Rekap Sinopsis Circle Episode 1 (22 Mei 2017)

Circle” adalah salah satu drama korea yang saya tunggu-tunggu penayangannya bulan ini, bersama dengan “Suspicious Partner” dan “Lookout“. Dan setelah melihat episode perdananya, rasanya saya tidak salah menentukan pilihan. Lumayan keren ceritanya, nuansa thriller misterinya dapet banget. Seperti apa? Simak deh (rekap) sinopsis episode pertamanya berikut ini.

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 1 Part 1

Judul: Proyek Beta

Kim Woo-Jin dan Kim Beom-Gyoon adalah dua orang saudara kembar. Di tahun 2007, Beom-Gyoon menjemput Woo-Jin yang keluyuran sendiri malam-malam di daerah pegunungan untuk mencari keberadaan alien. Woo-Jin percaya bakal muncul alien di sana karena daerah tersebut berkabut. Ia juga menemukan kerucut pinus yang terbakar, yang ia yakini disebabkan oleh pancaran UFO. Beom-Gyoon yang tidak percaya akan adanya alien membantahnya dengan penjelasan ilmiah.

Tiba-tiba saja dari belakang mereka muncul sebuah benda besar mirip UFO yang memancarkan cahaya terang berwarna putih. Beom-Gyoon segera meminta Woo-Jin untuk naik ke boncengan sementara ia bergegas mengayuh sepedanya dengan kencang. Tanpa disangka, cahaya tersebut terus mengikuti mereka.

Setelah sempat hampir tertabrak mobil, kedua anak tersebut akhirnya bertemu dengan ayahnya yang datang untuk menyusul mereka. Sesaat kemudian, UFO tersebut mendarat di hadapan mereka dan sesosok alien keluar dari balik cahaya. Alien tersebut — yang lantas berubah bentuk menjadi seorang wanita — menghampiri mereka.

“Beom-Gyoon,” ujar Woo-Jin yang terduduk lemas seraya menunjuk ke arah wanita itu, “Ternyata memang ada alien.”

Tanpa diduga, wanita alien tersebut tiba-tiba terjatuh pingsan.

Tahun 2017, di Universitas Sains dan Teknologi Handam. Woo-Jin (Yeo Jin-Goo) telah tumbuh menjadi remaja yang serius dalam hal pendidikan. Di saat seluruh mahasiswa melakukan demo dan memboikot ujian, ia tetap mengikutinya seorang diri. Ia juga bekerja sambilan sebagai hantu di tempat hiburan untuk membiayai hidupnya serta membayar biaya pengobatan neneknya.

Suatu hari ia mendapat kabar bahwa salah seorang temannya di kampus, Ji Hyuk, baru saja meninggal. Penyebabnya adalah bunuh diri. Woo-Jin merespon dengan mendatangi laboratorium dan menanyakan pada profesor Park Dong Gun yang menangani laboratorium tersebut apakah posisi asisten lab yang sebelumnya ditempati Ji Hyuk bisa ia isi. Merasa saat itu bukan saat yang tepat untuk membahasnya, si profesor belum memberikan jawaban.

Di halaman kampus, tak jauh dari tempat Ji Hyuk ditemukan terjatuh dan sudah dalam keadaan tidak bernyawa, dua orang detektif polisi sedang mencari petunjuk mengenai insiden tersebut. Salah satunya, Hong Jin-Hong (Seo Hyun-Chul), mendapat informasi dari salah seorang mahasiswa bahwa ia melihat ada seseorang sedang bersama Ji Hyuk di malam kejadian dan orang tersebut memegang sebuah taser. Woo-Jin yang tidak sengaja mencuri dengar percakapan mereka langsung terhenyak.

Pikirannya melayang ke masa lalu. Sejak kejadian 10 tahun yang lalu, Beom-Gyoon ternyata menjadi paranoid dengan keberadaan alien. Ia meyakini alien akan datang untuk menyerang mereka, sehingga, ia membekali dirinya dan juga Woo-Jin masing-masing dengan sebuah taser, untuk berjaga-jaga.

