Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 20 & Preview Episode 21 (27 Oktober 2016)

Di sinopsis Jealousy Incarnate episode sebelumnya, Pyo Na-Ri (Kong Hyo-Jin) memutuskan dengan siapa hatinya akan berlabuh: Lee Hwa-Shin (Cho Jung-Seok). Ia pun memutuskan Ko Jung-Won (Ko Gyung-Pyo) dan ikut keluar dari rumah Jung-Won. Hwa-Shin yang tahu Na-Ri memilihnya sempat jual mahal dan pura-pura cuek sebelum akhirnya menerimanya. Jung-Won sendiri belum mau menyerah meski untuk saat ini ia memilih untuk tidak berbuat apa-apa, terlebih dengan Kim Tae-Ra (Choi Hwa-Jung), ibunya, yang kini mendukungnya. Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis drama korea Incarnation of Jealousy episode 20 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 20

Hwa-Shin dan Na-Ri berada di cafetaria kantor untuk membuat ramen. Hwa-Shin mengaku sudah terbiasa untuk menyelinap di cafetaria di malam hari seperti itu, begitu pula dengan reporter yang lain. Ia juga mengaku bisa membuat ramen instan walau faktanya ternyata tidak. Berulangkali ia menanyakan langkah-langkah yang harus dilakukan selanjutnya pada Na-Ri. Namun begitu, hasil akhirnya ternyata cukup lumayan.

“Sepertinya toleransi alkoholmu sekarang meningkat,” ujar Hwa-Shin.

“Semua itu berkat dirimu,” respon Na-Ri.

Dengan keki Hwa-Shin memandang ke arah Na-Ri yang lantas tertawa.

“Katakan sejujurnya,” ucap Na-Ri, “Ini adalah pertama kalinya kamu membuat ramen, bukan?”

“Tidak. Harus berapa kali aku bilang,” dalih Hwa-Shin. “Ini karena aku tidak makan sendirian, tapi makan denganmu. Ini pertama kalinya kita makan bersama. Juga, kita akan bisa makan ramen bersama 1000 kali mulai sekarang. Aku harus tahu seleramu agar bisa terus makan bersama. Itu sebabnya aku bertanya kepadamu… Percayalah kepadaku. Jangan percaya Soo Young, announcer Hong, atau Jung Won.”

Na-Ri senyum-senyum sendiri mendengar alasan Hwa-Shin. Ia lalu bertanya, “Kita akan makan ramen bersama 1000 kali?”

“Kamu tidak suka ramen?”

“Aku tidak tidak suka ramen. Aku tidak tidak suka segala sesuatu yang aku makan bersamamu, reporter Lee,” jawab Na-Ri sambil tertawa. Ia melanjutkan, “Tapi, kamu tahu.. apa kamu melamarku ketika kamu mengatakan kamu ingin makan ramen 1000 kali bersamaku?”

“Melamar? Melamar apa?” respon Hwa-Shin.

Na-Ri kembali tertawa.

“Itu yang kamu bilang,” ujarnya, “Kita tidak akan makan ramen setiap hari. Anggaplah kita memakannya tiga hari sekali. Itu akan memakan waktu 3000 hari untuk mencapai 1000. 3000 hari itu hampir 10 tahun.”

“Itu hanya sesuatu yang aku katakan,” gumam Hwa-Shin.

“Jika kita memakannya lima hari sekali, itu adalah 5000 hari,” lanjut Na-Ri.

“Itu bukan lamaran.”

“Ramen saja sudah bagus. Oke, reporter Lee.”

“Pria gila macam apa yang melamar gadis yang ia sukai dengan memintanya untuk makan ramen 1000 kali? Apa kamu mencoba membuatku menjadi pria menyedihkan macam itu?”

Usai makan, Hwa-Shin meminta Na-Ri untuk pulang dan tidur di rumah. Na-Ri menjawab bahwa ia akan tidur di dorm saja. Setibanya di depan ruang tidur wanita, mereka pun berpamitan.

Mendadak Hwa-Shin menghentikan langkahnya dan berbalik lalu berkata, “Aku sudah membuat ramen sekali kalau begitu.”

Na-Ri hanya melihatnya sambil tersenyum lebar.

“Maaf… sudah membuatmu kesendirian untuk sekian lama,” ujar Hwa-Shin. “Betapa buang-buang waktu saat itu.”

“Aku juga tidak terlalu bagus belakangan ini.” respon Na-Ri.

Hwa-Shin melangkah menghampiri Na-Ri.

“Ayo begadang sepanjang malam dan hang out,” ajak Hwa-Shin. “Matamu akan bengkak jika kamu tidur jam segini. Itu tidak akan terlihat bagus di saat berita pagi dan kamu akan dipecat. Kamu tidak ingin pergi ke sesi berita seperti itu. Ayo hang out saja. Kamu bisa tidur setelah berita.”

“Apa yang akan kita lakukan di jam seperti ini?” tanya Na-Ri.

“Kita bisa menemukan sesuatu untuk dilakukan. Ada banyak untuk dilakukan.”

“Tidak,” tolak Na-Ri.

“Jangan masuk,” pinta Hwa-Shin sambil memegangi lengan baju Na-Ri.

Na-Ri memandang ke arah Hwa-Shin dan tertawa kecil.

