Sinopsis Love In The Moonlight Episode 17 & Preview Episode 18 (2016)

Di sinopsis Love In The Moonlight episode sebelumnya, King Soonjo (Kim Seung-Su) yang panik meminta agar interogasi Hong Gyeong Nae (Jung Hae-kyun) dipercepat sehingga membuat rencana pembebasan yang diatur oleh kasim Han (Jang Gwang) gagal. Di saat interogasi berlangsung, Kim Hun (Cheon Ho-Jin) menghadirkan pula Hong Ra-On (Kim You-Jung) yang sudah lebih dulu ia tangkap. Hal ini membuat putra mahkota Lee Young (Park Bo-Gum) berada dalam posisi terdesak. Tanpa diduga, anak buah Baekwoon Group bergerak dan mulai penyerang prajurit kerajaan. Di tengah kegentingan, tiba-tiba Kim Byung-Yeon (Kwak Dong-Yeon) menghunuskan pedangnya ke arah Lee Young. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Moonlight Drawn By The Clouds episode 17 kali ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 17

Episode 17: Akhir Untuk Sebuah Awal

Kasim Han memberitahu prajurit bahwa keselamatan putra mahkota adalah yang utama. Ia pun meminta yang lain memberi jalan untuk Gyeong-Nae. Anak buah Baekwoon yang berada di sana segera membebaskannya dan membawanya pergi, bersama dengan Ra-On. Dengan mata berkaca-kaca Ra-On melangkah pergi sembari menatap ke arah Lee Young.

Byung-Yeon yang berada di sana sedikit demi sedikit mulai dikepung oleh prajurit istana. Sembari menatap ke arah Lee Young, air matanya menetes. Adegan flashback muncul, dimana sebelumnya Lee Young menceritakan pada Byung-Yeon bahwa ia penasaran dengan tatanan dunia baru yang diharapkan Baekwoon serta tembok pemisah antara dirinya dengan rakyat.

“Sekarang aku harus mencari tahu,” ujar Lee Young.

“Itu mungkin berada di balik tembok,” respon Byung-Yeon. “Negara yang ingin engkau bangun mungkin berada di balik tembok.”

“Seperti itu?” tanya Lee Young sambil tersenyum.

“Aku sangat ingin melihatnya, Yang Mulia.”

“Jika kamu benar-benar ingin melihatnya, aku akan benar-benar membutuhkan bantuanmu.”

Kembali ke saat ini.

“Maafkan kekasaranku, Yang Mulia,” ujar Byung-Yeon perlahan. “Aku percaya bahwa dunia yang ditunggu oleh Baekwoon tidak berbeda dengan dunia yang ingin engkau bangun. Di balik tembok yang memisahkan dirimu dengan rakyat, dunia yang akan engkau bangun, aku sungguh ingin melihatnya.”

Sesaat kemudian sekelompok prajurit dengan bersenjatakan panah tiba di TKP. Prajurit lain semakin bergerak mendekati Byung-Yeon. Byung-Yeon pun melangkah mundur, hendak menurunkan pedangnya.

“Jangan tarik pedangmu,” pinta Lee Young. “Saat dimana engkau menurunkan pedangmu, aku akan kehilanganmu. Ini perintah!”

“Yang Mulia… Untuk tidak bisa mematuhi perintahmu, aku minta maaf. Aku minta maaf, Yang Mulia,” ujar Byung-Yeon sembari menjatuhkan pedangnya ke tanah.

Sebusur panah langsung melesat ke dada kanannya. Byung-Yeon terhuyung dan segera mematahkan busur yang menancap di dadanya. Panah kedua menyusul, mengenai paha kirinya, membuat ia terduduk. Lee Young kaget melihatnya dan meminta prajurit untuk berhenti. Namun terlambat, seorang prajurit sudah langsung bergerak menyabetkan pedangnya ke tubuh Byung-Yeon!

