Sinopsis Love In The Moonlight Episode 16 & Preview Episode 17 (2016)

Di sinopsis Love In The Moonlight episode sebelumnya, usaha Kim Hun (Cheon Ho-Jin), Kim Ui-Gyo (Park Chul-Min) dan Kim Geun-Gyo (Bang Joong-Hyun) dalam menjebak Lee Young (Park Bo-Gum) ternyata dibantu oleh seorang anggota Baekwoon Group yang berkhianat. Sayangnya, belum sempat Lee Young menginterogasi anggota Baekwoon tersebut (yang berhasil ditangkap oleh prajurit kerajaan), seseorang sudah terlebih dahulu membunuhnya. Tidak itu saja, Kim Hun tiba-tiba mengajukan pengunduran diri, beralasan berniat untuk memulihkan nama baiknya karena telah dituduh turut berkonspirasi menjebak Lee Young (padahal memang iya). Lee Young sendiri akhirnya sadar bahwa yang terbaik bagi dirinya dan Hong Ra-On (Kim You-Jung) adalah ia melanjutkan pernikahan dengan Jo Ha-Yeon (Chae Soo-Bin). Tanpa diduga, beberapa saat sebelum pernikahan dilangsungkan, Hong Gyeong Nae muncul dan dikabarkan tertangkap. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Moonlight Drawn By The Clouds episode 16 kali ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Episode 16

Episode 16: Dunia Yang Engkau Impikan

Prajurit istana yang dilihat oleh Ra-On sebelumnya ternyata dalam perjalanan menuju rumah ibu Ra-On. Entah mendapat info darimana, mereka mengetahui bahwa Hong Gyeong Nae saat itu sedang menemui ibu Ra-On. Geong Nae sendiri datang ke rumah istrinya untuk menjemputnya dan juga anaknya. Begitu menyadari rumah sudah terkepung, Gyeong Nae meminta istrinya untuk bersembunyi sementara ia melangkah keluar untuk mengalihkan perhatian mereka. Meski pada akhirnya ia tertangkap, namun usahanya berhasil, tidak ada yang menyadari keberadaan ibu Ra-On di sana.

Ra-On tiba di rumah tak lama setelah Gyeong Nae dibawa menuju istana. Setelah menghampiri ibunya yang terduduk dengan pandangan kosong dan menanyakan apa yang terjadi, ibu Ra-On menceritakan tentang ayahnya yang ternyata masih hidup dan baru saja mendatanginya, namun kini ditangkap oleh prajurit istana.

Di kerajaan sendiri, king Soonjo (Kim Seung-Su) kaget mendengar kabar tersebut. Ia pun terjatuh tak sadarkan diri karena syok. Demikian pula dengan kasim Han (Jang Gwang), yang kaget setengah mati mendengarnya. Tak lama kemudian, bersama dengan Kim Byung-Yeon (Kwak Dong-Yeon), mereka mengawasi arak-arakan yang membawa Gyeong Nae. Byung-Yeon memberitahukan bahwa raja memerintahkan Gyeong Nae untuk langsung dibawa ke istana, tidak ke departemen keadilan. Han menjadi khawatir karena yakin bahwa raja berniat untuk langsung membunuhnya.

“Aku akan mengorbankan nyawaku jika perlu untuk membebaskannya,” ujar Han.

1

2

Han lantas menemui Ra-On dan ibunya. Ibu Ra-On masih tertidur karena syok. Saat Han hendak pulang, Ra-On meminta ijin untuk menyusup masuk ke istana demi melihat sosok ayahnya, sekaligus meminta tolong dibantu apabila terjadi apa-apa.

“Semua orang di negara ini tahu tentang ayahku, kecuali diriku. Untuk pertama kalinya, aku ingin melihat ayahku. Ku mohon tolong aku.”, pinta Ra-On.

Hati Han luluh mendengarnya.

