang datang untuk mencari Nan-Hee. Semakin yakin ada yang tidak beres, tanpa mempedulikan petugas keamanan yang melarang pria untuk masuk ke sana, mereka langsung menuju kamar 207 tempat Nan-Hee tinggal. Hanya ada kertas-kertas berserakan di meja dan lantai kamar Nan-Hee, sebagian di antaranya terdapat bercak darah, tulisan tidak jelas, dan bekas sayatan pisau / gunting.

Jung-yeon tiba-tiba berteriak lantang. Ia ternyata melihat Nan-Hee sedang berdiri di atap gedung yang ada di seberang kamarnya. Kembali bergegas ia dan Woo-Jin menuju ke sana. Namun terlambat, belum sempat mereka masuk ke dalam gedung, Nan-Hee sudah keburu melompat dan tewas.

Di saat itulah, Woo-Jin dan Jung-yeon yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat jatuhnya Nan-Hee, melihat seekor ulat berwarna biru keluar dari dalam hidung Nan-Hee dan perlahan pergi meninggalkan tubuh Nan-Hee.

Jin-Hong mendapat kabar mengenai insiden terbaru di Universitas Handam. Dari petugas penjaga asrama, ia mendapat informasi tentang adanya tiga orang yang datang untuk mencari Nan-Hee. Selain Woo-Jin dan Jung-Yeon, satu orang lagi yang mendatangi Nan-Hee ternyata adalah seorang wanita dengan perawakan pendek dan langsing.

“Apakah mungkin dia salah mengira kalau ‘Bluebird’ itu ‘blue bug’ (serangga biru)?” batin Woo-Jin sembari membawakan sekaleng kopi pada Jung-yeon yang masih syok dengan kejadian barusan.

“Jika kita lebih cepat lagi, kita bisa menghentikannya,” gumam Jung-Yeon lirih berulangkali.

Woo-Jin menyodorkan kaleng kopi yang ia bawa pada Jung-Yeon lantas duduk di sampingnya.

“Tadi itu sama seperti yang dialami So-Yoon,” ujar Jung-yeon, “Jika aku sampai sedikit lebih cepat…”

Melihat Jung-yeon yang mulai menangis, Woo-Jin mengambil kembali kaleng kopi dari tangan Jung-Yeon, membukakan tutupnya, dan menyerahkannya pada Jung-Yeon.

Profesor Han Yong-woo (Song Young-gyu) berdiri terdiam di pinggir jendela sambil mengetuk-ngetukkan sebatang rokok yang ia bawa di tangan kanannya.

“Anda merokok lagi?” tanya Park Dong-gun (Han Sang-jin) yang melihatnya.

Yong-woo tidak menjawabnya.

“Anak-anak zaman sekarang sangat lemah, kan?” tambah Dong-gun. “Anak-anak akhir-akhir ini terlalu ekstrim, bukan?”

Yong-woo menoleh ke arah Dong-gun dengan tatapan penuh emosi. Tangan kanannya meremas rokok yang ia bawa hingga hancur.

“Bagaimana bisa itu tanggung jawab mereka?” tanya Yong-woo. “Profesor Park Dong-Gun, jaga kata-katamu itu.”

“Ya,” jawab Dong-Gun sembari menundukkan kepalanya.

Woo-Jin dan Jung-yeon kembali ke TKP untuk mencari serangga biru yang tadi mereka lihat. Tiba-tiba ada penjaga kampus yang berpatroli di dekat tempat tersebut. Agar tidak ketahuan, Jung-Yeon menarik Woo-Jin ke atas tubuhnya. Kejadian itu sempat membuat mereka berdua sedikit canggung.

“Hei, kau boleh berdiri, ia sudah pergi,” ujar Jung-yeon.

“Sebentar,” ucap Woo-Jin. “Jangan bergerak.”

“Hei, kau kenapa?” tanya Jung-yeon heran.

Perlahan Woo-Jin mengarahkan tangannya ke leher kiri Jung-yeon. Tanpa disangka, serangga biru yang mereka cari ternyata sudah berada di sana. Dengan hati-hati Woo-Jin mengambilnya dan menunjukkannya pada Jung-yeon.

