Sinopsis Man Living At My House Episode 1 & Preview Episode 2 (2016)

Man Living At My House“, seperti sudah diinformasikan sebelumnya, adalah drama Senin – Selasa yang mengisi slot tayang “Moonlight Drawn By The Clouds”. Drama komedi romantis yang dibintangi oleh Soo-Ae dan Kim Young-Kwang ini bercerita tentang seorang wanita yang tiba-tiba mengetahui bahwa ibunya yang baru saja meninggal ternyata memiliki suami yang bahkan lebih muda darinya. Seru kan? Langung aja deh sama-sama kita simak sinopsis drama korea Sweet Stranger And Me episode 1 berikut ini. Selamat menikmati 🙂

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 1

Hong Na-Ri (Soo-Ae) adalah seorang pramugari senior yang sudah biasa menghadapi berbagai macam penumpang yang ada di pesawat. Suatu hari, saat pesawat sedang bersiap untuk tinggal landas, Do Yeo-Joo (Jo Bo-Ah), rekan juniornya, dimarahi oleh seorang penumpang wanita yang tunangannya direbut oleh Yeo-Joo. Wanita tersebut menarik-narik rambut Yeo-Joo dengan heboh sehingga menjadi tontonan penumpang lainnya. Na-ri yang melihatnya segera melerai keduanya, mengingatkan pada si wanita bahwa kekerasan terhadap pramugari bisa berujung ke ranah hukum. Ia pun akhirnya menghentikan aksinya itu.

Hidup adalah perjalanan. Kamu tidak akan tahu situasi macam apa yang akan kamu hadapi.

Tiba di bandara, Yeo-Joo melewati Na-Ri dan seorang rekannya begitu saja tanpa permisi. Rekannya menjadi kesal karena merasa Yeo-Joo tidak punya etika, terlebih setelah tadi dibantu oleh Na-Ri. Na-Ri tidak mempermasalahkannya. Ia malah memamerkan pesan dari kekasihnya yang sudah 9 tahun mengencaninya, Jo Dong-Jin (Kim Ji-Hoon), yang memintanya untuk datang ke Romantic Island, cafe yang terkenal digunakan untuk prosesi lamaran romantis.

Setibanya di sana, Dong-Jin sudah menunggunya dengan sebuket bunga.

“Maukah kau menikahiku?” ujar Dong-Jin sembari memberikan buket tersebut.

Na-Ri kaget sekaligus senang menerimanya. Sayangnya, momen romantis mereka terpaksa berhenti di situ karena mendadak paman Na-Ri menelpon dan memberitahunya bahwa ibunya baru saja meninggal karena kecelakaan mobil.

Tidak ada dalam hidup yang bisa diprediksi. Seperti mendengar bahwa ibuku, yang aku pikir akan bersamaku selamanya, meninggal.

Rekan-rekan pramugari Na-Ri datang ke upacara pemakaman. Termasuk Yeo-Joo, yang sempat terpesona dengan ketampanan Dong-Jin. Beberapa waktu kemudian, setelah tamu-tamu pulang, Na-Ri masih terduduk di dekat altar ibunya sambil melamun. Ia tidak menyadari ada seorang pria yang datang belakangan dan hanya berdiri terpaku di dekat pintu masuk.

Tidak ada dalam hidup yang bisa diprediksi. Seperti fakta bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan awal dari banyak insiden besar.

10 bulan berlalu. Na-Ri dkk kembali dari sebuah penerbangan. Na-Ri mengirim pesan pada Dong-Jin, namun Dong-Jin hanya membacanya tanpa membalasnya. Sebaliknya, Yeo-Joo terlihat sedang senang saat melihat ponselnya. Rekan Na-Ri curiga Yeo-Joo sudah punya mangsa orang kaya baru yang siap untuk ia porotin. Saat Na-Ri melihat raut muka Yeo-Joo, ia justru merasa sebaliknya, bahwa kali ini Yeo-Joo memang benar menyukai pria tersebut.

