Sinopsis Man Living At My House Episode 6 & Preview Episode 7 (8 November 2016)

Di sinopsis Man Living At My House episode sebelumnya, Hong Na-Ri (Soo-Ae) sedikit demi sedikit mengumpulkan informasi mengenai Ko Nan Gil (Kim Young-Kwang) dan juga ibunya, Shin Jung-Im (Kim Mi-Sook), dari penduduk kota. Ia tidak hanya sudah tahu mengenai Nan-Gil yang dulunya bersekolah di sekolah yang sama serta dibesarkan di panti asuhan tempat ibunya menjadi sukarelawan, melainkan juga tentang asisten Kwon Duk-Bung (Lee Soo-Hyuk), Kwon Soon-Rye (Jung Kyung-Soon), yang tidak menyukai ibunya. Entah apa yang dipikirkannya, pada suatu titik Na-Ri bergegas pulang menemui Nan-Gil dan langsung memeluknya tanpa basa-basi. Dalam hatinya ia berucap maaf karena selama ini tidak mengingatnya. Apa yang kira-kira bakal terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 6 ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 6

Sedikit flashback, Kim Wan-Sik (Woo Do-Hwan) rupanya benar tidak memberitahu Na-Ri mengenai ‘legenda Ko Nan Gil’. Ia hanya mengatakan bahwa Nan-Gil adalah orang yang perlu dikasihani.

“Bagaimana bisa kamu menggunakannya sebagai ayah tirimu hanya karena ibumu membantunya saat ia masih kecil? Hidupnya bisa berakhir karena ini. Lebih tepatnya, hidupnya akan berakhir.” ujar Wan-Sik pada saat itu.

Kembali ke saat Na-Ri memeluk Nan-Gil. Nan-Gil jadi canggung karena itu terjadi di depan restorannya. Dan tanpa disadari, Kwon Duk-Sim (Shin Se-Hwui) dan Lee Yong-Kyoo (Ji Yoon-Ho), karyawannya, melihat kejadian itu.

“Maafkan aku, maafkan aku, Ko Nan Gil, aku minta maaf” ucap Na-Ri tanpa melepas pelukannya. Ia mulai menangis.

“Buat apa kamu minta maaf?” tanya Nan-Gil.

“Maafkan aku tidak bisa mengingat apapun. Aku minta maaf dan berterima kasih.”

“Oke, oke, aku mengerti,” respon Nan-Gil sembari melepaskan diri dari pelukan Na-Ri, “Ayo kita masuk dan berbicara di dalam.”

“Apa yang kamu tahu? Kamu tahu bagaimana perasaanku?” tanya Na-Ri. “Aku merasa bersalah dan aku takut.”

“Apa kamu mabuk lagi?” tanya Nan-Gil yang heran dengan sikap Na-Ri.

“Lupakan itu. Hentikan saja segalanya.”

“Lupakan apa? Bicaralah yang jelas.”

“Kamu tidak bisa menang melawan Da Da Finance. Menyerahlah. Ibu juga akan mengerti.”

“Ayo masuk ke dalam.”

“Tidak, ayo bicara di sini. Jangan kembali lagi ke dalam. Tinggalkan mulai dari sini.” ujar Na-Ri sembari menunjuk ke arah Hong Dumplings.

Nan-Gil tidak menjawabnya dan meraih tangan Na-Ri, hendak menariknya ke dalam. Na-Ri reflek berjongkok agar tidak terseret oleh Nan-Gil.

“Jangan masuk ke rumah itu lagi,” ucapnya. “Kamu akan melakukan yang baik di restoran lain dengan kemampuanmu. Pergilah. Pergilah selagi aku membiarkanmu.”

Nan-Gil melepaskan pegangan tangannya hinga Na-Ri terjengkang. Tanpa basa-basi, Nan-Gil lantas menggendong Na-Ri dan membawanya masuk ke dalam. Na-Ri berteriak-teriak sambil memukulnya.

Setibanya di halaman rumah, Nan-Gil menghidupkan keran air dan meminta Na-Ri untuk membasuh mukanya agar tersadar. Na-Ri segera mematikan kembali keran air itu dan berbalik meminta agar Nan-Gil yang menyadarkan dirinya.

“Aku yang akan mengurus surat-suratnya. Berkemaslah dan pergi.” ujar Na-Ri.

“Tidakkah itu terlihat seperti lelucon untukmu?” tanya Nan-Gil. “Kamu tahu berapa keras aku bekerja untuk menyelamatkan restoran ini? Apakah karyawanku terlihat seperti lelucon untukmu? Aku sudah bilang untuk tidak mengatakannya lagi. Ini rumahku.”

“Ini bukan lelucon. Ini juga rumahku. Apapun yang terjadi pada keluargaku, itu adalah tanggung jawabku.”

“Yang kamu lakukan hanyalah mabuk. Bagaimana bisa kamu bertanggung jawab?” balas Nan-Gil sembari kembali menghidupkan keran air.

“Nama panggilanku adalah ‘Super Hong’. Aku akan menyelesaikan masalah kapanpun dan dimanapun. Jadi aku akan mengurus urusan keluargaku.”

“Cukup sudah dengan ‘Super Hong’. Basuh saja mukamu dan sadarkan dirimu. ”

Na-Ri menanggapinya dengan kembali mematikan keran air. ia melangkah mendekati Nan-Gil dan berkata, “Juga, aku mengingatnya. Aku selalu merasa ada orang yang mengejarku. Itu kamu, bukan? Lapangan sekolah di hari hujan saat SMP.”

Nan-Gil terdiam. Ia teringat saat ia memberikan payungnya pada Na-Ri agar Na-Ri bisa pulang, sementara ia sendiri diam-diam berlari pulang kehujanan.

“Benar?” tanya Na-Ri lagi. “Kamu mencipratkan air kepadaku lalu berlari.”

Nan-Gil tertawa mendengar Na-Ri ternyata menebak secara ngawur.

