Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 4 & Preview Episode 5 (24 November 2016)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea episode sebelumnya, ciuman Sim Chung / Sae Wa (Jun Ji-Hyun) membuat Hae Joon-Jae (Lee Min-Ho) melupakan semua tentang Sim Chung. Ia lantas kembali ke Seoul dan mendapati kedua rekannya, Tae-O (Shin Won-Ho) dan Jo Nam-Doo (Lee Hee-Joon) sudah tinggal di rumahnya untuk menghindari kejaran Myeongdong Capital. Setelah tiga bulan, mereka akhirnya menyerang balik dengan cara menghipnotis Jin Ok (Kim Sung-Ryoung) dan membuatnya memaafkan orang-orang yang telah menyakitinya. Sim Chung sendiri ternyata berusaha untuk mencari keberadaan Joon-Jae di Seoul. Setelah bersusah payah ia akhirnya tiba di sana dan menunggu kedatangan Joon-Jae di Building 63, tempat yang pernah disebutkan oleh Joon-Jae. Dan benar, keduanya pun bertemu di sana. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 4 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 4

Masa Joseon. Dam Ryung (Lee Min-Ho) menerima laporan bahwa ada penduduk desa yang kemalingan pakaiannya. Namun di tempat yang sama, tertinggal sebutir mutiara dengan kualitas yang sangat langka. Berita yang sama sampai ke telinga Mr. Yang. Hong Nan (Oh Yeon-A), selir Mr. Yang, kecewa kenapa maling itu tidak datang ke tempatnya. Mr. Yang menyindirnya dengan mengatakan hampir seluruh lemarinya sudah dipenuhi dan emas permata.

“Aku minta maaf karena selirmu ini dipenuhi dengan keserakahan dan materialistis. Karena aku tidak memiliki pasangan, aku hanya berpikir untuk mengisi kekosongan itu dengan material,” ujar Hong Nan merajuk.

Mr. Yang menenangkannya dengan mengatakan bahwa ia bermaksud untuk mengisi lemari Hong Nan dengan emas dan permata yang banyak. Ia juga memberitahu Hong Nan bahwa tujuannya menangkap putri duyung adalah agar bisa mendapat mutiara dari air mata putri duyung tersebut, sehingga ia berniat untuk memukulinya terus menerus hingga punya banyak mutiara.

Kakek penduduk desa (yang sebelumnya memberitahu tentang putri duyung pada Mr. Yang di episode 1) mengkonfirmasi bahwa pelaku pencurian pakaian itu memang putri duyung. Ia menjelaskan bahwa putri duyung yang telah jatuh cinta pada manusia tidak boleh kembali ke dunianya. Putri duyung juga hanya bisa mencintai satu orang dalam hidupnya.

“Untuk putri duyung cinta sejatinya sudah muncul, dan bagiku kesempatan tunggal telah muncul dengan sendirinya,” gumam Mr. Yang.

Ia lalu meminta kakek tua untuk mengerahkan penduduk desa guna menangkap putri duyung, sementara Hong Nan diminta untuk menyebarkan rumor tentang putri duyung yang akan membawa bencana pada para nelayan di desa tersebut.

Sesuai rencana Mr. Yang, rumor tersebut menyebabkan warga desa panik. Dam Ryung sendiri tidak menghiraukan dan tetap berniat untuk menemui Sae Wa (Jun Ji-Hyun) di saat salju pertama turun karena ia sudah berjanji akan menikmati momen itu bersama dengannya. Asistennya berusaha untuk mencegahnya.

“Jika wanita itu benar-benar tidak bisa kembali, itu berarti dia mempertaruhkan hidupnya,” ujar Dam Ryung. “Hal yang sama berlaku untukku. Apa yang bisa ku pertaruhkan untuk saat ini?”

Dam Ryung segera memacu kudanya, menuju tempat ia berjanji bertemu dengan Sae Wa, yang saat itu sedang berada di sebuah bukit. Tiba-tiba tiga orang suruhan Mr. Yang menghampirinya. Sesuai dengan pesan Mr. Yang bahwa kelemahan putri duyung yang tidak bisa kembali adalah kakinya, salah satu di antaranya segera melukai kaki Sae Wa dengan pedangnya hingga ia pun terjatuh. Satu orang lainnya hendak menyusul dengan tebasan ke arah tubuh Sae Wa, namun mendadak Dam Ryung muncul dan berbalik menyerangnya tanpa basa-basi.

Masa kini, SEBELUM Joon-Jae bertemu dengan Sim Chung. Ma Dae-Young (Sung Dong-Il), narapidana yang kabur tiga bulan lalu, hingga kini masih belum tertangkap kembali. Terlihat bahwa ia kini bekerja sebagai pekerja bangunan di sebuah konstruksi.

