Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 16 & Preview Episode 17 (2016)

Di sinopsis Jealousy Incarnate episode sebelumnya, rasa cinta Pyo Na-Ri (Kong Hyo-Jin) pada Lee Hwa-Shin (Cho Jung-Seok) akhirnya kembali muncul. Yang menjadi masalah, ia masih tetap mencintai Ko Jung-Won (Ko Gyung-Pyo). Ia pun memutuskan untuk meninggalkan keduanya, meski mereka berdua enggan menerimanya begitu saja. Satu bulan berlalu. Na-Ri sudah mulai menjalankan tugasnya yang baru, menjadi pembaca acara berita pagi, walau masih dalam sistem kontrak / masa percobaan. Untuk bisa move on, ia juga memutuskan untuk melakukan kencan buta. Hwa-Shin dan Jung-Won yang mengetahuinya tidak mau membiarkannya begitu saja. Dengan kesal Na-Ri meninggalkan mereka berdua dan memilih untuk pergi bersama pasangan kencan butanya. Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis drama korea Incarnation of Jealousy episode 16 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 16

Malam harinya, Hwa-Shin menelpon Na-Ri, memaksa untuk dibelikan es krim dan mengancam akan loncat dari rooftop jika tidak dituruti. Mau tak mau ia menurutinya. Sementara itu, Jung-Won hendak pergi keluar saat ia berpapasan dengan ibunya, Kim Tae-Ra (Choi Hwa-Jung), yang baru saja tiba dan langsung mengomel karena kini kedua orang tua Geum Soo-Jung (Park Hwan-Hee) tahu apa yang terjadi (bahwa Jung-Won tidak menyukai Soo-Jung). Jung-Won tidak berkata apa-apa dan hanya memeluk ibunya yang menangis.

Kembali ke Na-Ri dan Hwa-Shin. Na-Ri datang membawakan dua buah es krim pada Hwa-Shin. Hwa-Shin menolaknya dan minta diambilkan yang lain. Dengan kesal Na-Ri melakukannya. Saat ia kembali lagi dengan dua buah es krim yang berbeda, kali ini dengan gaya sok Hwa-Shin memerintah agar Na-Ri membukakan kertas pembungkusnya.

“Aku ingin dicintai. Jika kamu melepaskan pembungkusnya untukku, itu terasa seperti kamu mencintaiku. Itu terasa seperti kita sedang berkencan. Itu terasa seperti kamu mencintaiku lebih dari aku mencintaimu.”

Na-Ri hanya memandang ke arah Hwa-Shin lalu meletakkan es krim bagiannya ke meja sementara ia membuka pembungkus es krim miliknya sendiri. Masih dengan gaya sok, Hwa-Shin merespon, “Kamu pasti sudah melakukannya jika aku tidak memintanya, kan?”

Na-Ri menggelengkan kepalanya dan mulai menikmati es krimnya.

“Apa yang kamu lakukan sebulan belakangan ini?” tanya Na-Ri.

“Dalam sebulan belakangan ini aku memperhatikan kamu mengikuti 12 blind date,” jawab Hwa-Shin.

“Aku pergi ke 10 blind date, bukan 12,” balas Na-Ri.

“Kamu akan datang ke 2 blind date lagi minggu ini,” respon Hwa-Shin.

“Kamu itu detektif atau apa?” tanya Na-Ri.

Tiba-tiba Jung-Won muncul di hadapan mereka. Ia langsung duduk dan mengambil es krim milik Hwa-Shin yang ada di meja. Tanpa minta ijin, ia membukanya dan mulai memakannya.

“Sedang apa kalian di sini?” tanyanya.

Na-Ri berdiri lalu mengatakan bahwa ia akan menemui pria lain lagi. Keduanya kompak memaksa Na-Ri untuk tidak melakukannya. Karena kesal, Na-Ri pun berniat pergi untuk meninggalkan mereka, namun kembali keduanya kompak meminta Na-Ri untuk duduk kembali.

“Berhenti berpura-pura. Ayo lakukan, kita bertiga,” ujar Hwa-Shin.

“Kamu serius?” tanya Jung-Won.

“Kamu tidak ingin?” tanya Hwa-Shin pada Na-Ri.