Karena tidak tenang, Woo-Jin kemudian mendatangi atap gedung kampus untuk melihat tempat dimana Ji Hyuk diperkirakan melompat. Pikirannya kembali teringat masa lalu, kali ini dimana Beom-Gyoon mencurigai seorang wanita adalah alien hingga wanita itu tersudut di sebuah atap bangunan dan akhirnya terjatuh. Akibatnya, Beom-Gyoon sempat dirawat di sebuah rumah sakit jiwa sebelum akhirnya menjalani hukumannya di penjara.

Saat melihat ke bawah, tiba-tiba Woo-Jin melihat sosok yang perawakannya mirip dengan saudaranya itu. Ia mengenakan jaket dan topi berwarna hitam. Dari posisi Woo-Jin, sebagian wajah orang tersebut tertutupi oleh topi yang ia kenakan, sehingga tidak terlihat jelas. Pun begitu, dengan segera Woo-Jin turun ke halaman kampus untuk mencarinya. Dan tentu saja, orang tersebut sudah tidak ada di sana.

Woo-Jin pulang ke apartemennya dalam kondisi gundah gulana. Meski kepikiran, ia mencoba percaya bahwa pelakunya tidak mungkin adalah Beom-Gyoon, mengingat saat ini ia masih berada dalam penjara. Namun betapa kagetnya Woo-Jin saat mendapati Beom-Gyoon (An Woo-Yeon) ternyata sudah berada di kamar apartemennya, menunggu kedatangan Woo-Jin.

“Kau.. baru saja dibebaskan hari ini?” tanya Woo-Jin tidak percaya.

Beom-Gyoon mengiyakan.

“Apa kau datang ke kampusku?” tanya Woo-Jin lagi.

“Untuk apa juga aku ke sana? Aku langsung pulang ke rumah!” jawab Beom-Gyoon sembari tertawa. “Kenapa? Kau tidak senang melihatku?”

Woo-Jin terdiam, masih kepikiran dengan hubungan Beom-Gyoon dengan kejadian di kampusnya.

“Mestinya kau menelponku, aku akan segera menjemputmu,” ucapnya kemudian.

“Oh, aku yakin kau sibuk kuliah,” balas Beom-Gyoon. “Aku tidak ingin mengganggumu… ahh, kau berharap aku berkata begitu, kan?”

Beom-Gyoon lantas bergulat dengan Woo-Jin untuk mengekspresikan rasa kangennya.

Malam harinya, saat Beom-Gyoon terlelap, Woo-Jin diam-diam menggeledah tas Beom-Gyoon. Tiba-tiba saja Beom-Gyoon terbangun. Ia ternyata sudah merasakan bahwa Woo-Jin belum percaya bahwa ia sudah berubah, tidak seperti yang dulu lagi.

“Aku sungguh tidak akan melakukan apapun yang membuatmu khawatir lagi,” ucap Beom-Gyoon. “Aku juga harus memperhatikan nenek. Aku tidak akan pernah kembali ke penjara lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi.”

Beom-Gyoon kemudian menambahkan bahwa ia sekarang bekerja sebagai pembuat roti di Handeukki Bakery yang berada di depan kampus Woo-Jin.

Esok harinya, dalam perjalanan ke kampus, Woo-Jin mampir ke Handeukki Bakery untuk melihat kakaknya. Dan ternyata benar bahwa ia bekerja di sana. Sesaat kemudian profesor Dong-Gun menghubunginya dan memintanya untuk menemuinya di laboratorium. Setibanya di lab, profesor masih belum sampai, sehingga Woo-Jin menunggu sendirian di sana.

Saat sedang melihat-lihat meja kerja Ji Hyuk, Woo-Jin kaget mendapati nomer telpon Beom-Gyoon tercantum di salah satu kertas yang tertempel di papan catatan Ji Hyuk. Menjadi kembali tidak yakin dengan kakaknya, Woo-Jin menelponnya dan menanyakan jam berapa ia pulang. Beom-Gyoon menjawab bahwa ia baru akan pulang jam 8 malam usai membereskan toko.

