Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 21 & Preview Episode 22 (2 November 2016)

Di sinopsis Jealousy Incarnate episode sebelumnya, acara siaran langsung pemilihan walikota dimulai. Pyo Na-Ri (Kong Hyo-Jin) yang diam-diam sudah berlatih keras untuk itu sayangnya harus kecewa dan menanggung malu karena segala sesuatunya tidak berjalan sesuai harapan. Kesalahan peletakan CG yang tidak bisa cepat diantisipasi oleh Na-Ri memaksa Lee Hwa-Shin (Kong Hyo-Jin) beberapa kali turun tangan. Di saat jeda sesi pertama, Hwa-Shin memutuskan untuk mengganti Na-Ri dengan Hong Hye-Won (Seo Ji-Hye) agar Na-Ri tidak melakukan kesalahan lagi dan memintanya untuk pulang saja. Namun demikian, usai kejadian itu, Na-Ri ternyata bersikap biasa saja kepadanya dan sama sekali tidak marah. Hwa-Shin jadi penasaran sendiri dan terus mempertanyakan mengapa Na-Ri tidak marah. Pada akhirnya, Na-Ri meluapkan semua kekesalannya pada Hwa-Shin, beralasan bahwa ia tidak marah karena takut Hwa-Shin juga ikut marah dan meninggalkannya. Melihat Na-Ri yang marah membuat Hwa-Shin makin terpesona olehnya dan malah melamarnya! Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis drama korea Incarnation of Jealousy episode 21 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 21

“Bagaimana bisa kamu memintaku untuk menikahimu dan membawakan kimchi untukmu di waktu yang sama? Bisakah aku memilih satu?” tanya Na-Ri.

Dengan tetap tersenyum manis Hwa-Shin mengangguk. Na-Ri tersenyum lalu bangkit dari duduknya.

“Baiklah, aku akan ambilkan kimchi,” ujarnya.

Hwa-Shin terpaku mendengar perkataan Na-Ri. Ia hanya menelan ludah tanpa bergeming sama sekali. Na-Ri tak lama kemudian kembali, dengan benar-benar membawa sekotak kimchi.

“Ini. Silahkan dimakan,” ucap Na-Ri.

Hwa-Shin menoleh ke arah kotak kimchi tersebut. Lalu mencium baunya.

“Itu kimchi,” kata Na-Ri.

Hwa-Shin melihat ke arah Na-Ri, lalu kembali memperhatikan kotak kimchi itu. Tanpa berkata apa-apa Na-Ri lantas berdiri dan pergi meninggalkan Hwa-Shin keluar dari ruangan. Hwa-Shin meliriknya lalu kembali lagi menengok kimchi yang dibawakan Na-Ri. Dengan bingung ia mengamati kotak kimchi tersebut dari dekat.

Na-Ri sedang menggosok gigi di depan kamar apartemennya saat Hwa-Shin tiba di kamar apartemennya sendiri. Ia melihat ke arah Na-Ri yang sama sekali tidak menyapanya seperti biasanya. Bahkan begitu tahu Hwa-Shin ada di seberang, Na-Ri langsung masuk ke dalam apartemennya.

“Apakah itu penolakan?” gumam Hwa-Shin sambil menghela nafas.

Di kamarnya Na-Ri berbaring dalam kondisi galau. Rupanya ia mengira tadi Hwa-Shin tidak bersungguh-sungguh dan hanya mengatakan hal itu karena Na-Ri marah kepadanya. Hwa-Shin sendiri di kamarnya masih berpikir apakah ia benar sudah ditolak atau belum.

Hari berganti. Seperti biasa, Na-Ri membawakan siaran berita pagi. Saat sesi ramalan cuaca yang dibawakan oleh rekannya dulu, Na Joo-Hee (Kim Ye-Won), ia senyum-senyum kepadanya, walau Jin hanya menanggapinya dengan memasang muka cemberut.

Hwa-Shin sedang berada di dalam lift saat pintu lift terbuka dan Na-Ri, dengan mengenakan gaun putih ala pernikahan lengkap dengan bunganya, berdiri di depan pintu. Hwa-Shin ternganga (sekaligus terpana) melihatnya. Na-Ri melempar senyum kepadanya, tapi karena Hwa-Shin masih terus terganga (sekaligus terpana), Na-Ri langsung menghapus senyumnya tadi dan masuk ke dalam lift.

Keduanya saling terdiam. Masih sama-sama canggung dengan kejadian semalam.

“Ada pemotretan penyiar di atap,” jelas Na-Ri memecah keheningan.

“Memangnya aku tanya?” respon Hwa-Shin ketus.

Saat sedang memegangi tiara di kepalanya, tiba-tiba sarung tangan Na-Ri tersangkut. Ia pun meminta tolong pada Hwa-Shin untuk membantu melepaskannya.

“Kamu sibuk nanti?” tanya Na-Ri.

“Tidak,” jawab Hwa-Shin, masih berusaha melepaskan sarung tangan Na-Ri yang terkait di tiara.

“Kalau begitu, maukah kamu mengambil kimchi di tempatku usai kerja? Aku membuat beberapa.”

Mendengar kata kimchi membuat Hwa-Shin keki kembali. Ia yang tadinya berusaha melepas sarung tangan Na-Ri dengan hati-hati menjadi asal saja melakukannya hingga tiara Na-Ri ikut terlepas.

“Baiklah,” jawab Hwa-Shin malas-malasan.

“Itu bukan yang pertama kalinya kamu lakukan dengan Hye-Won, kan?” tanpa disangka Na-Ri kembali bertanya soal ciuman Hwa-Shin dan Hye-Won sebelumnya.

Hwa-Shin menoleh ke arahnya dan berkata, “Sudahlah.”