Kembali ke istana. King Soonjo panik karena semua ketakutannya menjadi nyata dengan Gyeong Nae yang ternyata masih hidup. Duo Kim Ui-Gyo dan Geun-Gyo diam-diam tersenyum licik melihatnya. Kim Hun makin memanasinya dengan menyarankan raja untuk mengeksekusi sendiri Gyeong Nae. Tahu niat buruk Kim Hun, Lee Young dan Jo Man-Hyung (Lee Dae-Yeon) berusaha mencegahnya dengan dalih kesehatan raja yang sedang tidak stabil. Apa daya, raja yang sudah kadung terbakar emosi tetap memutuskan untuk mengeksekusinya seorang diri.

Malam harinya, Ra-On berniat untuk masuk ke istana. Bersama dengan Byung-Yeon yang diutus oleh Han, keduanya menyamar menjadi prajurit. Sementara itu, Lee Young sedang melangkah menuju penjara untuk menemui Gyeong Nae. Tujuan Ra-On ternyata juga sama, menuju penjara untuk langsung menemui ayahnya. Setibanya di sana, ia melangkah mendekati pintu ruang tahanan Gyeong Nae dan berdiri terpaku menatap punggung ayahnya. Tak lama kemudian terdengar suara orang di luar, sehingga Byung-Yeon segera mengajak Ra-On untuk pergi. Sebelum pergi, Ra-On meninggalkan selembar sapu tangan bersulam bunga putih untuknya.

Giliran Lee Young yang tiba di tahanan. Ia menanyakan apakah selain ayahnya, ia juga merupakan target Baekwoon. Gyeong Nae tidak menjawab, berbalik menanyakan apakah interogasi sudah dimulai.

“Aku telah kehilangan sesuatu yang paling berharga karenamu.” ujar Lee Young.

“Seorang pemimpin ditetapkan demi kepentingan masyarakat, bukan agar seseorang duduk di atas orang lain dan memenuhi keinginannya sendiri.”, respon Gyeong Nae.

“Apakah itu yang dipercaya Baekwoon?” tanya Lee Young.

“Tidak. Ada satu hal lagi. Aku percaya ada satu kesalahan dalam pernyataan tersebut. Aku percaya pemimpin bukanlah ditetapkan oleh sesuatu yang lebih tinggi. Pemimpin masyarakat seharusnya dipilih sendiri oleh masyarakat.” jawab Gyeong Nae tegas.

Di luar, meski sempat berpapasan dengan Ui-Gyo dan yang lainnya, untungnya Ra-On dan Byung-Yeon masih bisa lolos. Mereka lalu menuju jahyeondang. Tak lama kemudian tanpa diduga Lee Young datang juga ke tempat itu.

3

4

5

Ui-Gyo ternyata menyadari kemungkinan yang ia lihat barusan adalah Hong Ra-On. Ia segera memberitahukannya pada Kim Hun tentang hal itu. Kim Hun segera memerintahkan mereka untuk menangkap Ra-On.

“Aku tidak sabar melihat wajah putra mahkota begitu ia melihat reuni ayah dan anak itu.” ujar Kim Hun.

Lee Young menunjukkan sebuah ruangan tersembunyi di jahyeondang dan meminta Ra-On untuk bersembunyi di sana apabila ada orang yang mencarinya atau mengikutinya ke jahyeondang. Kamar itu ternyata tempat ibu Lee Young dulu biasa menghabiskan waktunya. Lee Young lalu berjanji untuk mencari cara memasukkan Ra-On ke tahanan saat pergantian penjaga.

“Jika kamu merindukan seseorang, kamu harus melihatnya,” ujar Lee Young.

Mata Ra-On berkaca-kaca mendengarnya.

Esok harinya, pencarian terhadap Ra-On di istana mulai diperketat. Poster wajah Ra-On juga disebar di berbagai penjuru istana. Kasim Do-Gi (Tae Hang-Ho) dan kasim Sung-Yeol (Oh Eui-Sik) akhirnya menyadari bahwa orang yang saat itu sedang dicari-cari adalah teman mereka sendiri, kasim Hong. Pun begitu dengan Ha-Yeon, yang turut kaget mengetahuinya.