Di laboratorium, Woo-Jin dan Jung-yeon mengamati serangga biru yang baru saja mereka temukan. Tanpa berkata apa-apa, Woo-Jin tiba-tiba mengambil pisau dan pinset, lantas membelah tubuh ulat tersebut. Mereka pun terkejut mendapati sebuah chip di dalamnya.

“Itu bukan serangga, tapi robot?” tanya Jung-yeon kaget. “Kenapa ada yang seperti ini keluar dari tubuh serangga itu?”

“Jadi ini alasannya,” respon Woo-Jin, “Inilah alasan kenapa mereka meninggal.”

Semalaman kemudian mereka habiskan untuk mencari informasi mengenai microrobot. Hasilnya nihil, tidak ada yang bentuknya serupa dengan yang ada dalam tubuh si ulat biru.

Esok harinya mereka berpisah. Jung-yeon yang dicari oleh ayahnya pulang ke rumah terlebih dahulu, demikian pula Woo-Jin yang kembali ke kamar apartemennya. Saat sedang memperhatikan jasad serangga biru beserta chipnya sambil bermain rubik, Woo-Jin mendadak teringat sesuatu. Perlahan ia mengambil kertas postnote yang sebelumnya diberikan oleh Jung-yeon, yang berisi alamat email Jung-yeon. Dan alamat email Jung-yeon ternyata adalah bluebird97@holust.ac.kr.

Bergegas Woo-Jin mendatangi rumah teman Jung-yeon dan meminta ijin untuk menunggu Jung-yeon di kamarnya. Ia menggeledah tempat tersebut dan tanpa disangka, menemukan sebuah pot berisi serangga biru di dalamnya. Dengan kesal ia membanting pot tersebut ke meja Jung-yeon.

Sementara itu, di saat yang sama, Jung-yeon sedang berdiri di depan bangunan tua tempat Beom-Gyoon menghilang. Bangunan tersebut ternyata adalah bekas Rumah Sakit Jiwa Eunsung. Beom-Gyoon sendiri terlihat sedang disekap di dalam salah satu ruangan di bangunan tersebut.


Sinopsis Episode 3 Part 2

Judul: Brave New World

Tahun 2037. Saat sedang tidur, bayangan ingatan Woo-Jin dan Beom-Gyoon hadir di pikiran Joon-Hyuk. Ia pun terbangun dengan perasaan gelisah dan kepala pening. Sesaat kemudian Lee Dong-soo (Oh Ui-sik) menelponnya dan memberitahu tentang Bluebird yang saat itu baru saja meretas (meng-hack) sistem komputernya. Joon-Hyuk tidak terlalu menghiraukannya dan meminta Dong-Soo untuk melakukan sesuatu untuknya.

Joon-Hyuk dan Lee Ho-soo (Lee Gi-kwang) memeriksa berita-berita di koran mengenai hilangnya Kim Min-Ji.

“Apa lagi yang kau periksa kali ini?” tanya Ho-soo.

“Ingat Park Jin Gyu,” jawab Joon-Hyuk singkat.

“Kau kan sudah melihatnya kemarin. Jika Park Jin Gyu memang pelakunya, dia pasti tidak akan lupa.”

“Kita bisa tahu setelah kita pastikan. Apakah dia memang tidak ingat, atau apa seseorang mengutak-atik ingatannya.”

“Apa kau sedang syuting film fiksi ilmiah? Hentikan tingkahmu ini,” pinta Ho-soo. “Mana mungkin ingatan seseorang bisa diutak-atik? Mustahil itu.”

“Makanya aku mau memastikannya.”

“Cara memastikannya bagaimana?”

“Akses ingatan. Akan ku periksa ingatan Park Jin Gyu pada hari Kim Min-Ji diculik,” beber Joon-Hyuk.

“Ya, baiklah. Aku akan meminta izin dari Park Jin Gyu dulu baru membuat persiapan,” ujar Ho-Soo.

“Tak perlu. Aku periksa di General District saja,” balas Joon-Hyuk.

“Detektif Kim! Itu ilegal! Dalam UU Smart District, Pasal 1, Ayat 5, tertulis teknologi Smart District tak bisa digunakan di zona yang tidak diizinkan.”