Di luar bandara, mereka bertemu dengan Dong-Jin yang ternyata sudah menunggu di sini. Setelah saling menyapa, Yeo-Joo segera mengajak sahabat Na-Ri untuk meninggalkan mereka berdua sampai-sampai sahabat Na-Ri risih sendiri. Dong-Jin sendiri terlihat terus menatap ke arah Yeo-Joo.

Sepeninggal keduanya, Dong-Jin mengaku bahwa ia harus menemani tamu dari Cina rapat di hotel selama beberapa hari. Na-Ri tidak mempermasalahkannya, malah ia yang merasa bersalah karena sejak ibunya meninggal ia terlalu sibuk bekerja dan tidak banyak meluangkan waktu untuk Dong-Jin. Setelah berpamitan, Na-Ri pun melangkah pergi untuk pulang sendiri ke rumahnya.

Saat tiba di antrian taksi, Na-Ri baru ingat bahwa ia membawakan oleh-oleh untuk Dong-Jin. Bergegas ia kembali ke tempat sebelumnya ia bertemu kekasihnya itu, namun terlihat Dong-Jin sedang terburu-buru pergi. Na-Ri lantas menyusulnya dari belakang. Ia pun kaget begitu mengetahui Dong-Jin terburu-buru karena ingin bertemu dengan Yeo-Joo.

Hati Na-Ri hancur saat melihat keduanya berpelukan melepas rindu. Ironisnya, saat itu seseorang menelpon mengkonfirmasi tulisan di undangan pernikahan Na-Ri dan Dong-Jin. Setelah secara tidak langsung memberitahunya bahwa pernikahan mereka batal, Na-Ri membayangkan dirinya mencegat mobil Dong-Jin, lalu menghajar Yeo-Joo dan Dong-Jin. Untungnya ia tidak benar-benar melakukannya, malah sengaja menyembunyikan wajahnya saat mobil Dong-Jin melewatinya.

Na-Ri memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Dalam perjalanannya menggunakan bus, ia membayangkan ada sosok dirinya yang lain di sebelahnya, mengingatkan untuk tidak berputus asa, apalagi memikirkan untuk membalas dendam karena semua itu tidak ada gunanya. Sementara itu, Dong-Jin membawa Yeo-Joo pergi melihat laut. Meski juga ingin, Yeo-Joo yang pintar memainkan perasaan pria berpura-pura jual mahal, bertingkah seakan terpaksa mau menuruti Dong-Jin.

Na-Ri tiba di kuburan ibunya. Ia segera memeluk pohon makam ibunya. Di balik bebatuan di dekat pohon, tanpa Na-Ri sadari ada seorang pria sedang tidur-tiduran, pria yang sebelumnya datang diam-diam ke pemakaman ibu Na-Ri. Sejenak kemudian Na-Ri menghubungi Dong-Jin. Dong-Jin kaget melihatnya dan berniat untuk tidak mengangkatnya. Namun Yeo-Joo sengaja mengerjainya dan mengangkat telpon tersebut. Pada akhirnya Yeo-Joo pun ikut kaget karena tanpa basa-basi Na-Ri langsung mengatakan bahwa ia sudah tahu hubungan keduanya, termasuk bahwa saat itu Yeo-Joo berada di sana bersama Dong-Jin. Karena tak tahan dengan omelan Na-Ri, Yeo-Joo lantas mematikan telponnya.

“Ibu, aku akan hidup lebih baik mulai dari sekarang,” janji Na-Ri pada ibunya.

Pria yang berada di dekat Na-Ri, mendengarkan kejadian tersebut, menjadi sungkan sendiri. Ia berniat untuk diam-diam kabur dari tempat tersebut. Namun karena sedari tadi berbaring, kakinya jadi kesemutan sehingga ia hanya bisa merangkak maju. Apesnya lagi, tiba-tiba ponselnya berdering. Alhasil Na-Ri jadi tahu keberadaannya.

“Itu pasti menghibur,” ujar Na-Ri sinis.

Saat Na-Ri membalikkan badan dengan kesal, diam-diam pria tersebut nyengir puas. Ia langsung menutup mulutnya kembali dan menurunkan topinya begitu Na-Ri tiba-tiba menoleh ke arahnya. Na-Ri sendiri, begitu melihat peralatan yang dibawa oleh pria itu, mengira ia adalah penjaga makam dan memarahinya karena tidak memasang petunjuk jalan di sekitar. Pria itu membantahnya sehingga Na-Ri pun meminta maaf.