Di tempat lain, Ahn Jin-Joo (Moon So-Ri) berniat untuk membawakan makanan yang sudah dibuatkan oleh pembantunya, Mo Yoo-ran (Na Young-hee), kepada Kang Seo-Hee (Hwang Shin-Hye). Ia sempat kesal karena makanan tersebut hanya diletakkan begitu saja di dalam kotak, takut jika nanti makanan tersebut tumpah. Tapi Seo-Hee memberitahunya bahwa kotak semacam itu tutupnya cukup rapat sehingga tidak mudah terbuka. Ia lantas menasehati Jin-Joo agar berhati-hati dalam membawanya, lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Jin-Joo jadi heran sendiri siapa yang sebenarnya majikan. Jin-Joo lalu menghubungi Seo-Hee dan mengatakan akan membawakan makanan untuknya.

Seo-Hee, Heo Gil-Joong (Choi Jung-Woo), dan Heo Chi-Hyun (Lee Ji-Hoon) sedang menikmati makanan pemberian Jin-Joo. Seo-Hee mengatakan bahwa Jin-Joo membuat sendiri masakan-masakan itu di rumahnya. Saat sedang menyantap kepiting, Gil-Joong tiba-tiba terdiam. Rasa makanan tersebut ternyata serupa dengan rasa makanan yang dulu dibuat oleh istri pertamanya. Suara Seo-Hee menyadarkannya kembali. Gil-Joon segera meminta Seo-Hee dan Chi-Hyun untuk ikut mencoba kepiting tersebut karena rasanya lezat.

“Ah, tidak. Aku punya alergi kerang,” ujar Chi-Hyun.

Jawaban tersebut membuat Gil-Joong dan Seo-Hee terdiam. Seo-Hee mencoba mengalihkan pembicaraan, namun Gil-Joong tetap saja berdiam diri.

Dalam perjalanannya menuju ke kantor, Gil-Joong menanyakan pada sekretaris Nam apakah ia tahu dimana Joon-Jae tinggal sekarang. Sekretaris Nam menjawab bahwa ia tahu alamat Joon-Jae sebelumnya, tapi Joon-Jae kini sudah pindah lagi dan ia belum berhasil melacak alamatnya yang baru. Gil-Joong kesal mendengarnya.

“Kalian harus saling menerima,” ujar sekretaris Nam.

“Menerima apa? Antara seorang ayah dan seorang putra. Aku mengatakan itu karena kau. Tapi satu-satunya hubungan darah yang aku miliki adalah Joon-Jae. Sekarang aku harus mencari dia. Aku harus mengajarinya banyak hal,” respon Gil-Joong. “Bisa kau mencarinya?”

Tanpa ia sadari, Seo-Hee menyadap pembicaraan mereka dan mendengarkan semuanya dari rumah. Wajahnya terlihat kesal mendengar hal tersebut. Ia lantas menghubungi Dae-Young dan memerintahkannya untuk membuat Joon-Jae ‘menghilang’.

Dae-Young berada di area akuarium Building 63 mengikuti petunjuk dari Seo-Hee untuk mencari Joon-Jae. Saat yang sama Joon-Jae sedang berkeliling akuarium untuk mencari keberadaan Sim Chung. Seperti yang terlihat di akhir episode lalu, Joon-Jae akhirnya bertemu kembali dengannya.

Perlahan Joon-Jae melangkah menghampiri Sim Chung.

“Apa kau tahu aku?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah Joon-Jae dengan mata berkaca-kaca.

“Aku akan bertanya lagi,” ujar Joon-Jae. “Apa kau tahu aku?”

Tiba-tiba beberapa orang security datang, berniat untuk menangkap Sim Chung. Mereka minta pada Joon-Jae untuk memeganginya agar tidak kabur lagi. Setelah terdiam sejenak sembari menatap wajah Sim Chung, Joon-Jae kemudian menunjukkan ID detektif palsu yang ia miliki pada para petugas security tersebut, mengatakan bahwa ia datang untuk membawa ‘penyusup’ itu pergi karena sudah menerima laporan tentang itu. Mengira bahwa yang melapor adalah kepala keamanan, para petugas security tersebut percaya pada Joon-Jae.

“Kita harus pergi bersama-sama,” ujar Joon-Jae pada Sim Chung.

Sim Chung menundukkan kepalanya lalu tersenyum malu-malu, sebelum akhirnya pergi bersama Joon-Jae meninggalkan para petugas security. Setelah dirasa cukup jauh, Joon-Jae menghentikan langkahnya.

“Aku tidak mengajakmu keluar untuk menyelamatkanmu,” ucap Joon-Jae. “Ada sesuatu yang perlu ku ketahui. Jadi, jawab aku.”

Joon-Jae lantas menunjukkan foto Thomas dimana ada dirinya dan Sim Chung sambil bertanya, “Ini, kenapa kita bersama-sama?”

Belum pernah melihat foto, Sim Chung menatap foto tersebut dengan heran. Gumamnya, “Kenapa aku bisa ada di situ bersama dengan Hae Joon-Jae.”

“Kau tahu namaku?” tanya Joon-Jae. “Kau kenal aku, kan? Kau tidak kenal aku?”

Sim Chung terus menggeleng sehingga Joon-Jae jadi bingung.

