The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Meski terletak di tengah kawasan ramai dan nyaris tidak pernah sepi selama 24 jam non-stop, nyatanya tidak sulit untuk terlelap di malam pertama traveling di Hong Kong. Lokasi apartemen yang berada di lantai 10 lumayan membantu meredam hiruk pikuk jalanan Mong Kok, yang cukup seru juga bila diamati dari balik jendela. Pagi hari pun tiba tanpa terasa. Dan tanpa terasa pula, waktu beranjak mendekati pukul 10 pagi. Waktunya untuk menuntaskan jadwal perdana saya di hari kedua — The Peak.

Menuju The Peak

Dengan ketinggian 552 meter di atas permukaan laut, Victoria Peak merupakan puncak tertinggi di Hong Kong Island. Titik ini terletak di bagian barat Hong Kong Island, di kawasan Mount Austin. Penduduk lokal menyebutnya sebagai The Peak.

Sebagai salah satu landmark populer di Hong Kong, sudah sepatutnya saya masukkan The Peak ke dalam itinerari. Ada banyak alternatif cara untuk menuju ke sana. Bisa dengan menggunakan taksi, bus, maupun trem. Saya pilih yang terakhir, yang lebih memacu adrenalin. Bagaimana tidak, kereta trem — dinamakan Peak Tram — yang biasanya anteng-anteng aja berjalan lurus di sini akan bergerak menaiki bukit dengan sudut kemiringan maksimal 27 derajat. Kereta ini menggunakan sistem listrik dan akan menempuh jarak sejauh kurang lebih 1.4 km dalam durasi 5-7 menit.

Perjalanan menuju The Peak saya mulai dengan menggunakan MTR dari apartemen tempat menginap, MTR Mong Kok, menuju MTR Central. Oh ya, saya sudah terlebih dahulu membeli tiket Peak Tram yang dibundel dengan Sky Terrace di Klook secara online. Harganya 163 ribu lebih sedikit. Bukan hanya pertimbangan harga, melainkan adanya jalur khusus bagi pemegang voucher Klook, yang memungkinkan untuk memangkas waktu antrian yang konon cukup lama.

Titik temu pemegang voucher Klook adalah tepat di pintu keluar K stasiun MTR Central, di kawasan Statue Square. Sebelum keluar saya sempatkan untuk membeli sebotol air mineral untuk bekal serta melakukan top-up kartu Octopus di mesin top-up mandiri yang tersedia. Karena hanya bisa menerima uang kertas pecahan HKD 50 dan HKD 100, saya melakukan top-up senilai HKD 50.

Kawasan Statue Square ini ternyata merupakan salah satu tempat berkumpulnya para TKW Indonesia. Hampir setiap sudut dikuasai oleh emak-emak yang asyik mengobrol dalam bahasa daerah masing-masing sembari menyantap nasi bungkus dan jajanan lainnya. Sebagai pecinta nasbung, agak ngiler juga melihatnya. Sayang tidak berhasil menemukan si penjual.

Statue Square sendiri merupakan alun-alun publik yang sudah berdiri sejak abad 19 silam. Terdapat beberapa kolam dengan air mancur, monumen perang, serta patung bankir Sir Thomas Jackson, sosok yang berjasa dalam dunia perbankan Hong Kong. Di sisi timur berdiri bekas gedung Dewan Legislatif, sedang di sisi selatan, di seberang jalan Des Voeux Road Central ada bangunan bersejarah milik bank HSBC. Selain itu, dari kejauhan di sisi utara, terlihat Hong Kong Observatin Wheel, bianglala setinggi 60 meter yang menawarkan view kota Hong Kong yang dramatis.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Jam 11 tepat, dua orang pemandu mulai menyerukan panggilan untuk berkumpul. Setelah proses registrasi dan pemberian stiker serta kartu tanda masuk, rombongan tur mulai bergerak menuju Garden Road Peak Tram Lower Terminus, stasiun yang menjadi titik keberangkatan The Peak Tram.

