Sinopsis The K2 Episode 6 & Preview Episode 7 (2016)

Di sinopsis The K2 episode sebelumnya, konflik keluarga Choi memanas dengan Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A) yang mendapat warisan saham perusahaan dari bibinya, Choi Sun-Ja, yang baru saja meninggal. Anggota keluarga yang lain mengancam untuk mencopot Yoo-Jin dari jabatannya di yayasan apabila ia tidak mau menjual sahamnya kepada mereka. Untunglah, Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) datang untuk menyelamatkannya dari situasi tersebut. Aksi Je-Ha tersebut membuahkan hasil diberikannya akses ke Cloud Nine, fasilitas rahasia dan super tertutup yang ada di JSS, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk. Apa yang selanjutnya bakal terjadi di sinopsis drama korea The K2 episode 6 kali ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 6

Je-Ha melangkah melalui lorong yang ada di depan lift hingga tiba di sebuah pintu kaca. Dengan menebak-nebak, ia menempelkan telapak tangan dan juga mendekatkan matanya untuk proses scan telapak tangan dan retina mata. Ternyata benar, pintu kemudian terbuka. Di dalamnya adalah semacam ruang tunggu dan ada sebuah ruang kaca lagi di tengah. Terlihat Yoo-Jin, Ketua Joo, direktur JSS (Ko In-Beom), serta Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi) sedang rapat di sana. Je-Ha memutuskan untuk duduk di sofa yang ada dan menunggu mereka.

Dengan dipimpin oleh YOo-Jin, keempat orang tersebut ternyata sedang membahas tindakan (atau lebih tepatnya hukuman) bagi beberapa musuh Yoo-Jin. Dengan bantuan komputer super milik JSS, Yoo-Jin mencari dan memanfaatkan kelemahan orang-orang tersebut untuk menjatuhkan mereka. Ia tampak sama sekali tidak ragu dan tegas dalam mengambil keputusan, meski terkadang yang lain merasa tindakan yang diambil terlalu ekstrim.

Jang Mi-Ran (Lee Yea-Eun) menemui ibunya dengan girang. Ia menceritakan tentang Je-Ha yang sudah mendapat akses ke Cloud Nine. Bukannya menyemangatinya, ibu Mi-Ran malah meruntuhkan harapan Mi-Ran untuk bisa bersama dengan orang sekeren Je-Ha dengan mengatakan bahwa dengan level jabatan yang sudah tinggi, belum tentu Je-Ha bakal kembali ditugaskan untuk menjaga Ko An-Na (Im Yoona). Ditambah dengan Mi-Ran yang suka tidur saat bertugas dan tidak berjaga di ruang pengawas CCTV, ibunya mengingatkan agar ia tidak lagi bermalas-malasan. Diam-diam An-Na menguping pembicaraan mereka dari depan kamarnya.

1

2

3

Setelah rapat berakhir, ketua Joo meminta Je-Ha masuk untuk menemui Yoo-Jin. Setelah berbasa-basi sejenak membahas ruangan yang kedap suara, Yoo-Jin mengatakan tujuannya memanggil Je-Ha, yaitu untuk meminta Je-Ha menceritakan segalanya tentang dirinya. Ia memulai dengan menanyakan tentang kejadian di Iraq, sambil mengiming-imingi bakal melakukan pengejaran terhadap Park Gwan-Soo (Kim Kap-Soo) dalam waktu dekat. Yoo-Jin kembali meyakinkan Je-Ha bahwa ruangan tersebut kedap suara dan hanya dia yang bisa mendengar perkataannya.

“Lalu siapa orang yang mendengarkan percakapan kita melalui mic yang menyala itu?” tanya Je-Ha.

“Miss Mirror kecilku,” jawab Yoo-Jin. “Ia seperti cermin penyihir.”

Yang dimaksud Yoo-Jin ternyata adalah sistem AI komputer miliknya. Karena Je-Ha tidak percaya, Yoo-Jin pun membuktikannya, dengan cara berkomunikasi dengan si AI. Sementara itu di rumahnya, An-Na sedang menonton siaran berita tentang Jang Se-Joon (Cho Seong-Ha), ayahnya, yang akan mengunjungi sebuah gereja katolik di Ayang-dong besok sore. An-Na terlihat memikirkan sesuatu saat mendengarnya.