“Kau kenal atau tidak? Kau kenal aku. Kau tahu namaku juga,” simpul Joon-Jae. “Itu benar kita ada di Spanyol bersama-sama. Tapi kenapa aku tidak kenal kau? Kau siapa?”

Sim Chung tidak menjawabnya, hanya terus memandangi Joon-Jae.

“Oke. Siapa namamu?” tanya Joon-Jae.

“Aku tidak memiliki nama,” jawab Sim Chung.

“Kau tidak punya nama?”

Sim Chung mengiyakan. Ia lalu berkata, “Aku tidak punya, tapi aku diberitahu aku bukan orang yang aneh.”

“Siapa yang bilang?”

“Orang yang baik.”

“Aku tidak yakin siapa dia, tapi mungkin mereka juga aneh. Kata-kata dan tindakanmu semuanya aneh.”

Tiba-tiba dua orang petugas keamanan lewat di dekat mereka untuk berpatroli. Mengetahui kondisi tidak lagi kondusif, Joon-Jae segera memegang tangan Sim Chung dan mengajaknya berlari keluar dari tempat itu. Sim Chung tersenyum senang teringat saat mereka dulu melakukan hal yang sama di Spanyol saat dikejar-kejar oleh orang-orang Myeongdong Capital.

Di luar, Joon-Jae kembali bertanya pada Sim Chung tentang hubungan mereka dan bagaimana ia bisa mengenalnya. Karena Sim Chung masih saja berdiam diri, Joon-Jae memutuskan meninggalkan Sim Chung karena tidak ada gunanya. Melihat Joon-Jae pergi, Sim Chung mengikutinya dari belakang.

Sadar diikuti, Joon-Jae menghentikan langkahnya.

“Kenapa? Kau ingin bicara padaku?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung menggeleng.

“Jangan ikuti aku,” ujar Joon-Jae.

Tentu saja Sim Chung lanjut mengikutinya. Namun karena sempat tertahan oleh sebuah mobil yang melintas di hadapannya, Sim Chung jadi kehilangan jejak Joon-Jae. Ia lantas masuk ke lorong yang membawanya ke sebuah taman di pinggir sungai. Saat sedang mencari-cari keberadaan Joon-Jae, seorang pria aneh (Cha Tae-Hyun) tiba-tiba memperhatikannya. Sim Chung menatapnya dengan tatapan jijik.

“Bentuk hidungmu bagus,” ujar pria tersebut, “Jangan pernah melakukan operasi.”

Sim Chung memegangi hidungnya dengan bingung.

“Ah, aku bukan orang aneh,” lanjut pria tersebut, “Aku bukan seseorang yang menyebarkan ajaran Tao atau apapun. Aku hanya seorang pertapa Buddha, kau tahu? Setiap pertapa Buddha dapat melihat semuanya.”

“Apa yang kau lihat?” tanya Sim Chung penasaran.

“Nona, kau tidak punya keberuntungan dengan leluhurmu tapi hidungmu memblokir banyak energi buruk. Tapi kemudian itu ambigu. Tidak peduli seberapa bagus hidungmu, energi berkabungmu lebih kuat. Di tanah, nenek moyangmu menangis.”

“Apa itu nenek moyang?”

“Apa maksudmu? Orang-orang yang membuatmu, orang yang membuat mereka, merekalah orangnya. Asalmu,” jelas pria tersebut asal-asalan.

“Mereka tidak ada di dalam tanah,” respon Sim Chung.

“Jika tidak di tanah, dimana?” tanya pria tersebut.

“Bawah laut?”

“Ah, mereka tidak dikuburkan, jadi kau menyebarkan abunya di sungai, aku paham. Eniwei, dimanapun itu, sangat penting bahwa nenek moyangmu menangis.”

“Kenapa mereka menangis?”

“Apa maksudmu ‘kenapa’? Itu karena keturunan mereka tidak melakukan tugas mereka (gong).”

Pria tersebut kemudian mengambil batu dan membuat tulisan ‘gong’ di tanah. Ia lalu meminta Sim Chung untuk membaca kebalikannya. Karena Sim Chung memang tidak bisa membaca tulisan Korea, ia hanya menatap wajah pria tersebut, yang akhirnya gemas sendiri dan memberikan jawabannya.

“Benar! Ini ‘keberuntungan’, benar!” ujarnya. “Apa artinya ini? Jika kau memiliki ‘gong’, kemudian ‘keberuntungan’ juga akan mengikuti.”

Pria tersebut masih terus berusaha menjelaskan dengan penuh semangat sementara Sim Chung terlihat mulai bosan dan tidak mendengarkannya sama sekali. Ia malah asik memperhatikan penjual arumanis sembari menelan ludah. Sadar bahwa Sim Chung menghiraukannya, pria tersebut akhirnya mengajak Sim Chung untuk menuju van mereka di tempat parkir. Sim Chung mengikutinya.

Tiba-tiba saja Joon-Jae muncul di hadapan mereka. Sim Chung tersenyum senang melihatmu.

