Sinopsis Love In The Moonlight Episode 18 *TAMAT* (2016)

Di sinopsis Love In The Moonlight episode sebelumnya, Kasim Han (Jang Gwang) mengorbankan dirinya agar Hong Gyeong Nae (Jung Hae-kyun) dan Hong Ra-On (Kim You-Jung) dapat meloloskan diri dari istana. Untungnya, Kim Byung-Yeon (Kwak Dong-Yeon) yang sempat dikira mati ternyata masih hidup. Lee Young (Park Bo-Gum) tidak lagi tinggal diam. Ia berhasil mendapatkan bukti bahwa Kim Ui-Gyo (Park Chul-Min) dan Kim Geun-Gyo (Bang Joong-Hyun) yang merencanakan penyerangan terhadap dirinya beberapa waktu lalu. Kini ia membidik perdana menteri Kim Hun (Cheon Ho-Jin), yang tanpa sengaja telah mengetahui bahwa Ratu Kim (Han Soo-Yeon) melahirkan anak perempuan, bukan anak laki-laki. Apa yang akan terjadi selanjutnya di episode terakhir (episode 18) dari sinopsis drama korea Moonlight Drawn By The Clouds kali ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 18

Episode 18: Cahaya Bulan Yang Tergambar Oleh Awan (Moonlight Drawn By The Clouds)

Di malam hari, Byung-Yeon diam-diam pergi. Sembari menatap ke arah Ra-On yang sedang tertidur, dalam hati Byung-Yeon berjanji bahwa meski ia tidak tahu seberapa jauh perjalanannya, namun suatu saat ia pasti akan kembali ke sisi Ra-On dan putra mahkota Lee Young.

Sementara itu, seperti diketahui di sinopsis sebelumnya, di dongungjeon Lee Young terjatuh tak sadarkan diri setelah meminum teh obat pemberian Jo Ha-Yeon (Chae Soo-Bin). Seperti merasakan firasat buruk, beberapa saat kemudian Ra-On terbangun setelah bermimpi tentang saat perpisahannya dengan Lee Young beberapa waktu lalu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menggedor pintu rumah. Ternyata yang datang adalah Jung Deok Ho (An Se-Ha), memberitahu Jung Yak-Yong (Ahn Nae-Sang) yang menemuinya bahwa ia harus segera datang ke istana karena putra mahkota baru saja terkena racun. Ra-On yang juga ikut mendengarnya langsung jatuh terduduk lemas.

Bersama dengan Ra-On yang menyamar sebagai perawat dari Haenminseo (pusat kesehatan nasional) , Yak-Yong pun datang ke istana. Penjaga gerbang sempat curiga terhadap Ra-On yang mengenakan masker wajah, tapi untungnya sesaat kemudian kasim Jang (Lee Joon-Hyuk) keluar dan meminta mereka untuk segera masuk.

Sambil menggenggam tangan Lee Young dan menahan tangisnya, Ra-On berkata, “Yang Mulia, ini aku, Ra-On. Apa kau baik-baik saja?”

Keduanya segera merawat Lee Young. Beberapa saat kemudian, Lee Young mulai membuka matanya. Ra-On yang melihatnya langsung memanggil namanya. Yak-Yong hendak memeriksanya, namun tiba-tiba Ha-Yeon datang. Ra-On pun berpamitan keluar, sementara Yak-Yong memberitahunya bahwa putra mahkota sudah tersadar kembali.

Ratu Kim masih galau memikirkan bayinya. Tak lama kemudian seorang dayang masuk, memberitahukan bahwa putra mahkota sudah tersadar kembali. Ia kaget mendengarnya. Sementara itu, Yak-Yong memberitahu Lee Young bahwa sebenarnya teh obat itu tidak mengandung racun sama sekali. Racun justru berada pada permukaan mangkok yang digunakan untuk menyajikan teh tersebut. Itu sebabnya cincin perak yang digunakan oleh putri mahkota berubah warnanya. Untungnya, belum banyak racun yang terminum oleh Lee Young, sehingga kondisinya kini baik-baik saja.

“Harap simpan fakta bahwa aku sudah terbangun untuk sementara waktu. Ketika orang yang dikira mati hidup kembali, aku menantikan untuk melihat seberapa senangnya mereka,” ujar Lee Young.