Kembali ke Cloud Nine, Yoo-Jin membawa Je-Ha berkeliling sembari menjelaskan tentang tempat tersebut serta tentang Mirror, sistem komputer yang ada di sana yang mengumpulkan big data dari seluruh belahan penjuru dunia serta memprosesnya untuk memberikan jawaban yang akurat dari setiap pertanyaan yang diajukan Yoo-Jin. Dengan menceritakan tentang dirinya, Yoo-Jin memastikan bahwa Mirror akan memberikan jawaban tentang apa yang sedang dicari oleh Je-Ha.

“Mengapa kamu berpikir aku punya pertanyaan yang belum terjawab?” tanya Je-Ha.

“Karena jika tidak, kamu tidak akan pernah merasa perlu untuk bergabung dengan JSS.”, jawab Yoo-Jin.

Kembali lagi ke tempat An-Na disekap, ingat bahwa Mi-Ran jarang berjaga di ruang pengawas, An-Na diam-diam keluar kamar dan memperhatikan keadaan sekitar. Ternyata benar, Mi-Ran sedang asyik nonton TV sambil makan sandwich Subway. Perlahan An-Na masuk ke kamar Mi-Ran dan mengambil barang-barangnya. Mulai dari kartu identitas, dompet, hingga kacamata. Saat melihat suntikan bius yang ada di laci, An-Na tidak lupa untuk mengambilnya.

4

5

6

7

Je-Ha akhirnya menceritakan tentang apa yang terjadi di Iraq. Termasuk tentang Raniya (subtitle episode-episode sebelumnya menyebut namanya Naniya), seorang pengungsi Kumar, yang hendak ia bawa keluar dari sana. Usai menjadi penerjemah untuk urusan transaksi Gwan-Soo dengan seseorang di Iraq, Gwan-Soo memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Raniya agar pertemuan di antara mereka tidak bocor. Je-Ha yang mengetahuinya datang terlambat dan Raniya sudah terlanjur menghembuskan nafas terakhirnya. Seseorang tiba-tiba memukul Je-Ha hingga ia tak sadarkan diri, dan saat terbangun, pistol yang digunakan untuk membunuh Raniya sudah berada di tangannya. Tak lama kemudian, saat sedang meratapi kematian Raniya, beberapa orang tentara datang dan menangkap Je-Ha.

Setelah ditahan dengan tuduhan pembunuhan, Je-Ha berhasil meloloskan diri seminggu kemudian. Sayangnya, saat itu Gwan-Soo sudah kembali ke Korea dan Blackstone tempat Je-Ha bernaung sudah tidak mau lagi menerimanya. Je-Ha pun terpaksa harus terus-menerus lari dan bersembunyi dengan berpindah-pindah negara, hingga sampai ke Eropa.

“Itu semuanya,” ujar Je-Ha, “Ini adalah alasanku kenapa aku harus membunuh Park Gwan-Soo”.

“Sepertinya kamu memang punya alasan yang bagus”, respon Yoo-Jin.

Yoo-Jin lalu menepati janjinya. Ia meminta Mirror untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Je-Ha. Yang pertama kali Je-Ha tanyakan adalah apa yang dilakukan oleh Gwan-Soo pada tanggal 15 September 2010, hari dimana Raniya dibunuh. Mirror menampilkan jadwal Gwan-Soo di layar monitor. Karena cukup padat, Je-Ha lalu memberikan data yang lebih spesifik, yaitu tentang jam dan juga lokasinya. Sayangnya, Mirror ternyata tidak memiliki data tentang hal itu.

Yoo-Jin lantas memerintahkan Mirror untuk menggunakan sumber daya yang lebih untuk melakukan pemrosesan. Kali ini Mirror memberikan jawaban untuk pertanyaan Je-Ha sebelumnya, bahwa ia sedang bertemu dengan seseorang untuk melakukan pembicaraan rahasia. Setelah Je-Ha memberikan lokasi yang lebih detil lagi, muncullah pihak-pihak lain yang terkait dalam pembicaraan tersebut: Raniya, Abdul Omar (pimpinan Kumar), serta seorang bodyguard dari Blackstone yang tidak diketahui identitasnya. Mirror juga memberitahu alasan Gwan-Soo membunuh Raniya, yaitu karena ia telah mendengar percakapan rahasia di antara mereka.