“Apa? Siapa kau?” tanya pria tersebut.

“Aku leluhurmu,” jawab Joon-Jae seraya menarik tangan Sim Chung agar menjauh dari pria tersebut. “Aku berpikir jika aku terus mengabaikan keturunanku, seluruh dunia akan hancur, jadi aku datang ke sini secara pribadi untuk menangkapmu.”

Pria tersebut kesal mendengarnya dan hendak memukul Joon-Jae. Dengan mudah Joon-Jae menangisnya. Ia bahkan sempat mencopet dompet milik pria tersebut. Tahu bahwa dompetnya ada di tangan Joon-Jae, pria tersebut akhirnya menyerah dan melepaskan Sim Chung pergi karena tidak mau identitasnya dilaporkan ke polisi oleh Joon-Jae.

Hari sudah malam saat Joon-Jae dan Sim Chung melangkah menyusuri sungai. Joon-Jae mengingatkan Sim Chung agar tidak mengikuti orang-orang seperti tadi karena mereka akan menipunya. Sim Chung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Tiba-tiba beberapa orang remaja dengan menggunakan skate board melintas di samping mereka. Reflek, Joon-Jae menarik tubuh Sim Chung ke belakangnya agar terlindung dari mereka. Sim Chung langsung terpana dan leleh melihat sikap ksatria Joon-Jae.

Joon-Jae kaget melihat wajah Sim Chung yang malu-malu mau. Ia lantas melepaskan pegangannya. Karena Nam-Doo menelponnya, ia pun menerima telpon tersebut sembari melangkah menjauhi Sim Chung. Tanpa diduga pesta kembang api dimulai. Sim Chung yang kaget karena belum pernah melihatnya, langsung berlari ke arah Joon-Jae dan menubruknya sambil menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Joon-Jae karena ketakutan.

“Itu pistol,” ujar Sim Chung seraya memeluk kepala Joon-Jae.

“Pistol?” tanya Joon-Jae heran.

Begitu tahu yang dimaksud adalah kembang api, Joon-Jae berniat hendak melepaskan diri dari pelukan Sim Chung, tapi Sim Chung makin erat memeluknya.

“Diam, Joon-Jae, aku akan melindungimu,” lanjut Sim Chung.

“Ah, tidak, siapa yang melindungi siapa?”

Setelah berhasil bangkit, Joon-Jae meminta Sim Chung untuk melihat ke arah kembang api.

“Percayalah padaku. Buka matamu. Lihatlah ke langit,” ujar Joon-Jae.

Perlahan Sim Chung melakukannya. Dan ia pun terpana melihat keindahan kembang api di langit.

“Dengarkan baik-baik,” tambah Joon-Jae, “Melindungi orang lain datang setelah melindungi diri sendiri. Urutannya seperti itu. Itu tindakan bodoh kalau kau membaliknya.”

“Itu tidak panas?” tanya Sim Chung, sepertinya tidak menghiraukan ucapan Joon-Jae barusan.

“Apa kau mendengarkan aku?” tanya Joon-Jae kesal.

Sim Chung menunjuk ke arah langit. Ia kembali bertanya, “Itu… itu tidak panas jika kau menyentuhnya?”

“Apa kau benar-benar baru pertama kali melihat kembang api?”

“Kembang api?”

Sim Chung teringat perkataan Joon-Jae sebelumnya saat mereka masih di Spanyol, tentang festival kembang api musim gugur yang diadakan di Sungai Han, dimana mereka berdua berjanji untuk melihatnya bersama.

“Kembang api?” Sim Chung mengulang kembali pertanyaannya.

“Itu benar. Apa kau benar-benar baru pertama kali melihatnya?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung mengangguk. Joon-Jae lalu mengajaknya berdiri dan menjelaskan pada Sim Chung bahwa ia tidak bisa menyentuh kembang api tersebut, sehingga tidak akan terasa panas. Melihat orang lain memfoto kembang api, Sim Chung penasaran dan menanyakan apa yang mereka lakukan. Joon-Jae lantas mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan hal tersebut pada Sim Chung.

“Tapi kenapa kau tidak mengambil gambar? Orang lain melakukannya,” tanya Sim Chung.

“Karena aku hanya bisa mengingatnya,” jawab Joon-Jae.

Sim Chung tersenyum, lalu meletakkan tangan kiri Joon-Jae di dada Joon-Jae.

“Kau menyimpannya di sini, kan?” tanyanya sembari tersenyum.

Joon-Jae terdiam. Ia teringat bahwa dulu ibunya juga melakukan hal yang sama kepadanya pada saat mereka berdua sedang menonton pesta kembang api di Sungai Han.

“Tapi kenapa kau terus berbicara informal?” tanya Joon-Jae kemudian. “Aku akan berbicara informal juga.”

Sim Chung tidak mempedulikannya dan asyik melihat kembang api di langit.

