Sinopsis Individualist Ms. Ji-Young Episode 2 *TAMAT* (KBS2, 9 Mei 2017)

Di sinopsis Individualist Ms. Ji-Young episode sebelumnya, Na Ji-Young (Min Hyo-Rin) putus dengan pacarnya, Yeon-Seok (Ji Il-Joo), karena tahu bahwa di belakangnya ia berselingkuh. Di saat hampir bersamaan, Park Byeok-Soo (Gong Myung) justru diputuskan oleh kekasihnya, Ye-Jin (Jang Hee-Ryung), yang sudah bosan dengannya. Meski awalnya tidak akur, Ji-Young yang tinggal di sebelah kamar apartemen Byeok-Soo sedikit demi sedikit mulai bisa mengobrol dengan Byeok-Soo. Bahkan saat keduanya sama-sama galau karena sendirian di hari natal, Ji-Young ‘mengundang’ Byeok-Soo untuk naik ke tempat tidurnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis episode 2 kali ini?

Dok. gambar dan video © KBS2 of Korea Selatan

Sinopsis Individualist Ms. Ji-Young Episode 2

“Serius,” jawab Ji-Young seraya menundukkan mukanya.

Byeok-Soo terbengong sejenak, lantas menjadi bingung harus berbuat apa.

“Kita hanya mengobrol, oke? Jangan menyesalinya nanti atau meributkannya,” ujar Byeok-Soo, “Dan jangan berkata begitu pada pria lain. Aku pria baik, makanya aku pergi. Oke?”

Byeok-Soo membalikkan badannya dan hendak melangkah pergi. Tanpa disangka, Ji-Young memegangi lengannya.

“Jangan pergi,” pinta Ji-Young, “Tetaplah bersamaku. Meski aneh, tapi kadang kala, aku juga tidak ingin sendirian. Lagipula, aku juga tidak bersama seseorang yang sepenuhnya asing. Dan hari ini…”

Perlahan Byeok-Soo duduk di tempat tidur Ji-Young. Setelah mengatur posisi, ia memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya ke arah Ji-Young, hendak menciumnya. Belum sempat hal itu terjadi, Ji-Young sudah menamparnya terlebih dahulu.

“Siapa yang menyuruhmu menciumku?” bentak Ji-Young. “Tidak boleh. Kalau nekat, ku gigit kau.”

“Apa? Baiklah,” respon Byeok-Soo.

Ia terdiam sejenak, lalu mengulurkan tangannya ke arah Ji-Young untuk membukakan bajunya. Sama seperti sebelumnya, kali ini Ji-Young menepis tangan Byeok-Soo.

“Kau pikir aku tidak punya tangan? Kita bisa melepas baju masing-masing,” ujar Ji-Young.

“I.. iya,” jawab Byeok-Soo terbata.

“Orang lain biasanya mendekati Ji-Young-ssi,” lanjut Byeok-Soo, “Jangan terlalu defensif pada mereka. Di dunia ini masih banyak juga orang baik. Lagipula Ji-Young-ssi juga orang yang jauh lebih baik dari penampilan luarnya. Aku tahu itu.”

“Buka saja bajumu dan tutup mulutmu itu,” respon Ji-Young.

Dan mereka pun akhirnya menghabiskan ‘waktu’ bersama. Namun saat Ji-Young bangun dan mendapati Byeok-Soo sedang tertidur di sampingnya, ia langsung mengusirnya keluar. Meski sempat kaget, Byeok-Soo memberikan senyum lebar kepadanya dan melambaikan tangannya sembari mengucapkan selamat malam pada Ji-Young.

Sepeninggal Byeok-Soo, Ji-Young mengganti seprei yang tadi ia gunakan, membersihkan kamar, hingga menyemprotkan pengharum. Ia agak bimbang apakah yang barusan ia lakukan karena pengaruh obat yang ia minum sebelumnya atau memang keinginannya sendiri.

Hari berganti. Ji-Young masuk ke dalam lift untuk berangkat ke rumah sakit. Tahu Byeok-Soo juga sudah bersiap untuk berangkat, ia galau apakah hendak menunggu Byeok-Soo atau tidak. Setelah capcipcup yang hasilnya adalah menunggu, Ji-Young memutuskan untuk meninggalkan Byeok-Soo. Tepat di saat pintu lift hampir tertutup, tangan Byeok-Soo menggapainya agar terbuka kembali. Di saat itulah Ji-Young melihat cincin yang biasa digunakan Byeok-Soo saat masih berpacara dengan Ye-Jin ternyata masih melingkar di jarinya.

“Hari ini shift pagi? Kau pasti lelah,” ucap Byeok-Soo sambil tersenyum-senyum sendiri. “Semalam berlebihan?”

“Tidak, tuh,” jawab Ji-Young sambil mendengus.

“Syukurlah. Oh ya, aku belum pernah memulai hubungan dari arah berlawanan. Aku bingung harus bagaimana sekarang?”

“Arah berlawanan? Apa maksudmu? Apa sekarang kau berencana mengencaniku? Kau lebih polos dari dugaanku.”

“Apa?” tanya Byeok-Soo heran.