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tanya Na-Ri balik. “Aku bilang aku punya da hati dan membuat kalian berdua menjadi gila. Kamu ingin agar aku bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, bukan? Baiklah, aku minta maaf, aku mengakuinya. Jadi mari kita tinggalkan itu. Mulai sekarang, aku tidak ingin kita bertiga berada dalam situasi canggung seperti ini. Kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku tidak akan menemui kalian berdua lagi. Jangan pernah kembali.”

Na-Ri beranjak dari tempat duduk dan melangkah pergi.

“Baiklah, kamu boleh berkencan dengan kita berdua,” ujar Jung-Won tiba-tiba. “Kamu boleh berkencan dengan Hwa-Shin juga.”

Baik Hwa-Shin maupun Na-Ri kaget mendengarnya.

1

2

Bang Ja-Young (Park Ji-Young) masuk ke kamar tidur dengan membawakan minuman bagi Kye Sung-Sook (Lee Mi-Sook). Sung-Sook sempat tidak mau meminumnya saat mendengar itu adalah minuman bagi ‘wanita-wanita seusia mereka’, namun akhirnya ia mau meminumnya dengan dalih sudah dibawakan oleh Ja-Young.

“Siapkan dirimu. Jika tidak, kita akan segera menjadi seperti itu.” ujar Ja-Young.

Sung-Sook tidak menghiraukannya, malah meminta Ja-Young untuk mengganti bohlam lampu yang mulai redup. Ja-Young tidak mau melakukannya dan berbalik meminta Sung-Sook yang melakukannya.

“Kamu bahkan tidak punya pria untuk mengganti bohlam lampumu,” gumam Ja-Young. “Apa yang sudah kamu lakukan sepanjang hidupmu?”

Na-Ri mempertanyakan keputusan Jung-Won barusan. Jung-WOn menjawab bahwa ia tahu Hwa-Shin bakal terus memaksa Na-Ri meskipun ia diam saja.

“Jika aku bisa bertahan di hatimu sedikit lebih lama lagi, aku bisa menerima kamu mengencani dua orang. Aku mencintaimu untuk menjadi milikku seorang, tapi itu hanya keinginanku. Kamu bahkan memutuskan untuk putus denganku karena kamu bingung. Jadi aku harus memberikan kamu kesempatan. Lihat aku lebih jauh lagi, temui aku lebih lama lagi, dan cari tahu bagaimana perasaanku kepadamu. Ayo kita lakukan.”, jelas Jung-Won.

“Jadi sudah diputuskan,” potong Hwa-Shin, “Dimulai dari besok.”

“Ini tidak seperti kamu ketahuan selingkuh dan ini adalah ide kami. Kamu tidak perlu merasa bersalah.”, tambah Jung-Won.

“Kita tidak perlu meminta ijinnya. Tidak ada wanita yang akan mengatakan iya untuk ini.” ujar Hwa-Shin.

“Kamu benar. Aku tidak pernah mengatakan ya,” respon Na-Ri.

Na-Ri tetap tidak mau melakukannya. Ia justru berbalik marah kepada mereka yang seenaknya saja memutuskan hal itu dan menjadikan dirinya sebagai hadiah. Ia terus mengomeli mereka sementara baik Hwa-Shin dan Jung-Won hanya terdiam melihatnya. Setelah Na-Ri pergi, Jung-Won pun pergi meninggalkan Hwa-Shin dengan penuh emosi.

3

4

Jung-Won tiba kembali di kediamannya. Sudah ada Soo-Jung yang menunggunya di seberang jalan. Soo-Jung bergegas keluar dari mobilnya dan menghadang Jung-Won.

“Kamu seharusnya tahu kapan harus berhenti,” ujarnya. “Kamu sudah mempermalukanku di depan orang tuaku.”

“Rumor itu ternyata benar. Aku pikir kamu sopan.”, respon Soo-Jung.

Soo-Jung lantas mengancam akan mendatangi Jung-Won setiap malam untuk memberitahunya apa yang dilakukan Na-Ri selama ini pada Hwa-Shin selama ia naksir kepadanya.

“Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan wanita yang kamu inginkan dengan mudah,” tegas Soo-Jung.

Di apartemen, Na-Ri yang habis mencuci muka melihat Hwa-Shin kembali minum bir. Ia pun mengomel karena Hwa-Shin tidak pernah mau mendengarkannya. Bukannya mendengarkan, Hwa-Shin malah asyik berputar-putar untuk menggoda Na-Ri.

