Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 15 & Preview Episode 16 (2016)

Di sinopsis Jealousy Incarnate episode sebelumnya, Pyo Na-Ri (Kong Hyo-Jin) akhirnya tahu mengenai perasaan Lee Hwa-Shin (Cho Jung-Seok) saat ini kepadanya. Berusaha tetap setia pada Ko Jung-Won (Ko Gyung-Pyo), Na-Ri mati-matian mendorong Hwa-Shin agar menjauhinya. Entah karma, Hwa-Shin justru mengungkapkan niatnya untuk naksir diam-diam kepada Na-Ri, sama seperti yang dulu dilakukan Na-Ri terhadap Hwa-Shin. Pada akhirnya, Na-Ri tidak lagi bisa menahan perasaannya. Mereka pun berciuman di ruang ganti rumah sakit. Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis drama korea Incarnation of Jealousy episode 15 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 15

Momen ciuman Hwa-Shin dan Na-Ri terhenti gegara perawat mengetuk pintu ruang ganti untuk mencari Hwa-Shin. Karena tidak terdengar jawaban, ia pun pergi sembari mematikan lampu lorong. Di dalam ruang ganti, Hwa-Shin meminta Na-Ri untuk keluar terlebih dahulu. Namun bukannya langsung berganti baju, Hwa-Shin justru mengajak Na-Ri ngobrol dari dalam. Ia pun sempat khawatir dan hendak keluar saat Na-Ri tidak membalas panggilannya.

“Ini pertama kalinya kamu memanggil namaku seperti itu,” ujar Na-Ri.

“Ayo kita makan malam nanti. Itu pertama kalinya juga, kan?” ajak Hwa-Shin.

“Ya. Kita tidak pernah makan berduaan saja.” jawab Na-Ri.

“Kamu lulus dengan kemampuanmu sendiri. Itu tidak berkat bantuan siapa pun. Kamulah yang berdiri di depan kamera. Jangan merasa menyesal atau berterimakasih. Jadi kamu harus membiarkanku menyelamatimu, oke? Mari kita rayakan bersama. Aku akan.. lupakan makan malam. Ayo kita nikmati ayam dan bir seperti orang-orang lainnya.”

“Itu yang pertama juga.” ujar Na-Ri perlahan.

“Aku boleh minum bersamamu, kan?” tanya Hwa-Shin.

“Aku menyukaimu selama tiga tahun, tapi banyak hal yang baru pertama kali akan dilakukan.”

Hwa-Shin pun lanjut berganti baju, sembari kembali mengajak Na-Ri ngobrol. Namun kali ini kembali tidak ada jawaban dan Na-Ri benar-benar sudah tidak ada lagi di sana. Ia hendak mencarinya keluar rumah sakit, tapi dokter Geum Suk-Ho (Bae Hye-Sun) dan perawat (Park Jin-Joo) mengejarnya dan menariknya masuk ke dalam untuk menjalani terapi terlebih dahulu. Mau tidak mau Hwa-Shin pun menurutinya.

1

2

Sekretaris Cha (Park Sung-Hoon) memberitahu perihal Hwa-Shin yang mengalami skorsing dan tidak bisa mengikuti audisi penyiar kepada Jung-Won. Jung-Won jadi gusar begitu menyadari bahwa kemungkinan penyebabnya adalah karena Hwa-Shin membantu Na-Ri. Na-Ri sendiri saat itu sedang melangkah dengan gontai di dekat butik Jung-Won. Namun ia langsung bersembunyi begitu melihat Jung-Won keluar dari butiknya. Di saat yang sama, Hwa-Shin mendatangi butik Jung-Won dan berhenti tidak jauh dari sana. Ia hendak menelpon Jung-Won, namun Jung-Won ternyata menelponnya terlebih dahulu.

“Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu,” ujar Hwa-Shin.

Na-Ri akhirnya melangkah mendekati mobil Jung-Won, tanpa tahu adanya Hwa-Shin di seberang jalan. Ia mengetuk kaca jendela mobil Jung-Won. Jung-Won menurunkan kaca jendela, lalu langsung mengatakan bahwa ia mencintainya.

“Aku cinta kamu,” ujar Jung-Won untuk kedua kalinya.

Na-Ri terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku juga.”

Hwa-Shin yang mendengar percakapan keduanya dari telpon langsung mematikan telponnya.

