Sinopsis The K2 Episode 5 & Preview Episode 6 (2016)

Di sinopsis The K2 episode sebelumnya, Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) bertemu dengan sosok orang yang ia cari selama ini, Park Gwan-Soo (Kim Kap-Soo). Namun setelah sebuah usaha balas dendam yang gagal, Je-Ha sadar bahwa ia tidak akan bisa seorang diri mengalahkannya untuk saat ini. Akhirnya ia pun menerima tawaran dari Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A) dan ketua Joo, untuk bekerja di JSS dan menjadi bagian dari bodyguard Yoo-Jin dan Jang Se-Joon (Cho Seong-Ha). Je-Ha sendiri mendapat tugas untuk berjaga di rumah yang dijadikan tempat untuk menyekap Ko An-Na (Im Yoona), bersama dengan Jang Mi-Ran (Lee Yea-Eun). Dan di malam pertamanya bertugas, Je-Ha melihat ada seseorang yang sedang bersembunyi di balik atap rumah. Apa yang selanjutnya bakal terjadi di sinopsis drama korea The K2 episode 5 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 5

Melihat ada orang berada di balik atap rumah, Je-Ha mencoba menghubungi Mi-Ran, yang tidak diangkat karena saat itu ia sedang tertidur nyenyak. Dengan ilmu parkour tingkat tinggi, Je-Ha bergegas naik ke atas dan perlahan mendekati sosok yang ada di atas atap. Ia pun lega begitu mengetahui ternyata itu adalah An-Na, sedang makan bersama seekor anak kucing.

Usai makan, An-Na tiba-tiba menangis. Ia terbayang botol obat yang dulu ia berikan kepada ibunya sebelum ia meninggal (mungkin ada yang lupa, ibu An-Na ditemukan meninggal dengan sebotol obat di sampingnya). Je-Ha terdiam melihatnya, dan duduk di tempatnya agar tetap bisa mengawasi An-Na.

An-Na sendiri ternyata bisa berada di sana dengan mengakali CCTV menggunakan selimut listrik. Ia masuk melalui loteng yang ada di sebelah kamarnya dan menyusup keluar melalui jendela kecil yang ada di loteng. Je-Ha yang diam-diam mengikutinya, tersenyum kagum melihat trik selimut listrik yang digunakan An-Na. Saat hendak kembali ke luar, Je-Ha melihat foto An-Na kecil bersama ayah (Se-Joon) dan ibunya. Mereka tampak bahagia di foto tersebut.

Mi-Ran terbangun di pagi hari dan kaget melihat ada telpon masuk dari Je-Ha. Setelah sempat menyesali kebodohannya yang tertidur lelap semalam, ia langsung bersemangat kembali karena ge-er mengira Je-Ha menelponnya karena ingin bertemu. Bergegas ia menuju dapur dan mengambil kotak-kotak bekal, lalu meminta ibunya untuk mengisinya dengan berbagai jenis hidangan. Apes bagi Mi-Ran, setibanya di ruang pengawas, yang ada hanya bodyguard K1, yang sebelumnya menemani Je-Ha bertugas. Mau tidak mau ia pun memberikan makanan-makan tersebut untuknya.

1

2

3

Je-Ha sendiri saat itu sedang mengawasi Gwan-Soo, yang sedang makan usai bermain sepakbola bersama teman-temannya, yang merupakan para pejabat negara. Keluar dari tempat makan, satu persatu dari mereka mendapatkan bingkisan ‘vitamin D’, yang ternyata adalah ‘duit’, alias sogokan dari Gwan-Soo agar terus mendukungnya.

Bodyguard Gwan-Soo lalu menginformasikan mengenai meninggalnya Choi Sun Ja, tante dari Yoo-Jin, yang suaminya memegang sebuah grup keuangan internasional. Karena merasa akan ada hal menarik di sana, Gwan-Soo mengajak bodyguardnya untuk pergi ke sana, meski ia tidak diundang sekali pun.

Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi) sedang membantu Yoo-Jin bersiap untuk pergi ke upacara pemakaman. Dong-Mi memuji bosnya yang belakangan ini rutin mengunjungi dan merawat Sun Ja. Yoo-Jin berdalih bahwa itu hanya show agar ia bisa mendapatkan saham perusahaan JB Group bagian Sun-Ja nantinya. Tapi Dong-Mi tidak percaya karena ia merasa keduanya benar-benar saling memperhatikan.

