Sinopsis Suspicious Partner Episode 1 (10 Mei 2017)

Setelah beberapa pertimbangan, terutama setelah baru saja menonton episode ke-6-nya yang tayang minggu ini, saya putuskan untuk selanjutnya menulis sinopsis dari Suspicious Partner, yang dibintangi oleh Ji Chang-Wook dan Nam Ji-Hyun. Ini adalah drama komedi romantis dengan latar dunia hukum dan bumbu misteri, jadi lumayan berwarna ceritanya dan tidak membosankan untuk disimak. Chang-Wook sendiri terakhir bermain dalam “The K2” sebagai Kim Je-Ha, sementar Ji-Hyun berperan sebagai Ko Bok-Sil dalam “Shopping King Louie”. Oh ya, karena untuk serial drama korea Suspicious Partner ini durasi per episodenya hanya 30 menit, jangan kaget ya kalau sinopsisnya tidak sepanjang biasanya. Selamat menikmati!

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 1

Judul: Harapan Untuk Masa depan

Eun Bong-Hee (Nam Ji-Hyun) bergegas masuk ke dalam kereta subway yang lumayan padat. Seorang pria yang berdiri di sisi kanannya tiba-tiba memegang pantatnya secara perlahan. Merasakan sentuhan itu, Bong-Hee melirik curiga ke arah No Ji-Wook (Ji Chang-Wook) yang kebetulan berdiri di sebelah kirinya. Melihat Ji-Wook yang berdiri diam, Bong-Hee kembali melihat ke depan, namun mempertajam indera perasanya. Dan benar, pria cabul itu mengulangi perbuatannya dan lagi-lagi menyentuh pantat Bong-Hee.

Kali ini Bong-Hee masih berusaha menahan diri, namun saat tiba-tiba gerbong kereta terguncang dan Ji-Wook tanpa sengaja menabraknya, emosi Bong-Hee tidak dapat ditahan lagi.

“Yang melakukan kau, kan?” tanya Bong-Hee.

Ji-Wook menoleh ke kanan dan ke kiri dengan heran.

“Apa?” tanyanya.

“Aku sudah naik subway 10 kali, aku bertemu orang sepertimu hanya sekali,” respon Bong-Hee. “Senang bertemu denganmu.”

“Kau bicara denganku? Kau kenal aku?” tanya Ji-Wook makin bingung.

“Ya, tentu saja. Aku punya trauma gara-gara orang mesum sepertimu,” jawab Bong-Hee lantang.

Penumpang kereta langsung heboh mendengarnya. Si pria cabul yang merupakan pelaku sebenarnya juga kaget karena jadi orang lain yang dituduh. Ia pun lalu berpura-pura cuek.

“Um, kau tidak memanggilku orang mesum, kan? Hei,” ujar Ji-Wook.

“Ya, memang,” jawab Bong-Hee sembari tersenyum sinis.

“Kau anggap aku apa?”

“Orang mesum mabuk.”

“Kenapa?”

“Kau baru saja menyentuh bokongku dengan cara menjijikkan.”

“Kenapa juga aku menyentuh bokongmu?” tanya Ji-Wook kesal.

“Itulah pertanyaanku. Kenapa kau menyentuh bokong orang lain?” tanya Bong-Hee balik, tidak kalah kesalnya.

“Aku tidak menyentuhnya. Aku hanya ingin tahu kenapa kau berpikir aku melakukan itu…”

“Kau pikir ini pertama kalinya aku melihat orang mesum dalam jas?” potong Bong-Hee ketus. “Siapa yang coba kau bodohi? Aku punya mata tajam, tahu!”

“Wah, kau delusional. Permisi…”

“Ini tindak kejahatan seksual di bawah pasal 13 untuk pelecehan umum,” potong Bong-Hee lagi. “Dan kau bisa di penjara satu tahun atau denda 3 juta won.”

“Bukan pasal 13, tapi pasal 11. Mari luruskan ini,” balas Ji-Wook.

“Lihat? Ketahuan kau. Kau mengulangi kelakuanmu, kan?”

“Permisi, aku tidak mau memberitahu siapa aku…”

“Kenapa kau lakukan ini? Rasanya enak menyentuh bokong orang asing?”

“Kapan aku menyentuh…”

“Enak ya melucuti di lingkungan umum? Simpan pakaian dalammu.”