Di dalam mobil Jung-Won, Na-Ri secara mengejutkan meminta untuk putus dengannya. Jung-Won kaget mendengarnya.

“Apa yang terjadi dengan orang yang baru saja mengatakan ia mencintaiku. Tidak masuk akal.”

“Maaf,” ujar Na-Ri sembari menundukkan kepalanya.

“Kenapa?”, tanya Jung-Won.

“Aku menyukai orang lain.”, jawab Na-Ri.

“Dan kamu mencintaiku juga?”, tanya Jung-Won.

Na-Ri mengiyakan. Jung-Won kaget sekaligus kesal mendengarnya. Ia pun berniat untuk mulai menjalankan mobilnya dan mengantarkan Na-Ri pulang.

“Aku punya dua hati. Bagaimana bisa aku punya dua hati? Bagaimana bisa aku mengencanimu saat aku punya dua hati? Aku mencintai keduanya…”

Jung-Won tidak mau mendengarnya dan membunyikan klakson mobilnya agar Na-Ri berhenti berbicara. Ia lalu mengajak Na-Ri untuk makan malam, namun Na-Ri menolaknya.

“Maafkan aku,” ujar Na-Ri sembari beranjak dari tempat duduknya.

“Jangan keluar,” cegah Jung-Won.

“Aku akan jadi orang yang buruk jika aku melanjutkan. Tidak, aku sudah terlanjur jahat. Aku tidak bisa menyukai kalian berdua. Aku tahu kamu tidak bisa memahamiku. Aku pun tidak bisa memahami diriku sendiri. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Makilah aku dan buang aku bersama dengan sampah. Aku tidak berhak atas cintamu. Maaf. Aku minta maaf.”

3

4

Kali ini Jung-Won tidak lagi mencegah Na-Ri keluar. Tak lama kemudian ia menghubungi Hwa-Shin dan memintanya untuk bertemu. Hwa-Shin sempat menolaknya namun Jung-Won terus memaksa sehingga ia meminta Jung-Won untuk menunggu terlebih dahulu karena ia masih ada urusan. Urusan yang dimaksud ternyata adalah menunggu kedatangan Na-Ri di dekat halte bus ‘Rak Pasta’.

Ia langsung menghampiri Na-Ri begitu melihatnya turun dari bus.

“Apa yang kamu pikirkan saat tadi menciumku?” tanya Hwa-Shin. Ia melanjutkan, “Mengapa kamu menciumku?”

Na-Ri hanya terdiam.

“Ada apa dengan tatapan itu? Apakah kamu sudah lupa. Kamu langsung berlari menemui Jung-Won untuk melupakan apa yang sudah kamu lakukan bersamaku beberapa jam lalu, kan? Apakah kamu mencintaiku? Apakah kamu mencintaiku?”

Na-Ri masih tetap terdiam.

“Apakah kamu menciumku meskipun tidak mencintaiku? Apakah kamu mencium orang yang tidak kamu cintai?”

“Aku mencium karena aku jatuh cinta,” jawab Na-Ri tiba-tiba.

“Aku berbicara tentang diriku,” respon Hwa-Shin dengan nada tinggi. “Aku tidak berbicara saat kamu mencium Jung-Won. Ini hanya beberapa jam sejak kamu menciumku.”

“Aku mencintaimu, tuan Lee. Aku mencintaimu.”

Bukannya senang, Hwa-Shin malah terlihat stress.

“Apa kamu bodoh?” tanyanya. “Jawab aku! Apakah kamu bodoh? Kamu pasti benar-benar bodoh. Kamu tidak bisa menjawab apakah kamu bodoh atau tidak. Kenapa aku harus melakukan ini dan menahan siksaan ini untuk orang yang sedemikian bodohnya. Hei, apakah kamu benar mencintaiku?”

“Tidakkah kamu mencintaiku?”

“Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku bertingkah gila saat ini karena aku mencintaimu. Apakah kamu benar mencintaiku?”

Na-Ri mengangguk.

“Bagaimana dengan Jung-Won? Bukankah kamu mengatakan pada Jung-Won kalau kamu mencintainya?”

Nai-Ri kembali mengangguk.

“Kamu baru naksir pria hingga sekarang, sehingga jika ada pria yang sedikit baik kepadamu, apakah kamu akan mulai menyukai mereka tanpa peduli siapa mereka? Benarkah itu? Lalu kenapa kamu menciumku? Kenapa? Apakah kamu menciumku lalu mencium Jung-Won di mobilnya.”