“Kalau kamu khawatir, datanglah ke sini. Aku tidak ingin tidur sendirian. Tidurlah denganku.” ujar Hwa-Shin.

Na-Ri kaget mendengarnya. Entah malu atau malah berdebar, ia membalikkan badannya sambil memegang dadanya. Tak lama kemudian Hwa-Shin pun mengucapkan selamat malam.

Hari berganti. Na-Ri sengaja berangkat pagi-pagi agar tidak bertemu dengan Hwa-Shin dan Jung-Won. Tanpa diduga, di depan apartemen sudah ada Jung-Won menunggunya. Melihat Na-Ri yang malah mencuri pandang ke arah apartemen Hwa-Shin, Jung-Won meminta Na-Ri agar hanya memikirkannya pada saat ia sedang bersamanya. Na-Ri menolak karena entah mengapa ia pasti memikirkan Hwa-Shin pada saat bersama Jung-Won. Begitu pula sebaliknya. Jung-Won pun mengalah. Ia lalu meminta Na-Ri untuk masuk ke mobilnya sembari berusaha mengambil jas yang dibawa Na-Ri. Yang terjadi Na-Ri malah berteriak histeris dan berlari kabur meninggalkannya.

5

7

6

Hwa-Shin terbangun dengan kesal begitu melihat weker di kamarnya. Ia yakin Na-Ri pasti sudah pergi dengan menggunakan mobil Jung-Won. Sementara itu, Sung-Sook hendak membuang kantong sampah saat Kim Rak (Lee Sung-Jae), yang kebetulan juga hendak melakukannya, tanpa basa-basi langsung menghampirinya dan mengambil kantong sampah bawaannya untuk ia bantu buangkan. Aksi tersebut ternyata malah membuat Sung-Sook terpana.

Na-Ri tiba di kantor dan sudah ada Jung-Won yang menunggunya dengan tersenyum. Ia lalu memberikan jas Na-Ri yang tadi ia letakkan di mobilnya.

“Semoga sukses hari ini. Silahkan masuk,” ujar Jung-Won.

Jung-Won lantas bercerita bahwa semalam ada wanita yang mengancam akan menceritakan hal-hal yang dilakukan Na-Ri saat dulu naksir Hwa-Shin, sehingga setelah ini ia pasti akan dihantui mimpi buruk setiap malam. Na-Ri jadi penasaran dan menanyakan siapa wanita yang dimaksud. Sambil tersenyum dan berlalu, Jung-Won berjanji akan menceritakannya pada Na-Ri nanti malam apabila ia mau pergi dengannya.

Hwa-Shin tiba di kantor saat Na-Ri sedang membawakan berita pagi. Ia menaiki lift bersama dengan direktur Oh Jong-Hwan (Kwon Hae-Hyo), Sung-Sook, Ja-Young, dan partner baca berita Sung-Sook yang baru. Sung-Sook dan Ja-Young lantas meminta Hwa-Shin untuk menggantikan bohlam lampu di tempat mereka, namun Hwa-Shin menolak karena kondisinya baru berkelip. Kalau sudah meledak ia baru mau menggantinya 😀 Mereka berdua lalu ganti meminta direktur Oh yang melakukannya, sekaligus memalu paku di tembok, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh direktur Oh. Tanpa diduga partner Sung-Sook mengatakan ia yang akan menggantinya. Giliran Sung-Sook yang menolaknya dengan alasan tidak ingin ada orang gak jelas masuk ke kamar mereka.

Dengan pede, partner Sung-Sook merespon, “Ah, pria gak jelas, baiklah, itu pasti karena kamu nervous. Seorang pria sudah seharusnya membuat seorang wanita sedikir nervous, benar begitu Hwa-Shin?”

“Jangan buat aku tertawa,” jawab Hwa-Shin.

Saat makan siang, Hwa-Shin mendatangi Na-Ri yang sedang makan di kantin. Na-Ri diam-diam memandanginya sambil terngiang ajakan Hwa-Shin untuk tidur dengannya. Hwa-Shin lantas memuji Na-Ri yang tampil bagus tadi pagi di kamera. Na-Ri tidak mengindahkan dan berbalik menanyakan apakah sebulan ini Hwa-Shin sudah datang ke rumah sakit untuk terapi. Hwa-Shin jadi kesal karena malah itu yang dibahas oleh Na-Ri.