Je-Ha menjadi emosi begitu mendengarnya karena ia juga sudah menduga demikian. Sayangnya, Mirror tidak punya data mengenai pembicaraan mereka, selain bahwa 2 minggu setelah pertemuan tersebut, Abdul Omar membebaskan diri dari kontrol CIA dan membangun pasukannya sendiri. Yoo-Jin kaget mendengarnya, curiga bahwa Gwan-Soo melakukan transaksi perdagangan senjata dengan Abdul Omar.

Sementara itu, An-Na diam-diam memasukkan obat bius ke minuman Mi-Ran saat ia pergi ke kamar mandi. Ia kemudian keluar dari rumah dengan menyamar sebagai Mi-Ran. Usahanya berhasil. Setelah mencegat taksi, ia pun meminta untuk diantarkan ke Yeonhui-dong. Dengan suka cita, An-Na menikmati perjalanannya itu, sambil merasakan hembusan angin dan cahaya sinar matahari, sesuatu yang selama ini tidak ia dapatkan saat disekap.

9

10

11

“Tentang wanita pengungsi bernama Raniya.. kamu mencintainya?” tanya Yoo-Jin.

“Aku tidak tahu. Itu adalah saat yang menyedihkan dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah aku menganggap ia sebagai cintaku atau hanya sumber simpati tak berguna.”

“Tak berguna?” tanya Yoo-Jin heran.

“Ia baru mulai bekerja sebagai penerjemah di Blackstone karena aku yang mengenalkannya pada mereka.” jawab Je-Ha.

Je-Ha kemudian berdiri dan berniat untuk kembali ke tempatnya. Yoo-Jin memintanya untuk tinggal di JSS Residence karena Je-Ha kini sudah masuk sebagai “close line”, yang akan dilindungi keselamatannya oleh Yoo-Jin dan JSS dari apapun.

“Bagiku, itu terdengar seperti ‘kamu adalah budakku mulai dari sekarang’,” respon Je-Ha.

“Aku tidak pernah mengkhianati orang yang tidak pernah mengkhianatiku sebelumnya.” balas Yoo-Jin.

“Tidak ada istilah tuan yang tidak mengkhianati budaknya.”, ujar Je-Ha sambil melangkah pergi. Di depan pintu ia berhenti dan berkata, “Namun demikian, ada orang yang tidak mengkhinati temannya. Bukankah itu benar?”

Yoo-Jin tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Sementara itu, An-Ana akhirnya tiba di Yeonhui-dong. Transaksi taksi yang ia lakukan barusan dengan menggunakan kartu kredit Mi-Ran sebenarnya muncul notifikasi di ponsel Mi-Ran. Untung saja Mi-Ran saat itu sedang tertidur nyenyak sambil ngorok, sehingga ia tidak mengetahuinya. Tujuan dari An-Na ternyata adalah rumah tempat dulu ia tinggal bersama ibunya, Ume Hye Rin (Son Tae-Young). Ia teringat kembali masa-masa bahagia bersamanya saat sedang berdiri di depan rumah tersebut.

Saat sedang menyusuri jalanan kota, An-Na melihat foto dirinya dan ibunya yang menjadi foto pajangan di sebuah studio foto. Pemilik studio foto bahkan mengenali dirinya. Ia bercerita bahwa pada saat itu ibu An-Na, yang seorang bintang film ternama, datang ke tempatnya untuk membuat foto paspor An-Na. Namun mendadak ia minta untuk dibuatkan potret keluarga juga. An-Na kaget begitu mendengar paspor yang dimaksud adalah paspor untuk pergi ke Amerika. Leboh kaget lagi bahwa terjadi ada satu orang lagi di foto tersebut — yang sengaja ditekuk oleh si pemilik foto studio karena wajahnya tidak cantik 😀 — seorang wanita yang punya hubungan dengan ibu An-Na.

