Sinopsis Shopping King Louis Episode 4 & Preview Episode 5 (2016)

Di sinopsis Shopping King Louis episode sebelumnya, Cha Joong-Won (Yoon Sang-Hyun) yang merasa bersalah pada Ko Bok-Sil (Nam Ji-Hyun) tidak hanya membayar secara penuh ginseng liar yang ia beli darinya, melainkan juga mengangkatnya menjadi pegawai magang di departemen merchandise. Meski sempat menikmati uang tersebut untuk membeli berbagai perlengkapan rumah, apes kembali menimpa Bok-Sil saat Louis (Seo In-Guk) terkena scam via telepon dan mentransfer uang kepada para penipu sejumlah $2000. Louis yang merasa bersalah pergi meninggalkan apartemen. Saat sedang melamun, ia melihat seekor anjing yang mirip dengan anjing miliknya dulu. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Shopaholic Louie episode 4 ini?

Dok. gambar dan video © MBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 4

Episode 4: Memory

Music box pinguin yang ditemukan Louis ternyata memang sangat berkesan baginya di masa lalu. Louis kecil bahkan sengaja menyembunyikan di tempat yang susah dicari agar tidak ditemukan orang lain. Kembali ke ending episode sebelumya, Bok-Sil mendatangi Louis yang sedang memanggil-manggil anjing yang mirip dengan Koboshi — anjingnya saat masih kecil dulu. Ia mengira Louis memanggil namanya (Koboshi sekilas terdengar mirip dengan Ko Bok-Shil). Karena Louis yakin itu adalah anjingnya, mereka pun mendatangi si pemilik anjing. Louis lalu bertanya apakah ia mengenalinya, yang dengan tatapan aneh dibantahnya.

Bok-Sil lantas memarahi Louis karena begitu mudahnya tertipu oleh scam. Louis beralasan bahwa ia hanya ingin segera mengetahui jati dirinya. Selain itu, ia merasa bahwa dulu ia adalah orang yang bisa dengan mudahnya menghabiskan uang $2000 dalam sehari, sehingga ia pun tidak merasa ragu pada saat tadi mentransfer uangnya. Bok-Sil lalu berbalik pulang dengan kesal. Ia bertambah emosi saat Louis memanggilnya dan mengatakan bahwa ia lapar.

Setibanya di kamar apartemen, Louis melihat hidangan makan malam yang sudah disediakan Bok-Sil. Saat Bok-Sil mandi, diam-diam ia memakannya karena merasa sungkan. Tapi tak lama kemudian Bok-Sil keluar sehingga Louis segera menghentikan makannya. Saat itulah Bok-Sil baru memperhatikan tumpukan barang yang hari itu baru saja dibeli Louis. Dan emosinya memuncak setelah tahu bahwa barang-barang yang dibeli Louis bukanlah barang yang penting-penting amat. Mulai dari jas, pencukur jenggot elektronik, jam mahal, hingga earphone. Begitu Bok-Sil berteriak, Louis pun kabur keluar dari rumah.

Karena masih lapar, Louis numpang makan di rumah Jo In-Sung (Oh Dae-Hwan). In-Sung meminta Louis agar baik-baik pada Bok-Sil karena siapa tahu, sama seperti ibunya, suatu saat sikap Bok-Sil kepada Louis akan berubah 180 derajat. Louis jadi ngeri sendiri membayangkannya. In-Sung lantas menghidupkan televisi dan sedang ada wawancara dengan Baek Sun-Goo (Kim Kyu-Cheol), yang baru saja dinobatkan sebagai satu di antara empat orang paling berpengaruh di Asia akibat kemampuannya memimpin Gold Group. Salah melihatnya, Louis mengatakan bahwa sepertinya ia kenal. In-Sung tidak menghiraukannya dan menceritakan tentang sosok Sun-Goo, yang segera akan menjadi presdir Gold Group karena pewaris yang seharusnya baru saja meninggal karena kecelakaan. Louis kagum dengannya, tapi tetap merasa seperti mengenalnya. Ia lalu mengajak In-Sung untuk pergi ke Gold Department Store esok pagi.