Sesuai gosip yang beredar, antrian di sana sungguh panjang, berderet hingga ke luar stasiun. Jalur fast track yang diberikan bagi pembeli tiket via Klook pun tetap harus menunggu selama kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya bisa masuk ke dalam trem yang ternyata hanya terdiri dari 2 gerbong saja. Pantas antriannya mengular.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Gagal kebagian tempat duduk membuat saya harus berdiri di bagian belakang trem. Efeknya lumayan, saat trem melaju di tanjakan, badan terasa tertarik ke belakang. Untung posisi dekat dengan tiang, masih bisa pegangan. Tapi seru sih, pengalaman menarik dan (agak) berkesan… walau ogah juga kalau disuruh mengulangi dengan skenario yang sama.

Dalam perjalanan menuju The Peak, kita disuguhkan preview pemandangan Hong Kong dari ketinggian. Jika ingin lebih puas menikmatinya, pilih posisi duduk di sisi kanan dekat jendela. Sayang sulit untuk bisa foto-foto dalam kondisi penuh perjuangan untuk bisa tetap berdiri tegak.

Di Puncak Tertinggi Hong Kong Island

Upper Terminus, stasiun pemberhentian terakhir Peak Tram berada tepat di dalam mall The Peak Tower. Jujur, salah satu yang bikin saya doyan naik transportasi masal, khususnya MTR / MRT, di luar negeri adalah stasiunnya yang kebanyakan sudah terintegrasi dengan gedung perkantoran atau pusat perbelanjaan. Meski tidak berminat untuk belanja, seru aja gitu keluar kereta tahu-tahu sudah ada di dalam mall, hehehe.

Selain aneka restoran, toko penjual suvenir, dan jeroan khas mall lainnya, di dalam The Peak Tower terdapat museum lilin Madame Tussauds serta Sky Terrace 428. Yang disebut pertama saya lewati, karena toh perginya sendiri, percuma juga masuk ke tempat seperti itu, gak ada yang bisa motoin. Beda dengan Sky Terrace 428, platform pandang yang tepat berada di bagian puncak The Peak Tower.

Lokasinya yang berada di ketinggian 428 meter dari permukaan laut mendasari pemberian nama Sky Terrace 428. Area berbayar ini buka mulai pukul 10 pagi (hari biasa) atau 8 pagi (weekend dan hari libur) hingga pukul 11 malam. Selayaknya platform pandang, kita bisa menyaksikan keindahan alam sekitar (termasuk tentu saja, hutan gedung pencakar langit Hong Kong) dari sudut yang tinggi. Terdapat beberapa teropong (berbayar) di sudut-sudut platform serta jasa fotografer (juga berbayar) bagi yang ingin mendapat foto selfie yang maksimal.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Kondisi cuaca hari itu kebetulan tidak terlalu kondusif. Angin berhembus kencang dan udara terasa dingin sejak pagi. Sempat turun hujan gerimis juga. Ini membuat saya memutuskan untuk tidak mengeksplor area sekitar The Peak Tower, seperti Victoria Peak Garden serta bangunan Dragon Lodge yang kabarnya berhantu, dan memutuskan untuk langsung turun setelah puas menikmati pemandangan.

Tidak ada jalur fast track dalam stasiun Upper Terminus bagi yang hendak menuju Lower Terminus. Untungnya, karena masih siang, antrian tidak terlalu padat. Kali ini juga kebagian tempat duduk, walau salah pilih gerbong dan dapat tempat duduk dengan posisi berlawanan dengan arah trem.

Dalam perjalanan turun ini saya baru tahu bahwa terdapat beberapa ‘halte’ trem di antara Upper Terminus dan Lower Terminus. Ada beberapa penumpang yang turun di sana. Mungkin bisa juga ikut naik, tapi kebetulan saat itu hanya ada yang turun saja. Benar-benar unik, mengingat, sekali lagi, jalur trem yang menanjak.