“Tidak, kita anggap saja kita ini dua orang yang saat natal tidak memiliki kegiatan apa pun, jadi saling menghibur satu sama lain. Mengerti?” jelas Ji-Young dingin.

“Apa? Menghibur? Apa?” Byeok-Soo kebingungan berkata-kata.

“Bukan begitu? Apa kau minta bayaran atas kemarin? Aku tidak menyukai pria gampangan sepertimu. Kau suka hubungan bertahap?”

“Tentu saja. Mana mungkin tidak?”

“Aku mengganti passwordku. Aku kembali berhati-hati lagi. Dan bicaralah formal padaku,” ucap Ji-Young sembari melangkah keluar dari lift.

Setelah sempat terbengong-bengong dengan ulah Ji-Young, dengan kesal Byeok-Soo lalu menyusulnya keluar dan menghampirinya.

“Hei, kau. Asal tahu saja, aku juga tidak terlalu menikmatinya semalam. Kau pasti berpikir dirimu masih cantik dan lucu, tapi kau salah.”

“Aku tidak merasa perlu bicara lagi denganmu,” respon Ji-Young sambil terus melangkahkan kakinya.

“Kau semestinya senang pria muda sepertiku bicara informal padamu. Ingatlah itu, noonim. Hal itu bisa menyelamatkan rasa malumu nanti. Juga, kepribadianmu yang sulit, bukan akunya yang gampangan!”

Tanpa membalas Ji-Young mempercepat langkahnya dan meninggalkan Byeok-Soo.

Byeok-Soo berteriak dengan kesal di kantor meluapkan emosinya. Asisten manajer Choi (Kang Jae-Joon) yang melihat cincin di jari Byeok-Soo langsung menyadari kesalahan Byeok-Soo. Begitu tahu akan hal itu, Byeok-Soo hendak segera menghubungi Ji-Young, namun ia baru ingat kalau ia tidak punya nomer telponnya. Choi pun memberi masukan dan meminta Byeok-Soo menghubungi kenalannya yang punya paras cantik.

Sementara itu, di rumah sakit, Ji-Young tidak bisa bekerja dengan tenang karena terus terbayang-bayang Byeok-Soo. Pun begitu, ucapan Byeok-Soo yang meminta agar Ji-Young tidak terlalu bersikap defensif ternyata masuk ke dalam kepalanya. Setelah shift berakhir, tiba-tiba Ji-Young mengatakan pada nurse Park (Kim Jae-Hwa) dan nurse Kim (Yoon Ji-Won) kalau ia akan ikut pergi minum dengan mereka.

Usai acara minum, tinggal nurse Park dan Ji-Young yang masih belum pulang.

“Miss Na, aku tidak berusaha mendekatimu hanya untuk bertukar jadwal,” ujar nurse Park sambil tersenyum. “Ya, memang itu termasuk, tapi bukan satu-satunya alasan. Sebelumnya, aku merasa sangat terluka. Apa kau mengerti?”

“Maafkan aku,” balas Ji-Young.

“Tidak, aku sudah baik-baik saja.”

“Putrimu… hadiah natalnya…”

Nurse Park tertawa mendengar pertanyaan Ji-Young.

“Aku membohonginya, meski aku tidak ahli berdusta. Kau mau lihat?” ujar nurse Park sembari menunjukkan foto anaknya yang ada di ponselnya.

“Dia lucu, kan?” lanjut nurse Park. “Dia sudah SD sekarang. Sebentar lagi ku jelaskan padanya.”

“Nanti juga dia tahu dengan sendirinya. Biarkan saja sampai saat itu tiba,” respon Ji-Young.

“Miss Na, kau lebih baik dari dugaanku,” balas nurse Park.

Ji-Young tiba di apartemennya dengan naik taksi bersama nurse Park. Sesaat kemudian, giliran Byeok-Soo datang, dengan diantar oleh seorang wanita cantik.

“Noona, senang bertemu denganmu,” ujar Byeok-Soo pada wanita tersebut saat mereka keluar dari mobil. Dan terima kasih mau menolongku.”

“Lagipula masih dua minggu lagi. Kamarnya memang disewakan kok. Atau kau mau tinggal saja bersamaku?” tanya wanita tersebut.

Byeok-Soo hanya tersenyum tanpa menjawabnya. Demikian pula Ji-Young, yang mendengarkan semua itu tanpa berkata apa-apa. Saat Ji-Young melangkah masuk menuju apartemen, Byeok-Soo menyusulnya. Mencium bau alkohol dari tubuh Ji-Young, ia menanyakan apakah Ji-Young baru saja pergi minum.

“Menurutmu bersama siapa lagi?” jawab Ji-Young acuh.

Namun demikian, dalam benak Ji-Young, ia berharap Byeok-Soo akan menanyakan kembali dengan siapa Ji-Young pergi minum. Sayangnya, Byeok-Soo justru membahas masalah kucing. Dengan kesal, Ji-Young menanggapi pertanyaan-pertanyaan Byeok-Soo dengan dingin.

Di dalam lift, Ji-Young menanyakan apakah benar Byeok-Soo sudah siap untuk pindah.