“Hentikanlah,” ujar Na-Ri sambil melangkah pergi.

“Apakah kamu mempermainkan kita berdua?” tanya Hwa-Shin sembari meraih lengan Na-Ri. “Bagaimana lagi kamu bisa pergi maju mundur antara aku dan Jung-Won, menciumkan orang yang satu dan mengatakan pada orang yang lain bahwa kamu mencintainya? Apakah itu masuk akal? Aku tidak bisa memahami ini dengan otak cerdas yang aku miliki. Aku tidak bisa memahaminya. Aku tidak bisa!”

“Kalau begitu ayo kita putus,” respon Na-Ri. “Mari berhenti melihat satu sama lain.”

“Apa yang kita lakukan sampai kita bisa putus? Apakah kita berkencan? Kita bahkan tidak pernah memulainya. Aku baru mau memulainya!”

“Tepat. Mari kita tidak memulainya.” balas Na-Ri. “Maafkan aku”.

“Apakah kamu benar menyukai kita berdua?” tanya Hwa-Shin sembari menghela nafas.

“Aku pasti sudah gila.”, jawab Na-Ri.

“Itu bukan karena kamu merasa buruk kepadaku setelah aku tidak bisa mengikuti audisi penyiar? Aku rasa begitu.” tanya Hwa-Shin.

Na-Ri menggelengkan kepalanya. Ia berkata, “Tidak, bukan karena itu. Sebelumnya aku sudah ingin menciummu. Kamu terlihat memikat seharian ini. Hatiku terus berdegup kencang. Ku pikir aku sudah mulai gila. Tapi ketika aku meninggalkan ruang locker, aku merasa seperti aku melakukan hal yang buruk pada Jung-Won. Lalu aku teringat aku pernah menciumnya, lalu aku jadi merindukannya dan merasa aku akan jadi gila apabila aku tidak melihatnya. Dan aku ingin mengatakan kepadanya kalau aku menyukainya. Aku rasa aku akan mati.”

5

6

Hwa-Shin makin gusar mendengar penjelasan Na-Ri. Ia mengatakan bahwa sebelumnya ia mengira bahwa Na-Ri sudah memutuskan untuk mencintainya saja dan akan melepaskan Jung-Won. Na-Ri menjawab memang ia tidak seharusnya mencium Hwa-Shin di loker itu namun ia melakukannya karena sudah tidak lagi bisa menahan dirinya.

“Siapa yang lebih kamu sukai?” tanya Hwa-Shin. “Kamu tidak bisa menyukai dua orang dengan sama. Itu tidak masuk akal. Tidak sama, kan? Tidak mungkin 50:50. Katakan padaku sejujurnya, aku bisa menerimanya.”

“Aku tidak bisa mengatakannya,” jawab Na-Ri.

“Aku bilang katakan padaku,” bentak Hwa-Shin.

“Aku tidak bisa mengatakannya. Kenapa itu penting? Kita harus mengakhirinya. Kita harus putus. Aku tidak bisa melihatmu. Aku tidak bisa. Aku tidak akan menerima telponmu dan aku akan move on. Aku akan bekerja keras sebagai penyiar”, jawab Na-Ri sambil melangkah pergi.

“Hey, hey. Apakah itu 51:49?” tanya Hwa-Shin lagi. “Itu sebanya kamu bingung? Bahkan jika hanya selisih 1 persen, pasti ada bedanya. Siapa yang lebih kamu sukai?”

Na-ri tidak menjawabnya.

“Aku tidak akan pulang sampai kamu menjawabnya. Ku mohon.” ujar Hwa-Shin.

Na-Ri tetap terdiam.

“Aku tidak mau lagi ikut terapi penyembuhan,” ancam Hwa-Shin.

Na-Ri tetap tidak mau menjawabnya. Ia lalu melangkah pergi meninggalkan Hwa-Shin, tapi Hwa-Shin kembali menahannya. Na-Ri pun kembali menjawab bahwa hal itu bukan sesuatu yang penting. Hwa-Shin tidak menghiraukannya, malah yakin bahwa Na-Ri lebih menyukainya.

“Aku akan putus dengannya juga,” ujar Na-Ri.

“Itu berarti kamu lebih menyukaiku,” jawab Hwa-Shin.