Jalan Sehat Berujung Egg Tart (dan Masjid)

Tujuan berikutnya adalah mengurus tiket kapal ferry (sudah saya pesan melalui online via Klook) menuju Macau di Shun Tak Center. Ada tiga pilihan: kembali ke stasiun MTR Central dan menggunakan moda transportasi MTR, naik bus dari halte dekat gedung HSBC, atau berjalan kaki sejauh 2 km. Berhubung semua pilihan melibatkan aktivitas jalan kaki, saya sekalian pilih saja moda transportasi ketiga, yaitu sepasang kaki, hehehe.

Dengan mengandalkan rute dari Google Maps, jalan sehat pun dimulai. Di paruh perjalanan, saya melihat adanya gerai Chicken On The Run, tidak jauh dari rute yang saya lewati. Sembari melangkah ke sana, saya gugling informasi mengenai kehalalan restoran tersebut. Tanpa sengaja saya malah menemukan masjid Jamia tidak jauh dari lokasi gerai Chicken On The Run berada. Sekalian deh mampir ke masjid dengan jendela ala Arab yang sudah berdiri sejak tahun 1890 itu.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Usai dari masjid, keinginan untuk mencicip Chicken On The Run mendadak hilang. Saya putuskan untuk lanjut menuju Shun Tak Center. Oh ya, ada sesuatu yang unik plus ikonik loh di area ini. Yaitu adanya Central-Mid-Levels Escalators, atau eskalator 20 tingkat yang bergerak naik 24 jam. Kabarnya ini adalah sistem eskalator terpanjang di dunia. Sayangnya ya itu tadi, hanya bergerak naik saja. Kalau mau turun tetap harus jalan kaki. Tidak disarankan buat yang jarang olahraga, hehehe.

Di jalan Lyndhurst Terrace, saya menemukan gerai Tai Cheong Bakery, gerai egg tart yang ditasbihkan oleh banyak orang sebagai yang terenak seantero Hong Kong. Dari awal saya memang sudah berniat untuk mencicipnya saat berada di Hong Kong, namun tidak menyangka kalau tanpa sengaja melewati salah satu gerainya.

Baca juga  Begini Itinerary Backpacking Asia Tenggara. Berangkat? - Bagian 1

Satu buah egg tart dijual dengan harga HKD 9. Saya beli dua, sok pede saja dengan rasanya. Untungnya memang benar enak seperti testimoni orang-orang yang sudah pernah menyantapnya. Saya bukan pecinta kue dan roti, tapi untuk egg tart dari Tai Cheong Bakery ini saya rela untuk memberinya nilai 9.5 out of 10. Very delicious.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Mengurus Tiket Kapal Ke Macau

Sampai juga akhirnya di Shun Tak Center. Counter travel Beng Seng berada di lantai 3, berseberangan dengan counter resmi CotaiJet. Setelah mendapatkan print out bukti pemesanan tiket, saya diminta untuk menuju counter resminya guna menentukan jadwal kapal serta mendapatkan tiket dalam bentuk fisik.

Jadwal keberangkatan dari Hong Kong ke Macau maupun sebaliknya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Pilihan saya adalah pada pukul 10.30 untuk keberangkatan ke Macau, serta pukul 16.00 untuk jadwal kembali ke Hong Kong.

Oh ya, seperti sudah disebutkan sebelumnya, tiket kapal ferry Hong Kong – Macau PP ini sudah saya pesan sebelumnya melalui Klook. Harganya sekitar 560 ribu. Agak mahal karena opsi di Klook tidak terlalu jelas apakah tiket PP bisa dipergunakan pada tanggal yang berbeda atau tidak. Untuk berjaga-jaga saya beli saja dua tiket, satu untuk berangkat dan satu untuk pulang, sehingga harganya sedikit lebih mahal dari tiket PP yang berharga sekitar 540 ribu.

Berkeliling Clock Tower

Untuk menyeberang ke Hong Kong, saya memutuskan untuk mencoba naik kapal Star Ferry yang berlabuh dari Central Ferry Pier No. 7. Biayanya cukup murah, hanya HKD 2.2 saja untuk tempat duduk di bagian dek bawah (lower deck) pada hari biasa (atau HKD 3.1 pada akhir pekan dan hari libur).