“Lagipula kamu juga tidak akan bisa tidur,” rayu Hwa-Shin. “Aku akan membuatnya menyenangkan untukmu. Jangan masuk.”

Pada akhirnya Na-Ri tetap masuk ke ruang tidur. Sambil melempar senyum mereka pun berpamitan. Setibanya di ruang tidur pria, Hwa-Shin terbayang kembali saat Na-Ri menanyakan apakah Hwa-Shin baru saja melamarnya.

“Manisnya,” gumam Hwa-Shin sambil tersenyum sendiri. “Gosh, manis banget. Manis.”

Tidak jelas apa sudah sempat tidur atau tidak, tapi sendirian Na-Ri berlatih membawakan siaran langsung pemilihan walikota di ruang studio. Karena banyak menggunakan CG (computer graphics) untuk mempresentasikan hasil pemilihan suara sementara, maka Na-Ri melatih feelingnya agar bisa menunjukkan dengan tepat posisi daerah-daerah yang diberitakan di layar tanpa melihatnya secara langsung. Dari lantai atas, Bang Ja-Young (Park Ji-Young) diam-diam memperhatikannya sambil tersenyum.

Waktu berlalu. Tae-Ra menemui Jung-Won di butiknya, menanyakan mengapa ia kini jarang bertemu dengan Na-Ri. Jung-Won berdalih bahwa akhir-akhir ini Na-Ri sedang sibuk. Mengetahui Na-Ri akan membawakan siaran langsung, ibu Jung-Won mengingatkan Jung-Won untuk membawakan dua stel baju untuk Na-Ri, sehingga ia tidak menggunakan baju yang sama di sesi kesatu dan kedua. Jung-Won mengiyakan.

Nasib apes menimpa Hong Hye-Won (Seo Ji-Hye). Ayahnya, menteri Hong Woo Jik, ternyata hari itu mengundurkan diri dari jabatannya. Dengan demikian, ia seharusnya bisa tetap menjadi pembawa acara saat siaran langsung tanpa perlu diganti oleh Na-Ri. Direktur Oh Jong-Hwan (Kwon Hae-Hyo) dan reporter Um yang mendengar berita tersebut menjadi merasa kasihan padanya.

Tiba-tiba, dari belakang, Hwa-Shin yang juga ada di sana dan sedang membaca koran berceletuk, “Pyo Na-Ri kita juga akan bekerja dengan baik.”

Direktur Oh dan Um saling berpandangan dalam diam mendengarnya.

Di ruang penyiar, Hye-Won yang baru saja menerima telpon dari ayahnya mengenai berita tersebut bergumam, “Ia seharusnya mengundurkan diri lebih cepat.”

Di lift, Hwa-Shin sedang bersama dengan Kye Sung-Sook (Lee Mi-Sook). Entah ada angin apa, tiba-tiba Hwa-Shin memuji penampilan Sung-Sook yang hari ini terlihat cantik. Bukannya senang, Sung-Sook malah balik menatap ke arah Hwa-Shin dengan pandangan aneh.

“Kenapa kamu mulai ngelantur?” tanya Sung-Sook.

“Aku bersungguh-sungguh,” jawab Hwa-Shin sambil tersenyum.

“Saudari ipar, saat aku masih muda, aku belum pernah melihat orang secantik kamu. Aku yakin kamu sering mendengar hal itu.” lanjut Hwa-Shin.

“Apaan sih?”

“Kamu benar-benar wanita yang keren.”

“Kamu sudah gila?”

“Aku rasa aku mengerti kenapa saudaraku ingin menikahimu.”

“Hei, aku sudah menikah dan bercerai. Saudaramu mati dan aku kehilangan anakku. Aku harus hidup sendiri dengan penampilanku ini. Kamu bilang kamu mengerti kenapa saudaramu menikahiku 20 tahun lalu. Kapan kamu akan mengerti hal berikutnya di dalam hidupku, dan berikutnya lagi? Kamu pasti cepat mengerti.”

Hwa-Shin tertawa mendengarnya. Ia berkata, “Sudah cukup bagiku untuk mulai mengerti dirimu sekarang. Tidak perlu untuk memulai semuanya bersamaan.”

“Kamu pasti sedang berkencan, kan?” tanya Sung-Sook. “Begitu kamu berhenti berkencan, kamu akan jadi kasar lagi kepadaku, bukan?”

“Gosh, kamu benar-benar terlihat cantik hari ini. Kamu benar-benar keren. Rugi sekali hanya aku yang melihatmu. Pria yang baik seharusnya juga melihatmu.”

Kali ini Sung-Sook tersenyum senang mendengarnya.

Hwa-Shin dan Na-Ri kembali berlatih di ruang studio. PD Choi Dong-Gi (Jung Sang-Hoon) cukup kagum dengan kemampuan Na-Ri dan yakin ia bisa melakukannya dengan mata tertutup. Pun begitu dengan Hwa-Shin, yang mampu berimprovisasi dengan baik meski tanpa teks bantuan di teleprompter.

“Orang yang menyebalkan itu bisa membuatku merasa nyaman,” ujar Dong-Gi senang.

Usai Na-Ri membawakan bagiannya, tanpa diduga Hwa-Shin malah mengatakan bahwa yang barusan terasa membosankan.

“Kenapa membosankan?” tanya Na-Ri heran.