Pada pukul 5 sore, Beom-Gyoon ternyata sudah keluar dari bakery. Woo-Jin yang diam-diam membuntutinya jadi makin gelisah. Dengan santai Beom-Gyoon melangkahkan kakinya ke sebuah motel yang terletak di dalam gang. Woo-Jin terus mengikutinya hingga mendapati kamar yang ditempati oleh kakaknya. Setelah Beom-Gyoon meninggalkan kamar dan menggemboknya, Woo-Jin menggunakan pemadam api untuk menjebol gembok tersebut dan masuk ke dalam kamar.

Kecurigaannya ternyata terbukti. Di dalam kamar, terdapat berbagai catatan yang dibuat oleh Beom-Gyoon yang terkait dengan keberadaan alien. Semenjak keluar dari penjara bulan lalu (bukan kemarin seperti pengakuannya sebelumnya), ia menginap di motel tersebut untuk meneliti dan melanjutkan kembali misinya. Woo-Jin menemukan pula jaket dan topi hitam yang ia lihat kemarin di halaman kampusnya. Tidak itu saja, taser yang diduga sebagai senjata untuk menjatuhkan Ji Hyuk juga ada di sana.

Pun begitu, dari catatan Beom-Gyoon yang ada di tembok, ia bukanlah pembunuh Ji Hyuk. Yang ia curigai sebagai pelakunya adalah alien yang ‘menyamar’ sebagai Han Jung-Yeon (Kong Seung-Yeon). Woo-Jin tidak bisa berkata apa-apa melihat semua itu.

Dan tiba-tiba Beom-Gyoon datang.

“Apa kau membunuh mereka? Apa kau membunuh Ji Hyuk sunbae?” tanya Woo-Jin tanpa basa-basi.

“Tidak, aku berusaha membantunya. Alien yang melakukannya,” jawab Beom-Gyoon. “Aku tidak ngawur. Ini dimulai dari keraguan yang masuk akal dan aku telah mengkonfirmasi semuanya. Maaf aku berbohong, tapi kau memang tidak akan mempercayaiku. Aku berencana untuk bilang kepadamu kalau semuanya sudah jelas.”

“Jadi, kau menyembunyikan diri selama sebulan dan melakukan hal-hal seperti ini?” balas Woo-Jin.

“Woo-Jin, kali ini aku yakin,” jawab Beom-Gyoon sembari memegang kedua tangan Woo-Jin.

“Apa ada sesuatu yang kau yakini pernah benar?” respon Woo-Jin sambil menepis tangan Beom-Gyoon. “Kenapa kau terus tinggal di dunia yang berbeda sendirian? Kenapa?”

Woo-Jin kemudian hendak membawa Beom-Gyoon kembali ke rumah sakit karena menganggapnya ia masih gila.

“Aku tidak gila,” bentak Beom-Gyoon. “Aku melihat, dan kau juga melihatnya. Kita berdua melihat saat alien itu membawa ayah pergi. Jangan menyangkal kenyataan yang ada. Alien itu nyata.”

“Yang menyangkal kenyataan yang ada itu kau,” balas Woo-Jin. “Ayah hanya membuang kita. Dia menyingkirkan kita. Itu kenyataan yang ada.”

Beom-Gyoon tetap tidak bergeming dengan pendiriannya. Ia tetap yakin bahwa Jung-Yeon yang ada di kampus Woo-Jin adalah seorang alien. Ia juga mengaku punya bukti, meyakini bahwa ruangan di lantai 2 tempatnya bekerja saat ini adalah markas para alien.

Setibanya di sana, ruangan yang dimaksud oleh Beom-Gyoon ternyata hanya ruangan kosong yang terlihat sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Beom-Gyoon terhenyak melihatnya, sementara Woo-Jin sudah yakin bakal seperti itu karena sedari awal ia tidak mempercayai Beom-Gyoon. Woo-Jin lantas memeluk Beom-Gyoon dan meminta agar Beom-Gyoon mau melupakan semua itu karena saat ini ia sangat membutuhkannya. Beom-Gyoon yang masih syok dengan perkiraannya yang salah, mulai ikut bimbang dengan keyakinannya dan ragu jangan-jangan ia memang benar sudah gila.