Saat Na-Ri melangkah pergi, pria tersebut memanggilnya.

“Permisi,” ujar si pria.

Na-Ri menoleh ke arahnya.

“Ular! Ada ular! Di sebelah sana!” teriak si pria sambil menunjuk ke tanah.

Na-Ri pun langsung panik dan meloncat-loncat tidak karuan. Karena tidak ada ular di sana, ia menanyakan dimana letak ular tersebut.

“Hati-hati terhadap ular,” ucap si pria santai. Ia lalu menaiki sepedanya dan pergi meninggalkan Na-Ri sembari berkata, “Sampai bertemu lagi!”

Sadar baru saja dibohongi, Na-Ri berniat membalasnya dan berteriak memberitahu kalau ada beruang. Si pria cuek saja dan terus mengayuh sepedanya.

Pria tersebut, yang bernama Go Nan-Gil (Kim Young-Kwang), tiba di sebuah rumah makan Hong Dumplings miliknya. Sudah ada Kwon Duk-Bong (Lee So-Hyuk) menunggunya. Keduanya sepertinya tidak akur. Duk-Bong mengatakan bahwa ia sudah menunggu lama untuk bisa makan karena Nan-Gil tidak ada di tempat dan ia tidak suka itu. Nan-Gil membalas meminta Duk-Bong untuk makan saja di tempat lain jika memang ia tidak suka. Duk-Bong akhirnya pergi.

Pegawai Nan-Gil, melihat Nan-Gil datang dengan menggunakan sepeda dan baju biasa, memarahinya dan memintanya untuk setidaknya berganti pakaian yang lebih layak. Nan-Gil tidak menghiraukannya. Ia lalu mampir sejenak ke dapur untuk memeriksa filling yang dibuat pegawainya dan setelah itu menuju ke rumahnya yang ada di samping restoran melalui pintu belakang.

Sambil menatap halaman rumah, ia berkata, “Ia datang jauh-jauh ke sini, tapi tidak kembali ke rumah lagi.”

Sejak saat itu, Yeo-Joo selalu berusaha menghindari Na-Ri setiap bertemu dengannya. Sahabat Na-Ri sempat mengira Yeo-Joo sudah berubah menjadi rajin, tapi Na-Ri membantah dan mengatakan ia sama sekali tidak berubah.

Beberapa waktu kemudian, sahabat Na-Ri merayakan acara untuk anaknya. Saat ngobrol berdua, sahabatnya meminta maaf karena ia mengundang Dong-Jin, berharap Dong-Jin memberikan kado mahal untuknya. Dan ternyata benar, tak lama kemudian Dong-Jin tiba di tempat acara dan memberikan kado mahal seperti yang diharapkan sahabatnya itu.

Entah bagaimana pangkalnya, Dong-Jin dan Na-Ri lantas minum-minum bersama di sebuah tempat. Dong-Jin berulang kali meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan, dan Na-Ri merespon bahwa ia sudah tidak mempedulikan masalah itu. Ia hanya sempat sedikit trauma karena dulu ayahnya juga meninggalkan ibunya demi wanita lain.

Dong-Jin lantas bercerita bahwa sejak ibu Na-Ri meninggal, paman Na-Ri ternyata datang ke kantornya tiga kali. Setiap kali datang, ia meminta uang sebanyak $10,000, beralasan untuk menyelesaikan suatu perkara ibu Na-Ri. Na-Ri kagte dan berniat hendak menelpon pamannya, tapi Dong-Jin mencegahnya karena ia tidak memusingkan masalah uang itu. Baginya, dan juga ayahnya, Na-Ri sudah seperti keluarganya.

“Pamanmu merasakan hal yang sama. Itu sebabnya ia datang kepadaku.”

Na-Ri tertawa mendengarnya.

“Siapa lagi yang kamu punya saat ini selain aku?” tanya Dong-Jin. “Benar?”