“Aku tidak menyimpannya!”

“Kenapa kau pergi ke hotel dengan gadis lain saat kau punya pacar?”

“Aku tidak pergi ke hotel,” respon Ji-Wook kebingungan.

“Kenapa kau melakukan ini?”

“Kenapa kau melakukan ini kepadaku?”

Bong-Hee menoleh ke belakang, ke arah si pria cabul, lantas memintanya untuk melaporkan kejadian tersebut ke petugas keamanan. Dengan wajah berpura-pura jijik terhadap Ji-Wook, pria cabul tersebut melakukan yang diminta oleh Bong-Hee.

Sesaat kemudian kereta tiba di stasiun. Bong-Hee turun meninggalkan Ji-Wook, yang saat itu sedang dipelototi oleh orang segerbong. Sedetik kemudian Ji-Wook sadar bahwa ia juga harus turun di stasiun tersebut. Namun saat hendak keluar, Bong-Hee yang sudah berada di luar gerbong menghalangi untuk turun hingga pintu gerbong kembali tertutup. Ji-Wook pun terpaksa melanjutkan perjalanannya ke stasiun berikutnya, sementara Bong-Hee melihat kejadian itu dengan tersenyum penuh kemenangan.

Tujuan Bong-Hee sendiri pada saat itu adalah mendatangi sebuah hotel. Sebelumnya, ia mendapat pesan dari nomer tidak dikenal yang memberitahunya bahwa saat itu kekasihnya sedang berada di hotel tersebut dengan wanita lain. Ia menduga bahwa itu hanyalah prank, jadi ia datang untuk membuktikannya.

Masuk ke dalam hotel, Bong-Hee langsung tertegun melihat kekasihnya, Jang Hee-joon (Hwang Chansung), benar-benar keluar dari lift bersama wanita lain. Hee-joon yang menyadari keberadaan Bong-Hee lantas meminta wanita yang sedang bersamanya untuk keluar terlebih dahulu dan kemudian ia menghampiri Bong-Hee.

Di saat bersamaan, Ji-Wook masuk ke dalam hotel yang sama dan bergegas menuju lobi menemui Byeon Young-Hee (Lee Deok-Hwa) yang sudah menunggunya.

“Macet, ya?” tanya Young-Hee.

“Jangan ambil gerbong 6 di subway jam-jam segini,” jawab Ji-Wook dengan wajah kesal. “Kau mungkin bertemu dengan wanita gila.”

“Wanita gila?” tanya Young-Hee bingung.

“Dia sangat gila. Aku sampai dibuat jadi pemabuk olehnya.”

“Pemabuk? Siapa sih?”

“Aku.”

“Aku tidak tahu, kau memang seperti itu.”

“Aku merasa dianiaya oleh wanita itu,” curhat Ji-Wook.

“Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Young-Hee penasaran.

“Aku tidak tahu. Dia bilang dia punya mata tajam terhadap pemabuk.”

Young-Hee merespon dengan meminta Ji-Wook minum agar tenang.

“Jelaskan padaku apa yang terjadi,” pinta Bong-Hee pada Hee-joon.

“Tak ada yang perlu dijelaskan,” jawab Hee-joon dengan santai.

“Aku menangkapmu di sini dengan wanita lain,” balas Bong-Hee. “Tapi kau tidak punya sesuatu untuk dijelaskan?”

“Ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa itu?”

“Hal terpenting adalah bahwa aku masih mencintaimu. Aku mungkin sudah membuat kesalahan, tapi perasaanku kepadamu tak pernah berubah. Itulah yang penting,” Hee-joon beralasan.

“Berapa kali? Berapa kali kau melakukan ini sebelumnya?” tanya Bong-Hee.

“Kau takkan percaya kalau ini kali pertamaku, tapi kau akan terluka kalau aku bilang aku pernah melakukan ini sebelumnya,” jawab Hee-Joon, masih dengan nada bicara yang tenang. “Jadi, kenapa kau menanyakan itu kepadaku?”

Bong-Hee sendiri sebenarnya sudah merasakan perubahan sikap Hee-joon belakangan ini dan menyadari kemungkinan kekasihnya itu berselingkuh. Namun ia mencoba untuk tetap bertahan.

