Sinopsis Solomon’s Perjury Episode 10 & Preview Episode 11 (20 Januari 2017)

Di sinopsis Solomon’s Perjury episode sebelumnya, kasus pembakaran rumah keluarga CEO Choi akhirnya terbongkar dengan tersangka utama Firework Artisan dan CEO Choi sendiri. Pasca kejadian tersebut, untuk membalas informasi yang diberikan oleh Han Ji-Hoon terkait Firework Artisan, Ko San-Joong mengajukan diri untuk bersaksi dalam sidang sekolah. Dalam kesaksiannya, ia menyatakan bahwa Firework Artisan melihat keberadaan Choi Woo-Hyuk di kamarnya pada malam kejadian perkara. Dengan demikian, otomatis Woo-Hyuk terbukti tidak bersalah. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Solromonui Wijeung episode 10 kali ini?

Sinopsis Episode 10

Lee Joo-Ri mendadak terjatuh tak sadarkan diri usai melampiaskan emosinya pada Woo-Hyuk. Saat kemudian Ko Seo-Yeon menemuinya di klinik sekolah, Joo-Ri memberitahunya bahwa ia sungguh melihat ada satu orang murid sedang bersama So-Woo pada waktu itu di atas atap gedung. Murid tersebut kemudian berlari meninggalkan sekolah. Tidak tahu lagi apakah harus mempercayai Joo-Ri, Seo-Yeon hanya merespon dengan meminta Joo-Ri untuk beristirahat.

Juri berkumpul di sebuah ruangan untuk mendiskusikan keputusan yang akan diambil, sementara Seo-Yeon dan yang lainnya menunggu di ruang klub. Tanpa berkata apa-apa, Ji-Hoon tiba-tiba pergi keluar ruangan. Choi Seung-Hyun lantas memberitahu yang lain bahwa sebelumnya ia diminta oleh Ji-Hoon untuk mengumpulkan informasi mengenai murid-murid yang selama ini pernah dibully oleh Woo-Hyuk. Pun begitu, ia tidak menyangka Ji-Hoon akan menggunakannya untuk menyerang Woo-Hyuk.

Ji-Hoon menghampiri Woo-Hyuk yang sedang berdiri terpaku menatap halaman sekolah dari balik jendela. Woo-Hyuk mempertanyakan tindakan Ji-Hoon barusan di dalam sidang yang ia rasa tidak memihak dirinya, bahkan justru membuatnya menderita. Ji-Hoon menjelaskan bahwa sebagai pengacara ia sudah melakukan tugasnya, membebaskan Woo-Hyuk dari tuduhannya. Di sisi lain, ia tidak bertanggung jawab untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh Woo-Hyuk. Yang jelas, ia tidak ingin Woo-Hyuk terus-terusan berlaku seperti ayahnya, CEO Choi, dan mencoba memberikan pilihan pada Woo-Hyuk untuk melanjutkan hidup dengan caranya sendiri.

Seo-Yeon yang sedang duduk menyendiri di tangga darurat mendapatkan pesan dari Jeung-Guk Watchman, yang memberitahunya bahwa sidang masih belum berakhir karena apa yang terjadi pada So-Woo masih belum diketahui. Penasaran, Seo-Yeon bergegak beranjak dari duduknya dan mencoba mencari Jeung-Guk Watchman di sekeliling tempatnya berada. Ia tidak menemukan siapapun, selain Ji-Hoon yang terlihat sedang berjalan melintasi halaman sekolah di seberang tempatnya berdiri.

Hari berlalu. Saat hendak berangkat ke sekolah, Seo-Yeon mendadak berdiri terpaku di depan pagar rumahnya. Ia kembali mendapat sebuah pesan dari Jeung-Guk Watchman, kali ini berupa screenshot percakapan Joo-Ri dengan Jeung-Guk Watchman di malam kejadian perkara, dimana ia melaporkan melihat seseorang berlari di halaman sekolah.

Seo-Yeon lalu menunjukkan pesan tersebut pada Kim Soo-Hee dan Lee Yoo-Jin, sembari menambahkan bahwa kemarin Joo-Ri juga mengungkapkan hal yang sama. Karena masih ada waktu sebelum juri usai berunding, mereka pun memutuskan untuk mengecek kebenaran hal itu.

Berdasarkan informasi tersebut, arah yang dituju oleh murid yang dimaksud ternyata berujung pada gang buntu. Satu-satunya jalan keluar adalah melompati tembok yang ada di sana. Seo-Yeon jadi curiga jangan-jangan murid tersebut bukanlah murid dari SMA Jeung-Guk. Di saat yang sama, Soo-Hee menyadari adanya dash cam di mobil yang diparkir di sana.

Detektif Oh mengundang Ji-Hoon untuk menemuinya di sebuah cafe. Ia mengkonfirmasi kedekatan Ji-Hoon dengan So-Woo. Sempat kaget, Ji-Hoon tidak membantahnya, namun meminta agar detektif Oh merahasiakannya untuk saat ini karena pada saatnya nanti ia akan membeberkan semuanya.