“Kanker payudaramu dan siapa orang yang lebih aku sukai adalah rahasia yang akan aku bawa hingga ke kuburku. Aku tidak akan menceritakan pada siapapun. Tidak akan pernah.” tegas Na-Ri.

[socialpoll id=”2389276″]

Kim Rak (Lee Sung-Jae) masuk ke kamar apartemen Lee Bbal-Gang (Mun Ka-Young) saat Kye Sung-Sook (Lee Mi-Sook) dan Bang Ja-Young (Park Ji-Young) sedang membicarakan tentang dirinya. Mereka berniat untuk memberitahukan pada Kim Rak bahwa mereka berdua menolak ajakannya untuk ngedate. Sung-sook meminta Ja-Young yang mengatakan pada Kim Rak, dengan iming-iming gaun pesta yang berasal dari Itali. Enggan bertemu Kim Rak, Ja-Young berbalik menawarkan anting-anting mahal miliknya apabila Sung-Sook yang mengatakannya. Sung-Sook pun enggan karena bingung bagaimana cara menolaknya karena alasan mereka aneh.

“Aku tahu. Bagaimana kita bisa mengatakan kita tidak bisa berkencan dengannya karena ia tidak bisa intim?” respon Ja-Young.

Sung-sook lalu mengusulkan bagaimana kalau mereka mengangkat alasan adanya perbedaan yang tidak bisa disatukan, seperti halnya Brad Pitt dan Angelina Jolie 😀 Ja-Young menyetujuinya dan menyarankan untuk menambahkan sedikit emosi di dalamnya agar terlihat lebih menyakinkan. Sung-Sook mengamininya dan meminta Ja-Young untuk mengatakannya. Kembali lagi, Ja-Young tidak mau melakukannya dan berbalik meminta Sung-Sook yang mengatakan karena dari awal itu adalah idenya. Ia segera mendorong Sung-Sook keluar kamar untuk menemui Kim Rak. Mereka pun kaget mendapati Kim Rak ada di hadapan mereka.

Kim Rak ternyata tidak marah mendengar semua yang dikatakan Ja-Young dan Sung-Sook di dalam kamar. Ia lalu mengalihkan pembicaraan ke soal bayaran uang sewa yang ia kembalikan satu karena keduanya telah membayar. Ja-Young dan Sung-Sook hanya bisa terdiam dengan perasaan bersalah saat Kim Rak pergi meninggalkan mereka.

8

7

Pyo Chi-Yeol (Kim Jung-Hyun) mendapati Na-Ri sedang minum-minum di kamarnya. Ia segera menyuruhnya berhenti dan menyakan apa yang terjadi. Na-Ri tidak menjawab dan malah mengatakan ia berharap mereka tinggal di lantai 40 agar ia bisa loncat dan langsung mati. Mengira Na-Ri gagal audisi penyiar, Chi-Yeol pun mencoba menenangkannya dan memintanya tidak perlu memikirkannya karena baginya Na-Ri sudah melakukan apa yang terbaik yang ia bisa.

Hwa-Shin dan Jung-Won sama-sama dengan menjemput Na-Ri. Mobil keduanya bertemu di perempatan. Dengan emosi, keduanya membunyikan klakson mobilnya. Na-Ri sendiri saat itu sedang berkemas karena ingin pergi dari rumahnya hingga Jung-Won dan Hwa-Shin sama-sama menyerah mengejarnya. Saat lewat di minimarket Lee Hong-Dan (Seo Eun-Su), ia memarahi Pyo Bum (Seol Woo-Hyung), mengatakan bahwa semua ini salahnya. Na-Ri meminta Hong-Dan untuk menjaga Chi-Yeol karena ia akan pergi bersembunyi untuk sementara waktu.

Hwa-Shin dan Jung-Won sama-sama keluar dari mobilnya. Jung-Won menghampiri Hwa-Shin dan dengan emosi bertanya, “Na-Ri mengatakan ia menyukai orang lain. Kamu tahu siapa dia, bukan? Katakan padaku, kamu tahu siapa dia, bukan?”

Jung-Won lalu menarik Hwa-Shin ke pinggir jalan dan menghempaskannya ke tembok. Bentaknya, “Kamu tahu siapa tikus itu, kan, jadi katakan padaku! Ia mengatakan ia menyukai seseorang dan ia ingin berpisah denganku. Kamu memutar balik helikopter agar kamu bisa mengantarkannya ikut audisi, bukan? Kamu melepaskan audisi tesmu supaya ia bisa mengikuti tes, bukan? Kamu menggambar “I Love You, Pyo Na-Ri”, bukan?”

