Review Komik Oliver #4 (Image, 2019)

Di cerita sebelumnya, kolonel Sikes, atas restu dari gubernur Lord Fleming, datang bersama pasukannya ke kamp tentara kloning (IVC) di London. Oliver yang mengetahui hal itu mencoba untuk menghalau mereka seorang diri. Pun begitu, pada akhirnya rekan-rekan Oliver, termasuk Prospero, memastikan akan ikut bertempur bersama Oliver. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dapatkah tentara IVC mengalahkan pasukan pemerintah? Simak kelanjutan kisahnya dalam sinopsis komik Oliver #4 di bawah ini. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

Oliver leads his military family in an uprising against the government forces sent to London to capture him, but at a terrible cost that leaves him grief-stricken—and bent on revenge.

Story: Gary Whitta
Art: Darick Robertson
Color: Diego Rodriguez
Letter: Simon Bowland
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 9 Oktober 2019

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Pertempuran antara tentara IVC dengan tentara pemerintah berlangsung sengit. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Tahu bakal sulit untuk menang, kolonel Sikes menginstruksikan anak buahnya untuk mundur.

Usaha kolonel Sikes untuk kabur dihadang oleh Prospero. Ia berniat untuk menawan kolonel Sikes. Sayangnya, karena lengah, salah satu anjing tentara milik pemerintah berhasil menyerang Prospero. Tidak itu saja, kolonel Sikes lantas memanfaatkan momen tersebut untuk menembak Prospero tepat di dadanya.

Kembali berjalan keluar kamp, untuk kedua kalinya kolonel Sikes mendapat hadangan. Kali ini oleh Oliver. Setelah memberitahu siapa yang memberi perintah kepadanya, kolonel Sikes menyerang Oliver. Tembakannya yang mengenai paha kiri Oliver mampu membuat Oliver tak sadarkan diri. Kehabisan peluru, kolonel Sikes kemudian pergi meninggalkan Oliver begitu saja.

Rekan-rekan Prospero menemukan tubuh Prospero dalam kondisi yang buruk karena kehilangan banyak darah. Tak lama Oliver tiba dan diberitahu bahwa sudah tidak ada harapan hidup lagi bagi Prospero. Sebelum meninggal, setelah sempat meminta maaf dan menyerahkan sepotong surat dari ibu Oliver yang masih tersisa (karena sebelumnya dibakar oleh Oliver), Prospero memohon agar Oliver mau memaafkan ibunya.

Di hadapan makam Prospero, Oliver memberitahukan niatnya untuk meninggalkan kamp pada pria berlengan buntung agar tidak membahayakan yang lainnya. Pria berlengan buntung sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena sudah menganggap Oliver sebagai bagian dari mereka dan pastinya akan menghadapi pasukan pemerintah bersama-sama jika diperlukan. Ia juga menyerahkan badge tentara pada Oliver sebagai tanda formalitas. Pada akhirnya Oliver tetap memutuskan untuk pergi.


Setelah menunggu 6 bulan, akhirnya serial komik ini dilanjutkan kembali. Jujur saja, saya pribadi mengira kalau judul ini sudah dikubur dalam-dalam alias di-cancel di tengah jalan. Untungnya tidak.

Cerita dalam edisi ini memang tidak terlalu banyak kemajuan. Pun begitu, sepertinya inilah titik balik dari aksi Oliver, pangkal dari pertempurannya melawan pihak pemerintah. Apakah nantinya ia akan bertarung seorang diri atau akan dibantu oleh tentara IVC masih belum bisa dipastikan. Tidak mau berandai-andai terlalu jauh. Sementara cukup berharap agar edisi-edisi berikutnya rutin dirilis setiap bulan sesuai jadwal. Amin.

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.