Sementara itu, Je-Ha sudah tiba kembali di tempat An-Na disekap dan ia pun kaget begitu mengetahui ternyata An-Na sudah menghilang. Berita pun segera menyebar di kalangan JSS, namun demikian ketua Joo meminta agar direktur JSS tidak langsung memberitahukannya pada Yoo-Jin dan menunggu hingga besok sore sebelum upacara, sembari mereka semua mencari keberadaannya. Saat sedang dimarahi, lagi-lagi notifikasi penggunaan kartu kredit muncul di ponsel Mi-Ran. Ternyata An-Na sudah pergi ke tempat lain dengan menggunakan taksi. Mi-Ran berniat untuk melapor ke bank untuk pencurian kartu kredit 😀 namun segera dihardik oleh Ketua Joo yang memintanya untuk mengkonekkan ponselnya ke ruang kontrol JSS agar mereka bisa melacak keberadaan An-Na.

12

13

Tujuan An-Na kali ini adalah tempat wanita yang ada di foto tersebut berada. Menurut si pemilik studio foto, wanita yang bernama Yoo Myung Ja itu sedang dirawat di semacam panti jompo (assisted living facility). Setelah mendapat informasi kamar dari resepsionis, An-Na segera mendatangi kamarnya. Sayangnya, ternyata ia sudah tua dan menjadi pikun sehingga sulit diajak berkomunikasi. Saat An-Na menyebutkan namanya, tiba-tiba Myung-Ja menjadi panik.

“Ya, Hye-Rin. Cepat kabur! Bawa An-Na dan pergilah ke Amerika! Kamu harus cepat! Choi Yoo-Jin tahu segalanya sekarang! Lari! Ia akan membunuhmu dan juga An-Na! Kamu harus cepat! Cepat dan pergilah! Cepat pergilah! Cepat! Cepat!”

Meski sempat kaget melihat respon Myung-Ja, An-Na jadi meyakini bahwa semua yang terjadi padanya sejak dulu adalah benar karena ulah Yoo-Jin. Sayang setelah mengatakan hal-hal barusan Myung-Ja kembali menjadi pikun sehingga tidak bisa mengkonfirmasi keyakinan An-Na. Tak lama kemudian, An-Na mendengar dari earpiece yang ia gunakan bahwa orang-orang JSS sudah tiba di panti jompo. Mi-Ran yang ditugaskan untuk mengecek kamar Myung-Ja tidak lagi mendapatinya di sana. Demikian pula Je-Ha, yang mencari di bagian lain.

Tiba-tiba ketua Joo mendapat telpon dari Se-Joon, yang entah darimana sudah mendengar berita tentang hilangnya An-Na. Ia meminta ketua Joo untuk memastikan agar An-Na tidak datang ke acara di gereja Katolik. Je-Ha menjadi kesal mendengar Se-Joon yang lebih mementingkan karir politiknya ketimbang anaknya sendiri. Tanpa disadari oleh ketua Joo dan Je-Ha, An-Na yang menyamar menjadi suster melenggang di belakang mereka, sambil berkata dalam hati bahwa sikap ayahnya yang sekarang adalah karena Yoo-Jin.

14

15

16

Acara di gereja Katolik di Ayang-dong segera dimulai. JSS memperketat penjagaan untuk mencegah An-Na berada di sana, khususnya di bagian VIP. Tanpa disengaja, Se-Joon mendapat kampanye gratis karena mobil Gwan-Soo lewat dengan pongahnya di saat Se-Joon dan Yoo-Jin membantu seorang nenek. Orang-orang yang melihatnya langsung mengutuk perbuatan Gwan-Soo. Yoo-Jin diam-diam tersenyum puas melihatnya. Di dalam gereja, Gwan-Soo kembali membuat blunder. Saat dengan santainya ia berteriak lantang memanggil Se-Joon untuk duduk di sampingnya di baris depan, namun orang-orang biasa yang ada di belakang justru memberikan tempat duduk mereka bagi Se-Joon dan Yoo-Jin, yang kemudian lebih memilih untuk duduk di sana.