Hye-Won yang sedari tadi memperhatikan mereka tiba-tiba maju begitu saja dan langsung membawakan ulang bagian Na-Ri dengan caranya sendiri, yang jelas lebih baik karena ia lebih berpengalaman. Usai berbicara, ia memberikan dua gelas kopi yang ia bawa pada Na-Ri dan Hwa-Shin, menyemangati mereka, lalu pergi begitu saja. Hwa-Shin menanggapi hal itu dengan santai dan tersenyum, tapi Na-Ri terlihat mulai gugup.

Malam harinya, Jung-Won menemui Na-Ri di Rak Villa dan memberikan baju untuknya. Na-Ri menolak, beralasan bisa menggunakan baju yang disediakan di studio.

“Hwa-Shin juga akan menggunakan baju dariku. Aku akan terluka kalau kamu tidak memakainya,” ujar Jung-Won.

“Kamu benar-benar keras kepala,” respon Na-Ri.

“Aku memberikanmu satu stel untuk bagian pertama dan satu lagi untuk bagian kedua,” jelas Jung-Won. “Ada hal lain yang bisa aku bantu untukmu?”

“Kamu sebaiknya berhenti datang ke sini,” jawab Na-Ri.

“Aku senang bahwa masih ada yang bisa aku bantu untukmu,” balas Jung-Won tenang. “Kamu benar-benar dingin.”

“Aku akan bekerja dengan baik,” janji Na-Ri.

“Tentu saja kamu akan,” respon Jung-Won sembari tersenyum.

Esok harinya pemilihan pun berlangsung. Na-Ri sedang bersiap-siap di ruang ganti sambil menyemangati dirinya sendiri saat Ja-Young masuk dan menemuinya.

“Kamu tahu apa yang paling penting di saat melakukan siaran langsung selama dua jam?” tanya Ja-Young.

Na-Ri menggelengkan kepalanya.

“Yang paling penting adalah jangan gugup,” jawab Ja-Young. “Tidak ada naskah yang sudah disiapkan untuk broadcast pemilihan. Jadi fokus pada saat kamu membaca angka-angka itu.”

Na-Ri mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelah mengingatkan agar Na-Ri nanti berdiri dengan cara benar, Ja-Young pun pergi meninggalkannya.

Beberapa saat kemudian, Hwa-Shin dan Na-Ri sudah standby di meja siaran, menunggu waktu dimulainya siaran langsung. Melihat Na-Ri yang gugup, Hwa-Shin mencoba menenangkannya dengan menunjukkan wajah jelek, menjulingkan mata, hingga mengajaknya relaksasi mulut. Meski mengikutinya, Na-Ri masih saja terlihat gugup.

Hwa-Shin lantas mengambil kertas dan menuliskan sesuatu lalu memberikannya pada Na-Ri.

Jangan gugup.

Hwa-Shin kembali memberikan beberapa lembar kertas hasil tulisannya.

Kamu tidak sendiri.

Kamu punya aku.

Aku mencintaimu.

Meski tidak berkata apa-apa, tulisan terakhir sepertinya berhasil membuat Na-Ri mulai tenang. Keduanya saling bertatapan dan tersenyum. Na-Ri menganggukkan kepalanya sementara Hwa-Shin membalas dengan mengepalkan tangannya sebagai tanda semangat pada Na-Ri. Na-Ri lantas memasukkan kertas-kertas tersebut ke saku bajunya.

Siaran langsung pun dimulai. Bagian pembukaan berjalan dengan lancar. Namun begitu masuk ke CG, bencana datang. Tampilan angka dengan foto kandidat yang muncul ternyata tertukar. Na-Ri yang tidak menyadarinya terus saja membacanya. Yang lain mulai panik melihatnya. Hwa-Shin segera memotong bagian Na-Ri dan melanjutkan dengan membacakan informasi yang sesuai, sementara Dong-Gi sibuk memarahi anak buahnya di ruang kontrol. Saat rehat sejenak, Hwa-Shin berusaha menenangkan Na-Ri yang sudah mulai ngedrop dengan adanya kesalahan itu.

“Tidak apa,” ujar Hwa-Shin. “Kamu diperbolehkan untuk berbuat kesalahan.”

“Tidak, itu tidak masuk akal. Ini siaran langsung.” balas Na-Ri.

“Ya, Kamu harus melupakan satu kesalahan. Oke? Aku sudah melakukan yang lebih buruk di masa lalu. Jangan sampai aku mengungkitnya kembali.”, tenang Hwa-Shin.

Sementara itu, Tae-Ra dan ibu Hwa-Shin (Park Jung-Soo) menonton siaran tersebut di restoran Kim Rak (Lee Sung-Jae). Ibu Hwa-Shin menyindir pacar Jung-Won yang berbuat kesalahan, berbeda dengan Hwa-Shin yang bekerja dengan baik. Tae-Ra membela Na-Ri, berpendapat wajar saja bila berbuat kesalahan karena harus membaca angka-angka yang rumit.

“Ia menolak pembawa berita Geum, jadi Jung Won pasti benar-benar menyukainya,” ujar ibu Hwa-Shin.

“Apa yang kamu bilang? Ia (Na-Ri) lebih menyukai Jung Won,” balas Tae-Ra.