“Bagaimanapun, aku salah,” lanjut Hee-joon, “Aku mengakuinya. Aku takkan melakukannya lagi. Sumpah.”

“Memangnya ini percandaan bagimu?” tanya Bong-Hee dengan mata berkaca-kaca.

“Lalu apa yang harus ku lakukan?”

“Cobalah jadi serius dan jujur, brengsek.”

“Aku masih muda, Bong-Hee. Tak banyak pria yang menolak wanita baik untuk merayunya. Begitulah yang terjadi. Ini hanya cinta satu malam.”

“Jadi maksudmu, karena kau pria muda, kau tidak bisa menolaknya.”

“Aku takkan melakukan ini lagi.”

“Kau hanya akan mencoba untuk tidak ketahuan lagi. Maksudmu, kau akan lebih berhati-hati agar tidak ketahuan saat selingkuh,” balas Bong-Hee dengan nada suara yang mulai meninggi.

Bong-Hee lalu berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Hee-joon. Hee-joon segera menyusulnya.

“Ku bilang aku salah,” ujar Hee-joon sembari meraih lengan Bong-Hee.

Bong-Hee merespon dengan memelintir lengan Hee-joon.

“Jika kau meminta maaf, memang itu artinya tak ada yang terjadi?” balas Bong-Hee.

“Lalu, haruskah kita putus?” tanya Hee-joon sambil menahan sakit.

“Tidak, tunggu. Aku akan memutuskan kapan kita putus. Jadi, kau lebih baik tunggu,” jawab Bong-Hee seraya mendorong tubuh Hee-joon menjauh.

“Oh, mari kita buat ini adil,” tambahnya, “Aku juga masih muda. Mari kita putus saat aku punya satu malam itu sendiri.”

“Hei, kau itu wanita. Bagaimana…”

“Kenapa tidak boleh?” potong Bong-Hee.

“Aku hanya bilang…”

“Hei,” potong Bong-Hee lagi, “Aku akan tidur dengan pria yang pertama aku tabrak. Tunggu dan lihat, aku melakukannya atau tidak.”

Bong-Hee hendak melanjutkan langkahnya, namun ia kaget melihat seorang pria tua melintas di hadapannya. Tidak mau bertabrakan dengannya, Bong-Hee reflek menghindar. Akibatnya, ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai. Sambil menahan malu, Bong-Hee kembali berdiri dan perlahan berjalan menjauhi Hee-joon. Diam-diam ia mengusap air matanya yang sudah mulai menetes dan tanpa sengaja lensa kontaknya copot.

Di saat itulah seorang pria tiba-tiba menabraknya dan berhenti tepat di sampingnya. Bong-Hee terdiam, teringat dengan ucapannya sebelumnya.

“Menyerah saja sudah, Eun Bong-Hee,” ujar Hee-joon yang melihat kejadian tersebut.

Sambil menarik nafas dalam, Bong-Hee menoleh ke arah pria tersebut, lalu bertanya, “Kau mau tidur denganku?”

Pria tersebut, yang ternyata adalah Ji-Wook, menoleh ke arah Bong-Hee.

“Tentu, aku akan tidur denganmu,” jawabnya.

Karena pandangannya tidak jelas tanpa lensa kontak, Bong-Hee belum menyadari bahwa pria tersebut adalah yang tadi ia tuduh sebagai pemabuk cabul.

“Syukurlah, kau muda dan tampan,” ujar Bong-Hee.

“Sungguh?” respon Ji-Wook.

Mendengar suara tersebut Bong-Hee jadi penasaran dan berusaha mempertajam pandangannya. Akhirnya ia menyadari juga siapa pria yang saat ini berada di depannya itu.

“Orang mesum subway?” jerit Bong-Hee perlahan.

“Apa yang kau lakukan? Ayo pergi,” ajak Ji-Wook sembari meraih tangan Bong-Hee.

“Hei, tunggu sebentar…” respon Bong-Hee panik.

Tidak hanya Bong-Hee yang panik, Hee-joon yang tidak menyangka bahwa Bong-Hee benar-benar melakukan ancamannya juga ikut panik dan berusaha mengejar mereka.

“Eun Bong-Hee, berhenti di situ,” teriak Hee-joon.

Bong-Hee dan Ji-Wook menghentikan langkah mereka.

