Sinopsis The K2 Episode 2 & Preview Episode 3 (2016)

Di sinopsis drama korea The K2 episode sebelumnya, Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) tidak sengaja melihat perselingkuhan Jang Se-Joon (Cho Seong-Ha), seorang anggota parlemen yang kini menjadi kandidat presiden. Meski saat itu ia berhasil membantu pihak keamananan mencegah terjaidnya aksi kriminal yang kemungkinan dilakukan oleh kandidat presiden kompetitor Se-Joon, tetap saja Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A), istri Se-Joon yang sebenarnya di belakang layar mengatur segala sesuatunya, memerintahkan perusahaan keamanan JSS untuk mencari dan menangkap Je-Ha. Usaha mereka gagal karena Je-Ha bukan orang biasa, melainkan mantan tentara bayaran dengan kemampuan bela diri mumpuni dan track record yang mentereng. Sementara itu, nun jauh di Spanyol, ada seorang wanita bernama Ko An-Na (Im Yoona), anak haram dari Se-Joon dari seorang bintang ternama, yang sengaja disembunyikan di sana dan kini sedang berusaha untuk kabur. Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis The K2 episode 2 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 2

Masa kecil yang kelam dimana An-Na dulu menjadi sorotan media saat ibunya meninggal membuat An-Na menjadi parno terhadap kilatan cahaya (selaphobia, ralat jika salah). Belum ditambah dengan penyidik polisi saat itu yang bersikap keras kepadanya, meski ia hanya seorang anak kecil, menambah ketakutannya terhadap orang yang tidak dikenal (socialphobia, ralat juga jika salah). Ia masih tetap berdiri dengan tubuh gemetar saat si desainer fashion yang terpesona dengan parasnya memfoto dirinya. Beberapa saat kemudian seorang nenek membantunya melangkah minggir ke trotoar dan An-Na pun melanjutkan langkahnya.

Je-Ha tiba di sebuah halte bus. Melihat ada polisi sedang melakukan pemeriksaan, ia mengambil seragam tentara milik seorang tentara yang sedang berganti baju di toilet dan menggunakannya agar bisa lewat tanpa dicurigai. Sementara itu, Yoo-Jin dengan dingin menyindir Park, direktur JSS (Ko In-Beom), yang ia anggap tidak mampu melakukan tugasnya (menangkap Je-Ha). Kepala bodyguard Jo lantas mengungkapkan pendapatnya bahwa mereka tidak akan mampu menangkap Je-Ha. Ia membeberkan pada Yoo-Jin siapa Je-Ha sebenarnya, termasuk bahwa ia adalah anggota terbaik dari Blackstone, organisasi tentara bayaran ternama

Yoo-Jin lalu curiga jangan-jangan ada seseorang yang menyewa jasa Je-Ha. Kepala bodyguard membantah karena saat ini ia sedang dalam pelarian karena sebuah insiden di Blackstone. Bahkan pihak interpol pun mencarinya karena adanya rumor ia sempat bergabung dengan ISIS. Yoo-Jin akhirnya menyimpulkan bahwa JSS tidak mampu untuk menangani Je-Ha. Direktur Park sempat mencoba meyakinkannya kembali bahwa mereka bisa menanganinya, tapi saat ditanya balik keberadaan Je-Ha saat ini ia hanya bisa terdiam. Yoo-Jin pun menyerahkan urusan Je-Ha pada sekretarisnya, Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi), sementara pihak JSS diminta untuk fokus saja menjaga Se-Joon.

Sepeninggal direktur Park dan kepala bodyguard, Yoo-Jin menatap kepergian suaminya dari balik jendela dengan tatapan tidak percaya. Ia menganggapnya sebagai orang yang kurang ajar karena hingga sekarang sama sekali tidak mengucapkan maaf kepadanya atas kejadian semalam. Dong-Mi menanyakan apakah Yoo-Jin kecewa dengan adanya kejadian tersebut. Yoo-Jin tidak menjawabnya, sebaliknya, ia mengingatkan Dong-Mi agar berhati-hati terhadap si pemasang banner alias Je-Ha. Dong-Mi mengiyakan, lalu melanjutkan dengan memberi info tentang An-Na, yang fotonya kini beredar di dunia maya. Masalahnya, yang menyebarkan foto tersebut adalah si desainer fashion, Jean-Paul Lafelt, sehingga media dan juga netizen kini berlomba untuk mendapatkan identitas An-Na. Yoo-Jin menjadi puyeng mengetahui hal tersebut.

Dong-Mi memberikan usulan untuk melenyapkan An-Na melalui ‘kecelakaan’. Yoo-Jin emosi mendengarnya karena untuk saat ini hanya An-Na yang menjadi kartunya untuk mengontrol Se-Joon. Setelah berpikir sejenak, Yoo-Jin memberi perintah pada Dong-Mi untuk memulangkan An-Na ke Korea, karena menurutnya akan lebih mudah menyembunyikannya dari publik apabila ia berada di Korea ketimbang di Spanyol. Sempat ragu takut keberadaan An-Na di Korea akan berpengaruh terhadap kesehatan mental Yoo-Jin, Dong-Mi akhirnya menuruti perintah bosnya itu.

adegan_thek2_2a

Dalam perjalanan, Se-Joon minta bicara empat mata dengan kepala bodyguard Jo. Meski tahu kepala bodyguard Jo adalah anak buah Yoo-Jin, Se-Joon memintanya untuk menjaga An-Na karena ia percaya kepadanya. Lagipula, Se-Joon juga berniat untuk menunjuk Jo menjadi kepala keamanan di Blue House apabila nanti ia terpilih menjadi presiden. Terakhir, Se-Joon berpesan pada Jo untuk menyampaikan kata-katanya pada Yoo-Jin.

“Jika sandera mati, maka begitu juga orang yang menyanderanya. Jika ada sesuatu yang terjadi pada An-Na, segala yang sudah dilakukan Choi Yoo-Jin juga akan hancur di hadapannya.”

Jo memastikan ia akan menyampaikan pesan tersebut.

Direktur Park mendatangi rekannya di kepolisian untuk membantunya mencari Je-Ha. Ia sempat menolak dan meminta direktur Park untuk melalui jalur resmi. Tapi direktur Park memberitahunya bahwa sebentar lagi Se-Joon, yang saat ini merupakan calon independen, akan bergabung dengan sebuah parpol dan dengan popularitasnya saat ini, kemungkinan besar ia akan terpilih menjadi presiden. Mendengarnya, rekannya langsung bersemangat untuk membantunya dan memberi akses ke sistem polisi pada JSS. Je-Ha sendiri saat itu sedang bersama dengan sepasang suami istri yang baru saja ia bantu mereparasi mobilnya. Ia berharap diizinkan untuk tinggal sementara waktu di tempat mereka, namun si suami dengan kasar hanya memperbolehkannya tinggal semalam saja.

adegan_thek2_2b

Sementara itu, anak buah Dong-Mi sedang dalam perjalanan di pesawat bersama dengan An-Na. An-Na, yang pura-pura tertidur, sempat teringat kembali masa lalunya, dimana ternyata Yoo-Jin yang dulu membawanya ke Spanyol. Diam-diam An-Na meneteskan air matanya mengingat itu semua. Sedangkan di markas JSS, salah seorang staf berhasil menemukan jejak Je-Ha di halte bus. Direktur Park girang mengetahui hal tersebut.

Kembali ke Je-Ha, sambil sayup-sayup terdengar suara tangisan istri orang yang ia tumpangi barusan, si suami membawakannya makanan sembari meminta maaf karena tadi bersikap kasar kepadanya. Malam harinya, ia tertidur dan memimpikan kembali kejadian di masa lalunya, dimana dalam sebuah misi yang ia pimpin ia mengambil keputusan yang salah dan mengakibatkan semua rekan-rekannya terbunuh. Ia pun terbangun karena ‘mimpi buruk’ itu dan kembali mendengar suara tangis si istri. Si suami, yang saat itu sedang mabuk-mabukan, lantas menceritakan bahwa hari ini adalah peringatan hari meninggalnya anak mereka.

Je-Ha menyusul si suami yang berjalan menuju kebun. Entah pengaruh mabuk atau bukan, si suami memintanya untuk menebang semua pohon buah yang ada di sana, meski baginya itu sudah seperti anaknya. Dengan sedikit ragu Je-Ha mengiyakan permintaannya.

adegan_thek2_2c

Esok harinya, sang suami mendengar suara mesin pemotong sedang bekerja. Mengira Je-Ha sedang melakukan yang ia minta, ia pun bergegas datang ke kebun. Ternyata tidak, Je-Ha justru merapikan kebun tersebut dan membersihkan rumput-rumput liar yang ada. Sang suami menangis melihatnya dan lantas ikut bekerja bersamanya. Tak lama giliran sang istri yang datang dan ia pun meneteskan air mata melihat apa yang sedang mereka lakukan bersama.

Di markas JSS, setelah lembur semalaman, salah seorang staf akhirnya mengabarkan bahwa mereka sudah berhasil menemukan Je-Ha. Entah utusan direktur Park atau bukan, yang jelas, sesaat setelah Je-Ha pergi untuk membeli mata pisau pemotong yang baru, seseorang berbaju serba hitam mendatangi rumah pasangan suami istri itu. Untunglah Je-Ha kembali tepat di saat utusan dari JSS hendak membakar pasangan suami istri tersebut karena tidak mau mengaku kenal dengan Je-Ha.

Pertarungan keduanya pun dimulai. Dengan berbekal mata pisau yang baru ia beli, Je-Ha mencoba mengimbangi belati panjang si pria berbaju hitam. Dan seperti sebelumnya, kali ini ia pun berhasil unggul. Setelah mengikatnya, Je-Ha berniat untuk menginterogasi si pembunuh bayaran itu, yang mengatakan bahwa perintah yang ia dapat tidak hanya untuk membunuh Je-Ha, melainkan juga orang-orang yang telah membantu Je-Ha. Setelah diancam dengan palu, akhirnya si pembunuh juga mengakui siapa yang telah memberikan perintah kepadanya: Yoo-Jin.

adegan_thek2_2d

An-Na tiba di kediaman Yoo-Jin. Ia emosi begitu melihat Yoo-Jin dan mengatakan bahwa ia ingat semuanya, tentang ibunya yang sebenarnya tidak melakukan bunuh diri. Dengan dingin Yoo-Jin mendekatinya.

“Itu sebabnya..,” ujar Yoo-Jin, “kamu seharusnya tetap menjadi seorang biarawati.”

Ia lantas memerintahkan anak buah Dong-Mi untuk membawa An-Na ke kamarnya di lantai atas. Sepeninggal An-Na, Yoo-Jin mengambil segelas anggur. Tiba-tiba Je-Ha muncul di hadapannya. Meski sempat menjatuhkan gelas anggur tersebut karena kaget, Yoo-Jin yang langsung menyadari bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah si pemasang banner kembali bersikap tenang dan menyambutnya.

“Aku datang hanya untuk memberikan peringatan,” ucap Je-Ha. Ia melanjutkan, “Tinggalkan aku dan orang-orang di sekelilingku sendiri.”

Je-Ha menambahkan bahwa jika sampai ia datang lagi untuk kedua kalinya, maka Yoo-Jin akan mati.

adegan_thek2_2e

Tanpa disangka Je-Ha, ternyata dari awal semua itu adalah jebakan yang sudah diatur oleh Yoo-Jin. Ia sudah mengira Je-Ha akan datang sehingga tak lama kemudian Je-Ha sudah dikepung oleh orang-orang JSS.

“Maaf. Kamu hanya berada di tempat dan waktu yang salah dan melihat sesuatu yang tidak seharusnya kamu lihat. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.” ujar Yoo-Jin.

“Apakah ini caramu mencintai suami yang berselingkuh darimu?” tanya Je-Ha.

“Cinta? Bagaimana mungkin kamu percaya aku bisa mencintai orang tersebut. Sungguh naif.” jawab Yoo-Jin.

Ia kemudian melanjutkan dengan bertanya mengapa Je-Ha sampai datang ke tempatnya, karena sebagai buronan, ia bisa saja kembali melanjutkan pelariannya. Je-Ha menjawab bahwa ia tidak bisa membiarkan orang yang tidak bersalah mati karenanya. Yoo-Jin seolah tidak percaya mendengarnya, terlebih mengetahui bahwa suami istri di perkebunan tersebut baru Je-Ha kenal kemarin.

“Sayang sekali. Kamu tampak seperti orang baik. Jika kita bertemu di waktu yang baik dalam kondisi yang baik, kita bisa menjadi teman baik.” ujar Yoo-Jin.

Je-Ha kembali meminta Yoo-Jin untuk tidak menyentuh mereka, namun Yoo-Jin tidak menghiraukannya. Ia meminta para bodyguardnya untuk membawa Je-Ha pergi dan menghabisinya. Saat Je-Ha dibawa ke mobil, tiba-tiba sebuah mobil patroli polisi datang. Ternyata mereka mencari keberadaan motor pengantar paket yang sebelumnya dicuri oleh Je-Ha dan ia gunakan untuk menuju ke rumah Yoo-Jin.

Para bodyguard terpaksa menunggu hingga polisi pergi. Kesempatan itu digunakan Je-Ha untuk melepaskan ikatannya dan melumpuhkan bodyguard yang hendak membawanya pergi. Salah satu polisi sempat mendengar suara ribut di garasi mobil sehingga ia menjadi curiga. Namun bodyguard yang berjaga di depan rumah berdalih bahwa itu adalah suara tikus, sambil memberitahu bodyguard yang lain bahwa Je-Ha kabur.

Beberapa orang bodyguard pun masuk ke garasi untuk berusaha menangkap Je-Ha. Pertarungan yang tidak imbang berlangsung sengit. Sementara polisi yang berada di luar meyakini bahwa jangan-jangan mereka harus membongkar seluruh rumah hanya untuk menangkap seekor tikus 😀 Kembali ke dalam, meski sempat terkena pistol listrik, Je-Ha masih bisa tersadar dan mengalahkan semua bodyguard yang menyerangnya.

adegan_thek2_2f

Setelah mengambil pistol milik salah seorang bodyguard, Je-Ha masuk ke dalam rumah dan mencegat Yoo-Jin yang sedang turun dari tangga.

“Ini adalah pertemuan kedua yang aku bicarakan tadi.” ujar Je-Ha sembari menodongkan pistolnya ke kepala Yoo-Jin.

Tiba-tiba An-Na keluar dari kamarnya dan melihat kejadian tersebut.

“Tembak dia,” teriaknya.

Mendengar suara tersebut, Je-Ha menoleh ke arahnya dan teringat kembali pertemuan dengan An-Na beberapa bulan lalu di Spanyol.

“Tembak dia! Tembak dia! Tembak dia!” teriak An-Na kembali.

Preview Episode 3

» Sinopsis Ep 3 selengkapnya

Reply