“Itu bukan yang pertama, bukan?”

“Kami tidak melakukannya,” jawab Hwa-Shin.

“Kalau begitu apa itu?”

“Aku tidak tahu”

“Kamu selalu berkata begitu saat berat menjawab,” respon Na-Ri sambil tersenyum.

“Itu bukan apa-apa.”

“Bagaimana itu bukan apa-apa? Kamu mengatakan itu karena itu bukan tidak apa-apa.”

“Berhentilah mendebatku,” ucap Hwa-Shin yang mulai kesal.

“Kamu yang membuatku berdebat,” jawab Na-Ri tidak mau kalah.

“Aku bilang kamu tidak perlu mengkhawatirkannya”

“Aku sudah bilang kepadamu. Kamu ahlinya membuat wanita khawatir. Kamu berbakat”

Hwa-Shin terdiam dan menatap ke arah Na-Ri.

“Apa?” tanya Na-Ri ketus.

“Jika kamu akan terus berdebat, lebih baik tutup mulutmu.” jawab Hwa-Shin tidak kalah ketus.

“Aku dengar kamu tidak pernah bersama dengan wanita yang sama lebih dari tiga bulan.”

“Keluarlah”

“Sungguh siklus hidup yang pendek. Tiga bulan.”

“Lupakan itu. Sungguhan.”

“Itu tidak benar, bukan?”

“Lupakan itu. Lupakan itu.”

“Kamu akan mengencaniku selama tiga bulan, bukan?” tanya Na-Ri.

“Hey!” respon Hwa-Shin.

Tiba-tiba pintu lift terbuka. Keduanya segera berhenti berkelahi dan menoleh ke arah pintu. Ada Hye-Won, Bang Ja Young (Park Ji-Young), Geum Soo-Jung (Park Hwan-Hee), dan seorang lagi di belakang entah siapa, semuanya mengenakan baju pengantin berwarna putih. Terdengar lagu pernikahan di musik latar.

Mereka semua lantas masuk ke dalam lift. Ja-Young menanyakan apakah Na-Ri sudah menekan tombol untuk menuju ke atap dan Na-Ri mengiyakan. Hye-Won, yang berdiri di samping Hwa-Shin, menoleh ke arah Na-Ri dengan tatapan tajam. Na-Ri pun tidak mau kalah, balas menoleh ke arahnya.

Lift kembali berhenti. Kali ini giliran Kye Sung-Sook (Lee Mi-Sook) yang muncul, tentu saja juga dengan baju pengantin plus buket bunganya.

“Aku pikir majalah hanya menginginkan (foto) penyiar,” ujar Ja-Young pada yang lain.

“Penyiar bukan satu-satunya pengantin,” respon Sung-Sook. “Aku yang pertama kali diminta.”

Sung-Sook pun melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift.

“Pakai lift yang berikutnya,” tanpa diduga dari belakang Hwa-Shin berkata.

“Tidak” jawab Sung-Sook

“Ambil yang berikutnya. Tidakkah kamu lihat kita sudah penuh?” balas Hwa-Shin. “Ada berapa pengantin ini? Lima? Apakah aku harus menikah sebanyak lima kali?”

Tanpa menghiraukan lelucon Hwa-Shin, Sung-Sook masuk dan berkata, “Siapa yang mau menikahimu? Jangan terlalu berharap tinggi.”

Seraya pintu lift tertutup, Hwa-Shin menoleh ke arah Na-Ri.

Ko Jung-Won (Ko Gyung-Pyo) sedang bersiap-siap untuk meeting. Sekretaris Cha (Park Sung-Hoon) menunjukkan foto-foto hasil pemotretan penyiar SBC yang ternyata mengenakan baju-baju sponsor dari mereka. Pandangan Jung-Won langsung terhenti di foto Na-Ri. Ia terus menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Sung-Sook datang ke ruang penyiar masih dengan mengenakan baju pengantin.

“Aku rasa kamu tidak ingin untuk melepaskannya,” sindir Hwa-Shin. “Kamu harus menggunakannya untuk siaran berita jam 9 serta mengenakannya di rumah.”

“Aku turun karena mereka memintaku menunggu untuk foto bersama. Mereka seharusnya melakukan foto bersama terlebih dahulu.” jelas Sung-Sook.

“Kamu terlihat cantik,” puji Hwa-Shin.

“Siapa? Na-Ri?”

“Aku sedang membicarakanmu.”

“Kamu memotongnya sendiri setelah apa yang ia lakukan di bagian pertama siaran langsung. Siapa yang akan mengencanimu? Kamu bilang kamu suka dia, tapi kamu memotongnya. Bagaimana ia bisa mempercayaimu?” ujar Sung-Sook.

Hwa-Shin terdiam mendengarnya.

“Kamu habis dicampakkan, bukan?” tanya Sung-Sook.

“Aku memintanya untuk menikahiku,” ucap Hwa-Shin. “Mungkin itu sebabnya, tapi dia tidak mau memberikanku jawaban. Aku terlalu takut untuk bertanya lagi karena mungkin ia akan menolakku untuk selamanya.”

“Ia tidak merespon?” tanya Sung-Sook.

“Haruskah aku bertanya lagi?”

“Kamu ingin menikah?”

“Ya”

Sung-Sook kaget mendengar jawaban Hwa-Shin. Ia bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”

“Aku tidak ingin kehilangan dia seperti aku kehilangan saudaraku, meskipun aku mungkin masih berhati dingin kalau urusan pekerjaan.”

