Rekap Sinopsis Circle Episode 2 (23 Mei 2017)

Di sinopsis Circle episode sebelumnya, meski waktu kecil sama-sama pernah melihat alien, Kim Woo-Jin (Yeo Jin-Goo) dan Kim Beom-Gyoon (An Woo-Yeon) tumbuh dengan kepribadian yang berbeda. Woo-Jin berusaha untuk melupakan semua yang terjadi dan mengangap alien tidak ada, sementara Beom-Gyoon menjadi terobsesi dengan keberadaan alien dan berusaha untuk mencarinya demi mengetahui keberadaan ayah mereka, Kim Kyu-Cheol (Kim Joong-Ki), yang hilang setelah pergi dengan alien tersebut. Di suatu hari, tanpa diduga, Woo-Jin dan Beom-Gyoon melihat kembali alien berwujud wanita yang selama ini dicari. Sementara itu, di masa 20 tahun kemudian, Kim Joon-Hyuk (Kim Kang-Woo) berusaha untuk masuk ke kota Smart Earth untuk memecahkan kasus hilangnya Woo-Jin dan Beom-Gyoon. Belum jelas hubungan Joon-Hyuk dengan mereka. Apa yang akan terjadi selanjutnya di episode kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 2 Part 1

Judul: BETA Project

Tahun 2007. Woo-Jin dan Beom-Gyoon kecil sedang berfoto bersama wanita alien di sebuah restoran. Beom-Gyoon ternyata masih tidak percaya kalau wanita itu adalah alien, meski ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri saat sosoknya berubah beberapa waktu lalu. Wanita alien tersebut hanya berdiam diri tanpa berkata apa-apa.

Sebuah mobil tiba-tiba melaju kencang, tepat ke arah meja mereka. Joong-Ki segera meraih Beom-Gyoon ke samping sehingga terhindar dari tabrakan. Wanita alien dan Woo-Jin yang tidak sempat menghindar untungnya juga berhasil selamat karena mobil tersebut berhenti sekitar setengah meter dari tempat mereka berada.

Si wanita alien, meski sedari tadi terlihat acuh, ternyata mempedulikan keselamatan Woo-Jin karena saat insiden itu terjadi, ia memeluk Woo-Jin untuk melindunginya. Akibatnya, salah satu pecahan kaca jendela restoran menancap di leher sebalah kiri si wanita alien. Darah menetes deras, namun raut wajah si wanita alien tetap tidak berubah. Masih datar seperti sebelumnya.

Tahun 2017. Melihat wanita alien yang ia cari selama ini tengah melangkah di seberang jalan, Beom-Gyoon tanpa pikir panjang berlari ke seberang. Namun karena terhalang oleh mobil-mobil yang lalu lalang, wanita tersebut sudah terlanjur naik ke dalam sebuah bus. Pun begitu, wanita tersebut sepertinya tahu Beom-Gyoon sedang mengejarnya karena ia sempat menoleh ke arah Beom-Gyoon dari balik jendela bus.

Beom-Gyoon kembali berlari untuk mengejar bus tersebut tanpa mempedulikan Woo-Jin yang memanggilnya. Woo-Jin sendiri sempat hendak menyusul kakaknya, namun karena lagi-lagi terhalang oleh kendaraan, ia hanya bisa menatap tubuh Beom-Gyoon yang menghilang di sebuah perempatan dari kejauhan.

Woo-Jin mendatangi kamar motel tempat Beom-Gyoon menginap. Di sana ia menemukan sebuah kamera yang diletakkan di atas lemari, tersimpan di bawah tumpukan selimut. Saat dilihat isinya, banyak foto dari wanita yang mereka lihat sebelumnya.

“Tidak, tidak mungkin. Mereka sangat mirip,” ujar Woo-Jin dalam hati, berusaha untuk tidak mempercayainya.

Woo-Jin lantas meletakkan kamera tersebut di atas meja. Sesaat kemudian ia mendapat telpon dari Beom-Gyoon. Saat diangkat, ternyata pihak UGD RS Hwigyung yang menghubunginya.

Woo-Jin bergegas menuju rumah sakit untuk mencari kakaknya. Ternyata ia baru saja mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kakinya retak ringan. Namun demikian, begitu melihat Woo-Jin datang, Beom-Gyoon kembali membahas masalah wanita tersebut.

“Kau melihatnya juga, kan?” ujar Beom-Gyoon sembari memegang tangan Woo-Jin. “Bukti nomer tiga! Wanita 10 tahun lalu.”

“Aku bertanya apa kau baik-baik saja,” balas Woo-Jin kesal sambil menepis tangan Beom-Gyoon.