Yak-Yong mengiyakan. Rumor pun berkembang, mengatakan bahwa putra mahkota sekarat. Kasim Sung (Jo Hee-Bong) melaporkan hal itu pada Kim Hun, yang berbalas menanyakan apakah akses ke East Palace (dongungjeon) masih ditutup. Kasim Sung mengiyakan. Ia menambahkan bahkan tabib istana juga tidak diperbolehkan untuk masuk.

“Kalau seperti ini, posisi putra mahkota bisa saja kosong sebelum cucu mahkota berusia 1 tahun…”

Kim Hun melirik tajam ke arah kasim Sung. Ia pun segera menghentikan ucapannya. Sementara itu, Ha-Yeon termenung di ruangannya, memikirkan perawat yang ia lihat saat menemui Lee Young, yang sekilas tampak seperti Ra-On. Namun ia tidak yakin bahwa itu benar-benar Ra-On. Ra-On sendiri sedang merawat Lee Young di dongungjeon. Saat hendak melangkah pergi, tiba-tiba Lee Young meraih tangannya dan menariknya mendekat. Ia lantas membuka masker di wajah Ra-On dan tersenyum melihatnya.

“Aku tidak salah lihat,” ucap Lee Young.

“Aku dengar kamu dalam bahaya, Yang Mulia,” balas Ra-On.

“Kamu tahu betapa khawatirnya aku mengetahui orang di hadapanku bukanlah kamu ketika aku membuka mata? Aku khawatir aku memegang tangan ini dan ternyata itu tangan orang lain ”

“Yang Mulia, aku membuat janji dengan kakekku. Aku berjanji akan berada di dekatmu dengan hati-hati dan diam-diam sehingga kamu tidak akan tahu. Jadi, berpura-puralah kamu tidak tahu aku di sini sedikit lebih lama lagi.”, ujar Ra-On.

Lee Young menarik lengan baju Ra-On dan melihat Ra-On masih memakai gelang pemberiannya.

“Aku akan berpura-pura tidak tahu kamu ada di sini dalam waktu yang lama, jadi tetaplah di sini bahkan meski aku sudah sembuh,” ujar Lee Young.

Tangan kiri Lee Young menggenggam tangan Ra-On, sedang tangan kanannya membelai lembut pipi Ra-On. Ra-On tersenyum kepadanya. Yang tidak mereka sadari, dari balik pintu Ha-Yeon melihat perbuatan mereka.

Lee Young menemui selir Park (Jeon Mi-Sun) dan princess Youngeun (Heo Jung-Eun), meminta maaf karena baru bisa memberitahu mereka sekarang mengenai keadaannya. Selir Park tidak mempermasalahkan, yang terpenting adalah Lee Young baik-baik saja. Lee Young lantas menanyakan tentang hari dimana ibunya meninggal, yang kejadiannya hampir sama dengan yang baru saja menimpa dirinya. Princess Youngeun mendengarkan dengan gelisah.

“Kenapa kamu membahas masalah yang menyakitkan ini?” tanya selir Park.

“Kondisi dari dua kejadian ini mirip dan aku pikir pelakunya adalah orang yang sama,” jawab Lee Young. Ia melanjutkan, “Jadi, sekarang adalah kesempatan yang baik untuk membuka kebenaran mengenai kematian ibu.”

“Apa yang kamu maksud dengan itu?” tanya Selir Park kembali.

“Meski aku yakin dengan dugaanku, tapi aku tidak punya bukti.” jawab Lee Young.

Di kediaman ratu Kim, kasim Sung melaporkan bahwa bayi miliknya ada di tempat kasim Han. Ratu Kim segera meminta kasim Sung untuk membawa bayi itu kepadanya. Tak seberapa lama, keduanya sudah membawa bayi tersebut untuk diserahkan ke orang lain guna dibuang kembali. Ratu Kim memastikan pada kasim Sung bahwa jika hal sebelumnya terjadi lagi, maka ia adalah orang pertama yang akan ia bunuh.

Saat kasim Sung hendak menyerahkan bayi tersebut, tiba-tiba seseorang menghentikannya. Mereka pun kaget begitu melihat yang datang adalah Lee Young. Dengan tatapan mata tajam ia melangkah menghampiri mereka.

“Singkirkan bayi itu. Apakah itu perintahmu?” tanya Lee Young pada ratu Kim.