Sesi berikutnya dimulai. Bencana terjadi lagi. Kali ini ruang kontrol kembali membuat kesalahan dengan keliru menampilkan letak peta, sehingga hapalan langkah dan posisi daerah yang sudah dipelajari dan dilatih oleh Na-Ri menjadi berantakan. Sialnya lagi, pada saat ia menyesuaikan dengan posisi CG yang keliru, ruang kontrol sudah membenarkan posisi CG tersebut, sehingga lagi-lagi Na-Ri melakukan kesalahan. Mau tidak mau Hwa-Shin kembali maju untuk mengkoreksi informasi yang disampaikan Na-Ri sembari menunjukkan letak daerah yang benar di peta. Meski mencoba tetap tenang di kamera, tapi hati Na-Ri sudah benar-benar hancur.

Sesi pertama siaran langsung usai sudah. Um mengatakan pada Ja-Young bahwa ini semua terjadi karena Na-Ri kurang berpengalaman, sehingga masih belum move on dari kesalahan pertamanya saat kecelakaan kedua terjadi. Kondisi bertambah parah saat direktur Oh dihubungi langsung oleh presiden perusahaan, memintanya untuk memecat Pyo Na-Ri dari berita pagi apabila ia kembali melakukan kesalahan.

Sementara yang lain kembali bersiap-siap, Hwa-Shin menyusul Na-Ri yang saat itu langsung berlari meninggalkan studio. Na-Ri ternyata menuju ke kamar mandi untuk berlatih membawakan sesi kedua siaran langsung. Ia terus berusaha menyemangati dirinya agar bisa melakukan hal itu dengan baik.

“Kamu sudah melakukan siaran langsung berita setiap hari. Kamu sudah melalui banyak hal darurat saat membawakan ramalan cuaca selama ini. Kamu bisa melakukannya, Pyo Na Ri! Kamu bisa.” ucap Na-Ri pada dirinya sendiri.

Hwa-Shin yang mengetahui hal itu sempat menunggu di luar. Tak lama kemudian ia menyusul masuk ke kamar mandi (wanita). Hwa-Shin lalu memegang tangan Na-Ri dan memintanya untuk melihat ke arahnya.

“Repoter Lee, maafkan aku. Ini salahku. Apa yang harus aku lakukan.” ujar Na-Ri, kembali panik.

“Lupakan semua kesalahanmu di bagian pertama. Kamu terus berpikir tentang kesalahanmu. Kamu dikuasai ketakutan. Kamu jadi tidak bisa melakukan apa yang bisa kamu lakukan, tidak bisa mendengar apa yang bisa kamu dengar, atau tidak bisa melihat apa yang bisa kamu lihat. Kamu bisa melakukan ini. Lupakan bagian pertama, Na-Ri.”

Na-Ri menutup matanya lalu menganggukkan kepala.

“Kamu bisa melakukan ini, bukan?” tanya Hwa-Shin lagi, tapi kali ini dengan nada sedikit ragu.

Tak lama Hwa-Shin keluar menuju tangga darurat. Wajahnya terlihat sedikit khawatir. Sesaat kemudian ia masuk kembali menemui Na-Ri yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi.

“Jika kamu membuat kesalahan lagi kamu akan terluka. Kamu harus memutuskan. Apakah kamu bisa melakukan bagian kedua?” tanya Hwa-Shin.

Na-Ri terdiam, hanya menghela nafas.

“Haruskah aku menggantikanmu?” tanya Hwa-Shin lagi.

Na-Ri masih tetap terdiam.

“Apakah kamu ingin melakukannya?” kembali Hwa-Shin bertanya.

Karena Na-Ri masih tidak menjawab, Hwa-Shin memegang tangan Na-Ri lalu berkata, “Mari kita akhiri ini di sini.”

Na-Ri hanya menatap wajah Hwa-Shin tanpa berkata apa-apa.

“Kamu.. bisa kehilangan berita pagimu,” ujar Hwa-Shin. Ia lalu memegang leher Na-Ri dan berkata, “Pulanglah. Aku akan ada di sana secepatnya setelah aku selesai, oke?”

Na-Ri mengangguk. Ada sedikit senyum yang dipaksakan di wajahnya.

“Aku akan ada di sana secepatnya,” ucap Hwa-Shin lagi, sembari meninggalkan Na-Ri yang kembali masuk ke kamar mandi.

Direktur Oh masih mendapat tekanan mengenai kejadian di sesi pertama siaran langsung barusan, kali ini dari kedua pihak kandidat. Tak lama kemudian Hwa-Shin masuk kembali ke ruang studio dan langsung duduk di kursinya tanpa menghiraukan direktur Oh yang menanyakan keberadaan Na-Ri.

Tiba-tiba dari belakang datang Hye-Won yang langsung duduk menempati kursi Na-Ri. Direktur Oh mengatakan bahwa ia sudah hendak memanggil Hye-Won dan memintanya untuk melakukan sesi kedua dengan benar. Ja-Young yang melihat Hwa-Shin memutuskan untuk berganti partner menjadi kesal dan pergi meninggalkan ruangan.

Sesi kedua segera dimulai. Hwa-Shin terlihat tertekan sendiri dengan keputusannya mengganti Na-Ri. Ia hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Saat hitungan mundur hendak dimulai, dengan nada penuh emosi Hwa-Shin meminta Dong-Gi untuk kali ini mengerjakan tugasnya dengan baik.