Perjalanan menyeberang menuju Star Ferry Pier di kawasan Tsim Sha Tsui memakan waktu kurang lebih 10 menit. Yang ingin foto-foto lebih baik ambil posisi di upper deck. HKD 2.7 biayanya untuk hari biasa (atau HKD 3.7 pada akhir pekan dan hari libur).

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Yang menarik, ternyata banyak suvenir-suvenir murah dijual di kawasan pelabuhan Star Ferry Pier. Kartu pos dan mobil-mobilan mini misalnya. Jika ada yang teman-teman suka saat kebetulan berada di sana, beli saja, gak perlu mikir untuk dibandingin di area street market lain.

Tak jauh dari pelabuhan terdapat bangunan Clock Tower, salah satu landmark ikonik Hong Kong yang dulunya merupakan bagian dari stasiun kereta api Kowloon. Di sekitarnya terdapat Hong Kong Cultural Center, Hong Kong Museum of Art (sedang direnovasi pada saat itu), serta Hong Kong Space Museum. Jika menyusuri pelabuhan ke arah timur, kita akan tiba di area Avenue of Stars, yang sayangnya saat itu sedang direnovasi.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Taman Kowloon Yang Super Luas

Hal lain yang saya kagumi dari negara-negara di luar negeri adalah adanya taman atau ruang hijau yang luas. Kowloon Park ini contohnya. Bagaimana tidak luas. Terdapat beberapa kolam satwa, kolam renang, pusat olahraga, hingga masjid di dalamnya. Sayangnya, saya merasa petunjuk arah di dalam Kowloon Park ini kurang ramah terhadap turis. Agak membingungkan dan mau tidak mau harus tetap bergantung pada Google Maps.

Berhubung tujuan saya berikutnya adalah makan siang di Restoran Ah Lung yang berada di sebelah utara Kowloon Park, sekalian saja saya masuk ke dalam area taman untuk melihat-lihat seperti apa jeroan taman seluas 13.3 hektar yang dulunya markas militer bernama Whitfield Barracks. Sempat terlihat 4 orang TKW muda asal Indonesia sedang asyik berpiknik di dekat salah satu kolam. Juga seorang emak-emak TKW sedang nge-vlog dengan bahasa Jawa di dekat pintu masuk taman.

Di tengah-tengah taman terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh beberapa habitat burung dan unggas. Termasuk puluhan burung flamingo. Keren.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Namun sebagai pecinta komik, yang paling menarik perhatian saya adalah Avenue of Comic Stars, area tidak terlalu luas yang berisi patung berbagai tokoh komik Hong Kong ternama.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower.

Bersantap Siang Ala Orang Pakistan di Restoran Ah Lung

Restoran halal ala Pakistan Ah Lung terletak tidak jauh dari exit A stasiun MTR Jordan. Tepat di samping kirinya ada restoran Ah Long, konon didirikan oleh mantan karyawan Ah Lung sendiri dengan menu yang serupa. Dari review yang beredar, versi kwnya tidak selezat yang ori. Kebetulan pula, saat itu Ah Long sedang tutup, jadi saya tidak galau memilih mana yang akan dicoba.

Spesialisasi Ah Lung adalah kare. Ada aneka kare yang bisa dipilih. Mulai dari kare ayam, kare ikan, hingga kare domba. Saya pilih kare otot sapi (tendon curry) seharga HKD 82 (hampir 150 ribu kalo dikurskan ke rupiah). Untuk minum sudah disediakan air putih gratis di tiap meja, jadi tidak perlu memesan lagi.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Tak lama pesanan saya datang. Porsinya lumayan besar, gak rugi sih jadinya kalo dihitung-hitung. Bisa untuk 3-4 orang. Rasanya juga lumayan enak, walau masih agak kurang pedas untuk lidah saya. Ototnya empuk dan mudah untuk dipotong maupun digigit. Bumbu karenya pun mantap.

The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower

Standar harga seporsi makanan di Hong Kong memang cukup menguras dompet. Namun di sisi lain, porsi saji biasanya cukup besar, untuk 2-4 orang. Jika bepergian bersama teman, sebaiknya coba memesan satu menu makanan terlebih dahulu untuk melihat porsinya, siapa tahu bisa dinikmati bersama tanpa harus memesan lebih.