“Itu semua hanya karena kita bersimpati satu sama lain,” ujar Yoo-Jin. “Tapi aku bahkan tidak punya keponakan sepertiku.”

Setibanya kembali di kantor, ketua Joo langsung mengajak Je-Ha untuk ikut dengannya. Ia menanyakan hasil mata-mata Je-Ha terhadap Gwan-Soo, yang dijawab Je-Ha sesuai dengan yang ia lihat. Ketua Joo menyarankannya agar tidak usah terlalu memforsir banyak energi dan lebih baik menunggu hingga ada kesempatan.

“Saat berhubungan dengan balas dendam, kamu harus menunggu waktu yang tepat,” saran ketua Joo.

4

6

5

Tujuan mereka ternyata adalah lokasi upacara pemakaman Sun-Ja. Setibanya di sana, ketua Joo heran melihat anak buahnya semua bergerombol di luar. Ternyata mereka tidak diperbolehkan masuk oleh pegawai kuil. Hanya sopir dan seorang asisten saja yang diperbolehkan untuk mendampingi tamu undangan, karena sudah ada tim bodyguard dari sebuah perusahaan keamanan yang berjaga di dalam. Ketua Joo dan Je-Ha menjadi was-was mendengarnya, apalagi setelah beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi Gwan-Soo melintasi mereka dan masuk ke dalam area kuil.

Saat Yoo-Jin dan Se-Joon tiba di lokasi, ketua Joo menceritakan kondisinya dan meminta mereka untuk sebaiknya pergi karena akan sulit bagi mereka untuk melindungi keduanya apabila terjadi sesuatu di dalam. Namun Yoo-Jin menolak karena yakin tidak akan ada yang berani mencoba membunuhnya saat ada anggota parlemen di sampingnya. Ketua Joo akhirnya mengutus Je-Ha dan ketua bodyguard unit VIP untuk mendampingi Yoo-Jin dan Se-Joon.

Usai memberikan penghormatan terakhir, keluarga Sun-Ja lalu mengajak Se-Joon dan Yoo-Jin untuk mengikuti mereka menuju ruang pertemuan. Je-Ha yang melihatnya tiba-tiba menghampiri Yoo-Jin. Ia beralasan ada telpon dari rumah bagi Yoo-Jin. Begitu yang lain melangkah pergi meninggalkan mereka berdua, diam-diam Je-Ha menyelipkan sebuah pulpen ke tas Je-Ha, sambil memintanya untuk menekan pulpen tersebut sekali apabila keadaan mulai mencurigakan agar Je-Ha bisa mendengar apa yang terjadi, serta menekan dua kali apabila Yoo-Jin membutuhkan bantuannya.

7

8

Ruang pertemuan keluarga ternyata dijaga dengan ketat. Begitu Yoo-Jin masuk ke dalam, dua orang bodyguard yang berada di dalam langsung menguncinya. Semua anggota keluarga yang lain sudah berada di sana, termasuk Choi Sung-Woon (Lee Jung-Jin), saudara Yoo-Jin, yang menyambutnya dengan santai, namun langsung terdiam kembali karena ditegur oleh pamannya.

Setelah menceritakan tentang alat yang ia berikan pada Yoo-Jin, Je-Ha mengajak rekannya masuk ke mobil sambil menunggu apakah Yoo-Jin nanti menggunakannya.

Kembali ke ruang pertemuan, tujuannya ternyata adalah pembacaan surat warisan dari Sun-Ja. Anggota keluarga yang lain rupanya sudah paham kedekatan Yoo-Jin dengan Sun-Ja sehingga Yoo-Jin sudah mulai mengira akan ada sesuatu yang bakal terjadi. Ternyata benar, setelah tahu bahwa seluruh harta kekayaan Sun-Ja disumbangkan kepada yayasan milik Yoo-Jin, Pyeongchang Scholarship Foundation, terang-terangan mereka menyatakan ketidaksetujuannya dengan Yoo-Jin yang kini menguasai semuanya (yayasan dan perusahaan), terlebih dengan Yoo-Jin yang hendak menjadi ibu negara. Yoo-Jin pun diam-diam mengaktifkan mode streaming suara di pulpen dengan menekannya satu kali agar Je-Ha bisa mendengarnya.