“Dari awal yang salah adalah CG,” bentak Hwa-Shin, “Bagaimana kita bisa memastikan semuanya sendiri pada saat kita siaran langsung? Kalian yang membuat kesalahan itu, jadi kalianlah yang harus bertanggung jawab.”

Tidak ada yang berani menanggapi amarah Hwa-Shin. Hitungan mundur pun dimulai. Jika biasanya Dong-Gi melakukannya dengan penuh semangat, kali ini ia berhitung mundur dengan lirih seolah tanpa tenaga.

Sesi siaran langsung kedua dimulai. Ja-Young mencari Na-Ri ke berbagai ruangan di kantor, tapi ia tidak menemukannya. Sementara itu, di Rak Pasta, Kim Rak yang saat sesi pertama sibuk mencuci piring heran kenapa Na-Ri hanya melakukan sesi pertama saja. Ibu Hwa-Shin dan Tae-Ra tidak menjawabnya. Tiba-tiba Chi-Yeol menelpon Kim Rak, sehingga ia pun pergi keluar untuk menerima telpon tersebut.

“Anakku masih di situ,” ujar ibu Hwa-Shin, “Apakah pacar Jung Won diganti karena ia tidak melakukannya dengan baik? Kenapa ada orang lain di sana?”

Tae-Ra tidak menjawabnya.

Na-Ri sendiri saat itu sudah berada di luar gedung stasiun. Ia menatap ke arah layar monitor besar di gedung stasion dengan sedih. Di butiknya, Jung-Won yang melihat Na-Ri digantikan orang lain langsung merasa kesal dengan Hwa-Shin dan bergegas menuju stasiun.

“Jika kamu orang yang menggantikannya, kamu sebaiknya berhati-hati, Hwa-Shin,” gumam Jung-Won di dalam mobil.

Na-Ri ternyata tetap menyaksikan siaran langsung yang dibawakan Hwa-Shin dan Hye-Won dari depan stasiun sembari menangis. Jung-Won yang melihatnya segera menghentikan mobilnya tak jauh dari tempat Na-Ri duduk. Ia pun diam-diam mengikuti Na-Ri yang saat itu mulai melangkah pergi. Di belakang mereka sekretaris Cha menjalankan mobilnya dengan perlahan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sesi kedua siaran langsung berakhir dengan cukup sukses. Sung-Sook tiba-tiba menghampiri Hwa-Shin yang hendak beranjak dari kursinya.

“Bukankah dia kekasihmu?” tanya Sung-Sook. “Ku pikir kamu sudah berubah tapi ini mengingatkanku pada masa lalu. Kamu belum berubah sama sekali, Lee Hwa Shin. Jika untuk siaran berita, keluarga atau kekasih berada di nomer dua. Mereka terabaikan dan kamu melukai mereka. Apa aku salah?”

Sebelum terjadi keributan, Um mendorong Sung-Sook menjauh sambil memberi pujian pada Hwa-Shin dan Hye-Won. Ia pun mempersilahkan mereka untuk pergi.

Hwa-Shin segera pulang untuk menemui Na-Ri. Setibanya di Rak Villa, ia tidak mendapati Na-Ri di kamar apartemennya. Na-Ri sendiri saat itu baru sampai di depan apartemen. Begitu mengetahui ada mobil Hwa-Shin di sana, ia pun berbalik badan, hendak pergi. Saat itu ia baru menyadari ada Jung-Won di belakangnya.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Jung-Won lirih.

“Aku baik-baik saja,” jawab Na-Ri sambil menganggukkan kepalanya.

Melihat Na-Ri yang sedang bersama Jung-Won, Hwa-Shin segera menghampiri mereka. Jung-Won maju dan mencegat Hwa-Shin. Tanpa berkata apa-apa, Na-Ri melewati mereka berdua dan masuk ke apartemennya.

“Kamu menggantikannya, kan?” tanya Jung-Won. “Kamu seharusnya menghentikannya.”

“Pyo Na Ri bisa menangani urusannya sendiri. Keadaan akan bertambah buruk untuknya jika aku menghentikannya. Ia bisa saja berbuat kesalahan atau tidak mampu mengatasinya. Ia tahu sekarang betapa mengerikannya untuk bertanggungjawab selama sejam penuh. Itu akan menjadi pil pahit untuknya,” jelas Hwa-Shin. “Itu mungkin terasa bagai neraka sekarang, tapi begitulah caranya ia mengatasi ketakutannya. Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui.”

“Ada banyak hal yang tidak aku tahu? Kamu bilang kamu tahu Pyo Na Ri lebih baik dari aku? Bahkan pada hari ini, aku menjaganya di saat ia menangis sebelum kamu tiba di sini. Aku tahu bahwa itu menyakiti harga dirinya apabila ia menangis di hadapanmu. Dan kamu bilang aku tidak tahu?” balas Jung-Won.

Hwa-Shin terdiam.

“Setelah kamu melaporkan korupsi yang terjadi di perusahaan saudaramu,” lanjut Jung-Won, “Aku menyaksikan masa-masa berat yang dialami oleh keluargamu. Kamu berada di Thailand dengan mata tertutup, tapi aku melihat semuanya dan merasakannya. Jika hal yang sama terjadi lagi, kamu akan melakukannya lagi pada Joong Shin dan Pyo Na Ri. Kamu sekejam dan sedingin itu. Kamu berpikir beritamu begitu penting. Kamu tidak melihat bagaimana orang-orang di sekitarmu menderita.”