Di tempat lain, Yoo-Ran melihat siaran langsung pesta kembang api itu di TV. Cha Dong-Sik (Lee Jae Won) tiba-tiba datang dan hendak mengganti siaran TV tersebut. Yoo-Ran memintanya untuk menunggu sebentar lagi. Sesaat kemudian ia mempersilahkan Dong-Sik melakukannya. Setelah mengucap terima kasih, Dong-Sik mengganti siaran TV tersebut. Jin-Joo menendang kakinya dan menanyakan mengapa ia mengucapkan terima kasih pada Yoo-Ran karena ia hanya asisten rumah tangga di sana.

“Aku tidak tahu,” jawab Dong-Sik, “Anehnya, setiap kali dia memerintahkan sesuatu, aku melakukannya.”

Jin-Joo tidak bisa menjawabnya karena ia juga sempat mengalami hal yang sama pagi tadi.

Dari suatu tempat di dalam mobilnya, Dae-Young sedang mengawasi Joon-Jae dan Sim Chung sembari menelpon Seo-Hee. Seo-Hee ternyata berniat untuk melenyapkan Joon-Jae dan memastikan warisan Gil-Joong jatuh ke tangan anaknya, Chi-Hyun. Dae-Young kemudian meminta Seo-Hee untuk menutup telponnya karena Joon-Jae mulai bergerak meninggalkan sungai.

Sim Chung terus membuntuti Joon-Jae yang hendak pulang ke rumahnya.

“Kenapa kau terus mengikutiku? Aku harus pergi,” ujar Joon-Jae.

Saat Joon-Jae berniat untuk masuk ke mobilnya, Sim Chung segera mendekat dan memegangi jasnya.

“Kau ingin aku melakukan apa?” tanya Joon-Jae.

“Tidak bisa aku pergi denganmu?” tanya Sim Chung.

“Bersama? Dimana? Rumahku?” respon Joon-Jae.

Sim Chung mengiyakan.

“Tidak,” tolak Joon-Jae. “Bagaimana bisa seorang wanita pergi ke rumah pria? Jika orang tuamu tahu, apa yang akan mereka katakan?”

“Aku tidak punya orang tua.”

“Kalau begitu jawab aku. Kita saling mengenal, kan? Sesuatu terjadi, kan?”

Sim Chung tidak menjawabnya dan menundukkan kepalanya.

“Itu karena kau seperti ini, untuk apa aku membawamu pulang?” sergah Joon-Jae.

Joon-Jae lantas menuliskan nomer telponnya di telapak tangan Sim Chung sembari berkata, “Jika kau ingin bicara padaku nanti, hubungi aku.”

Ia pun kemudian masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sim Chung, yang menatap dengan tatapan sedih. Tanpa disadari Sim Chung, Dae-Young perlahan melangkah menuju ke arahnya. Joon-Jae sendiri akhirnya menghentikan mobilnya dan setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk membawa Sim Chung serta dengannya.

“Aku suka ada di Seoul,” ujar Sim Chung dalam perjalanan di mobil Joon-Jae.

Sekilas peristiwa tiba-tiba terbayang di ingatan Joon-Jae, saat dimana ia meminta Sim Chung untuk pergi ke Seoul bersamanya.

“Aku suka bisa bersamamu,” tambah Sim Chung.

Kali ini Joon-Jae teringat suara ‘Aku mencintaimu’ yang ia dengar sesaat sebelum ia terbangun di pantai. Ia lantas hendak meminta Sim Chung untuk mengatakan kalimat tersebut, tapi melihat wajah Sim Chung yang polos, Joon-Jae membatalkannya.

Saat itu Joon-Jae menyadari ada mobil yang membuntuti mereka. Dengan cekatan ia segera memacu mobilnya untuk menghilang dari kejaran mobil tersebut dan bersembunyi di sebuah gang sempit. Pengejarnya, yang ternyata adalah Dae-Young, akhirnya kehilangan jejak mobil Joon-Jae.

Di lab KAIST, Cha Si-Ah (Shin Hye-Sun) memandangi guci dari jaman Joseon yang bergambar putri duyung dengan rasa penasaran.

“Bagaimana bisa seseorang dari dinasti Joseon menggambar sesuatu seperti ini?” ujarnya pada rekan-rekannya di lab. Ia melanjutkan, “Entah bagaimana, terasa sangat mirip dengan seseorang yang ku kenal.”

“Siapa?” tanya rekannya.

“Ada seseorang. Hari ini hari ulang tahunnya,” jawab Si-Ah.

Sim Chung tiba di rumah Joon-Jae. Nam-Doo dan Tae-O memandangnya dengan heran, sementara Sim Chung lebih heran lagi melihat isi rumah Joon-Jae. Melihat ada kolam renang di belakang, Sim Chung segera menghampirinya dan mengamatinya dengan seksama.

“Apa tidak ada makanan di sini?” tanyanya pada Joon-Jae.

“Kenapa ada makanan di situ? Kemari,” jawab Joon-Jae.