Ayah mertua Sung-Woon lalu menawarkan untuk membeli semua saham perusahaan milik Yoo-Jin dengan harga tiga kali lipat, dengan dalih sebagai kado bagi Sung-Woon. Mendengarnya, Se-Joon mengatakan bahwa itu bukan tawaran yang buruk karena bisa membantunya dalam berkampanye. Namun Yoo-Jin tidak bergeming.

“Bagaimana bisa aku begitu saja menjual saham milik yayasan ketika itu tidak benar-benar menjadi milikku?” ujarnya.

“Apakah ini berat bagimu untuk mengambil keputusan atau kamu memang tidak mau?” ayah mertua Sung-Woon balik bertanya.

Ia lalu melanjutkan bahwa saat ini akan berlangsung rapat darurat di yayasan untuk melakukan penunjukan CEO yang baru menggantikan Yoo-Jin. Yoo-Jin yang geram mendengarnya tanpa sengaja mendorong pulpen dari Je-Ha hingga terlempar ke arah Sung-Woon. Sial baginya, Sung-Woon mengambil pulpen tersebut dan iseng menekannya sekali, sehingga sambungan suara terputus.

Ayah mertua Sung-Woon mengungkapkan bahwa rencana mereka adalah untuk mencopot Yoo-jin dari jabatannya terlebih dahulu, menjual saham miliknya, lalu mengembalikan Yoo-Jin sebagai CEO. Ia juga berjanji akan membantu Se-Joon sebisa mungkin untuk menjadi presiden, sehingga ‘investasi’ mereka selama ini bisa terbayar. Se-Joon mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.

Yoo-Jin lalu mencoba untuk menghubungi perusahaan, namun ibu Sung-Woon mengatakan bahwa tidak ada sinyal di tempat tersebut. Tersenyum puas melihat Yoo-Jin panik, ayah mertua Sung-Woon mengajak Se-Joon untuk bermain baduk sembari menunggu yang terjadi selanjutnya. Lagi-lagi Se-Joon mengiyakan.

9

10

11

Yoo-Jin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

“Aku datang ke sini untuk mengklaim bagianku atas warisan, tapi sepertinya aku malah akan kehilangan yayasan kesayanganku.”, ujarnya. “JB adalah perusahaan yang dibangun oleh ayahku.”

“Ia ayah dari chairman Choi juga…” potong ibu Sung-Woon.

“Tidak. Ayahku, yang biasa makan bersama pegawainya di lantai pabrik, sementara aku dan ibuku menghasilkan uang dari menganyam keranjang sebelum ia membuatmu, sekretaris kecil cantiknya, sebagai selirnya. AyahKU yang membangun perusahaan ini.”

“Sepertinya kamu jadi kurang ajar begitu mendapat tawaran uang dalam jumlah besar, hah?” ujar ibu Sung-Woon sembari menggebrak meja.

Je-Ha khawatir dengan yang terjadi di ruang pertemuan. Ketua tim VIP memintanya untuk tenang karena pasti Yoo-Jin sendiri yang sengaja mematikan streaming suara karena mereka sedang membahas soal uang. Kata-kata tersebut justru membuat Je-Ha makin yakin ada sesuatu yang terjadi karena ia paham ambisi Yoo-Jin bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah dibeli dengan uang. Je-Ha lantas meminta rekannya itu untuk menyalakan mesin dan menunggu di mobil. Tanpa menjelaskan rencananya, Je-Ha membuka bagasi mobil dan mengambil… payung.

Ia lalu melangkah memasuki lantai ruang pertemuan, namun berbelok arah di depan para bodyguard. Di dalam ruang pertemuan, perselisihan masih berlangsung. Ibu Sung-Woon memanasi Yoo-Jin bahwa ayahnya tidak mewariskan perusahaan kepadanya karena ia tidak mencintainya, dan ia tahu sosok mengerikan seperti apa sebenarnya Yoo-Jin. Ibu Sung-woon juga mengatakan bahwa ia yakin Yoo-Jin akan menguasai JB Group untuk dirinya sendiri sebagai jalan untuk membawa suaminya menuju kursi presiden.

“Baiklah, aku memang selir ayahmu, tapi kamulah yang menikah dengan membawa agenda jahat di pikiranmu. Lihatlah baik-baik sosok seperti apa dirimu sekarang. Kamu senang?” ujar ibu Sung-Woon.

Sung-Woon meminta mereka untuk berhenti, sementara Se-Joon senyum-senyum saja melihat kejadian tersebut.