“Ya, sudah siap pindah,” jawab Byeok-Soo, “Perlu dua minggu lagi sampai bisa ditempati, jadi aku tinggal di tempat temanku dulu.”

“Ah, begitu rupanya, hebat sekali,” respon Ji-Young.

“Ah, kau ingin nomerku… tidak jadi, lagipula kau tidak mungkin menelponku. Ya, kan?” tanya Byeok-Soo.

Tanpa menunggu jawaban, Byeok-Soo kembali sibuk dengan ponselnya.

Esok harinya, Byeok-Soo mulai memindahkan barang-barangnya. Ji-Young sempat melihatnya saat hendak berangkat kerja, namun karena gengsi, ia berpura-pura cuek dan melanjutkan perjalanannya. Nyatanya, ia terus saja kepikiran, sampai-sampai tidak fokus selama bekerja. Malam harinya, ia kembali berpapasan dengan Byeok-Soo yang baru saja keluar dari kamarnya. Entah disengaja atau tidak, Byeok-Soo tidak menoleh ke arahnya sama sekali dan pergi begitu saja, meninggalkan pot tanaman milik Ji-Young dahulu yang kini sudah segar kembali di depan kamarnya.

Jurnal menjadi media pelampiasan kekesalan Ji-Young. Saat sedang mengetik, tiba-tiba bel kamar berbunyi. Melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul 1/2 1 malam, dengan berhati-hati Ji-Young mengintip dari lubang pintu. Byeok-Soo yang ternyata ada di depan pintunya. Reflek raut wajah Ji-Young terlihat senang.

“Siapa ya?” tanyanya berpura-pura jual mahal.

“Aku, unit 705,” jawab Byeok-Soo.

“Ada apa? Kenapa kemari?”

“Buka pintunya, aku ingin bicara.”

Dengan segera Byeok-Soo membereskan kamarnya, termasuk menyembunyikan pot tanaman yang ia bawa serta menyempatkan mematut diri di depan cermin.

“Ah, kenapa kemari larut malam begini?” tanyanya pura-pura kaget.

“Kau sudah selesai bekerja? Ah, pasti kita bersimpangan jalan. Aku menunggumu di ujung jalan saja dari tadi. Aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal padamu. Aku tidak tahu nomor ponselmu maupun tempat kerjamu. Aku hanya tahu alamat rumahmu,” jawab Byeok-Soo sambil bercanda.

“Kau sudah gila?” respon Ji-Young seraya membanting pintu.

“Oi, se.. sebentar! Hei!”

Tanpa diduga, pintu kamar terbuka dan Ji-Young mempersilahkannya untuk masuk sebentar.

“Ah, tidak usah. Kau tinggal sendirian..”

“Kau tidak mau masuk kemari, tapi tidak masalah pada gadis lain?” tanya Ji-Young dengan nada cemburu.

“Jadi kau pura-pura tidak tahu?” balas Byeok-Soo. “Sebenarnya, noona itu balikan dengan mantannya. Aku dicampakkan. Aku akan tinggal di sauna saja selama beberapa hari. Jadi, jaga dirimu. Di luar sungguh dingin, jangan sampai flu.”

Byeok-Soo lantas melangkah pergi dengan gontai dan sedikit terbatuk-batuk. Saat hendak turun menggunakan lift, tanpa diduga Ji-Young menyusulnya.

“Ah, kebetulan sekali, ya. Sebenarnya, aku shift malam selama dua minggu. Aku akan pulang ke rumah saat kau sedang kerja dan selama aku bekerja, kau bisa tinggal di sini. Dengan begitu kita tidak perlu bertemu,” ujar Ji-Young berbohong.

“Tak usah, mana bisa aku melakukannya,” respon Byeok-Soo.

“Ini kompensasi. Sudah ku bilang akan membayarmu kembali.”

“Te.. tetap saja,” balas Byeok-Soo sambil terbatuk-batuk.

“Kalau begitu, cukup keluar saja saat aku sedang libur kerja. Kita tidak bisa berada di sini bersamaan. Mengerti?”

Kembali ke kamar, Ji-Young mengatur tempat tidur bagi Byeok-Soo di lantai, lalu memakai mantelnya.

“Aku ada shift malam ini, jadi aku pergi. Kalau begitu, selamat malam,” ujar Ji-Young.

“Bukannya kau baru pulang kerja?” tanya Byeok-Soo heran.

Ji-Young terdiam.

“Sampai jumpa, aku akan menunggu,” lanjut Byeok-Soo.

Dari luar apartemen, Ji-Young menoleh ke arah kamarnya. Byeok-Soo sudah berdiri di sana, melambaikan tangannya sambil menunjukkan pot tanaman yang sebelumnya disembunyikan oleh Ji-Young. Dengan malu Ji-Young berbalik badan dan melangkah pergi. Byeok-Soo sendiri langsung menghubungi Choi untuk mengabarkan bahwa rencananya sudah berhasil.

Di rumah sakit, nurse Park kaget mendapati Ji-Young sedang berada di ruang ganti karyawan.

