Sinopsis When A Snail Falls In Love Episode 1 (2016)

Sudah lama pengen ngereview chinese drama atau CDrama tapi belum nemu yang sreg di hati. Akhirnya dapet juga yang dari adegan pertama langsung nyantol. Bukan karena pemainnya cantik, tapi karena setting adegannya di Yangon, Myanmar. Karena kebetulan sudah pernah ke sana, dan juga kebetulan dua kali naik kereta api di sana, baru liat adegan pertama yang berlangsung di kereta api aja udah langsung feeling sama drama ini, hehehe. Dan setelah ditonton sampai selesai, ternyata lumayan keren juga, tentang pasangan detektif polisi dan profiler yang meski beda kepribadian tapi kalo urusan nangkep penjahat malah nyambung dan bisa bekerjasama dengan baik. Drama ini juga diadaptasi dari novel dengan judul sama, yang sudah lebih populer di negeri China sana. Yasud, biar gak kelamaan, selamat menikmati sinopsis cdrama When A Snail Falls In Love episode 1, ya 🙂

Dok. gambar dan video © Dragon TV of China

Sinopsis Episode 1

Sebuah kereta yang penuh dengan penumpang melaju di daratan Myanmar. Dua orang preman tiba-tiba mendatangi seorang pria gemuk yang tampak berduit. Sudah bisa ditebak, dengan santai mereka mencopet dompet miliknya, serta tas milik seorang gadis yang duduk di seberangnya. Tidak ada satu pun dari penumpang lain yang mempedulikan. Gadis itu kemudian menyusul kedua preman yang melangkah pergi ke gerbong sebelah, tapi dengan mudah ditaklukkan oleh satu di antaranya.

Seorang pria yang sedari tadi asyik makan tiba-tiba berdiri, melangkah menghampiri para preman tersebut. Dengan gaya slow but sure, alias tenang tapi meyakinkan, ia menghajar mereka. Melihat temannya dalam kesulitan, beberapa orang rekan preman datang dan ikut mengeroyok si pria tadi. Masih dengan tenang, ia meladeni mereka satu persatu hingga semuanya berhasil dilumpuhkan. Tak lama beberapa orang polisi datang dan meminta si pria untuk mundur. Dengan sigap ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, tanda pengenal polisi kriminal China.

Tiba di stasiun, pria tersebut, yang diketahui bernama Ji Bai (Wang Kai), langsung berjalan menuju ke sebuah showroom mobil untuk membeli (atau menyewa?) sebuah mobil. Ia lalu berganti baju dengan setelan jas dan menjalankan mobilnya menuju sebuah toko barang antik. Masuk ke dalam toko, ia menunjukkan sebuah foto cangklong kepada si penjaga toko yang sudah ia kontak seminggu sebelumnya mengenai barang tersebut.

“Kamu ingin membeli barang ini? Aku rasa bossku akan berminat untuk menjualnya kepadamu, jika ia merasa kamu cocok,” ujar si penjaga toko.

Setelah mengunci tokoknya, si penjaga toko memberi tanda pada Ji Bai untuk mengikutinya ke lantai tiga sebuah flat / apartemen. Tiba di sebuah ruangan, penjaga toko meminta Ji Bai untuk menunggu di sana sementara ia memanggilkan bosnya. Tak lama kemudian ia kembali lagi, kali ini bersama bosnya, serta pipa rokok yang ingin dibeli Ji Bai.

“Mr. Ji,” ujar si bos, “Kamu datang ke Myanmar dari China hanya untuk ini?”

“Ya,” jawab Ji Bai, “Aku datang ke sini untuk menanyakan apakah kamu mau menjualnya kepadaku.”

“Itu hanya berumur 20 atau 30 tahun, tidak terlalu berharga,” respon si bos.

“Aku tahu, tapi itu berarti untukku,” balas Ji Bai, “Karena itu milik almarhum ayah temanku. Aku ingin mengirimkannya ke temanku sebagai kado ulang tahunnya.”

“Apa yang kamu lakukan, Mr. Ji?” tanya si bos.

“Polisi,” jawab Ji Bai tegas.

“Oh. Polisi China.” ujar si bos.

“Ada masalah dengan itu?” tanya Ji Bai.