“Yeah,” respon Hwa-Shin sembari melangkah mendekat ke arah Jung-Won, “Itulah caraku mencintai saudaraku dan Pyo Na Ri. Itu mungkin terlihat seperti aku menyakiti mereka dan menyebabkan luka bagi orang lain. Itu hanya yang orang lain lihat dan pikirkan. Aku mencintai saudaraku dan itulah sebabnya aku melakukannya. Aku mencintai Pyo Na Ri dan itu sebabnya aku membiarkannya pergi. Aku tidak butuh orang lain untuk mengerti. Aku tidak butuh pengertian orang lain juga. Satu-satunya orang di dunia yang pernah mengerti aku hingga sekarang hanyalah kamu. Aku percaya itu kamu, temanku, tapi ternyata tidak.”

“Kamu bisa saja mengatakan itu cinta, tapi jika orang yang menerimanya merasakan sakit, maka itu bukanlah cinta. Kamu mengira kamu bersikap seperti pria, tapi kamu adalah orang brengsek yang arogan.”

“Apa? Kamu bahkan tidak bisa mundur seperti layaknya pria karena kamu masih menggantung kepadanya.”

“Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu mengambil Pyo Na Ri dariku hanya untuk melukainya seperti ini.”

“Apakah ini akan melukainya atau berakhir membantunya, bukan kamu yang menilainya,” ujar Hwa-Shin.

“Ini sebabnya aku tidak bisa menyerahkan Pyo Na Ri kepadamu,” balas Jung-Won.

Tak lama kemudian Hwa-Shin sudah berada di depan kamarnya, diam terpaku memandang ke arah kamar Na-Ri. Na-Ri sendiri sedang termenung di kamar, memikirkan kembali kata-kata Hwa-Shin di kantor saat hendak menggantikannya. Pyo Chi-Yeol (Kim Jung-Hyun) tiba-tiba masuk dan menanyakan mengapa Na-Ri hanya siaran selama satu jam saja. Na-Ri tidak mau menjawabnya dan pura-pura tidur.

“Kamu tidak mau membicarakannya?” tanya Chi-Yeol.

Na-Ri menghela nafasnya.

“Kamu marah?” tanya Chi-Yeol lagi.

“Chi Yeol,” jawab Na-Ri lirih, “Jika aku marah, aku akan merasa lebih malu dan menyedihkan, makanya aku tidak bisa marah. ‘Kenapa kamu tidak bersikap lunak kepadaku karena aku kekasihmu?’ Haruskah aku marah seperti itu?”

Chi-Yeol jadi bingung sendiri mendengar jawaban Na-Ri. Na-Ri lantas menyuruhnya untuk keluar dan belajar, Chi-Yeol menurutinya.

Ja-Young sedang membahas sesuatu dengan direktur Oh saat Sung-Sook tiba-tiba masuk dan menanyakan apakah Kim Rak bakal berkencan dengannya. Direktur Oh meminta Sung-Sook untuk tidak membicarakan itu karena ia sedang rapat dengan Ja-Young, tapi karena Sung-Sook tidak menghiraukannya, direktur Oh akhirnya ikut menyimak sambil sesekali nimbrung. Seperti biasa, keduanya sibuk berselisih paham tentang siapa yang pantas berkencan dengan Kim Rak. Saat diungkit kapan Sung-Sook hendak pindah, Sung-Sook malah menjawab bahwa ia yang akan mengurus urusan rumah tangga mulai sekarang.

“Jadi, berkencanlah dengan chef Kim,” ujar Sung-Sook, “Kamu pasti bisa menangani masalah asexuality-nya. Kamu kan lebih seksi.”

Sambil berbisik, Sung-Sook melanjutkan, “Tampaknya chef bisa memegang wanita.”

“Ia bisa memegang kita?” tanya Ja-Young kaget, juga sambil berbisik.

Hari berlalu. Esok harinya Na-Ri tiba di stasiun untuk membawakan acara berita pagi. Ia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, walau kru yang lain melihatnya dengan tatapan prihatin. Usai menjalankan tugasnya, Hwa-Shin yang menunggunya di luar studio hendak mengajaknya untuk ngopi. Sebelum mengucapkan ajakannya, Na-Ri sudah mengiyakan ajakannya terlebih dahulu.

Na-Ri dan Hwa-Shin duduk berdua di meja cafe sambil terdiam. Sesaat kemudian Hwa-Shin memecah kebisuan dan berkata, “Soal kemarin…”

Na-Ri langsung memotongnya. Ujarnya, “Aku yang tidak melakukannya dengan baik. Aku merasa kasihan kepadamu, reporter Lee.”

“Kenapa kamu terus tersenyum. Kamu menakutiku,” respon Hwa-Shin.

“Kenapa kamu takut kepadaku? Bahkan jika kita memakan ramen 1000 atau 10000 kali, itu tidak akan terjadi.”

Hwa-Shin terdiam.

“Aku baru saja bercanda,” ucap Na-Ri, “Kenapa kamu tidak tertawa?”