“Oh, miss Na, apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku hanya tidak bisa tidur, jadi memilih belajar di sini,” jawab Ji-Young.

“Um, apa untuk dua minggu ke depan, aku dan unnie bisa bertukar shift saja?” lanjut Ji-Young.

“Oh, aku senang mendengarnya,” respon nurse Park. “Tapi sungguh tidak masalah?”

“Ya, terjadi sesuatu. Urusan pribadi,” jawab Ji-Young.

“Ada apa denganmu? Kau sampai mengubah jadwalmu demi alasan pribadi?” tanya nurse Park heran. “Bagaimanapun, aku senang.”

Dan sejak saat itu, Ji-Young dan Byeok-Soo bergantian tinggal di kamar apartemen Ji-Young. Sedikit demi sedikit Ji-Young mulai merasa nyaman hidup berbagi dengan orang lain, meski tidak benar-benar menjalani segala sesuatunya bersama.

Suatu hari, saat pulang dari bekerja, tanpa sengaja Ji-Young berpapasan dengan Byeok-Soo. Gugup dan salah tingkah, ia hendak menanyakan apakah Byeok-Soo sudah makan. Namun tanpa disangka, yang keluar dari mulutnya justru ajakan untuk makan bersama. Dengan senang hati Byeok-Soo menyanggupi.

Tidak itu saja, usai makan, ‘kencan’ mereka berlanjut ke nonton film midnight. Saat masuk ke studio, Ji-Young sempat bimbang begitu melihat di dalam hampir semuanya datang berpasangan. Ketika ia hendak membalikkan badan, Byeok-Soo segera menggenggam tangannya sambil tersenyum dan mengajaknya untuk duduk. Di tengah-tengah menonton, Ji-Young kembali salah tingkah saat matanya dan mata Byeok-Soo saling bertatapan.

Acara mereka selanjutnya adalah berbelanja.

“Mau bikin sup kimchi saja untuk Senin?” tanya Ji-Young.

“Aku kan pindah setelah akhir pekan ini. Kau tidak ingat?” respon Byeok-Soo.

“Apa? Tentu saja aku ingat,” dalih Ji-Young.

“Lalu kenapa kau beli banyak sekali?”

“Karena aku akan memakan semuanya hari Senin dan Selasa.”

Byeok-Soo tersenyum mendengarnya, lantas mengambil sekotak cereal. Melihat cincin dari Ye-Jin yang masih tetap berada di jari Byeok-Soo, dengan emosi Ji-Young mengambilnya lantas melemparkannya ke lantai. Ia menatap wajah Byeok-Soo dengan penuh kekesalan, lalu pergi meninggalkannya. Byeok-Soo kembali tersenyum melihat ulah Ji-Young.

Byeok-Soo kemudian menyusul Ji-Young yang sudah keluar dari supermarket.

“Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Byeok-Soo, masih tetap tersenyum.

“Tidak tahu,” jawab Ji-Young ketus.

Byeok-Soo tertawa kecil mendengarnya, lantas menyorongkan wajahnya dan mencium bibir Ji-Young. Tanpa disangka, Ji-Young menggigit bibirnya hingga ia pun kesakitan.

“Sudah ku bilang jangan melakukannya,” bentak Ji-Young.

“Baiklah, aku pergi. Aku pergi saja. Kau.. jangan coba menghentikanku,” balas Byeok-Soo.

Byeok-Soo sempat menghentikan langkahnya, mengira Ji-Young bakal menahannya. Namun Ji-Young tetap berdiam diri. Dengan kesal Byeok-Soo pergi meninggalkannya hingga menghilang di ujung gang. Tiba-tiba ia kembali lagi menghampiri Ji-Young.

“Kau keterlaluan sekali,” bentak Byeok-Soo. “Aku akan jujur sekarang. Aku tidak dapat tempat baru dan bohong juga soal tempat temanku. Aku bermaksud tinggal bersamamu. Aku tidak ingin menjadi bodoh dan terluka lagi. Aku marah padamu karena mendorongku pergi, makanya aku berbohong. Jika kau tidak membuka hatimu, aku ingin tetap menerobos masuk. Kau yang terburuk, tahu? Apa sulitnya melarangku pergi?”

“Jika ku bilang jangan pergi lalu kau tetap melakukannya?” tanya Ji-Young. “Kau menyukaiku atau hanya membutuhkan tempat untuk tinggal?”

“Kau sungguh tidak tahu?” tanya Byeok-Soo balik.

“Kenapa kau menyukai aku? Seseorang mengatakan seleranya aneh pada orang yang mengencaniku.”

“Semua orang tersenyum di depan namun menusuk dari belakang. Kau dingin di luar, tapi hatimu hangat. Orang-orang mudah tertipu dengan penampilan, padahal hati seseorang yang terpenting.”

“Aku mungkin akhirnya akan melukaimu juga.”

“Kalau takut akan hal itu, maka aku tidak akan memulai apa pun. Jika memang aku bisa selangkah lebih dekat denganmu meski harus terluka dulu, aku tidak takut untuk melaluinya.

“Aku tidak akan berubah. Apakah itu tidak masalah?”

“Kau tidak perlu berubah. Tetaplah begitu. Aku akan merengkuhmu. Kau hanya perlu memberiku izin untuk melakukannya.”

Ji-Young terdiam. Wajahnya tertunduk. Sesaat kemudian ia menyentuh dada Byeok-Soo dengan jarinya sambil berkata, “Baiklah.”

“Apa?” tanya Byeok-Soo bingung.

“Baiklah, aku baru saja mengatakannya,” jawab Ji-Young dengan kesal.

Byeok-Soo tersenyum, lalu memeluk erat Ji-Young.

“Aku tidak perlu keluar malam ini, kan? Aku bisa tetap bersamamu?” tanya Byeok-Soo.

Ji-Young mengangguk mengiyakan.

“Di masa mendatang juga?” tanya Byeok-Soo lagi.

“Ya,” jawab Ji-Young, “Kau akan memahamiku, kan?”

“Ya. Boleh aku bicara informal?”

“Kau begitu senang?”

Keduanya tersenyum. Byeok-Soo kemudian meraih kepala Ji-Young, menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah ada orang di sekitar, lalu menciumnya.

Sejak itu kehidupan Ji-Young berubah, termasuk tempat tidurnya yang kini menjadi ukuran double. Ia juga tidak sungkan untuk menunjukkan kebersamaannya bersama Byeok-Soo di tempat umum. Suatu hari, tanpa sengaja Byeok-Soo menjatuhkan laptop milik Ji-Young saat ia sedang tidak ada di rumah. Khawatir terjadi apa-apa, Byeok-Soo membawa laptop tersebut ke tempat servis untuk direparasi.

Di kantor, Byeok-Soo mendapat kabar mengejutkan, bahwa ia terpilih oleh perusahaan untuk dikirimkan ke luar negeri selama setahun. Byeok-Soo menjadi galau karena saat ia mendaftar pada waktu itu kondisinya adalah habis putus dengan Ye-Jin. Ia takut hubungannya dengan Ji-Young sekarang bakal renggang apabila ia pergi meninggalkannya dalam waktu lama.

Setelah jam makan siang, Byeok-Soo mengambil kembali laptop Ji-Young yang sudah selesai diperbaiki. Ia mencoba menyalakannya untuk mengecek kondisinya. Melihat folder Diary yang ada di desktop Ji-Young membuat Byeok-Soo kepo dan membukanya. Ia pun jadi tahu masalah Ji-Young yang tidak mau berhubungan lagi dengan ibunya, juga tidak mau membesuk ayahnya yang dalam keadaan kritis. Tanpa terasa Byeok-Soo meneteskan air mata.

Byeok-Soo lalu menemui dokter Jung Soo-Kyung (Oh Na-Ra) yang namanya tercantum dalam jurnal Ji-Young. Setelah mengaku sudah membaca jurnal Ji-Young, Byeok-Soo meminta saran agar hubungannya dengan Ji-Young bisa menjadi lebih kuat lagi.

“Itu akan sulit,” jawab Soo-Kyung. “Mungkin 10-20 kali lipat lebih sulit dari hubungan biasa. Apa kau yakin bisa mengatasinya? Ku sarankan sih putus saja.”

“Tidak, saya tidak mau,” tegas Byeok-Soo.

Soo-Kyung lalu menyarankan agar Byeok-Soo membuat Ji-Young mendekat ke arahnya dan menganggap Byeok-Soo sebagai dinding baja kokoh yang bisa melindunginya.

Malam harinya, Ji-Young sedang membuat selai dan memasukkannya ke dalam toples-toples kecil. Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia hanya melihatnya sekilas lantas mematikan panggilan tersebut. Pada Byeok-Soo yang berada di belakangnya, Ji-Young berdalih itu hanya spam.

“Mau ubah password rumah agar kau tidak lupa?” tanya Ji-Young.

“0000?” tanya Byeok-Soo.

“Ya tidak begitu juga,” balas Ji-Young.

“Lalu… 1234?”

“1225 saja bagaimana? Kan hanya kita yang tahu artinya,” ujar Ji-Young.

“Tentu saja. Itu hari dimana cinta kita bersemi,” respon Byeok-Soo sambil tersenyum.

“Apaan sih? Itu hanya hari pertama kita tidur bersama. Hari lahirku juga,” ucap Ji-Young lirih.

“Jadi… apa orang tuamu masing-masing menikah lagi? Masih berhubungan dengan mereka?” tanya Byeok-Soo.

“Mereka tidak menikah lagi, tapi kami masih berkomunikasi.”

“Kabar mereka baik?”

“Tentu saja.”

“Waktu itu, saat aku meninggalkan tanamannya dan pindah tanpa pamit, kau merasa terluka tidak?”

“Merasa terluka karena dilukai seseorang, aku bukan tipe semacam itu. Aku sekuat baja kok.”

Karena dokter Soo-Kyung juga menyarankan agar Byeok-Soo terus mengikuti perasaan Ji-Young, Byeok-Soo perlahan menghampiri Ji-Young dan memeluknya dari belakang.