“Makanya aku harus pergi ke General District. Jika memang mereka merusak ingatannya, kita takkan dapat jawaban seberapa kerasnya usaha kita.”

“Kenapa Anda begini? Kenapa Anda begitu curiga terhadap Human B?”

“Terus kenapa kau mempercayainya sekali?”

“Karena Human B itu sempurna. Human B tidak mungkin menggunakan teknologinya untuk tujuan itu. Tidak ada alasan atau keperluan buat mengutak-atik ingatan seseorang.”

“Baiklah, kita lihat saja nanti siapa yang benar,” respon Joon-Hyuk sembari melangkah pergi meninggal Ho-Soo.

Ho-Soo melaporkan rencana Joon-Hyuk pada walikota Yoon Hak-joo (Nam Myung-ryul). Walikota Yoon lantas meminta Ho-Soo untuk tetap bekerjasama dengan Joon-Hyuk untuk memastikan apakah teori modifikasi ingatan yang dicetuskan Joon-Hyuk benar adanya atau tidak. Ia juga mengingatkan Ho-Soo agar tidak lupa melaporkan semuanya kepadanya.

Saat hendak meninggalkan walikota Yoon, tiba-tiba kepala Ho-Soo terasa sakit.

“Ada apa? Badanmu tidak enakan?” tanya walikota Yoon merespon Ho-Soo yang terlihat kesakitan.

“Tidak, saya baik-baik saja,” dalih Ho-Soo.

Pun begitu, saat masuk ke dalam kamar mandi, lagi-lagi kepala Ho-Soo terasa sakit. Tidak itu saja, ia mulai mendengar suara seorang wanita memanggil namanya. Namun berkat chip Stable Care, emosinya yang sempat naik karena kejadian tersebut dapat kembali stabil.

Di rumah sakit, Joon-Hyuk memutar rekaman suara Jin-Gyu saat 20 tahun lalu melaporkan diculiknya Kim Min-Ji ke kantor polisi. Jin-Gyu kaget mendengarnya karena ia sama sekali tidak mengingat kejadian tersebut, meski yakin bahwa itu memang suara aslinya.

“Kaulah yang melaporkan penculikannya,” ujar Joon-Hyuk, “tapi kau tidak mengingatnya?”

“Aku sungguh tidak mengingatnya. Aku…”

“Tapi itu memang suaramu,” potong Joon-Hyuk sebelum Jin-Gyu sempat menyelesaikan ucapannya. “Dan kau sendirilah kaki tangan dalam penculikan Kim Min-Ji. Makanya dia mencoba membunuhmu.”

“Tidak, mustahil itu,” bantah Jin-Gyu.

“Terus kenapa Kim Min-Ji begitu? Kenapa?” cecar Joon-Hyuk dengan nada tinggi.

“Itu jugalah yang ingin ku ketahui!” balas Jin-Gyu tidak kalah lantang.

Chip Stable Care kembali menunjukkan kinerjanya. Kali ini emosi Jin-Gyu yang distabilkan.

“Aku ini walinya Min-Ji. Dan aku membawa anak yatim piatu itu ke sini dan mengasuhnya sendiri,” lanjut Jin-Gyu yang sudah kembali tenang. “Aku juga heran apa yang sebenarnya terjadi. Aku juga sungguh ingin mengetahuinya, detektif Kim.”

Joon-Hyuk lantas menawarkan idenya seperti yang sebelumnya ia sampaikan pada Ho-Soo, yaitu mengecek rekaman ingatan Jin-Gyu. Jin-Gyu menyetujuinya.

Sekretaris Shin (Lee Yoo-Young) memberitahu Lee Hyun-Seok (Min Sung-Wook), atasannya, bahwa Park Jin-Gyu telah menghilang dari rumah sakit. Hyun-Seok tidak berkata apa-apa dan seperti biasa hanya membenarkan posisi kerah bajunya.

Sementara itu, di General Earth, tepatnya di kamar Dong-Soo, sudah ada Jin-Gyu, Joon-Hyuk, Ho-Soo, Jin-Hong, dan detektif Oh (Kwon Hyuk-Soo) di sana. Tak lama datang pula In Young, seorang dokter yang merupakan kenalan Joon-Hyuk. Dokter itulah yang lalu membuka akses ke chip yang ada di belakang telinga Jin-Gyu untuk kemudian disambungkan ke sistem komputer Dong-Soo.