Na-Ri mengajak Hwa-Shin pergi ke klinik payudara. Di ruang tunggu, meski Na-Ri yang mengenakan baju pasien, semua orang menoleh ke arah Hwa-Shin. Salah satunya bahkan mengenali Hwa-Shin. Na-Ri pun bergegas membawanya masuk begitu nurse Oh (Park Jin-Joo) memanggilnya. Yang tidak mereka sadari, wanita yang tadinya mengenali Hwa-Shin adalah pasangan reporter Park, partner baca berita Na-Ri.

Saat ini adalah sesi terapi radiasi Hwa-Shin yang terakhir. Dokter Geum Suk-Ho (Bae Hye-Sun) menanyakan bagaimana kondisi Hwa-Shin. Hwa-Shin menjawab baik-baik saja. Dokter pun lantas menceramahinya, seandainya saja Hwa-Shin dari awal mau melakukannya pasti semua ini sudah berakhir dari kemarin-kemarin. Namun begitu, untuk langkah terakhir, perlu dilakukan pengecekan terhadap jumlah sel darah putih di tubuh Hwa-Shin melalui tes darah dan tes anemia. Dokter juga menyarankan adanya tes tambahan karena ini adalah sesi mereka yang terakhir. Hwa-Shin menyetujuinya. Sebagai penutup, dokter memberi selamat karena Hwa-Shin sudah berhasil melalui semuanya itu. Dengan tersenyum Hwa-SHin menoleh ke arah Na-Ri.

Usai tes dilakukan, Hwa-Shin menemui Na-Ri yang menungguinya di ruang tunggu.

“Kamu senang?” tanya Na-Ri.

“Aku gembira!” jawab Hwa-Shin. “Tiga bulan dari sekarang, aku bisa mandi dan minum-minum lagi.”

“Kamu berbicara seolah-olah kamu tidak pernah minum,” sindir Na-Ri.

“Aku bisa berolahraga juga. Aku bisa berenang. Aku bisa berdansa.”

Na-Ri tersenyum lalu memegang tangan Hwa-Shin. Ia berkata, “Kamu sudah melakukan dengan baik.”

Tiba-tiba raut muka Na-Ri berubah, seperti hendak menangis.

“Kamu menangis? Kenapa kamu menangis?” tanya Hwa-Shin.

“Ini tidak akan kambuh, dan kamu akan hidup dalam waktu yang lama, bukan?” tanya Na-Ri balik.

“Kenapa kamu menangis?”

“Aku tidak tahu. Aku terus meneteskan air mata.”

“Ya Tuhan,” ujar Hwa-Shin sembari tertawa. Ia lalu berlutut di bawah Na-Ri dan berkata, “Hentikanlah. Jangan menangis.”

“Apa yang salah denganku? Maafkan aku.” tanya Na-Ri, masih terus menangis.

“Kamu menangis seperti ini di kamar rumah sakit saat aku memberitahumu aku menjalani operasi kanker payudara. Jangan menangis,” ujar Hwa-Shin.

Hwa-Shin lantas bangkit dan tiba-tiba berjoget di hadapan Na-Ri. Na-Ri jadi tertawa melihatnya. Beberapa saat kemudian dokter dan perawatnya menghampiri mereka. Tanpa ragu Hwa-Shin tetap berjoget, bahkan menggoda suster Oh dan memintanya untuk tersenyum sedikit. Dokter Geum tertawa melihat ulahnya dan mulai bertepuk tangan menyemangati Hwa-Shin. Tanpa diduga, mendadak nurse Oh mulai bergoyang dan ikut berjoget bersama Hwa-Shin dengan gaya swag.

Secara mengejutkan, Lee Bbal-Gang (Mun Ka-Young) mengaku pada kedua ibunya bahwa ia telah melakukan voice phishing (scam via telpon). Ia mengaku dulu melakukan itu karena membenci kedua ibunya dan pamannya, sehingga ia mencoba menipu mereka. Hanya saja, hanya Hwa-Shin yang kemudian menjadi korban (episode-episode awal dulu saat Hwa-Shin kehilangan uang tabungannya dan akhirnya pinjam uang pada Hye-Won). Ia pun menyerahkan uang $10,000 yang ia dapatkan dari Hwa-Shin.

“Siapa yang membantumu?” tanya Sung-Sook.

“Aku… Aku melakukannya sendirian,” jawab Bbal-Gang ragu-ragu.

Ja-Young yang ingat kejadian itu sontak memukul Bbal-Gang dan memarahinya karena saat itu yang menelpon adalah laki-laki.

“Jangan berbohong! Jangan berbohong, dan katakan pada kami” bentak Ja-Young sembari kembali memukul Bbal-Gang.

Sung-Sook hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ulah Bbal-Gang.

Seperti sudah diduga, yang membantu Bbal-Gang adalah Pyo Chi-Yeol (Kim Jung Hyun) dan Oh Dae-Goo (An Woo-Yeon). Ketiga lantas dijatuhi hukuman push-up oleh Kim Rak (Lee Sung-Jae). Chi-Yeol meminta Kim Rak membiarkan Bbal-Gang pergi. Dae-Goo menambahkan bahwa mereka berdua saja yang bersalah.

“Jika kamu benar-benar peduli dengan Bbal Gang, kamu seharusnya menghentikannya, bukan membantunya,” bentak Kim Rak.

Setelah Kim Rak, giliran Ja-Young dan Sung-Sook yang memarahi mereka. Ja-Young berniat mencari tongkat untuk memukuli mereka, sementara Sung-Sook menganggap mereka sudah menjadi kriminal, bukan lagi pelajar.

“Jika kita melaporkan kalian, kalian semua akan masuk penjara,” ancam Sung-Sook sembari menyebutkan pasal undang-undangnya.

Bbal-Gang tidak kuat lagi push-up dan akhirnya berhenti. Dengan menangis ia meminta maaf dan mengaku salah.