“Aku hampir mendapatkannya, tapi aku kehilangannya di depan mataku!” respon Beom-Gyoon.

Suster yang sedang mengobati kaki Beom-Gyoon melihat ke arah mereka dengan pandangan aneh.

“Diamlah dan biarkan lukamu diobati dulu,” pinta Woo-Jin kesal.

“Dia benar-benar alien itu,” ucap Beom-Gyoon dalam perjalanan pulang.

“Dia hanya orang yang mirip saja,” dalih Woo-Jin. “Bagaimana wajahnya tetap sama dalam 10 tahun?”

“Karena dia alien!” balas Beom-Gyoon.

“Berhentilah beralasan.”

“Sudah ku bilang, dia itu alien! Dia berada di sekitar orang-orang yang bunuh diri. Alien itu membunuh mereka semua!”

“Mereka bunuh diri. Mereka bunuh diri karena hidup mereka terlalu sulit dijalani.”

“Lalu kenapa wanita itu lari?” tanya Beom-Gyoon. “Kau melihat juga. Dia lari setelah dia melihat kita. Dia lari karena dia takut kita mengenalinya.”

“Hentikan itu,” ujar Woo-Jin sembari melanjutkan langkahnya.

“Hei, Kim Woo-Jin,” panggil Beom-Gyoon. “Kaulah yang pertama mengatakan bahwa dia adalah alien! Kenapa kau tidak mau mengakui kebenarannya? Kau melihatnya juga!”

“Lalu? Lantas kenapa kalau dia alien?” respon Woo-Jin. “Apa itu urusanku?”

“Kenapa tidak? Dia membawa ayah kita…”

“Siapa yang peduli?! Apa semuanya akan berubah jika ayah kembali? Aku rasanya bisa mati karena berurusan denganmu. Tapi ayah? Kenapa aku harus melakukannya? Apa kau tidak bisa melupakan semua itu dan hidup normal? Hiduplah seperti tidak ada yang terjadi.”

Beom-Gyoon menundukkan wajahnya. Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Maafkan aku, Woo-Jin. Maaf, tapi… aku tidak bisa melakukannya sebelum aku melihatnya sendiri. Aku tidak bisa berhenti.”

Beom-Gyoon membalikkan badannya usai mengatakan hal tersebut dan mulai melangkah meninggalkan Woo-Jin.

“Lakukan saja semaumu!” bentak Woo-Jin. “Jika kau pergi sekarang, aku takkan mau bertemu denganmu lagi!”

Beom-Gyoon sempat berhenti saat Woo-Jin mengucapkan ancamannya. Namun tak lama ia kembali berjalan.

Tiba di kamar apartemennya, dengan kesal Woo-Jin membereskan barang-barang Beom-Gyoon ke dalam ranselnya, lantas melemparkan ransel tersebut begitu saja ke lorong depan kamarnya.

Esok harinya, saat ia hendak berangkat ke kampus, ransel tersebut ternyata masih tetap berada di sana. Woo-Jin tertegun sejenak, sebelum akhirnya mulai melangkah. Sesaat kemudian ponselnya berbunyi. Profesor Park Dong Gun (Han Sang-jin) rupanya yang menelpon, memintanya untuk datang ke laboratorium.

Di laboratorium, profesor Dong-Gun menanyakan apakah benar Woo-Jin ingin bergabung dengan tim penelitian.

“Ya,” jawab Woo-Jin. “Aku sangat tertarik dengan bidang pengobatan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).”

“Benarkah? Menurutmu pengobatan apa yang terbaik untuk penderita PTSD?” tanya Dong-Gun.

“Aku rasa belum ada pengobatan yang terbaik untuk saat ini,” jawab Woo-Jin.

“Jadi menurutmu apa yang akan menjadi alternatif terbaik?” tanya Dong-Gun lagi.

“Melupakan. Kenangan buruk tidak mudah dilupakan. Jadi penderita tersebut takkan mudah melakukannya. Kenangan itu sangat menakutkan. Kenangan yang menyakitkan seharusnya dilupakan agar mereka bisa sembuh.”

“Namun kenangan itu adalah bagian dari kehidupan. Apakah baik-baik saja bila mereka melupakannya?”

“Sel kanker hilang saat mereka terserang penyakit kanker. Jika kenangan buruk itu bagaikan sel kanker bagi mereka, bukankah itu jalan yang tepat untuk menghilangkannya?”

Profesor Dong-Gun hanya menatap ke arah Woo-Jin tanpa berkata apa-apa lagi.

Saat sedang berjalan di halaman kampus, tanpa sengaja Woo-Jin melihat wanita yang dicurigai sebagai alien oleh Beom-Gyoon sedang melintas tak jauh di depannya. Ia segera berlari untuk menyusulnya, namun kehilangan jejaknya.