“Aku tidak peduli meski kau terbuat dari baja maupun kaca. Menangis dan tertawa bersama denganmu, aku akan jadi orang seperti itu,” ucap Byeok-Soo.

“Apa?” tanya Ji-Young heran.

“Tutup matamu, aku punya hadiah,” lanjut Byeok-Soo. “Jangan berbalik, ya.”

Hadiah yang dimaksud ternyata adalah seekor anak kucing. Ji-Young sedikit kaget menerimanya, lalu kemudian memberinya nama ‘Bori’.

“Aku sudah menutup hatiku dan menguncinya agar tidak ada yang bisa membuka,” ujar Ji-Young dalam hati, “tapi akhirnya terbuka kembali.”

Keesokan harinya, Ji-Young membagi-bagikan toples selai buatannya ke rekan kerjanya. Namun kecerahan suasana hatinya tidak berlangsung lama. Ibunya tiba-tiba datang menemuinya di rumah sakit.

“Aku sudah bilang jangan menemuiku di sini,” ucap Ji-Young. “Sudah ku bilang aku tidak ingin bertemu lagi untuk selamanya. Aku hanya tidak habis pikir, eomma hanya datang padaku karena uang. Ambil semuanya, aku tidak butuh.”

“Meskipun kami pernah berbuat salah padamu, bagaimana bisa hubungan darah diakhiri,” balas ibu Ji-Young.

“Hubungan darah? Hanya karena melahirkan aku? Memang kenapa? Aku toh membayar setiap sen yang sudah dihabiskan membesarkanku! Apa belum cukup? Sepertinya begitu. Aku merasa semua itu sudah cukup!”

“Kau tidak akan lahir ke dunia kalau bukan karena kami.”

“Kalau begitu semestinya jangan melahirkanku. Dengan begitu, keadaan kita semua akan lebih baik,” ujar Ji-Young sembari pergi ibunya.

Setelah membuang toples-toples selai yang ia sebelumnya hendak ia bagikan, Ji-Young bergegas pulang ke apartemen. Ia tidak menghiraukan rekan-rekannya yang menyapanya. Beberapa saat kemudian Byeok-Soo tiba di rumah sakit, hendak menemui Ji-Young. Tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan ibu Ji-Young dengan nurse Park. Ibu Ji-Young tidak terima karena nurse Park tidak mau memberikan alamat Ji-Young kepadanya.

Ji-Young membuka laptopnya. Entah bagaimana, tiba-tiba ia mendapat firasat bahwa Byeok-Soo telah diam-diam membaca jurnalnya, terkait dengan sikap Byeok-Soo malam sebelumnya. Di saat yang sama, Byeok-Soo menelpon dan memintanya untuk menemuinya. Betapa kagetnya Ji-Young saat mendapati Byeok-Soo tidak sendiri menunggunya, melainkan bersama dengan ibunya.

“Sedang apa kau ini?” tanya Ji-Young.

“Kenapa kau tidak mengatakan padaku? Semestinya kau menceritakannya. Ayo masuk, kau harus memberi penghormatan pada ayahmu,” ujar Byeok-Soo sembari meraih lengan Ji-Young.

“Apa kau membaca diary di laptopku?” tanya Ji-Young.

“Ya,” jawab Byeok-Soo tanpa merasa bersalah.

“Semuanya?”

Byeok-Soo kembali mengiyakan. Dengan kesal Ji-Young menepis tangan Byeok-Soo dan melangkah pergi meninggalkannya. Byeok-Soo mengejarnya, namun saat ia menarik tangan Ji-Young, Ji-Young merespon dengan sebuah tamparan.

“Siapa kau datang kemari? Siapa kau berani menyuruhku kemari?” bentak Ji-Young.

“Eommoni bilang tidak bisa menghubungimu, jadi kau pasti belum dengar kabarnya,” jawab Byeok-Soo.

“Siapa yang kau sebut eommoni? Kenapa wanita itu jadi eommoni-mu?” balas Ji-Young dengan nada tinggi. “Aku punya alasan tidak menjawabnya. Aku sengaja mengabaikan dia. Kenapa kau coba mengorek kehidupanku? Kenapa?”

Tanpa menunggu jawaban, Ji-Young kembali melangkah dan menghentikan sebuah taksi. Namun baru beberapa meter melaju, taksi tersebut mendadak mengerem dan pak sopir memberitahunya bahwa sepertinya ia menabrak seekor anjing atau kucing.

Tiba di apartemen, Ji-Young bergegas mengecek kamarnya dan mendapati tirai jendela dalam keadaan terbuka. Sesaat kemudian Byeok-Soo masuk.

“Ji-Young-ah, beberapa waktu lalu, perusahaan menyuruku tugas ke luar negeri setahun. Seketika aku memikirkan hubungan kita mungkin tidak akan kuat menghadapi jarak sejauh itu. Itu sebabnya aku menolaknya dan memutuskan menjadi lebih dekat denganmu. Agar suatu saat nanti, meski kita menjalani hubungan jarak jauh, atau meski saling membenci dan lelah satu sama lain, hubungan kita tidak akan..”

“Keluar sana,” potong Ji-Young dingin.