Si bos menatap tajam ke arah Ji Bai lalu memasukkan kembali cangklong yang sedari tadi ia pegang ke dalam kotak. Entah apa yang terjadi, tapi tak lama kemudian Ji Bai menuruni tangga dengan sudah membawa kotak cangklong tersebut. Setibanya di bawah, ia melihat seseorang sedang dibawa pergi oleh beberapa orang.

Ji Bai menuju mobilnya. Setelah meletakkan kotak cangklong dan melepaskan jasnya, ia kembali lagi ke bangunan apartemen tadi untuk menyusul orang yang tadi sedang dibawa pergi. Ia menemukannya di suatu tempat, sedang diinterogasi oleh orang-orang yang tadi membawanya. Ternyata orang-orang tadi adalah anak buah dari orang bernama Mr. Kim dan orang yang sedang diinterogasi itu tertangkap tangan sedang mengkopi data dari komputer Mr. Kim ke dalam sebuah flashdisk. Salah seorang dari mereka kemudian mengeluarkan pistol dan meminta ia untuk menceritakan yang sebenarnya dalam waktu 5 detik.

Ji Bai tiba-tiba muncul, mengatakan bahwa pria tersebut adalah temannya. Anak buah Mr. Kim segera menyerangnya, namun dengan mudah satu persatu ia kalahkan. Tersisa satu orang, yang kemudian dilumpuhkan oleh pria yang tadi diinterogasi. Ternyata sedari tadi ia hanya berpura-pura mengalah.

Tanpa mengatakan apa-apa Ji Bai segera kembali ke mobilnya dan si pria tadi mengikutinya masuk ke mobil Ji Bai. Teman Ji Bai itu mengatakan bahwa ia sedang mendapatkan misi untuk mengambil data perdagangan rahasia, walaupun tadi usahanya gagal. Ia pun memastikan bahwa ia tidak membuat masalah, hanya sedang ‘berinvestasi’.

“Bisakah aku bertemu dengannya? Aku mendengar ia tahu banyak tentang Myanmar. Aku punya banyak pertanyaan untuknya.” ujar Ji Bai.

“Kamu sebaiknya tidak terlalu terkenal di China. Ia tidak suka bertemu dengan orang beken.” balas temannya.

Teman Ji Bai lalu memintanya untuk berhenti di sebuah restoran. Di dalam, teman Ji Bai memintanya untuk menunggu sejenak di sebuah meja sementara ia mencuci muka. Sambil menunggu Ji Bai memperhatikan kondisi sekitar. Sekilas ia sempat melihat ada orang yang duduk di meja seberang sambil membaca koran dan pergi begitu mereka tiba. Beberapa saat kemudian temannya kembali menemuinya, kali ini dengan sudah berganti baju. Ia memberitahu Ji Bai bahwa bosnya sedang tidak ada di tempat sehingga Ji Bai harus kembali lagi di lain waktu. Ji Bai tidak percaya dan hendak mencarinya sendiri ke dalam. Teman Ji Bai mencegahnya.

“Boss benar-benar tidak ada di sini,” ujar temannya.

“Tidak mudah bagiku untuk berada di sini,” respon Ji Bai.

“Look, kamu berada di sini untuk mendapatkan sebuah barang. Ia tidak berada di sini. Siapa yang bisa menjawabmu?” balas temannya.

Ji Bai lantas mengungkit tentang pria yang tadi membaca koran dan kemudian pergi. Temannya terdiam, tak menjawab. Ji Bai segera melanjutkan langkahnya ke dalam, tapi kembali dicegat oleh temannya.

“Kamu tidak bisa masuk,” ujarnya, sembari memberikan sebuah kertas.

Jade sudah tidak ada lagi di sini. Masalah masa lalu yang belum terpecahkan. Golden Phython membuat masalah di Myanmar. Cobra aktif di Lin City. Badai akan datang.

Begitu yang tertulis di kertas tersebut. Ji Bai segera berlari ke dalam dan tidak mendapati siapa-siapa di sana selain dapur dan karyawan restoran.