Acara pun dimulai. Sekelompok biarawati masuk ke dalam dan salah satunya adalah An-Na! Se-Joon yang pertama menyadarinya langsung terhenyak. Tanpa berani melihat mata An-Na yang terus memandangnya, ia lalu memberitahukannya pada Yoo-Jin, yang segera menghubungi para bodyguard. Satu demi satu para bodyguard mendekat ke depan, namun mereka diingatkan oleh pastor agar tidak mendekat karena acara sudah dimulai. Dengan mata berkaca-kaca, An-Na ikut bernyanyi sambil tidak henti memandang ke arah ayahnya.

Setelah lagu persembahan pertama, satu demi satu biarawati turun, kecuali An-Na. Kesempatan itu hendak digunakan oleh ketua Joo untuk menangkap An-Na, namun Je-Ha meminta mereka untuk berhenti. Sesaat kemudian pastor mengatakan bahwa akan ada satu lagu persembahan lagi dan sembari meneteskan air mata, An-Na pun mulai menyanyikan lagu “Amazing Grace”. Dan tidak hanya ia saja yang menangis, semua yang ada di gereja juga ikut menangis, bahkan termasuk Yoo-Jin, walau entah ia benar-benar menangis atau hanya akting.

17

18

19

Je-Ha segera melangkah maju begitu An-Na selesai bernyanyi. Ia memberi tanda agar An-Na tidak lagi meneruskan apa yang hendak ia lakukan. Ternyata kali ini An-Na menurutinya. Ia turun dari ‘panggung’ dan bergabung dengan biarawati yang lain sembari melirik tajam ke arah Yoo-Jin. Yoo-Jin membalas tatapannya dengan raut muka penuh kebencian.

Je-Ha menyusul rombongan biarawati keluar dari gereja. Namu ternyata An-Na sudah tidak ada di sana. Salah satu dari mereka kemudian menyampaikan secarik kertas kepada Je-Ha, yang berisi pesan dari An-Na bagi ayahnya sebagai berikut:

“Ayah, sepertinya aku sudah kehilangan jalanku. Ku mohon datang dan jemput aku. Kamu tahu dimana aku berada, kan?”

Yoo-Jin meminta Se-Joon untuk memikirkan dimana kemungkinan An-Na berada. Se-Joon menjawab ia tidak tahu karena sudah 10 tahun berlalu tanpa An-Na bersamanya.

“An-Na berada dalam kondisi yang menyedihkan. Bahkan aku juga ikut sedih…” ujar Yoo-Jin, “… memikirkan bahwa ia percaya ayah seperti ini akan datang untuk mencarinya”

Se-Joon lantas menanyakan apa yang akan dilakukan oleh Yoo-Jin. Setelah meminta ketua Joo untuk keluar dari mobil, Yoo-Jin menjawab, “Di hari itu 14 tahun yang lalu, hari terakhir dimana aku membuatkan sarapan untukmu, jika kamu menendang pintu dan pergi, aku tidak akan memandang rendah dirimu seperti ini.”

Hari yang dimaksud Yoo-Jin adalah hari dimana Hye-Rin meninggal. Se-Joon yang saat itu sepertinya tahu bahwa Yoo-Jin punya andil dalam meninggalnya Hye-Rin berniat untuk pergi. Namun kata-kata Yoo-Jin membuatnya berhenti.

“Jika kamu pergi sekarang, An-Na juga akan mati.”

“Lalu apa aku seharusnya membiarkan An-Na juga mati di tanganmu?” tanya Se-Joon, “Dasar pembunuh.”

“Aku juga berpikir demikian selama ini, bahwa kamu melakukan ini sehingga kamu bisa melindungi An-Na dari amarahku. Kita sama-sama tahu kebenarannya sekarang. Kamu hanya takut An-Na akan menghalangi jalan menuju ambisimu.”, ujar Yoo-Jin.

20

21

22

JSS masih belum bisa melacak keberadaan An-Na, yang saat itu sedang berada di sebuah taman. Ia teringat dulu ia dan ayah ibunya pernah bermain dengan riang di sebuah taman bermain. Di waktu itu, Se-Joon pernah mengatakan pada An-Na, bahwa apabila ia hilang dan tersesat, yang harus ia lakukan adalah tetap menunggu Se-Joon menjemputnya di tempat ia hilang. Meski apapun yang terjadi, ia tetap harus berada di sana hingga Se-Joon datang.

Saat itu, dua orang gadis tiba-tiba lewat dan berfoto selfie di depan An-Na. Foto yang mereka unggah ke sosmed itu kemudian terlacak oleh JSS yang kini mengetahui keberadaan An-Na. Dalam perjalanan menuju TKP, Je-Ha yang on the way ke sana bersama dengan ketua tim VIP Seo mengajukan sebuah permintaan kepadanya. Ternyata permintaannya adalah untuk mendatangi An-Na seorang diri.

Je-Ha tiba di saat An-Na sedang berdoa semoga ayahnya datang menjemputnya. Ia kecewa begitu tahu yang muncul adalah Je-Ha, dengan membawa 2 gelas es krim. Namun Je-Ha berbohong dengan mengatakan mereka bisa menemukan An-Na karena ayahnya yang memberitahukan kepada mereka, sedang ia sendiri tidak bisa datang menjemput An-Na karena sibuk.

“Apa yang dikatakan ayah?” tanya An-Na.

Je-Ha jadi kebingungan menjawabnya. Ia lalu berimprovisasi dan menjawab, “Ia ingin agar kamu menunggu sedikit lebih lama lagi. Dan ketika ia menjadi presiden…”

“Ia tidak marah?” potong An-Na, “Dengan aku yang tiba-tiba muncul begitu saja?”

“Marah? Tentu saja tidak. Ia hanya menjadi sedikit khawatir.” jawab Je-Ha.

Je-Ha lalu memberikan gelas es krim yang ia bawa dan meminta An-Na untuk menghabiskannya sebelum mencair. Ia juga beralasan Se-Joon-lah yang memintanya untuk membelikan es krim tersebut untuk An-Na.

“Jadi.. ayah mengirimkan ini untukku?” tanya An-Na.

“Tentu saja,” jawab Je-Ha.

“Oke. Jika ini berasal dari ayah, aku akan memakannya,” ujar An-Na dengan menahan tangisnya.

25

24

23

Sambil menghabiskan es krimnya, An-Na bercerita bahwa taman ini dulunya adalah taman bermain yang pertama kali ia kunjungi bersama ayahnya. Ia cukup senang bisa datang ke tempat itu, namun tidak bisa membanggakan dirinya ke teman-temannya karena ia tidak bisa menceritakan kepada mereka siapa ayahnya. Ibunya berpesan apabila orang lain tahu ia adalah keluarga Se-Joon, maka orang-orang jahat akan mengincar mereka. Meski An-Na kecil tidak tahu maksud perkataan ibunya, ia tidak mau ada orang jahat yang mencelakai ayahnya, sehingga ia terus berusaha untuk menyimpannya.

Nafas An-Na mendadak terengah-engah. Saat ditanya penyebabnya, An-Na hanya bahwa itu adalah Vana Ilusion / Futile Dream.

“Tapi sekarang aku tahu kebenarannya. Bahwa.. bahwa aku adalah orang jahat itu selama ini.” ujar An-Na sembari memegangi dadanya.

Tiba-tiba An-Na terjatuh tak sadarkan diri. Je-Ha segera menghubungi Seo dan memintanya untuk memanggil ambulan. Tanpa diduga, ternyata An-Na alergi parah terhadap es krim strawberry, es krim yang baru saja diberikan oleh Je-Ha. Saking parahnya, hanya makan sedikit saja ia bisa mati. Seo yang mendengarnya segera menghubungi Je-Ha dan memintanya mengecek denyut nadi An-Na. Karena masih terasa, meski lemah, Seo menginstruksikan Je-Ha untuk memberikan CPR hingga bantuan tiba. Je-Ha pun melakukannya, memberi pernafasan dari mulut ke mulut.

Preview Episode 7

» Sinopsis Ep 7 selengkapnya

Reply