Sinopsis The K2 Episode 12 & Preview Episode 13 (29 Oktober 2016)

Di sinopsis The K2 episode sebelumnya, meski gagal membunuh Park Gwan-Soo (Kim Kap-Soo) karena PTSD Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) kambuh, tapi sebagai gantinya ia bisa menjalin hubungan dengan Gwan-Soo. Gwan-Soo juga membebaskan Jang Se-Joon (Cho Seong-Ha) dari kantor kejaksaan serta mengundangnya masuk ke partainya. Ko An-Na (Im Yoona) menyambut kedatangan Je-Ha dengan bahagia. Sementara itu, Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A) kembali melancarkan sesuatu dengan bantuan sekretaris Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi), yang ia minta agar jangan sampai ketahuan Je-Ha. Apakah itu? Dan apa yang selanjutnya bakal terjadi di sinopsis drama korea The K2 episode 12 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 12

Se-Joon akhirnya masuk ke partai Gwan-Soo. Dalam upacara resmi penyambutan, Gwan-Soo dengan senang memberikan selamat pada Se-Joon.

“Well, aku tidak tahu. Ini tidak akan berakhir sampai salah satu dari kita mati. Mari kita lihat apa yang akan terjadi nanti di saat waktu itu tiba,” bisik Gwan-Soo sambil tetap terlihat sumringah.

Se-Joo hanya melempar senyum untuk meresponnya. Gwan-Soo lantas mengangkat tangan Se-Joon dan kembali mengucapkan selamat.

“Terima kasih. Aku akan melakukan yang terbaik,” ujar Se-Joon pada orang-orang yang hadir di sana, “Mohon bantu aku untuk menjadi yang terbaik yang aku bisa.”

Di sebuah pemakaman, Anna tiba bersama dengan Choi Sung-Won(Lee Jung-Jin) dan dikawal oleh Jang Mi-Ran (Lee Yea-Eun) dan Sung-gyu (Lee Jae-woo). Sudah ada awak media menunggunya di sana. Juga ada yang memberikan sebuket bunga pada Anna.

Melihat penampilan Anna, dua orang wartawan kagum dengan sosoknya yang sangat mirip dengan ibunya, Ume Hye Rin. Bahkan mereka yakin orang-orang pasti sulit untuk membedakannya. Mereka juga menyinggung kondisi makam Ume yang tidak terawat, padahal Choi Yoo-Jin (Song Yun-ah) mengaku sebagai temannya.

Anna melangkah perlahan mendekati makam ibunya.

“Anna, kamu harus mengucapkan salam pada ibumu. Letakkan dulu bunganya di makam.”, ujar Sung-Won.

Anna meletakkan buket bunga yang ia bawa lalu duduk di samping makam ibunya. Seraya memegang tanah kuburan ibunya, ia mulai meneteskan air matanya.

“Ibu, maaf butuh waktu lama untukku berada di sini. Aku ingin datang lebih cepat tapi aku tidak bisa,” ujar Anna sembari terisak.

“Ibu,” lanjut Anna, “Ayah tidak akan datang, jadi jangan menunggunya. Jadi, beristirahatlah dengan nyaman tanpa obat kali ini.”

Seorang wartawan yang mendengar ucapan Anna barusan menjadi penasaran. Sung-Won yang mengetahuinya segera menghampiri Anna dan berkata, “Anna, ibumu mungkin sudah bertemu dengan ayahmu di surga.”

Kata-katanya sepertinya berhasil membuat wartawan tersebut hilang kecurigaannya. Ponsel Sung-Won tiba-tiba berbunyi. Ia pun memberi tanda pada Mi-Ran untuk mengawasi Anna sementara ia pergi untuk menerima telpon tersebut.

Adalah Ms. Ji Yeon yang menelpon (siapa ini ya?). Ia memberitahu ada informasi menarik mengenai Ume Hye Rin. Tidak diketahui informasi apa yang dimaksud, hanya Sung-Won sempat menanyakan tentang keberadaan ‘benda’ itu sebelum ia menutup telponnya. Dengan tersenyum puas ia menoleh ke arah Anna.