Sung-Sook menelpon temannya di kepolisian, detektif Park, menanyakan tentang penanganan kasus voice phishing. Ternyata Hwa-Shin tidak melaporkan hal tersebut ke polisi sehingga setidaknya Bbal-Gang belum perlu berurusan dengan yang berwajib.

Jung-won menelpon Na-Ri, mengatakan akan datang ke apartemennya untuk ngobrol. Na-Ri menyanggupi dan mengatakan bahwa ada yang juga ingin ia bicarakan dengan Jung-Won.

Dalam perjalanan menuju ke tempat Na-Ri, Jung-Won mendapatinya di dekat halte bus. Ia pun segera turun dan menghampiri Na-Ri di jalan. Setelah saling berbasa-basi, Jung-Won berkata, “Bersandarlah padaku jika kamu sedang menghadapi masa sulit.”

“Mr. Lee melamarku. Ia memintaku untuk menikahinya.”

Jung-Won terhenyak mendengarnya. Namun ia berusaha menahan dirinya.

“Jika ia menanyakannya lagi dengan pantas, aku akan mengatakan ‘Yes’. Jadi ini benar sudah berakhir. Kamu harus menemui orang lain.”

Jung-Won menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menjawab, “Itu tidak akan terjadi. Hwa-Shin selalu mengatakan ia tidak akan pernah menikah. Sejak kuliah, ia selalu menghabiskan uang yang ia dapatkan dan tidak pernah mengencani gadis yang sama selama lebih dari tiga bulan. Ia bilang ia tidak ingin menikah karena ia tidak ingin bertanggung jawab pada keluarga. Tidak, itu bukan Hwa-Shin.”

Dan saat itulah Hwa-Shin datang.

“Dasar punk,” ujarnya pada Jung-Won.

“Kamu meminta Na-Ri untuk menikahimu?”

“Ya. Lalu?”

“Kamu bersungguh-sungguh?”

“Tentu saja aku bersungguh-sungguh.”

“Jujur saja. Kamu tidak pernah ingin menikah. Kamu selalu membenci pikiran untuk menikah. Akuilah.” cecar Jung-Won.

“Pulanglah lebih dulu,” ucap Hwa-Shin pada Na-Ri.

“Supaya kalian berdua bisa berkelahi?” tanya Na-Ri.

“Tidak,” jawab Hwa-Shin dan Jung-Won berbarengan.

“Jangan berani-beraninya kalian berkelahi, oke?” ancam Na-Ri.

Hwa-Shin dan Jung-Won tidak menjawab. Keduanya saling menatap dengan tajam. Bahkan saat Na-Ri melambai-lambaikan tangannya di antaranya, keduanya tetap keukeuh tidak bergeming.

“Baiklah, berkelahi saja. Ayo lanjutkan dan berkelahi.” ujar Na-Ri. “Biarkan aku menjadi wanita yang memutuskan persahabatan. Baiklah, biarkan seperti itu. Aku pikir mungkin segala sesuatunya sudah membaik di antara kalian jadi aku bersyukur dan berpikir aku sudah bisa tenang, tapi…”

“Jangan nikahi Hwa-Shin,” potong Jung-Won.

“Apa? Kamu pikir siapa dirimu?” sergah Hwa-Shin.

“Aku mengatakan padamu. Ia tidak tulus.” ucap Jung-Won.

“Sungguh teman yang hebat,” respon Na-Ri.

“Jangan ikut-ikutan,” bentak Hwa-Shin.

“Baik. Berkelahi saja. Baiklah. Berkelahi satu sama lain.” balas Na-Ri.

“Menikahlah denganku,” tiba-tiba Jung-Won berkata.

“Kenapa dia akan menikahimu?” tanya Hwa-Shin tidak terima.

“Jika kamu menikahinya kamu akan terluka sepanjang hidupmu. Preman ini juga akan berselingkuh. Ia tidak akan membantu di sekitar rumah.” ujar Jung-Won pada Na-Ri tanpa mempedulikan Hwa-Shin.

“Aku bisa membantu kalau aku meletakkan pikiranku kepadanya,” gumam Hwa-Shin.

“Ia terlalu gila kerja jadi cintanya padamu akan pudar dengan cepat.” lanjut Jung-Won.

“Semua pria sama saja. Kamu juga sama. Kamu menjanjikan kepadanya kamu akan mencintainya setengah mati selamanya? Kamu? Kamu pergi untuk urusan bisnis selama setengah tahun.” respon Hwa-Shin.

“Aku yakin aku sudah bilang kepadamu sebelumnya bahwa aku akan membawanya bersamaku kemanapun aku pergi ke luar negeri.”

“Bagaimana dengan apa yang ingin ia lakukan? Kamu akan membawanya kemana kamu pergi dan membuatnya keluar dari pekerjaannya? Kamu ingin dia melayanimu dan mengikutimu seperti asistenmu? Kalau begitu cari saja asisten. Jangan buat itu terdengar seperti pernikahan.”

“Aku tahu kamu tidak akan pernah menikah.” ulang Jung-Won.

Baik Hwa-Shin maupun Na-Ri sama-sama menghela nafas.

“Jadi aku akan menunggu saja,” lanjut Jung-Won. “Aku akan tetap di sampingnya dan mengawasinya, tapi aku tahu kamu akan membingungkannya dan tidak akan menjaga kata-katamu.”

“Sudahlah. Berhenti berkelahi!” ujar Na-Ri tidak tahan lagi.

“Baik, aku akui,” ujar Hwa-Shin, “Itu karena hingga sekarang tidak ada wanita yang bisa berubah pikiranku atau membuatku ingin menikahinya. Tidak ada orang yang aku takutkan untuk kehilangan. Tidak bisakah aku merubah pikiranku?”