Sementara itu, Soo-Hee berhasil mendapatkan rekaman dash cam dari pemilik mobil. Bertiga mereka mengecek isi rekaman tersebut dan ternyata benar, terlihat ada seseorang yang berlari melintas menuju gang buntu tersebut di malam natal alias malam kejadian perkara. Sayangnya, sosok murid tersebut tidak terlihat jelas karena kondisi jalan yang gelap.

Berbekal bukti baru tersebut, mereka mendatangi ruang rapat juri dan meminta perpanjangan sidang untuk satu hari lagi. Ditambah dengan bukti catatan telepon yang masuk ke nomer So-Woo di hari yang sama, mereka berhasil meyakinkan juri untuk menunda keputusan mereka.

Berita adanya sidang lanjutan membuat pihak sekolah geram. Apes bagi pak wakasek, Han Kyung-Moon merespon dengan memaksanya melakukan apa yang sudah ia perintahkan sebelumnya: memecat anggota klub sidang sekolah. Saat ia masih bimbang, Kyung-Moon sudah melanjutkan dengan memecatnya dan menghadirkan kembali pak kepsek sebagai kepala sekolah di sana.

Seo-Yeon mendapat telpon dari Park Cho-Rong yang rupanya sudah sadarkan diri. Bersama dengan Yoo-Jin dan Soo-Hee bergegas mereka menuju rumah sakit tempat Cho-Rong dirawat. Sesampainya di sana, Cho-Rong yang mengaku sudah melihat rekaman sidang sekolah mengucapkan terima kasih pada mereka karena sudah berada di pihak Joo-Ri di saat ia tidak ada. Yoo-Jin heran kenapa Cho-Rong tetap saja tidak membenci Joo-Ri. Namun Cho-Rong meyakinkan mereka bahwa di balik sikap kasar Joo-Ri, ia sebenarnya adalah teman yang baik dan mau melakukan apa saja untuk sahabatnya.

Bae Joon-Young kembali terlibat keributan dengan ibunya. Sama seperti sebelumnya, ibunya terus saja menyalahkan Joon-Young atas kematian kakaknya, Bae Joon-Seok. Tidak tahan lagi, Joon-Young membalas dengan mengatakan bahwa Joon-Seok pasti senang sudah mati duluan karena tidak akan melihat sikap ibunya yang seperti sekarang ini. Ibunya jadi makin kalap mendengarnya. Ayahnya yang kebetulan pulang dari kantor segera berusaha menahan ibunya sementara Joon-Young memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah.

Di luar, ayah Joon-Young sempat menyusulnya dan mempertanyakan kenapa Joon-Young tidak bisa menahan diri untuk ibunya. Ayahnya pun kaget begitu mengetahui Joon-Young sudah menahan diri sedemikian berat hingga sempat berniat untuk bunuh diri. Ia hanya bisa diam terpaku saat Joon-Young kembali melanjutkan langkahnya.

Tidak tahu hendak kemana, Joon-Young menunggu kedatangan Ji-Hoon di depan apartemennya. Saat Ji-Hoon datang, dengan ramah ia memperbolehkan Joon-Young untuk kembali tinggal dengannya malam ini. Ia pun mempersilahkan Joon-Young untuk mengambil salah satu bajunya yang ada di kloset untuk berganti pakaian sementara ia menyiapkan ramen untuk mereka berdua.

Saat sedang memilih-milih baju, Joon-Young melihat sebuah tas yang tampak familiar di bawah kloset. Ia sontak kaget begitu teringat bahwa itu adalah tas yang digunakan oleh murid yang ia lihat sedang berdiri sembari memandangi taman tempat So-Woo ditemukan meninggal pada pagi hari sebelum tubuh So-Woo diketemukan.

Di tempat lain, Seo-Yeon jadi penasaran kenapa Jeung-Guk Watchman terus-terusan memberikan informasi kepadanya terkait kasus kematian So-Woo. Dengan ditemani oleh detektif Oh, Seo-Yeon kemudian pergi menemui reporter Park. Tanpa basa-basi, Seo-Yeon menanyakan apakah reporter Park sudah mengetahui identitas Jeung-Guk Watchman. Sebelum menjawabnya, reporter Park menanyakan alasan Seo-Yeon ingin mengetahui identitas Jeung-Guk Watchman. Ia jadi kaget sendiri begitu tahu bahwa Jeung-Guk Watchman-lah yang mengusulkan diadakannya sidang sekolah serta secara tidak langsung menyetir arah jalannya sidang. Reporter Park sempat hendak memberitahukan siapa sosok Jeung-Guk Watchman sebenarnya, namun detektif Oh mencegahnya. Sebagai gantinya, reporter Park kemudian memberikan saran pada Seo-Yeon, agar ia tidak terlalu mempercayai Jeung-Guk Watchman.

Kehadiran kembali pak kepsek di sekolah langsung memberi dampak. Bu dekan mengumpulkan anggota klub sidang sekolah dan meminta mereka untuk membubarkan klub sidang sekolah. Karena mereka tidak langsung melakukannya, ia pun menyatakan mereka semua di-skors hingga mau menandatangi surat pembubaran klub.

Saat hendak pulang, Seo-Yeon bertemu dengan guru seni lukis yang akan kembali mengajar di sekolah. Sebagai orang yang cukup dekat dengan So-Woo, pak guru yang baru mengetahui apa yang terjadi dengan So-Woo dan adanya sidang sekolah menyatakan bahwa ia hendak memberi kesaksian karena ia percaya So-Woo tidak mungkin bunuh diri.

Di rumah, ibu Seo-Yeon tidak terima sekolah seenaknya men-skors Seo-Yeon dan juga teman-temannya. Namun begitu, Seo-Yeon keukeuh untuk terus menjalankan sidang sekolah karena masih belum mengetahui apa yang terjadi di malam meninggalnya So-Woo. Kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dengan keputusan Seo-Yeon.

Setibanya di kamar, ponsel Seo-Yeon berbunyi. Yang menelpon ternyata adalah pak wakasek, mengajaknya bertemu di sebuah cafe. Di sana, pak wakasek yang sudah mengetahui bahwa Seo-Yeon dkk di-skors mengungkapkan keprihatinannya karena ia sendiri dipecat karena menolak keputusan tersebut. Terutama, ia merasa prihatin karena merasa Seo-Yeon dkk sudah bertemu dengan teman yang salah. Seo-Yeon sempat bingung dengan pernyataan pak wakasek, namun ia langsung terhenyak begitu mengetahui yang dimaksud dengan ‘teman yang salah’ adalah Han Ji-Hoon karena ia adalah anak dari Han Kyung-Moon, kepala LBH yayasan sekaligus orang yang memutuskan untuk men-skors Seo-Yeon dan yang lainnya.

Untuk mengkonfirmasi, Seo-Yeon kemudian menemui Ji-Hoon. Ternyata benar, Ji-Hoon sama sekali tidak tahu menahu tentang adanya hukuman skors yang dialami Seo-Yeon dan anggota klub sidang sekolah lainnya. Saat Seo-Yeon menyinggung alasannya adalah adanya seseorang yang melakukan perubahan terhadap aturan sekolah, Ji-Hoon juga mengaku tidak tahu. Dengan kesal Seo-Yeon pergi meninggalkan Ji-Hoon, sembari sebelumnya memastikan bahwa apapun yang terjadi ia akan melanjutkan sidang sekolah.

Saat Kyung-Moon pulang dari kantor dan masuk ke dalam ruang kerjanya, Ji-Hoon menyusul dan langsung mengkonfrontasinya perihal hukuman skors yang dialami anggota klub sidang sekolah selain dirinya. Kyung-Moon tidak membantah bahwa memang ia yang memutuskan hal tersebut. Sebagai responnya, Ji-Hoon mengancam akan keluar dari sekolah apabila sampai teman-temannya sungguh dikeluarkan dari sekolah mereka. Kyung-Moon berdalih bahwa ia melakukan itu semua untuk melindungi Ji-Hoon. Namun Ji-Hoon tidak percaya dan berbalik mempertanyakan apakah benar yang dilakukan ayahnya untuk melindunginya atau untuk melindungi dirinya sendiri.

Kembali ke kamarnya, agar tidak ketahuan oleh Joon-Young yang terlihat sudah tertidur, Ji-Hoon masuk ke dalam kamar mandi, lantas menangis mengeluarkan perasaannya. Joon-Young rupanya belum tidur dan mendengarkan tangisan Ji-Hoon sambil terdiam.

Hari berlalu. Di ruang klub sekolah, bu guru Kim dan bu wali kelas — yang juga ikut diskors — menanyakan apa yang hendak mereka lakukan dengan adanya hukuman tersebut. Seung-Kyoon dan Soo-Hee terpaksa memutuskan untuk keluar karena diancam oleh orang tua mereka, sedang yang lain memastikan untuk melanjutkan sidang sekolah.

Beberapa saat kemudian, Seo-Yeon dipanggil ke ruang kepala sekolah. Sempat galau, Yoo-Jin menyemangatinya karena tidak ada lagi yang perlu ditakutkan karena toh mereka sudah diskors. Setibanya di sana, Seo-Yeon kaget karena yang memanggilnya ternyata adalah Kyung-Moon.

[wp_ad_camp_1]

Preview Episode 11

Berikut adalah video preview episode 11 dari drakor Solomon’s Perjury:

=== belum tersedia ===

» Sinopsis Episode 11 selengkapnya

sinopsis solomonsperjury 10

Leave a Reply