Tae-O lantas menyiapkan spaghetti untuk Sim Chung, yang langsung disambut dengan tiupan ke arah spaghetti untuk menghilangkan panasnya, seperti yang diajarkan Joon-Jae saat di Spanyol. Joon-Jae dan Nam-Doo saling berpandangan. Joon-Jae lalu memberi tanda dengan matanya pada Nam-Doo.

“Hei nona, dimana rumahmu?” tanya Nam-Doo.

“Jauh,” jawab Sim Chung.

“Rumahku juga jauh. Di Namyangju,” balas Nam-Doo.

“Rumahku saaa… ngat jauh,” tambah Sim Chung.

Nam-Doo lantas mengomel dan mengatakan bahwa Sim Chung tidak cocok dengannya.

“Apa yang akan kau lakukan jika dia cocok? Apa seseorang memberikan kencan buta untukmu?” timpal Joon-Jae.

“Tapi tetap saja, kita akan hidup bersama,” balas Nam-Doo.

“Hidup bersama apanya. Kau juga numpang. Kalian harus pergi sekarang,” ujar Joon-Jae.

Nam-Doo menolak, beralasan khawatir terjadi apa-apa antara Joon-Jae dan Sim Chung apabila mereka pergi.

“Ah, apa aku harus membawanya? Aku membawanya karena ada sesuatu yang harus ku periksa,” respon Joon-Jae.

“Apa yang kau periksa?” tanya Nam-Doo heran, “Hei, jangan keluarkan! Jangan keluarkan!”

Joon-Jae mengeluarkan gelang giok dari balik saku jasnya dan menunjukkannya pada Sim Chung.

“Kau tahu tentang ini, kan?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung terdiam melihatnya, sementara Nam-Doo kesal karena Joon-Jae menunjukkan gelang tersebut pada Sim Chung. Joon-Jae lantas melemparkan gelang tersebut ke dekat Sim Chung.

“Kau tahu, kan?” tanyanya lagi.

Sim Chung mengiyakan.

“Apa itu punyamu?” lanjut Joon-Jae.

“Aku memberikannya padamu,” jawab Sim Chung.

“Kau memberikan ini padaku?” tanya Joon-Jae heran.

“Ya, karena kau menyukainya,” jawab Sim Chung.

“Ya, dia mungkin menyukainya, tapi itu bukan benda yang bisa kau berikan hanya karena ia menyukainya,” timpal Nam-Doo. “Kau benar-benar baik, ini menyedihkan untuk mengambilnya.”

Nam-Doo hendak meraih gelang giok tersebut, tapi Joon-Jae mencegahnya.

“Ada banyak benda seperti ini di rumahku,” tambah Sim Chung.

Nam-Doo langsung menoleh ke arah Sim Chung dengan penasaran. Ia bertanya, “Kau punya banyak?”

“Ya, jika kau mencari, ada banyak,” jawab Sim Chung santai.

“Apa begitu? Ada banyak jika kau mencari,” Nam-Doo makin penasaran. “Joon-Jae, biarkan dia tinggal di sini.”

“Dasar kau ini,” respon Joon-Jae kesal.

Nam-Doo kemudian berjanji akan membantu Sim Chung menghadapi kota Seoul yang keras, asalkan pada saat nanti Sim Chung pulang, ia tidak lupa pada ‘oppa’ yang sudah membantunya. Joon-Jae memintanya berhenti bicara dan menanyakan pada Sim Chung bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa Sim Chung memberikan gelang tersebut kepadanya.

“Apa menurutmu itu masuk akal?” tanya Joon-Jae.

Sim Chung terdiam dan menundukkan kepalanya. Joon-Jae jadi gemas melihatnya.

“Lihat? Dia berbicara dengan baik tetapi ketika topik penting muncul dia tidak mau berbicara,” ujar Joon-Jae kesal.

Nam-Doo memintanya untuk tenang dan ganti menanyakan nama Sim Chung. Joon-Jae yang menjawab, mengatakan bahwa Sim Chung tidak punya nama.

“Kenapa orang terus bertanya apa aku punya nama?” tanya Sim Chung.

“Itu pertanyaan yang menarik,” respon Nam-Doo. “Orang-orang bertanya karena mereka perlu memanggilmu dengan nama.”

“Mereka tidak bisa memanggilku jika aku tidak punya nama?” tanya Sim Chung lagi.

“Itu akan sulit. Lebih mudah untuk memanggil orang dengan nama,” jawab Nam-Doo.

Sim Chung menoleh ke arah Joon-Jae dengan senyum simpul. Ia berkata, “Jika aku memiliki nama, apa kau akan memanggilku?”

“Kurasa aku akan melakukannya,” jawab Joon-Jae dingin.

“Kalau begitu beri aku nama,” pinta Sim Chung.

“Beri apa? Kenapa aku melakukannya?” respon Joon-Jae.

“Berikan aku nama!” paksa Sim Chung.

Dengan sambil lalu Joon-Jae lantas menyarankan nama Sim Chung Yi karena Sim Chung sangat bodoh. Nam-Doo memarahinya karena itu tidak sopan. Tanpa disangka, Sim Chung mengatakan bahwa ia menyukai nama itu. Mereka pun sepakat untuk memberinya nama Sim Chung Yi.