“Oh begitu. Aku tidak punya siapa-siapa. Kita adalah keluarga. Itu sebabnya kamu berbohong kepadaku. Tapi kenapa kita bisa menjadi keluarga? Apakah kamu punya dokumen resmi? Apakah kamu menjadi keluarga apabila meminjamkan uang $30,000? Kita ini bukan siapa-siapa! Bukan siapa-siapa!” ujar Na-Ri kesal.

Na-Ri yang memang sudah mabuk terus-terusan ngedumel dan memarahi Dong-Jin. Ia baru berhenti setelah sadar orang-orang di sekitarnya menonton dan mentertawakannya.

Na-Ri pergi ke sebuah supermarket sembari mencoba menghubungi pamannya. Tidak ada jawaban. Dari belakang Dong-Jin menyusulnya. Saat Dong-Jin menemukannya, Na-Ri ternyata sedang memegang sebuah sekop dan tidak sengaja mengayunkannya ke arah Dong-Jin. Dong-Jin pun langsung mundur ketakutan dan memilih untuk pergi meninggalkan Na-Ri sembari meminta maaf.

Sambil tidur dan memeluk sekop, Na-Ri pergi menggunakan taksi ke rumah ibunya. Ia berniat untuk menemui pamannya di sana. Setibanya di rumah pamannya, mengetahui pintu pagar tidak terkunci, Na-Ri pun masuk ke dalam sambil berteriak-teriak memaki pamannya dan memukul-mukulkan sekopnya ke tanah. Karena tidak ada respon, Na-Ri berpindah menuju Hong Dumplings sembari menyeret sekopnya.

“Aaahh, aku tiba di rumah,” ujarnya.

Setelah membuka pintu pagar, perlahan Na-Ri masuk ke dalam, masih tetap sambil menyeret sekop. Tiba-tiba ia berteriak histeris saat menginjak selang air, mengira itu adalah ular. Dengan panik ia memukuli selang itu dengan sekop yang ia bawa. Setelah mengecek dengan menggunakan lampu di ponselnya dan memastikan itu bukan ular, Na-Ri kembali berjalan menuju rumahnya. Saat itu ia baru menyadari ada sesosok pria berbaju serba hitam di sebelahnya. Reflek ia pun memukulnya dengan sekop hingga terjatuh.

Dengan kesal pria tersebut bangkit kembali dan menyalakan lampu halaman. Ternyata ia adalah Nan-Gil. Ia pun menanyakan kenapa Na-Ri menyerangnya dengan sekop begitu saja. Na-Ri yang panik akhirnya terjatuh dan sekopnya terlepas. Nan-Gil segera menginjak sekop tersebut agar tidak bisa diambil kembali oleh Na-Ri.

“Ini.. ini rumahku,” ujar Na-Ri. “Itu tadi adalah shelf difference.”

“Shelf difference?” tanya Nan-Gil heran.

“Tunggu dulu. Self-difference? Bukan. Self-Defense?” Na-Ri kebingungan sendiri meralat kata-katanya.

“Aku? Aku tinggal di sini,” jawab Nan-Gil. “Jadi ini adalah self-defense untukku juga.”

Na-Ri terdiam sejenak lalu tertawa. Ia mengira kalau ia salah rumah sehingga ia pun meminta maaf.

“Kamu benar-benar menyedihkan. Bagaimana kamu bisa tidak mengenali rumahmu sendiri?” ujar Nan-Gil.

“Rumahku sendiri?” tanya Na-Ri heran.

Nan-Gil lantas masuk ke dalam rumah. Na-Ri mengikutinya. Begitu masuk ke dalam ia langsung menyadari bahwa itu memang benar rumahnya. Ia pun mengira Nan-Gil adalah orang yang sedang menyewa rumahnya. Nan-Gil membantah dan mengatakan bahwa ia adalah pemilik rumah itu. Na-Ri kini mengira pamannya sudah menjual rumahnya begitu saja.