Di kelas, dosen memberikan tugas kelompok berpasangan mengenai data mining. Tanpa disangka, wanita alien tersebut, yang ternyata bernama Han Jung-Yeon (Kong Seung-Yeon), masuk sebagai murid baru di kelas tersebut dan langsung dipasangkan oleh dosen dengan Woo-Jin.

“Bagaimana dengan bioinformatika?” tanya Jung-Yeon pada Woo-Jin.

Woo-Jin yang masih tidak percaya dengan kemunculan wanita terduga alien hanya menatap ke arah Jung-Yeon tanpa berkata apa-apa. Jung-Yeon kembali mengungkapkan pendapatnya mengenai judul penelitian yang bisa mereka kerjakan, namun Woo-Jin terus saja berdiam diri tanpa melepaskan pandangannya.

“What’s your name?” tanya Woo-Jin.

“What?” tanya Jung-Yeon bingung.

“Where are you from?” lanjut Woo-Jin. “How old are you?”

Jung-Yeon makin heran dengan pertanyaan-pertanyaan Woo-Jin.

“Ada apa? Kau pikir aku lelucon?” respon Jung-Yeon.

“Siapa kau?” tanya Woo-Jin lagi.

“Lalu, kau? Siapa kau?” balas Jung-Yeon.

“Hei, ada apa? Perhatikan!” teguran dosen membuat Jung-Yeon mengabaikan Woo-Jin dan lanjut fokus pada laptopnya.

Usai kuliah, meski sempat terlihat kesal, Jung-Yeon memberikan nomer ponselnya pada Woo-Jin supaya mereka bisa mengerjakan tugasnya nanti.

“Perpustakaan Nasional pukul 6 sore. Bagaimana?” tanya Jung-Yeon.

“Baiklah,” jawab Woo-Jin dengan kaku.

Woo-Jin sedang bekerja sambilan sebagai guru les privat Lee Dong-Soo kecil. Alih-alih mengawasi pekerjaan Dong-Soo, Woo-Jin sibuk melamun sendiri sembari memainkan rubiknya.

“Ssaem,” panggil Dong-Soo.

Woo-Jin terbangun dari lamunannya dan melirik ke arah Dong-Soo.

“Lihat, kau tidak fokus lagi,” ujar Dong-Soo.

“Apa kau sudah selesai mengerjakannya?” tanya Woo-Jin.

“Siapa Han Jung-Yeon?” tanya Dong-Soo.

“Apa?” tanya Woo-Jin heran.

“Oooh, ssaem sudah punya pacar rupanya! Ada pesan masuk darinya.”

Woo-Jin melihat ponselnya dan membaca pesan dari Jung-Yeon, yang mengabarkan tempat mereka nanti mengerjakan tugas di Perpustakaan Nasional.

“Sepertinya les hari ini akan singkat karena ssaem ada janji,” respon Dong-Soo yang ikut membaca pesan tersebut.

“Cepat dan selesaikan itu,” balas Woo-Jin dingin.

“Ssaem, walaupun aku menyelesaikannya toh hidupku takkan berubah. Aku tidak pintar belajar dan kau tidak pandai masalah percintaan. Jadi bagaimana kalau…”

“Ku beri waktu 10 menit. Cepat dan selesaikan itu,” ancam Woo-Jin sambil menarik alis Dong-Soo.

Dong-Soo kembali berdalih bahwa ia tidak perlu belajar karena suatu saat nanti ia akan sukses dengan kemampuannya di bidang komputer seperti halnya Mark Zuckenberg.

“Tunggu saja, aku akan sukses dengan kemampuan komputerku,” ujar Dong-Soo pede.

Di Perpustakaan Nasional, Woo-Jin kembali tidak bisa fokus mengerjakan tugas kelompok. Ia terus mencuri pandang ke arah Jung-Yeon yang serius mengerjakan bagiannya. Woo-Jin tiba-tiba teringat akan luka di leher bagian kiri yang dulu dialami si wanita alien. Ia pun mulai berusaha mengintip leher Jung-Yeon setiap kali ada kesempatan, namun selalu saja gagal.

Beberapa saat kemudian Jung-Yeon dihubungi oleh seseorang dan diminta untuk datang ke suatu tempat.

“Kau mau kemana?” tanya Woo-Jin.

“Apa kau perlu tahu?” tanya Jung-Yeon balik.

“Um, maksudku kita harus mengerjakan tugasnya, kan?” dalih Woo-Jin.