Dengan riang Sim Chung berlari mendatangi Tae-O yang sedang nonton TV dan menanyakan namanya. Setelah Tae-O mengenalkan dirinya, sambil tersenyum manis Sim Chung memberitahu namanya adalah Sim Chung Yi. Tae-O jadi salah tingkah sendiri melihat tingkah Sim Chung.

Bel rumah tiba-tiba berbunyi, Si-Ah ternyata yang datang, membawakan kue ulang tahun untuk Joon-Jae. Begitu masuk ke dalam, Si-Ah kaget melihat ada wanita lain di rumah itu, sedang melirik dengan tatapan tajam ke arahnya.

“Kau memiliki tamu. Siapa dia?” tanya Si-Ah.

Belum sempat Joon-Jae menjawab, Sim Chung melangkah menghampiri mereka dan berpangku tangan di hadapan keduanya. Masih dengan lirikan tajam.

“Halo. Aku Sim Chung Yi,” ujarnya.

Nam-Doo tertawa melihatnya. Tiba-tiba robot pembersih otomatis tanpa sengaja mengenai kaki Sim Chung. Karena kaget, Sim Chung segera melompat dan memeluk Joon-Jae. Joon-Jae yang risih memintanya untuk turun tapi Sim Chung makin erat memeluknya. Si-Ah kesal melihatnya, sementara Nam-Doo justru tertawa terbahak-bahak.

Kue tart yang dibawa Si-Ah akhirnya dihidangkan di meja. Nam-Doo menyalakan lilin yang sudah tersusun rapi di atasnya. Sim Chung tiba-tiba berdiri dan hendak mengambil kue tersebut. Joon-Jae mencegahnya.

“Kau makan ini setelah kau meniup lilin,” jelas Joon-Jae.

Nam-Doo lantas mengajak yang lain untuk menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Joon-Jae. Baru saja mereka mulai bernyanyi, Sim Chung berdiri, dan meniup lilin tersebut. Semua yang ada di sana kaget melihatnya. Dengan sigap Nam-Doo mencegah Sim Chung yang kembali hendak mengambil kue tersebut.

“Makan setelah meniup lilin. Sini,” ujarnya sembari mengambil lilin yang ada di atas kue tart.

Tanpa diduga, Sim Chung langsung meraup kue tersebut dengan tangannya dan membuatnya rusak berantakan. Tidak menghiraukan yang lain, ia pun asyik menikmati kue tersebut sambil menghentak-hentakkan kakinya.

“Tidak ada yang akan mencurinya darimu, makan pelan-pelan,” nasehat Joon-Jae.

Dengan menahan kesal, Si-Ah memotongkan kue untuk Joon-Jae dan menyuapinya. Joon-Jae menolaknya, tapi Nam-Doo mengingatkan untuk memakannya agar Si-Ah tidak malu. Joon-Jae menurutinya dengan enggan, sementara Sim Chung sempat terdiam memperhatikan keduanya.

Melihat Si-Ah yang makan dengan sopan, Sim Chung menirunya. Begitu pula saat Si-Ah kemudian mengambil tisu untuk melap bibirnya, Sim Chung juga menirunya, walau dengan sedikit asal-asalan. Joon-Jae memperhatikannya dengan wajah aneh.

“Oh benar, Joon-Jae, kau akan pergi ke pesta pensiun Profesor Jin minggu depan, kan?” tanya Si-Ah.

“Aku akan bertemu dengan dia besok secara terpisah. Aku juga ingin membicarakan sesuatu,” jawab Joon-Jae.

Di saat Si-Ah mengajak Joon-Jae ngobrol, Sim Chung memperhatikan aneka perhiasan yang dipakai oleh Si-Ah.

“Jadi dia akan berada di sini untuk sementara waktu?” tanya Si-Ah pada Nam-Doo di luar rumah Joon-Jae.

“Aku juga menghentikannya, aku melakukannya,” jawab Nam-Doo. “Tapi Joon-Jae lemah terhadap keadilan. Dia juga tampaknya tidak stabil. Kenapa kau begitu peduli tentang gadis yang bahkan tidak tahu namanya sendiri?”

“Aku tidak tahu,” respon Si-Ah, lantas meminta Nam-Doo untuk tetap tinggal di rumah Joon-Jae.

Joon-Jae mengajak Sim Chung ke kamarnya dan naik ke atas loteng yang ada di sana. Joon-Jae mempersilahkannya untuk tinggal di sana selama beberapa hari.

“Terima kasih, Hae Joon-Jae,” teriak Sim Chung pada Joon-Jae yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur.

“Tentu saja kau harus berterima kasih,” balas Joon-Jae, “Sekarang kita harus hidup tenang.”