“Belum terlambat, dia masih belum jauh,” ujar Beom-Gyoon tiba-tiba. “Kita harus menangkapnya.”

Woo-Jin berusaha mencegahnya, namun Beom-Gyoon sudah berlari keluar terlebih dahulu. Namun saat berada di luar, di tengah derasnya hujan yang mulai turun, langkah Beom-Gyoon mendadak terhenti.

“Hyung, hentikan ini,” pinta Woo-Jin.

Alih-alih menuruti permintaan adiknya, Beom-Gyoon perlahan melanjutkan langkahnya. Pandangannya terlihat tertuju ke satu arah. Ia akhirnya berhenti di pinggir jalan, dengan pandangan yang sama sekali tidak berubah, ke seberang jalan. Saat Woo-Jin melihat ke arah tersebut, ia pun kaget begitu melihat sosok wanita alien yang sama persis dengan yang mereka lihat 10 tahun lalu, sedang menyeberang jalan ke arah mereka.

Perlahan Beom-Gyoon menudingkan tangannya ke arah wanita tersebut.

“Bukti nomer tiga,” ujarnya, “alien.”


Sinopsis Episode 1 Part 2

Judul: Dunia Baru Yang Berani

Tahun 2037. Kota Seoul terbagi menjadi dua bagian, Normal Earth dan Smart Earth. Tingkat polusi yang tinggi mengakibatkan banyak orang berpindah ke Smart Earth. Sebaliknya, Normal Earth menjadi wilayah kumuh yang rawan penyakit dan juga tindak kejahatan.

Di suatu tempat, pihak kepolisian sedang berusaha untuk menangkap Lee Dong-Soo (Oh Eui-Sik), seorang hacker ulung. Tujuan mereka sebenarnya hanyalah agar Dong-Soo mau membantu Kim Joon-Hyuk (Kim Kang-Woo) untuk meretas sistem Smart Earth. Dong-Soo mengaku bahwa ia tidak bisa melakukannya. Kalau pun ada yang bisa, orang tersebut adalah Bluebird, seorang hacker legendaris. Joon-Hyuk lantas meminta Dong-Soo untuk mencari keberadaan Bluebird dalam waktu 1 minggu.

Tiba kembali di kantor polisi Gangnam yang ada di Normal Earth, Jin-Hong (yang dulu menangani kasus Ji Hyuk) menanyakan apakah Joon-Hyuk sudah berhasil merekrut Dong-Soo. Joon-Hyuk mengiyakan.

“Ingat ini,” ujar Jin-Hong, “Jika kita ketahuan, aku keluar dari ini.”

“Kepala Hong!” respon Joon-Hyuk.

“Apa? Kau adalah supervisornya. Aku akan segera pensiun. Jika aku dipecat, aku tidak akan mendapatkan uang pensiunku.”

“Makanya kau harus memipin. Banyak hari-hari yang harus ku jalani.”

“Tapi jika kau dipecat kau bisa melakukan pekerjaan otot. Aku sangat tua, aku bahkan tidak bisa bernafas dengan benar.”

Joon-Hyuk tidak mempercayainya dan mengancam akan membeberkan pekerjaan sampingan yang sekarang sedang dijalankan Jin-Hong. Jin-Hong langsung luluh mendengar ancaman tersebut dan berjanji bakal menurut pada Joon-Hyuk.

Detektif Oh (Kwon Hyuk-Soo) yang duduk tidak jauh dari mereka tiba-tiba memberitahu tentang adanya sebuah webtoon menarik berjudul “Sherlock Holmes: Cold Case Files”. Ia sangat menyukainya karena ceritanya diduga dibuat berdasarkan kisah nyata. Jin-Hong langsung senyum-senyum mendengarnya. Namun begitu detektif Oh mengatakan bahwa komik tersebut tidak begitu populer dan rasanya bakal segera dibungkus, Jin-Hong spontan jadi emosi terhadapnya.