Je-Ha menceritakan apa yang terjadi saat misi Gwan-Soo pada master Song (Song Kyung-Cheol) walau tidak semuanya. Master Song menertawakannya karena Je-Ha mengaku hanya bersembunyi di ruang rahasia Gwan-Soo dan membuat semua orang berpikir ia sudah menghajar Gwan-Soo habis-habisan. Je-Ha lantas menanyakan tentang bagaimana Sung-Won bisa mewarisi JB Group. Ternyata, sebenarnya Yoo-Jin adalah pewaris JB Group yang didukung banyak pihak karena memang punya kemampuan untuk itu. Tapi, gara-gara menikahi Se-Joon, ayahnya yang tidak menyetujui hal itu akhirnya memutuskan untuk menyerahkan JB Group pada Sung-Won. Selain itu, Yoo-Jin juga menolak pria-pria pilihan ayahnya, sebaliknya Sung-Won menurut begitu saja pilihan ayahnya.

Masalahnya, Sung-Won sebenarnya lebih agresif dalam bertindak dibanding Yoo-Jin, hanya saja banyak yang tidak menyadarinya.

“Tidak ada yang bisa menebak apa yang dipikirkan orang itu,” tegas master Song.

“Tapi bagaimana kamu bisa tahu semua ini?” tanya Je-Ha.

“Kamu tidak tahu kalau aku veteran JSS tertua di sini, kan? Aku dulunya bodyguard JB Group. Dan perusahaan JSS pada dasarnya dimulai dari bodyguard eksklusif JB Group. Jadi wajar saja jika aku tahu semuanya tentang keluarga itu.”

Sung-Won dan Anna datang ke sebuah penjara. Sung-Won menenangkan Anna, mengatakan ada dirinya yang menemani. Di dalam, mereka bertemu dengan seorang tahanan pria. Tahanan tersebut meminta rokok. Sung-Won hendak memberikannya, namun di saat-saat terakhir menariknya kembali.

“Baiklah. Katakan yang butuh kamu katakan secepatnya.”, ujarnya pada si tahanan.

Dengan terkekeh-kekeh tahanan tersebut menatap ke arah Anna dan berkata, “Kamu tidak ingat kepadaku, nona? Kita bertemu di malam itu. Di dalam kamar ibumu. Oh, mungkin kamu tidak ingat karena waktu itu aku menyinari wajahmu?”

Anna akhirnya mengingatnya. Nafasnya mulai memburu.

“Kamu ingat aku sekarang?” tanya si tahanan. “Pencurian adalah spesialisasiku. Dan aku membobol masuk ke rumahmu malam itu karena aku berpikir penghuninya sudah tidur. Aku tidak menyangka bahwa itu ternyata rumah Ume Hye Rin, si bintang film. Aku mulai ‘bekerja’ karena ku pikir semua sedang tidur, tapi kemudian aku merasa seseorang diam-diam mendatangi kamar tanpa membuat suara sama sekali. Jadi aku segera bersembunyi, membayangkan bahwa itu adalah pencuri sepertiku. Tapi ternyata bukan itu. Mereka lalu mengendap-endap masuk ke kamar. Lalu, Ume Hye Rin, yang berada di sana… Aku tidak yakin apakah baik untuk menceritakan hal ini ke anaknya… karena ia akan menjadi trauma.”

Sung-Won menoleh ke arah Anna. Anna yang sudah penasaran memintanya untuk melanjutkan.

“Tentu. Siapkan dirimu kalau begitu. Orang itu mengingkat Ume Hye Rin dan menyuntikkan jarum di lehernya.”

“Aku benar. Aku mengingatnya dengan benar.” gumam Anna.

“Aku tahu di saat itu aku sedang menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya aku saksikan,” ujar si tahanan.

“Apakah kamu melihat wajah orang yang menyuntik lehernya?” tanya Sung-Won.

Ia mengiyakan, bahkan mengaku mungkin mengingatnya. Setelah Sung-Won memastikan untuk membantu membereskan dua dari tiga tuduhan yang sedang ia hadapi, ia pun meralat perkataannya sebelumnya.

“Aku mengingatnya,” jawab si tahanan tegas.

Sung-Won hendak memberikan foto pada si tahanan agar ia menunjukkan orang yang dimaksud, tapi ia mengatakan tidak perlu karena ia tahu persis siapa orangnya. Dan yang ia maksud adalah orang yang beberapa waktu lalu berada di samping Anna di sebuah acara interview: Choi Yoo-Jin.

Sung-Won kaget mendengarnya, namun kemudian diam-diam tersenyum puas melihat raut muka Anna yang berubah menjadi penuh amarah.

“Dapatkah kamu bersaksi tentang ini di pengadilan?” tanya Sung-Won pada si tahanan.

“Mendapatkan pengurangan hukumanku adalah hal yang bagus, tapi aku harus mempertimbangkan orang-orang yang akan mengejarku setelah itu,” jawab si tahanan.

Di luar penjara, masih di dalam mobil, Anna mempertanyakan kenapa mereka tidak bisa melaporkan Choi Yoo Jin sekarang juga.

“Jika kita melakukan itu sekarang, ayahmu harus mundur dari kandidat presiden. Kamu baik-baik saja dengan itu?” ucap Sung-Won.

“Aku tidak peduli,” respon Anna.

“Anna, akan adil bagi saudaraku yang melakukan kejahatan untuk dihukum. Dan kamu juga akan bebas jika ayahmu menjadi presiden. Jadi kita harus memastikan ayahmu tidak terlibat sama sekali dalam insiden ini. Saudaraku adalah penyerang dan ayahmu adalah korban. Kita harus memastikan hal itu ke publik sebelum membongkar kejahatannya. Kamu tahu maksudku? Jadi ayo kita rubah pendapat orang lain terlebih dahulu. Ini mungkin tidak akan makan banyak waktu, hanya beberapa hari saja.”

“Bagaimana kita akan melakukannya?” tanya Anna.

“Aku punya cara. Percaya saja padaku,” jawab Sung-Won sambil tertawa. “Oh ya, kamu jelas tidak boleh memberitahu Je-Ha tentang ini, oke?”

“Kenapa tidak?”

“Kalau ia tahu tentang hal ini, maka rencana kita akan berantakan.”

“Apa? Je-Ha sudah pasti tidak akan memberitahu Choi Yoo-Jin.”

“Oh, sayangku Anna yang polos. Ia mencintaimu, tapi saat ini ia berada di pihak Choi Yoo Jin.” jelas Sung-Won.

Ia lalu mengajak Anna berangkat ke salon sebelum Je-Ha tiba di sana. Anna hanya terdiam.

Beberapa waktu kemudian, Je-Ha tiba di salon, tepat di saat Anna selesai didandani. Dengan nada khawatir, Je-Ha menanyakan mengapa Anna sebelumnya tidak mengangkat telponnya. Anna mengaku tadi lupa waktu karena keasyikan didandani. Melihat Je-Ha yang perhatian pada Anna, perias lalu memaksa untuk mendandani Je-Ha sekalian agar terlihat keren dan pantas mendampingi Anna. Je-Ha sempat menolak, tapi Anna ikut memaksanya.

Tak lama, dengan penampilan yang sudah jauh lebih keren, Je-Ha berjalan bersama Anna dan bertemu dengan Sung-Won dan Mi-Ran. Sung-Won menanyakan apakah Anna sudah minum obat yang ia berikan. Anna mengiyakan. Je-Ha terlihat kaget mendengar hal itu.

Mereka kemudian menuju tempat persiapan fashion show, menemui perancang busana, yang merasa senang Anna menjadi modelnya. Anna mengatakan ia khawatir karena belum pernah berjalan di atas catwalk sebelumnya, tapi si perancang busana dan asistenya menguatkannya dan memintanya untuk berjalan biasa saja. Namun demikian, Anna tetap gugup. Ia pun meminta tambahan obat pada Sung-Won. Sung-Won tidak keberatan dan memberikannya pada Anna. Je-Ha yang khawatir segera merebut obat tersebut dan meminta Anna mengikutinya.

“Anna, jika kamu minum obat ini lagi, berarti sudah tiga kali untuk hari ini. Aku sudah mengeceknya dan mereka tidak bagus untukmu apabila dikonsumsi terlalu banyak. Dan kamu juga akan jadi tergantung pada mereka.” nasehat Je-Ha.

“Biarkan aku melakukan ini, hanya hari ini saja. Lihat. Semua orang berkumpul untuk ibuku. Ada banyak orang yang mengingat ibuku.” pinta Anna.

“Tapi tetap saja..”

“Ini tribut untuknya. Aku benar-benar ingin melakukannya dengan baik.” potong Anna. “Jadi bantu aku melakukan itu, oke?”

Je-Ha mau tidak mau memberikan obat itu pada Anna, meski hatinya tetap enggan. Sesaat kemudian, perancang busana datang dan memintanya untuk segera bersiap-siap.

Je-Ha lantas mengkonfrontasi Sung-Won mengenai obat-obatan tersebut. Tapi Sung-Won berdalih hal yang sama dengan yang diucapkan oleh Anna sebelumnya. Je-Ha tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Tak lama, Mi-Ran datang menghampiri Je-Ha dan memberikan sebotol air mineral. Ia mengatakan bahwa Anna yang menitipkan itu kepadanya karena merasa hari ini Je-Ha kurang minum. Je-Ha menerimanya dan melihat ada kertas tertempel di botol tersebut.

Je-Ha, jangan khawatir. Aku akan melakukan langkah yang menakjubkan di catwalk.

Je-Ha tersenyum membacanya dan meminum air tersebut. Saat itulah Anna muncul dengan pakaian serba putih, bagai malaikat. Si perancang busana tiba-tiba muncul membawakan gelang yang kelupaan ia kenakan di tangan Anna sebelumnya.

Anna maju ke panggung catwalk yang didesain seperti sungai. Ia memberikan kata sambutannya sebagai anak dari Ume Hye Rin, sekaligus berterima kasih pada semua orang yang sudah datang untuk mengenang ibunya. Semua orang bertepuk tangan dengan meriah.

“Kerja bagus,” sambut Je-Ha di pinggir panggung.

Asisten desainer memberitahu Anna untuk berganti baju. Meski dengan rancangan yang berbeda, Anna kembali tampil dengan baju serba putih. Kali ini lengkap dengan aksesoris sayap di punggungnya. Wajahnya terlihat gugup. Tanpa bisa dicegah oleh Je-Ha, ia kembali meminum obat dari Sung-Won, dan sepertinya beberapa butir sekaligus.

Anna mulai berjalan di catwalk. Langkahnya terlihat terseok-seok, seperti orang mabuk. Wajahnya seperti orang yang hendak tak sadarkan diri. Diam-diam Sung-Won memberi tanda pada anak buahnya, yang kemudian menyorotkan lampu tepat ke wajah Anna. Anna langsung terjatuh begitu sinar tersebut mengenai wajahnya. Dengan cepat Je-Ha berlari dan membalikkan wajah Anna ke arahnya, sehingga tidak lagi terkena sorotan sinar lampu.

Esok harinya, Yoo-Jin membaca berita mengenai acara fashion show. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat penampakan Je-Ha yang keren di berita tersebut. Dong-Mi kemudian masuk dan memberitahukan ada sebuah artikel online tentang Anna yang memberitakan bahwa Anna adalah anak dari Choi Yoo Jin yang berselingkuh dengan sutradara Go Joon Ho. Masih menurut artikel tersebut, Ume Hye Rin yang mengetahui hal itu kembali ke Korea untuk memeras Yoo-Jin demi uang dan buntut-buntutnya Yoo-Jin membunuh Ume Hye Rin. Sejak kejadian itu, Yoo-Jin dan Se-Joon hanya berpura-pura untuk menjadi pasangan di depan publik, sementara Anna kini dirawat oleh pamannya, chairman JB Group.

“Aku bahkan tidak tahan mendengarnya karena itu benar-benar kasar. Dan Se-Joon melenggang begitu saja dari hal ini,” respon Yoo-Jin gusar.

Dong-Mi lalu menyarankan untuk membatalkan kunjungan ke sebuah acara sosial, namun Yoo-Jin berniat untuk tetap datang karena merasa akan terlihat lebih menyedihkan jika ia tidak datang setelah adanya artikel tersebut.

Anna mempertanyakan tentang artikel tersebut pada Sung-Won yang telah menyebarkannya secara viral karena di artikel tersebut ibu Anna terlihat sebagai orang yang kurang baik. Sung-Won menjawab bahwa ia sengaja untuk melakukan itu agar berita tersebut menyebar. Tujuannya adalah agar Yoo-Jin diinvestigasi oleh kepolisian dan pada saat itu barulah mereka membuka yang sebenarnya. Anna akhirnya mengangguk tanda setuju.

“Kamu tidak bilang Je-Ha, kan?” tanya Sung-Won.

“Tidak,” jawab Anna.

“Baiklah, bagus. Kita hampir mampir ke kantor polisi, jadi bersiaplah lalu turun ke bawah. Rumor itu cukup mengejutkan jadi ia menyebar seperti kebakaran liar.”

Strategi Sung-Won terbukti berhasil. Banyak media yang membahas masalah rumor itu karena adanya beberapa kejanggalan. Salah satunya di sebuah acara talkshow di TV, yang ditonton oleh Dong-Mi dan Yoo-Jin. Yoo-Jin menjadi sedikit kesal begitu mendengar narasumber di acara tersebut menyarankan agar investigasi kasus kematian Ume Hye Rin dibuka kembali.

Sung-Won dan Anna tiba di kantor polisi. Para awak media segera mengerubungi mereka untuk meminta pernyataan.

“Aku belum pernah melihat artikel sekejam itu dalam hidupku. Kami pasti akan menuntut atas pencemaran nama baik dan kami pasti akan menemukan siapa yang mencoba untuk menjatuhkan nama keluarga kami serta membawanya ke pengadilan,” tegas Sung-Won.

Setelah melewati para wartawan, dengan tertawa Sung-Won berkata pada Anna, “Pamanku aktor yang bagus, bukan?”

Anna ikut tertawa mendengarnya. Mereka berdua kemudian menemui kepala polisi, yang menyambut keduanya dengan ramah. Setelah basa-basi membahas kasus artikel, Sung-Won meminta kepala polisi untuk juga mengurus kasus kematian ibu Anna. Ia meyakinkan kepala polisi bahwa apabila ia menanyai kembali saksi yang ada, maka ia akan menemukan kedua kasus tersebut saling berhubungan.

Di lokasi acara sosial, orang-orang berbisik-bisik menggosipkan Yoo-Jin yang terlihat membantu dengan penuh semangat. Sementara itu, kepala polisi menghubungi Gwan-Soo dan memberitahunya bahwa chairman Choi sedang mentarget Choi Yoo Jin. Dengan songong Gwan-Soo berkomentar bahwa orang-orang kaya suka bermain kotor kalau untuk urusan uang. Ia juga meminta kepala polisi untuk menuruti chairman Choi dan melakukan investigasi terhadap Yoo Jin seperti yang ia minta.

Usai menutup telpon, dengan tertawa bahagia, Gwan-Soo berkata pada sekretarisnya, “Sepertinya ini semua akan runtuh tanpa aku harus melakukan apa-apa.”

Ia lalu meminta sekretarisnya untuk menyambungkannya dengan kantor kejaksaan. Di kantor kejaksaan sendiri, seorang wartawan menanyai jaksa Kim mengenai kasus tersebut. Pada intinya, jaksa Kim menyatakan bahwa penyidikan kasus kematian ibu Anna pastinya akan dibuka kembali seandainya memang ada bukti-bukti kuat dan saksi yang mendukung. Tidak butuh waktu lama bagi si wartawan untuk menulis berita tersebut di internet.

Efeknya segera terasa. Sekelompok wartawan mendatangi tempat kegiatan sosial Yoo-Jin untuk meminta pernyataannya mengenai berita tersebut. Sementara para bodyguardnya menghadang para wartawan, Yoo-Jin hanya terdiam menatap mereka. Tak lama kemudian ia tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri.

Sung-Won tertawa melihat berita dibawanya Yoo-Jin ke rumah sakit. Ia menganggap Yoo-Jin sengaja melakukan itu agar bisa bersembunyi dari publik di dalam kamar rumah sakit. Fakta berbicara sebaliknya, saat itu Yoo-Jin ternyata benar-benar pingsan karena kepikiran. Direktur JSS (Ko In-Beom) yang mendapatkan laporan itu dari ketua Joo menjadi kaget karena yang ia tahu Yoo-Jin bukan tipe orang yang akan menunjukkan kelemahannya begitu saja di depan publik. Ia tetap berusaha meyakini bahwa Yoo-Jin sedang berpura-pura saja, meski ketua Joo mengatakan tidak demikian.

Lagi-lagi strategi Sung-Won berjalan sesuai rencana. Orang-orang yang dulu memuji Yoo-Jin mulai berbalik membencinya. Sebaliknya, Se-Joon justru dikasihani karena dianggap selama ini menjadi korban dari Yoo-Jin. Se-Joon sendiri saat itu sedang berkunjung ke safe house untuk menemui Anna, namun Anna tidak mau menemuinya. Ia pun memutuskan untuk mendatangi Anna di kamarnya. Anna tetap saja tidak mau keluar dari kamar. Karena kemudian sekretarisnya memberitahu Se-Joon untuk segera menemui madam Choi, ia terpaksa berpamitan dan meninggalkan Anna.

Master Song membesuk Yoo-Jin di rumah sakit. Dua bodyguard yang berjaga di depan kamar tidak memperbolehkannya masuk, namun ia tetap memaksa, sehingga mereka malah menimbulkan keributan di sana. Dengan kesal Dong-Mi keluar dari kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Begitu melihat Yoo-Jin di tempat tidur, master Song segera berteriak menyapanya. Tanpa diduga, Yoo-Jin mempersilahkannya untuk masuk. Setelah itu ia bahkan meminta yang lain untuk keluar karena hendak berbicara empat mata dengan master Song.

Sepeninggal yang lain, Yoo-Jin meminta master Song untuk berbicara biasa saja (non formal) dengannya. Master Song menurutinya.

“Yoo-Jin, biarkan Anna sendiri untuk kali ini.”

“Kamu datang ke sini untuk mengatakan itu?” wajah Yoo-Jin mulai berubah.

“Ya. Jika kamu membunuh binatang betina saat berburu, kamu harus membiarkan bayinya tetap hidup.”

“Mister, kamu membuatku benar-benar merasa tidak nyaman.”

“Yoo-Jin. Jika ayahmu, almarhum chairman Choi, masih hidup, aku yakin ia juga akan melarangmu melakukan ini. Kalau kamu benar-benar akan terus seperti ini, aku tidak akan bisa melakukan apa yang moralku minta aku untuk lakukan.”

Dengan emosi Yoo-Jin membanting botol minuman yang tadi diberikan oleh master Song dan meminta bodyguardnya untuk membawanya pergi. Tanpa berkata apa-apa lagi master Song pergi keluar dari kamar inap Yoo-Jin.

Sementara itu, Se-Joon mendatangi JB Group dan bertemu dengan Sung-Won, ibu Sung-Won, dan ayah mertua Sung-Won.

“Rumah orang lain sedang terbakar, tapi di sini seperti sedang berpesta,” ujar Se-Joon, melihat mereka menyambut kedatangannya dengan sumringah.

“Ini memang pesta,” respon ayah mertua Sung-Won, “tapi sepertinya kamu tidak tahu untuk siapa pesta ini.”

“Untuk siapa lagi, untuk anggota parlemen Jang tentunya,” ucap ibu Sung-Won.

Mereka lantas menyinggung soal artikel online tentang dirinya dan Yoo-Jin.

“Kenapa memang?” tanya Se-Joon.

“Kamu dengan nyaman diabaikan dari semua masalah itu,” ujar Sung-Won, “Kamu akan segera naik puncak, seperti yang kita rencanakan.”

“Singkirkan Choi Yoo-Jin sekarang juga, itu akan juga situasi menang sama menang untukmu,” dorong ayah mertua Sung-Won.

Se-Joon tidak menjawab, hanya tersenyum.

Di safe house, Je-Ha menemui Anna di kamarnya dan menanyakan kenapa ia tidak mau menemui ayahnya. Je-Ha juga memberitahu Anna bahwa Choi Yoo-Jin bukan tipe orang yang mau mengotori tangannya seperti yang dipikirkan Anna saat ini. Terlebih jika memang benar ada saksi, sudah pasti akan disingkirkan terlebih dahulu olehnya.

“Bukan itu masalahnya sekarang,” sergah Anna. “Tapi.. kamu di pihakku atau di pihak Choi Yoo-Jin?”

“Apa maksudmu dengan itu? Tentu saja aku ada di pihakmu,” jawab Je-Ha.

“Kalau begitu kenapa kamu terus menempel Choi Yoo Jin selama ini? Mi-Ran dan Sung-Gyu telah keluar dari JSS dan bekerja untuk chairman Choi, tapi kamu tetap berada di JSS. Apa yang kamu dan Choi Yoo Jin kerjakan?”

“Anna, alasan kenapa aku sengaja tidak memberitahumu apa yang aku lakukan dengan Choi Yoo Jin adalah karena itu lebih baik jika kamu tidak tahu.” jelas Je-Ha.

Karena itu melibatkan membunuh seseorang.

Itu yang terpikir dalam hati Je-Ha dan tidak mungkin ia ucapkan pada Anna.

Meski sempat berpura-pura menerima ‘insurance policy’ yang ditawarkan kepala polisi, hubungan direktur JSS dan kepala polisi ternyata masih tetap akur. Saat ini keduanya sedang asik minum-minum. Direktur JSS lantas menanyakan peluang anggota parlemen Jang untuk menjadi presiden, dengan apa yang terjadi pada Yoo-Jin. Kepala polisi yakin bahwa hal itu tidak akan mempengaruhi peluang anggota parlemen Jang. Ia lalu meminta kepala polisi untuk tetap berada di pihak Gwan-Soo agar keduanya bisa saling memberi petunjuk dan mencari aman untuk mereka sendiri.

Je-Ha menemui Yoo-Jin di rumah sakit. Ia berkata, “Aku tidak akan terlalu kaget jika kamu benar-benar membunuh ibu Anna. Lagipula aku yakin ada banyak orang yang telah kamu bunuh. Jadi setidaknya aku ingin kamu jujur kepadaku.”

“Kenapa kamu ingin tahu tentang itu?” tanya Yoo-Jin.

“Karena Anna. Anna sangat percaya kamu sudah membunuh ibunya. Tapi aku tidak yakin apakah aku harus menahannya atau tidak.”

“Biarkan saja. Biarkan saja dia melakukan yang ia inginkan.”

“Baiklah. Kalau begitu biarkan aku bertanya ini karena penasaran. Apakah kamu membunuh Ume Hye Rin?”

“Baik. Aku akan jujur, hanya kepadamu. Aku tidak membunuh Ume Hye Rin. Dan pastinya aku tidak memerintahkan orang lain untuk melakukannya.”

“Lalu kenapa kamu membiarkan anggota parlemen Jang dan Anna percaya kamu melakukan itu sampai sekarang?”

“Karena itu satu-satunya cara agar Jang Se Joon percaya aku punya kemampuan untuk membunuh Anna. Karena itu satu-satunya cara aku bisa meyakinkan Jang Se Joon tidak bisa meninggalkanku di malam itu. Dan aku tahu siapa pembunuh yang sebenarnya. Tapi aku tidak bisa mengatakan siapa orangnya. Jika masih ada hal lain yang kamu penasaran, tanyakan pada Mirror. Mirror tahu semuanya tentang aku. Aku sudah mengatur Mirror untuk menerima perintah darimu. Kamu satu-satunya yang punya kekuatan itu selain aku.”

Je-Ha seakan tidak percaya mendengarnya.

Yoo-Jin melanjutkan, “Yang bisa aku lakukan sekarang adalah pergi ke kantor polisi dan aku akan menghadapi investigasi dengan percaya diri. Tapi aku tidak tahu apa yang akan dilakukan musuhku pada saat itu, jadi harus ada seseorang yang bisa mengakses Mirror saat aku tidak ada, bukan?”

“Tapi kenapa itu aku?” tanya Je-Ha.

“Karena kamu percaya padaku dan menghapus email itu. Email itu sudah seperti pegangan hidupmu. Mirror serupa dengan itu bagiku. Tidak ada bedanya dengan hidupku sendiri. Dan aku percaya kepadamu.”

Tiba-tiba Sung-Won masuk tanpa permisi. Yoo-Jin mempersilahkan Je-Ha untuk pergi. Sepeninggal Je-Ha, Yoo-Jin menyindirnya dengan mengatakan tata tulisnya kurang baik. Sung-Won tertawa, mengatakan bahwa ia dulu juara menulis.

“Jangan lakukan sesuatu yang akan kamu sesali nanti,” ujar Yoo-Jin sembari tersenyum.

“Berikan JSS kepadaku kalau begitu. Tunggu dulu, tidak. Kamu bisa menyimpan JSS. Cukup berikan Cloud Nine. Itu akan menyelesaikan semuanya.”

“Sung-Won, akhir-akhir ini aku berpikir tentang kenapa ayahku memberikan JSS kepadaku sementara ia menjadikanmu chairman yang selanjutnya. Kita membutuhkan bantuan Jin Han untuk bertahan pada saat itu, jadi itu adalah langkah strategis. Tapi mungkin ia melakukan ini untuk menghindari JB Group dicaplok oleh Jin Han Group di kemudian hari. Kenapa menurutmu ayah mertuamu yang serakah, yang sudah mengincar JB Group, begitu gelisah karena tidak memiliki Cloud Nine?”

“Ayah hanya tidak berpikir bahwa Jin Han bisa mencaplok JB Group. Big Sis, jika aku percaya ayah mertuaku, JB tidak akan masih hidup dan berjaya. Terutama dengan orang tua serakah itu yang mengincarnya untuk dirinya sendiri. Jika aku tidak ditahan oleh Cloud Nine dan pengawasannya terhadapku, Jin Han mungkin sudah dicaplok oleh JB sekarang.”

“I see. Leganya kamu tidak mengikuti ibumu.”

“Baiklah. Pilih saja beberapa cabang JB yang kamu inginkan. Mereka milikimu.” tawar Sung-Won.

Je-Ha mendatangi Cloud Nine. Ia mencoba mengakses Mirror dan benar, tidak hanya Mirror mau mengikuti perintahnya, ia juga mendapatkan akses tak terbatas sesuai dengan yang dikatakan oleh Yoo-Jin kepadanya.

Yoo-Jin sepertinya menolak tawaran Sung-Won. Ia meminta Se-Joon untuk menemuinya di pagi hari dan menemaninya pergi ke kantor polisi. Se-Joon melakukannya. Setibanya di sana, di hadapan para awak media, Yoo-Jin mengungkapkan permintaan maafnya karena sudah menutupi kebenaran dari semua orang di seluruh negeri. Gwan-Soo dan Sung-Won, di tempat mereka masing-masing, tertawa bahagia mendengarnya. Tanpa diduga, sambil meneteskan air mata, Yoo-Jin mengatakan bahwa Anna adalah anak kandung dari suaminya, Jang Se-Joon. Kali ini semua orang kaget mendengar pengakuannya.

=== Maaf, Gambar Menyusul Ya ===

Preview Episode 13

Berikut ini video preview episode 13 dari drakor The K2:

» Sinopsis The K2 eps 13 selengkapnya

Reply