Hwa-Shin masih tetap berdiam diri.

“Aku akan mencoba menjadi lebih baik di lain waktu,” janji Na-Ri. “Aku benar-benar ingin menjadi lebih baik pada saat bekerja untukmu, reporter Lee. Namun begitu, aku tidak tahu apakah aku akan mendapat kesempatan untuk berdiri di sampingmu lagi. Aku tidak tahu apakah kamu akan memperbolehkanku…”

Hwa-Shin tidak merespon, hanya terus menatap wajah Na-Ri dengan tatapan prihatin.

Setibanya kembali di ruang penyiar, Hye-Won menanyakan pada Na-Ri bagaimana rasanya berdiri di samping Hwa-Shin.

“Ia mungkin mengencanimu, tapi aku partnernya dalam pekerjaan. Kita pasangan yang lebih baik. Aku pacar kerjanya. Kamu bisa mengakuinya, kan?” tanya Hye-Won.

“Ya, aku mengakui aku kurang dalam pekerjaanku,” jawab Na-Ri, “Tapi, apakah kamu merasakan ramen yang dibuat oleh reporter Lee di cafetaria perusahaan? Itu enak.”

Beberapa waktu kemudian Hwa-Shin kembali bertemu dengan Na-Ri. Kali ini secara tidak sengaja, di dalam lift. Saat hendak masuk, Hwa-Shin kaget melihat Na-Ri sedang berdiri melamun di dalamnya. Begitu menyadari keberadaan Hwa-Shin, Na-Ri segera tersenyum dan menanyakan apakah Hwa-Shin hendak pulang. Hwa-Shin menjawab tidak. Ia lantas menarik Na-Ri keluar dari lift dan membawanya ke tangga darurat.

“Kamu sangat membenciku hingga ingin membunuhku, bukan?” tanya Hwa-Shin. “Apakah kamu tidak ingin tahu apakah aku benar mencintaimu? Aku kekasihmu dan aku yang memberikan ide untuk berganti pasangan di sesi kedua. Tidakkah kamu ingin beradu argumen denganku untuk mengetahui apakah aku manusia atau binatang? Kamu harus pergi di tengah-tengah acara. Semua orang di stasiun membicarakannya. Tidakkah kamu lebih ingin mati ketimbang kembali bekerja? Jadi, kenapa kamu tidak marah kepadaku? Itu membuatku merasa jauh denganmu.”

Na-Ri tidak berkomentar apa-apa, hanya tersenyum.

“Kenapa kamu tersenyum kepadaku? Bagaimana kamu bahkan bisa tersenyum pada orang brengsek sepertiku? Kamu menjauh dariku, bukan?”

Na-Ri tetap tersenyum, bahkan kali ini tertawa kecil.

“Apakah kamu berencana untuk melarikan diri ke suatu tempat?” tanya Hwa-Shin lagi. “Ayo berkelahi.”

“Sudah waktunya (siaran),” ucap Na-Ri sambil melangkah.

Hwa-Shin mencegahnya dan mendudukkannya kembali di tangga darurat. Ia berkata dengan lantang, “Katakan saja kamu ingin bertengkar. Jangan ditahan dan marahlah. Jangan tersenyum! Kenapa kamu tersenyum? Apakah aku memintamu untuk tersenyum?”

“Kenapa malah kamu yang jadi marah?” tanya Na-Ri balik sambil tersenyum.

“Kamu yang membuatku marah sekarang,” bentak Hwa-Shin.

“Kamu marah karena aku tidak marah?”

“Ya, itu membuatku marah karena kamu tidak.”

“Kamu ingin bertengkar?”

“Please, ayo bertengkar!”

“Aku tidak ingin bertengkar,” ujar Na-Ri.

“Kenapa kamu tidak ingin marah? Kenapa?” tanya Hwa-Shin penasaran. “Ah, kamu pikir tidak ada gunanya bertengkar denganku? Kamu akan menahannya dan nanti suatu saat melampiaskannya kepadaku?”

“Itu tidak penting untuk dipertengkarkan,” jawab Na-Ri.

“Jika yang seperti itu tidak penting untuk dipertengkarkan, yang seperti apa yang penting untuk dipertengkarkan tentang kita?” tanya Hwa-Shin. “Yang kemarin benar-benar hal besar. Aku sungguh mempermalukanmu di hadapan seluruh negeri. Jika ini tidak penting penting untuk dipertengkarkan, lalu apa?”

“Kita akan punya banyak hal untuk dipertengarkan di masa depan.”

“Kedengarannya bagus. Ada banyak. Aku akan menunggu hal-hal besar yang ingin engkau pertengkarkan.”

“Reporter Lee,” ucap Na-Ri, “Ayo kita tidak bertengkar. Aku akan melakukannya lebih baik. Sudah waktunya kamu untuk siaran. Lebih baik kamu pergi. Berhenti mengkhawatirkanmu dan pergilah.”

70

Hwa-Shin akhirnya tiba di studio, disambut dengan omelan direktur Oh karena waktu yang sudah benar-benar mepet. Saat siaran dimulai, semuanya kaget mendengar Hwa-Shin membacakan berita dengan penuh emosi.

Di ruang penyiar, Na-Ri memberikan minuman pada Ja-Young yang baru saja tiba. Ja-Young menerima dengan menatap prihatin pada Na-Ri.