Je-Ha ternyata berbelok arah untuk membakar kertas di dekat alarm kebakaran yang ada di kamar mandi. Usai menyiapkannya, ia tidak membuang waktu untuk menghajar satu demi satu bodyguard yang ada dengan bantuan payung yang ia bawa. Alarm berbunyi tak lama setelah semua bodyguard terkapar tak berdaya. Semua yang ada di dalam ruang pertemuan menjadi panik dan segera berlari keluar.

Yoo-Jin tetap berdiri mematung lantas terduduk di kursinya, masih syok dengan apa yang baru saja terjadi. Je-Ha menghampirinya, lalu membuka payungnya. Yoo-Jin yang kaget kemudian menoleh ke arah Je-Ha.

“Jangan khawatir, tidak akan ada pertemuan darurat di yayasan.” ujar Je-Ha, yang lantas memberikan sapu tangannya pada Yoo-Jin, yang masih tetap membisu.

Mereka berdua melangkah perlahan menuju pintu keluar.

“Aku jelas tidak menekan tombol dua kali, tapi ia tahu bahwa aku membutuhkannya.” ujar Yoo-Jin dalam hati. “Tidak ada seorang pun yang pernah bertindak sebelum aku memerintahkan mereka sebelumnya. Tapi orang ini tidak membutuhkan perintahku atau ijinku. Ya, ia bukanlah anjing pemburu. Ia serigala. Sangat berbahaya. Aku yakin aku tidak akan mampu untuk menjinakkannya.”

Sampai di depan pintu keluar, Je-Ha tiba-tiba memegang punggung Yoo-Jin.

“Tegakkan punggungmu dan angkat wajahmu. Semua musuhmu melihatmu.” ujarnya pada Yoo-Jin.

13

14

15

16

17

Dengan tenang Yoo-Jin melangkah keluar bersama Je-Ha. Saat itu ayah mertua Sung-Won mendapat kabar bahwa pertemuan direksi telah dibatalkan. Beberapa orang bodyguard lantas menghadang langkah keduanya. Tapi suami Sun-Ja kemudian memerintahkan para bodyguard tersebut untuk minggir.

“Semoga bibi beristirahat dalam damai,” ujar Yoo-Jin pada pamannya, sembari pergi meninggalkan mereka.

Tanpa rasa bersalah, Se-Jon menyusul Yoo-Jin. Dengan dingin Yoo-Jin memintanya untuk pulang dengan naik mobil yang berbeda. Se-Jon pun membuang malu dengan tertawa terbahak-bahak. Dari kejauhan Gwan-Soo melihat kejadian tersebut sambil tersenyum puas.

“Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Bukankah itu benar?” tanya Gwan-Soo pada biksu yang menemaninya duduk. Biksu tersebut mengangguk.

“Orang-orang memang terlalu serakah. Bukankah itu benar?” tanya Gwan-Soo lagi, yang kembali dijawab dengan anggukan oleh si biksu.

Dalam perjalanan pulang, Yoo-Jin meminta agar Je-Ha tidak melakukan hal seperti tadi lagi.

“Ya, ya, terserah,” ujar Je-Ha cuek.

Ketua unit VIP jadi sungkan dan ia pun meminta maaf pada Yoo-Jin atas kelakukan Je-Ha. Yoo-Jin juga kesal melihat sikap Je-Ha yang tidak terlalu menghiraukannya. Ia lalu meminta ketua unit VIP untuk membawanya ke Cloud Nine. Setibanya di kantor, direktur JSS (Ko In-Beom) menyambut Yoo-Jin dengan informasi bahwa semua anggota direksi yang tadi datang ke pertemuan sudah ia beri pelajaran dan surat pengunduran diri mereka sudah ada di tangannya. Tanpa berkata apa-apa Yoo-Jin melangkah mendekat ke arah direktur JSS, yang secara reflek memundurkan badannya karena takut. Ia pun jadi lega karena Yoo-Jin ternyata memuji tindakannya.

Bersama dengan direktur JSS dan ketua Joo, Yoo-Jin masuk ke lift untuk menuju Cloud Nine. Je-Ha hendak ikut serta, namun dicegah oleh ketua unit VIP. Ketua Joo juga memberi tanda agar Je-Ha tidak ikut dengan mereka. Dengan agak heran Je-Ha pun menurutinya.