“Tidak mungkin,” ucap Nan-Gil.

“Benar? Benar? Benar?” tanya Na-Ri. “Anak-anak seusia itu biasanya mengganggu gadis yang mereka suka. Jangan bilang padaku kamu mempertaruhkan semuanya untukku.”

“Aku tidak pernah bersikap tidak dewasa, jadi aku tidak pernah mengganggu siapapun. Juga, ini tidak berbahaya. Itulah yang benar.”

“Hidupmu bisa saja berakhir.”

“Siapa yang bilang?”

“Semua orang,” jawab Na-Ri dengan nada tinggi.

Nan-Gil memegang kedua lengan Na-Ri dan berkata, “Lihatlah ke dalam mataku. Dengarkan aku. Orang lain berbohong, jadi jangan dengarkan mereka. Hanya dengarkan yang aku katakan dan percayalah hanya kepadaku.”

Na-Ri terdiam.

Di kamarnya, Na-Ri memegang salah satu foto yang bergambar dirinya dan juga teman-teman sekolahnya dulu saat SD.

“Aku harus mengingat sesuatu,” gumam Na-Ri. “Ibu, aku khawatir kepadanya. Apa yang harus aku lakukan?”

Seseorang menggedor-gedor pintu halaman rumah Na-Ri di malam hari. Nan-Gil yang membukakannya. Ternyata itu adalah Do Yeo-Joo (Jo Bo-Ah) yang sedang mabuk. Tanpa basa-basi ia langsung memeluk Nan-Gil, mengira itu adalah Na-Ri. Nan-Gil jadi risih dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Yeo-Joo. Na-Ri yang mendengar keributan itu keluar dari rumah dan langsung kalap melihat Yeo-Joo sedang berada di sana dan memeluk Nan-Gil. Tanpa pikir panjang, ia berlari ke arah mereka dan melompat menyergap mereka. Nan-Gil sempat mendorong Yeo-Joo ke samping sehingga Na-Ri jatuh menimpa Nan-Gil.

Keduanya saling terpaku dalam posisi hampir bertindihan, hingga Yeo-Joo datang menghampiri dan menanyakan apakah Na-Ri tidak apa-apa. Na-Ri segera berdiri. Begitu sadar yang ada di tanah adalah Nan-gil, Yeo-Joo langsung sibuk memperhatikannya, bahkan mengajaknya untuk minum-minum lagi. Na-Ri yang kesal menempeleng kepala Yeo-Joo dari belakang. Nan-Gil kaget sendiri melihatnya.

Yeo-Joo terdiam, lalu menoleh ke arah Na-Ri. Perlahan ia melangkah mendekati Na-Ri, lantas memeluknya sambil menangis. Ia merengek menceritakan tentang jadwalnya yang padat serta dibicarakan oleh yang lain di belakangnya. Sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Yeo-Joo, Na-Ri memberi tanda agar Nan-Gil masuk ke dalam.

Melihat Nan-Gil melangkah masuk, nada suara Yeo-Joo langsung berubah menjadi imut dan ia meminta untuk dibawakan segelas air. Na-Ri kembali meminta Nan-Gil untuk masuk. Begitu Nan-Gil masuk, Yeo-Joo melepaskan pelukannya dan melemparkan dirinya sendiri ke tanah.

“Mengapa dunia ini begitu kejam?” teriaknya sembari memukul-mukul tanah dengan tasnya, “Mengapa kamu tidak membawakanku segelas air? Dunia begitu kejam terhadapku. Salah apa yang sudah ku lakukan?”

Tiba-tiba Yeo-Joo menoleh ke arah Na-Ri dengan tatapan tajam. Tangannya menunjuk ke arah Na-Ri dan berkata, “Hong Na Ri. Kamu. Apa yang kamu lakukan di sini? Semua orang menyalahkanku dan membicarakanku di belakang. Kembalilah.”

Tiba-tiba Nan-Gil datang kembali dengan membawa segelas air. Ia lantas memberikannya pada Na-Ri yang meresponnya dengan tatapan kesal. Nan-Gil pun segera kembali lagi ke dalam.

Na-Ri memberikan gelas air itu pada Yeo-Joo yang langsung menghabiskannya.

Yeo-Joo tertidur di salah satu kamar di rumah Na-Ri. Sementara itu, Na-Ri menghadang Nan-Gil yang hendak pergi ke rumah kaca / greenhouse. Ia meminta agar Nan-Gil tidak gampangan seperti tadi, memeluk dan memberi Yeo-Joo segelas air.

“Aku tidak ingin tapi orang terus saja jatuh ke pelukanku,” jawab Nan-Gil sambil menyindir Na-Ri yang juga sempat melakukan hal yang sama.

“Jangan bawa aku turun ke levelnya,” respon Na-Ri tidak terima.

Na-Ri lantas meminta Nan-Gil untuk menjauhi Yeo-Joo karena ia suka mencuri milik orang lain. Na-Ri baru sadar akan ucapannya sendiri dan terdiam begitu usai mengucapkannya.

“Mencuri milik orang lain?” tanya Nan-Gil sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri. “Kamu membicarakan tentang aku? Aku kepunyaan siapa?”

Na-Ri bingung menjawabnya. Ia kemudian menekuk telunjuk Nan-Gil agar tidak mengarah lagi ke dirinya sendiri, lantas mempersilahkannya untuk pergi.

Sepeninggal Nan-Gil, Na-Ri melompat-lompat menyesali kebodohannya barusan sambil memegangi kepalanya. Tanpa diduga Nan-Gil kembali lagi dan memintanya untuk pergi meninggalkan restoran karena curiga Na-Ri bakal menggeledah kamarnya lagi.

Hari berganti. Esok paginya, Na-Ri kembali menghidangkan sup sapi pada Nan-Gil dan karyawannya. Mereka terlihat sudah mulai bosan dengan menu itu. Tiba-tiba ponsel Na-Ri berbunyi. Ada pesan dari Yoo Shi-Eun (Wang Bit-Na), memberitahu Yeo-Joo baru saja mengupload foto ke grup chat mereka tentang dirinya yang sedang berada di rumah Na-Ri. Na-Ri jadi kesal membacanya. Melihat Na-ri yang emosi, karyawan Nan-Gil perlahan memakan sup mereka.

Yeo-Joo sedang memfoto isi kamar Na-Ri saat Na-Ri tiba-tiba masuk. Berpura-pura tidak ada apa-apa, Yeo-Joo lantas mengajak Na-Ri untuk foto bersama. Tanpa diduga, Na-Ri merespon dengan mencengkeram kerah baju Yeo-Joo dan menyeretnya turun ke bawah. Begitu tiba di bawah, melihat ada banyak pria di sana, seperti biasa sikap Yeo-Joo langsung berubah. Dengan imut ia meminta tolong pada ‘si adik kecil’ alias Nan-Gil. Na-Ri segera memberi tanda agar Nan-Gil dan yang lainnya pergi. Nan-Gil pun menurutinya dan memaksa karyawannya, yang sedang asyik terbengong-bengong melihat Yeo-Joo, untuk masuk ke restoran.

Sepeninggal mereka, Na-Ri menyatakan bahwa sejak Yeo-Joo datang, hidupnya yang tadinya tenang di sana menjadi kembali kacau. Yeo-Joo lantas bercerita bahwa Dong-Jin akan dipindahkan ke cabang Hong Kong. Yeo-Joo berjanji tidak akan mengganggu Na-Ri lagi setelah ia menikah dengan Dong-Jin dan ikut dengannya ke Hong Kong. Na-Ri tidak mempermasalahkannya dan mempersilahkannya untuk pergi saja ke Hong Kong dengan tenang.

“Itu tidak masalah buatku, tapi Dong-Jin takut terlihat seperti pria yang jahat. Kamu harusnya sudah tahu itu.” ujar Yeo-Joo.

“Lalu apa sekarang? Aku tidak tahu apa-apa tentang dia,” bentak Na-Ri.

“Aku tidak ingin kehilangan Dong-Jin. Ku mohon beraktinglah seolah-olah kita baik-baik saja,” pinta Yeo-Joo. “Aku tidak punya teman dan aku sendirian di pekerjaan sekarang. Bagaimana kalau tidak ada seorang pun yang datang ke pernikahanku?”

“Aku menghargai nyalimu,” respon Na-Ri, “Kamu melakukan ini karena pernikahanmu?”

Yeo-Joo mengangguk manja. Ujarnya, “Itu momen sekali seumur hidup.”

“Apa kamu tahu bunga terong seperti apa?” tanya Na-Ri.

Yeo-Joo memandangnya dengan heran.

“Bunga sekecil ini tumbuh hingga menjadi sebesar ini,” jawab Na-Ri sembari mengepalkan tangannya. “Ini sudah waktunya untukmu tumbuh dewasa, bukan? Pergilah.”

Yeo-Joo bangkit dari tempat duduknya. Dengan tersenyum ia berkata, “Sunbae, kamu tahu apa kekuatanku, bukan? Aku tidak punya harga diri. Aku akan menunggumu di luar.”

Duk-Bong dan Soon-Rye mendatangi Hong Dumplings. Duk-Bong meminta Nan-Gil yang sedang ada di dapur untuk menemuinya. Ternyata sedang ada makan-makan antara perwakilan developer resor dengan warga kota yang sudah setuju menjual tanah mereka. Duk-Bong meminta agar Nan-Gil ikut menjual tanahnya. Tanpa diduga Nan-Gil mengiyakan, dengan syarat danau dan hutan yang ada tidak dihancurkan. Duk-bong terdiam karena tidak mungkin melakukan hal itu.

“Hei, Nan-Gil, orang yang mengalami cinta pertama dan naksir diam-diam,” ujar Duk-Bong, “Kenapa kamu terobsesi dengan danau dan hutan?”

Nan-Gil hendak menjawabnya, tapi begitu melihat Na-Ri ternyata ada di belakangnya, ia mengurungkan niatnya. Duk-Bong menyapanya dengan ramah. Na-Ri yang salah tingkah karena sempat mendengar perkataan Duk-Bong tadi langsung pergi keluar.

Duk-Bong keluar dari restoran. Di dekat mobilnya ternyata ada Yeo-Joo. Yeo-Joo mengenalinya sebagai pria yang pernah datang ke bandara bersama Na-Ri. Tak lama Soon-Rye dan Nan-Gil ikut keluar. Melihat kontrak Nan-Gil masih ada di tangah Soon-Rye, Duk-Bong memarahinya dan menganggapnya tidak kompeten. Soon-Rye lantas pergi dengan kesal, sementara Duk-Bong menelpon Na-Ri, memintanya untuk menemuinya di luar.

Yeo-Joo menghampiri Nan-Gil dan menceritakan bahwa Duk-Bong pernah menemui Na-Ri di bandara dan mereka terlihat dekat. Nan-Gil tidak menanggapinya namun wajahnya terlihat kesal. Beberapa saat kemudian Na-Ri keluar dari pagar. Nan-Gil segera berpindah tempat menjauhi Yeo-Joo, takut dimarahi oleh Na-Ri. Duk-Bong segera meminta Na-Ri untuk melihat kontrak yang ia bawa karena ayah tirinya tidak mau membacanya. Yeo-Joo kaget mendengar Duk-Bong menyebut Nan-Gil sebagai ayah tiri Na-Ri. Na-Ri pun segera menutup mulut Duk-Bong dan meminta Nan-Gil masuk ke dalam.

Yeo-Joo lantas menghampiri Na-Ri dan mengancam akan memberitahu yang lain bahwa ia dan Duk-Bong berkencan. Na-Ri tidak ingin ia melakukannya. Akhirnya, sebagai gantinya, ia rela selfie bareng Yeo-Joo seperti yang diinginkan Yeo-Joo. Yeo-Joo bahkan sempat memotret Duk-Bong.

“Ku harap hubungan kalian berdua bisa berjalan baik,” ujar Yeo-Joo.

“Aku rasa kamu bukan tipe orang yang pemurah,” sergah Duk-Bong.

Na-Ri tertawa senang mendengarnya. Ia berkata pada Yeo-Joo, “Ah, aku belum mengenalkannya. Ini adalah Kwon Duk Bong. Ia adalah presiden dari museum robot di Seulgi-ri. Ia adalah anggota keluarga Greenland.”

Na-Ri segera mengajak Duk-Bong masuk, meninggalkan Yeo-Joo yang penasaran.

Di halaman, Na-Ri minta maaf karena sudah mengatakan yang barusan tentang Duk-Bong pada Yeo-Joo. Duk-Bong tidak mempermasalahkannya karena baginya memang sudah seperti itu seharusnya apabila berhadapan dengan orang serampangan macam Yeo-Joo. Na-Ri lantas hendak bertanya tentang perkataan Duk-Bong di restoran, yang menyebut Nan-Gil sebagai pemilik cinta pertama dan naksir diam-diam, tapi ia membatalkan niatnya.

Tiba-tiba Nan-Gil muncul sambil membawa beberapa rantang. Na-Ri dengan cepat memberikan kembali kontrak yang ia bawa pada Duk-Bong. Nan-Gil sendiri dengan cuek melewati mereka berdua dan menjatuhkan rantang-rantang itu begitu saja di tempat mencuci. Duk-Bong lantas menarik Nan-Gil.

“Karena kita semua ada di sini, mengapa kita tidak membahas ini secara dewasa? Na-Ri, apakah kamu takut terhadap ayah tirimu? Jika tidak, kenapa kamu bahkan tidak mau membaca kontraknya? Apa kamu tahu bahwa kamu bisa mengklaim rumah ini sebagai rumahmu,” cecar Duk-Bong.

Na-Ri mengiyakan.

“Dan kamu, Nan-Gil. Memang benar bahwa rumah ini atas namamu, tapi kamu tidak bisa menjualnya sesukamu. Na-Ri bisa menghentikanmu dari melakukan hal itu. Dan apakah kamu merasa tidak nyaman bersama dengan putrimu? Apakah kamu melakukan bagianmu sebagai ayah tirinya?” lanjut Duk-Bong.

Keduanya terdiam.

“Ini membuat frustrasi,” keluh Duk-Bong.

Duk-Bong lalu memberikan kontrak yang ia bawa pada Na-Ri dan mendekatkan Na-Ri dan Nan-Gil sembari berkata, “Kalian berdua harus secara serius membicarakan tentang hal ini sebagai keluarga. Kalian keluarga, bukan? Keluarga tidak bermain susah untuk ditangkap.”

Duk-Bong lantas pergi meninggalkan mereka berdua. Na-Ri dan Nan-Gil saling bertatapan, kemudian ikut pergi sendiri-sendiri.

Na-Ri sedang menemani tiga karyawan restoran makan sup sapi. Ia menanyakan mengapa Nan-Gil tidak ikut makan. Yong-Kyoo menjawab bahwa Nan-Gil sudah bosan dengan sup itu. Kedua karyawan lainnya kompak merespon mengatakan bahwa Nan-Gil tidak mengatakan demikian. Dengan kesal Yong-Kyoo melirik ke arah mereka dan lirih mengatai mereka pengkhianat.

Na-Ri menghampiri Nan-Gil yang sedang duduk termenung di restoran. Namun begitu ia melihat Na-Ri datang, tanpa berkata apa-apa ia pergi meninggalkannya.

Nan-Gil kembali tidak ikut makan bersama dengan yang lain. Na-Ri sendiri kali ini memberikan menu yang berbeda. Yong-Kyoo menyambutnya dengan penuh suka cita.

Yong-Kyoo menemui Nan-Gil di dapur dan menanyakan mengapa ia menghindari Na-Ri. Nan-Gil tidak mau menjawabnya dan memilih pergi meninggalkannya.

Na-ri pergi ke greenhouse. Duk-Sim diam-diam memperhatikannya. Tak lama kemudian Nan-Gil ikut masuk ke sana. Begitu ia masuk, Na-Ri langsung mencegatnya dan mengajaknya berbicara. Ia menjelaskan bahwa ia tidak berpihak pada Duk-Bong, bahkan ia tidak peduli apakah Nan-Gil bakal menjual tanahnya atau tidak.

“Tidakkah kamu harus pergi?” respon Nan-Gil.

“Apakah kau tahu yang aku rasakan?” tanya Na-Ri.

“Aku tahu kamu minum-minum setiap sore. Pergilah kalau begitu.”

“Aku minum bersama lansia karena aku rindu ibu. Lalu apa? Aku menyesalinya setengah mati. Aku merencanakan pernikahan bodoh itu bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah pergi sekalipun bersamanya. Aku pramugari, jadi tiket pesawat juga murah. Aku pasti adalah putri yang buruk. Lagipula aku serangga dan kuku kaki babi.”

Usai mengatakan hal itu, Na-Ri berjongkok dan mulai menangis.

Nan-Gil terdiam sejenak, lalu mengambil bungkus bibit tanaman yang ada di belakang Na-Ri.

“Kamu yang membeli bibit ini?” tanya Nan-Gil.

Na-Ri berdiri lalu mengusap air matanya dengan handuk Nan-Gil.

“Ya, aku ingin membuat ini sebagai tanahku. Aku masih baru, jadi aku ingin mulai dengan selada dan lada.” jawab Na-Ri, yang lantas mengambil bungkus bibit itu, merobeknya, dan menyebarkannya begitu saja di atas tanah.

“Hei, bukan begitu caranya,” cegah Nan-Gil.

Nan-Gil akhirnya mengajarkan pada Na-Ri bagaimana cara menanam bibit. Sembari melakukan itu, ia memberitahu Na-Ri bahwa bagi ibunya, tanah ini adalah dunianya, sehingga ia pasti tidak mempermasalahkan untuk tidak pergi kemana-mana. Mengenai sebutan serangga dari cerita nenek pemilik supermarket, Nan-Gil memberitahu Na-Ri bahwa anak nenek tersebut kabur dengan membawa uang ibunya dan tidak pernah sekalipun menghubunginya lagi.

“Bagaimana ibumu bisa membanggakan tentangmu kepadanya?” ujar Nan-Gil.

“Bagaimana dengan kuku babi?”

“Itu karenaku”

“Bagaimana bisa?” tanya Na-Ri heran.

“Aku benci, iri, dan cemburu pada putrinya, Na-Ri. Jadi ia berpura-pura untuk mengutukmu untuk membuatku merasa baikan.” jelas Nan-Gil.

Na-Ri lantas menanyakan apakah dulu Nan-Gil yang suka mengganggunya saat masih anak-anak. Nan-Gil membantahnya.

“Apakah kamu akan membiarkanku memiliki tanah ini?” tanya Na-Ri.

“Apakah kamu akan pergi ke Seoul?” tanya Nan-Gil balik.

“Baiklah, aku akan pergi. Aku tidak akan pernah kembali…”

“Ke sini lagi?” potong Nan-Gil. “Kamu mengatakan itu setiap saat, tapi kamu terlalu sering kembali lagi.”

Dari luar greenhouse, Duk-Sim mengamati mereka dengan kesal bercampur sedih.

Satu tahun yang lalu, malam-malam Duk-Sim merusak ladang. Tiba-tiba Nan-Gil muncul dan menanyakan apakah ia sudah selesai. Tak lama kemudian dari kejauhan para petani pemilik ladang berdatangan. Nan-Gil segera mengajak Duk-Sim pergi. Alih-alih memarahinya, Nan-Gil malah membersihkan sepatu boot dan tangan Duk-Sim di depan greenhouse. Usai melakukannya, Nan-Gil menanyakan mengapa Duk-Sim melakukannya. Ternyata itu karena anak-anak pemilik ladang membullynya di sekolah, sehingga ia melampiaskannya pada ladang-ladang ayah mereka.

“Ada orang-orang bodoh yang suka mengganggu orang lain. Mereka tidak memikirkan hidup mereka menjadi sampah. Jangan buang waktu dan emosimu untuk mereka,” nasehat Nan-Gil.

“Ini adalah tempat pribadi kami,” gerutu Duk-Sim dengan kesal.

Orang-orang Da Da Finance berhasil menemukan Shin Jung-Nam (Kim Ha-Kyun) di sebuah sauna. Mereka lantas membawa Jung-Nam ke kantor Da Da Finance dan mempertemukannya dengan Bae Byung-Woo (Park Sang-Myeon). Tanpa disangka, ternyata dulu yang datang meminjam uang di Da Da Finance adalah ayah Na-Ri, Hong Sung-Kyu, beserta Jung-Nam. Byung-Woo memintanya untuk mengikuti apa yang mereka perintahkan apabila ingin agar keponakannya, Na-Ri, selamat. Jung-Nam mengangguk.

Na-Ri minta diajari naik sepeda oleh Nan-Gil, karena ia capek harus berjalan kaki keliling kota. Nan-Gil menanyakan bukankah Na-Ri sudah bisa naik sepeda. Na-Ri menjawab sudah lupa caranya karena sudah lama. Ia juga jadi makin curiga kalau Nan-Gil mengikutinya sejak kecil karena ia tahu hal itu tadi.

Mereka pun kemudian asyik bersepeda menyusuri danau. Saat beristirahat sejenak karena Na-Ri kecapekan, Nan-Gil yang melihat Na-Ri tersenyum senang menjadi salah tingkah dan memutuskan untuk pulang duluan dengan alasan harus mengaduk adonan.

Sepeninggal Nan-Gil, tak jauh dari posisi Na-Ri berdiri, muncul Duk-Sim dengan raut muka kesal. Sementara itu, dalam perjalanan pulang ke restoran, Byung-Woo menghubungi Nan-Gil dan memberitahunya bahwa Jung-Nam ada di sana.

“Awalnya aku marah pada Hong Na Ri karena telah menggunakanmu, tapi setelah berbicara dengan Jung-Nam tentang masa lalu, aku menyadari bahwa ia adalah korban terbesar. Aku sudah lupa tentang sesuatu dari waktu yang telah lama. Kamu dan Na Ri seharusnya tidak pernah bertemu. Jangan sampai aku mengeruk hal itu,” ancam Byung-Woo.

Raut muka Nan-Gil berubah menjadi sedikit panik.

Kembali ke Na-Ri, saat sedang bersepeda dengan santai, tiba-tiba Duk-Sim mengejarnya dari belakang sembari membunyikan belnya. Hal itu membuat Na-Ri panik dan akhirnya terjatuh dari bukit. Mengetahui Na-Ri terjatuh, Duk-Sim segera menghentikan sepedanya.

“Ah sial, ia benar-benar tidak atletis,” ujarnya.

Duk-Sim lantas turun dari sepedanya dan melihat kondisi Na-Ri, yang saat itu mengerang kesakitan. Ia memutuskan untuk menghubungi Duk-Bong dan memberitahunya untuk datang ke tempat itu.

Duk-Sim kemudian turun menghampiri Na-Ri dan membantunya duduk. Na-Ri memintanya untuk mengambilkan ponsel yang ada di ranselnya. Ia pun menggunakannya untuk menghubungi Nan-Gil dan memintanya untuk datang. Karena tidak tahu posisinya, Na-Ri meminta tolong pada Duk-Sim untuk memberitahu Nan-Gil. Setelah mengatur suaranya terlebih dahulu, Duk-Sim pun memberitahu dimana mereka berada pada Nan-Gil. Ia juga sempat menghapalkan nomer telpon Nan-Gil sebelum mengembalikan ponsel tersebut pada Na-Ri. Na-Ri memperhatikan Duk-Sim yang senyum-senyum girang dengan heran.

“Tunggu dulu. Bukankah kamu yang tadi ada di sepeda?” tanya Na-Ri. “Benar? Bagaimana bisa kamu mengemudikan sepedamu seperti itu? Kamu punya banyak ruang. Kenapa kamu menuju ke arahku?”

Duk-Sim membantahnya, berdalih bahwa Na-ri yang menutupi jalurnya, hingga ia pun membunyikan bel. Dengan kesal Na-Ri menuduh Duk-Sim sengaja memaksanya jatuh ke bawah.

Duk-Bong tiba di TKP saat Na-Ri sudah sampai di atas, sementara Duk-Sim membawakan sepedanya. Na-Ri terus mengerang meratapi punggungnya yang sakit. Duk-Bong segera menghampirinya dan berniat untuk menggendongnya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit. Na-Ri menolaknya. Sesaat kemudian Nan-Gil datang dengan panik dan memberitahunya bahwa ia sudah memanggil ambulans. Duk-Bong dan Duk-Sim memperhatikan sikap keduanya.

Di dalam ambulans, Na-Ri sempat memperhatikan Nan-Gil yang terlihat khawatir terhadapnya. Di rumah sakit, setelah diperiksa di UGD, Na-Ri tidak mengalami apa-apa. Namun karena punggungnya sempat terbentur, maka Na-Ri diminta untuk menginap semalam di rumah sakit. Nan-Gil juga diminta untuk mengawasinya untuk berjaga-jaga apabila nanti ada yang terasa sakit. Nan-Gil mengiyakan.

Duk-Bong memaksa Duk-Sim ikut dengannya ke rumah sakit. Duk-Sim terus beralasan bahwa ia tidak sengaja dan itu salah Na-Ri sendiri karena kurang atletis. Duk-Bong mengingatkan bahwa wanita yang kurang atletis itu emosional dan bisa saja menuntutnya. Dan apabila polisi sampai menginvestigasi, maka Nan-Gil akan tahu bahwa Duk-Sim melakukan hal itu secara sengaja.

Di kamar inap, Na-Ri berusaha keras untuk naik ke tempat tidurnya. Karena tidak tahan, Nan-Gil akhirnya menggendongnya dan membantunya berbaring. Beberapa saat kemudian Duk-Bong dan Duk-Sim masuk. Duk-Bong akhirnya memberitahu Na-Ri bahwa Duk-Sim adalah adiknya. Nan-Gil dan Na-Ri kaget mendengarnya.

Na-Ri lantas meminta yang lain keluar karena ia akan berganti baju. Duk-Sim diminta untuk tinggal dan membantunya. Begitu yang lain keluar, dengan garang Na-Ri melepas sabuk penahan sakit di pinggangnya dan mengomeli Duk-Sim. Na-Ri menyadari bahwa Duk-Sim juga lah yang telah mengurungnya di gudang serta mengirimkan kartu-kartu ucapan mesra kepada Nan-Gil.

“Mengunciku di gudang dan ini keduanya berbahaya. Katakan padaku kenapa kamu melakukannya. Jika tidak, aku akan… Aku tidak peduli apakah kamu masih sekolah. Aku tidak akan menunjukkan belas kasih,” ancam Na-Ri.

Bukannya menuruti ancaman Na-Ri, Duk-Sim justru mengungkapkan uneg-unegnya selama ini. Ia mengatai Na-Ri sebagai player yang sudah menggoda banyak pria padahal ia sendiri sudah menikah. Na-Ri jadi kesal dan mengancam akan benar-benar menuntut Duk-Sim dan melapor kepada polisi.

Ia lantas berteriak memanggil Nan-Gil yang ada di luar dan memintanya untuk memanggilkan polisi. Duk-Sim langsung duduk berlutut ketakutan. Begitu Nan-Gil dan Duk-Bong masuk, Duk-Sim menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seperti sedang menangis, lalu berlari keluar begitu saja. Na-Ri sampai kebingungan sendiri melihat ulahnya.

Nan-Gil membela Duk-Sim dan mempertanyakan kenapa Na-Ri menakutinya karena ia tidak bermaksud apa-apa. Dengan kompak Duk-Bong dan Na-Ri merespon, mengatakan bahwa Duk-Sim memang punya niat sedari awal. Na-Ri lalu meminta Duk-Bong untuk berbicara dengan Duk-Sim mengenai hal itu. Duk-Bong mengiyakan, lantas pamit meninggalkan mereka.

“Kamu tahu emosi apa yang paling banyak menghabiskan energi?” tanya Duk-Bong pada Duk-Sim di dalam mobil. “Pertama, naksir diam-diam. Kedua, cemburu. Jadi, jika kamu naksir seseorang, jagalah itu. Jika kamu menambahkan cemburu ke atasnya, kamu akan jadi gila. Energimu akan habis.”

“Terserah,” respon Duk-Sim. “Kamu menyukainya, bukan?”

“Jangan ubah subyek,” balas Duk-Bong. “Mengapa aku?”

“Kamu bertingkah seolah kamu tidak akan datang, tapi begitu aku mengatakan tentang dia, kamu segera mendatanginya,” ucap Duk-Sim. “Kamu itu pangeran dengan kuda putih atau apa? Itu sama sekali bukan kamu.”

“Berhenti berkata ngawur.”

“Kalau begitu apa hubunganmu dengan player itu?”

“Player? Kenapa Na-Ri seorang player?”

“Ia tidak mau bercerai dengannya tapi bermain dengan pria-pria lain.”

“Kamu harus menjadi penulis,” respon Duk-Bong. “Apa kau tahu apa sebenarnya hubungan Nan-Gil dan Na-Ri secara hukum?”

“Aku tahu tentang permintaan untuk membatalkan pernikahan.”

“Mereka adalah orang tua dan anak. Ayah tiri dan putrinya,” jelas Duk-Bong.

“Kebodohan macam apa itu?” respon Duk-Sim tidak percaya.

“Apakah ‘ayah tiri dan putrinya’ adalah kebodohan untukmu?”

Duk-Sim lantas minta untuk diturunkan di jalan. Ia berlalu meninggalkan Duk-Bong dengan sepedanya. Senyum terlintas di wajahnya.

Na-Ri sedang berlatih berjalan di rumah sakit, diikuti oleh Nan-Gil di belakangnya. Mereka berpapasan dengan dokter, yang meminta Na-Ri untuk terus berjalan sambil dipegangi oleh Nan-Gil. Apabila besok hasil scan tidak ada masalah, maka ia diperbolehkan untuk pulang.

Na-Ri dan Nan-Gil lantas berjalan menuju taman rumah sakit. Na-Ri tiba-tiba berhenti dan menanyakan apakah sebaiknya ia mencari ayahnya, karena sebenarnya ia tidak membencinya. Apalagi, ia pertama kali naik pesawat berdua dengan ayahnya. Na-Ri mengatakan bahwa ia tidak tahu mengapa pada saat itu ibunya tidak ikut pergi dengannya. Selain itu, jika ditanyakan lagi tentang hal itu, ibunya selalu menjawab bahwa Na-Ri tidak pernah pergi naik pesawat dengan ayahnya.

“Tapi jika menemukan ayahmu, apa yang akan kamu tanyakan?” tanya Nan-Gil.

“Ibu menyimpan banyak rahasia dariku. Aku menyadari itu sekarang. Aku ingin bertanya apakah rahasia itu,” jawab Na-Ri.

“Tetap saja, jangan mencarinya. Ia lebih baik bersembunyi dari Da Da.”

“Oke, baiklah,” ujar Na-Ri.

Yeo-Joo dan Dong-Jin sedang duduk berdua di taman. Yeo-Joo membahas tentang hubungannya dan Na-Ri yang sudah baikan. Dong-Jin sepertinya sudah terlalu memikirkan Na-Ri dan mengatakan bahwa ia bisa melihatnya dari foto yang dikirimkan Yeo-Joo sebelumnya. Yeo-Jo lantas memberitahunya bahwa di sana Na-Ri sudah bertemu dengan seorang pria bernama Kwon Duk-Bong, yang juga pernah ditemui oleh Dong-Jin. Meski Na-Ri mengatakan ia adalah teman, tapi Yeo-Joo yakin hubungan mereka lebih dari itu dan bahkan dimulai dari perselingkuhan, sehingga Dong-Jin sudah tidak punya tempat lagi untuk kembali.

“Siapa bilang aku akan kembali?” respon Dong-Jin. “Tapi Na-Ri bukan tipe orang yang berselingkuh. Jika ia bilang ia adalah teman, berarti ia memang teman.”

“Kamu tahu aku sebaik kamu tahu tentangnya?” tanya Yeo-Joo dengan agak kesal. “Kamu tahu bagaimana perasaanku selama ini? Aku sudah dikucilkan karena mencuri kekasihnya dan mendapat shift malam. Tapi aku tidak memberitahunya, bukan?”

Dong-Jin tersenyum lalu berkata, “Kamu tampak seperti Do Yeo Joo yang dulu hari ini. Hari pertama kita bertemu, kamu datang pada malam itu, mengatakan bahwa kamu tidak bisa mengeluarkanku dari pikiranmu. Kamu selalu mengatakan yang kamu inginkan. Berhenti berbicara tentang Na-Ri mulai dari sekarang. Kamu tidak perlu mengirimkan foto seperti itu kepadaku. Kamu adalah kamu, Yeo Joo. Oke?”

Yeo-Joo tersenyum.

“Aku pasti sudah bertingkah seperti Na-Ri untuk membuatmu terkesan pada saat aku adalah aku,” ujar Yeo-Joo yang lantas mencium Dong-Jin.

Na-Ri terbangun di malam hari dan mendapati Nan-Gil duduk tertidur di samping tempat tidur menungguinya. Nan-Gil tiba-tiba terbangun dan melihat Na-Ri juga terbangun, ia segera mengambil catatannya dan menanyakan apakah Na-Ri merasakan sakit.

“Nan-Gil,” ujar Na-Ri, “aku minta maaf karena tidak mengingatmu di saat kamu mengingatku sejak aku masih kecil.”

“Tidak perlu meminta maaf,” jawab Nan-Gil.

Nan-Gil lantas meminta Na-Ri untuk kembali tidur.

“Aku tidak tahu ini akan terasa begitu baik untuk memiliki seseorang yang mengingatku saat aku masih kecil. Aku merasa seperti aku adalah cinta pertamanya. Aku merasa seperti orang keren, jadi aku menjadi lebih pede.” lanjut Na-Ri.

Nan-Gil terdiam sejenak, seperti hendak mengucapkan sesuatu, namun setelah itu yang keluar dari mulutnya adalah kalimat yang biasa, “Aku akan mengaduk adonan.”

Nan-Gil melangkah keluar dari kamar inap Na-Ri.

Aku sudah move on. Aku sudah move on.

Setibanya di luar rumah sakit, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

Di Da Da Finance, Wan-Sik meminta Jung-Nam untuk menuliskan segala sesuatu yang pernah diucapkan Nan-Gil kepadanya, termasuk ancaman-ancamannya. Tiba-tiba ponsel Byung-Woo berbunyi. Nan-Gil yang menelpon, meminta Byung-Woo untuk melepaskan Jung-Nam.

“Aku akan melindungi tanah itu, tidak tergantung pada Na-Ri. Jadi percuma untuk mengancamnya, mengatakan Na-Ri dan aku seharusnya tidak pernah bertemu,” ujar Nan-Gil.

“Aku tidak mengancamnya,” balas Byung-Woo, “Kamu mungkin berpikir kamu melindungi Na-Ri, tapi jika kamu melacak mundur, kamulah yang melakukan itu kepada keluarganya.”

“Apa maksudmu?” tanya Nan-Gil, wajahnya terlihat gelisah.

“Pamannya ada di sini, jadi aku tidak bisa menceritakan detilnya. Jika pamannya mendengar, Na-Ri juga pasti akan mengetahuinya,” jawab Byung-Woo sembari menutup telponnya.

Jung-Nam yang mendengarnya terlihat kaget, sementara Wan-Sik, yang juga ada di sana, sepertinya tahu apa yang dibicarakan oleh Byung-Woo.

Esok harinya, Na-Ri sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit karena tidak ada masalah di punggungnya. Ia memberitahu Nan-Gil bahwa sekarang ia akan menyelesaikan masalah kecelakaan itu. Dan yang dimaksud Na-Ri adalah mendatangi Duk-Sim dan berbicara empat mata dengannya.

Di ruang tamu kantor Duk-Bong, keduanya saling bertatapan tajam. Duk-Bong kemudian muncul dengan membawa surat perjanjian penyelesaian kasus. Ia memberitahu Na-Ri bahwa tagihan rumah sakit sudah dibayar dan ia bisa meminta kompensasi untuk luka fisik dan tekanan batin.

“Betapa menyebalkan,” gumam Duk-Sim.

“Penyerang mengakui bahwa kecelakaan itu dilakukan secara sengaja,” ujar Duk-Bong.

“Aku tidak bermaksud menuntut untuk kerusakan. Aku meminta penyerang meminta maaf. Silahkan pilih salah satu, ‘Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi.’ atau ‘Aku mohon maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi’.” ujar Na-Ri.

“Aku tidak mengira kamu akan jatuh seperti boneka perca, berlatihlah sedikit” balas Duk-Sim.

“Anak kecil, kamu tahu emosi apa yang paling menghabiskan energi?” respon Na-Ri.

“Pertama, naksir. Kedua, cemburu. Itu yang ingin kamu katakan?” jawab Duk-Sim.

“Tidak, bukan itu,” ucap Na-Ri, “Naksir dan cemburu akan terisi kembali jika dilakukan dengan benar. Pembuang energi yang sesunggunya adalah membenci orang lain.”

Duk-Sim dan Duk-Bong saling bertatapan.

Na-Ri melanjutkan, “Mudah untuk membuat hidupmu menyedihkan. Bencilah orang yang dekat denganmu. Itu perkataan Kim Gu yang populer.”

“Kita tidak dekat,” potong Duk-Sim.

“Kalau kita bisa duduk berhadapan, berarti kita dekat. Kwon Duk Sim, jika kamu mulai membenci seseorang, ingatlah ini. Kamu membuat hidupmu menyedihkan.” ujar Na-Ri.

Baik Duk-Sim dan Duk-Bong terdiam. Tapi tiba-tiba Duk-Sim menanyakan apakah benar Nan-Gil ayah tiri Na-Ri. Belum sempat Na-Ri menjawab, Duk-Sim langsung menundukkan kepalanya dan mengajukan permohonan maaf. Namun tetap saja itu bukan untuk Na-Ri, melainkan untuk Nan-gil.

“Itu bukan ayah tiriku,” bentak Na-Ri, sampai membuat Duk-Sim kaget.

Duk-Bong mendapat kiriman bagan organisasi Da Da Finance. Ia pun terhenyak begitu melihat ada nama Ko Nan Gil di sana.

Na-Ri meminta Nan-Gil untuk datang ke kamarnya. Setibanya Nan-Gil di sana, Na-Ri mengatakan bahwa ia akan meninggalkan barang-barangnya di sana untuk sementara waktu. Nan-Gil menyetujuinya. Dengan dingin ia meminta Na-Ri agar tidak datang lagi agar bisa menyelesaikan urusan dengan Da Da Finance. Nan-Gil berjanji tidak akan membiarkan mereka menghubungi Na-Ri maupun perusahaannya lagi.

“Pikirkan aku sebagai orang asing,” pinta Nan-Gil.

“Tentu saja. Apakah kamu benar memikirkan aku menerimamu sebagai ayah tiriku?” jawab Na-Ri. “Tahukah bahwa kamu terkadang dingin? Tapi itu tidak akan bekerja kepadaku lagi. Aku tidak akan mempercayainya karena aku tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya.”

“Dan bagaimana perasaanku sesungguhnya?” tanya Nan-Gil.

Sebuah mobil polisi mendatangi Hong Dumplings. Duk-Bong juga tiba sesaat kemudian. Detektif polisi lantas menanyakan keberadaan Ko Nan Gil pada karyawan restoran.

“Jujur saja, aku tidak tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya, tapi aku mulai penasaran. Aku merasa seperti akan menyesal jika tidak bertanya, jadi aku akan bertanya sekarang. Nan-Gil, kamu menyukaiku sejak kamu kecil, bukan? Aku cinta pertamamu, bukan?” tanya Na-Ri.

“Kenapa kamu penasaran tentang masa lalu? Itu semua sudah berlalu. Anggap saja kamu cinta pertamaku. Anggap saja aku mengikutimu kemana saja dan mengganggumu. Puas?” jawab Nan-Gil.

“Baiklah, lupakan masa lalu. Aku akan menanyai Ko Nan Gil yang berdiri di sini sekarang. Bagaimana dengan sekarang? Kamu mengingatku selama bertahun-tahun. Kamu masih menyukaiku?”

Preview Episode 7

Berikut ini adalah video preview episode 7 dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me:

» Sinopsis eps 7 selengkapnya

Reply