Review Film Nightmare Side: Delusional (2019)

Mungkin sudah banyak yang paham bahwa film yang satu ini, “Nightmare Side: Delusional”, bersumber dari acara radio Ardan FM yang sudah berjalan selama lebih dari 27 tahun. Ceritanya pun diadaptasi dari kisah nyata, tentang meninggalnya Selly Larasati, anak SMA yang magang di radio tersebut, akibat merasa kesepian dan tidak punya teman. Kabarnya, di tahun 2003 lalu kisahnya juga sudah sempat difilmkan, namun saat itu tidak bisa menembus jaringan bioskop XXI. Hingga akhirnya kini dibuat ulang dan, yah, seperti bisa dilihat sendiri, sudah bisa ditonton di layar lebar sejak tanggal 28 November kemarin. Bagaimanakah hasilnya?

Sinopsis Singkat

Tanggal Rilis: 28 November 2019
Durasi: 1 jam 40 menit
Sutradara: Joel Fadly
Produser: Rick Roni Falcon
Penulis Naskah: Dewi Fita, Joel Fadly, Yovan Nainggolan
Produksi: Dash Pictures
Pemain: Gege Elisa, Fay Nabila, Melissa Karim, Ajil Ditto, Elina Joerg, Mo Sidik, Bayu Oktara

Berkisah tentang seorang siswi di salah satu SMA di Bandung bernama Naya (Fay Nabila), yang dikenal sebagai anak indigo. Di sekolah barunya, Naya bertemu dengan Shelly (Gege Elisa) yang memiliki kemampuan yang sama. Namun sifat Shelly yang tertutup membuat Naya penasaran. Di saat yang sama, Naya juga dibuat penasaran oleh siaran radio Nightmare Side yang didengarnya dan selalu diikuti oleh mimpi buruk, seolah kejadian itu nyata.

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!

Saya kurang tahu sedetil apa kisah dalam film ini mengadaptasi kejadian nyatanya. Yang jelas, di film ini digambarkan bahwa karakter Shelly Larasati memiliki kemampuan indigo alias bisa melihat hantu. Sayangnya, tidak seorang pun percaya dengan apa yang ia lihat. Yang ada justru ia dibully dan dianggap aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Termasuk ibunya sendiri. Perasaan tertekan membuat pada akhirnya Shelly bunuh diri. Sejak itu, muncullah sosok hantu yang menteror orang-orang di sekitar Shelly. Terutama yang dianggap berperan terhadap keputusan Shelly untuk mengakhiri hidup.

Masalahnya, dalam film, sutradara Joel Fdly menggunakan alur maju mundur yang tidak jelas batasnya. Mungkin niatnya untuk mengelabui penonton dan membuat big revelation twist di ending. Yang terjadi menurut saya pribadi justru sebaliknya. Cerita jadi berantakan dan tidak jelas arahnya.

Ditambah lagi, beberapa bagian dari film merupakan potongan kisah horor yang bisa dibilang tidak terlalu ada hubungannya dengan cerita utama. Dihilangkan pun tidak ada pengaruhnya. Sekali lagi, mungkin niatnya adalah untuk mengentalkan unsur “nightmare side” yang notabene merupakan kumpulan kisah mistis. Namun ujung-ujungnya justru berkontribusi terhadap hancurnya fokus cerita.

Saya tidak tahu dengan penonton lain, termasuk yang tidur sampai ngorok di baris A, tapi fakta yang coba disembunyikan bahwa karakter Shelly yang ada dalam film adalah makhluk halus sudah bisa tertebak dalam salah satu adegan di babak pertama. Yaitu saat Naya melihat Shelly duduk-duduk di taman Maluku, Bandung.

Begini. Taman Maluku adalah salah satu tempat yang memiliki kekuatan mistis besar di kota Bandung. Saya termasuk yang peka untuk urusan tersebut, meski belum bisa sepenuhnya melihat penampakan. Beberapa bulan lalu, saat sedang berada di kota kembang dan dua kali melewati taman tersebut, dua kali pula separuh wajah saya di sisi yang berhadapan dengan taman merasakan panas. Ini sudah biasa saya alami apabila ada energi mistis yang negatif.

Yang jelas bukan karena matahari ya, lha wong kejadiannya pas sore menjelang maghrib dan pagi-pagi jam enam kok, hehehe.

Nah, dengan latar lokasi yang sedemikian rupa, rasanya aneh aja kalau karakter Shelly yang digambarkan takut saat melihat hantu justru memilih untuk kongkow di sana. Yang ada udah stress duluan dia sebelum ketemu Naya.

Saya sendiri tidak tahu apakah adegan di atas merupakan kesalahan penulis atau sutradara dalam menentukan lokasi latar atau memang seperti itu kejadian nyatanya. Apapun itu, berkat adegan tersebut, saya sudah tidak kaget lagi begitu twist terkait diungkap di babak ketiga cerita.

Masalah lain adalah cerita yang terlalu dangkal. Bisa dikatakan hanya sekelas FTV. Durasi yang panjang cuma dijejali adegan dengan pola berulang, terutama yang berhubung dengan penampakan hantu. Film ini memang royal dalam memberikan jump scare, namun penampakannya begitu begitu saja. Mayoritas sekedar permainan kamera atau efek tempelan gambar belaka.

Poin pamungkas adalah akting karakter yang tidak meyakinkan. Mungkin hanya Gege Elisa (pemeran Shelly) yang sukses membuat saya kesal dengan karakternya sebagai gadis tertutup. Kesal dalam artian positif ya, karena bener-bener bikin gemes. Bintang lainnya? Gak usah diomongin, lah, hehehe.

Kesimpulan

Film “Nightmare Side: Delusional” menutup bulan November 2019 dengan nilai yang buruk. Dengan embel-embel film yang mengalami proses pembuatan ulang, seharusnya pihak-pihak terkait bisa menyesuaikan kualitasnya dengan standard kualitas film horor saat ini. Dan kombinasi akting buruk, cerita berantakan, serta elemen horor kacangan jelas berada di bawah SNI.

Not recommended!

Last modified on November 29, 2019 10:29 am

Share
Tags Film Horor
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.