Darah memuncrat keluar dari mulut Byung-Yeon. Ia pun terjatuh. Lee Young, Kim Yoon-Sung (Jin Young), dan kasim Han syok melihatnya. Lee Young lantas maju, berniat menghampirinya. Namun dua orang prajurit menghadangnya. Tubuh raja tiba-tiba mulai lemas, sehingga kasim Han meminta untuk membawa raja pergi meninggalkan tempat tersebut. Lee Young berteriak meminta prajurit untuk minggir sembari mendorong mereka. Perlahan ia mendekati tubuh Byung-Yeon lalu memeluknya. Air mata menetes di pipi Lee Young melihat kondisi sahabatnya itu.

“Byung-Yeon… jangan lupakan itu. Jika aku hanya bisa percaya satu orang saja di dunia ini, tanpa berubah, orang itu tetaplah kamu.” ujar Lee Young.

“Untuk.. mempercayaiku.. gomapta…,” ujar Byung-Yeon sembari tersenyum.

Lee Young tidak bisa lagi membendung tangisnya. Byung-Yeon mengangkat tangan kanannya, hendak meraih wajah Lee Young, namun sebelum sempat menyentuhnya tangannya kembali terjauh, dan ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Adegan flashback muncul. Di saat festival lampion, sambil memandang ke arah Lee Young yang saat itu sedang bersama Ra-On, dari kejauhan Byung-Yeon menerbangkan lampionnya. Terdapat tulisan sebagai berikut di lampion tersebut.

Aku berharap di saat terakhirku, aku bisa menjadi sahabatmu.

Anak buah Baekwoon yang menyamar menjadi prajurit tiba di pintu gerbang kerajaan. Prajurit kerajaan yang berjaga di sana menghadang mereka, menanyakan keperluannya. Kasim Han muncul dari belakang, menunjukkan surat perintah untuk membawa penjahat tersebut ke Royal Investigative Office sekarang juga. Mengenali Kasim Han, prajurit penjaga segera membukakan pintu gerbang untuk mereka. Sayangnya, belum sempat mereka melangkah keluar, dari dalam istana beberapa orang prajurit berlari ke arah mereka, memberitahukan bahwa mereka adalah pengkhianat.

Pertempuran pun berlangsung. Kasim Han meminta Gyeong-Nae dan beberapa orang Baekwoon untuk segera keluar. Gyeong-Nae kaget melihat kasim Han yang justru tetap berada di dalam dan hendak menutup pintu gerbang.

“Aku akan memberimu waktu,” ujarnya. “Apa yang kalian lakukan? Cepat bawa mereka pergi, lekas!”

Anak buah Baekwoon yang tersisa segera menarik Gyeong-Nae dan Ra-On untuk menaiki kuda yang telah mereka siapkan di depan pintu gerbang. Sementara itu, beberapa orang anggota Baekwoon yang menahan prajurit istana sudah berhasil dikalahkan. Salah seorang prajurit istana berlari ke arah kasim Han dan menyabetkan pedangnya ke punggung kasim Han!

Dengan sisa tenaganya, kasim Han masih berhasil mencegah prajurit tersebut keluar gerbang dan membunuhnya. Di hadapannya kini ada sekelompok prajurit istana yang siap untuk menyerangnya. Kasim Han segera membalikkan badan, berniat untuk menutup pintu gerbang. Kembali salah seorang prajurit istana mendekat dan menyabetkan pedangnya ke punggung kasim Han. Sadar tidak mampu berbuat apa-apa lagi, Gyeong-Nae memerintah yang lain untuk bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan mulut berlumuran darah, kasim Han memandangi mereka sambil tetap berusaha menghalangi pintu gerbang.

Kasim Jang (Lee Joon-Hyuk) dan Yoon-Sung mencegat pelayan yang membawa jenazah Byung-Yeon. Yoon-Sung mengatakan bahwa ia sahabatnya dan minta agar ia saja yang mengurus jenazahnya. Pelayan tersebut hendak mengabaikannya namun kasim Jang segera memberikan uang sambil memberi isyarat untuk diam-diam saja. Sambil menahan tangis Yoon-Sung menggenggam tangan Byung-Yeon. Namun tiba-tiba ia terdiam, seolah tersadar akan sesuatu.

14

Satu bulan berlalu. Seperti biasa, di pagi hari kasim Jang datang ke dongungjeon untuk membangunkan Lee Young. Karena tidak kunjung ada respon dari dalam kamar putra mahkota, kasim Jang memberanikan diri untuk masuk. Tempat itu ternyata kosong. Lee Young sendiri saat itu sedang berada di sebuah gisaeng / kisaeng house, sedang menikmati tarian yang dibawakan oleh seorang wanita.