Na-Ri akhirnya menyadari bahwa pria yang ada di hadapannya adalah yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu di makam ibunya. Nan-Gil lalu memintanya untuk beristirahat terlebih dahulu karena ia akan membicarakan sesuatu yang tidak mungkin bisa diterima Na-Ri pada saat kondisinya seperti sekarang ini. Sempat menolak, akhirnya Na-Ri menurutinya. Ia pun naik ke kamarnya dan tidur di sana.

Di kantor perusahaan miliknya, Duk-Bong sedang menyantap dumpling dari Hong Dumplings yang ia titip dibelikan oleh karyawannya (sekretarisnya?). Ia lalu menanyakan soal ijin, yang dijawab oleh karyawannya itu bahwa ijin baru bisa keluar apabila ia mendapatkan bangunan restoran tersebut. Masalahnya adalah pemilik bangunan itu tidak berniat untuk menjualnya.

Begitu mengetahui pemilik restoran itu sekarang adalah Nan-Gil, Duk-Bong menjadi curiga bahwa ada sesuatu yang aneh. Nan-Gil sendiri sedang menunggu Na-Ri bangun dari tidurnya sambil melatih percakapan untuk memberitahu Na-Ri siapa sebenarnya dirinya.

Tak lama Na-Ri terbangun. Ia langsung panik mendapati pandangannya yang kabur. Nan-Gil yang mendengar teriakan Na-Ri bergegas menuju kamar Na-Ri dan menanyakan apa yang terjadi. Dengan sekuat tenaga, Na-Ri akhirnya berhasil menuju ke pintu kamarnya dan membuka kuncinya. Setelah mendengar penjelasan Na-Ri bahwa pandangannya kabur, Nan-Gil menyadari ada botol obat tergeletak di lantai. Ia segera menggendong Na-Ri untuk membawanya ke rumah sakit.

Di depan rumah, mereka berpapasan dengan salah seorang pegawai restoran. Nan-Gil memintanya untuk memanggilkan taksi. Kebetulan yang lewat justru adalah Duk-Bong. Meski sebenarnya enggan, Nan-Gil akhirnya mau menuju ke rumah sakit dengan menggunakan mobil Duk-Bong.

Dalam perjalanan Nan-Gil menanyakan obat apa yang diminum oleh Na-Ri. Ternyata itu adalah obat tidur alami. Masalahnya Na-Ri sendiri tidak ingat apakah ia minum satu atau dua butir semalam.

“Tidak ada yang namanya obat tidur alami,” timpal Duk-Bong. “Apakah kamu merasa pusing dan punya masalah berbicara?”

“Siapa dia?” tanya Na-Ri bingung.

“Bukan siapa-siapa,” potong Nan-Gil sebelum Duk-Bong sempat menjawab. Duk-Bong pun langsung terdiam keki.

Nan-Gil lantas memberitahu Na-Ri bahwa tidak seharusnya ia minum obat tidur dalam keadaan mabuk. Apalagi dua butir. Begitu sampai di depan UGD, Nan-Gil kembali menggendong Na-Ri. Terdengar lagu “I Will Always Love You”-nya Whitney Houston saat Nan-Gil melakukan itu. Tepat di depan pintu masuk, penglihatan Na-Ri kembali normal. Ia pun meminta Nan-Gil menurunkannya, namun Nan-Gil menolak dan tetap membawanya masuk untuk diperiksa.

Na-Ri kembali menjadi kesal pada Nan-Gil setelah tanpa sengaja Nan-Gil menjatuhkannya di tempat tidur pasien dengan keras. Perawat lantas meminta untuk mengisi form pasien terlebih dahulu. Na-Ri sempat memberitahu bahwa Nan-Gil bukanlah walinya, namun Nan-Gil tetap pergi tanpa menghiraukannya.

Tak lama Duk-Bong datang menemui Na-Ri. Setelah saling memperkenalkan diri, Duk-Bong menanyakan apakah Na-Ri baru saja melakukan percobaan bunuh diri dan mengingatkan bahwa itu bisa saja menjadi kebiasaan. Na-Ri jadi kesal mendengarnya.

“Aku kenal dengan pemilik Hong Dumplings,” ujar Duk-Bong, “Apa hubunganmu dengannya)?”

“Pemilik Hong Dumplings? Siapa dia?” tanya Na-Ri.