“Kirimkan hasil penelitianmu padaku lewat email, aku akan mengirimkan hasil penelitianku kepadamu,” balas Jung-Yeon seraya menuliskan alamat emailnya di secarik kertas dan memberikannya pada Woo-Jin.

Rasa penasaran membuat Woo-Jin diam-diam membuntuti Jung-Yeon. Tujuan Jung-Yeon adalah sebuah bar dimana sudah ada beberapa orang temannya menunggu untuk minum-minum bersama. Sebelum mulai ikut minum, Jung-Yeon mengikat rambutnya agar rapi. Woo-Jin yang duduk tidak jauh dari mereka segera memasang mata untuk memperhatikan leher Jung-Yeon. Dan ternyata sama sekali tidak ada bekas luka di sana.

Mengetahui tebakannya salah, ditambah Jung-Yeon yang terlihat ceria bersama teman-temannya seperti manusia biasa membuat Woo-Jin sedikit lega.

“Alien, alien apanya,” ucapnya dalam hati sambil beranjak dari kursinya.

Di kantor polisi, detektif Hong Jin-Hong (Seo Hyun-Chul) membuat sketsa wajah dari orang yang terakhir terlihat bersama Ji Hyuk sambil membawa taser sebelum ia bunuh diri. Rekannya kemudian memberikan setumpuk dokumen yang berisi nama-nama orang yang pernah tertangkap membawa taser. Perhatian Jin-Hong langsung tertuju pada Beom-Gyoon, yang kebetulan memiliki bentuk wajah yang sama dengan sketsa yang ia buat.

Ransel Beom-Gyoon masih tetap berada di lorong. Mau tidak mau, kali ini Woo-Jin membawa ransel tersebut masuk dan melemparkannya begitu saja ke pojok kamarnya. Ia mencoba menghubungi Beom-Gyoon, dan tanpa ia sangka, Beom-Gyoon mengangkat telponnya.

“Ku rasa aku menemukannya,” ujar Beom-Gyoon.

“Apa?” tanya Woo-Jin.

“Persembunyian alien.”

“Hei, Kim Beom-Gyoon,” respon Woo-Jin kesal.

“Pelakunya adalah Bluebird,” lanjut Beom-Gyoon.

“Apa?”

“Bluebird!”

“Jika kau mau mengatakan sesuatu, pulanglah dan bicara padaku.”

“Baiklah, Woo-Jin. Aku akan pulang setelah memastikannya,” janji Beom-Gyoon yang lantas menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari Woo-Jin.

Esok harinya, Woo-Jin terbangun dan masih belum juga mendapat kabar dari kakaknya. Ia mencoba menghubunginya, namun kali ini nomer Beom-Gyoon tidak bisa dihubungi. Saat menghubungi bakery tempat Beom-Gyoon bekerja, si pemilik juga memberitahunya bahwa Beom-Gyoon hanya bekerja selama satu hari dan tidak pernah kembali lagi ke sana.

Detektif Jin-Hong dan rekannya ternyata juga sedang berada di bakery tersebut untuk mencari keberadaan Beom-Gyoon.

“Sepertinya dia membuat masalah dan lari. Seseorang juga mencarinya,” ucap pemilik bakery pada Jin-Hong. “Inilah mengapa kita tidak boleh sembarang memperkerjakan orang.”

Jin-Hong jadi makin yakin bahwa Beom-Gyoon adalah orang yang ia cari.

Woo-Jin mendatangi kamar motel Beom-Gyoon dan mendapati catatan mengenai tempat-tempat yang dicurigai sebagai markas alien di tembok. Dengan berbekal catatan tersebut, Woo-Jin mendatangi satu persatu tempat yang tercantum di sana. Salah satunya adalah Perpustakaan Nasional. Dan tanpa diduga, di sana Woo-Jin menemukan Jung-Yeon sedang belajar seorang diri.

“Ya?” tanya Jung-Yeon heran melihat Woo-Jin tiba-tiba menghampirinya.

“Apa kau…”

“Apa?”

“Bukan apa-apa,” lanjut Woo-Jin, lantas pergi meninggalkan Jung-Yeon.

Tiba di kamar motel Beom-Gyoon dengan hasil nihil, Woo-Jin baru menyadari bahwa Beom-Gyoon telah menyimpan kameranya kembali di balik selimut dalam keadaan menyala. Woo-Jin segera mengambilnya dan melihat rekaman video yang ada. Sempat terlihat saat Beom-Gyoon datang kembali ke sana dan menyembunyikan kamera tersebut di atas lemari. Namun yang kemudian membuat Woo-Jin kaget, setelah itu ada orang lain yang juga datang ke kamar Beom-Gyoon. Dan orang itu adalah Jung-Yeon.