6

7

8

Han memberitahu Byung-Yeon bahwa rencana pembebasan Gyeong Nae akan dimulai dua hari lagi pada pukul 1/2 2 malam, tepatnya di saat pergantian shift penjaga. Han meminta Byung-Yeon untuk membawa Ra-On ke jalur bawah tanah, sementara ia sendiri yang akan membawa Gyeong Nae keluar dari istana. Total akan ada 10 orang yang beraksi (termasuk Byung-Yeon). Han kembali menegaskan agar Byung-Yeon benar-benar melindungi Ra-On dan memastikan tidak seorang pun menemukannya.

Lee Young tiba di dongungjeon dan mendapati Ha-Yeon menunggunya di sana. Meski pernikahan mereka belum dilangsukan, tapi Ha-Yeon mengira secara resmi mereka sudah menjadi suami istri karena ia diminta untuk menunggu putra mahkota di tempat tersebut. Beralasan sudah larut, Lee Young meminta Ha-Yeon untuk meninggalkan tempat tersebut. Tanpa sengaja Ha-Yeon melihat Lee Young sudah tidak menggunakan gelang jodoh lagi. Ia pun lantas mempertanyakan hal tersebut. Lee Young berdalih ia sedang menyimpannya di tempat lain. Ha-Yeon lalu membahas soal gelang pasangan itu dan rumor bahwa pasangan yang menggunakannya akan dipertemukan kembali oleh takdir apapun yang terjadi di antara mereka.

“Penjual di pasar cukup baik dalam mengarang hal-hal semacam itu,” ujar Ha-Yeon.

“Mereka pasti tahu hati seseorang yang ingin mempercayainya, meskipun itu adalah kebohongan.” jawab Lee Young.

Setelah membayangkan kembali beberapa momen antara dirinya dengan Lee Young dan dengan Ra-On, Ha-Yeon akhirnya menyadari bahwa orang yang dicintai Lee Young adalah kasim Hong.

9

Ra-On kembali datang menemui ayahnya, yang ternyata langsung mengenalinya. Mendengar Gyeong Nae memanggil namanya, air mata mulai menetes membasahi pipinya.

“Aku tidak memberikanmu nama itu untuk memberimu hidup sesulit ini. Maafkan aku,” ujar Gyeong Nae.

“Kapan kamu berniat untuk menjemputku?” tanya Ra-On terbata-bata.

“Aku tidak tahu,” jawab Gyeong Nae, “Mungkin saat kamu tidak lagi perlu untuk berpura-pura menjadi pria.”

“Bahkan jika kamu tidak berhasil merubah dunia, kamu bisa saja menjadi seorang ayah yang hebat dengan berada di sana”. balas Ra-On.

“Aku tidak ingin untuk melemparkan anakku ke dunia yang penuh masalah dan menghukumnya untuk tidak melakukan yang lebih baik. Jadi aku ingin mengubahnya menjadi dunia yang sedikit lebih baik untuk engkau tinggali.”, jelas Gyeong-Nae.

“Tapi, jika aku tahu engkau masih hidup, itu akan menyenangkan. Aku akan merindukanmu dan memanggil namamu, ayah.”

Gyeong Nae meneteskan air mata mendengarnya. Tidak mereka sadari, Lee Young ada di belakang mereka, ikut mendengarkan dengan mata berkaca-kaca.

Dalam perjalanan kembali ke jahyeondang, kasim Sung (Jo Hee-Bong) ternyata melihat mereka. Ia bergegas menuju kediaman ratu Kim (Han Soo-Yeon) untuk melaporkan hal tersebut. Gegara tidak sengaja bertabrakan dengan Kim Yoon-Sung (Jin Young), Yoon-Sung jadi menyadari ada hal yang tidak beres. Setelah mendengar laporan Sung, ratu Kim segera memintanya untuk memanggil komandan penjaga istana. Saat mereka berdua melangkah keluar, ada Yoon-Sung berdiri di sana, membawa hadiah dari Kim Hun. Ratu Kim memintanya untuk datang di lain waktu, tapi Yoon-Sung mengatakan ada sesuatu yang terlebih dahulu harus didengar oleh Ratu Kim. Ratu Kim kembali menolak dan hendak melangkah pergi, namun Yoon-Sung segera menghampirinya dan berbisik bahwa yang hendak ia bicarakan adalah tentang seorang bayi baru lahir yang diam-diam dibawa keluar dari istana. Kasim Sung dan ratu Kim kaget mendengarnya.