“Orang yang menggendongmu dan membawa ke sini dengan lagak cool,” jawab Duk-Bong. “Ko Nan-Gil adalah pemilik Hong Dumplings.”

Na-Ri kaget mendengarnya. Ia bertanya, “Kenapa Ko Nan Gil menjalankan Hong Dumplings, bukannya Ko Dumplings?”

“Kenapa itu penting? Itu adalah keinginan pemiliknya,” jawab Duk-Bong.

“Berhenti menyebutnya sebagai pemilik. Hong Dumplings bukanlah milik Ko Nan Gil. Itu milik Hong Na Ri.”

Sesaat kemudian Nan-Gil datang bersama dengan dokter dan perawat. Melihat wajah Duk-Bong yang pucat, dokter mengira dialah yang sakit dan berniat untuk memeriksanya. Yang lain langsung memberitahukan bahwa yang menjadi pasien adalah Na-Ri.

Dokter memeriksa Na-Ri sejenak lalu berkata, “Cinta. Kamu harus mencintai tubuhmu saat kamu masih muda. Saat kamu tiba-tiba tidak bisa melihat, itu adalah kehilangan penglihatan sementara. Itu seringkali disebabkan oleh stress yang berlebih. Apakah kamu sedang dalam keadaan stress berat akhir-akhir ini?”

Semuanya memandang Na-Ri yang bingung tidak tahu harus menjawab apa-apa. Setelah terdiam sejenak, ia pun menjawab bahwa ia tidak merasa stress, hanya sibuk bekerja saja.

“Itu dia!” respon dokter dengan penuh semangat. Ia melanjutkan, “Kecapekan, sulit tidur, dan kurang nutrisi, semuanya saling berpengangan tangan dan muncul bersamaan. Satu di antara mereka mungkin saja muncul belakangan. Eniwei, kamu harus menjalani pemeriksaan.”

“Aku akan melakukannya lain waktu,” ujar Na-Ri.

“Aku bilang kamu harus menjalani pemeriksaan sekarang!” bentak Nan-Gil tiba-tiba. “Bagaimana bisa kamu membiarkan tubuhmu menjadi seperti ini? Bagaimana selama ini kamu hidup?”

Yang lain kaget dan hanya bisa terpaku melihat Nan-Gil yang tiba-tiba memarahi Na-Ri. Dokter lantas memecah keheningan dengan mengatakan bahwa semua biaya sudah ditanggung oleh wali Na-Ri. Na-Ri membantah bahwa Nan-Gil adalah walinya, namun perawat mengatakan bahwa Nan-Gil mengaku sebagai keluarga Na-Ri. Nan-Gil segera mengajak perawat pergi sebelum bercerita lebih banyak lagi.

61

Na-Ri akhirnya menjalani pemeriksaan yang diminta oleh dokter. Usai pemeriksaan, ia meminta Nan-Gil untuk ikut dengannya ke atap rumah sakit. Duk-Bong yang melihatnya diam-diam menyusul mereka.

Setibanya di sana, Na-Ri mempertanyakan sikap Nan-Gil yang perhatian kepadanya. Nan-Gil menanggapinya dengan ngedumel. Na-Ri lalu lanjut bertanya kenapa Nan-Gil mengaku sebagai keluarganya dan mengaku sebagai pemilik restoran.

“Siapa kamu? Siapa kamu sampai bisa mengatakan rumah itu adalah milikmu? Siapa kamu sebenarnya?” tanya Na-Ri.

Nan-Gil terdiam lalu melangkah mendekati Na-Ri.

“Ayahmu,” jawab Nan-Gil.

“Betul kan yang aku bilang, ayahku mengirimmu ke sini,” respon Na-Ri.

“Aku tidak mengatakan ayahmu Hong Sung Kyu, tapi aku. Aku adalah ayahmu,” ujar Nan-Gil.

Na-Ri bingung mendengarnya.

“Aku adalah ayah tiri Hong Na Ri.”

Preview Episode 2

Berikut ini adalah video preview dari drakor Man Living At My House / Sweet Stranger And Me episode 2:

» Sinopsis eps 2 selengkapnya

Reply