“Itu benar,” jawab Hwa-Shin, “Itu benar, aku mencintai Pyo Na-Ri.”

Tanpa basa-basi Jung-Won langsung memukul wajah Hwa-Shin.

“Kamu bisa tetap mencintainya. Aku juga akan mencintainya. Kamu berharap keadaan tetap seperti sebelumnya, tapi tidak bisa. Aku akan mengembalikan keadaan seperti sebelumnya ke masa 4 tahun lalu dimana ia mencintaiku.” respon Hwa-Shin.

“Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin menghajarmu,” ujar Jung-Won geram. “Menyerahlah.”

“Aku sudah memikirkan 100 kali untuk menyerah, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa lagi melakukannya. Kamu menyerahlah.” balas Hwa-Shin.

“Aku tidak akan pernah melepaskan sesuatu yang aku inginkan,” ujar Jung-Won. “Dan tidak sekali pun aku pernah menginginkan sesuatu mati-matian seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya menyerah!”

“Jadi kamu bisa belajar bagaimana caranya menyerah kali ini dan belajar bagaimana hidup di dunia ini”

“Kamu terbiasa menyerah, jadi kamu yang melakukannya.”

“Siapa yang terbiasa untuk menyerah, dasar tikus,” respon Hwa-Shin.

“Aku tidak akan menyerah untukmu, dan tidak akan menyerahkan Na-Ri juga. Aku tetap akan melakukan hal yang sama untukmu seperti yang selalu aku lakukan dan aku akan melakukan apa saja yang aku inginkan untuk Na-Ri.” tegas Jung-Won.

“Apa yang sudah kamu lakukan untukku? Seperti apa? Baju ini?” tanya Hwa-Shin. Ia pun melepaskan bajunya satu persatu sembari mengatakan bahwa ia tidak membutuhkannya.

“Kamu mengatakan kamu bisa melakukan yang lebih untuknya daripada yang aku bisa,” kata Hwa-Shin.

“Celana itu. Bukankah aku juga memberikanmu celana itu?” tanya Jung-Won.

Sambil tertawa Hwa-Shin pun melepaskan celananya dan melemparkannya ke hadapan Jung-Won, sembari berkata, “Ambillah semua hal yang pernah kamu berikan kepadaku. Mari kita akhiri yang ada di antara kita, di sini dan saat ini juga. Aku akan mengepak semua (pemberianmu) yang ada di rumah dan mengirimkannya ke tokomu, jadi ambillah semua! Kamu memberi dan mengambilnya kembali. Dasar murahan.”

“Kamulah yang memberi dan mengambil kembali. Kamu lupa bahwa kamu yang telah mengenalkanku kepadanya?”

9

10

11

Saat itulah Na-Ri datang. Melihat Hwa-Shin yang hanya mengenakan boxer, Na-Ri segera mengambil baju Hwa-Shin dan memakaikannya. Hwa-Shin menolak, mengatakan ia tidak mau lagi mengenakan baju itu. Na-Ri lalu mengajaknya kembali ke mobil untuk mengambil baju ganti, namun Hwa-Shin kembali menolak. Ia berbalik menanyakan apa yang hendak dilakukan Na-Ri begitu melihat koper yang ia bawa. Na-Ri pun mengaku bahwa ia akan melarikan diri.

“Apakah ada perang?” tanya Hwa-Shin.

“Ada. Lihat saja sendiri”, jawab Na-Ri, sambil melepas mantelnya dan mengenakannya ke tubuh Hwa-Shin.

“Kamu tidak boleh melarikan diri. Jangan.”, pinta Jung-Won.

Pertanyaan Jung-Won memancing Na-Ri untuk mengomeli mereka berdua yang sudah bertengkar gara-gara dia. Na-Ri pun meminta mereka untuk berbaikan kembali. Ia lalu terduduk dan mengucapkan permohonan maafnya.

“Aku mencintai kalian berdua dan aku tidak akan lagi mencintai kalian berdua.” ujar Na-Ri.

“Tarik kembali kata ‘berdua’,” bentar Jung-Won.