“Haruskah aku kembali nanti?” tanya Yoon-Sung.

Berbicara empat mata, ratu Kim marah karena menganggap Yoon-Sung sudah menghinanya dengan tuduhan palsu. Dengan tetap tenang Yoon-Sung berbalik mengatakan bahwa ratulah yang telah menghina istana dengan membuat kebohongan publik. Ratu Kim keukeuh tidak mengakuinya, namun Yoon-Sung mengatakan bahwa ia punya buktinya.

“Bagaimana jika bayi tersebut masih hidup, apakah itu akan merubah keadaan?” tanya Yoon-Sung dengan tatapan tajam.

10

11

12

“Aku tidak ingin meletakkanmu dalam bahaya karena diriku,” ujar Ra-On pada Lee Young di jahyeondang.

“Jangan mengatakan itu,” respon Lee Young, “Takdir kita sudah kusut jauh sebelum aku dan kamu bertemu. Jadi, jangan merasa buruk atau terluka lagi karenanya.”

Ra-On lalu meminta Lee Young untuk pergi karena malam sudah larut.

“Langit terlalu berawan untuk melihat bulan. Bagaimana bisa aku berjalan sendiri dalam kegelapan?” dalih Lee Young. “Jadi, aku akan tetap di sini sedikit lebih lama lagi.”

Ra-On menoleh ke arah Lee Young. Pandangan mereka saling bertatapan.

“Aku membayangkan apa jadinya apabila kita berada dalam situasi yang berbeda berulang kali tiap harinya. Setidaknya, saat kita ada di sini, tersembunyi dari dunia, marilah kita tidak berpikir tentang segal asesuatunya dan saling melihat satu sama lain, Ra-On.”, ujar Lee Young.

“Aku rasa aku akhirnya bisa tidur nyenyak malam ini,” lanjut Lee Young.

14

Raja terbangun dari tidurnya akibat bermimpi buruk tentang Gyeong Nae yang kabur dari penjara dan berusaha membunuhnya. Ia segera meminta untuk dipanggilkan perdana menteri Kim Hun agar interogasi Gyeong Nae dimulai hari itu juga. Ulah raja ini membuat Han dan Byung-Yeon jadi pusing karena tidak lagi bisa melaksanakan rencana awal mereka. Terlebih dengan penjagaan di saat interogasi yang 10 kali lebih ketat dibandingkan di penjara.

Tiba-tiba Han mengaku bahwa ia yang telah membunuh Jang Gi Baek (pengkhianat Baekwoon di episode sebelumnya). Meskipun berat melakukannya, namun Han mengatakan bahwa perasaan personal tidak boleh sampai menggagalkan misi mereka.

“Curahkan semua kekuatanmu untuk membantu orang yang telah kita tunggu sekian lama agar bisa lolos dari ruang interogasi.”, ujar Han.

Han kemudian meminta Byung-Yeon untuk menyampaikan pada Ra-On agar ia menyamar dan menunggu mereka di pintu gerbang, agar nanti bisa ikut bersama dengan mereka.

Lee Young kembali mendatangi Gyeong Nae di tahanan. Ia menanyakan pernyataan Gyeong Nae sebelumnya, tentang pemimpin yang dipilih oleh rakyat, apakah itu maksudnya adalah raja boneka yang melakukan apa saja yang diminta oleh rakyatnya. Gyeong Nae menjawab tidak.

“Aku juga menginginkannya. Politik untuk rakyat. Namun begitu, bagaimana rakyat bisa memilih raja untuk memerintah mereka?”, ujar Lee Young.