“Jika kau pergi seperti ini, sudah benar-benar berakhir hubungan kita,” lanjut Hee-joon.

Alih-alih menjawabnya, Bong-Hee menarik lengan Ji-Wook dan melingkarkannya ke pundaknya, lalu mengajaknya pergi ke luar. Setibanya di luar hotel, Bong-Hee segera melepaskan kembali pelukan Ji-Wook.

“Aku tidak ingin kau berpikir aku serius,” ujar Bong-Hee. “Aku tingkat 4 di Tae Kwon Do…”

“Aku mau memberikan peringatan serius kepadamu,” balas Ji-Wook.

“Apa?”

“Aku bukan pemabuk.”

“Bukan?”

“Bukan!”

“Kau menarikku untuk mengatakan itu?”

“Kau pikir aku benar-benar ingin melakukan itu?”

“Tidak ya?”

“Kalau memang begitu, kenapa kita tidak pesan kamar? Tidak bisakah kau berpikir?”

“Ku rasa kau jadi semakin kejam. Aku punya kemampuan berpikir.”

“Ku rasa kau lebih kejam. Kau membuat pria tidak bersalah menjadi pemabuk mesum. Aku tidak pernah merasa teraniaya dan dipermalukan seumur hidup! Aku percaya dengan tegas mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi. Tapi sekarang kau beruntung, aku adalah pria yang baik hati.”

“Itu bukan kau, kan?” tanya Bong-Hee untuk kesekian kalinya.

“Aku sudah bilang kepadamu berkali-kali,” balas Ji-Wook dengan kesal, “Pokoknya, jangan menuduh orang yang tidak bersalah mulai sekarang.”

Ji-Wook lantas pergi meninggalkan Bong-Hee. Tapi sesaat kemudian tiba-tiba ia kembali.

“Dan aku punya satu lagi yang ingin aku katakan,” ucap Ji-Wook. “Jangan menabrak sembarang pria di jalan. Ada banyak bajingan yang ingin tidur denganmu.”

Ji-Wook pergi meninggalkan Bong-Hee untuk kedua kalinya. Tak lama Bong-Hee mendengar Hee-joon memanggilnya. Tidak mau ketahuan sudah berpura-pura untuk tidur dengan pria lain, Bong-Hee segera menyusul Ji-Wook yang saat itu baru saja masuk ke dalam taksi.

“Bisa bantu aku sekali lagi?” tanya Bong-Hee sembari memberi tanda pada Ji-Wook dengan matanya ke arah Hee-Joon.

Tahu apa yang dimaksud, Ji-Wook terpaksa tidak bisa menolaknya. Taksi pun melaju melewati Hee-joon yang masih tidak percaya dengan kenekatan Bong-Hee.

“Untuk beberapa alasan aku minta maaf dan berterima kasih,” ucap Bong-Hee pada Ji-Wook di dalam taksi.

“Tidak terima kasih. Aku takkan menerima permintaan maafmu maupun penghargaanmu,” balas Ji-Wook.

“Aku mengerti. Anu, tadi, aku tidak biasanya menggenggam tangan orang asing dan memintanya untuk tidur. Tapi karena harga diri…”

“Kau tidak perlu menjelaskannya,” potong Ji-Wook.

“Kau mau minum denganku?” ajak Bong-Hee.

Ji-Wook tidak menjawab, hanya menoleh ke arah Bong-Hee.

“Aku tidak berpikir aneh-aneh. Aku hanya berpikir kau dapat dipercaya jadi aku ingin minum bersama sebagai tanda terima kasihku.”

“Tidak usah,” tolak Ji-Wook.

“Baik,” balas Bong-Hee.

Beberapa saat kemudian Bong-Hee minta agar diturunkan di pinggir jalan. Setelah membungkuk memberi salam pada Ji-Wook yang tetap berdiam diri, Bong-Hee berjalan menuju sebuah cafe, sementara taksi yang membawa Ji-Wook kembali melanjutkan perjalanan. Pun begitu, wajah Ji-Wook terlihat gelisah.

Bong-Hee minum-minum sendiri di dalam cafe. Tiba-tiba Ji-Wook datang menghampirinya. Tapi setelah Bong-Hee memperhatikannya lagi dengan menajamkan mata, sosok tersebut bukanlah Ji-Wook, melainkan pria iseng yang hendak mengganggunya. Sambil mengeluarkan kartu anggota Tae Kwon Do miliknya, Bong-Hee mengusir pria tersebut pergi.