“Tidakkah kamu baru saja mengatakan itu karena kamu khawatir aku tidak akan menyerah?” respon Jung-Won.

Na-Ri memegang lengan Jung-Won dan menariknya mundur seraya berkata, “Kamu yang lebih berpikiran lebar, jadi berhentilah.”

Ia kemudian menarik Hwa-Shin dan berkata, “Atau kamu yang berpikiran sempit, tahan dirilah.”

“Hei,” ucap Hwa-Shin pada Jung-Won, “Aku juga ingin anak. Aku juga ingin istri. Aku pasti belajar itu darimu. Aku selalu mengolokmu karena memikirkan pernikahan setiap kali kamu menyukai gadis yang kau kencani. Aku berpikir kamu sedang frustrasi, tapi itu aku sekarang. Aku pasti sudah berubah. Aku tidak punya bayangan tentang pernikahan atau tentang kewajiban dan beban yang harus ku jalani, semuanya terasa tidak nyata bagiku, tapi aku benar-benar tidak ingin melepaskannya pergi. Itulah yang membuatku memintanya menikahiku. Apa itu salah? Apakah ada sesuatu yang tidak boleh aku katakan?”

Jung-Won terdiam dan membalikkan badannya.

“Apa aku lebih berpikiran sempit ketimbang dia?” tanya Hwa-Shin pelan pada Na-Ri.

Na-Ri jadi kesal mendengarnya dan pergi meninggalkan mereka.

Setibanya di apartemen, Na-Ri melampiaskan kekesalannya dengan menendang-nendang ember. Ribut-ribut itu membuat Chi-Yeol keluar. Begitu tahu Na-Ri yang datang, ia langsung meminta maaf kepadanya. Na-Ri kebingungan karena belum tahu apa yang terjadi.

“Aku hanya minta maaf atas segalanya,” dalih Chi-Yeol, menyadari ternyata Na-Ri belum tahu kesalahannya.

“Tidak, pelajar topku Chi Yeol, dari semua pria yang aku kenal di muka bumi, kamu satu-satunya pria sempurna tanpa sedikitpun cela. Kamu satu-satunya pria sempurna. Itu kamu. Jika aku bertemu denganmu sebagai seorang pria dan wanita, aku pasti akan mencintaimu. Jadi aku tidak perlu berkencan dengan dua orang pria. Tidak adakah pria lain sepertimu?”

“Tidak, Na-Ri, itu karena kamu tidak tahu aku.”

Na-Ri lantas menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi belum sempat Chi-Yeol menjawabnya, dari seberang apartemennya Hwa-Shin memarahi Na-Ri karena sudah menemui Jung-Won.

“Jangan terima telponnya. Hapus nomernya dari telponmu.” bentak Hwa-Shin.

Chi-Yeol tidak terima dengan perlakuan Hwa-Shin terhadap Na-Ri.

“Siapa kamu pikir dirimu untuk mengatur-atur siapa yang boleh ia temui atau ia telpon?” tanya Chi-Yeol sembari membuka jaketnya dan menghampiri ke arah Hwa-Shin. “Beraninya kamu berteriak kepadanya!”

Na-Ri mengajak Chi-Yeol untuk masuk ke dalam, tapi Chi-Yeol menolak.

“Kamu pikir ia gampangan? Aku sudah menyimpan ini selama ini, tapi kamu reporter yang ia sukai selama tiga tahun, bukan?” tanya Chi-Yeol sambil berkacak pinggang.

Di sebelahnya Na-Ri ikut berkacak pinggang sambil mengangkat dagunya karena ada yang membelanya.

“Aku sudah lama ingin pergi ke studio dan menghajar pria yang tidak menyukai saudariku kembali. Kamu tahu seberapa besar aku menahannya?”

“Lanjutkan. Terus.” Na-Ri memanas-manasi Chi-Yeol.

“Bagaimana kamu bisa tidak menyukai saudariku?”

“Lanjutkan, lanjutkan”

“Apa kamu buta?” lanjut Chi-Yeol.

“Baiklah, benar, aku buta pada saat itu.” Hwa-Shin yang sedari tadi bengong karena tidak menyangka bakal dimarahi seperti itu akhirnya membuka mulut. “Aku akui itu. Tapi aku bisa melihat dengan baik sekarang. Aku menyukai saudarimu. Apa itu cukup baik untukmu?”

Chi-Yeol menaikkan satu kakinya ke atas pagar pembatas. Ia mengancam Hwa-Shin, “Kamu tidak bisa melakukan apapun pada saudariku tanpa ijinku. Tidak berkencan dan tidak menikah. Tidak apapun. Menurut chef Kim, Mr. Ko kedengarannya pria yang lebih baik. Kamu seharusnya mengencaninya.”

Na-Ri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Bagus, bagus, pelajar topku. Ayo pergi.” ajak Na-Ri.

“Aku orang yang baik,” gumam Hwa-Shin pada dirinya sendiri sepeninggal Na-Ri dan Chi-Yeol.

Hari berganti. Esoknya di ruang rapat, Sung-Sook dan Ja-Young bergantian menawarkan sesuatu pada Hwa-Shin, membuat Hwa-Shin heran. Tanpa basa-basi Sung-Sook kemudian menanyakan apakah Hwa-Shin butuh pinjam uang sebesar $10,000. Belum sempat Hwa-Shin merespon, direktur Oh Jong-Hwan (Kwon Hae-Hyo) datang. Ia menanyakan pada reporter Um kenapa tidak memulai saja rapatnya. Um menjawab bahwa ia tidak mau menjadi direktur karena malas mengikuti rapat seperti ini.

Direktur Oh lalu membahas mengenai debu halus yang muncul di jalanan saat ini. Pemerintah menyatakan bahwa itu tidak berbahaya, padahal justru kebalikannya. Ia pun mengatakan bahwa mereka harus meliput dan memberitakan hal tersebut. Dengan cepat Na-Ri mengangkat tangannya dan mengajukan diri untuk melakukan hal itu. Direktur Oh sempat keberatan, tapi Na-Ri meyakinkan bahwa ia bisa melakukannya dengan pengalaman menjadi pembawa ramalan cuaca selama ini. Akhirnya direktur Oh menyetujuinya.

Liputan di jalan pun segera dimulai. Na-Ri melakukannya dengan total, termasuk berjongkok dan tiduran di jalan untuk mengetes efek debu pada anak-anak, yang faktanya memang memiliki kadar cukup tinggi, jauh melewati batas normal. Kameramen sampai kewalahan sendiri mengikuti aksi Na-Ri.

Nurse Oh melaporkan pada dokter Geum bahwa hasil tes Lee Hwa-Shin sudah keluar. Ia meminta dokter untuk memeriksanya sendiri karena ada sesuatu di sana. Dokter pun mengeceknya dan ia tampak kaget begitu melihat hasilnya.

Pulang dari kantor, Hwa-Shin menghampiri Pyo Bum (Seol Woo-Hyung) yang sedang bermain di depan supermarket Lee Hong-Dan (Seo Eun-So). Ia lantas membelikannya es krim. Na-Ri datang tak lama kemudian dan langsung memarahi Hwa-Shin karena membelikan Bum es krim di malam hari. Na-Ri pun menyita es krim Bum dan juga Hwa-Shin lalu duduk di samping mereka.

“Kamu pasti kenyang karena makan banyak debu halus,” ujar Hwa-Shin.

“Aku rasa aku akan mati,” respon Na-Ri.

“Dasar tukang mengeluh,” balas Hwa-Shin.

“Tubuhku tidak terasa seperti diriku sendiri saat ini,” lanjut Na-Ri.

Hwa-Shin lantas memeluknya dan mengusap-usap tubuh Na-Ri.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Na-Ri.

“Kamu bilang tubuhmu tidak terasa seperti milikmu. Biarkan aku memeluk wanita lain.”

Na-Ri tertawa mendengarnya. Melihat Bum yang kedinginan, Hwa-Shin lantas memakaikan jasnya pada Bum lalu memeluk dan menciumnya.

“Aku kedinginan juga. Kenapa kamu hanya menyukai Pyo Bum?” tanya Na-Ri.

“Aku tidak menyukai orang lain lebih darimu,” jawab Hwa-Shin.

“Tidakkah kamu biasanya hanya mengatakan fakta?” tanya Na-Ri.

“Itu adalah fakta,” jawab Hwa-Shin tegas.

Hwa-Shin lalu kembali duduk di samping Na-ri dan memeluknya sembari berkata, “Biarkan aku memeluk wanita lain. Jangan cemburu.”

Na-Ri tersenyum senang mendengarnya.

“Na-Ri”, ucap Hwa-Shin tiba-tiba.

“Apa?”

“Lupakanlah.”

“Apa kamu tidak punya sesuatu untuk dikatakan kepadaku?” tanya Na-Ri.

“Apa?”

“Sesuatu yang harus kamu katakan dengan layak.”

“Sesuatu yang harus aku katakan dengan layak? Apa?”

“Aku rasa tidak. Lupakanlah.”

Tiba-tiba salju turun. Bum langsung girang menyambutnya.

Kim Rak menyarankan agar Bbal-Gang mengakui saja secara langsung pada Hwa-Shin atas perbuatannya. Sung-Sook dan Ja-Young tidak menyetujuinya, yakin bahwa Hwa-Shin akan memenjarakan Bbal-Gang jika ia mengetahuinya. Ja-Young mengusulkan agar mereka mengembalikan uang itu tanpa disadari oleh Hwa-Shin. Sementara Sung-Sook malah ingin agar mereka menyimpan uang itu terlebih dahulu dan baru mengembalikannya nanti setelah Bbal-Gang masuk kuliah. Kim Rak jadi pusing mendengar usulan keduanya.

“Baiklah. Mari kita lakukan ini,” ujar Ja-Young.

Dengan pasti ia memasukkan uang tersebut ke dalam amplop, lalu tanpa diduga segera berlari menuju tempat Hwa-Shin untuk mengembalikannya. Sung-Sook meminta Kim Rak untuk mengejarnya dan mencegahnya.

Langkah Ja-Young terhenti begitu ia keluar dari restoran. Salju yang turun membuatnya senang. Kim Rak yang menyusulnya tak lama kemudian juga ikut berdiri di sampingnya dan menikmati salju yang turun.

Jung-Won melangkah keluar butik dan memperhatikan salju yang turun. Ia teringat kembali perkataan Na-Ri yang menyatakan hubungan mereka benar-benar sudah berakhir. Ibunya, Kim Tae-Ra (Choi Hwa-Jung), keluar tak lama kemudian.

“Kenapa kamu sendirian di saat salju turun pertama kalinya?” tanya ibunya.

Jung-Won hanya terdiam.

Hwa-Shin mengambilkan selimut untuk Na-Ri. Na-Ri menceritakan bahwa sesi ramalan cuaca yang paling ia sukai adalah pada saat salju turun pertama kalinya seperti sekarang ini.

“Mr. Lee, ini salju turun pertama kalinya,” pancing Na-Ri. “Kita bersama di saat salju turun pertama kali. Ini pertama kalinya aku bersama pacarku di saat salju turun pertama kali. Aku serius. Tidakkah kamu punya sesuatu yang ingin kau katakan padaku? Ini waktu yang tepat.”

Hwa-Shin terlihat memikirkan sesuatu.

“Oh, ini dia,” ujar Hwa-Shin sembari memberikan sebuah bungkusan.

“Apa ini?”

“Daging babi. Kamu menghisap banyak partikel debu halus jadi kamu harus pulang dan memanggang daging ini. Ah lupakan, aku akan memanggangnya untukmu.”

“Daging babi…” gumam Na-Ri perlahan dengan kesal.

Hwa-Shin lantas membuat orang-orangan salju mini dan meletakkannya di atas meja.

“Hiduplah bersamaku, seperti mereka,” ujar Hwa-Shin sembari memandang ke arah orang-orangan salju itu.

Hwa-Shin terdiam lalu menoleh ke arah Na-Ri. Na-Ri berpura-pura tidak mendengarnya dan menanyakan kenapa orang-orangan salju itu tidak punya wajah.

“Hiduplah bersamaku,” Hwa-Shin mengulang kata-katanya kembali.

“Kamu sudah selesai membuatnya atau menyerah di tengah jalan?” tanya Na-Ri tanpa mempedulikan Hwa-Shin.

“Kamu tidak ingin?” Hwa-Shin balik bertanya, ganti tidak menghiraukan Na-Ri.

“Kita bisa mengerjakan itu bersama,” lanjut Hwa-Shin.

Na-Ri diam-diam tersenyum mendengarnya.

“Matamu, hidungmu, dan bibirmu. Semuanya. Kita bisa melakukan semuanya bersama.”

Na-Ri mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mari punya dua anak juga,” lanjut Hwa-Shin.

Na-Ri tiba-tiba pergi begitu saja. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa dua orang-orangan salju kecil dan meletakkannya di samping orang-orangan salju buatan Hwa-Shin tadi. Mereka berdua melihatnya sembari tertawa.

“Seperti ini?” tanya Na-Ri.

“Seperti ini.” jawab Hwa-Shin.

Kim Rak ternyata memilih untuk membantu Ja-Young walau dengan setengah hati. Ia memanggil temannya untuk membantu membukakan kunci pintu kamar Hwa-Shin. Ja-Young kemudian masuk ke dalam kamar Hwa-Shin dan Kim Rak menyusulnya. Di seberang Sung-Sook memperhatikan mereka dengan kesal. Tanpa diduga, Hwa-Shin sudah pulang kembali ke apartemennya. Sung-Sook segera menelpon Ja-Young untuk memberitahunya. Setelah mengambil kembali alas kaki mereka, Ja-Young dan Kim Rak pun segera mencari tempat untuk bersembunyi.

Apesnya, mereka memilih bersembunyi di dalam lemari yang ada di dekat tempat tidur Hwa-Shin. Sehingga pada akhirnya mereka tidak bisa keluar dan terus berada di sana semalaman.

Esok paginya Sung-Sook baru menyadari semalam Ja-Young tidak pulang. Sementara itu, chef yang mengetahui Hwa-Shin sudah bangun dan sedang berada di kamar mandi segera membangunkan Ja-Young. Mereka berdua pun buru-buru kabur dari kamar Hwa-Shin. Setibanya di bawah, tanpa diduga Kim Rak langsung mencium Ja-Young.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ja-Young kaget sembari melepaskan ciuman Kim Rak.

“Apa menurutmu? Mari berkencan.” tegas Kim Rak, yang tanpa menunggu jawaban segera memeluk Ja Young dan menciumnya kembali.

Liputan debu halus Na-Ri diputar saat siaran berita pagi yang ia bawakan. Direktur Oh cukup puas melihatnya. Sayang bagian penutupnya tidak ia bawakan dengan benar, yang seharusnya dengan ceria, ia bawakan dengan peringatan tentang bahayanya debu halus tersebut. Dengan tersenyum Hwa-Shin yang ada di sana memberi tanda jempol terbalik pada Na-Ri.

Dokter Geum tiba-tiba menelpon Hwa-Shin. Ia memintanya untuk hari ini datang menemuinya sendirian saja tanpa mengajak Na-Ri. Hwa-Shin heran mendengarnya dan jadi curiga akan hasil tesnya. Dokter hanya terdiam. Hwa-Shin pun memutuskan untuk tetap datang bersama Na-Ri.

Hwa-Shin kemudian pergi ke taman di kantor. Ia menelpon ibunya (Park Jung-Soo) dan menanyakan mengapa jantungnya berdebar kencang. Tapi ibunya tidak terlalu khawatir menanggapinya dan malah menanyakan kenapa Hwa-Shin menghubunginya. Hwa-Shin lantas mengajaknya untuk makan malam dan berjanji akan mengenalkan kekasihnya. Dengan bersemangat ibu Hwa-Shin segera menutup telpon dan hendak bersiap-siap.

Ia lalu menemui Na-Ri yang masih ada di ruang siaran, sendirian. Na-Ri menanyakan kesalahannya dan maksud tanda jempol terbalik yang ditunjukkan Hwa-Shin tadi. Hwa-Shin memberitahunya bahwa tadi ia terlihat seperti amatir karena terlalu emosional dan melupakan hal-hal yang lebih penting dan mendetil. Demikian pula dengan bagian penutupnya yang terlalu emosional sehingga terkesan menakut-nakuti pemirsa.

Na-Ri mengangguk-anggukkan kepalanya lalu berkata, “Oke, aku mengerti. Aku tahu akan lebih sulit untuk mendapatkan pengakuanmu daripada menjadi karyawan reguler.”