Tanpa pikir panjang, Woo-Jin kembali ke Perpustakaan Nasional dan mencegat Jung-Yeon yang sedang dalam perjalanan pulang.

“Apa ini? Mengapa kita selalu bertemu?” tanya Jung-Yeon.

“Apa kau benar-benar Han Jung-Yeon?” tanya Woo-Jin.

“Apa?”

Woo-Jin lalu mencengkeram kerah baju Jung-Yeon.

“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?” tanya Jung-Yeon kesal.

“Siapa kau? Siapa kau?” bentak Woo-Jin.


Sinopsis Episode 2 Part 2

Judul: Brave New World

Tahun 2037. Di ruang kontrol Human B, Smart Earth, kepala bagian Lee Hyun-Seok (Min Sung-Wook) mempertanyakan tentang insiden pembunuhan yang terjadi kepada anak buahnya. Setelah anak buahnya melaporkan bahwa tidak ada masalah dengan sistem Stable Care dan chip yang ditanamkan pada warga Smart Earth, Hyun-Seok meminta mereka untuk mencari tahu penyebab terjadinya insiden tersebut dan merahasiakannya dari publik.

Sekretaris Shin (Yoo Young) kemudian memberitahu Hyun-Seok bahwa walikota Yoon Hak-Joo (Nam Myung-Ryul) mencarinya. Tanpa berkata apa-apa, Hyun-Seok melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kontrol.

Lee Ho-Soo (Lee Gi-Kwang) menunjukkan rekaman video pembunuhan Gong Min-Woo yang dilakukan oleh Kim Min-Ji pada walikota Yoon serta hubungan di antara keduanya di masa lalu yang kemungkinan menjadi alasan Min-Ji melakukan hal tersebut. Ho-Soo juga menambahkan bahwa divisi Human B belum bisa melacak keberadaan Min-Ji hingga saat ini.

“Baik,” respon walikota Yoon, “Laporkan padaku hasil investigasi kalian dan awasi polisi itu.”

Ho-Soo mengiyakan.

Tak lama giliran Hyun-Seok yang datang menemui walikota Yoon.

“Bagaimana bisa seseorang di bawah kontrol pengawasan membunuh seorang pria? Apa ada masalah dengan sistem Human B?” tanya walikota Yoon.

“Kami masih mencari tahu,” jawab Hyun-Seok sambil tersenyum.

“Kapan kau akan mengetahuinya? Seorang pembunuh masih di Smart Earth,” cecar pak walikota.

“Dan apa itu alasan Anda mengizinkan seorang polisi di sini tanpa mengenakan chip?” balas Hyun-Seok. “Anda menaruh bom di Smart Earth.”

“Bomnya sudah lepas,” jawab walikota Yoon. “Dalam situasi ini, bukankah seharusnya dia harus mengambil alih?”

“Ketua…”

“Dia… tidak ada yang pernah melihatnya sebelumnya,” potong walikota Yoon. “Apa ketua benar-benar ada?”

“Ketua melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan kasus ini. Namun, dia rasa tidak perlu membiarkan polisi itu mengambil alih,” jelas Hyun-Seok.

“Beritahu padanya jangan khawatir. Polisi itu akan menyelesaikannya,” balas walikota Yoon.

Hyun-Seok menanyakan pada sekretaris Shin hasil penyelidikannya terhadap detektif Joon-Hyuk.

“Dia sangat aneh,” jawab sekretaris Shin, “Dia menjadi polisi 10 tahun lalu. Tidak ada data lain sebelum waktu itu.”

“Apa maksudnya?” tanya Hyun-Seok.

“Tidak ada yang pernah melihat atau mengenalnya sebelum dia menjadi polisi dan tidak ada pula catatan medis.”

“Apa itu alasan dia tidak menggunakan chipnya? Karena dia punya rahasia?”

“Atau apa dia punya maksud lain di sini?” tambah sekretaris Shin.

Hyun-Seok jadi makin curiga terhadap Joon-Hyuk.

Joon-Hyuk berkomunikasi dengan Jin-Hong menggunakan kacamata VR. Joon-Hyuk mengungkapkan kecurigaannya terhadap chip yang dikenakan warga Smart Earth. Ia yakin chip tersebut memiliki fungsi lain yang tidak diketahui kebanyakan orang.

“Jika benar,” respon Jin-Hong sembari mengeluarkan poster pengumuman hilangnya si kembar, “maka Human B bertanggung jawab atas kasus hilangnya saudara kembar itu.”

“Mungkin saja,” ujar Joon-Hyuk, “Jika bukan karena anak kembar itu, chip itu pasti tidak ada.”

“Omong-omong, jangan sampai ketahuan. Jika mereka tahu siapa dirimu, semuanya akan berantakan. Kau mengerti, kan?” pesan Jin-Hong.

Joon-Hyuk mengiyakan. Tak lama setelah komunikasi mereka berakhir, Ho-Soo masuk ke dalam kamar Joon-Hyuk. Melihat kondisi ruangan yang berantakan oleh baju kotor Joon-Hyuk, sambil menyindir bahwa tempatnya sudah menjadi Normal Earth, Ho-Soo membereskan baju-baju tersebut. Alih-alih membantu, Joon-Hyuk justru melemparkan kaus kakinya kepada Ho-Soo agar sekalian dicuci.

Ho-Soo kemudian mengajak Joon-Hyuk untuk ikut dengannya ke suatu tempat. Yang dimaksud ternyata adalah kantor investigasi kepolisian Smart Earth, yang sepi karena memang tidak ada polisi di sana. Sambil lalu, Joon-Hyuk mencoba mengorek informasi dari Ho-Soo perihal chip Stable Care yang ia kenakan.

“Bagaimana sistem Stable Care bekerja?” tanya Joon-Hyuk.

“Saat kita sangat gembira, kaget, atau sangat marah,” jawab Ho-Soo.

“Benarkah?” respon Joon-Hyuk.

Tanpa disangka, Joon-Hyuk tiba-tiba mengunci leher Ho-Soo dari belakang.

“Apa yang Anda lakukan?” tanya Ho-Soo panik.

“Tenang, tenang,” jawab Joon-Hyuk sambil memperhatikan leher Ho-Soo.

Tidak terjadi perubahan warna pada chip yang dikenakan Ho-Soo, sehingga Joon-Hyuk lantas melepaskan kunciannya.

“Apa ini? Lampunya tidak berkedip,” tanya Joon-Hyuk.

“Tolong jangan lakukan itu lagi,” pinta Ho-Soo sembari merapikan bajunya.

“Baik, maaf,” balas Joon-Hyuk.

Mereka lalu menuju kamar mayat untuk melihat jenazah Gong Min-Woo. Ho-Soo sempat mual karena itu pertama kalinya ia melihat jenazah. Joon-Hyuk sendiri kaget karena mendapati tulisan “No. 1” di kening Min-Woo. Lebih kaget lagi, chip milik Min-Woo ternyata sudah hilang.

Joon-Hyuk dan Ho-Soo mendatangi dokter yang bertugas memeriksa jasad Min-Woo. Saat dikonfrontasi mengenai chip, ia tidak mengelak telah mengambilnya, walau berdalih bahwa itu adalah bagian dari prosedur.

“Kalau begitu, ikuti prosedurnya dan berikan chip Gong Min-Woo,” ujar Joon-Hyuk.

Dengan sedikit enggan, dokter tersebut memberikan chip yang diminta. Chip dokter itu sendiri sempat terlihat memerah, sebelum kembali stabil dan berganti warna menjadi hijau. Setelah mendapatkan chip Min-Woo, tanpa berkata apa-apa lagi Joon-Hyuk dan Ho-Soo pergi meninggalkannya.

Di tempat parkir, Joon-Hyuk terdiam mematung. Ia tidak menghiraukan Ho-Soo yang memanggilnya. Sesaat kemudian ponsel Ho-Soo berbunyi. Ia pun keluar dari mobil untuk menerima panggilan masuk dari walikota Yoon tersebut.

Di saat hampir bersamaan, dokter yang sebelumnya mengambil chip Min-Woo turun ke parkiran dan pergi meninggalkan gedung dengan mobilnya. Tanpa menghiraukan Ho-Soo yang masih berada di luar, Joon-Hyuk menjalankan mobilnya untuk mengikuti mobil si dokter. Ho-Soo pun hanya bisa terbengong-bengong melihat kejadian tersebut.

Di suatu tempat, si dokter ternyata menemui sekretaris Shin.

“Seorang polisi datang dan aku memberikannya chip yang berbeda,” lapor si dokter.

“Dia tidak bisa apa-apa tanpa Human B,” respon sekretaris Shin.

“Ini chip Gong Min-Woo,” ujar si dokter seraya memberikan chip Min-Woo yang ia ambil dari dalam tasnya.

Saat chip berpindah tangan, seseorang tiba-tiba memegang tangan sekretaris Shin. Ia adalah Joon-Hyuk.

“Ini bukti dari kasus tersebut,” ucap Joon-Hyuk, “Aku tidak mengerti. Siapa yang menyuruhmu?”

Joon-Hyuk mendatangi sebuah tempat (gedung divisi Human B?) dengan sekretaris Shin di belakangnya. Beberapa orang petugas keamanan segera menghadangnya agar tidak bisa lewat. Dari belakang, datang Hyun-Seok yang lantas berdiri tepat di hadapan Joon-Hyuk. Ia sempat menoleh ke arah sekretaris Shin dengan tatapan kesal.

“Aku Kepala Bagian Industri Masa Depan Human B, Lee Hyun-Seok,” ujar Hyun-Seok memperkenalkan diri.

“Kau menyuruhnya, kan?” respon Joon-Hyuk sembari menunjukkan chip Min-Woo yang ada di tangannya.

“Aku tidak mengerti maksud Anda. Ku rasa ada kesalahan,” dalih Hyun-Seok.

“Aku mengerti. Kalau begitu, Ketua yang menyuruhnya. Dimana ruangannya?”

“Ketua tidak berbicara dengan orang luar.”

“Ku rasa kau belum mengerti situasinya. Menurut UU KUHP Pasal 150 Ayat 1, menghancurkan bukti sebuah kasus dapat dipenjara 5 tahun dengan denda 20 juta won. Wah, aku ke sini bukan untuk ngobrol. Aku ke sini untuk melakukan penangkapan. Apa yang mau kau lakukan?”

“Kesalahpahaman murni kesalahan kami,” balas Hyun-Seok. “Dan kami tidak berniat menyembunyikan apapun. Kami akan bekerjasama dengan Anda, detektif Kim.”

Hyun-Seok mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Joon-Hyuk hanya tersenyum sinis melihatnya, lantas pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa.

Joon-Hyuk menghubungi Jin-Hong dan memberitahunya soal chip Min-Woo. Ia meminta Jin-Hong untuk menangkap Lee Dong-Soo (Oh Eui-Sik) karena hanya dialah yang bisa membantu mereka dengan chip tersebut. Tidak butuh waktu lama bagi Jin-Hong yang dibantu oleh detektif Oh (Kwon Hyuk-Soo) untuk melakukan hal tersebut.

Di gerbang Smart Earth, Joon-Hyuk meminta Dong-Soo untuk menganalisa chip Min-Woo secara menyeluruh. Dong-Soo mengaku tidak bisa melakukannya karena masalah hardware bukanlah bagiannya. Joon-Hyuk kemudian teringat dengan rumor Bluebird yang dibicarakan Dong-Soo sebelumnya dan meminta Dong-Soo untuk kembali mencarinya dalam waktu 5 hari, untuk memintanya menganalisa chip tersebut. Dengan enggan Dong-Soo mengiyakan perintah Joon-Hyuk.

Malam harinya, tanpa disangka, Blue Bird menghubungi Dong-Soo melalui komputernya.

Ho-Soo menghampiri Joon-Hyuk yang sedang berjalan.

“Apa yang Anda lakukan? Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi,” ujar Ho-Soo.

“Kau tahu?” tanya Joon-Hyuk.

“Ku dengar ada masalah dengan Human B.”

“Itu bukan masalah, tapi upaya untuk menutup-nutupi. Aku tidak bisa mempercayai siapapun.”

“Aku juga demikian. Detektif Kim, mengapa Anda ke Smart Earth?” tanya Ho-Soo.

“Kau tidak tahu? Aku ke sini menangkap pembunuh,” jawab Joon-Hyuk.

“Alasan sebenarnya. Apa Anda benar ke sini untuk menangkap Kim Min-Ji?” tanya Ho-Soo lagi.

“Itu yang sedang aku investigasi. APa kau tidak lihat?” balas Joon-Hyuk.

“Bagiku Anda punya maksud lain. Bukankah seharusnya Anda mencari Kim Min Ji terlebih dahulu? Mengapa Anda sangat terpaku dengan chip Gong Min Woo? Ini peringatan. Jika Anda melakukannya lagi, aku akan melaporkan Anda pada walikota Yoon. Dan Anda takkan pernah bisa ke Smart Earth lagi.”

Sesaat kemudian, ponsel mereka tiba-tiba berbunyi. Ternyata itu pemberitahuan atas panel milik Kim Min Ji yang baru saja aktif dan lokasinya sudah terlacak. Bergegas keduanya menuju lokasi yang dimaksud dengan mengendarai mobil.

Setibanya di depan sebuah rumah, panel Kim Min Ji mendadak mati kembali dan keberadaannya tidak terdeteksi. Mendengar hal itu, Joon-Hyuk buru-buru masuk ke dalam rumah. Dan benar, Min Ji sudah tidak ada di sana. Sebagai gantinya, ada seorang pria dalam kondisi sekarat akibat ditikam dengan pisau. Di keningnya terdapat tulisan “No. 2”.