“Kenapa anda jadi marah?” tanya detektif Oh bingung.

“Karena aku Sherlock Hol…,” tanpa sadar Jin-Hong keceplosan.

Ternyata pekerjaan sampingan yang dimaksud adalah membuat webtoon tersebut. Detektif Oh sempat tidak percaya karena penampilan karakter Sherlock Holmes dalam webtoon tersebut jauh berbeda dengan penampilan asli Jin-Hong.

Di sebuah cafe, detektif Oh duduk bersama Jin-Hong dan Joon-Hyuk. Karena penasaran, ia minta agar Jin-Hong mau bercerita tentang kasus dingin (cold case, kasus yang belum terpecahkan) yang ia tuangkan dalam webtoon. Jin-Hong lantas menceritakan tentang kasus pembunuhan di Universitas Handam yang menjadi tema Season 1 dari webtoon “Sherlock Holmes”. Untuk Season 2, temanya adalah mengenai penculikan yang dilakukan oleh Gong Min Woo terhadap seorang anak perempuan bernama Kim Min Ji. Meski berhasil menyelamatkan Min Ji, Jin-Hong tidak berhasil menahan Min Woo karena kekurangan bukti.

“Apa kasus dingin yang ketiga?” tanya detektif Oh.

“Yang ketiga… kasus menghilangnya anak kembar,” jawab Jin-Hong sembari mengeluarkan selebaran pengumuman orang hilang berisi foto dan identitas Woo-Jin dan Beom-Gyoon.

“Kasus si kembar yang hilang?” tanya detektif Oh lagi.

“Pada tahun 2017, saudara kembar hilang di Universitas Handam. Mereka tidak meninggalkan jejak transaksi kartu kredit atau panggilan telepon. Hingga saat ini, pada tahun 2037, mereka masih menghilang,” beber Joon-Hyuk.

“Sunabaenim, bagaimana bisa tahu betul tentang kasusnya Kepala Hong?” tanya detektif Oh heran.

“Hei, saat dia minum, dia membeberkan semuanya. Aku sudah mendengarnya ribuan kali,” jawab Joon-Hyuk.

Jin-Hong tidak berkata apa-apa, namun raut wajahnya Hong terlihat berubah menjadi serius. Pun begitu dengan Joon-Hyuk, yang menatap selebaran pengumuman tadi dengan tatapan nanar.

Di kantor polisi, detektif Oh menerima sebuah telepon darurat. Seorang anak perempuan mengaku diculik. Namun begitu tahu si penelpon berada di Smart Earth, detektif Oh hanya menganggapnya telpon iseng. Berbeda dengan Jin-Hong dan Joon-Hyuk, yang justru langsung penasaran begitu tahu hal itu. Apalagi setelah rekaman telpon tersebut diputar kembali. Si penelpon ternyata bernama Kim Min Ji. Meski sudah dewasa, Jin-Hong yakin bahwa ia adalah anak perempuan yang dulu pernah diculik dan diselamatkan olehnya. Lebih mengejutkan lagi, saat dilacak sumbernya, Min Ji ternyata menelpon dari rumah Gong Min Woo, orang yang dulu menculiknya. Tanpa buang waktu Jin-Hong bergegas menuju Smart Earth, dengan ditemani oleh Joon-Hyuk.

“Kepala Hong, aku minta maaf… tapi inilah kesempatan kita. Inilah kesempatanmu untuk menangkap Gong Min Woo, dan inilah kesempatank masuk ke dalam Smart Earth. Kita harus memasuki Smart Earth kali ini,” ujar Joon-Hyuk pada Jin-Hong dalam perjalanan mereka menuju ke sana.

Joon-Hyuk dan Jin-Hong tiba di pintu masuk Smart Earth. Meski mengaku sebagai polisi dan sudah memberitahu adanya telpon darurat mengenai penculikan, penjaga di sana tidak memperbolehkan mereka masuk tanpa adanya surat perintah.

“Apa yang terjadi?” tanya seorang pria berpakaian serba putih yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.

Pria tersebut ternyata adalah Lee Ho-Soo (Lee Gi-Kwang), petugas penjaga kedamaian di Smart Earth. Tidak mau menimbulkan kepanikan warga Smart Earth yang berada di sekitar, Ho-Soo mengajak Joon-Hyuk dan Jin-Hong mengikutinya ke sebuah ruangan.

“Anda mengatakan bahwa Anda menerima laporan dari Smart Earth?” tanya Ho-Soo.

“Ini adalah kasus penculikan. Kita tidak punya waktu!” potong Jin-Hong kesal.

“Kejadian mendesak terjadi di sana,” tambah Joon-Hyuk.

“Itu tidak mungkin,” respon Ho-Soo sembari tersenyum lebar. “Tidak ada kejahatan di Smart Earth. Itu semua berkat Stable Care System.”

Dengan kesal Joon-Hyuk mengeluarkan ponselnya dan memutar kembali rekaman percakapan Min Ji saat menghubungi nomer darurat. Tapi tetap saja, Ho-Soo justru mengusir mereka keluar dari gerbang Smart Earth dengan alasan rekaman tersebut adalah palsu. Tidak lagi bisa menahan emosinya, Joon-Hyuk mencengkeram kerah baju Ho-Soo.

“Hei, kau bisa senyum sekarang? Bagaimana jika dia meninggal? Kim Min Ji dalam bahaya!” bentak Joon-Hyuk.

Ho-Soo memberi tanda pada petugas keamanan di belakangnya untuk tidak bertindak. Namun anehnya, chip penduduk Smart Earth yang tertanam di bawah telinga Ho-Soo tiba-tiba berubah warna menjadi merah. Ia juga terlihat agak panik. Mengetahui hal tersebut, Jin-Hong segera melerai mereka dan menarik Joon-Hyuk mundur. Sesaat kemudian chip Ho-Soo kembali berwarna hijau.

“Detektif Kim, kalian tidak memiliki penjaga. Ku rasa, kalian orang yang paling berbahaya di sini sekarang. Silahkan kembali. Jika Anda melihatnya dengan akal sehat, tidak mungkin ada orang yang mati di Smart Earth,” ucap Ho-Soo.

Ponsel Ho-Soo mendadak berbunyi. Terlihat ada notifikasi “Code 0” di layar. Dengan tetap memasang muka tenang, ia berpamitan dan pergi meninggalkan mereka. Di saat hampir bersamaan, Joon-Hyuk menerima kiriman video dari detektif Oh.

“Kita harus cepat masuk ke sana,” ujar Joon-Hyuk kepada Jin-Hong begitu mereka melihat video tersebut.

“Bagaimana kita akan melakukannya tanpa surat perintah?” tanya Jin-Hong.

“Kita harus masuk ke sana tidak peduli apapun,” balas Joon-Hyuk.

Sementara itu, Ho-Soo mendapat telpon dari seseorang yang sepertinya adalah atasannya terkait Code 0. Ternyata baru saja terjadi pembunuhan di Smart Earth. Menyadari perkataan Joon-Hyuk benar, Ho-Soo memberitahukan hal tersebut pada orang di ujung telpon.

“Tidak ada yang boleh tahu tentang kejadian ini,” perintah orang tersebut sebelum Ho-Soo menutup telponnya.

Kembali ke Joon-Hyuk dan Jin-Hong. Saat digelandang menuju pintu keluar, Jin-Hong memberi isyarat dengan matanya agar mereka berpencar untuk memecah para petugas yang sedang mengawal mereka. Cara tersebut berhasil. Sementara Jin-Hong berlari ke arah luar, Joon-Hyuk berlari ke dalam dan tanpa sengaja bertemu kembali dengan Ho-Soo. Ia segera menyekap Ho-Soo dalam sebuah ruangan yang ia kunci dari dalam agar tidak bisa dibuka oleh para petugas keamanan yang mengejarnya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Ho-Soo.

“Apa? 5000 hari tanpa kejahatan?” balas Joon-Hyuk. “Apalagi yang kau sembunyikan? Apalagi yang sudah kau sembunyikan dan rekayasa selama ini?”

“Aku tidak menyembunyikan apapun dan aku tidak berbohong tentang apapun.”

“Kau bisa bertanggung jawab?”

“Ya,” jawab Ho-Soo tegas.

“Aku akan bertanya sekali lagi. Kau bisa bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan?”

“Ya, aku bisa.”

“Maka lakukanlah,” ujar Joon-Hyuk sembari menunjukkan video yang tadi baru saja ia terima.

Video tersebut ternyata berisi rekaman pembunuhan yang dilakukan oleh Min Ji terhadap Min Woo. Ho-Soo tertegun melihatnya.

“Kim Min Ji mengirim ini lima menit yang lalu,” jelas Joon-Hyuk. “Kau masih bisa bilang tidak ada kejahatan di sini?”

Dewan pemerintah Smart Earth Yoon Hak-Joo (Nam Myung-Ryul), walikota Smart Earth, untuk memastikan bahwa kedua detektif Normal Earth tidak menyebarkan berita pembunuhan tersebut ke publik. Melalui semacam kacamata VR, Ho-Soo menghubungkan Joon-Hyuk dengan Hak-Joo untuk bernegosiasi. Joon-Hyuk berjanji akan merahasiakannya asalkan ia diperbolehkan untuk masuk ke dalam Smart Earth untuk menyelidiki kasus tersebut tanpa harus mengenakan chip di kepalanya. Hak-Joo sempat tidak memperbolehkannya, namun karena Joon-Hyuk mengancam akan membawa kasus tersebut ke publik ia akhirnya menyetujui syarat dari Joon-Hyuk.

Joon-Hyuk menghampiri Jin-Hong yang menunggunya sembari menonton video pembunuhan yang dilakukan Min Ji.

“Astaga, mengapa kau melihat rekaman mengerikan itu lagi?” tanya Joon-Hyuk.

“Jika aku merasa lega saat tahu kalau Min Ji bukan korbannya, aku seorang sampah, bukan? Jika Kim Min Ji menjadi targetnya lagi, aku tidak akan bisa beristirahat dalam damai, bahkan jika aku meninggal. Jadi aku benar-benar merasa lega saat tahu Gong Min Woo terbunuh. Aku seorang sampah, bukan?” tanya Jin-Hong.

“Ya,” jawab Joon-Hyuk seraya duduk di samping Jin-Hong. “Kau seorang sampah karena berpikir seperti itu dan aku seorang sampah karena menggunakan ini supaya bisa masuk ke Smart Earth.”

“Mohon urus ini untukku.”

“Bagaimana denganmu?”

“Bagaimana bisa aku memborgol Min Ji? Dan selesaikan kasus lainnya juga. Kasus anak kembar yang hilang,” pinta Jin-Hong dengan tegas.

Dengan ditemani oleh Ho-Soo, Joon-Hyuk pergi menuju kota Smart Earth yang berada di sebuah pulau di tengah laut dengan menggunakan pesawat terbang. Kondisinya yang modern dan futuristik jauh berbeda dengan Normal Earth yang kumuh. Joon-Hyuk menatap sekitar sambil menghela nafas. Ia kembali teringat pesan terakhir dari Jin-Hong.

“Temukan saudara kandungmu.”

Joon-Hyuk mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku celananya. Terlihat Woo-Jin dan Beom-Gyoon kecil sedang berpose bersama wanita alien dalam foto tersebut.

“Aku akhirnya ada di sini,” ucap Joon-Hyuk dalam hati. “Tunggu aku. Aku akan menemukanmu, dimanapun kau berada.”


Tema artikel yang berhubungan: , , ,

One Response - Add Comment

Reply