“Aku ini pria, bukan pasien. Pria.”

Kata-kata itu membuat Na-Ri makin resah. Ia pun berpamitan untuk pergi.

“Kamu tidak ada bohlam lampu yang perlu diganti?” tanya Hwa-Shin 😀

“Tidak”, jawab Na-Ri.

“Tidak ada paku untuk dipaluin?” tanya Hwa-Shin lagi.

“Ada Chi-Yeol”, jawab Na-Ri.

Hwa-Shin lantas mengajak Na-Ri untuk dinner nanti malam. Na-Ri menolak dengan alasan ada kencan buta nanti malam. Ia pun pergi meninggalkan Hwa-Shin.

Hwa-Shin sendiri ternyata tetap berhasil mendapatkan posisi sebagai pembawa berita gara-gara orang yang lulus audisi justru mendapat tugas untuk menjadi koresponden SBC di luar negeri. Seperti sudah direncanakan, ia berpasangan dengan Hong Hye-Won (Seo Ji-Hye). Sebelum membawakan sesi berita mereka, Hye-Won sempat memberitahu Na-Ri tentang apa yang sudah dilakukan Jung-Won sehingga ia bisa mengikuti audisi.

Saat sesi berita berlangsung, partner Sung-Sook mengatakan bahwa Hwa-Shin beruntung karena bisa mendapat posisi itu. Direktur Oh menimpali bahwa yang beruntung sebenarnya justru dia, karena gara-gara Hwa-Shin diskors, dia jadi bisa menjadi pembawa berita malam. Hwa-Shin sendiri, di sela-sela pembacaan berita, malah membahas masalah kencan buta Na-Ri nanti malam. Hye-Won mengatakan bahwa ia meminta Na-Ri untuk menggantikannya karena ada ‘sesuatu’ di partner kencan butanya itu. Hwa-Shin jadi penasaran dan menanyakan siapa sebenarnya pria itu. Hye-Won tidak menjawab dan berbalik menantang Hwa-Shin untuk merusak acara live broadcast mereka saat ini dan pergi saja menyusul Na-Ri.

“Jika kamu sangat mencintainya, aku akan mengakui cintamu. Aku akan mengakui cintamu adalah yang terhebat di dunia.”, ujar Hye-Won.

Hwa-Shin mendadak berdiri. Direktur Oh dan yang lainnya langsung kaget melihatnya. Direktur Oh segera memintanya untuk duduk kembali.

“Kamu tidak bisa pergi,” pancing Hye-Won.

“Berhenti memprovokasiku,” ujar Hwa-Shin.

“Kamu bilang kamu akan menjadi orang brengsek, tapi kamu tidak melakukan apapun. Kamu pengecut. Dia ada di Cheongdam-Dong W. Acaranya pukul 7.”

8

9

10

Setelah mendengarnya, Hwa-Shin bergegas melangkah keluar meninggalkan ruang siaran. Karena siaran akan segera dimulai kembali, dengan panik direktur Oh meminta hye-Won untuk bersiap kembali membacakan berita selanjutnya. Sementara itu, Na-Ri yang sedang menunggu kedatangan kencan butanya, kaget begitu melihat yang datang adalah Jung-Won.

Hwa-Shin ternyata memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana. Ia hanya menuju kamar kecil lalu kembali lagi ke ruang siaran sembari meminta maaf pada yang lain. Direktur Oh dan partner Sung-Sook segera mengomelinya habis-habisan. Dengan tenang Hwa-Shin berdalih bahwa kamera di sesi berita saat itu akan fokus pada wajah Hye-Won, sehingga tidak masalah jika ia pergi sebentar. Saat sedang sibuk marah-marah, Hwa-Shin memberi tanda bahwa sesi baca berita akan dimulai kembali. Karena tidak ada waktu lagi, dengan panik direktur Oh dan partner Sung-Sook merebahkan diri mereka di depan meja siaran agar tidak tertangkap oleh kamera 😀

11

12

Jung-Won meminta Na-Ri untuk berhenti melakukan kencan buta karena sudah berkencan dengan Hwa-Shin dan dirinya. Na-Ri merespon dengan memintanya untuk pergi karena pasangan blind datenya akan segera datang.