Berpindah ke Beijing, China. Di sebuah kantor polisi, Yang Yu (Zhang Xiao Qian) sedang menelpon saat seorang anak buahnya memberitahu bahwa tim tiga meminta bala bantuan. Ia segera menghentikan telponnya dan menanyakan detil bala bantuan yang dimaksud. Ternyata itu adalah untuk sebuah kasus kriminal. Menganggap itu kasus sederhana, Yang Yu dengan heran menanyakan balik kenapa mereka minta bala bantuan untuk itu. Anak buahnya setuju dengan pendapat Yang Yu. Sambil tersenyum ia kemudian memberitahu Yang Yu bahwa anak magang yang baru sudah tiba. Yang Yu memarahinya karena sudah setiap tahun ada anak magang dan selalu wanita. Tiba-tiba ponselnya kembali berbunyi, kali ini dari Ji Bai. Ia menanyakan apakah gadis lulusan Institut Psikologi yang diminta untuk bergabung dengan mereka sudah tiba di sana. Yang Yu mengiyakan. Ji Bai lantas memintanya untuk mencari-cari kesalahannya dan memecatnya karena ia tidak lulus tes fisik. Dan bagi Ji Bai, orang seperti itu tidak layak berada di divisi Major Crimes (Kejahatan Besar).

“Apakah ia akan mencuci otak kriminal di TKP atau menunggu hingga kita menangkap penjahat lalu melakukan konseling psikologi kepada mereka?” sindir Ji Bai.

“Tidak. Gadis itu tidak berbuat salah. Alasan apa yang bisa ku buat untuk memecatnya?” tanya Yang Yu.

“Jika tidak ada kesempatan buat saja satu,” ujar Ji Bai. “Tidak bisakah kamu punya inisiatif lebih dan bertindak lebih tegas? Haruskah aku mengajarkan itu?”

Tanpa memberi kesempatan bagi Yang Yu untuk menjawab, Ji Bai mengatakan bahwa ia akan kembali ke Beijing dua hari lagi. Ia meminta Yang Yu untuk sudah menyelesaikan masalah itu saat ia kembali nanti.

Setibanya di bandara (Beijing?), Ji Bai menelpon Ye Zi Xi (Zhao Yuan Yuan) dan mengajaknya bertemu. Sementara itu, Yang Yu masuk ke ruang divisi Major Crimes. Dari luar ia melihat seorang intern sedang adu panco dengan anak buahnya sementara seorang intern lain duduk sendiri di pojokan sembari menggambar sesuatu di bukunya. Setelah adu panco selesai, yang dimenangkan oleh si intern wanita, anak buah Yang Yu segera memberi salam kepadanya. Si intern pun segera memperkenalkan dirinya sebagai Yao Meng. Mendengar nama tersebut, Yang Yu langsung mengingat catatan yang sudah ia baca tentangnya, bahwa ia adalah jawara pentatlon sekolah polisi.

Setelah meminta anak buahnya untuk duduk kembali, Yang Yu menghampiri intern yang satu lagi. Ialah gadis yang dimaksud oleh Ji Bai sebelumnya. Namanya Xu Xu (Wang Olivia) dan ia tidak banyak bicara. Dengan jujur ia mengaku bahwa ia memang tidak lulus tes fisik dan tidak suka adu panco. Yang Yu menyindirnya bahwa di kepolisian adu panco adalah hal yang umum dan biasa dilakukan. Ia lantas menanyakan soal gambar yang tadi dibuat Xu Xu. Xu Xu menunjukkan gambar yang ia buat, gambar kartun binatang. Ada kambing, monyet, rubah, dan badak. Dengan heran Yang Yu mempertanyakan kenapa seorang profiler malah membuat gambar kartun seperti itu.

Salah satu anak buah Yang Yu tiba-tiba menghampiri dari belakang. Melihat gambar tersebut, ia langsung mengenali dirinya sebagai si badak. Bahkan itulah panggilannya saat berkuliah dulu. Berturut-turut yang lain datang menghampiri dan ternyata masing-masing gambar binatang tersebut mewakili setiap karakter tim divisi Major Crimes. Karena gambar yang dibuat Xu Xu berlatar lomba perahu yang pernah diadakan (ada di salah satu foto yang dipajang di dinding), Yang Yu menantangnya untuk menceritakan apa yang terjadi pada saat lomba tersebut hanya dengan berdasarkan foto tersebut. Tanpa diduga Xu Xu mampu menjawabnya dengan benar. Salah seorang anak buah Yang Yu lalu meminta Xu Xu untuk menggambarkan Yang Yu, dan hasilnya adalah kuda nil. Yang lain langsung tertawa girang melihatnya.