18

19

20

Bu dokter JSS dengan bersemangat menceritakan mengenai aksi Je-Ha pada Mi-Ran, yang juga ikut bersemangat mendengarkannya. Master Song (Song Kyung-chu) yang cemburu dengan perhatian bu dokter pada Je-Ha terus mengikutinya hingga bu dokter jengah dan mengusirnya pergi. Saat melangkah dengan gontai, master Song berpapasan dengan Je-Ha. Tanpa memberi kesempatan bagi Je-Ha untuk menolak, ia mengajaknya untuk pergi makan.

Ternyata ada udang di balik kebaikan master Song. Saat kembali ke kantor, ia meminta Je-Ha untuk berpura-pura kalah saat berkelahi dengannya. Dengan agak canggung Je-Ha menurutinya. Master Song lantas membanting Je-Ha. Namun bu dokter bukannya kagum, ia malah membela Je-Ha dan memukuli kepala master Song. Akibatnya kepalanya berdarah terkena pukulan tas bu dokter 😀

Setelah tahu apa yang terjadi, bu dokter pun memarahi mereka berdua. Mereka lalu berbalik meminta maaf pada bu dokter. Saat master Song melangkah pergi, bu dokter menyusulnya. Meski tidak berjalan mulus, ternyata rencana master Song untuk menarik perhatian bu dokter berjalan lancar. Hubungannya dengan Je-Ha pun menjadi akrab.

Malam harinya Je-Ha kembali bertugas menjaga rumah tempat An-Na disekap. Karena sebelumya ia gemas melihat An-Na yang gagal membuat ramen, kali ini diam-diam ia menyiapkan semua perlengkapan dan bahan-bahan membuat ramen di dapur. An-Na yang melihatnya pun jadi girang. Saat sedang asyik menyiapkan ramen sambil bergoyang, An-Na tiba-tiba sadar bahwa aktivitasnya terekam di CCTV. Ia lalu mengambil kursi dan menutupi kamera CCTV dengan semacam plastik. Je-Ha jadi agak panik karena tidak bisa lagi mengawasi An-Na. Untunglah masih ada kamera CCTV di sudut lain yang mengarah ke arah dapur tempat An-Na berada.

Melihat An-Na yang menyantap ramen dengan penuh kenikmatan seperti anak kecil membuat Je-Ha terpana. Usai An-Na kembali ke kamarnya, Je-Ha keluar untuk mengambil udara segar dan merokok sejenak. Tiba-tiba Mi-Ran datang menghampirinya dan mengajak ngobrol. Mi-Ran yang ge-er meminta maaf karena tidak menjawab telpon Je-Ha sebelumnya. Ia jadi salah tingkah sendiri saat Je-Ha menjawab bahwa ia seharusnya mengangkatnya karena itu panggilan kerja. Je-Ha lantas menanyakan mengenai An-Na. Sambil memposisikan diri sebagai pihak yang teraniaya karena harus mengurusi An-Na di Spanyol, Mi-Ran menceritakan semuanya tentang An-Na, termasuk bagaimana ia sangat merindukan sosok ayahnya.

“Menyedihkan sekali,” ujar Je-Ha prihatin.

“Ya, kau kasihan padaku, kan? jawab Mi-Ran dengan pedenya 😀

Tiba-tiba Mi-Ran mendapat panggilan telepon dari pusat yang menginstruksikannya untuk menggantikan Je-Ha berjaga karena Je-Ha dipanggil untuk datang ke kantor. Sesaat kemudian, Je-Ha mendapat telpon yang memintanya untuk datang ke lantai 9 di kantor. Mendengarnya membuat Mi-Ran kaget sekaligus kagum karena belum apa-apa Je-Ha sudah mendapat akses ke Cloud Nine.

21

22

23

Dengan diantar oleh bodyguard lain yang menjemputnya, Je-Ha tiba di kantor. Ia sedikit heran dengan bodyguard-bodyguard di sana yang membungkuk memberi hormat kepadanya saat ia melintas. Begitu memasuki lift dan menekan tombol lantai 9, tiba-tiba muncul pesan di monitor yang memintanya untuk memindai kartu identitasnya. Je-Ha melakukannya. Lift kemudian bergerak, tidak ke atas, melainkan justru turun ke bawah tanah!

Setelah akhirnya lift berhenti dan pintu terbuka, Je-Ha terbengong-bengong melihat ada ruangan rahasia di bawah tanah, yang sekilas tampak canggih.

Preview Episode 6

» Sinopsis Ep 6 selengkapnya

One Response - Add Comment

Reply