“Kenapa kamu tidak pergi?” tanya Bong-Hee kemudian.

“Kau mau aku pergi?” respon orang yang ia ajak bicara.

Begitu Bong-Hee mengangkat kepalanya, yang ada di depannya kali ini benar-benar Ji-Wook. Ternyata ia datang untuk mengembalikan kotak bedak milik Bong-Hee yang tertinggal di dalam taksi.

“Kurasa kau meninggalkan ini dengan sengaja,” ucap Ji-Wook.

“Apaan ini,” balas Bong-Hee sembari tersenyum, “Senang rasanya bisa melihat wajah yang familiar. Aku tak mendapat telepon maupun SMS dari siapapun. Aku benar-benar merasa seperti seorang penyendiri. Tapi kenapa aku jadi senang saat melihat wajah yang familiar?”

“Ku rasa kau benar-benar meninggalkan ini dengan sengaja,” jawab Ji-Wook.

Bong-Hee lantas mengajak, atau lebih tepatnya memaksa, Ji-Wook untuk menemaninya minum. Kepolosan wajah Bong-Hee membuat Ji-Wook tak kuasa untuk menolak.

Bong-Hee terbangun di lantai, di samping sebuah sofa, pada pagi hari. Ia mendadak kaget dan panik begitu menyadari saat itu ia berada di rumah Ji-Wook. Sedikit demi sedikit Bong-Hee mulai mengumpulkan ingatannya yang samar karena semalam ia mabuk berat. Ia pun ingat bahwa Ji-Wook sempat hendak mengantarnya pulang namun batal karena tidak tahu rumah Bong-Hee, sehingga Ji-Wook membawa Bong-Hee ke rumahnya. Tidak itu saja, sesampainya di ruang tamu, Bong-Hee mendorong Ji-Wook hingga terjatuh ke sofa, lantas ikut menjatuhkan dirinya ke sana, kemudian memonyongkan bibirnya untuk mencium Ji-Wook.

“Apa aku mendorong diriku sendiri kepadanya?” tanya Bong-Hee lirih.

Ia pun jadi kesal dan malu pada dirinya sendiri sampai-sampai berguling di lantai. Bingung tidak tahu harus berbuat apa, Bong-Hee akhirnya memutuskan untuk pergi begitu saja dari rumah Ji-Wook tanpa berpamitan. Ji-Wook yang kemudian keluar dari kamar setelah usai mandi hanya mendapati secarik kertas bertuliskan “Maafkan aku”.

Di dalam bus, dalam perjalanan pulang ke rumah, Bong-Hee mengecek kembali ponselnya dan masih belum mendapati panggilan maupun SMS dari Hee-joon. Ia sempat hendak mengomelinya melalui SMS, namun kemudian membatalkan niatnya.

Sementara itu, Ji-Wook yang sedang dalam perjalanan ke kantor, ditelpon oleh Young-hee yang penasaran dengan kelanjutan kisah Ji-Wook dengan Bong-Hee.

“Setelah kalian berdua pergi begitu saja, aku tidak bisa tidur semalam,” ujar Young-Hee di ujung telpon. “Kau kenal wanita itu? Kelihatannya dia tidak asing bagimu.”

“Entahlah, sedikit samar-samar,” jawab Ji-Wook.

“Jadi, kau tidur dengannya?” tanya Young-Hee lagi.

“Entahlah.”

“Astaga, aku hanya penasaran. Karena Yoo Jung, kau tidak pernah berinteraksi dengan perempuan. Kau tidur dengannya, kan?”

“Ku rasa kita harus akhiri teleponnya. Aku tutup, ya.”

Setelah menutup telpon, Ji-Wook teringat kembali akan masa lalunya. Kekasihnya dulu, Cha Yoo-Jung (Kwon Na-ra), ternyata berselingkuh dengan pria lain. Sejak saat itu Ji-Wook jadi bersikap dingin terhadap wanita.

Itu pula yang menyebabkan semalam Ji-Wook yang mencuri dengar percakapan Bong-Hee dengan Hee-Joon memutuskan untuk membantunya dengan sengaja menabrakkan dirinya.