Sementara itu, Hwang Geum-Ja (Hwang Young-Hee) naik menemui Bok-Sil. Geum-Ja curiga Louis hanya mengerjainya saja. Bisa jadi ia memang tidak pernah bertemu dengan Ko Bok-Nam (Ryoo Ui-Hyun) dan menemukan jaket Bok-Nam di tempat sampah. Geum-Ja meminta Bok-Sil membayangkan, apa jadinya jika sampai tua Louis masih saja mengikutinya seperti sekarang dan terus menghabiskan uangnya. Mau tidak mau Bok-Sil jadi membayangkan hal tersebut.

1

2

3

4

Beberapa saat kemudian, Bok-Sil pergi makan di sebuah rumah makan. Ia bertemu dengan detektif polisi yang menangani kasus Bok-Nam beberapa waktu lalu, kali untuk membahas masalah scam yang dialami Louis. Sayangnya, detektif tersebut mengatakan agak sulit mendapatkan kembali uang yang sudah diambil oleh para penipu itu. Bok-Sil agak kecewa mendengarnya. Si detektif lantas menawarkan apakah Bok-Sil ingin tambah lagi, yang dibalas Bok-Sil dengan permintaan untuk pesan satu untuk dibawa pulang.

Setibanya di rumah, ia memakan makanan tersebut bersama Louis. Melihat Bok-Sil yang tampak menikmati makanan tersebut, Louis menatapnya lalu berkata kalau nanti uangnya sudah banyak, ia akan membelikan 100 mangkuk untuk Bok-Sil.

“Jangan sampai kena tipu lagi,” ujar Bok-Sil sambil tersenyum.

Louis terdiam mendengarnya. Ia lalu mundur dan menutup tirai penyekat di antara tempat tidur mereka.

“Aku minta maaf”, ujarnya sambil menunduk.

Bok-Sil tersenyum sambil menghela nafas.

Hari berganti. Shin Young-Ae (Kim Bo-Yeon) hendak pergi berjalan-jalan saat Baek Ma-Ri (Im Se-Mi) melihat tumpukan baju miliknya yang hendak dibuang Young-Ae karena sudah tidak pernah dipakai lagi. Ma-Ri lantas meminta Young-Ae untuk memasukkan baju-baju tersebut ke dalam tas.

Di kantor, Joong-Won meminta Bok-Sil untuk ikut menyiapkan sebuah produk yang akan menjadi andalan Goldline di musim gugur. Saat sedang mencari ide, tiba-tiba Ma-Ri mendatanginya dan memberikan sebuah tas yang berisi baju-baju lama miliknya yang tadi hendak dibuang oleh Young-Ae. Bok-Sil yang senang mendapat hadiah tersebut meminta Ma-Ri mau membantunya mencari ide produk musim gugur. Ma-Ri kaget mendengar Bok-Sil juga diminta untuk mengerjakannya (secara dia adalah pegawai magang), namun tak lama kemudian ia mengiyakannya sambil tersenyum.

Saat Bok-Sil pergi untuk mengambil paket di resepsionis, para karyawan membahas seseorang dengan nama ‘Shopping King Louis’ yang belakangan eksis mengomentari produk-produk mereka di online. Hanya saja, ejaan dan ketikannya berantakan, tidak seperti ‘Shopping King Louis’ yang sebelumnya mereka kenal. Ma-Ri jadi penasaran mendengarnya. Pun begitu dengan Joong-Won yang tidak sengaja mencuri dengar. Ia segera mengecek informasi tersebut dan kaget membaca komentar-komentarnya.

5

6

7

8

Louis dan In-Sung mendatangi Gold Department Store. Masuk ke pusat perbelanjaan high class tersebut membuat Louis merasa nyaman. Terbalik dengan In-Sung yang justru merasa risih dan ingin buru-buru pulang. Saat tiba di cabang toko tempat Louis mendapatkan celana dalam bersulamkan namanya, Louis menanyakan apakah mereka punya data transaksi penjualan celana dalam tersebut. Berhubung mbak pegawai menjawab mereka tidak menjual produk celana dalam (karena produk tersebut memang dibuat khusus sebagai hadiah untuk Louis), Louis nekat menunjukkan celana dalamnya pada mbak pegawai tersebut 😀 Ia berteriak histeris dan memanggil security untuk menangkap Louis. Mau tidak mau Louis pun terpaksa meninggalkan toko tersebut.

Kembali mendapati jalan buntu untuk mencari identitasnya, Louis melangkah gontai. Sayup-sayup terdengar lagu “Memory” dari Barbra Streisand (video klip di bagian akhir sinopsis). Tanpa sengaja ia lewat di depan sebuah toko dimana Young-Ae sedang melihat-lihat barang yang ada di etalase. Young-Ae terkejut setengah mati melihat wajah Louis dan berteriak panik. Demikian juga Louis (dan In-Sung yang datang sesaat kemudian) yang reflek ikut berteriak karena kaget. Khawatir terjadi sesuatu, In-Sung segera membawa Louis keluar. Dengan kesal, In-Sung meminta Louis untuk membagikan brosur-brosur Bok-Nam seorang diri.

Usai membagikan brosur, Louis menghubungi Bok-Sil dan mengajaknya makan siang bersama. Joong-Won yang melihat Bok-Sil tidak ikut makan dengan yang lain dan buru-buru keluar segera membuntutinya karena penasaran. Begitu keluar dari kantor, ia melihat sosok Louis dan teringat insiden di kamar mandi beberapa hari lalu. Ia segera menghampirinya dan kembali menanyai apa sebenarnya tujuan Louis berada di kantor dan berasal dari departemen manakah. Alhasil Louis pun bergegas kabur.

Pada saat Joong-won sedang menanyai Louis, Sun-Goo mendapat telpon dari istrinya tentang Louis. Sun-Goo tidak percaya, namun begitu melihat Joong-Won sedang bersama dengan orang yang mirip Louis, Sun-Goo mejadi kaget dan buru-buru berlari menghampiri mereka. Untunglah, pada saat ia sampai, Louis sudah kabur dari hadapan Joong-Won. Namun karena Joong-Won mengaku tidak mengenal Louis, Sun-Goo jadi curiga kepadanya. Tak lama kemudian ia bertemu dengan orang yang sebelumnya ia minta untuk menghabisi Louis. Ia memintanya untuk mengawasi Joong-Won karena khawatir jangan-jangan Joong-Won telah melakukan sesuatu untuk menggagalkan pembunuhan Louis. Apalagi ternyata pada saat Sun-Goo membicarakan rencana tentang Louis di telpon, ia mendapati Joong-Won di depan pintunya, hendak masuk ke dalam. Sun-Goo yakin saat itu Joong-Won sedang menguping pembicaraannya. Selain itu, agar lebih pasti, Sun-Goo meminta Young-Ae untuk menuju ke kediaman nenek Choi Il-Soon (Kim Young-Ok) dan memeriksa keadaannya.

9

10

11

Louis melihat sebuah kursi sofa di tempat sampah dan merasa tidak asing dengannya. Ia lalu meminta In-Sung untuk membantu membawa kursi tersebut ke apartemennya. Sambil duduk di kursi tersebut, Louis melihat sebuah catatan, yang ternyata berisi hal-hal atau benda-benda yang ia rasa berhubungan dengan dirinya. Ia lalu meminta In-Sung untuk memayunginya karena matahari sedang terik. Meski sempat mengomel karena kesal, In-Sung akhirnya menuruti permintaan Louis. Ia pun mengambil payung dan memayungi Louis, yang kemudian berbaring terdiam sembari mendengarkan kotak musiknya.

Malam harinya Bok-Sil tiba di rumah. Ia heran melihat Louis tertidur di luar. Namun rasa herannya berubah menjadi kesal begitu melihat cucian yang tidak diambil serta kondisi rumah yang berantakan. Bok-Sil jadi sadar bahwa Louis tidur di luar karena di dalam tidak ada tempat untuk tidur. Saat Louis masuk, Bok-Sil segera mengomelinya.

“Aku mau istirahat di rumah, tapi malah semakin capek.” ujar Bok-Sil dengan nada tinggi.

Louis menghampiri Bok-Sil dan meminta maaf. Melihat wajah Louis yang tampan dan polos, hati Bok-Sil pun luluh. Ia lantas mengajari Louis cara mencuci piring, yang dilakukan Louis dengan sangat telaten.

“Wah, aku sepertinya belum pernah mencuci piring selama hidupku,” ujar Louis.

Usai mencuci piring, Bok-Sil memberikan uang 50 sen kepadanya. Louis sempat meminta bayaran $1, tapi ditolak mentah-mentah oleh Bok-Sil.

Di rumah nenek Choi, Young-Ae diam-diam masuk ke kamar Louis dan memeriksa barang-barang di sana. Kim Ho-Joon (Eom Hyo-Seop) yang mengetahuinya menjadi curiga dan memeriksa ke sana. Saat Ho-Joon tiba, Young-Ae sudah berhasil mengambil gigi Louis kecil yang disimpan di sebuah kotak. Namun demikian, Ho-Joon segera menyadari ada yang tidak beres di sana.

Orang tua Joong-Won datang ke rumah Joong-Won. Saat mereka masuk, ada seseorang yang diam-diam mengambil foto mereka. Di dalam, ibu Joong-Won menemukan sebuah kotak yang berisi sepatu wanita. Dengan ge-er, ia mengira bahwa sepatu itu adalah untuknya, sehingga ia pun mencobanya. Karena ukurannya tidak cocok, ayah Joong-Won berpikir jangan-jangan Joong-Won kini punya pacar. Ibu Joong-Won menanggapi hal tersebut dengan gembira.

12

13

Kali ini giliran Bok-Sil yang dimintai Louis untuk memayunginya sementara ia berbaring dengan santai di kursi. Tiba-tiba telpon Bok-Sil berbunyi, dan yang menelpon menwarinya pinjaman. Bok-Sil jadi kesal karena sejak punya telpon jadi banyak orang aneh yang menawarinya macam-macam.

“Itu namanya telpon scam. Hati-hatilah.” ujar Louis dengan nada menggurui. “Kau lihat bagaimana aku kena tipu. Mereka bisa menghancurkanmu dalam beberapa detik saja. Kau harus hati-hati saat mengangkat telpon, mengerti?”

Bok-Sil jadi kesal mendengarnya. Beberapa saat kemudian Geum-Ja dan In-Sung datang sambil membawakan beberapa karung bawang. Ternyata Bok-Sil meminta mereka mencarikan pekerjaan untuk Louis dan itulah hasilnya, $30 untuk mengupas 20 kg bawang setiap harinya. Dengan enggan ia pun melakukannya. Tapi lagi-lagi ia membuat masalah. Saat matanya perih terkena bawang, dengan segera ia memesan kacamata renang untuk melindungi matanya. Dan saat lehernya sakit karena kebanyakan menunduk untuk mengupas bawang, ia pun memesan alat pijat. Bok-Sil yang mengetahuinya saat tiba kembali di rumah langsung murka, mengingat harga kacamata renang tersebut adalah $70 dan alat pijit $80, sedang gaji Louis sendiri hanya $30 😀

“Aku menyuruhmu mengupas bawang, bukan berbelanja!” bentak Bok-Sil. Ia melanjutkan, “Sebelum membeli sesuatu, pikirkan apakah kau benar-benar memerlukannya. Tidak ada yang tahu siapa dirimu sebelum kita bertemu, tapi lihatlah sekelilingmu sekarang.”

“Oke”, jawab Louis sambil tertunduk lesu.

Tahu Louis belum makan, Bok-Sil lalu mulai menyiapkan makan untuknya. Louis datang menghampirinya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia mendapat diskon 10% untuk pembelian alat pijat tersebut karena menulis review. Bok-Sil sama sekali tidak tertarik mendengarnya dan menoleh ke arah Louis dengan tatatapn tajam. Louis pun kembali duduk di tempatnya.

Usai makan, mereka berdua duduk di rooftop sambil memandang keindahan kota.

“Bok-Sil,” ujar Louis, “sepertinya aku dulu orang kaya. Tidak peduli berapa banyak uang yang aku habiskan, aku tidak mencemaskannya. Aku merasa sepanjang hidup tidak pernah mencemaskan soal uang.”

“Kalau kau sudah mengupas tambahan 100 kilo bawang lagi, lihat saja bagaimana reaksimu nanti,” respon Bok-Sil. “Berjanjilah kau akan berpikir sebelum membeli apapun mulai sekarang.”

Melihat Louis yang dengan polosnya mengangguk-anggukkan kepala, Bok-Sil menjadi tidak marah lagi kepadanya dan tertawa. Louis lalu memberikan usul produk musim gugur pada Bok-Sil, yaitu sebuah botol, yang kebetulan memang menjadi tren sejak beberapa tahun belakangan.

14

15

16

Setelah mendapat konsep yang lengkap dan detil, Bok-Sil menceritakan idenya pada Ma-Ri, yang menyimak dengan seksama.

“Baiklah.. itu bukan ide buruk,” ujar Ma-Ri, membuat Bok-Sil senang mendengarnya.

Dalam rapat departemen, satu demi satu mempresentasikan ide produk mereka. Bok-Sil menunggu giliran dengan grogi. Saat giliran Ma-Ri, Bok-Sil terkejut melihat ternyata Ma-Ri mempresentasikan produk botol persis seperti idenya yang ia utarakan pada Ma-Ri beberapa waktu lalu. Joong-Won menyukai ide tersebut. Saat tiba giliran Bok-Sil, ia hanya terdiam karena tidak tahu harus berbuat apa. Lee Kyung-Kook (Kim Byung-Chul) lantas mengambil kertas yang ia bawa, yang berisi rancangan botol yang serupa dengan yang dipresentasikan Ma-Ri. Sebelum sempat Bok-Sil berkata apa-apa, Ma-Ri mengatakan bahwa Bok-Sil telah membantunya membuat rancangan botol tersebut.

Sepulang dari kantor, mereka semua minum bersama di sebuah bar. Bok-Sil memandang ke arah Ma-Ri dengan tatapan jijik. Ternyata, usai presentasi di kantor, ia sempat bertemu dengan Ma-Ri di kamar mandi. Dengan santainya Ma-Ri menyerahkan kertas ide Bok-Sil yang tertinggal di ruang kantor.

“Menurutmu aku mencuri idemu? Karena itu kau jadi kelihatan kesal sekarang?” tanya Ma-Ri tanpa perasaan bersalah. “Aku benar-benar berterima kasih.”

“Bukankah kau seharusnya minta maaf, bukannya berterima kasih?” balas Bok-Sil.

“Jangan banyak berkhayal,” respon Ma-Ri. “Goldline Bottle. Kalau itu idemu, itu tidak akan dipilih menjadi produk perusahaan kita. Itu hanya akan jadi kertas saja di tanganmu. Aku hanya menyelamatkan idemu agar tidak jadi sampah dan mewujudkannya jadi nyata. Kau harusnya berterima kasih kepadaku, Bok-Sil.”

Tidak tahan lagi berada di bar, Bok-Sil berpamitan pulang. Tak lama setelah ia pergi, Joong-Won datang. Melihatnya tidak ada di sana, ia pun menanyakan pada yang lain. Bok-Sil sendiri sudah berada di dalam bus. Hujan mendadak turun dengan derasnya. Karena tidak membawa payung, Bok-Sil berniat untuk berlari menerobos hujan. Saat itulah tiba-tiba Louis muncul dari belakang dengan membawa payung. Bok-Sil kaget melihatnya datang menjemputnya.

“Apa semua berjalan lancar?” tanya Louis.

Mata Bok-Sil berkaca-kaca.

“Ada apa? Kenapa? Apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Louis kembali dengan nada khawatir.

Dengan tertawa sembari menahan tangis, Bok-Sil menjawab, “Aku hanya merasa sangat senang.”

“Kau sedang mengungkapkan perasaanmu kepadaku atau apa sih? Apa segitu senangnya melihatku hingga matamu berkaca-kaca seperti itu?” respon Louis.

“Jangan lebai,” balas Bok-Sil. “Aku hanya merasa senang karena ada seseorang di sampingku.”

Louis tersenyum lalu memeluk Bok-Sil. Ia berkata, “Aku juga bahagia karena kau ada di sisiku.”

17

18

19

20

Lagi-lagi keceriaan Bok-Sil tidak bertahan lama. Begitu sampai di apartemen, ia jadi kesal kembali gara-gara melihat Louis yang ternyata tidak mengangkat jemurannya sehingga menjadi basah kembali. Louis berdalih ia buru-buru karena tidak mau Bok-Sil kehujanan. Mereka berdua pun berkejar-kejaran sembari Bok-Sil memukuli Louis, hingga akhirnya berhenti setelah Geum-Ja berteriak dengan lantang.