Dong-Soo bergerak cepat untuk menghubungkan komputernya dengan memory cube yang ada dalam chip Stable Care Jin-Gyu. Joon-Hyuk memintanya untuk memeriksa ingatan Jin-Gyu pada tanggal 5 Mei 2017, tanggal dimana Kim Min-Ji diculik. Mereka pun kaget mendapati ingatan Jin-Gyu pada tanggal tersebut ternyata blank (kosong).

“Itu bagian yang tidak ingin dia ingat,” ujar Ho-Soo.

“Penculikan itu masalah besar. Bisa-bisanya dia melupakan itu,” respon Jin-Hong tidak percaya.

Joon-Hyuk segera meminta Dong-Soo untuk memeriksa apakah ada orang yang memodifikasi ingatan tersebut. Aktivitas mereka itu ternyata terdeteksi oleh Human B, yang mendapat notifikasi bahwa ada seseorang yang sedang berusaha masuk ke dalam sistem mereka.

“Memory cube Park Jin-Gyu aktif di General District,” lapor salah satu petugas kepada Hyun-Seok.

“Pergi ke sana dan hentikan mereka,” perintah Hyun-Seok pada sekretaris Shin.

Tak lama kemudian sekretaris Shin dan beberapa orang anak buahnya sudah tiba di depan tempat tinggal Dong-Soo. Jin-Hong, detektif Oh, dan beberapa orang anggota kepolisian lainnya menghadang mereka.

“Kami kemari karena rahasia perusahaan kami telah bocor,” ujar sekretaris Shin.

Tanpa basa-basi lagi, sekretaris Shin langsung memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Jin-Hong dkk. Ia sendiri juga ikut beraksi melawan mereka. Berbeda dengan Jin-Hong yang hanya berteriak-teriak sambil perlahan-lahan mundur untuk menghindar.

Joon-Hyuk tiba-tiba muncul, mengambil pistol milik Jin-Hong, dan melepaskan beberapa tembakan ke udara. Tindakannya itu membuat semua orang yang sedang bertarung otomatis berhenti.

“Ku rasa kalian tidak mengerti, ya,” ujar Joon-Hyuk seraya menodongkan pistolnya ke kepala sekretaris Shin. “Di sini bukan Smart District. Bagaimana? Kalian mau mati atau pergi saja?”

“Bukankah kau secara ilegal meretas chip kami?” balas sekretaris Shin.

“Kata siapa?” tanya Joon-Hyuk.

“Kami dapat informasinya di ruang pusat kendali kami,” jawab sekretaris Shin.

“Oh, ya? Berarti kau harus melaporkannya ke polisi. Aigoo, tapi bagaimana ini. Kami ini juga kan polisi. Kepala Hong, ayo kita bergerak. Jika kita menyelidiki server Human B, kita pasti dapat jawaban. Kita akan tahu apa maksud Human B. Aku sungguh penasaran sekali. Apa yang kalian sembunyikan di sana sampai tak mau membiarkan satu orang merangkak masuk? Bagaimana ini? Apa aku harus bawa surat perintah?”

Ancaman Joon-Hyuk membuat sekretaris Shin mau tidak mau mengurungkan niatnya. Hyun-Seok pun dengan kesal memintanya untuk segera kembali ke ruang kontrol Human B sebelum menimbulkan masalah lain.

Setibanya kembali ke kamar Dong-Soo, Dong-Soo langsung memberitahu Joon-Hyuk bahwa benar ada yang telah mengunci ingatan Jin-Gyu.

“Bajingan ini menggunakan alat retas pribadi,” jelas Dong-Soo. “tapi bagaimana ini? Aku sekarang akan menangkapnya.”

“Kau bisa mencari tahu siapa itu?” tanya Joon-Hyuk penasaran.

“Ku lumpuhkan dulu perangkat retasnya,” balas Dong-Soo.

Setelah beberapa saat mengutak-atik komputernya, Dong-Soo berhasil melakukan hal tersebut. Namun ia pun kaget saat tiba-tiba muncul logo Blue Bird di layar monitornya.