Setelah yang lain kembali ke mejanya masing-masing, dengan malu-malu Yang Yu berkata, “Ini… Ini… Kamu adalah ahli psikolog kriminal dari Departemen Keamanan Publik Provinsi. Kamu orang berbakat yang Kepala Departemen kami berulang kali minta pada Departemen Keamanan Publik Provinsi untuk membantu kami memecahkan kasus dan menuntut kami dalam analisis profil. Satu dari kami adalah ahli lapangan. Kamu tidak perlu melakukan pertarungan bela diri melawan penjahat.”

“Aku juga berpikir begitu,” jawab Xu Xu, “tapi aku khawatir kapten Ji tidak akan menytujuinya. Aku tahu semuanya. Di sini, dia lebih bertekad daripada Kepala Departemen. Jika aku ingin tetap berada di divisi Major Crimes, aku harus mengikuti aturannya.”

Yang Yu menghela nafas, baru menyadari kalau orang yang ada di hadapannya ini memang lebih hebat dari penampilan luarnya.

“Pergi dan lihatlah kamar asramamu nanti,” perintah Yang Yu, yang malah jadi salah tingkah sendiri dan hampir menabrak pilar yang ada di belakangnya.

Di sebuah tempat pacuan kuda, Ji Bai sedang asyik memacu kudanya bersama dengan Ye Zi. Setelah itu, mereka beristirahat di club house. Ji Bai lantas memberikan kotak cangklong yang ia bawa dari Myanmar.

“Dimana kamu menemukannya?” tanya Ye Zi.

“Aku telah mencarinya dan akhirnya mendapatkannya di sebuah toko antik di Myanmar,” jawab Ji Bai.

“Jadi kamu sudah menemukan petunjuk tentang pembunuh ayahku? Apakah itu dia?” tanya Ye Zi lagi.

“Ye Zi,” jawab Ji Bai lirih, “si pembunuh sudah diadili. Aku tidak berhenti menginvestigasi untuk mencari apakah ada otak di belakangnya. Ayahmu bersalah atas penggelapan dana pada saat itu tapi ia tidak terlibat dalam penculikan.”

“Aku tidak percaya,” sergah Ye Zi.

“Ye Zi, ini sudah bertahun-tahun, semua bukti menunjukkan bahwa pamanmu tidak bersalah. Ditambah lagi, kamu memegang posisi penting dalam Ye Family Group.”

“Jangan berkata lagi,” potong Ye Zi. “Aku hanya percaya apa yang ku lihat dengan mataku sendiri.”

Ye Zi menggenggam pipa cangklong itu erat di tangannya, lalu tersenyum dan memasukannya ke kotaknya kembali.

“Kakak ketiga, terima kasih telah membantuku menemukan milik ayahku. Ini cukup penting bagiku.” ucapnya.

“Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepadamu,” ujar Ji Bai.

“Kakak Ketiga Ji sekarang adalah Sersan Ji. Ini membuatku merasa apapun yang ku katakan kepadamu sekarang akan menjadi bukti yang menyerangku di pengadilan hukum di masa depan.”

Dengan tersenyum Ji Bai menjawab, “Aku bertanggung jawab atas kasus kriminal dan kasus besar. Jadi selama kamu tidak terlibat dalam pembunuhan, perampokan, peredaran obat terlarang, dan penculikan, kamu aman. Aku tidak bertanggung jawab atas kejahatan finansial.”

“Hei, kamu mengatakannya seolah-olah aku benar-benar melakukan kejahatan finansial,” respon Ye Zi pura-pura serius. “Aku melakukan bisnis legal dan membayar pajak tepat waktu. Sersan, kamu tidak bisa menghina orang dengan sikap seperti ini.”

“Semenjak kamu mengambil alih investasi luar negeri dari Ye Family Group, itu berkembang pesat dalam 2 tahun pertama. Tapi tahun ini tiba-tiba membuat kerugian, kerugian yang terlihat agak janggal.”

“Kamu baru saja mengatakan itu tadi. Selama aku tidak melakukan pembunuhan, pembakaran, peredaran obat terlarang, dan penculikan. Kamu tidak bertugas untuk apapun yang berhubungan dengan finansial.”

“Karena kamu Ye Zi kecil, bukan orang lain,” respon Ji Bai sambil tersenyum.

“Aku akan mengunjungi kakek Ji,” ujar Ye Zi.

Ji Bai mengangguk.

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply