Way Behind Schedule…

Sejak hampir dua minggu lalu mengurus e-paspor untuk keperluan backpacking ke Jepang bulan Februari 2017 mendatang, jadwal update blog ini terus-terang jadi berantakan. Mengurus paspornya sih memang hanya setengah hari, tapi persiapan-persiapan lainnya itu yang banyak memakan waktu. Mulai dari mencari informasi tentang setidaknya tiga kota yang akan saya kunjungi di sana — Tokyo, Kyoto, dan Osaka –, merancang itinerari dan budget, serta mencari penginapan yang letaknya sudah disesuaikan dengan itinerari. Meski seringkali tidak terpenuhi di lapangan, tapi bagi saya pribadi, apabila berhasil membuat itinerari dengan budget seoptimal mungkin (di bawah rata-rata tapi tidak mengorbankan kenyamanan traveling) adalah kebanggaan tersendiri. Adanya itinerari juga menghindarkan saya dari mati gaya atau kesalahan yang tidak penting sehingga tidak banyak membuang-buang waktu (apalagi uang). Walau kadang masih salah juga sih, hehehe, urusan transport biasanya. Kalau gak salah turun stasiun atau halte, ya salah jalan, wkwkwk.

Saya akan bepergian selama 12 hari. Karena tiba di Haneda International Airport pada malam hari, maka saya baru bisa mulai berpetualang pada hari berikutnya. Dengan catatan tidak kena cekal di imigrasi sih. Itu juga yang bikin kepikiran. Sudah ada yang wanti-wanti, pria + e-paspor + tampang tidak meyakinkan bukanlah kombinasi yang aman untuk dapat cap stempel imigrasi Jepang dengan selamat 🙁

Eniwei, dengan waktu efektif hanya 11 hari, saya sengaja merancang perjalanan kali ini ke tiga kota utama di wilayah Central Japan saja: Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Mungkin akan ketambahan Yokohama, mengingat lokasinya yang sudah searah dengan Fujiko F. Fujio Museum serta ada Cosmo World Amusement Park dan Cup Noodle Museum di sana. Penasaran rasanya naik bianglala yang pernah dapet predikat ferris wheel terbesar (alias tertinggi) di dunia itu.

Target side trip utama sebenarnya bukan itu sih, tapi wilayah Nikko. Namun mempertimbangkan waktu bepergian yang masih termasuk dalam musim dingin, harus menempuh perjalanan antar kuil dengan berjalan kaki rasanya bukan itinerari yang cerdas. Bisa-bisa bakal kecapekan di tengah jalan terus mati. Serem, kan?

Tantangan utama dari merancang itinerari di Jepang sebenarnya adalah dari sisi transportasi. Tahu sendiri kan biaya transport di sana cukup mehong? JR Pass jelas dicoret dari daftar karena harganya yang mencapai 3.3 juta (harga jual termurah) untuk pemakaian 7 hari, atau 5.8 juta untuk pemakaian 14 hari. Itu pun ada kemungkinan masih harus membeli tiket-tiket lain untuk moda transportasi yang tidak ter-cover oleh JR Pass. Sebagai gantinya, saya memilih kombinasi Tokyo Wide Pass (sekitar 1.2 juta untuk 3 hari pemakaian), bus Willer (untuk perjalanan Tokyo-Kyoto), serta pas harian dan tiket individu. Jika dibandingkan dengan harus membeli JR Pass 14 hari, selisihnya lumayan loh, hampir separuhnya. Tapi itu masih saya utak-atik lagi, siapa tahu ada kombinasi yang lebih murah lagi, hehehe. Lumayan nanti selisih uangnya buat beli oleh-oleh :p

Untuk membuat rancangan jalur transportasi dan perhitungan budgetnya saya menggunakan Hyperdia dan Google Maps. Fungsinya sama, hanya saja keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Jadi mau tidak mau harus dikolaborasikan. Ribet sih, tapi di situ seninya, hehehe.

Dana maksimal yang saya tetapkan untuk backpacking kali ini adalah 10 juta, di luar pembelian barang atau oleh-oleh (jika ada). Sejauh ini, hasil itinerari saya memberikan angka kurang dari 9 juta. Not bad, lah. Toh masih banyak waktu untuk lebih mengoptimalkan lagi itinerari yang sudah ada. Nanti akan saya share di sini jika memang sudah (nyaris) perfect (menurut saya pribadi).

Oh ya, saya juga nyicil belajar bahasa Jepang, karena saya yakin tidak hanya sekali saja bakal pergi ke negeri Sakura. Beberapa tahun lalu sebenarnya sudah pernah ikut kursus bahasa Jepang di sebuah lembaga pendidikan, tapi karena tidak pernah latihan ya lupa lagi deh semuanya, wkwkwk. Untuk kali ini saya belajar via Udemy saja supaya lebih praktis. Untunglah tidak salah pilih course, karena pengajarnya ternyata juga ngebolehin tanya-tanya soal Jepang. Alhasil, sejak beli course-nya hingga sekarang, konsultasinya malah gak ada yang soal materi course sama sekali, hehehe.

Nah, jadi wajar kan kalau sampai blog ini jadi keteteran *caripembenaran* Per hari ini, masih ada cicilan delapan review komik, 2 rekap sinopsis Shopping King Louis, sinopsis When A Snail Falls In Love, serta rencananya akan ada satu drama korea baru yang akan dibuat sinopsisnya. Mungkin “Romantic Doctor, Teacher Kim”. Semoga bisa segera terkejar semua antrian panjangnya ini, mengingat mulai awal bulan depan sudah ada drakor “Goblin” yang juga wajib di-sinopsis-kan.

Semangat!

Tema artikel yang berhubungan: ,

Reply