“Ku mohon jangan bertengkar. Jika aku pergi, itu akan menyelesaikannya. Aku hanya harus pergi, jadi mari kita akhiri ini di sini. Ini dimana takdir kita berakhir.”

Na-Ri pun lanjut meminta mereka berdua untuk menemui wanita lain saja. Keduanya menjadi emosi mendengarnya. Pada akhirnya mereka baru berhenti setelah dimarahi oleh pemilik rumah di daerah tersebut yang merasa terganggu 😀

Mereka bertiga lalu menuju ke apartemen Na-Ri. Na-Ri kembali menegaskan bahwa ia tidak akan mencintai mereka lagi. Ia bahkan berjanji tidak akan mencintai siapapun lagi dan menjalani sisa hidupnya dengan penuh rasa penyesalan.

“Maksudku, bagaimana aku bisa punya dua hati? Maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf.”, ucap Na-Ri sebelum ia masuk ke kamarnya.

12

13

Pagi harinya, sekretaris Cha mendapati Jung-Won mabuk di ruangan kantornya. Saat mereka berdua melangkah keluar, ibu Jung-Won, Kim Tae Ra (Choi Hwa-Jung), melihatnya. Malam harinya ia mendatangi apartemen Na-Ri untuk menemuinya. Tanpa berkata apa-apa, ia menghampiri Na-Ri dan menamparnya lalu pergi begitu saja. Jung-Won sendiri masih mabuk-mabukan hingga saat itu. Pun begitu dengan Hwa-Shin. Keduanya lantas menelpon Na-Ri. Meski tidak diangkat, baik Hwa-Shin dan Jung-Won sama mencurahkan perasaannya pada Na-Ri melalui telpon, juga memintanya untuk tidak mengencani yang lainnya. Di akhir curhat mereka terdengar suara bahwa pesan mereka telah direkam.

Na-Ri kembali hendak pergi meninggalkan rumah. Tanpa diduga sudah ada Hwa-Shin, dalam keadaan mabuk, menunggunya di tangga. Tanpa mengatakan apa-apa, ia langsung mencium Na-Ri. Na-Ri pun mendorongnya. Karena Hwa-Shin kembali menciumnya, Na-Ri akhirnya menamparnya. Ia lalu pergi meninggalkan Hwa-Shin tanpa berkata apa-apa.

15

16

Satu bulan berlalu. Na-Ri kini telah menjadi pembawa berita acara pagi. Sementara itu, Sung-Sook kini berpartner dengan Um Gil Hae (yang flirting dengannya di episode lalu saat menghindari Kim Rak). Direktur Oh Jong-Hwan (Kwon Hae-Hyo) sedikit khawatir dengan duet keduanya karena mereka sudah terkenal tidak akur sejak pertama bekerja di SBC. Hwa-Shin sendiri sepertinya sudah pindah kembali ke rumah ibunya (Park Jung-Soo). Ibunya terus menanyakan berbagai hal yang tidak dihiraukan oleh Hwa-Shin.

Sebagai pembawa berita baru, Na-Ri terus diberi masukan dan saran oleh Ja-Young. Ia mengingatkan bahwa sebelumnya Na-Ri sudah beberapa kali membuat masalah, sehingga ia harus memanfaatkan kesempata ini sebaik-baiknya. Lagipula saat ini ia masih terikat kontrak dan belum menjadi pembawa berita sepenuhnya.

Entah darimana, Jung-Won baru tiba kembali ke Seoul. Sudah ada ibunya dan Geum Soo-Jung (Park Hwan-Hee) menyambut di bandara. Tae-Ra mengatakan bahwa ayah Jung-Won ingin bertemu dengannya. Pun demikian dengan orang tua Soo-Jung. Seperti sudah pasrah, Jung-Won mengiyakannya.

Saat sedang menonton siaran berita yang dibawakan Na-Ri, ibu Hwa-Shin menanyakan tentang mantel Na-Ri yang ada di kamar Hwa-Shin. Ia berniat untuk membuangnya karena terlihat jelek, tapi Hwa-Shin melarangnya. Sementara itu, dalam perjalanan berdua bersama sekretaris Cha, Jung-Won mencoba untuk menghubungi Na-Ri, namun Na-Ri tetap tidak mengangkatnya. Ia lalu menggunakan ponsel yang satu lagi, yang tercatat sebagai “tukang komplain” di kontak Na-Ri. Kali ini Na-Ri mengangkatnya. Walau begitu, Jung-Won hanya terdiam mendengarkan suara Na-Ri, hingga akhirnya Na-Ri menutup telponnya.

“Aku salah mengira aku sudah bisa melupakannya. Mendengar suaranya membuatku merindukannya.” ujar Jung-Won.

Sekretaris CHa mengingatkan bahwa sekarang bukan waktu yang tepat karena ibu Jung-Won terlihat gembira karena akan segera bertemu kembali dengan suaminya. Kembali ke kantor, Hong Hye-Won (Seo Ji-Hye) menawarkan apakah Na-Ri berniat untuk datang ke kencan buta karena ia berhalangan. Na-Ri mengiyakan.

17

18

19

20

Hwa-Shin akhirnya kembali bekerja di kantor usai masa skorsingnya berakhir. Di depan kantor, ia sempat bertemu dengan Na-Ri, yang sedang menikmati udara segar. Sempat berhenti dan saling pandang, dengan gaya cool Hwa-Shin menanyakan apakah Na-Ri sedang menunggunya. Na-Ri hanya terdiam dan tetap memandangnya. Sambil tersenyum simpul, Hwa-Shin melanjutkan langkahnya masuk ke dalam gedung. Di dalam, ia bertemu dengan Hye-Won.

“Akankah kamu membayar hutangmu atau tidak?” tanya Hye-Won.

“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Hwa-Shin heran.

“Aku menunggumu hingga skorsingmu berakhir agar aku bisa menagihnya.”, jelas Hye-Won. Yang ia maksud sepertinya uang $10,000 yang dipinjam Hwa-Shin beberapa waktu lalu.

“Aku akan memberikannya kepadamu hari ini,” jawab Hwa-Shin.

Hye-Won lalu menceritakan tentang Na-Ri yang minggu lalu dan hari ini ikut kencan buta.

“Ia pasti sudah tidak punya lagi perasaan tersisa untukmu,” pancing Hye-Won.

“Aku juga punya blind date hari ini,” respon Hwa-Shin sambil berlalu.

Beberapa waktu kemudian Na-Ri dan Hwa-Shin kembali bertemu. Kali ini di dalam lift yang membawa keduanya naik ke lantai ruang kerjanya. Hwa-Shin mengunngkit soal kencan buta yang akan dijalani Na-Ri hari ini. Na-Ri tidak mengomentarinya, hanya tersenyum.

21

22

Jung-Won tiba di hotel miliknya. Ia mengatakan pada sekretaris CHa bahwa ia dipecat karena tidak menuruti keinginannya untuk tidak membawanya ke sana. Sekretaris Cha dengan santai menjawab bahwa seandainya ia menuruti keinginan Jung-Won ia juga bakal dipecat oleh ibu Jung-Won. Langkah Jung-Won mendadak berhenti. Tanpa diduga, di pelataran cafe (atau rumah makan ya?) hotel terlihat Na-Ri sedang ngobrol dengan seorang pria (Lee Sun-Kyun) yang menjadi rekan blind date-nya. Sekretaris Cha yang tidak melihat Na-Ri meminta Jung-Won untuk segera naik ke kamarnya untuk bersiap-siap.

Ternyata Hwa-Shin juga ada di sana. Diam-diam ia memperhatikan Na-Ri dari kejauhan. Entah apa yang ada di dalam hatinya, tapi Na-Ri terlihat cukup nyaman ngobrol bersama dengan pria tersebut. Tak lama kemudian si pria pamit untuk pergi ke toilet. Na-Ri yang menyadari kehadiran Hwa-Shin segera menghampirinya dan memintanya untuk pergi. Tapi Hwa-Shin justru mengatur duduknya dan menatap ke arah Na-Ri.

“Kamu bilang kamu akan tinggal sendirian dan tidak akan pernah berkencan lagi. Kamu bilang kamu akan hidup hingga tua sendirian. Kamu bilang kamu tidak akan pernah menemukan orang yang lebih baik daripada Jung-Won atau aku.”, ujar Hwa-Shin.

“Kamu percaya itu?” tanya Na-Ri.

Hwa-Shin tidak menghiraukannya. Ia melanjutkan kata-katanya, “Bagaimana bisa kamu pergi kencan buta? Bahkan di hotel milik Jung-Won.”

“Kam naif,” jawab Na-Ri.

“Kamu mengatakan tidak akan ada pria lain dalam hidupmu. Kamu bilang kamu tidak akan menemukan seorang pria dan akan hidup sendirian hingga akhir hayatmu untuk membayar apa yang telah kau lakukan. Kamu bilang kamu tidak berhak untuk cinta. Kamu berlutut dan memohon. Berapa banyak hati yang kamu punya? Apakah kamu punya ratusan atau ribuan? Tidak bisakah kamu hidup tanpa pria? Ini baru sebulan. Tidakkah kamu menghargai hubunganmu sebelumnya?”

“Kamu butuh pria lain untuk bisa melupakan yang lainnya.” respon Na-Ri.

“Biarkan aku bertanya satu hal saja,” pinta Hwa-Shin. “Tidakkah kamu punya sedikit saja rasa yang tersisa untukku? Kamu pasti punya sedikit saja yang tersisa, bukan? Aku tidak akan meminta lebih. Sudah cukup. Ayo pergi.”

Mendadak Hwa-Shin memaksa Na-Ri untuk ikut bersamanya. Na-Ri menolak, tapi Hwa-Shin terus memegang tangannya dan menariknya. Tanpa diduga saat itu Jung-Won keluar dan bertemu dengan mereka. Ia segera mendatangi Na-Ri dan menggandeng tangannya.

“Siapa yang memperbolehkanmu untuk menemui pria yang gak jelas (terjemahan random guy rasanya paling cocok ini),” ujar Jung-Won.

“Lepaskan aku,” pinta Na-Ri sambil menarik tangannya.

Sesaat kemudian partner blind date Na-Ri kembali. Na-Ri segera mendatanginya dan meminta maaf. Jung-Won lantas memerintahkan sekretaris Cha untuk membawa Hwa-Shin keluar agar tidak mengganggu tamu. Meski sempat kaget, sekretaris Cha tetap memerintahkan security yang berjaga di belakangnya untuk melakukan perintah Jung-Won. Hwa-Shin pun dibawa dengan paksa keluar dari hotel.

23

24

Sepeninggal partner kencan buta Na-Ri, Jung-Won mengungkapkan bahwa ia merindukannya. Na-Ri tidak menjawabnya dan pergi berlalu darinya. Di luar hotel, Hwa-Shin langsung menghampiri Na-Ri begitu melihatnya keluar. Tanpa basa-basi, ia meminta Na-Ri untuk berkencan dengan mereka berdua.

“Mari biarkan ia berkencan dengan kita berdua dan memilih siapa yang lebih ia sukai.”, ujar Hwa-Shin.

“Kamu gila?” tanya Jung-Won.

“Aku hanya ingin melihatnya. Aku tidak peduli apakah ia menemui pria lain asalkan aku bisa melihatnya. Tanpa melihatnya, aku rasa jantungku akan meledak.” jelas Hwa-Shin.

Na-Ri menolak melakukannya. Hwa-Shin tidak peduli, bahkan terus mempromosikan rencananya itu pada Jung-Won. Ujarnya, “Ini lebih baik dari kehilangannya. Bisakah kamu hidup tanpanya? Kamu tidak mau melakukannya?”

“Tidak,” jawab Jung-Won.

“Kalau begitu jangan ikut campur,” ujar Hwa-Shin.

“Ini tidak masuk akal,” ucap Na-Ri sembari menggelengkan kepalanya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.

“Kamu benar-benar gila,” ujar Jung-Won, sebelum ikut melangkah meninggalkan Hwa-Shin.

25

Beberapa saat kemudian mobil Hwa-Shin yang diambil oleh petugas vallet tiba.

“Ia pasti ketakutan,” ujar Hwa-Shin, sebelum masuk ke mobil dan berlalu.

Na-Ri tiba kembali di hotel untuk mengambil barang-barangnya. Sambil menatap hujan yang turun dengan deras, Na-Ri tersenyum membayangkan saat-saat Jung-Won juga Hwa-Shin dulu mengungkapkan perasaan meereka kepada Na-Ri. Tanpa diduga, pria yang tadi ia kencani datang menghampiri dan menanyakan apakah ia mau bertemu dengannya lagi. Na-Ri mengiyakan. Keduanya lalu melangkah bersama sembari berpayungan menerobos air hujan.

Preview Episode 16

Coming soon

» Sinopsis ep 16 selengkapnya

19 Comments - Add Comment

Reply