Sinopsis Jealousy Incarnate Episode 14 & Preview Episode 15 (2016)

Di sinopsis Jealousy Incarnate episode sebelumnya, Kim Tae-Ra (Choi Hwa-Jung) berupaya untuk mencegah Pyo Na-Ri (Kong Hyo-Jin) mengikuti audisi penyiar dengan cara memajukan jam audisi menjadi pukul 8 pagi, sedangkan pada hari itu sendiri Na-Ri harus membawakan sesi ramalan cuaca di Jamsil, tempat dilaksanakannya Cosmos Festival, yang jaraknya dengan gedung audisi cukup lumayan. Mengetahui rencana ibunya, Ko Jung-Won (Ko Gyung-Pyo) tidak tinggal diam. Bersama sekretaris Cha (Park Sung-Hoon), mereka mencoba mengulur waktu agar Tae-Ra terlambat sampai di gedung audisi. Pun begitu dengan Lee Hwa-Shin (Cho Jung-Seok), yang nekat menggunakan helikopter untuk menjemput Na-Ri di Jamsil. Apa yang kira-kira bakal terjadi di sinopsis drama korea Incarnation of Jealousy episode 14 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 14

“Kamu sudah gila,” ujar Na-Ri.

“Ini hanya makan waktu 3 menit,” respon Hwa-Shin. “Kita akan tiba di sana dalam waktu 3 menit. Aku akan membantumu tiba di tempat audisi tepat waktu.”

“Terima kasih, aku sungguh berterima kasih. Tapi jangan lakukan apa-apa lagi untukku lagi. Mari katakan 3 menit untuk menebus 3 tahun,” ucap Na-Ri. Ia terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Aku tidak bisa memikir apapun tentang audisi karenamu. Aku bahkan tidak tahu apakah ini karena ujian atau karena aku takut ketinggian atau karenamu, tapi ku rasa jantungku akan meledak.”

Hwa-Shin terdiam dan menatap Na-Ri dengan tampang kasihan. Mereka pun terkaget karena tahu-tahu pilot mengabarkan bahwa mereka sudah sampai. Na-Ri bergegas turun dan berlari turun menuju lantai 1 melalui tangga darurat (karena lift penuh), sementara Hwa-Shin meminta pilot untuk melanjutkan kembali perjalanan ke Busan.

Kertas audisi sudah mulai dibagikan. Na-Ri sudah tiba di lantai dan hendak masuk ke ruangan saat Hwa-Shin tiba-tiba muncul dari belakang dan menariknya kembali ke tangga darurat. To the point, Hwa-Shin langsung memberitahukan tips dan trik untuk mengikuti audisi agar bisa lolos. Ternyata ia juga sengaja melakukannya agar Na-Ri, yang sudah hampir kehabisan nafas karena berlari dari helipad hingga ke bawah, bisa mengatur kembali nafasnya. Tepat di saat waktu menunjukkan jam 8 kurang 1 menit, Na-Ri masuk ke lantaruang audisi.

Beruntung baginya, usaha Jung-Won untuk menghambat perjalanan ibunya cukup berhasil. Hingga saat itu Tae-Ra masih belum juga tiba di gedung audisi, sehingga dengan persetujuan juri lain yang sudah siap, PD Choi Dong-Gi (Jung Sang-Hoon) memutuskan untuk menunggu hingga Tae-Ra tiba sebelum audisi dimulai. Tae-Ra sendiri akhirnya sampai sekitar 15 menit kemudian. Ia sempat mengomel pada Jung-Won yang ia anggap telah mempermalukan dirinya demi seorang wanita, namun Jung-Won tidak terlalu menghiraukannya. Saat ibunya masuk ke ruang juri, dan setelah Jung-Won memastikan Na-Ri sudah berada di ruang audisi, sekretaris Cha mengajak Jung-Won untuk menonton siaran langsung audisi tersebut dari layar TV yang ada di sudut gedung.

1

2

3

4

Audisi pun dimulai. Sesuai nomer urut, Na-Ri maju sebagai peserta nomer satu. Ujiannya sendiri dilakukan dalam beberapa babak, untuk mengetes kemampuan peserta, tidak hanya dari cara mereka membawakan berita, melainkan juga bagaimana mereka menghadapi perubahan berita (breaking news), kondisi yang tidak diinginkan, hingga berimprovisasi pada saat video berita bermasalah dan tidak kunjung muncul di layar. Meski sempat panik, Na-Ri beberapa kali terbayang akan pesan-pesan Hwa-Shin sebelumnya. Ia bahkan membayangkan Hwa-Shin ada di hadapannya, memberikan instruksi dan petunjuk apa yang harus ia lakukan.

Pada akhirnya, semua juri setuju bahwa Na-Ri adalah satu-satunya peserta audisi yang berhasil selesai tepat waktu dan juga sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Bahkan termasuk Kye Sung-Sook (Lee Mi-Sook), yang awalnya tidak terlalu menyukai Na-Ri. Tentu saja tidak termasuk Tae-Ra, yang dengan pedenya membeberkan segala macam kekurangan yang ia anggap berada di diri Na-Ri. Tahu bahwa Tae-Ra hanya mencari-cari kesalahan, juri-juri lain tidak ada satu pun yang menghiraukannya.

6

7

8

Usai audisi, Na-Ri sengaja menyendiri di tangga darurat dan menangis melupakan emosinya karena akhirnya berhasil melalui audisi tersebut. Hwa-Shin tiba kembali di kantor tak lama kemudian dan segera menelpon Na-Ri. Namun di saat yang sama Na-Ri bertemu dengan Jung-Won, yang sudah menunggunya sedari tadi di bawah tangga. Saat disinggung mengenai berbahayanya naik motor, Na-Ri hanya terdiam tanpa memberitahunya bahwa ia tadi dibantu oleh Hwa-Shin. Ia lalu menceritakan bahwa ia beruntung karena salah satu juri datang terlambat.

Jung-Won tersenyum mendengarnya, lalu menggandeng tangan Na-Ri sambil berkata, “Baguslah. Mulai sekarang kamu hanya akan mendapatkan keberuntungan baik.”

Hwa-Shin yang tidak sengaja melihat mereka dari kejauhan segera menyingkir. Sementara Jung-Won membawa Na-Ri ke mobilnya. Saat masuk ke dalam, Na-Ri melihat kertas gambar Bum yang dibawa oleh Jung-Won. Buru-buru ia memasukkan kertas gambar tersebut ke tasnya. Dalam perjalanan, Jung-Won jadi penasaran pada Na-Ri yang terus menerus menggenggam erat tasnya, sehingga ia memintanya untuk menaruhnya di bawah. Agar Jung-Won tidak curiga, Na-Ri pun menurutinya. Jung-Won lalu mengajaknya ngobrol, tapi Na-Ri hanya terdiam dan tersenyum tanpa menanggapnya.

“Pikiranku blank sekarang, gegara ujian sudah selesai,” ujar Na-Ri, “Tetaplah bersamaku.”

“Itu saja yang kau inginkan?” tanya Jung-Won.

Na-Ri mengiyakan. Sedangkan Hwa-Shin, ngedumel sendirian di lift karena Na-Ri tidak mengabarkan apa-apa. Keluar dari lift, ia berpapasan dengan Hong Hye-Won (Seo Ji-Hye). Hwa-Shin lantas menanyakan tentang Na-Ri, yang ditanggapi dengan omelan Hye-Won karena Hwa-Shin tidak lagi berlatih audisi bersamanya. Karena Hwa-Shin tidak terlalu menghiraukan omelannya, akhirnya Hye-Won memberitahukan tentang Na-Ri, yang berhasil ikut audisi tepat waktu dan melakukan ujiannya dengan baik.

10

11

12

Karena harus mengurusi beberapa dokumen bisnis, Jung-Won dan Na-Ri membeli makanan dan membawanya pulang untuk dimakan di kantor Jung-Won. Sambil duduk di meja kerja Jung-Won, keduanya pun makan bersama. Meski berulang kali Jung-Won mengajaknya ngobrol, Na-Ri hanya tersenyum sambil menatapnya. Na-Ri lalu membahas tentang Jung-Won yang pasti banyak disukai wanita.

“Aku juga jatuh cinta padamu pada pandangan pertama,” aku Na-Ri.

Jung-Won tidak percaya mendengarnya, tapi Na-Ri memastikan demikian. Dengan tersipu malu Jung-Won lalu membahas mengenai Na-Ri yang berani menghadapi ular yang dimunculkan tiba-tiba dalam ujian audisi. Ia pun kaget karena ternyata Na-Ri bukannya berani, melainkan sudah menebak kalau itu ular mainan karena sudah mendengar bagian properti yang diminta untuk menyiapkan ular karet.

“Kerja bagus hari ini,” ujar Jung-Won sembari menggenggam tangan Na-Ri.

Karena sebelumnya tidak bisa menghubungi Ja-Young dan Sung-Sook, Kim Rak (Lee Sung-Jae) datang ke kantor SBC. Ia tiba tepat di saat Ja-Young hendak keluar. Ia pun langsung kaget melihat ada Kim Rak di sana. Saat ditanya apakah ia sudah makan malam, dengan cepat Ja-Young menjawab sudah. Ia lantas mengorbankan Sung-Sook dan mengatakan pada Kim Rak bahwa Sung-Sook belum makan 😀 Apes bagi Ja-Young, kebohongannya terbongkat begitu saja saat Hye-Won lepas di hadapannya dan menanyakan apakah ia jadi makan malam bersamanya atau tidak. Sung-Sook sendiri, begitu keluar dari lift dan melihat ada Kim Rak bersama dengan Ja-Young, segera bersembunyi di belakang seorang pria. Begitu mengetahuinya, pria tersebut malah jadi ge-er dan membantunya untuk kabur, namun sebagai gantinya sibuk flirting dengan Sung-Sook.

Aksi nekat Hwa-Shin yang meminta pilot helikopter untuk mengubah rute akhirnya ketahuan. Direktur Oh Jong Hwan (Kwon Hae-Hyo) memarahinya habis-habisan dan memastikan ia akan dikenani sanksi atas tindakannya itu. Hwa-Shin sendiri tetap tidak mau mengaku mengapa ia melakukan hal tersebut. Sementara Na-Ri, tanpa sengaja ikut mendengarnya dan jadi merasa bersalah.

Na-Ri tiba di rumah dengan perasaan gundah gulana. Tak lama kemudian Hwa-Shin pun tiba. Mereka berdua lantas makan es krim bersama di sebuah minimarket. Na-Ri lantas berterima kasih atas bantuan Hwa-Shin sebelumnya. Namun Hwa-Shin bergaya santai dan menanggapi seolah-olah itu hal biasa. Ia juga menasehati Na-Ri agar tidak terlalu sering mempertanyakan hidup, melainkan sebaliknya, membuat pernyataan, agar hidupnya bisa lebih sukses.

“Bolehkah aku menyukaimu?” tanya Hwa-Shin tiba-tiba.

Na-Ri kaget mendengarnya. Perlahan ia menoleh ke arah Hwa-Shin.

“Ini hanya akan seperti naksir diam-diam. Biarkan aku melakukannya untuk sementara waktu. Kamu dulu juga melakukannya. Kamu menyukai Jung-Won. Baik-baiklah terhadapnya. Aku juga menyukaimu. Kamu bilang kamu ingin ada seseorang yang diam-diam naksir kepadamu, jadi biarkan aku melakukannya. Ini bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Aku akan melakukannya. Jadi kamu berlakulah sama seperti aku dulu. Ini akan menyenangkan. Ini pasti memuaskan. Nikmatilah., ujar Hwa-Shin.

“Kamu benar bermaksud seperti itu? Apa kamu gila?” tanya Na-Ri.

“Jangan sampai tergoda olehku. Jangan sampai tergoda.” balas Hwa-Shin, sembari melangkah pergi meninggalkannya.

13

14

15

16

Hari berganti. Esok paginya, Hwa-Shin sarapan bersama ibunya (Park Jung-Soo), Ja-Young, Sung-Sook, dan Lee Bbal-Gang (Mun Ka-Young). Mereka bertiga kaget melihat ibu Hwa-Shin penuh perhatian terhadap Hwa-Shin, bahkan menyuapinya sambil berulang kali memanggilnya dengan sebutan “baby” (sayang). Bbal-Gang tidak tahan melihatnya dan beranjak masuk ke kamar. Ibu Hwa-Shin segera menyusulnya. Di dalam kamar, ia menjelaskan pada Bbal-Gang bahwa Hwa-Shin sedang terkena kanker payudara dan ia tidak mau kehilangan Hwa-Shin juga. Ibu Hwa-Shin meminta agar Bbal-Gang mau memaafkan dan bersikap baik pada Hwa-Shin. Sementara itu, Ja-Young dan Sung-Sook sibuk menyindir Hwa-Shin yang senang dipanggil “baby”. Mereka pun berniat untuk memanggilnya “baby” mulai dari sekarang.

Na-Ri mendatangi showroom mobil untuk membeli mobil. Ia kasihan pada Jung-Won yang setiap dini hari menjemputnya ke rumah. Setibanya di kantor, Na-Ri berulang kali tertemu Hwa-Shin. Ia pun berulang kali berusaha untuk menghindarinya. Bahkan saat dalam perjalanan pulang, ia masih sempat bertemu Hwa-Shin yang sedang duduk bersama Pyo Bum (Seol Woo-Hyung). Gegara Hwa-Shin menyindirnya sering membawakan ramalan cuaca yang salah, Na-Ri yang sudah melewatinya pun berbalik dan meminta Bum untuk segera pulang karena sudah larut malam. Ia juga meminta Bum untuk berhenti menggambar. Na-Ri jadi makin bete karena Hwa-Shin membela Bum.

“Jangan mencintaiku,” ujar Na-Ri pada Bum. “Jangan mencintaiku, oke? Jangan mencintai Pyo Na-Ri. Gambarlah yang lain. Gambar anak anjing atau anak kucing yang kamu suka. Gambar kelinci. Ada banyak hal yang kamu suka.”

“Aku merindukanmu bahkan ketika aku melihatmu,” respon Hwa-Shin.

“Kamu mengerti?” balas Na-Ri sambil pergi meninggalkan mereka.

17

18

19

Hari kembali berganti. Esok harinya, di kantor, direktur Oh dan Sung-Sook meminta Hwa-Shin mengikuti mereka. Ternyata sanksi bagi Hwa-Shin sudah ditetapkan dan itu berarti suspensi selama 1 bulan serta pemotongan 6 bulan gaji. Hwa-Shin syok mendengarnya karena berarti ia juga tidak bisa mengikuti audisi. Namun pada akhirnya ia menerima keputusan tersebut. Sung-Sook yang melihatnya pasrah begitu saja menjadi agak heran dan yakin bahwa Hwa-Shin bakal kembali lagi nanti.

Saat keluar ruangan, Dong-Gi yang berpapasan dengan Hwa-Shin menyinggung soal sanksi yang diterima Hwa-Shin. Karena Na-Ri juga kebetulan berada di sana, Hwa-Shin mengatakan bahwa hal itu tidak benar. Namun Dong-Gi terus memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama, sekaligus menyinggung soal audisi Hwa-Shin yang tidak bisa ia ikuti, sehingga Na-Ri pun meyakini hal tersebut.

Saat hendak masuk ke lift, Na-Ri sempat terpaku melihat Ja-Young sudah lebih dulu ada di dalam. Ia lebih terpaku lagi saat Ja-Young mengatakan bahwa dalam waktu dekat ia akan dipanggil oleh pihak HR, untuk membahas masalah penerimaannya sebagai penyiar. Sepeninggal Ja-Young, Na-Ri pun menangis.

Tae-Ra datang ke kantor Jung-Won dengan kesal. Ia heran pada juri lain yang tidak mempertimbangkan pendapatnya tentang Na-Ri dan tetap meluluskan Na-Ri sebagai pembawa berita. Dengan tenang Jung-Won menghampirinya dan memegang pundaknya dari belakang.

“Ibu, aku merasa senang belakangan ini. Aku bersemangat bahkan pada saat aku sedang sibuk.”

“Karena wanita itu?” tanya Tae-Ra.

“Bahkan bekerja pun menyenangkan. Jadi biarkan aku berkencan.” pinta Jung-Won.

Kali ini ibunya tidak lagi membantahnya, hanya menghela nafas panjang.

20

21

22

Kembali ke kantor, Na-Ri tidak berhasil menemukan keberadaan Hwa-Shin. Telponnya pun juga tidak diangkat. Namun saat melihat jam, ia ingat bahwa saat ini adalah saat dimana Hwa-Shin akan berangkat ke rumah sakit untuk terapi. Meski hujan sedang turun dengan deras, Na-Ri menerobosnya dan hujan-hujanan menunggu Hwa-Shin di pinggir jalan, tempat dimana mereka sebelumnya selalu janjian untuk bertemu sebelum berangkat ke rumah sakit.

Hwa-Shin yang sebelumnya sengaja tidak mengangkat telpon Na-Ri akhirnya menghentikan mobilnya saat melihat Na-Ri yang berdiri di tengah derasnya hujan. Begitu tahu Na-Ri menunggu di sana karena tahu Hwa-Shin akan pergi ke rumah sakit, Hwa-Shin pun kembali menjalankan mobilnya untuk menuju rumah sakit bersama Na-Ri.

Saat Hwa-Shin sedang bersiap untuk berganti baju, Na-Ri menerima pesan teks dari Jung-Won, yang memintanya untuk memberitahukannya terlebih dahulu mengenai hasil audisi Na-Ri apabila sudah keluar hasilnya.

“Kamu harus bersandar padaku terlebih dahulu, oke?” pinta Jung-Won.

Na-Ri terdiam membacanya. Bukannya segera membalas untuk memberitahu hasil ujiannya, Na-Ri malah berpikir tentang Hwa-Shin. Ia lalu melangkah ke depan ruang ganti Hwa-Shin.

“Aku tidak akan pernah membiarkan kamu menggodaku” ujar Na-Ri.

“Oke”, jawab Hwa-Shin.

“Aku tidak akan pernah menyukaimu lagi.”, Na-Ri melanjutkan.

“Oke”, jawab Hwa-Shin kembali.

“Apakah aku gila?” tanya Na-Ri.

“Itu sudah cukup”

23

Tanpa diduga Na-Ri masuk ke dalam kamar ganti. Ia lalu mengeluarkan kertas gambar yang ia ambil dari mobil Jung-Won dan menunjukkannya pada Hwa-Shin.

“Meskipun kamu menggambarkanku 1000 gambar seperti ini dalam 100 hari, aku tidak akan menengok kembali,” ujar Na-Ri sembari merobek-robek kertas gambar tersebut.

Hwa-Shin hendak mengambil robekan kertas gambar tersebut namun ia berhenti dan berkata, “Aku mengerti, keluarlah”.

Bukannya keluar, Na-Ri malah masuk kembali.

“Kamu tahu betapa hebatnya temanmu itu, kan?” ujar Na-Ri. Ia lalu melanjutkan dengan menyebutkan semua kelebihan Jung-Won dari Hwa-Shin.

“Kebalikannya. Kebalikannya yang sama persis adalah kamu. Kamu mengerti itu, kan?” tanya Na-Ri.

“Ya, kamu benar, aku mengerti. Kamu menerobos masuk hanya untuk mengatakan itu? Keluarlah.” jawab Hwa-Shin.

Dan Na-Ri masuk kembali sembari berkata, “Aku adalah penyihir yang jahat.”

“Akan berbahaya jika kamu tetap tinggal.”

“Aku lulus,” ujar Na-Ri. “Aku ingin mengatakan itu kepadamu terlebih dahulu.”

“Aku mengingatkanmu, akan berbahaya jika kamu tetap tinggal.”

“Jung-Won adalah pria yang hebat. Ia orang yang baik. Kamu orang yang jahat.”

“Aku setuju,” respon Hwa-Shin, sambil melangkah mendekat ke arah Na-Ri.

“Kamu orang yang jahat,” ujar Na-Ri sekali lagi.

“Aku setuju”

“Kamu teman yang jahat.”

“Aku setuju dengan itu,” balas Hwa-Shin, yang menyusulnya dengan ciuman ke bibir Na-Ri. Na-Ri membalasnya.

“Apakah kamu gila?” tanya Hwa-Shin.

“Ya, setidaknya untuk saat ini,” jawab Na-Ri.

Mereka pun kembali berciuman.

Preview Episode 15

Coming soon

» Sinopsis ep 15 selengkapnya

Reply