“Putra mahkota, bagaimana kamu bisa berada di sini?” tanya ratu Kim yang masih kaget melihat keberadaan Lee Young.

“Turunkan dia. Aku bilang, turunkan bayi itu.” perintah Lee Young pada kasim Sung.

Dengan ketakutan kasim Sung perlahan melakukannya. Mata ratu Kim membelalak karena geram.

“Putra mahkota, apa yang kamu lakukan sekarang?” bentak ratu Kim.

“Meskipun ia harus mati, anak ini seharusnya paling tidak menangis sebanyak yang ia inginkan. Bahkan penjahat di ruang penyiksakan berkali-kali meneriakkan ‘aku tidak bersalah’ atau ‘mohon ampuni aku’. Tapi menangis adalah satu-satunya yang bayi ini bisa lakukan. Sebelum ia mati, ia setidaknya mendapat kesempatan untuk menangis dengan bebas di depan ibunya yang berniat untuk membuangnya.”

“Lakukan yang ingin engkau lakukan, putra mahkota,” respon Ratu Kim. “Bayi ini tidak ada hubungannya denganku.”

“Ini adalah kesempatan terakhir yang aku berikan padamu. Satu-satunya cara untukmu dan bayi yang baru memulai hidupnya untuk tetap bertahan adalah dengan mengakui perbuatanmu ke publik.”

“Aku tidak mengerti sama sekali apa yang kamu katakan,” ujar Ratu Kim keukeuh.

Ia lalu melangkah pergi meninggalkan mereka. Tanpa diduga, bayi tersebut mulai menangis. Langkah Ratu Kim jadi terhenti karena bimbang.

Ra-On hendak menuju dongungjeon saat ia melihat princess Youngeun sedang duduk menyendiri. Ia pun menghampirinya dan diam-diam menunjukkan siapa dirinya. Raut wajah princess Yongeun terlihat senang melihatnya. Ra-On kemudian menanyakan apakah ada hal yang dikhawatirkan oleh princess Yongeun. Princess Yongeun menjawab, dengan tulisan, ada satu hal yang ingin ia minta tolong pada Ra-On.

Princess Yongeun ternyata mengajak Ra-On menuju ke bangunan tua dimana terdapat lemari yang dulu ia gunakan untuk bersembunyi. Saat itu, princess Yongeun sempat melihat seorang dayang hendak memberikan sebuah surat untuk putra mahkota. Namun karena dikejar oleh Kim Hun dan anak buahnya, dayang tersebut menyembunyikan surat tersebut di lantai dekat lemari agar tidak ketahuan oleh Kim Hun. Sambil menangis, Princess Yongeun menunjukkan tempat surat tersebut disembunyikan pada Ra-On dan dengan terbata berkata, “Di.. di.. di sana.”

Sempat kaget mendengar Princess Yongeun akhirnya bisa berbicara kembali, Ra-On segera memeriksa tempat yang ditunjukkan olehnya. Dan benar, ada selembar kertas di sana. Sayangnya, tindakan mereka diketahui oleh anak buah Kim Hun yang diam-diam mengawasi. Ia segera melaporkan hal tersebut pada Kim Hun. Mendengarnya, Kim Hun meminta anak buahnya untuk menangkap Ra-On, hidup atau mati. Kim Yoon-Sung (Jin Young) yang juga berada di sana segera berdiri dan mengatakan bahwa ia yang akan pergi.

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu di saat aku tahu kamu punya perasaan kepadanya?” tanya Kim Hun.

“Aku ingin menguji diriku sendiri, seberapa besar perasaanku kepadanya.”, jawab Yoon-Sung.

“Apakah kamu kecewa putra mahkota memilikinya di tempat tinggalnya dan tidak membiarkannya keluar?” tanya Kim Hun lagi.

“Ya. Sebuah keluarga harus punya kekuatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, bukankah begitu?”

“Baiklah kalau begitu, pergi ambil dia.” ujar Kim Hun.

Di kediaman raja, Lee Young memberikan surat yang ditemukan Ra-On kepada raja Soonjo (Kim Seung-Su). Dengan gemetar raja membuka surat tersebut dan mengkonfirmasi bahwa itu benar tulisan ibunya. Ia lalu menunjukkan isi surat tersebut kepada Lee Young.