“Kenapa?” tanya Byeok-Soo seraya memeluk Ji-Young dari belakang.

Ji-Young memberontak dan melepaskan diri dari pelukan Byeok-Soo.

“Ku bilang keluar,” tegas Ji-Young.

Di sebuah kafe, Ji-Young dan Byeok-Soo duduk bersama.

“Bisa kau jelaskan alasan kita harus putus?” tanya Byeok-Soo.

“Segala sesuatunya menjengkelkan,” jawab Ji-Young.

“Baik, diary itu. Kenapa kekasihmu tidak boleh membacanya? Aku juga tidak bermaksud membacanya. Aku… Kau berbohong dan menyembunyikan segalanya dariku. Kau itu sekuat baja? Jangan bercanda. Kau hanya berpura-pura agar tidak sampai terluka.”

“Aku hanya tidak mengerti mengapa harus terluka akibat sebuah hubungan.”

“Ji-Young-ah, semua orang tetap berkencan meski mereka tahu akan terluka.”

“Itu sebabnya aku tidak menginginkannya,” balas Ji-Young, “Aku tidak ingin berkencan. Kau mengklaim memiliki hak untuk membaca diary-ku? Bahkan dalam hubungan pacaran, tetap ada batasan.”

“Memang kau bisa mengklasifikasi batasan itu semaumu?”

“Ya,” jawab Ji-Young singkat.

“Itu karena aku menyukaimu. Kau hanya menunjukkan separuh dirimu.”

“Aku mengerti alasan hubunganmu selalu kandas. Kau tidak tahu cara membatasi diri.”

“Aku mengerti alasanmu gagal juga. Karena kau selalu membuat batas. Karena kau menolak menunjukkan kelemahanmu,” respon Byeok-Soo.

“Kelemahan akibat kau tidak membatasi diri, mau ku beritahu? Pertama, kau berumur tapi kekanakan. Kau selalu bergantung dan mengandalkan orang lain. Kau tidak memiliki keinginan untuk berdiri sendiri. Aku begitu membencimu. Seseorang bisa sempurna dengan dirinya sendiri. Itulah dewasa yang sesungguhnya. Mengerti? ” papar Ji-Young panjang lebar.

“Bagaimana denganmu? Kau tidak pergi ke pemakaman ayahmu. Itu yang namanya dewasa? Kau meributkan hal yang sebenarnya sepele!” bentak Byeok-Soo.

Sesaat kemudian Byeok-Soo menyadari kesalahan bicaranya. Ia pun mengucapkan permintaan maaf kepada Ji-Young.

“Tidak masalah, aku tidak terluka,” ujar Ji-Young ketus.

“Ji-Young-ah…,” ujar Byeok-Soo seraya mencoba meraih tangan Ji-Young.

“Aku tidak pernah mempercayaimu saat kau bilang menyukaiku,” lanjut Ji-Young.

“Kalau begitu, menurutmu apa alasanku tinggal bersamamu?”

“Ya kau itu hanya ingin tinggal bersama agar tidak perlu menyewa. Tidak harus aku, dengan siapa pun tidak masalah, kan?”

“Lalu kau, kenapa mau bersamaku?” tanya Byeok-Soo lirih.

“Aku belum pernah mencintai seseorang. Juga tidak pernah merindukan siapa pun.”

“Apa?”

“Jangan menatapku seperti itu. Memang kenapa? Aku memang terlahir begini.”

“Kalau begitu, semua yang kau katakan padaku?”

“Semuanya kebohongan. Ku pikir bisa menganggap kita sungguh berkencan, tapi aku salah. Maaf.”

“Tidak. Kau tidaklah seburuk itu.”

Pelayan kafe tiba-tiba menghampiri mereka dan memberitahu bahwa kafe sudah waktunya tutup. Byeok-Soo mengajak Ji-Young untuk pulang bersama dan sekali lagi mencoba meraih tangan Ji-Young. Ji-Young kembali menepisnya. Byeok-Soo tidak lagi bisa menahan emosinya dan berdiri dengan kasar hingga menjatuhkan kursi yang ia duduki sebelumnya.

“Hei, jangan pernah berkencan lagi,” ujarnya dengan tegas, “Jangan menikah ataupun punya anak. Jika kau begitu ingin mengacaukan diri, lakukan sendirian. Aku mengatakannya karena peduli padamu. Bagaimana bisa seseorang hidup tanpa orang yang mencintai dan dicintainya?”

“Aku lebih nyaman seperti ini,” balas Ji-Young.

“Tetap saja… Beruntungnya kau, kau tidak perlu terluka,” balas Byeok-Soo sambil menahan tangis. “Tidak mempercayai siapa pun, juga tidak menyukai. Kau pasti sangat bahagia.”

Dan Byeok-Soo pun pergi meninggalkan Ji-Young. Ji-Young langsung merespon dengan menghapus semua foto mereka dari ponselnya, begitu juga dengan nomer kontak Byeok-Soo. Tidak itu saja, setibanya di apartemen, Ji-Young memberesi semua barang-barang milik Byeok-Soo, termasuk pot tanaman mereka.

Selesai beres-beres, Ji-Young menemukan sebuah tas milik Byeok-Soo. Ada sebuah surat di dalamnya.

Mau ku beritahu sebuah rahasia besar? Santa itu tidak ada. Ku harap suatu hari nanti kau akan tersenyum selebar itu lagi. Pasti, aku yakin itu.

Di dalam tas tersebut, terdapat pigura berisi foto mereka berdua. Sudah terlanjur menutup diri kembali, Ji-Young tidak tersentuh sama sekali. Ia merobek surat tersebut serta membuang begitu saja pigura berisi foto mereka berdua hingga pecah. Bahkan, begitu melihat si Bori, ia segera membawanya ke toko binatang. Namun karena toko belum dibuka, ia meninggalkan kotak kucing berisi Bori begitu saja di depan pintu toko binatang tersebut.

Di rumah sakit, Ji-Young sedang mengurusi seorang pasien yang ia anggap merepotkannya.

“Kau pikir kami pengangguran sampai harus mengurusimu saja?” ujar Ji-Young.

“Tapi kau tahu,” balas pasien tersebut, “aku semestinya tidak pernah dilahirkan. Tidak ada yang mencintai aku. Tidak peduli betapa kerasnya aku mencoba, tak ada yang berubah.”

Ucapan si pasien ternyata mengingatkan Ji-Young dengan Byeok-Soo. Tiba-tiba ia menangis, tepat di saat nurse Park dan nurse Kim (Yoon Ji-Won) datang. Mereka pun kaget mendapati Ji-Young yang biasanya dingin tahu-tahu bersikap demikian.

Di ruang ganti karyawan, Ji-Young segera berusaha menghubungi Byeok-Soo. Entah benar atau salah, nomer yang ia panggil ternyata tidak terhubung. Nurse Park yang khawatir menyusul masuk ke dalam.

“Maafkan aku,” ucap Ji-Young sembari terisak, “Aku akan segera keluar. Segera…”

Nurse Park menghampiri Ji-Young dan memeluknya.

“Tak apa, menangislah sepuasmu. Tak apa, Ji-Young,” ujar nurse Park menenangkannya.

Dan tangis Ji-Young pun pecah di bahu nurse park.

Sejak itu Ji-Young mulai membuka dirinya. Setelah mengambil kembali Bori, ia juga menceritakan masa lalunya yang kelam pada Soo-Kyung, yang menyebabkan ia menjadi seperti sekarang ini. Ia mengaku bahwa meski selama ini berusaha tegar, namun di dalam ia merasa tidak baik-baik saja. Ia sadar bahwa selama ini ia hanya berpura-pura untuk kuat. Itu pula sebabnya ia memilih untuk meninggalkan orang yang dekat dengannya apabila ada hal kecil yang ia rasa bisa merusak hubungan mereka sebelum ia jadi terluka.

“Tapi orang itu muncul,” ujar Ji-Young sambil terisak. “Dia membuatku merasakan kebahagiaan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Rasanya sulit. Jika waktu pertemuan kami terulang, pasti tetap sulit untukku. Tapi aku merindukannya. Aku menginginkan dia. Sekalipun terasa sangat sulit, aku menginginkan kebahagiaan itu. Aku ingin menangis lepas, juga tertawa, kapan pun aku mau. Apa aku bisa melakukannya?”

Waktu berlalu. Selain sudah ramah dan mau bergaul dengan semua orang, Ji-Young juga sudah mau menerima telpon dari ibunya. Ia juga mau mendatangi makam ayahnya. Saat hendak berkonsultasi dengan dokter Soo-Kyung seperti biasa, tanpa diduga Soo-Kyung menolak untuk membaca jurnal Ji-Young.

“Seseorang baru saja datang,” cerita Soo-Kyung, “Kabarmu saat ini juga apakah kau masih cantik. Orang itu datang untuk menanyakannya. Ini konsultasi terakhirmu, jadi kau tidak perlu bayar.”

Sadar bahwa yang dimaksud adalah Byeok-Soo, Ji-young segera keluar untuk mencarinya. Di luar ia melihat sosok yang mirip dengan Byeok-Soo melangkah masuk ke dalam stasiun. Ji-Young bergegas menyusul dan mencarinya di sana. Melihat sosok tersebut berada di jalur seberang, kembali Ji-Young berlari menuju ke sana. Tiba di tempat sosok yang mirip Byeok-Soo tadi berdiri, Ji-Young terjatuh dan tidak menemukannya di sana. Kereta yang kebetulan tiba juga sudah menutup pintunya. Perlahan Ji-Young melangkah dan mencari keberadaan Byeok-Soo di dalam gerbong kereta. Namun seiring dengan kereta yang melaju, ia pun mulai putus asa.

“Ji-Young-ah,” sebuah suara tiba-tiba memanggilnya.

Ji-Young membalikkan badannya. Byeok-Soo ternyata yang telah memanggilnya, berdiri tidak jauh di hadapannya sambil tersenyum. Ji-Young kemudian berlari menghampirinya dan langsung memeluk erat Byeok-Soo.

*TAMAT*

Reply