“Nanti malam..” ujar Hwa-Shin.

“Setelah kita pergi ke rumah sakit?”

“Bagaimana kalau kita makan malam bersama ibuku?”

Na-Ri kaget mendengarnya.

“Kamu takut?” tanya Hwa-Shin.

“Aku lebih takut daripada kamu.”

Na-Ri sempat menolak karena ibu Hwa-Shin masih mengira dirinya adalah pacar Jung-Won. Namun pada akhirnya ia menyanggupinya.

Hwa-Shin mendatangi seorang peramal. Setelah mengutak-atik nama Hwa-Shin dan Na-Ri, si peramal minta ditunjukkan wajahnya. Hwa-Shin lantas mengeluarkan ponselnya dan membuka galeri fotonya. Si peramal pun kaget karena yang muncul adalah foto ibu Hwa-Shin. Hwa-Shin segera meralatnya dan menunjukkan foto-foto serta video Na-Ri.

“Ia bisa minum banyak. Ia sering menangis juga. Aku belum punya waktu untuk mengajarinya segala yang aku tahu. Ia tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Jika ada sesuatu yang terjadi padaku, ia akan membunuh dirinya sendiri.”

“Tidak ada gadis seperti itu saat ini,” respon si peramal.

“Ia seperti itu. Jadi, apa menurutmu aku bisa membuat wanita ini bahagia? Jatuh cinta membuatku penasaran pada hidupku. Akankah aku mati cepat? Nyonya, aku ingin hidup bersamanya dalam waktu lama.”

Tidak diketahui bagaimana jawaban dari si peramal, yang pasti, Hwa-Shin terlihat buru-buru keluar dari tenda peramal dan menghubungi Na-Ri, mengatakan bahwa konsultasi dokter di rumah sakit dibatalkan dan hasil tesnya baik-baik saja. Ia pun berjanji akan menemui Na-ri di restoran.

Na-Ri tiba di restoran, di meja yang telah dipesan. Dengan gugup ia duduk di kursi dan mulai menunggu. Ia lalu mengeluarkan kertas-kertas yang pernah diberikan oleh Hwa-Shin dan meletakkannya satu persatu di meja makan.

Jangan gugup.

Kamu tidak sendiri.

Aku ada di sini untukmu.

Aku mencintaimu.

Na-Ri pun tersenyum saat membacanya.

81

Hwa-Shin ternyata pergi menemui dokter sendirian.

“Apakah itu kambuh?” tanyanya.

“Tidak,” jawab dokter.

Hwa-Shin lega mendengarnya. Tapi ia heran melihat dokter dan perawat tidak menunjukkan tampang bahagia.

“Lalu kenapa kamu mengatakan padaku untuk datang ke sini sendiri?” tanya Hwa-Shin lagi.

“Aku rasa lebih baik untuk merahasiakan hal ini dari Nona Pyo,” ujar dokter.

“Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita berdua. Katakan apa itu.” respon Hwa-Shin makin penasaran.

“Kita butuh melakukan tes tambahan. Kamu beresiko tinggi tidak subur.” jawab dokter.

Hwa-Shin sontak terhenyak mendengar ucapan dokter Geum.

“Level hormon priamu jauh di bawah normal. Itu bermasalah.” jelas dokter Geum.

“Maksudmu aku tidak akan bisa punya anak? Itu sebabnya kamu menyuruhku untuk datang sendiri. Tapi… kenapa? Kenapa aku? Selain terkena kanker payudara, aku bahkan tidak bisa punya anak? Apa aku sudah bukan pria?”

“Itu tidak masuk akal,” respon dokter.

“Bukankah itu maksudmu? Itu sebabnya kamu tidak ingin dia datang.”

“Banyak pasangan tetap bahagia meski tidak punya anak,” ujar dokter.

“Bahagia tanpa anak? Apakah itu cukup? Aku tidak ingin itu! Aku tidak ingin! Aku tidak ingin menjadi seperti itu! Katakan pada yang lain untuk hidup seperti itu! Kenapa ini semua terjadi padaku? Apakah kanker payudara tidak cukup? Kenapa aku bahkan tidak bisa punya anak? Ini tidak adil. Kenapa aku? Aku dilahirkan sebagai pria dan aku ingin tetap seperti itu hingga aku mati. Apa kesalahan yang aku lakukan. Aku ingin menikah dan punya dua anak. Hanya itu yang aku inginkan.” dengan mata berkaca-kaca Hwa-Shin meluapkan emosinya.

Ia melanjutkan, “Dokter, aku lebih baik membunuh diriku sendiri. Itulah yang aku rasakan saat ini.”

“Hentikan,” ujar dokter.

“Aku punya kanker payudara dan tidak bisa punya anak. Maukah kau menikahiku?” tanya Hwa-Shin pada dokter Geum.

Dokter Geum tidak menjawab. Hwa-Shin lalu menoleh ke arah nurse Oh dan bertanya, “Maukah kau menikahiku?”

Nurse Oh juga terdiam.

“Ini seperti memberitahuku untuk hidup sendiri sepanjang sisa hidupku tanpa bisa menikah. Apa aku salah? Lakukan sesuatu dengan ini. Perbaiki ini. Ku mohon. Aku akan berhati-hati di sisa hidupku sehingga kanker tidak akan kembali. Tapi biarkan aku hidup seperti pria lain. Dokter, ku mohon selamatkan aku. Ku mohon.” pinta Hwa-Shin sambil menangis.

Preview Episode 22

Berikut ini adalah video preview episode 22 dari drakor Jealousy Incarnate. Selamat menikmati!

=== Coming Soon ===

» Sinopsis ep 22 selengkapnya

5 Comments - Add Comment

Reply