Di istana, raja mendapat informasi bahwa lagi-lagi putra mahkota melewatkan pertemuan pejabat (Palace Meeting). Kim Hun memanasi raja dengan mengatakan bahwa sebelumnya putra mahkota sudah membela pemberontak dan sekarang mulai menganggap remeh posisinya sebagai putra mahkota. Ia menambahkan bahwa petisi dari Confucian Scholars yang masuk sebelumnya meyakini bahwa putra mahkota sudah waktunya diturunkan dari tahtanya.

“Aku sudah bilang aku tidak akan membahas mengenai hal itu lagi,” ujar raja.

“Engkau harus,” respon Kim Ui-Gyo (Park Chul-Min). “Tolong jangan membahayakan kedamaian politik bangsa lagi, Yang Mulia.”

“Putra Mahkota bukanlah orang yang membahayakan keadamain politik bangsa ini,” bela Jo Man-Hyung (Lee Dae-Yeon). “Kalian menuduhnya berhubungan dengan Baekwoon ketika kalian sendiri tidak yakin, menolak apapun yang ingin ia lakukan, dan setiap saat kalian tidak suka sesuatu (yang ia kerjakan), kalian meminta Confucian Scholars untuk menulis petisi kerajaan agar ia diusir dari istana.”

“Itu sebabnya aku mengatakan ini,” balas Kim Hun. “Yang Mulia, putra mahkota sekarang sudah kehilangan respek dan kesadaran untuk bertugas. Tidakkah sudah jelas ia lebih sering mengunjungi rumah pelacur (Courtesan House) daripada mendatangi Palace Meeting Hall? Jangan membuat rumit perkara politik negara ini lebih lama lagi. Aku yakin menurunkan tahta putra mahkota dan menetapkan putra mahkota yang baru adalah hal benar untuk dilakukan.”

Raja memejamkan matanya, bimbang apa yang harus dilakukan. Sedangkan Kim Hun, usai mengatakan hal itu, menatap tajam ke arah Man-Hyung, yang untuk kesekian kali ‘melawannya’.

Kim Hun menemui ratu Kim (Han Soo-Yeon), menanyakan kondisi anaknya. Ratu menjawab bahwa kondisinya baik-baik saja. Ia pun kaget mendengar Kim Hun memintanya untuk bersiap-siap menempati tempat tinggal putra mahkota karena anaknya akan segera menjadi putra mahkota yang baru.

“Kamu serius?” tanya ratu Kim.

“Ya, ini akan segera terealisasi,” jawab Kim Hun yakin.

Namun begitu, sepeninggal ayahnya, ratu Kim tidak terlihat senang. Ia memikirkan kembali tentang Yoon-Sung yang tahu akan rahasianya. Sesaat kemudian terdengar suara kasim Sung (Jo Hee-Bong) yang minta ijin untuk masuk menemuinya. Kasim Sung melaporkan bahwa Yoon-Sung benar, bahwa bayi ratu Kim masih hidup dan kini dirawat oleh geisha (kisaeng). Ratu Kim menjad bertambah panik mendengarnya.

19

Di suatu tempat, Lee Young sedang berada di samping tubuh Byung-Yeon. Ia menanyakan kenapa Byung-Yeon masih belum juga menjawab sapaannya. Ya, ternyata Byung-Yeon masih hidup dan rupanya itu yang disadari oleh Yoon-Sung pada saat ia hendak membawa ‘jenazah’ Byung-Yeon. Guru Jung Yak-Yong (Ahn Nae-Sang) lah yang kini merawat Byung-Yeon. Ia mengatakan bahwa secara fisik kondisi Byung-Yeon semakin membaik.

“Mungkin ia ingin beristirahat lebih lama lagi,” ujar Lee Young. “Ia sudah menjalani hidup yang melelahkan.”

“Mungkin itu karena ia sedang bersiap untuk menghadapmu,” jawab Yak-Yong.

Lee YOung lantas menanyakan mengenai Ra-On, yang dijawab Yak-Yong bahwa masih belum ada kabar tentangnya.