“Jadi, aku lakukan yang seharusnya tidak aku lakukan,” ujar Ji-Wook dalam hati. “Aku pasti sudah gila.”

Di kantor Young-Hee, Ji Eun-hyuk (Choi Tae-joon) yang bekerja di sana baru saja tiba. Ji-Wook ternyata tidak menyukai Eun-hyuk dan menolak bekerja di kantor pengacara tersebut karena adanya Eun-hyuk di sana. Young-Hee lantas menanyakan apakah Eun-hyuk berminat untuk masuk ke dunia politik.

“Omong-omong, kita harus kasih selamat ke Ji-Wook,” respon Eun-hyuk tanpa menghiraukan pertanyaan Young-Hee.

“Untuk apa?” tanya Youn-Hee heran.

Alasannya adalah karena Ji-Wook baru saja terpilih sebagai jaksa terburuk (bagi terdakwa). Beberapa rekannya datang ke kantor Ji-Wook untuk menyelamatinya. Pun begitu, Ji-Wook tidak terlalu antusias dengan predikat tersebut.

“Ya, itu bagus. Sebuah kehormatan. Pengacara lainnya membenciku, lainnya lagi percaya,” dalih Ji-Wook.

“Membuat gila saja. Bukan itu maksudnya!” balas salah seorang rekannya. “Kau mengabaikan HAM, kau kuat, tanpa ampun, dan berat sebelah! Kau adalah jaksa dengan seluruh sifat jelek yang ada di kamus!”

“Aku sangat benci kriminalitas,” ujar Ji-Wook. “Dan aku benci jaksa yang melindungi mereka sementara mereka bicara HAM. Tapi jika mereka membenciku, tak ada pujian yang tepat dibanding itu.”

“Bukan hanya mereka yang membencimu,” timpal rekan Ji-Wook.

“Kami benci kau juga,” tambah yang lainnya. “Lihatlah ini. Karena inikah kau tidak pernah menerima surat terima kasih? Pengacara lainnya dapat. Orang-orang berterima kasih kepada mereka karena membawakan hidup yang baru. Tapi kenapa dindingmu sangat kosong?”

Ji-Wook sedang bekerja saat ibunya menelpon. Ibunya hendak memberinya selamat karena Ji-Wook sudah terpilih sebagai jaksa terburuk, tapi belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Ji-Wook sudah menutup sambungan telponnya.

“Astaga, dia dingin dan jujur,” ujar ibu Ji-Wook pada Park Young-soon (Yoon Bok-in), terapis pijat yang saat itu sedang memijatnya. “Dia dipilih sebagai jaksa terburuk karena dia jujur dan adil.”

“Ku rasa bukan itu alasannya,” respon Young-soon.

“Apa yang kau tahu?”

“Putriku itu hakim, jadi aku dengar darinya dari waktu ke waktu.”

“Aku tidak tahu putrimu seorang hakim.”

“Bukankah aku sudah pernah bilang kepada Anda? Dia baru tahu pertama dan sedang ada Penelitian Yudisial dan Pelatihan Peradilan.”

“Kenapa ada banyak jaksa, hakim, dan pengacara sekarang? Bahkan kucing dan anjing bisa jadi hakim.”

Ucapan ibu Ji-Wook membuat Young-soon kesal dan sengaja memijat leher ibu Ji-Wook dengan kasar hingga ia kesakitan.

“Anjing atau kuda?” tanya Young-soon. “Jika anjing dan kuda adalah hakim, berarti anakmu itu…”

“Ahjumma!” teriak ibu Ji-Wook kesakitan.

“Aku bukan ahjumma. Aku manager Park. Orang berkelas memanggilku begitu,” balas Young-Soon sembari memutar-mutar kepala ibu Ji-Wook.

“Aku tidak peduli siapa kau!” balas ibu Ji-Wook kesal. “Ahjumma, jangan berani panggil anakku anjing atau kuda. Dia berbeda sejak dia dilahirkan. Dia berbicara dan berjalan sebelum terbentuk.”

Ibu Ji-Wook terus nyerocos menyombongkan Ji-Wook. Young-soon hanya mendengarkan sambil tersenyum, lantas kembali memijat ibu Ji-Wook dengan kasar.

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply