Sinopsis Man Living At My House Episode 4 & Preview Episode 5 (1 November 2016)

Di sinopsis Man Living At My House episode sebelumnya, Hong Na-Ri (Soo-Ae) masih belum percaya akan Ko Nan-Gil (Kim Young-Kwang) dan terus berusaha mengulik siapa dirinya sebenarnya. Apalagi Kwon Duk-Bong (Lee Soo-Hyuk) telah menjadi pengacaranya. Di acara anniversary ibunya, Na-Ri sengaja mengundang Jo Dong-Jin (Kim Ji-Hoon) untuk membuat Nan-Gil mabuk sehingga ia bisa kembali menggeledah kamar Nan-Gil. Usahanya berhasil, meski ia hanya bisa menemukan kunci gudang yang kemudian ia buat ‘cetakannya’ dengan menggunakan selotip. Apa yang kira-kira bakal terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 4 ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 4

“Na-Ri, percaya aku, percaya aku,” gumam Nan-Gil yang sedang terjatuh di pundak Na-Ri.

“Apa yang ia ingin aku percaya padanya?” respon Na-Ri.

Tiba-tiba sebuah mobil melaju ke arah mereka. Secara reflek Nan-Gil mendorong Na-Ri hingga terlempar ke sisi jalan sementara ia terjengkang ke belakang. Ternyata Duk-Bong yang mengemudikan mobil tersebut. Na-Ri segera menanyakan kondisi Nan-Gil yang dibalas Nan-Gil dengan memberi tanda OK dengan tangannya.

Duk-Bong keluar dari mobilnya dan menanyakan apakah ada yang terluka. Na-Ri langsung memakinya dengan nada tinggi, namun begitu melihat yang menyetir mobil ternyata Duk-Bong, ia menurunkan nada ucapannya dan memberitahunya bahwa Nan-Gil hampir saja terluka. Duk-Bong meminta maaf dan berdalih kondisi sedang gelap sehingga ia tidak melihat mereka.

Nan-Gil bangkit dan segera menghampiri Na-Ri, menanyakan apakah ia baik-baik saja. Dengan agak canggung Na-Ri mengiyakan.

“Apa yang kalian lakukan malam-malam? Ini jelas bukan salahku,” ujar Duk-Bong.

“Aku mabuk,” ucap Nan-Gil seraya masuk ke dalam rumah.

Duk-Bong lantas menghampiri Na-Ri dan menanyakan apakah ia juga mabuk. Na-Ri menjawab ia hanya sedikit minum karena ini anniversary ibunya. Duk-Bong tidak mempercayainya.

“Mengapa menunjukkan hubungan cinta keluarga di tengah jalan?” tanyanya lagi.

Na-Ri tertawa-tawa untuk membuang malu, lalu dengan sopan mempersilahkan Duk-Bong untuk lewat dan meneruskan perjalanannya.

“Rupanya ia manis saat mabuk. Apa ada yang salah denganku?” tanya Duk-Bong pada dirinya sendiri.

“Permisi. Na-Ri,” ucap Duk-Bong.

Dengan tampang bodoh Na-Ri menoleh ke arah Duk-Bong. Bayangan manis Na-Ri sebelumnya di mata Duk-Bong pun sontak hilang. Duk-Bong lalu mengatakan bahwa besok ia akan pergi ke Seoul dan mengajukan gugatan soal Nan-Gil ke pengadilan. Sambil mengepalkan tangannya ia mengatakan bahwa pertarungan dimulai dari sekarang. Na-Ri mengangguk lalu melangkah dengan cepat masuk ke dalam rumah.

“Ia selalu mengatakan yang ia inginkan tapi tidak pernah menanggapi,” gerutu Duk-Bong.

Begitu Duk-Bong berlalu dengan mobilnya, Kwon Duk-Shim (Shin Se-Hwui) muncul kembali dari balik taman dan memandang ke rumah Na-Ri dengan tatapan sinis.

“Nenek sihir itu menggoda semua orang. Tidak. Ia punya pria dimana-mana.” ujarnya dengan nada kesal.

Di taman, Nan-Gil sedang membasuk mukanya saat Na-Ri melewatinya, hendak masuk ke dalam rumah. Nan-Gil tiba-tiba berdiri dan meminta Na-Ri untuk berhenti. Ia ternyata sudah mencurigai Na-Ri sengaja memanggil Dong-Jin datang untuk membuatnya mabuk. Ia pun penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Na-Ri.

“Biarkan aku memberimu nasehat sebagai seorang ayah tiri,” ujar Nan-Gil, “Berhentilah bersikap seolah kau baik-baik saja. Itu tidak seperti kamu putus dengannya setelah satu atau dua tahun. Kamu pasti telah melewati banyak hal bersamanya. Ia juga hadir di pemakaman. Aku yakin hatimu sakit. Masa lalu pasti menyakitimu. Jangan hanya marah. Nyamankan dirimu dan lihat ke dalam dirimu. Bermeditasilah dan cari kedamaian.”

“Bermeditasi dan cari kedamaian. Baik. Lalu apa lagi? Memaafkannya?” respon Na-Ri dingin.

“Memaafkan apa?” bentak Nan-Gil, “Aku tidak akan pernah menerima tikus itu. Tidak pada saat aku masih hidup.”

Na-Ri kaget mendengarnya. Ia terdiam sejenak lalu berkata, “Kalian bertingkah sangat akrab.”

“Itu ketika aku mencoba untuk membantumu balikan lagi. Mulai dari sekarang, aku tidak akan menahannya.”

“Apa yang kamu tidak bisa tahan?”

“Ia plin-plan, pembohong, dan tidak tahu betapa beruntungnya dia. Ia tidak kuat minum alkohol dan tidak bisa menahan dirinya di saat seusianya. Apa yang bisa ia lakukan?” omel Nan-Gil.

Na-Ri menahan senyumnya mendengar hal itu.

“Apa? Apakah itu menghinamu?” tanya Nan-Gil. “Aku masih bisa lanjut. Ia punya senyum yang enak dan makan dengan suara keras.”

Na-Ri spontan tersenyum namun cepat-cepat menahannya lagi. Ia pun membalikkan badannya, melangkah masuk ke dalam rumah sembari berkata, “Kamu bisa mencoba semaumu. Aku tetap tidak mempercayaimu.”

“Ia bilang ‘bottoms up’, tapi ia tidak menghabiskan minumannya,” lanjut Nan-Gil. “Bahunya juga tidak imbang.”

Senyum Na-Ri makin lebar mendengarnya. Namun senyuman itu langsung hilang begitu Nan-Gil menyinggung soal ‘juniornya’. Na-Ri langsung berbalik kembali menghampiri Nan-Gil dan mempertanyakan mengapa ia bisa ingat akan Do Yeo Joo (Jo Bo-Ah) padahal ia mengaku sedang dalam keadaan mabuk. Seperti anak kecil yang sedang dimarahi ibunya, Nan-Gil menundukkan kepalanya dan bergeleng sambil mengatakan bahwa ia tidak ingat siapa ‘junior’ tadi. Agar tidak terus dikejar oleh pertanyaan Na-Ri, Nan-Gil pun berpura-pura akan muntah dan berlari masuk ke dalam rumah.

Nan-Gil masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur. Sementara itu, Yeo Joo sudah tiba di apartemen Dong-Jin. Ia mencoba membangunkan Dong-Jin yang tergeletak di bawah kursi belakang, namun Dong-Jin tidak bergeming. Perlahan ia mengambil ponsel Dong-Jin dari saku celananya dan membuka-buka isinya. Ia pun kesal melihat isi percakapan Dong-Jin dengan ibunya yang khawatir terhadap Na-Ri. Tanpa pikir panjang, ia membuka galeri foto Dong-Jin dan menghapus semua foto Dong-Jin dan Na-Ri yang ada di sana. Setelah mengembalikan ponsel tersebut, Yeo Joo menutup pintu mobil dan pergi meninggalkan Dong-Jin.

Dengan mengenakan pakaian dan jaket serba hitam, Duk-Sim diam-diam masuk ke kamar Nan-Gil. Melihat Nan-Gil yang tidur asal-asalan, perlahan ia memakaikan selimut dan bantal untuknya. Saat ia hendak keluar kembali dari kamar, Nan-Gil sempat membuka matanya dan mengetahui ada orang di sana. Namun karena tidak tahan, ia pun tertidur kembali. Di saat yang sama, Na-Ri membuat duplikat kunci gembok gudang dengan menggunakan tutup kaleng. Ia lalu keluar dari kamar dan mengecek kondisi Nan-Gil. Melihat Nan-Gil yang sudah tertidur, ia kemudian menuju gudang dan mencoba membuka gembok dengan kunci kaleng buatannya. Ternyata berhasil. Perlahan ia pun masuk ke dalam gudang untuk mencari tahu isi di dalamnya. Tanpa Na-Ri sadari, Duk-Sim sedari tadi memperhatikannya. Begitu Na-Ri masuk ke dalam gudang, dengan cepat Duk-Sim menutup pintu gudang dan menggemboknya kembali. Na-Ri yang kaget segera berusaha membuka pintu gudang, namun tentu saja usahanya sia-sia. Duk-Sim sendiri dengan santai meninggalkan tempat tersebut dengan senyum lebar.

“Perang telah dimulai, dasar kamu playboy,” ujar Duk-Sim.

Hari pun berlalu. Nan-Gil bangun dan melihat ponselnya. Ia langsung disambut dengan pesan notifikasi ada dua usaha pembobolan password dengan tampilan dua foto Na-Ri. Setelah minum segelas air dan sadar apa yang terjadi semalam, Nan-Gil berniat untuk membangunkan Na-Ri. Dengan membawakan segelas air ia pun masuk ke kamar Na-Ri. Ia heran melihat kamarnya yang kosong. Na-Ri sendiri, yang saat itu sedang tidur di lantai gudang dengan beralaskan koran, akhirnya terbangun. Mengira yang semalam menguncinya adalah Nan-Gil, dengan lantang ia segera memanggil-manggil nama Nan-Gil sembari menggedor pintu gudang. Nan-Gil yang mendengarnya segera membukakan kunci gembok gudang.

“Kenapa kamu tidur di situ?” tanya Nan-Gil heran.

Na-Ri melirik dengan tatapan tajam ke arah Nan-Gil. Ia berkata, “Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Ini adalah percobaan pembunuhan. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi? Bagaimana jika aku mendapat serangan jantung atau ada kebarakan? Aku bisa saja mati di gudang!”

“Aku.. aku tidak tahu… apa yang terjadi?” jawab Nan-Gil terbata-bata.

“Jangan bilang kamu pingsan, kamut idak mengingat, kamu tidak tahu apa-apa, atau yang semacam itu,” balas Na-Ri.

“Kamu bilang aku yang menguncimu di sana?” tanya Nan-Gil seakan tidak percaya. “Mengapa aku melakukannya?”

“Niat aslimu mungkin tiba-tiba muncul,” respon Na-Ri, “Atau kamu mungkin berpura-pura mabuk.”

“Itu bukan aku! Aku yang membukakanmu, kenapa aku menguncimu? Kuncinya ada tepat di sini…”

Nan-Gil langsung terdiam begitu melihat kunci duplikat yang dibuat Na-Ri. Na-Ri yang melihatnya segera mengalih pembicaraan dan berpura-pura kedinginan.

“Kamu membuatku mabuk untuk mendapatkan kunci ini, ya kan? Sudah jelas, kamu menggunakan api dan selotip di atasnya. Apa yang salah denganmu? Apa kamu melihatnya di online?” cecar Nan-Gil.

“Itu benar bukan kamu? Lalu siapa?”

Saat itulah mereka baru sama-sama menyadari bahwa ada orang lain yang telah masuk ke tempat mereka dan juga mengunci Na-Ri di gudang.

Layaknya detektif, keduanya lalu memeriksa jejak sepatu yang ada di depan pintu gudang. Setelah masih sempat-sempatnya berdebat, akhirnya mereka menemukan sebuah jejak sepatu berukuran kecil. Nan-Gil menduga itu adalah laki-laki dengan kaki kecil 😀 sementara Na-Ri yakin itu adalah jejak wanita lain. Nan-Gil kemudian menoleh ke arah Na-Ri. Wajah mereka yang saling berdekatan membuat Na-Ri jadi salah tingkah dan kembali berpura-pura kedinginan lantas berlari masuk ke dalam rumah.

Usai mandi, Nan-Gil yang sudah bersiap dengan mengenakan jas memberikan secangkir minuman pada Na-Ri. Na-Ri pun meminta Nan-Gil menunggunya karena ia akan datang ke pohon ibunya bersama-sama.

Dong-Jin akhirnya terbangun juga dari tidurnya. Saat masuk ke apartemennya, ia kaget mendapati Yeo Joo di sana. Seperti biasa, dengan memasang tampang sok imut dan tidak berdosa, Yeo Joo memberitahu Dong-Jin bahwa ia sudah menjemputnya dan mengantarkannya kembali ke apartemen, namun karena tidak kuat membawanya ke kamar dan tidak bisa mencari orang untuk membantunya, ia terpaksa membiarkan Dong-Jin tidur di mobil. Ia lalu berbohong dengan mengatakan Na-Ri dan kakaknya sudah merusak mobil Dong-Jin. Secara tidak langsung, ia menutupnya dengan memberi tanda bahwa tangannya terluka gara-gara ulah Na-Ri. Sambil diam-diam tersenyum ia pun pergi meninggalkan Dong-Jin yang kebingungan.

Na-Ri bersin saat Nan-Gil sedang mengatur persembahan di depan pohon ibu Na-Ri. Nan-Gil kemudian duduk di sampingnya dan memberikan segelas teh hangat kepadanya.

“Itu dingin. Kenapa kamu malah pergi ke sana?” tanyanya.

“Aku tidak punya sesuatu yang disembunyikan, tapi aku rasa ada banyak rahasia di rumahku.” jawab Na-Ri.

Nan-Gil berpura-pura tidak mendengarnya dan melihat-lihat ke atas pohon.

“Kita telah melalui beberapa masalah sejauh ini, tapi aku berterima kasih karena sudah bersamaku di saat anniversary. Setahun sudah cukup, jadi kamu bisa berhenti di sini.” ujar Na-Ri.

“Apa maksudmu?”

“Kamu masih muda. Apa kamu ingin tinggal di sini sepanjang sisa hidupmu?”

“Tentu saja. Aku akan tinggal di sini hingga pohon di sekitar danau tumbuh tinggi.”

“Ada apa dengan pohon dan menjadi ayah tiri?”

“Dengarkan baik-baik. Aku serius sekarang.” ucap Nan-Gil. “Apa yang akan terjadi saat petani membeli sekop? Ia akan membalikkan tanah, menabur benih, dan memanennya.”

“Benar,” respon Na-Ri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tidak akan ada yang menyangka ia akan memukul punggung seseorang dengan itu. Itu sebabnya aku menjadi ayah tirimu.” ujar Nan-Gil sembari menepuk-nepuk dadanya. “Dan jangan menggeledah kamarku lagi. Dan tempat lain juga. Kamu tidak akan menemukan apa-apa.”

“Kamu yakin tidak ada yang bisa ditemukan? Apa kamu tidak berpikir aku menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk di dalam gudang?”

Nan-Gil tidak mempercayainya, namun Na-Ri terus memancingnya dengan mengatakan mungkin saja semalam ia sudah menemukan sesuatu di dalam gudang.

Begitu Na-Ri kembali ke Seoul, Nan-Gil segera berlari tunggang langgang ke rumah untuk mengecek isi gudang. Baru sebentar masuk ke dalam gudang, salah seorang karyawan restoran memanggilnya dan memintanya untuk membuat adonan karena sudah hampir kehabisan. Dengan kesal Nan-Gil terpaksa menunda dulu pengecekan gudangnya.

Dalam bus, Na-Ri mengecek video-video promosi Hong Dumplings yang ada di internet. Ia sempat heran kenapa tidak ada penampakan Nan-Gil di sana. Namun begitu menemukannya (berupa foto), ia jadi salah tingkah sendiri dan memukul-mukulkan kepalanya ke kaca jendela.

“Ngomong-ngomong apa kamu suka pria?” tanya psikiater pada Duk-Bong yang sedang berkonsultasi.

Duk-Bong mengerjainya dan menceritakan bahwa ia memang sedang penasaran dengan seorang pria yang sudah punya anak. Psikiater jadi penasaran sendiri padahal yang dimaksud oleh Duk-Bong adalah Nan-Gil.

Na-Ri sedang bersiap-siap di rumahnya saat Duk-Bong menelpon, memberitahu ia akan memasukkan gugatan hari itu juga, jadi ia meminta Na-Ri menemuinya dengan membawa stempelnya. Na-Ri menjawab bahwa ia sedang sibuk. Duk-Bong segera menutup telponnya begitu saja. Na-Ri kemudian melanjutkan bersiap-siap. Ia sempat melihat sapu tangan yang ada di mejanya, yang sepertinya telah ia ambil dari gudang. Ada tulisan ‘Ko Nan-Gil, kelas 1-3’ di sana. Na-Ri jadi teringat dulu ibunya pernah membuat sulaman di sebuah sapu tangan dengan riang gembira. Apakah mungkin ada hubungannya?

Sementara itu, di gudang, Nan-Gil mulai menyadari benar-benar ada sesuatu yang diambil oleh Na-Ri di sana. Ia melihat buku-buku bertuliskan Na-Ri dan Nan-Gil ada di bawah meja. Nan-Gil segera membuka kotak yang ada di atas meja dan membongkar isinya untuk mencari apakah ada yang hilang. Tanpa diduga, tiba-tiba muncul paman Na-Ri di sebelahnya, Shin Jung-Nam (Kim Ha-Kyun).

“Nan Gil,” panggilnya.

“Aku sudah bilang untung datang lagi ke sini,” ujar Nan-Gil kesal.

“Mereka menemukan bahwa saudariku sudah meninggal. Dan mereka mengirimkan dokumen tersebut pada Na-Ri.” ujar Jung-Nam.

Di bandara, Na-Ri kaget mendapati Duk-Bong di sana, membawakan berkas yang harus distempel Na-Ri. Entah kenapa, Na-Ri terlihat enggan untuk melakukannya. Saat rekan-rekannya muncul, ia segera mengajak Duk-Bong untuk menjauhi mereka. Rekan-rekan Na-Ri tampak iri melihat Na-Ri bisa mendapatkan pria seperti Duk-Bong. Yeo Joo yang sendiri, yang juga ada di sana, terlihat tertarik pula dengan Duk-Bong.

“Mereka merasakan betapa kerennya diriku dan ingin mengucapkan ‘Hi’,” ucap Duk-Bong, “Kenapa kamu menghiraukan itu? Mereka akan menjauhimu kalau kau melakukan itu.”

“Sebagai apa aku harus mengenalkanmu? Aku tidak ingin membongkar cucian kotor keluargaku.”

“Teman di lingkungan sekitar,” jawab Duk-Bong, “Kita sudah berjanji untuk berteman. Tap kamu tahu…”

“Apa?”

Duk-Bong menoleh ke arah kanan. Ternyata rekan-rekan Na-Ri masih berdiri di tempat yang sama sambil memperhatikan ke arah mereka berdua.

“Si bibir merah? Kamu suka dia?” tanya Na-Ri, merujuk pada Yeo Joo.

“Tidak,” jawab Duk-BOng. “Semuanya menatap dengan terang-terangan. Apa aku pria pertama yang datang dan mengunjungimu?

Na-Ri menatap ke arah Duk-Bong dengan wajah kesal.

“Apa itu karena aku? Aku terlalu mencolok?” lanjut Duk-Bong.

Sementara itu, rekan-rekan Na-Ri bergosip, mengira Duk-Bong adalah penyebab Na-Ri putus. Yeo Joo lantas berpamitan untuk ke atas terlebih dahulu.

“Kamu tampak keren, silahkan pergi sebelum mereka memandangmu lebih lama lagi,” pinta Na-Ri.

“Aku akan pergi setelah kamu tandatangani ini,” ujar Duk-Bong sembari mengangkat berkas yang ia bawa.

Telpon Na-Ri tiba-tiba berdering. Nan-Gil yang menelpon. Na-Ri segera mengangkatnya dan meninggalkan Duk-Bong begitu saja. Nan-Gil menanyakan apakah Na-Ri menerima dokumen yang aneh. Na-Ri menjawab tidak, sekaligus berpamitan karena pesawatnya sudah hampir waktunya lepas landas.

“Aku tahu kenapa kamu menelpon,” ujar Na-Ri. “Apa kamu sedang berada di gudang?”

Nan-Gil kaget hingga tersedak karena tebakan Na-Ri tepat. Ia memang sedang berada di gudang.

“Ya, kan? Di sana cukup berdebu, bukan? Mungkin ada anak tikus juga.”

“Tidak ada tikus, aku selalu bersih-bersih.” jawab Nan-Gil.

“Kalau begitu kamu pasti tahu apa yang hilang.”

“Aku tidak tahu apa maksudmu.”

“Aku biasa menelpon ibuku sebelum penerbangan. Suara ibuku biasanya menghindarkan kecelakaan.” ucap Na-Ri lirih.

“Well… good luck dalam penerbangan. Aku tidak pernah naik pesawat, jadi aku tidak tahu, tapi good luck.”

Na-Ri tersenyum mendengarnya lalu menutup telponnya. Ia pun terkaget-kaget karena Duk-Bong ternyata sudah ada tepat di sampingnya.

“Kebudayaan minum Korea ternyata sungguh mengagumkan. Kamu berangkat dari musuh dan menjadi keluarga yang saling menyayangi.” sindirnya. “Akan lebih cepat bagiku jika aku membeli tanah itu darinya.”

“Ia tidak akan menjualnya,” balas Na-Ri.

“Ia pasti akan melakukannya. Kenapa? Karena penipu tahu kapan harus menjual. Aku, Kwon Duk Bong, menyatakan akan melakukan yang terbaik untuk klienku, Hong Na Ri.” ucap Duk-Bong lantas berpamitan pergi.

Saat sedang melangkah keluar, Duk-Bong berpapasan dengan Yeo Joo yang sengaja lewat di sebelahnya dan sekilas meliriknya untuk tebar pesona. Duk-Bong melihatnya tanpa berkedip tapi kemudian melanjutkan langkahnya.

Jung-Nam menanyakan tentang Na-Ri pada Nan-Gil. Nan-Gil memintanya tidak usah memikirkan Na-Ri dan memberikan uang kepadanya. Dengan raut muka senang ia menerima uang itu.

“Na-Ri sama sekali tidak mengingatmu, ya?” tanya Jung-Nam.

Nan-Gil tidak menjawab, hanya menoleh ke arah Jung-Nam dengan tatapan dingin. Jung-Nam tidak lagi bertanya dan buru-buru meneruskan makannya. Nan-gil sendiri kembali ke gudang untuk meneruskan beres-beres di sana. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menelpon seseorang bernama Mr. Bae.

“Ini tanahku,” ujar Nan-Gil, “Jadi tidak ada gunanya menyeret Na-Ri ke dalam masalah ini.”

“Kamu tidak datang dan menemuiku kecuali jika aku menyeretnya karena ia adalah kelemahanmu,” respon Mr. Bae Byung-Woo (Park Sang-Myeon) di ujung telpon. “Juga, jangan panggil aku ‘Mr. Bae’. Aku pernah menjadi ayahmu di satu titik.”

Byung-Woo menatap beberapa pigura foto yang ada di mejanya. Salah satunya memuat foto dirinya dan Nan-Gil saat masih remaja di sebuah bangunan bernama Hope Orphanage.

Yeo Joo dan Na-Ri sedang mempersiapkan minuman di dapur pesawat untuk para penumpang.

“Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Aku tidak akan mengatakan pada Dong-Jin kalau kamu muncul di bandara bersama pria lain. Jadi tidak perlu untuk mengatur segala sesuatunya seperti itu.” ujar Yeo Joo.

“Aku rasa kamu tidak tahu. Dong-Jin dan Duk-Bong sudah pernah bertemu. Mereka bertemu di depan rumahku. Duk Bong melihat Dong Jin menempel padaku, jadi mereka tidak saling menyukai. Jangan bilang dia. Tidak ada gunanya.” respon Na-Ri.

Yeo Joo kaget mendengarnya. Sambil tertawa ia mengatakan, “Aku rasa kamu bertemu banyak orang di depan rumahmu. Itu sebabnya saudaramu kesal. Sungguh sia-sia ia membusuk di daerah pertanian. Saudara mudamu, maksudku.”

“Saudara mudaku? Jangan sampai memikirkan itu.” respon Na-Ri dengan kesal lantas pergi meninggalkan Yeo Joo.

“Jadi saudara mudanya adalah kelemahannya,” ujar Yeo Joo seraya tersenyum puas.

Nan-GIl yang sedang bersepeda di kota melihat Duk-Sim duduk di kursi halte bus. Ia lantas mengajaknya mengambil sepedanya, yang kebetulan berada tidak jauh dari sana. Pemilik sepeda bekas mengaku ia hanya menerimanya dari orang yang menjualnya, tanpa mempedulikan siapa dia. Ia kesal kenapa Nan-Gil pakai ikut campur dengan urusannya. Tapi begitu Nan-Gil mengancam akan memanggil polisi, ia pun tidak mempermasalahkannya lagi.

Nan-Gil dan Duk-Sim lantas bersepeda bersama menyusuri pinggir danau. Duk-Sim mengayuh sepedanya dengan senang di belakang Nan-Gil. Mereka akhirnya tiba di depan Hong Dumplings. Melihat sudah ada Duk-Bong di sana, Duk-Sim terus melaju melewatinya tanpa berkata apa-apa. Tujuan Duk-Bong ke sana adalah untuk menunjukkan berkas-berkas hasil investigasi Nan-Gil yang telah ia dapatkan, yang berupa dokumen pelajar Nan-Gil dahulu.

“Kamu sebaiknya menerima uangnya dan kabur. Itu keputusan yang bijak.” ujar Duk-Bong.

“Apa Na-Ri tahu?” tanya Nan-Gil.

“Tidak. Rahasia ini akan kehilangan nilainya. Aku tidak akan mengatakan apa-apa sebelum kita menandatangani kontrak.”

“Tidak. Apa dia tahu kamu mencoba membuatku menjualnya?”

“Di posisinya, ia akan kehilangan semua miliknya dalam waktu semalam. Tentu saja aku memberitahunya. Aku tidak sedingin itu,” jawab Duk-Bong.

“Apa yang ia katakan?”

“Kamu benar ingin tahu?” tanya Duk-Bong balik.

“‘Ia tidak akan menjualnya’, itu yang ia katakan. Ayahku telah membuat seluruh keluargaku menemui terapis. Keluargaku begitu kacau hingga ia ingin membuktikan kita lemah secara mental jika terjadi sesuatu. Kamu pasti tidak tahu tentang keluarga karena kamu berasal dari panti asuhan. Keluarga itu kejam, tidak menyenangkan. Kamu seorang penipu. Tidak usah berpura-pura peduli tentang keluarga. Ambil saja uangnya dan pergi sebelum masa lalumu terungkap,” ujar Duk-Bong panjang lebar.

“Aku tidak akan menjual,” jawab Nan-Gil, “Aku tidak boleh mengecewakan putriku. Itulah keluarga. Keluarga bukanlah sebuah hubungan. Keluarga ya keluarga.”

Duk-Bong terdiam sejenak dan hanya menatap ke arah Nan-gil. Ia lalu berkata, “Betapa hubungan ayah dan putrinya yang indah. Well, bagaimanapun aku butuh untuk membeli tanah ini, jadi kita bertiga bisa memikirkan sesuatu.”

“Ada slogan yang sering aku gunakan. ‘Aku harus mengaduk adonan’. Ayahku risau tentang psikologi keluarga. Begitulah harusnya kau melihatnya.” ujar Nan-Gil seraya berdiri dan meninggalkan Duk-Bong.

Di dapur restoran, Nan-Gil terdiam sembari memandangi dokumen yang diberikan oleh Duk-Bong. Tiba-tiba terdengar notifikasi di ponselnya. Ternyata Na-Ri mengirimkan foto-foto pemandangan langit dari dalam pesawat.

Aku tidak tahu kamu belum pernah naik pesawat sebelumnya. Ini beberapa foto. Aku juga selalu memberitahu ibuku saat aku mendarat.

Nan-Gil termenung membaca pesan dari Na-Ri. Ia lalu menjawab dengan ‘slogannya’.

Aku harus mengaduk adonan.

Duk-Bong masuk ke kamar Duk-Sim dan meminta adiknya untuk datang ke terapis. Adiknya menghiraukannya dan malah berteriak membentaknya, memintanya untuk keluar dari kamarnya.

“Kamu sungguh membutuhkan terapis,” gumam Duk-Bong.

Na-Ri tiba kembali dari penerbangannya. Temannya memberitahu ada dokumen yang dikirimkan dari pengadilan kepadanya di kantor. Na-Ri segera bergegas pergi begitu mendengarnya. Tampak dua orang pria diam-diam mengawasinya.

Di museum K Robot, Duk-Bong menanyakan tentang Hope Orphanage pada sekretarisnya. Sekretarisnya mengaku tidak tahu tentang itu, walau cara menjawabnya sedikit mencurigakan.

“Nan-Gil berasal dari Hope Orphanage” ujar Duk-Bong.

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Na-Ri menghubunginya. Dengan bersemangat Duk-Bong menerimanya, sementara sekretarisnya menggunakan kesempatan itu untuk kabur. Na-Ri memberitahunya ada dokumen datang dari pengadilan. Duk-Bong heran karena meski ia sudah memasukkan gugatan tapi seharusnya balasannya tidak datang secepat itu. Na-Ri langsung menutup telponnya begitu mendengar jawaban Duk-Bong.

“Ia selau mengatakan apa yang ingin dikatakan,” gerutu Duk-BOng.

“Ngomong-ngomong, kamu juga…” ujarnya pada sekretarisnya. Namun ucapannya terhenti begitu ia menoleh dan mendapati sekretarisnya sudah menghilang.

Kim Ran-Sook (Jeon Se-Hyun), sahabat Na-Ri, berlari menemui Na-Ri yang sedang melangkah menuju pintu keluar bandara. Ia khawatir padanya karena baru mendengar dari Dong Jin bahwa ada penipu yang kini tinggal di rumah Na-Ri.

“Tunjukkan jalannya. Aku akan pergi ke rumahmu. Aku akan membunuh penipu itu. Apa? Ayah tiri? Dasar psiko…”

Na-ri segera menutup mulut Ran-Sook yang berteriak-teriak dengan penuh emosi di tengah keramaian bandara.

“Ini bandara. Aku sedang bertugas,” ujar Na-Ri.

Ran-Sook lalu tersenyum dan berkata dengan lembut, “Ayo kita bunuh penipu itu. Beraninya ia menggunakan skema gigolo. Bisa-bisanya kamu terbang dengan kondisi seperti ini. Bagaimana kalau penipu itu menjual tanahnya dan kabur?”

“Ia tidak akan menjualnya,” respon Na-Ri.

“Jangan membuat kepala wanita yang kecapekan ini meledak,” sergah Ran-Sook, “Aku sudah menjual jiwaku pada ibu mertuaku untuk menjaga anak-anakku agar kita bisa menangkapnya. Ayo pergi.”

“Ia bukan penipu,” sanggah Na-Ri. “Aku rasa aku tahu siapa dia.”

“Tutup mulutmu,” ujar Ran-Sook seraya menarik lengan Na-Ri agar mengikutinya.

Kedua pria misterius yang tadi mengawasi Na-Ri diam-diam mengikuti mereka.

Tak lama kemudian Na-Ri dna Ran-Sook tiba di kantor Na-Ri. Na-Ri segera masuk dan mengambil dokumen yang dikirimkan kepadanya. Begitu membukanya, ia kaget melihat isi dokumen tersebut, yang dikirimkan oleh Da Da Finance atas nama pengacaranya, Kim Do Suk.

Seseorang menelpon Nan-Gil yang sedang berada di restoran.

“Hei Ko Nan Gil, Mr. bae mengatakan untuk memberitahumu bahwa Hong Na Ri akan datang…”

Nan-Gil langsung menutup telponnya dan berusaha untuk menghubungi Na-Ri. Karena jaringan sedang sibuk, tanpa pikir panjang Nan-Gil segera pergi ke Seoul untuk menemui Na-Ri. Dalam perjalanan ia terus mencoba menghubungi Na-Ri.

Isi dokumen yang diterima Na-Ri ternyata pemberitahuan hutang dari pihak bank. Saat ini Na-Ri sedang menuju ke kantor Da Da Finance. Sepanjang perjalanan Ran-Sook sibuk mengomel dan mengata-ngatai Nan-Gil sampai-sampai Na-Ri menawarkan obat penenang kepadanya. Tiba-tiba ponsel Na-Ri berbunyi. Nan-Gil yang menelpon.

“Kamu menelpon karena kamu tahu sesuatu, bukan?” tanya Na-Ri. “Mereka bilang mereka akan meletakkan hipotek pada gajiku.

“Mereka tidak bisa melakukan itu. Itu ancaman kosong.” jawab Nan-Gil.

“Ancaman kosong? Sungguh? Bagaimana kamu tahu itu dengan baik? Mereka adalah orang yang berada di rumah paman, bukan? Kalian teman rupanya.”

“Aku akan pergi, jadi jangan dipikirkan. Temanmu menyuruhku untuk pergi.”

“Kalau begitu kita bertemu di sana,” ujar Na-Ri seraya menutup telponnya.

Na-Ri kemudian meminta Ran-Sook untuk meminggirkan mobilnya agar ia bisa berganti baju. Ia baru sadar kalau saat itu ia hanya membawa baju musim panas di kopernya. Akhirnya ia pun terpaksa bertukar baju dengan Ran-Sook.

Tak lama mereka tiba di depan gedung Da Da Finance. Ran-Sook melihat kondisi sekitar dan merasa mereka akan baik-baik saja begitu melihat ada kantor polisi dan juga rumah sakit di sekitar mereka. Na-Ri mencoba menghubungi Nan-Gil, tapi tidak diangkat. Sesaat kemudian bodyguard dari Da Da Finance muncul dan mengajaknya masuk. Ia lalu mengantar Na-Ri hingga tiba di ruangan kantor Da Da Finance. Na-Ri yang diminta duduk menunggu di sana tampak gugup.

Dari ruang CCTV, Mr. Bae diam-diam mengawasi Na-Ri. Anak buahnya, yang ternyata adalah bos mafia yang sebelumnya datang ke rumah paman Na-Ri, memberitahu bahwa Na-Ri sudah datang. Sementara itu, Nan-Gil yang masih dalam perjalanan mengirimkan pesan pada Na-Ri agar ia tidak mengatakan apa-apa di sana serta tidak membaca apapun yang diberikan kepadanya.

Tunggulah sebentar lagi. Berhitung jika kamu takut.

Pengacara Kim Do Suk bersama anak buah Mr. Bae tadi. Segera setelah mereka berkenalan, muncul pesan baru dari Nan-Gil di ponsel Na-Ri.

Jangan menunjukkan ketertarikan. Jangan membuat kontak mata. Palingkan pandangan.

Pesan Nan-Gil tersebut membuat Na-Ri memalingkan mukanya ke samping sambil memasang muka sangar.

“Kamu pasti punya banyak pertanyaan. Tanyakan saja.” ujar Do Suk.

Muncul pesan baru dari Nan-Gil.

Aku sedang dalam perjalanan, jadi jangan katakan apapun.

Do Suk dan anak buah Mr. Bae bingung dengan Na-Ri yang tetap membisu.

Jangan baca apapun yang mereka berikan. Jangan tanda tangani apapun.

Kembali, pesan dari Nan-Gil masuk bersamaan saat Do Suk menyerahkan berkas laporan transaksi bank. Ia berkata, “Silahkan baca dengan teliti dokumen ini.”

“Well, lagipula itu juga bakal sulit untuk dimengerti,” respon anak buah Mr. Bae yang melihat Na-Ri tetap memalingkan wajahnya dan diam membisu. “Sederhananya, beberapa waktu lalu, ayahmu membuat transaksi dengan kami.”

Na-Ri langsung menolehkan wajahnya begitu mendengar hal itu.

“Ayahku?” tanyanya.

“Ya.” jawab anak buah Mr. Bae.

“Kalau begitu berbicaralah dengan Nan-Gil. Ia sedang dalam perjalanan ke sini sekarang.”, ujar Na-Ri, mengira bahwa yang dimaksud dengan ‘ayahnya’ adalah Nan-Gil.

“Tidak. Kita butuh berbicara denganmu.”

“Kamu bilang itu beberapa waktu lalu. Kapan ia meminjamnya?” tanya Na-Ri.

“Seperti yang bisa kamu lihat di dokumen itu, yang pertama adalah pada tahun 2001,” jawab Do Suk. “Itu 15 tahun lalu.”

“15 tahun lalu?” tanya Na-Ri heran, “Itu tidak masuk akal. Itu ketika… well.. bagaimana kamu menyebutnya… pelajar? Anak-anak? Tidak… Anak kecil. Ia masih anak kecil. Bagaimana ia bisa membuat transaksi? Kamu punya buktinya?”

“Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, tapi Hong Sung Kyu. Bukankah Hong Sung Kyu ayahmu?” tanya Do Suk. “Mr. Hong Sung Kyu adalah klien kami bertahun-tahun, menggunakan tanah ibumu sebagai jaminan. Kemudian ia menghilang, jadi ibumu menjadi yang bertanggung jawab, tapi kamu mendapati ia juga sudah meninggal. Putrinya kini yang harus mengambil tanggungjawab. Jika kamu memberikan pada kami tanah atas nama ibumu, semuanya akan berakhir.”

Na-Ri terdiam, tidak menyangka kejadiannya seperti itu.

Nan-gil akhirnya tiba di depan gedung Da Da Finance. Ia segera berlari masuk ke dalam. Bodyguard yang melihat kedatangannya dari jauh segera memberi hormat. Namun karena Nan-Gil melewatinya begitu saja, ia pun menyusulnya dan mencegatnya. Ia mengatakan bahwa Mr. Bae memerintahkannya untuk membawa Nan-Gil menemuinya. Nan-Gil lantas mengeluarkan sebuah flashdisk dan menunjukkannya ke arah kamera CCTV.

“Katakan padanya agar tidak berpikir untuk berbicara denganku,” ujar Nan-Gil pada si bodyguard.

Nan-Gil lantas masuk ke kantor Da Da Finance. Ia mendapati Na-Ri sedang membaca sebuah dokumen.

“Aku mengatakan kepadamu jangan membaca apapun yang mereka berikan kepadamu,” ujar Nan-Gil pada Na-Ri. “Mengapa kamu tidak mendengar? Mengapa kamu menghiraukan ayahmu?”

“Hei Ko Nan Gil,” potong anak buah Mr. Bae sambil tertawa, “Ayah? Lelucon apa itu.”

Nan-Gil menoleh ke arahnya dengan pandangan dingin. Anak buah Mr. Bae pun menghentikan tertawanya. Nan-gil lantas mengambil dokumen yang sedang dibaca Na-Ri dan melemparkannya ke arah Do Suk.

“Dokumen ini palsu.” ujarnya.

“Itu yang kamu pikirkan.”, respon Do Suk, tapi ia tidak berani meneruskan kata-katanya karena melihat tatapan Nan-Gil yang penuh emosi.

Nan-Gil menoleh ke arah Na-Ri dan memintanya untuk berdiri. Na-Ri melakukannya dan sempat hampir terjatuh karena sedari tadi ia menahan kegugupannya. Na-Ri kemudian melangkah keluar terlebih dahulu, disusul oleh Nan-Gil. Di luar, Na-Ri segera mengatur nafasnya kembali.

“Tunggulah di sini,” ujar Nan-Gil.

Na-Ri berbalik dan memegang lengan Nan-Gil. Nan-Gil tersenyum dan meminta Na-Ri untuk berhitung hingga tiga. Ia pun melangkah kembali masuk ke dalam.

“Kamu tahu aku tidak pernah meminta tolong, bukan?” ucap Nan-Gil tegas pada anak buah Mr. Bae. “Ketika aku meminta tolong, itu serius. Lakukan permintaanku ini. Jangan sentuh Hong Na Ri. Juga, ini adalah ancaman. Gunakan kepalamu. Jika kamu mencampuri urusanku, hari itu akan terulang kembali.”

Anak buah Mr. Bae terlihat ketakutan mendengar ancaman Nan-Gil.

Nan-Gil keluar dan mengajak Na-Ri pergi sembari menggenggam tangannya.

41

“Kamu tidak kenal takut atau bodoh? Bagaimana bisa kamu datang ke sini?” tanya Nan-Gil.

“Aku tidak pernah dipanggil bodoh dan gampang takut, jadi jelaskan semuanya padaku,” jawab Na-Ri. Meski berusaha tegar, tangannya gemetar dan ia menggenggam tangan Nan-Gil dengan erat.

Nan-Gil tidak mau menjawabnya dan terus mengalihkan pembicaraan. Setibanya di luar gedung, pandangan Nan-Gil mendadak kabur dan sekelilingnya seperti berputar. Na-Ri kembali menanyakan tentang hutang ayahnya yang mencapai satu juta dolar dan itu semua kini dibebankan kepadanya.

“Aku ayahmu! Aku ayah Hong Na Ri sekarang, jadi mereka tidak bisa melakukan apa-apa.” jawab Nan-Gil dengan nafas yang mulai terengah-engah.

Pandangan Nan-Gil semakin tidak menentu. Ia melangkah perlahan. Keringat dingin mulai bercucuran dari wajahnya. Na-Ri menyusulnya dan kembali bertanya, “Apa karena hutang itu kamu menjadi ayahmu? Apa kamu tahu semuanya? Apakah ibuku tahu juga? Katakan padaku, Nan-Gil.”

Nan-Gil menoleh ke arah Na-Ri. Langkahnya mulai sempoyongan. Na-Ri baru menyadari kondisi Nan-Gil yang tidak baik. Pada saat itu Ran-Sook tiba-tiba muncul dan segera berlari ke arah Nan-Gil, hendak memukulnya. Sesaat sebelum Ran-Sook melakukan hal itu, Nan-Gil terjatuh dengan sendirinya ke tanah. Tak sadarkan diri.

Preview Episode 5

Berikut ini adalah video preview dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me episode 5:

=== segera, saat ini belum tersedia ===

» Sinopsis eps 5 selengkapnya

Reply