“Apakah kamu kecewa?” tanya Yak-Yong.

“Tidak,” jawab Lee Young tenang, “Aku menikmati diriku yang lupa waktu. Permainan mengejar ekor.”

Lee Young melanjutkan, “Aku mengawasi semua aktivitas keluarga Kim, termasuk kepemilikan tanah, transaksi keuangan, dan orang-orangnya.”

“Ya. Namun bagaimanapun, pengejaran tidak berakhir ketika kamu menangkap ekornya. Mereka bisa saja memotong ekornya lalu kabur. Berhati-hatilah.”, pesan Yak-Yong.

“Ya, aku akan mengingatnya,” jawab Lee Young. Ia lalu berdiri dan melanjutkan perkataannya, “Aku sudah bersiap. Ku mohon siapkanlah dirimu juga untuk mengisi lubang kosong yang akan segera ada di Royal Court.”

Sekembalinya di istana, Lee Young berpapasan dengan Kim Hun.

“Diturunkan dari tahta tidak selalu mengarah ke ketidakbahagiaan. Beberapa hidup dengan umur panjang sambil menikmati berburu dan sebagainya. Dalam beberapa kasus, itu mungkin hidup yang lebih baik daripada menduduki tahta.”

“Kedengarannya menarik, tapi ada satu hal yang menahanku,” respon Lee Young. Ia melangkah mendekati Kim Hun, lalu berkata, “Itu adalah kamu, Perdana Menteri. Aku tidak berpikir aku bisa meninggalkan istana selama kamu di sini.”

Kim Hun terdiam, menatap dingin ke arah Lee Young.

Ra-On mendatangi Yak-Yong di tempat Byung-Yeon dirawat. Ia mendapat kabar dari ibunya bahwa Byung-Yeon masih hidup sehingga ia ingin menengoknya. Yak-Yong mengatakan bahwa meski tubuhnya semakin membaik namun ia belum juga tersadar. Yak-Yong lantas mengajak Ra-On masuk menemui Byung-Yeon.

“Pasti sulit bagimu untuk menahan diri dan menyembunyikan dirimu selama ini,” ujar Ra-On pada Byung-Yeon. “Itukah sebabnya kamu beristirahat sedemikian lamanya? Musim gugur bisa saja berlalu kalau begini. Kamu harus bangun sebelum semua daun berguguran dari pohon, oke?”

“Byung-Yeon,” Ra-On melanjutkan, “Bagaimana musim salju di istana? Ketika salju turun di halaman istana yang luas di Repetance Hall juga di atas atapnya yang rendah, itu pasti indah.”

“Itu indah… Sangat sangat indah…” tiba-tiba Byung-Yeon membuka mata dan merespon kata-kata Ra-On.

Ra-On tersenyum gembira melihatnya.

30

Lee Young mendatang jahyeondang. Ia duduk menatap bangunan itu, teringat semua kenangan bersama Ra-On dan Byung-Yeon di sana. Jo Ha-Yeon (Chae Soo-Bin) tiba-tiba menghampirinya dari belakang. Ia lalu duduk di samping Lee Young, menanyakan apakah ia kecewa karena yang datang adalah dirinya. Lee Young menjawab tidak, hanya sedikit terkejut melihatnya.

“Sebenarnya, aku baru saja mengalami sakit kepala,” curhat Ha-Yeon.

“Karena upacara pernikahan?” tanya Lee Young.

“Aku telah mengetahui siapa orang yang ada di hatimu,” jawab Ha-Yeon. Ia menatap wajah Lee Young sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya. “Aku menjadi puteri mahkota dalam perjanjian, jadi akan lucu bagiku untuk mengharapkan yang lainnya. Lalu, aku memutuskan untuk berkonsentrasi terhadap tugas utamaku. Meski aku tidak bisa menghiburmu seperti wanita itu, aku akan tetap menjadi asistenmu sehingga kamu tetap menjadi putra mahkota, karena aku adalah satu-satunya yang akan tetap ada di sampingmu hingga akhir, Yang Mulia.”

Ha-Yeon kembali menatap wajah Lee Young lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Lee Young tidak bisa berkata apa-apa mendengar kata-kata Ha-Yeon barusan.