“Kenapa ini di sini?” tanya Dong-Soo heran.

“Blue bird?” respon Joon-Hyuk saat melihatnya.

“Berarti yang memblokir ingatannya, si peretas itu, si Bluebird?” tanya Dong-Soo berusaha menyimpulkan.

“Tidak, Bluebird itu Human B. Human B menghalangi ingatan warganya,” jawab Joon-Hyuk.

“Ini sudah cukup. Bluebird peretasnya. Berarti dialah pelakunya,” ujar Ho-Soo, “Tapi kenapa Anda mengatakan Bluebird itu Human B? Atas bukti apa Anda meyakini kalau Human B menghalangi ingatan?”

“Bukti? Ini buktinya,” jawab Joon-Hyuk sambil menunjuk ke arah logo Bluebird yang ada di layar monitor. “Ini bukti bahwa Human B merusak ingatan.”

“Masuk akallah sedikit!” balas Ho-Soo. “Kenapa Anda begitu yakin soal itu? Bagaimana Anda begitu yakin?”

“Aku… naluriku tahu,” dalih Joon-Hyuk.

Joon-Hyuk yang sudah terbakar emosi lalu mengeluarkan pistolnya dan bergegas keluar untuk menuju Smart Earth. Jin-Hong menyusulnya. Ho-Soo juga sempat hendak menyusul mereka, tapi kepalanya kembali terasa sakit.

Di luar, Jin-Hong berhasil menyusul Joon-Hyuk.

“Kau mau menangkap Human B tanpa bukti?” tanya Jin-Hong.

“Hyungnim tahu betul. Bluebird itulah Human B,” jawab Joon-Hyuk.

“Kita tidak bisa menyimpulkan hal itu!”

“Akulah bukti nyatanya! Ini terjadi padaku 20 tahun silam dan ini terjadi pada orang lain sekarang juga! Dan anak itu bisa saja menjadi salah satu korbannya.”

Tanpa diduga, Jin-Hong tiba-tiba memukul Joon-Hyuk.

“Lagipula kita sudah menunggu anak itu selama 20 tahun,” ujar Jin-Hong. “Tidak bisakah kita menunggu sedikit lebih lama lagi? Jika sesuatu terjadi padamu juga, aku pasti akan merasa bersalah. Aku pasti takkan bisa hidup.”

Ucapan Jin-Hong berhasil membuat Joon-Hyuk kembali menggunakan akal sehatnya. Sementara itu, Ho-Soo menuruni anak tangga dengan langkah gontai, seraya menahan sakit di kepalanya. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil namanya. Tidak itu saja, potongan ingatan mendadak muncul di kepalanya. Tentang seorang wanita yang sedang menunggunya di depan sebuah kafe.

Untuk menenangkan pikirannya, Ho-Soo menuju kamar mandi dan membasuh mukanya. Kali ini giliran hidungnya yang tiba-tiba mimisan. Ia jadi makin panik gara-gara teringat Min-Ji yang mengalami sakit kepala dan juga mimisan sebelum ia melakukan pembunuhan beberapa waktu lalu.

“Apa jangan-jangan mereka juga memblokir ingatanku?” tanya Ho-Soo dalam hati.

Ho-Soo berdiri di depan sebuah kafe yang tadi sekilas muncul dalam ingatannya. Di sana ia melihat foto dirinya dan seorang wanita (yang sebelumnya ia lihat sedang menunggunya di depan kafe) terpajang bersama puluhan foto pengunjung kafe lainnya. Ingatan lain kembali hadir dalam pikirannya, dimana ia sering berada di kafe itu dengan wanita yang ada dalam foto tersebut. Tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Termasuk saat wanita itu memberikan hadiah dasi kepadanya dan memasangkannya ke kerah baju Ho-Soo.

“Kau sudah lama tak ke sini,” ujar manajer kafe yang tiba-tiba datang menghampiri Ho-Soo.

“Kau kenal aku?” tanya Ho-Soo heran.

“Apa? Kau selalu datang ke sini setiap saat,” jawab manajer kafe.

“Kau kenal wanita ini?”

“Dia ini pacarmu. Tapi dia meninggal dunia.”