“Kencan butamu tidak akan datang.” ujar Jung-Won. “Aku mengatakan bahwa kekasihku ikut blind date karena ia sedang marah kepadaku. Aku mengatakan bahwa ia adalah seseorang yang ingin aku nikahi.”

Kata-kata tersebut membuat jantung Na-Ri berdebar. “Kenapa kamu berbohong?” tanyanya.

Jung-Won mencondongkan tubuhnya ke arah Na-Ri, yang membuat Na-Ri semakin deg-degan.

“Bohong? Kebohongan apa?” tanya Jung-Won sambil tersenyum. “Aku tidak pernah berbohong.”

Melihat Na-Ri yang hanya terdiam sambil memegangi dadanya membuat Jung-Won jadi khawatir dan mengira ia sakit. Na-Ri segera tersadar dan segera pergi meninggalkan Jung-Won, tanpa menghiraukan tawaran Jung-Won untuk mengantarkannya pulang. Sesampainya di rumah, ia membayangkan kembali kata-kata Jung-Won tentang pernikahan yang membuatnya tersipu malu karena girang. Namun ingatan tentang ibu Jung-Won yang menamparnya langsung membuyarkan kembali lamunannya.

Tanpa disadari, Hwa-Shin sudah menunggu kepulangan Na-Ri. Ia pun mendengar gumaman Na-Ri tentang pernikahan tersebut. Dengan sinis ia menyindir pria macam apa yang langsung mengajak Na-Ri menikah hanya dengan sekali bertemu.

“Yang pasti ia tidak lebih gila daripada pria yang mengajak seorang wanita untuk berkencan dengannya dan dengan pria lain.” jawab Na-Ri.

Hwa-Shin lantas mengajak Na-Ri untuk nonton film besok. Karena tidak sengaja kepikiran tentang Jung-Won, Na-Ri malah membayangkan ada Jung-Won di samping Hwa-Shin, yang terus berbicara kepadanya untuk tidak memilih Hwa-Shin. Karena tidak tahan lagi, ia menawarkan pada Hwa-Shin untuk bergantian berkencan dengan mereka setiap satu bulan, dimulai dengan Jung-Won untuk bulan ini. Hwa-Shin menolaknya.

“Jika kamu jatuh cinta pada Jung-Won pada bulan ini, pada saat giliranku nanti, kamu pasti akan menolak berkencan dengan kita berdua.”

Na-Ri kemudian ganti menawarkan untuk berkencan dengan Jung-Won di pagi hari dan berkencan dengan Hwa-Shin di malam hari. Lagi-lagi Hwa-Shin menolak. Kali ini ia berdalih bahwa ia suka malam.

“Apa yang kamu lakukan malam-malam?” tanya Na-Ri.

Hwa-Shin terdiam sambil menelan ludah karena bingung menjawabnya.

“Aku tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan,” tegas Na-Ri.

“Aku ingin memegang tanganmu, memelukmu, menciummu, dan tidur denganmu. Aku ingin malam.” ujar Hwa-Shin.

“Itulah yang aku pikirkan,” respon Na-Ri.

“Kalau aku bisa melakukannya di pagi hari, aku tidak keberatan bertukar waktu di pagi hari.”

“Tidak di malam hari dan tidak juga di pagi hari,” tegas Na-Ri.

“Kalau begitu kapan kita bisa melakukannya?” tanya Hwa-Shin.

Na-Ri lalu membahas sikap Hwa-Shin selama ia naksir kepadanya yang sama sekali tidak pernah memperlakukannya dengan baik. Giliran sekarang ia justru membuat kepala Na-Ri ingin meledak.

“Lebih enak untuk menerima cinta daripada memberi,” ujar Na-Ri. “Hidup jadi sedikit lebih sulit saat seseorang menyukaiku. Aku begitu tertarik pada Jung-Won. Kenapa kamu harus melakukan ini kepadaku sekarang?”

Hwa-Shin tidak mempedulikan kata-kata Na-Ri, malah bertanya, “Kamu menyukaiku atau Jung-Won?”

“Tidak tahu. Tidak tahu. Tidak tahu.”, jawab Na-Ri.

“Kamu lebih mencintaiku, kan?” tanya Hwa-Shin.

“Perasaanku kepadamu tersembunyi jauh di dalam sana. Bagaimana aku bisa tahu? Aku pikir sudah tidak ada lagi yang tersisa, tapi itu terus bermunculan. Aku bahkan tidak tahu seberapa dalam aku menguncinya. Jadi bagaimana aku tahu siapa yang lebih aku sukai?” jawab Na-Ri.

13

14

15

Sung-Sook dan Ja-Young akhirnya pasrah menerima bantuan dari partner Sung-Sook. Namun ternyata ia tidak berhasil untuk melakukannya. Ia malah terjatuh gara-gara kaget melihat lukisan ibu mertua mereka yang terpajang di tembok. Mau tidak mau akhirnya keduanya minta bantuan pada Kim Rak, yang dengan sigap segera menyelesaikannya. Untuk buang malu karena disindir oleh Sung-Sook, partner Sung-Sook pamit ke kamar kecil. Ia malah kembali berbuat ulah dengan merusakkan toilet mereka hingga mapet. Kali ini Kim Rak tidak bisa memperbaikinya karena memang cukup parah kerusakannya dan harus memanggil tukang.

Na-Ri terbaring di tempat tidur sambil tersenyum memikirkan kata-kata Jung-Won tadi pagi. Ia lalu menuliskan nama Jung-Won di kalendernya. Ternyata setiap harinya ia menuliskan siapa di antara Jung-Won dan Hwa-Shin yang hari itu ia pikirkan. Hwa-Shin sendiri saat itu sedang merasa sakit di bagian dadanya (yang bekas dioperasi). Ia berniat untuk menelpon Na-Ri, namun kemudian mengurungkan niatnya dan memaksa untuk tidur. Sementara itu, ibu Hwa-Shin (Park Jung-Soo) sedang berdoa pada dewa untuk meminta kesembuhan Hwa-Shin.

Esok harinya, Hwa-Shin pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisinya. Dokter Geum Suk-Ho (Bae Hye-Sun) memastikan bahwa itu adalah seroma, yang disebabkan karena Hwa-Shin terlalu banyak minum dan makan yang tidak diperbolehkan. Untuk mengobatinya, ia harus dirawat di rumah sakit. Dan karena Hwa-Shin tidak mau melakukannya sendiri, dokter memintanya untuk mengajak Na-Ri menemaninya.

Karena kamar mandi mereka rusak, Ja-Young dan Sung-Sook minta ijin untuk meminjam kamar mandi di tempat Na-Ri. Na-Ri memperbolehkannya. Melihat Na-Ri yang sedang membuat pancake kimchi, keduanya jadi penasaran. Na-Ri pun menawarkan apakah mereka ingin mencobanya, yang langsung diiyakan oleh mereka berdua.

Bertiga mereka makan pancake kimchi di rooftop. Ternyata baik Sung-Sook maupun Ja-Young sudah tahu bahwa Hwa-Shin dan Jung-Won mengejar-ngejar cinta Na-Ri. Sung-Sook bahkan mendengar saat beberapa hari lalu Hwa-Shin memintanya untuk tidur dengannya. Mau tidak mau akhirnya Na-Ri mengaku bahwa keduanya meminta Na-Ri untuk berkencan dengan mereka. Tanpa diduga, Ja-Young setuju akan hal itu. Ia beralasan bahwa sebelum menikah adalah satu-satunya saat dimana mereka bisa memilih mana yang terbaik. Berbeda dengan Ja-Young, Sung-Sook tidak setuju dan memintanya untuk memilih salah satu di antaranya. Ja-Young jadi kepo dan menanyakan siapa yang menurut Sung-Sook seharusnya dipilih oleh Na-Ri. Jawabannya adalah Jung-Won. Ja-Young setuju dengan Sung-Sook. Na-Ri hanya senyum-senyum saja mendengarnya.

Ja-Young lalu menambahkan bahwa Na-Ri harus berkencan dengan mereka agar tahu seperti apa mereka sebenarnya. Na-Ri lantas bertanya seperti apa Hwa-Shin, yang hanya dijawab dengan tertawa oleh keduanya.

16

17

18

Hari pun berganti. Giliran Ja-Young yang dibantu oleh Kim Rak saat ia hendak membuang sampah. Sementara itu, melihat Hwa-Shin yang pergi pagi-pagi dengan membawa tas, Na-Ri pun bertanya apakah ia hendak ke kantor. Sejenak terdiam, Hwa-Shin menjawab bahwa ia akan pergi jalan-jalan.

“Kenapa? Kamu mau pergi bersamaku?” tanya Hwa-Shin pede.

Na-Ri tidak keberatan dengan itu, sehingga Hwa-Shin jadi penasaran.

“Jika kamu pergi menginap bersamaku, itu akan jadi game over bagimu. Kamu harus mengakhirinya dengan Jung-Won dan berkencan denganku.” ujar Hwa-Shin.

“Ya, aku tahu,” jawab Na-Ri.

“Kamu tahu?”

Na-Ri kembali mengiyakan. Hwa-Shin jadi makin pusing. Na-Ri lalu memaksa Hwa-Shin untuk mengajaknya pergi menginap, yang terpaksa ditolak Hwa-Shin dengan berat hati karena ia harus dirawat di rumah sakit. Tak lama ia pun tiba di rumah sakit. Banyak pasien yang mengenalinya sebagai pembawa berita, sehingga ia mempercepat langkahnya untuk menuju ke kamar inap. Apes baginya, pasien di dalam kamar inap tersebut sedang dibesuk oleh serombongan temannya. Saat Hwa-Shin sedang terpaku karena tidak tahu harus berbuat apa, Na-Ri tiba-tiba masuk ke kamar tersebut dengan sudah menggunakan baju pasien. Hwa-Shin pun kaget melihatnya.

Sementara itu, Jung-Won datang ke ‘Rak Pasta’ dan menanyakan pada Kim Rak apakah ada kamar kosong karena ia ingin tinggal di sana. Tanpa ragu ia mengaku bahwa ia menyukai Na-Ri.

“Bagaimana dengan Na-Ri?” tanya Pyo Chi-Yeol (Kim Jung-Hyun).

Jung-Won menjawab bahwa ia masih berusaha untuk mendapatkan hati Na-Ri sepenuhnya. Ia juga ingin agar Chi-Yeol menyukainya. Kim-Rak lantas meminta yang lain untuk pergi keluar terlebih dahulu.

Kembali ke rumah sakit. Na-Ri ternyata sudah diberitahu oleh dokter bahwa Hwa-Shin akan menjalani perawatan di rumah sakit. Hwa-Shin meminta agar Na-Ri pulang, tapi Na-Ri tidak mau melakukannya. Tak lama perawat (Park Jin-Joo) datang, menanyakan apakah Hwa-Shin membawa bra pasca-operasi karena kali ini ia harus memakainya. Karena tidak membawanya, mau tidak mau Hwa-Shin memperbolehkan Na-Ri untuk mengambilkan bra milik Hwa-Shin di apartemennya sementara Hwa-Shin menjalani perawatan.

Di ‘Rak Pasta’, Kim Rak bercerita tentang Na-Ri yang sudah lama naksir dengan Hwa-Shin. Jung-Won pun curhat bahwa ia sebenarnya nervous karena takut Na-Ri lebih menyukai Hwa-Shin ketimbang dirinya.

“Kalau ia tahu aku merasa demikian, aku pasti akan kalah dari Hwa-Shin, bukan?” tanya Jung-Won.

“Tentu saja,” jawab Kim Rak. Sejenak kemudian ia menambahkan, “Jangan sampai ketahuan. Jadilah dirimu sendiri. Tidak seperti apa yang diajarkan oleh keluargamu.”

Setelah memberi beberapa saran, Kim Rak berjanji akan memberikan kamar bagi Jung-Won.

19

20

21

Keluar dari restoran, Jung-Won menghubungi Na-Ri dan menanyakan ia sedang apa. Saat itu Na-Ri ternyata sedang berada di kamar Hwa-Shin, untuk mengambilkan bra Hwa-Shin. Na-Ri berbohong dengan mengatakan ia sedang keluar. Tanpa ia sadari, saat keluar dari kamar Hwa-Shin, Jung-Won melihatnya. Diam-diam Jung-Won membuntuti Na-Ri hingga ke rumah sakit. Ia pun kaget begitu masuk ke kamar dan mendapati Na-Ri bersama Hwa-Shin yang terbaring di tempat tidur pasien.