33

Ratu Kim meminta Yoon-Sung untuk menemuinya. Yoon-Sung memberitahunya bahwa satu-satunya alasan bahwa ia tidak membocorkan rahasia ratu Kim adalah karena hubungan keluarga di antara keduanya. Ia meminta ratu Kim untuk mengaku sendiri tentang hal itu. Ratu Kim jadi geram mendengarnya. Tanpa mereka sangka, dari luar ruangan Kim Hun mendengarkan percakapan mereka. Diam-diam ia pun melangkah pergi dengan perasaan tidak menentu.

Di dongungjeon, kasim Jang meminta Lee Young untuk segera menuju istana. Lee Young memintanya untuk menunggu sejenak. Tak lama kemudian Jung Deok Ho (An Se-Ha) masuk untuk menemuinya. Jung melaporkan bahwa ‘ia’ (orang yang dicari keberadaannya oleh Lee Young) ditahan di pelabuhan pada saat ‘ia’ hendak melarikan diri dari ibukota. Setelah dikonfirmasi, ternyata memang ‘ia’lah yang mengumpulkan pembunuh pada saat itu.

“Baiklah. Ayo berangkat.”, ujar Lee Young.

Di istana, sembari menunggu kedatangan Lee Young, Ui-Gyo dan Kim Geun-Gyo (Bang Joong-Hyun) berusaha memanas-manasi raja tentang Lee Young. Beberapa saat kemudian Lee Young tiba di sana dengan ditemani oleh kasim Jang. Saat ditanya apakah ia habis keluar, Lee Young tidak membantah. Ia mengatakan bahwa ia memang pergi ke Courtesan House dan pusat perjudian, sesuai dengan kata-kata perdana menteri.

“Mereka bilang engkau hanya bisa menjadi penguasa yang baik apabila mendengarkan tangisan rakyat. Aku tidak bisa mendengar apa-apa jika aku berada di dalam istana. Jadi, aku menghabiskan malam-malamku bersama dengan rakyat dan mendengarkan berbagai keluh kesan dan juga saran.” ujar Lee Young.

“Apakah rakyat itu pelacur dan penjudi?” tanya Ui-Gyo.

“Benar. Kenapa? Apakah itu salah?” tanya Lee Young.

“Yang Mulia, ini sesuatu yang tidak bisa kita biarkan.” ujar Ui-Gyo sambil tersenyum sinis.

“Dari menteri hingga pejabat enam kementrian, surat yang meminta penurunan tahta putra mahkota berdatangan,” Geun-Gyo menimpali.

“Yang Mulia, aku memintamu dengan sungguh-sungguh untuk menurunkan tahta putra mahkota dan mengusirnya.”, giliran Kim Hun yang angkat bicara.

Pejabat lain segera membeo, meminta agar raja mempertimbangkan hal itu. Raja hanya terdiam, bimbang.

“Aku mengerti maksud kalian semua,” respon Lee Young tenang. “Tapi, meski ini waktuku untuk pergi, aku berniat untuk menceritakan beberapa cerita menarik yang aku dengar ketika berkeliling ke rumah pelacuran dan pusat perjudian. Maukah kalian semua mendengarnya?”

Ratu Kim menemui seorang kiesang, menanyakan keberadaan bayi yang dirawat olehnya. Kiesang tersebut kaget menyadari bahwa bayi tersebut adalah bayi ratu Kim. Ia lalu memberitahunya bahwa barusan ada seseorang dari istana yang mengambil bayi tersebut. Ratu Kim kaget mendengarnya.

Kembali ke istana. Lee Young melemparkan beberapa lembar kertas yang tergambar wajah beberapa orang pria, semua dengan mata terpejam. Ui-Gyo mempertanyakan hal itu dan dijawab oleh Lee Young itu karena mereka semua telah mati.

“Terkadang itu karena mereka salah membuka malah, untuk sebagian bahkan sebelum mereka membuka mulutnya. Mungkin karena orang mati tidak bisa berbicara. Aku juga kaget. Mereka meninggalkan banyak petunjuk. Aku menelusuri mayat para pembunuh yang menyerang East Palace dan menemukan orang yang pertama kali mengumpulkan mereka, memberikan mereka uang, dan memberikan mereka perintah.”