Dan ingatan Ho-Soo saat kekasihnya itu, yang bernama Soo-Bin, meninggal dunia pun muncul. Dengan langkah gontai karena syok, Ho-Soo pergi meninggalkan kafe sambil membawa foto dirinya dan Soo-Bin.

Setelah berusaha keras dan hampir menyerah, Dong-Soo berhasil mendapatkan lokasi Bluebird. Joon-Hyuk bergegas mengendarai mobilnya untuk menuju lokasi yang dimaksud, yang ada di wilayah Smart District. Namun tanpa disangka, saat posisinya sudah tinggal berjarak kurang dari dua ratus meter saja dari Bluebird, listrik di tempat Dong-Soo mati dan ia kehilangan jejaknya. Lebih tidak disangka lagi, saat detektif Oh memeriksa panel listrik, Ho-Soo lah yang dengan sengaja telah mematikan listrik di sana.

Setibanya di tempat Dong-Soo, Joon-Hyuk langsung membawa Ho-Soo ke rooftop untuk dikonfrontasi.

“Kenapa kau melakukannya? Kenapa?” tanya Joon-Hyuk.

“Aku sudah memperingatkan Anda,” jawab Ho-Soo, “Sudah ku peringatkan aku akan mengusir Anda jika Anda bertingkah tanpa seizinku. Detektif Kim, Anda melanggar UU Smart District, pasal 5, ayat 1. Karena itulah, aku ingin Anda menghilang dari Smart District. Jika tidak, aku akan mengajukan keluhan ke walikota Yoon secara formal.”

“Kau masih juga tak mengerti? Yang seharusnya menghilang bukan aku, tapi Human B,” respon Joon-Hyuk. “Mereka menipu kalian semua!”

“Tapi ini bukan urusan Anda, detektif Kim. Anda saja bukan penduduk Smart District.”

“Kau masih bisa bilang begitu setelah melihat semuanya? Mereka merusak ingatan orang.”

“Terus kenapa? Orang-orang bahagia karena mereka tidak bisa mengingat. Terus apa masalahnya?”

“Apa kau tahu apa artinya hilang ingatan? Hilang ingatan artinya aku bukan lagi diriku sendiri. Kau tahu betapa menakutkannya itu? Tahu tidak?” bentak Joon-Hyuk.

“Aku juga takut. Karena itu, aku lebih memilih untuk bukan menjadi diriku sendiri,” jawab Ho-Soo. “Aku takut mati. Aku takut ingatanku yang hilang mungkin pulih lagi.”

“Apa maksudmu?” tanya Joon-Hyuk heran.

“Aku tidak ingin mengingatnya. Aku hanya ingin bahagia. Jadi hentikanlah semua ini dan lakukan saja tugas Anda. Memangnya Anda punya bukti? Siapa Anda? Siapa Anda sampai menimbulkan masalah seperti ini? Anda itu siapa? Siapa Anda sebenarnya?”

“Aku juga tidak tahu,” jawab Joon-Hyuk setelah terdiam sejenak. “Aku tidak tahu siapa aku. Aku tidak tahu apa aku Kim Joon-Hyuk atau orang lain. Aku tidak ingat apapun.”

Flashback 10 tahun lalu. Joon-Hyuk berada di sebuah kamar rumah sakit bersama Jin-Hong. Ada rekaman video Woo-Jin dan Beom-Gyoon kecil sedang bermain rubik diputar dihadapannya.

“Ini aku?” tanya Joon-Hyuk pada Jin-Hong. “Aku… aku ini siapa?”

“Mulai sekarang.. kau adalah Kim Joon-Hyuk,” jawab Jin-Hong.


Oke, satu hal yang pasti, Joon-Hyuk benar memiliki ingatan dari si kembar. Pertanyaannya tinggal siapa di antara keduanya, apakah Woo-Jin atau Beom-Gyoon, mengingat keduanya ternyata sama-sama suka bermain rubik. Selain itu, Jin-Hong sepertinya punya peran yang tidak kalah vitalnya dalam misteri dua ‘dunia’ yang terpisah waktu ini, walau belum jelas detilnya seperti apa. Ada yang punya teori atau pendapat lain sejauh ini?

Reply