Setelah menanyakan kondisi Hwa-Shin pada dokter, Jung-Won kembali ke kamar Hwa-Shin dengan langkah gontai, memikirkan nasib sahabatnya yang disebabkan oleh minum-minum dan berkelahi. Meski agak risih, Jung-Won juga tidak keberatan untuk membantu suster memberikan suntikan penghilang sakit pada Hwa-Shin, dengan membukakan celananya dan mengusap-usap pantat bekas suntikannya 😀 Na-Ri yang diam-diam memperhatikan sikap Jung-Won dari luar kamar menjadi terharu.

“Mereka seharusnya melakukan ini sedari awal,” gumamnya sambil tersenyum.

“Aku akan bersikap sebaliknya. Aku akan bersikap dingin kepadamu apabila kamu yang terkena kanker payudara. Aku juga tidak akan melepaskan Na-Ri karena ini.” ujar Hwa-Shin.

“Bagus. Itu juga yang aku rencanakan,” respon Jung-Won.

Karena suster tadi mengingatkan agar Hwa-Shin tidak menggerakkan lengannya, Jung-Won lantas memegangi kedua lengan Hwa-Shin, tanpa mempedulikan sikap Hwa-Shin yang kasar kepadanya. Ia menepuk-nepuk kedua pundak Hwa-Shin. Saat itulah Na-Ri masuk dan mengatakan ia akan pulang karena sudah ada Jung-Won yang mengurusi Hwa-Shin. Hwa-Shin tidak memperbolehkannya. Demikian juga Jung-Won. Alhasil mereka bertiga pun tidur bersama di kamar tersebut.

22

23

24

Na-Ri mengatakan bahwa ia menikmati kebersamaan mereka bertiga seperti sekarang ini. Jung-Won dan Hwa-Shin kompak tidak menyetujuinya. Mereka mengatakan hanya ingin berdua bersama Na-Ri.

“Kalau begitu, bolehkah aku mengatakan apa yang ku rasakan?” tanya Na-Ri.

Keduanya mempersilahkan.

“Tidak bisakah kita bertiga hidup bersama seperti ini? Daripada harus kencan dengan kalian berdua, kenapa kita bertiga tidak tinggal bersama saja? Daripada makan bersamaku dan pergi kencan bergantian, ayo kita nonton TV bersama, makan buah bersama, minum kopi bersama, dan kita bisa berangkat kerja bersama di pagi hari. Aku tidak bisa meminta salah satu dari kalian untuk tinggal bersamaku, tapi ku pikir aku bisa melakukannya jika itu kita bertiga. Kita harus tinggal bersama untuk lebih mengenal satu sama lain. Kalau hanya berkencan, itu hanya separuhnya saja. Kita harus buang air besar, mencium bau BAB satu sama lain, menggosok siku, dan tinggal bersama untuk bisa mengenal satu sama lain. Dengan cara itu, aku akan tahu siapa yang aku inginkan untuk bersamaku dengan segera. Di sisi lain, kalian berdua mungkin akan tidak menyukaiku lagi setelah tinggal bersamaku.”

Na-Ri terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Kalian mungkin akan sumpek denganku setelah tinggal bersamaku selama 1 bulan. Juga, kamu harus tinggal bersama untuk berkelahi. Kita tidak akan berkelahi sungguhan kalau hanya berkencan. Jika satu bulan tidak cukup, kita bisa hidup bersama selama dua bulan. Dan jika salah satu dari kalian kehilangan minat terhadapku dan keluar, atau mungkin aku yang keluar karena kalian berdua mengecewakanku…”

Jung-Won dan Hwa-Shin langsung terbangun begitu mendengar kalimat terakhir Na-Ri.

25

“Apa yang kalian pikirkan?” tanya Na-Ri.

Jung-Won dan Hwa-Shin saling berpandangan.

“Lupakanlah jika memang kalian tidak menginginkannya,” ujar Na-Ri. “Aku hanya berpikir akan menjadi nyaman apabila kita bertiga bisa tinggal bersama.”

“Selamat malam,” tutup Na-Ri sembari memejamkan matanya.

Preview Episode 17

» Sinopsis ep 17 selengkapnya

5 Comments - Add Comment

Reply