Putra mahkota, ketika kamu mendapatkan srurat ini, besar harapanku kamu sudah melewati semua kesedihan dan kebencian. Ku mohon jangan melupakan posisi putra mahkota yang ku lindungi dengan nyawaku bukanlah untuk kekuasaan anakku, melainkan sebagai harapan bagi Joseon.

Lee Young menangis membacanya.

Yoon-Sung mencegat langkah Ra-On, memintanya untuk ikut dengannya. Ra-On kaget mendengarnya. Sesaat kemudian muncul beberapa orang berpakaian serba hitam di belakang Ra-On. Tanpa berkata apa-apa, beberapa di antara maju untuk menangkap Ra-On dan menyeretnya agar mengikuti mereka. Yoon-Sung membalikkan badannya, berniat hendak melangkah. Namun kemudian langkahnya terhenti begitu mendengar jeritan kecil Ra-On yang kakinya tersandung karena diseret. Ia pun lalu mengeluarkan pedangnya, menghunusnya ke arah Ra-On, lalu menyabetkannya ke arah salah seorang yang sedang memegangi Ra-On.

Pertarungan pun berlangsung. Karena jumlah yang tidak seimbang, Yoon-Sung bersusah payah mengalahkan mereka. Meski berhasil, tubuhnya terluka parah. Ra-On berniat untuk memanggil bantuan, namun Yoon-Sung mencegahnya, sadar bahwa kondisinya sudah tidak bisa diselamatkan. Ra-On lantas meletakkan kepala Yoon-Sung di pangkuannya. Matanya mulai berkaca-kaca begitu melihat luka tusukan di tubuh Yoon-Sung mengeluarkan darah segar.

“Jangan menangis,” ujar Yoon-Sung yang memaksa untuk tetap tersenyum. “Aku tidak ingin diingat sebagai pria remeh yang membuat wanita menangis.”

Air mata mulai menetes di pipi Ra-On.

“Tuanku, engkau terluka sedemikian parah, tapi kamu malah bercanda.”, ujar Ra-On.

“Ku mohon jangan sedih juga,” ucap Yoon-Sung sembari mengusap air mata Ra-On.

“Tuanku, kamu selalu membuatku tertawa. Maafkan aku yang hanya bisa membuatmu terluka.”

“Kamu adalah lukisan yang ingin aku gambar di dalam hidupku. Jika kamu bahagia di saat aku menggambarmu, maka semuanya baik-baik saja. Jadi, ku mohon bahagialah.”

Yoon-Sung menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengucapkan kata-kata itu.

Kim Hun menemui ratu Kim. Ratu Kim mengaku bahwa yang ia lakukan hanyalah agar diakui oleh ayahnya dan sebisa mungkin membantu klan mereka. Kim Hun tetap tidak bisa menerima perbuatan ratu Kim yang membuang anaknya hanya demi mendapatkan tahta kerajaan.

“Ya, setelah mendengar kata-katamu, sepertinya aku memang putrimu,” ujar ratu Kim sembari meneteskan air mata. “Kita bisa membuang atau membunuh siapa saja yang menghalangi kita. Kita benar-benar mirip satu sama lain.”

“Kamu ingin agar aku mengakuimu?” tanya Kim Hun. “Itu bukanlah sesuatu yang kamu — anak dari rahim selir pelacur rendah sepertimu — bisa lakukan. Kamu cukup menerima tahta yang aku berikan dengan anggun dan melindunginya baik-baik.”

Tiba-tiba raja, Lee Young, dan beberapa prajurit masuk ke ruangan mereka. Sementara Lee Young menyerahkan surat dari ibunya, Raja menanyakan apakah hal itu benar adanya. Ternyata, 10 tahun lalu, Kim Hun sempat mengancam Queen Youn (Seo Jung-Yeon, ibu Lee Young) karena mengajarkan Lee Young agar dekat dengan rakyatnya. Ancaman tersebut yang kemudian berujung pada pembunuhan ratu. Belum sempat Kim Hun menjawabnya, seorang kasim datang dengan menangis dan memberitahu mengenai Yoon-Sung.