“Kamu tidak apa-apa? Ah, pastilah ada apa-apa. Akhirilah hubunganmu dengan Lee Hwa Shin. Bagaimana bisa ia menyingkirkan kekasihnya karena sebuah kesalahan dan mengambil gadis lain untuk duduk di sebelahnya begitu saja. Jangan kencani dia. Campakkan dia. Ia akan terus membuatmu sakit kepala. Kencani pria lain.” omel Ja-Young.

“Ketua, aku benar-benar ingin menjadi orang yang punya kemampuan. Tolong ajarkan aku segalanya dari yang paling dasar. Ajarkan aku semuanya.”, pinta Na-Ri.

Ja-Young terdiam mendengarnya.

Malam harinya, Na-ri sedang duduk di depan toko Lee Hong-Dan (Seo Eun-Su) bersama dengan Pyo Bum (Seol Woo-Hyung). Hwa-Shin tiba tak lama kemudian dan duduk di samping mereka. Tiba-tiba ia mencium Bum dan menanyakan apakah Na-Ri ingin dicium juga. Karena Na-Ri menolak, Hwa-Shin melakukan hal yang sama ke pipi sebelah Bum dan kembali bertanya pada Na-Ri apakah ia ingin dicium di pipi sebelahnya. Na-Ri kembali menolak.

“Apakah kamu benar tidak akan marah?” tanya Hwa-Shin.

“Kamu ingin makan malam?” tanya Na-Ri tanpa menjawab pertanyaan Hwa-Shin.

Meski kesal, Hwa-Shin lantas membeli ramen dan memasakannya di kamarnya untuk Na-Ri.

“Ini kedua kalinya aku membuatkan ramen untukmu,” ujar Hwa-Shin.

“Dengarkan sambil kamu makan,” lanjut Hwa-Shin, “Kamu tahu bedanya reporter berita dengan announcer berita? Itu adalah feel mereka untuk berada di lapangan. Kamu belum pernah keluar untuk melapor dari lapangan. Kamu mungkin akan lebih mendapatkan masa sulit saat menghadapi hal-hal yang tiba-tiba menjadi salah dibandingkan reporter yang sudah punya banyak pengalaman di lapangan. Bahkan kesalahan yang kamu buat selama siaran pemilihan…”

“Aku punya kimchi. Kamu mau?” potong Na-Ri.

“Duduklah,” pinta Hwa-Shin. “Itu tidak penting saat ini. Alasan kenapa kamu tidak bisa berpikir dengan cepat adalah karena kamu kurang latihan.”

Hwa-Shin lantas memberi contoh dengan cara membaca koran setiap pagi dan sore karena itu akan memberinya banyak masukan dan informasi mengenai berita yang ia bawakan. Ia menambahkan tentang berbagai cara latihan yang sebetulnya sudah diam-diam dilakukan oleh Na-Ri sebelumnya.

Sambil menghentakkan sumpitnya ke meja, Na-Ri berkata, “Kamu tidak percaya kepadaku sama sekali? Kamu tidak percaya aku bisa melakukan bagian kedua tanpa kesalahan, bukan? Itu sbeabnya kamu membuatku pergi dan menggantikannya dengan Hong Hye Won.”

Hwa-Shin terdiam.

“Aku rasa aku meremehkannya,” lanjut Na-Ri, “Aku berulang kali mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak seharusnya marah. Sekarang, aku bisa melihat bahwa pada dasarnya kamu merasa aku tidak layak, tidak cukup cepat, dan punya passion sebagai pembaca berita. Itu bukan hanya karena aku membuat kesalahan di sesi pertama, bukan? Aku akan jujur kepadamu, aku tidak bisa berteriak kepadamu atau marah kepadamu. Aku masih belum sepenuhnya percaya kamu menyukaiku. Kamu sangat jelas tentang kehidupan pekerjaanmu dan kehidupan pribadimu. Jika aku marah, kita akan bertengkar. Jika kita bertengkar, kamu akan minta putus. Karena aku khawatir akan itu, aku jadi tidak bisa marah. Itu sebabnya aku mengatakan aku tidak ingin bertengkar. Kamu senang sekarang?””

Na-Ri membalikkan badannya dengan kesal. Semua uneg-unegnya sudah terlampiaskan. Hwa-Shin yang sedari tadi terdiam, tiba-tiba berkata, “Ayo kita menikah. Dan bawakan aku kimchi itu jika kamu punya.”

Giliran Na-Ri yang terdiam, kaget mendengar perkataan Hwa-Shin.

“Di saat kamu seperti ini…” ujar Hwa-Shin sambil tersenyum, “Kenapa di saat kamu berteriak dan marah kepadaku, aku mendapatimu begitu indah dan manis?”

Na-Ri menoleh ke arah Hwa-Shin dengan tatapan heran.

“Kamu bisa mengambil 2 ramen dari 1000, aku tetap akan memasakannmu ramen 1000 kali,” lanjut Hwa-Shin dengan lembut. Ini lamaran. Ini adalah lamaran. Menikahlah denganku.”

Preview Episode 21

Berikut ini adalah video preview episode 21 dari drakor Jealousy Incarnate. Selamat menikmati!

=== Coming Soon ===

» Sinopsis ep 21 selengkapnya

29 Comments - Add Comment

Reply