Ui-Gyo menelan ludah, panik.

“Tidakkah kita sudah mengetahui bahwa itu perbuatan Baekwoon?” Geun-Gyo mencoba membantahnya.

“Kita akan tahu pada saat kita menanyai mereka. Bawa dia masuk!” ujar Lee Young.

Beberapa prajurit membawa seseorang masuk.

“Apakah orang yang menyuruhmu mengumpulkan para pembunuh ada di sini?” tanya Lee Young tegas.

Orang itu perlahan menoleh ke arah Kim Hun, Ui-Gyo, dan Geun-Gyo. Dengan menunduk ia lalu mengiyakan. Lee Young pun memintanya untuk menunjukkan siapa orangnya. Dengan sedikit ketakutan orang tersebut menunjuk ke arah Ui-Gyo dan Geun-Gyo. Pejabat investigasi istana lalu mengkonfirmasi bahwa mereka lah yang telah memberikan hadiah kepada orang-orang itu (para pembunuh) serta menunjukkan buku catatan rahasia Ui-Gyo dan Geun-Gyo.

“Lekas katakan, siapa yang menyuruhmu untuk menyalahkan pembunuhan itu kepada Baekwoon?” tanya Lee Young.

“Itu adalah.. Menteri Personalia (Geun-Gyo) dan Menteri Keuangan (Ui-Gyo)!” jawab orang tersebut. “Aku sudah melakukan dosa yang tidak termaafkan, Yang Mulia!”

Dengan geram raja bertanya, “Menteri, apakah yang dikatakan putra mahkota itu benar?!”

“Yang Mulia, bagaimana kamu bisa percaya omongan putra mahkota yang dikelilingi oleh pelacur dan penjudi?!” respon Ui-Gyo. “Ini semua… tuduhan tak berdasar!”

“Kamu masih berusaha membuat alasan?!” bentak Lee Young. Ia lalu meminta pejabat investigasi istana untuk menangkap Ui-Gyo dan Geun-Gyo serta menginvestigasi mereka dengan menyeluruh. Prajurit segera membawa keduanya pergi, dimana Ui-Gyo terus berteriak merengek pada raja, menyatakan dirinya tidak bersalah. Setelah keduanya hilang dari pandangan, Lee Young melirik tajam ke arah Kim Hun, yang tidak berani menatap balik ke arahnya.

Setelah kejadian itu, Lee Young berbicara empat mata dengan Kim Hun. Ia menunjukkan gambar dayang yang secara misterius mati beberapa waktu lalu.

“Kabarnya, ia melahirkan seorang anak beberapa saat sebelum ia meninggal. Namun, anak itu tidak diketemukan dimanapun. Apa sebenarnya kisah yang tersembunyi?” sindir Lee Young. Ia melanjutkan, “Apa kamu tidak penasaran dengan wanita ini?”

Kim Hun hanya terdiam dan menatap Lee Young tanpa berkata apa-apa.

Di luar, ratu Kim tiba kembali ke istana. Ia pun kaget melihat Ha-Yeon bersama dengan beberapa orang dayang sedang bermain-main dengan seorang bayi perempuan. Ia langsung menyadari bahwa itu adalah bayinya. Untuk mencari tahu, ia mengajak ngobrol Ha-Yeon, yang menemuinya bersama dengan seorang dayang dan bayi tersebut. Ha-Yeon mengatakan bahwa itu adalah bayi putra mahkota. Tubuh Ratu Kim bergetar hebat karena panik.

Lee Young menemui Byung-Yeon. Ia menanyakan kenapa Byung-Yeon tidur cukup lama.

“Ku rasa aku tidak punya keberanian untuk menghadapmu, Yang Mulia.”

“Kamu melindungi wanita yang ku cintai dan juga diriku, bukan? Lebih dari segalanya.. terima kasih sudah kembali seperti ini.”

Byung-Yeon tertegun sejenak mendengarnya. Ia lalu berkata, “Orang itu terkadang datang ke sini dan merawatku.”