Akhirnya semua kedok Kim Hun terbongkar. Putra mahkota Lee Young sendiri yang membacakan dakwaannya, memutuskan untuk memenggal kepala Kim Hun, Kim Ui-Gyo dan juga Kim Geun-Gyo. Sementara itu, ratu Kim dicopot dari statusnya sebagai ratu dan diusir dari istana.

Usai pembacaan keputusan hukuman Kim Hun, Kim Hun yang sedang digelandang oleh penjaga meminta ijin untuk memasuki ruangan Yoon-Sung untuk terakhir kalinya. Penjaga memperbolehkannya. Perlahan Kim Hun masuk dan duduk di meja Yoon-Sung sembari teringat tentang cucunya itu. Ia lalu membuka kotak milik Yoon-Sung dan mengambil pistol miliknya, kemudian membunuh dirinya sendirinya.

Lee Young berziarah ke makam ibunya, yang kini sudah terawat rapi. Ia teringat pesan ibunya, yang ingin agar ia menjadi raja yang adil.

“Berdiri di tempat yang sedemikian tinggi bisa menutupi penglihatan seseorang, tidak bisa melihat yang lebih rendah. Aku harap pemeriksaanmu tidak membosankan. Kamu tidak boleh hanya mendengar orang yang berteriak di hadapanmu. Lindungi semua rakyat seolah hanya mereka saja rakyatmu. Maukah kamu berjanji padaku akan menjadi raja seperti itu?”

Dalam hati Lee Young berjanji untuk melakukannya.

Beberapa waktu kemudian, Lee Young membacakan keputusannnya untuk membebaskan Ra-On dari segala tuduhan yang diarahkan kepadanya. Sementara itu, Ha-Yeon mengajukan permohonan untuk melepaskan posisinya sebagai putri mahkota kepada raja. Raja mengingatkan bahwa jika ia melakukannya maka ia harus hidup sendiri di sisa hidupnya. Ha-Yeon tidak mempermasalahkan karena sudah menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa merubah perasaan Lee Young terhadapnya. Sehingga, daripada harus menjadi beban bagi Lee Young, ia memutuskan untuk menjalani sisa hidupnya seorang diri. Mendengar alasan itu, raja mengabulkan permohonannya, sekaligus mengatur agar seolah pentahtaannya sebagai putri mahkota tidak pernah terjadi, sehingga ia bisa menjalani hidupnya seperti biasa dan menemukan jodohnya.

Lee Young yang sudah diangkat menjadi raja naik tahta untuk pertama kalinya. Yak-Yong juga sudah berada di jajaran pejabat untuk mendampinginya. Namun bukannya duduk di kursi raja, Lee Young malah duduk di tangga tepat di hadapan para pejabat istana. Semua kaget melihatnya. Yak-Yong lantas menanyakan mengapa ia melakukan hal tersebut.

“Aku akan melakukan ini mulai dari sekarang. Batasan tinggi dan rendah antara diriku dan rakyat, serta jarak di antara kalian dengan diriku, aku merasa ingin untuk setidaknya selangkah lebih dekat dengan kalian semua.” jelas Lee Young.

Kasim Jang tersenyum bangga mendengarnya. Begitu pula Yak-Yong. Pejabat istana lainnya membungkuk menanda setuju.

Beberapa saat kemudian, penerimaan kasim baru dimulai kembali. Do-Gi (Tae Hang-Ho) dan Sung-Yeol (Oh Eui-Sik) yang sudah senior kini ikut menjadi pengawas. Mereka pun kaget melihat ada seorang calon kasim yang berwajah seperti wanita. Saat sedang bergosip mengingat kembali tentang Ra-On, mereka jadi lebih kaget lagi begitu calon kasim tersebut menoleh ke arah mereka berdua lalu mengedipkan matanya.

Princess Myungeun (Jung Hye-Seong) sedang berjalan di taman saat seorang anak kecil menghampirinya dan memberikan bunga mawar merah, disusul dengan barisan dayang dan kasim yang melakukan hal yang sama. Di ujung barisan, ia mendapati Jung berlutut di hadapannya.

“Ada 99 bunga dan bunga terakhir…” ujar Jung.

“Kamu maksud bunga terakhir itu aku? Kekanak-kanakan sekali,” potong Myung-Eun sembari tersenyum.