Gyeong-Nae terdiam sejenak lalu maju selangkah ke arah Lee Young. Ia berkata, “Yang kita inginkan tidak hanya politik untuk rakyat, tapi politik oleh rakyat. Raja seperti dirimu yang terlahir sebagai raja harus membayangkan diri sebagai matahari. Benda mutlak yang menyinari rakyat. Raja yang dipilih oleh rakyat berbeda.”

“Bagaimana bisa ia berbeda?” tanya Lee Young penasaran.

“Ia akan mensejajarkan dirinya dengan rakyat sebagai manusia biasa. Manusia biasa yang bermimpi menjadi manusia biasa. Tidakkah itu lucu?”, jawab Gyeong-Nae.

“Lalu kenapa kamu berpikir menyingkirkan raja adalah satu-satunya cara?” tanya Lee Young kembali.

“Tidak ada raja yang mau menyerahkan singgasananya dengan sukarela. Kamu dan aku. Kaum bangsawan dan rakyat jelata. Wanita dan pria. Anak perempuan pemberontak dan anak laki-laki keturunan raja. Ketika kamu menjadi raja, akankah kamu menerima semuanya secara sejajar?”

Seorang prajurit lalu datang untuk membawa Gyeong-nae menuju ruang interogasi.

“Pemimpin tidak hanya dipilih oleh rakyat,” ujar Lee Young tiba-tiba. Ia melanjutkan, “tapi juga menghargai mereka. Bagaimana bisa seseorang yang menghargai orang lain memperlakukan orang lain seperti mereka binatang?”

Gyeong Nae menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Lee Young. “Jadi, apa yang ingin kamu katakan.”, tanyanya.

“Dunia yang aku impikan tidak jauh berbeda dengan dunia yang kamu impikan. Yang membedakan adalah seberapa jauh mereka dari keadaan saat ini. Aku akan menemuimu lagi setelah interogasi. Mungkin kita bisa menemukan jalan tanpa melalui pertumpahan darah. Jalan dimana kita bisa berjalan bersama menuju dunia yang kita impikan.”

15

16

17

18

Seseorang tiba-tiba menyekap mulut Ra-On dan menariknya ke suatu tempat. Sementara itu, satu demi satu pejabat istana dan juga pihak yang berkepentingan datang menuju ruang interogasi. Raja kaget begitu melihat penampakan Gyeong Nae yang benar-benar masih hidup. Interogasi pun dimulai dengan dipimpin oleh perdana menteri Kim Hun.

Mendengar Gyeong Nae tidak mau mengakui kesalahannya karena tidak merasa melakukan pemberontakan dan pengkhianatan terhadap negara, raja menjadi emosi dan meminta penyiksaan untuk segera dimulai agar ia mau mengakuinya. Saat Gyeong Nae sedang menahan sakit dari siksa besi panas yang ditusukkan ke pahanya, Geun-Gyo bersama beberapa orang prajurit datang membawa Ra-On. Ra-On pun kaget melihat ayahnya sedang menjalani siksaan seperti itu.

Kim Hun mengancam akan mengeksekusi Gyeong Nae di tempat itu juga apabila ia masih tidak mau mengaku.

“Hong Gyeong Nae. Kamu memimpin kerusuhan 10 tahun yang lalu, meletakkan negara dalam keadaan sulit, dan mengakibatkan ribuan orang mati. Apakah kamu mengakuinya?” tanya Kim Hun.

“Jika itu yang kamu maksud dengan pengkhianatan dan pemberontakan, jika memang itu, aku mengakuinya.” jawab Gyeong Nae. “Ada beberapa kaki tangan yang merencanakan pemberontakan itu bersamaku di sini. Pejabat yang memungut pajak secara berlebihan dari rakyat jelata dan menggunakan sebagian besar untuk memperkaya diri sendiri. Aku, Hong Gyeong Nae, mengumpulkan orang-orang yang hampir mati karena kelaparan dan memimpin mereka menuju kematian. Raja meledakkan bom untuk menghancurkan hidup dan harapan orang-orang yang melawan hingga akhir dengan harapan menciptakan dunia yang baru.”