Surga Sepatu di Sneaker Street

Malam harinya, kami sekeluarga pergi menjelajahi Ladies Market dan Sneaker Street yang letaknya saling bersebelahan. Benar kata orang, harga barang di Ladies Market cukup tinggi dan butuh skill tawar menawar yang mumpuni untuk bisa membeli dengan harga normal. Sedikit bocoran setelah membanding-bandingkan dengan tempat lain selama berada di Hong Kong, harga normal untuk barang-barang yang dijajakan di Ladies Market adalah sekitar 30-40% dari harga pembukaan. Jadi jangan ragu untuk menawar di harga tersebut.

Oh ya, meski namanya Ladies Market, pasar malam ini tidak hanya menjual barang-barang untuk wanita saja kok. Souvenir khas Hong Kong, aksesoris handphone, hingga mainan Lego KW dapat pula ditemui di sini. Yang menurut saya pribadi jangan dilewatkan adalah USB flashdisk karakter lucu-lucu yang harganya cukup miring jika dibandingkan dengan di Indonesia.

Sneaker Street sendiri adalah deretan toko yang khusus menjual beraneka merk sepatu. Harganya memang lumayan murah, tapi itu berlaku untuk brand lokal atau tidak ternama saja. Untuk brand internasional harga diskonnya termasuk normal dan tidak jauh berbeda dengan di tempat-tempat lain. Kalau butuh alasan untuk berbelanja di Sneaker Street adalah koleksinya yang sedikit uptodet. Saya pribadi sih tidak terlalu tertarik.

Dari rencana awal adik saya yang ingin beli sepatu, justru pada prosesnya ibu saya yang pulang dengan menenteng sepatu Skeecher baru. Kebetulan ada promo diskon 20% untuk pembelian dua pasang sepatu. Dan kebetulan pula, saat sedang mencoba-coba, ibu saya berkenalan dengan pengunjung lain dari Indonesia yang juga hendak membeli sepatu. Namanya emak-emak, tahu saja cara untuk menghemat pengeluaran. Diajaklah pengunjung tersebut untuk beli bareng dalam satu struk supaya diskon didapat, hehehe.

Rincian Pengeluaran Hari Ini

Berikut ini rincian pengeluaran pada hari kedua traveling di Hong Kong. Untuk pembayaran yang menggunakan Octopus Card tidak dicantumkan ya, karena sudah terpotong otomatis dari saldo di dalam kartu. Beberapa pengeluaran juga mungkin dibulatkan ke atas / ke bawah untuk lebih memudahkan perhitungan.

AktivitasBiaya (HKD)Biaya (Rp)
Peak Tram Fast-Track Combo-Rp 163.000,-
CotaiJet Ferry (Hong Kong)-Rp 280.000,-
CotaiJet Ferry (Macau)-Rp 280.000,-
Top-Up Octopus CardHKD 50-
Air Mineral @ 7/11HKD 8.5-
Beli Egg Tart @ Tai Cheong BakeryHKD 18-
Beli Makan @ Ah LungHKD 82-
Total PengeluaranHKD 158.5Rp 723.000,-

 

Baca Juga

Jangan lupa baca juga tulisan-tulisan lainnya dalam seri artikel perjalanan ke Hong Kong dan Macau ini.

Pengantar: Catper Traveling Hong Kong dan Macau 8D/7N
Hari ke-1: Dari Surabaya Ke Hong Kong
Hari ke-2: The Peak, Tai Cheong Bakery, dan The Clock Tower
Hari ke-3: Trekking ke Dragon’s Back
Hari ke-4: Berburu Game Center Di Ujung Jalur MRT Hong Kong
Hari ke-5: Melipir ke Macau, Mampir ke Venesia dan Paris
Hari ke-6: Jelajah Macau ala Turis
Hari ke-7: Naik Cable Car ke Ngong Ping 360

Tema artikel yang berhubungan: ,

Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.