“Segera setelah aku menyelesaikan semua persiapan, aku akan membawanya kembali ke sisiku,” respon Lee Young. “Aku akan membuatnya sehingga kita bisa tertawa, ngobrol, dan bahagia seperti sebelumnya, di sampingku. Kita hampir tiba di sana. Ketika waktu itu tiba, maukah kita bertiga kembali ke Repentance Hall dan minum bersama?”

Byung-Yeon tidak menjawab, hanya tersenyum lebar. Sementara itu, tanpa mereka sadari, dari balik tembok, Ra-On mendengarkan percakapan mereka dan ikut tersenyum.

48

Kim Hun menemui ratu Kim. Ia mengingatkan bahwa bayi yang ada di tangan ratu Kim tidak bisa menjadi putra mahkota. Ratu Kim tidak peduli, dan tetap akan melaksanakan rencananya. Kim Hun sekali lagi mengingatkan bahwa jika memang itu niat ratu Kim maka ia harus benar-benar berusaha untuk meyakinkan orang-orang, karena jika tidak hukuman mati telah menantinya. Ratu Kim jadi geram, merasa bahwa ayahnya kini berniat untuk meninggalkannya begitu saja.

“Bagaimana bisa kamu meletakkan anak yang tidak jelas, yang bahkan tidak tahu wajah ayahnya sendiri dan dibesarkan oleh gisaeng, di posisi ratu? Apakah ada dosa pemberontakan yang lebih besar dalam menghina keluarga raja di Joseon daripada ini?” ujar Ratu Kim dengan nada tinggi dan mata membelalak.

“Apakah kamu tidak akan menutup mulutmu?” balas Kim Hun sembari menahan emosinya.

“Berhati-hatilah jika kamu ingin mencampuri urusanku. Kamu harus tegas dalam tekatmu.”

Malam harinya, sembari melihat bulan purnama, Yoon-Sung bercerita pada Lee Young bahwa pada waktu kecil ia iri kepadanya karena apapun yang ia lakukan ia tetap hanyalah seorang pembantu baginya. Lee Young menyadarinya dan mengatakan bahwa itu sebabnya ia selalu ingin punya teman, karena apapun yang ia kerjakan, semua orang pasti hanya melihatnya sebagai putra mahkota.

“Apakah itu sebabnya kita bisa terus bersama seperti sekarang ini?” tanya Lee Young. “Kamu, Byung-Yeon, dan aku. Kenapa kita tidak bisa menghindari berkelahi satu sama lain?”

“Aku selalu ingin melarikan diri dari kakekku dan posisiku sebagai anak tertua keluarga Kim,” jawab Yoon-sung. “Meski aku tidak yakin kamu percaya denganku.”

“Aku percaya,” ujar Lee Young. “Aku juga ingin membuang banyak hal jika aku bisa. Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan.”

Yoon-Sung mengangguk, lalu berkata, “Silahkan lakukan apa yang kamu rasa benar.”

“Tapi, kalau saja kamu terluka, itu membuatku khawatir.”

“Aku pun khawatir.. kalau aku akan berusaha melindungi keluargaku.”

Mereka berdua saling bertatapan. Yoon-Sung lalu melanjutkan kata-katanya, “Oleh sebab itu, jika sesuatu terjadi, kita berdua tidak perlu saling merasa menyesal, untukku dan untukmu. Ini tidak seperti kita tidak tahu hal ini akan terjadi.”

Kim Hun melamun di kamarnya. Ia teringat kejadian 8 tahun yang lalu, tentang putra mahkota yang diramalkan punya umur pendek, serta Yoon-Sung yang diyakini memiliki kemampuan untuk menjadi raja yang hebat. Tak lama kemudian Yoon-Sung datang menghadapnya.

Esok harinya, Ha-Yeon datang bersama seorang dayang, membawakan obat penghilang capek bagi Lee Young di dongungjeon. Setelah dayang tersebut mencicipi obat yang dimaksud, Ha-Yeon meminta Lee Young untuk meminumnya. Tiba-tiba Ha-Yeon seperti menyadari sesuatu. Ia segera meminta Lee Young untuk tidak meminumnya, namun terlambat, obat tersebut sudah masuk ke dalam mulutnya, dan tiba-tiba saja Lee Young terjatuh tak sadarkan diri.

Preview Episode 18

» Sinopsis ep 18 selengkapnya

Reply