Jung terdiam. Ia sebenarnya hendak memberikan bunga terakhir yang ia simpan di balik punggungnya. Diam-diam ia menjatuhkan bunga tersebut lalu bangkit dan berkata, “Itu benar. Aku tidak bisa membedakan apakah bunga itu kamu, atau kamu adalah bunga. Princess, maukah engkau menikahiku?”

Myungeun kaget mendengarnya. “Deuk Ho, jika kamu menjadi menantu raja, maka kesuksesanmu di masa depan akan menjadi redup. Apakah itu tidak apa-apa?”

Jung melangkah mendekati Myungeun.

“Untukku, setiap jalan yang aku ambil bersamamu adalah jalan berbunga, jadi siapa yang membutuhkan kesuksesan itu. Aku hanya membutuhkanmu, Myungeun”, ujar Jung, yang tanpa menunggu jawaban Myungeun langsung mencium bibirnya.

Gyeong Nae dan Byung-Yeon sedang memperhatikan Lee Young yang asyik bermain permainan tradisional bersama rakyatnya.

“Apakah kamu tahu pepatah ‘menggambar awan menarik bulan’?” tanya Byung-Yeon pada Gyeong Nae.

“Bulan bercahaya pada saat engkau menggambar awan.. bukankah seperti itu artinya?” jawab Gyeong Nae.

“Raja, tidak seperti matahari yang bercahaya dengan sendirinya, tapi seperti cahaya bulan yang bercahaya saat dikelilingi oleh rakyat. Baginda raja seperti itu.” ucap Byung-Yeon.

“Jadi kamu akan tetap menjadi awan bagi raja, benar begitu?” ujar Gyeong Nae sembari tersenyum dan berlalu meninggalkan Byung-Yeon.

Ra-On kini membuka usaha toko buku. Saat sedang memajang bukunya yang berjudul ‘Moonlight Drawn By The Clouds’ dan bercover wajah Lee Young, Lee Young tiba-tiba muncul dan merebut buku tersebut. Ia berpura-pura kesal karena wajahnya digunakan di sana tanpa ijin. Sambil tertawa Ra-On meminta maaf, berdalih bahwa gambar cover mempengaruhi penjualan buku. Lee Young terdiam sejenak lalu tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah Ra-On.

“Aku akan mengambil semua bagian pembayaranku.” ujarnya.

“Di sini?” tanya Ra-On perlahan sembari menutup bibirnya dengan tangannya, ge-er mengira Lee Young akan menciumnya.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Lee Young. “Untuk setiap buku, pembayaran. Ini bukanlah sebuah keindahan yang bisa kamu gunakan tanpa permisi.”

Dengan kesal karena malu Ra-On lantas pergi meninggalkan Lee Young.

52

Lee Young menyusul Ra-On. Keduanya berjalan menyusuri taman bunga sembari bergandengan tangan.

“Moonlight Drawn By The Clouds… seperti apa itu isinya?” tanya Lee Young.

“Itu tentang seorang putra mahkota yang indah seperti bunga di sebuah negara yang nun jauh di sana. Meskipun ia memiliki perilaku yang buruk karena tidak mengenal dunia…”

“Kamu sudah menggunakan wajahku tanpa ijin dan sekarang menggunakan kehidupan pribadiku juga?” potong Lee Young.

“Dengarkan aku sampai selesai,” respon Ra-On. “Jadi putra mahkota melalui berbagai banyak hal dan bangkit sebagai raja bijaksana yang tidak akan pernah ada lagi.”

“Itukah yang kamu inginkan?” tanya Lee Young sambil tersenyum lebar.

“Tidak,” jawab Ra-On. “Aku hanya mengintip ke dalam dunia yang ingin engkau ciptakan, Yang Mulia.”

53

“Siapa kamu?” tanya Lee Young.

“Apakah kamu berbicara tentang orang pertama dari negara yang ingin kamu ciptakan?” tanya Ra-On balik.

Lee Young mengangkat bahunya sambil melirikkan matanya ke atas.

“Kekasih pertama yang entah bagaimana datang dalam bentuk kasim?” jawab Ra-On untuk kedua kalinya.

Lee Young masih belum membenarkannya. Malah mencibir lalu tersenyum.

“Baiklah, lalu siapa aku?” tanya Ra-On.

“Kamu adalah Ra-On yang mengisi seluruh duniaku”, jawab Lee Young.

Mereka pun lalu saling berciuman.

Reply