Esok harinya Bok-Sil terbangun dan mendapati Louis sedang mengeringkan sepatunya dengan menggunakan hair dryer di kamar mandi. Ia jadi terharu melihatnya. Sesampainya di kantor, ia menemukan sebuah kotak di mejanya, berisikan sepasang sepatu. Karyawan lain mengira itu adalah sepatu dari Ma-Ri, hadiah karena Bok-Sil sudah membantu Ma-Ri mengerjakan presentasinya. Mendengar hal tersebut, Bok-Sil segera membawa kotak tersebut dan hendak membuangnya ke tempat sampah.

Joong-WOn yang melihatnya segera menyusulnya. Ia lalu menanyakan mengapa Bok-Sil hendak membuang hadiah tersebut.

“Aku tidak tahu apakah boleh menerima hadiah seperti ini lagi,” jawab Bok-Sil. “Aku takut akan berakhir sakit hati lagi.”

Ternyata, sebelum presentasi, Joong-Won sempat melihat Bok-Sil yang lembur dan tertidur kecapekan saat sedang menyiapkan ide produk botol tersebut. Ia pun tahu bahwa sebenarnya Bok-Sil yang menciptakan ide tersebut, bukan Ma-Ri.

“Bok-Sil, tidak semua orang berbuat baik padamu karena mau menikammu dari belakang. Ada orang yang berbuat baik hanya kerena memang mereka baik padamu dan mendukungmu dengan tulus. Sepatu itu dariku, jadi pakailah dan bekerjalah dengan baik. Mengerti?” ujar Joong-Won, sembari menutup kotak tempat sampah dan berlalu pergi.

Bok-Sil kaget mendengarnya, lalu menatap ke arah Joong-Won dengan senyuman dan hati senang. Tanpa ragu ia mengenakan sepatu tersebut. Hatinya bertambah senang setelah mengetahui botol rancangannya banyak digunakan oleh orang-orang. Sesuai permintaan Joong-Won, sejak saat itu ia bekerja dengan penuh semangat dan terus belajar hal-hal baru. Joong-Won memperhatikannya dari kejauhan dengan senang.

Ho-Joon yang sedang capek berniat untuk membeli alat pijat. Tanpa sengaja ia melihat review dari Louis. Ia pun kaget melihat nama orang yang melakukan review, walau sedikit ragu dengan beberaoa ejaannya yang kurang tepat. Saat sedang berpikir, suara petir tiba-tiba menggelegar, membuat suasana jadi mencekam.

21

22

23

Di saat yang sama, Louis mendapati Bok-Sil yang tubuhnya menggigil karena demam. Sesuai petunjuk In-Sung, ia segera menerobos hujan untuk membelikan obat untuk Bok-Sil. Setelah mengkompresnya, semalaman ia tidur di samping Bok-Sil untuk menjaganya. Esok harinya, Geum-Ja membuatkan bubur untuk Bok-Sil. Ia yakin Louis tidak akan melakukan apa-apa untuk Bok-Sil. Setelah bubur siap, In-Sung membawakannya ke kamar Bok-Sil. Ternyata hanya ada Louis di sana, masih tertidur, sedangkan Bok-Sil sendiri sudah tidak ada di tempat.

Anak buah Sun-Goo menerima hasil tes DNA gigi Louis kecil dengan DNA mayat kecelakaan yang diduga Louis, dan ternyata hasilnya tidak cocok. Ia segera mengabarkan hal tersebut pada Sun-Goo. Tanpa diduga, Sun-Goo yang sedang berada di kantor saat itu sedang berhadapan langsung dengan Louis, yang datang ke kantor untuk mencari Bok-Sil. Dan lebih tidak diduga lagi oleh Sun-Goo, Louis datang menghampirinya lalu tersenyum dan memberi salam hormat kepadanya.


Berikut video klip lagu “Memory” dari Barbra Streisand yang menjadi lagu tema dari episode kali ini.


Preview Episode 5

» Sinopsis Ep 5 Selengkapnya

Reply