Joon-Jae lalu mematikan lampu dan berniat untuk tidur. Belum apa-apa sudah terdengar keributan dari loteng, dimana Sim Chung asik melompat-lompat kecil di atas tempat tidurnya yang ‘baru’. Joon-Jae segera berteriak dan menyindirnya agar diam. Sim Chung hanya diam sejenak dan kembali mengulangi tingkahnya. Joon-Jae mengomel kembali dan kali ini Sim Chung menurutinya. Mereka berdua pun akhirnya tertidur.

Sementara itu, Dae-Young sedang berjalan menembus hujan, mencari tempat tinggal Joon-Jae. Tiba-tiba ia tersenyum melihat ke arah Seoul Tower dan perlahan melangkahkan kakinya ke arah bangunan tersebut.

Hari berganti. Pagi-pagi Sim Chung terbangun dan langsung berteriak membangunkan Joon-Jae. Dengan enggan Joon-Jae bangun dan mulai menyiapkan sarapan. Nam-Doo bangun tak lama kemudian dan menanyakan siapa yang menghabiskan susu yang ada di kulkas. Tentu saja Sim Chung pelakunya.

Dae-Young ternyata menyamar menjadi kurir surat dan mendatangi satu persatu rumah di area tempat tinggal Joon-Jae. Diam-diam ia menandai rumah-rumah yang bukan tempat tinggal Joon-Jae dengan tanda silang. Salah satu pemilik rumah sempat mencurigainya sebagai pencuri karena melihatnya memberi tanda di depan rumahnya. Dengan dingin, Dae-Young melepas topi dan kacamatanya, lantas perlahan mendekati pemilik rumah tersebut.

Joon-Jae berbelanja di sebuah mall. Saat lewat di depan sebuah butik, sekilas peristiwa kembali muncul di ingatannya, saat ia sedang duduk di butik menunggui Sim Chung yang mencoba baju yang ia belikan.

“Apa itu? Kenapa aku pergi sendiri?” gumam Joon-Jae kebingungan.

Namun kilasan demi kilasan memori kembali muncul di kepalanya selama Joon-Jae berada di mall.

Hari sudah malam saat Joon-Jae dalam perjalanan pulang ke rumahnya, menembus hujan deras. Makin banyak potongan memori yang terlintas di kepalanya. Saat sudah hampir tiba, Nam-Doo menelpon dan memberitahunya untuk berhenti. Terlihat ada razia polisi di jalanan depan rumah Joon-Jae. Joon-Jae segera menghentikan mobilnya tidak jauh dari razia dan Nam-Doo mendatangi mobil Joon-Jae tak lama kemudian, memberitahunya bahwa tetangga sebelah rumah Joon-Jae baru saja terbunuh. Nam-Doo memintanya untuk berputar balik dan segera meninggalkan tempat tersebut karena ada detektif Hong di TKP, detektif yang sudah pernah melihat wajah Joon-Jae dan sangat bertekad untuk menangkapnya.

Joon-Jae bimbang, mengingat Sim Chung sendirian di rumah. Nam-Doo memintanya untuk tidak mempermasalahkannya dan segera pergi dari sana agar tidak dicurigai oleh polisi.

Sementara itu, detektif Hong menghampiri rekannya, yang mempertanyakan kenapa ia ikut datang ke TKP karena itu bukan wilayahnya. Detektif Hong menyatakan bahwa ia mendengar senjata yang digunakan oleh pembunuh adalah palu dan ia yakin itu adalah Ma Dae-Young, buronan yang sedang ia cari-cari. Rekannya tidak terlalu percaya karena korbannya sendiri adalah seorang rentenir yang sudah pasti punya banyak musuh. Detektif Hong menegaskan bahwa ia akan memastikan hal tersebut terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mundur atau terus maju.

Di belakang detektif Hong, seseorang dengan mengenakan jas hujan kepolisian dan mengenakan payung berdiri terpaku. Perlahan ia melangkah menghampiri rumah Joon-Jae.

Di dalam rumah, Sim Chung menunggu kedatangan Joon-Jae. Tanpa sengaja ia menghidupkan televisi yang ada di depannya dan kemudian asyik menonton sebuah drama korea. Namun belum apa-apa, drama tersebut bersambung sehingga Sim Chung jadi kesal dan penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Saat itu, bel rumahnya berbunyi. Mengira yang datang adalah Joon-Jae, dengan segera Sim Chung menuju ke pintu dan membukakannya untuk menyambut Joon-Jae. Ia pun heran melihat sosok pria tidak dikenal yang ada di depannya, Dae-Young.

Joon-jae sendiri saat itu masih berada dalam mobilnya, memikirkan tentang Sim Chung. Ia teringat pesannya pada Sim Chung, untuk selalu melindungi diri sendiri sebelum melindungi orang lain. Namun kali ini ia memutuskan untuk melanggarnya. Setelah meminta Nam-Doo untuk minggir, Joon-Jae memacu mobilnya menerobos razia polisi dan menuju ke rumahnya untuk menjemput Sim Chung.

Preview Episode 5

Berikut ini adalah preview eps 5 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 5 Selengkapnya

Reply