Di rumah sakit, korban penikaman Min Ji telah kembali stabil kondisinya. Namanya adalah Park Jin-Gyu, dan ia adalah wali dari Min Ji. Min Ji sendiri adalah teman baik dari putri Jin-Gyu.

“Apa Anda belum menemukan Min-Ji?” tanya Jin-Gyu. “Dia bertingkah aneh belakangan ini.”

Untuk mengkonfirmasi pernyataan Jin-Gyu, Ho-Soo meminta ijin untuk melihat rekaman ingatan milik Jin-Gyu. Ia memperbolehkannya. Dalam rekaman ingatan tersebut, Min-Ji sempat memberitahu Jin-Gyu bahwa belakangan ini ia mendapatkan ingatan aneh, yaitu ingatan saat diculik oleh ahjussi paruh baya saat ia masih kecil.

“Apa maksudmu diculik?” tanya Jin-Gyu pada saat itu.

“Aku tidak mengingat wajah mereka, namun aku mengingat suara mereka dengan jelas,” ujar Min-Ji. “Aku pernah mendengarkan suara mereka sebelumnya.”

“Min-Ji, kau tidak pernah diculik,” jelas Jin-Gyu.

“Itulah mengapa aku merasa aneh. Aku tidak pernah diculik,” balas Min-Ji. “Namun ingatan ini sangat jelas.”

Melihat rekaman ingatan Jin-Gyu tersebut, Ho-Soo jadi heran kenapa semua orang mengatakan bahwa Min-Ji tidak pernah diculik.

“Itu ingatannya,” respon Joon-Hyuk. “Ingatan Kim Min-Ji yang hilang itu kembali lagi.”

“Ingatan yang hilang?” tanya Ho-Soo bingung.

“Kim Min-Ji telah melupakan ingatan tentang penculikan itu. Namun ingatan itu tiba-tiba muncul,” jawab Joon-Hyuk.

“Apa karena trauma atau stres? Atau trauma psikis?”

“Bukan. Semua itu karena Smart Earth,” ujar Joon-Hyuk yakin.

“Karena Smart Earth?”

“Hei, apa kau masih berpikir kalau Stable Care yang membuat kejahatan tidak pernah terjadi?”

“Detektif Kim, apa yang Anda ketahui tentang Smart Earth?” tanya Ho-Soo heran.

Joon-Hyuk tidak menjawabnya.

Joon-Hyuk merasakan sakit di kepalanya usai mandi. Setelah meminum obat, ia menyentuh bagian belakang telinganya. Ternyata ada luka bekas pengambilan chip dari bagian itu. Potongan-potongan ingatan dari Woo-Jin tiba-tiba terlintas di kepala Joon-Hyuk.

Di sebuah bangunan, Hyun-Seok menggunakan lift hingga tiba ke lantai paling atas, lantai P. Di lantai itulah ternyata Ketua tinggal. Si Ketua saat itu sedang duduk di sebuah sofa menghadap ke layar televisi yang sedang memutar rekaman ingatan Kim Min Ji saat dulu ia diculik.

“Ini ingatan Kim Min Ji yang dihapus, Pak Ketua,” ujar Hyun-Seok saat ia tiba beberapa langkah di belakang Ketua. “Kita harus melenyapkannya sebelum polisi itu mengetahuinya. Namun Pak Ketua, mengapa Anda membiarkan detektif Kim mengambil alih kasus? Tidak ada jejak dari polisi itu. Dia mengganti identitasnya. Dia menyembunyikan sesuatu.”

Beberapa saat kemudian, Hyun-Seok melanjutkan kata-katanya.

“Ya, saya mengerti. Saya akan melenyapkan semua yang ada.”

Saat hendak pergi, Hyun-Seok menghentikan langkahnya.

“Apa Anda sudah tahu siapa dia?” tanyanya pada Ketua. “Anda tahu siapa dia?”

Alih-alih menjawabnya, si Ketua menunjukkan ponselnya. Terdapat foto Woo-Jin dan Beom-Gyoon di layar ponsel tersebut.


Dari kebiasaan-kebiasaan Joon-Hyuk yang mirip dengan Woo-Jin, dan bagaimana ia terobsesi untuk memecahkan kasus hilangnya si kembar, sepertinya Joon-Hyuk — yang terbukti pernah berada di Smart Earth — entah bagaimana caranya mendapatkan ingatan dari Woo-Jin. Sebaliknya, kemungkinan besar si Ketua bisa mendapatkan ingatan dari Beom-Gyoon. Walau begitu masih sulit untuk menebak apa sebenarnya yang terjadi dan bagian mana yang merupakan campur tangan dari alien. Bisa jadi juga si Ketua adalah alien, kan?

Reply