19

20

Bukannya introspeksi, raja yang sudah kalap justru mengamuk.

“Dengarkan aku! Penggal kepala monster…”

“Aku sedang mengaku kesalahanku,” potong Gyeong Nae. “Ku mohon, eksekusi mereka bersamaku. Hanya itu satu-satunya jalan untuk membayar semua pengorbanan ribuan orang.”

“Aku perintahkan, penggal kepalanya sekarang juga. Sekarang juga!” bentak raja Soonjo.

Beberapa orang prajurit segera menghunuskan pedangnya ke arah Gyeong Nae. Tanpa diduga, Lee Young berdiri dan memohon agar ayahnya membatalkan perintah tersebut. Semua orang kaget mendengarnya.

“Kamu harus mengikuti prosedur dan memutuskan hukumannya setelah interogasi.” ujar Lee Young.

21

“Aku yakin bukan itu alasannya,” tiba-tiba Kim Hun menimpali. “Kamu tidak boleh menunjukkan perasaan pribadimu di saat kita menghukum penjahat. Rumor sudah menyebar luas di istana bahwa engkau menjalin hubungan intim dengan putrinya.”

Raja dan Gyeong Nae kaget mendengarnya. Kim Hun lalu memerintahkan untuk membawa Ra-On masuk. Beberapa orang prajurit kemudian membawa Ra-On dan melemparkannya hingga terjatuh di depan ayahnya.

“Ini adalah wanita itu (putrinya),” ujar Kim Hun pada raja.

“Putra mahkota, apakah yang dikatakan perdana menteri Kim itu benar?” tanya raja.

Saat itu Yoon-Sung tiba di ruang interogasi. Ia kaget begitu melihat situasi yang ada di sana. Kim Hun kembali menanyakan tentang Ra-On pada Lee Young dan apakah benar ia menyembunyikannya karena ia mencintainya. Lee Young tidak menjawab. Gyeong Nae kemudian mencoba untuk menyelamatkan Ra-On dengan mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mengenal sosok Ra-On. Mendengarnya, Kim Hun kembali mendorong Lee Young untuk segera menjawab pertanyaannya dan membuktikan apabila memang benar ia tidak berhubungan dengan mereka.

“Kamu bisa membuktikannya dengan memenggal kepalanya sekarang juga,” ujar Kim Hun.

Lee Young masih tetap terdiam. Lagi-lagi raja kalap dan memerintahkan prajurit untuk memenggal kepala Ra-On. Dengan mata berkaca-kaca Ra-On menatap wajah Lee Young dalam-dalam. Dalam hati ia berkata, “Yang mulia, mulai saat ini, berhentilah mencintaiku. Ku mohon, ingatlah aku sebagai putri pemberontak. Aku tidak ingin meninggalkanmu dalam luka penyesalan yang dalam karena engkau tidak bisa melindungi pelayan yang engkau cintai.”

Salah seorang prajurit mengangkat pedangnya, bersiap untuk memenggal kepala Ra-On. Lee Young hendak mengambil pedang Byung-Yeon untuk mencegahnya, namun tanpa diduga, sebagian prajurit yang ada di sana mulai bergerak dan menyerang prajurit-prajurit yang sedari tadi mengikuti perintah raja untuk memenggal Gyeong Nae dan Ra-On.

Situasi menjadi terpecah dalam dua kubu, antara sebagian yang tadi menyerang dengan raja, pejabat, dan prajurit lainnya yang melindungi raja. Byung-Yeon yang sedari tadi terlihat bimbang kini ikut menghunuskan pedangnya ke arah kubu penyerang. Namun tanpa diduga, beberapa saat kemudian, ia menghunuskan pedangnya ke arah leher Lee Young.

“Jika kamu ingin menyelamatkan putra mahkota,” teriaknya, “turunkan pedangmu.”

“Byung-Yeon…” ujar Lee Young perlahan, tak percaya dengan tindakan Byung-Yeon.

22

Preview Episode 17

» Sinopsis ep 17 selengkapnya

2 Comments - Add Comment

Reply