Review Komik The Tithe #6 (2015)

Akhirnya sempat juga lanjut ngereview serial komik keren ini. Setelah sebelumnya dalam The Tithe #5 disajikan bagian pembuka dari arc anyar Islamophobia, kini aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam (padahal bukan) semakin memanas di edisi selanjutnya. Masalahnya, seperti pada fakta yang bisa kita lihat sendiri di dunia nyata, sebagian masyarakat dapat dengan mudah dipancing dan terhasut oleh ‘adu domba’ ini. Seperti apakah kelanjutan kisahnya? Akankah trio agen FBI James Miller, Dwayne Campbell, dan Samantha Copeland bisa menguak misteri siapa sebenarnya dalang di balik suicide bombing yang terjadi? Dan yang terpenting, apa motif mereka yang sebenarnya? Langsung deh simak sinopsis (with spoiler) dari The Tithe #6 berikut ini.

Sinopsis Komik

thetithe6

“ISLAMOPHOBIA,” PART 2. Hypocrisy hits new heights.

Story: Matt Hawkins
Art / Color: Rahsan Ekedal, Phillip Sevy
Judul Edisi: Islamophobia Part Two
Tanggal Rilis: 21 Oktober 2015

Aksi bom bunuh diri dari kelompok teroris yang menamakan diri mereka The Brotherhood of The Islamic Crescent mulai berdampak pada umat muslim di Amerika Serikat. Salah satunya adalah seorang pemilik toko di Dearborn, Michigan, yang dihajar oleh sekelompok pemuda di sana, hanya karena ia muslim. Aaliyah, anak dari agen Dwayne Campbell yang telah menjadi mualaf, kebetulan lewat di tempat tersebut dan membantu si pemilik toko. Alhasil, ketika polisi datang, ia pun ikut ditangkap dan ditahan.

Di New York, di markas FBI, Sam masih berusaha untuk mencari hubungan antara Adnan (pemuda pelaku bom bunuh diri) dengan kelompok The Brotherhood of The Islamic Crescent. Usahanya masih belum berhasil, kecuali fakta bahwa sebelum ia melakukan aksinya, Adnan selama beberapa waktu berkomunikasi dengan seseorang (atau kelompok orang?) via chat room. Dari situ pula Sam menemukan ada tautan ke 14 media sosial milik remaja-remaja keturunan Arab Amerika yang tinggal di negara bagian yang berbeda. James pun berencana untuk menyiapkan tim untuk menjemput keempatbelas remaja tersebut guna dimintai keterangan.

102_09

Campbell mendapat sebuah hubungan telepon yang berasal dari Aaliyah. Ia meminta agar ayahnya tidak usah panik dengan penahanan yang dialaminya dan meminta untuk menenangkan ibunya. Ternyata, ibu Aaliyah (atau Sheila, sebelum menjadi mualaf) belum sepenuhnya menerima keputusan hijrah Aaliyah tersebut, berbeda dengan Campbell yang ikhlas menerimanya, sehingga hubungan mereka bertiga agak kurang harmonis.

Keesokan harinya terjadi peristiwa pengeboman yang kedua. Kali ini di katedral di San Diego. Korban jiwa maupun yang terluka mencapai ratusan orang, pasalnya bom meledak di saat berlangsung acara pernikahan. Untungnya, ternyata ada satu bom yang tidak ikut meledak, sehingga FBI bisa menggunakannya untuk meneliti sumber teroris.

102_14

Seperti sebelumnya, muncul kembali video dari The Brotherhood of The Islamic Crescent yang mengklaim bertanggung jawab atas peristiwa ledakan bom di katedral. Yang mulai membuat para tokoh utama bingung, permintaan kelompok teroris tetap sama, yaitu agar Amerika menarik pasukan mereka dari Arab Saudi. Yang menjadi masalah, saat ini TIDAK ADA pasukan Amerika di sana, kecuali yang sedang mendapat tugas membantu tentara Arab untuk menggunakan senjata yang dibeli dari Amerika. Nah loh.

Lebih buntu lagi ketika hasil interview dengan 14 orang pemuda menyatakan bahwa mereka semua tidak kenal dengan Adnan dan tidak tahu menahu mengenai masalah terorisme ini. Sisi positifnya, Sam mulai menyadari bahwa enkripsi data komunikasi yang digunakan oleh kelompok teroris tersebut menggunakan teknologi yang cukup canggih, sekelas militer. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa terdapat udang di balik kedua ledakan bom.

Di penutup edisi, kita disajikan penampakan siapa sebenarnya biang kerok dari kedua aksi terorisme dan apa alasan ia melakukan hal tersebut. Sengaja tidak saya sebutkan namanya supaya tidak jadi spoiler yang keterlaluan, hehehe.


Saya angkat topi untuk Matt Hawkins, si pengarang cerita The Tithe. Di cerita seperti ini biasanya sebisa mungkin musuh utama dijaga erat-erat identitasnya, namun dari awal di arc Islamophobia ini justru diumbar oleh Hawkins. Jika sebelumnya sudah dibongkar rahasia bahwa kelompok teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri bukanlah benar-benar umat muslim, di edisi #6 ini malah sudah dibeberkan otak dari kelompok teroris abal-abal tersebut. Salut!

Di edisi ini, Hawkins berhasil menjaga ketertarikan pembaca dengan mulai memasukkan unsur hubungan rahasia antara James dan Sam, serta sedikit membuka masalah keluarga Campbell antara ia, istrinya, dan anaknya, Aaliyah, yang telah menjadi mualaf sejak beberapa waktu lalu. Istri Campbell belum bisa menerima hal tersebut sehingga hubungan mereka bertiga menjadi tidak seharmonis sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan, bumbu-bumbu apalagi yang bakal dihadirkan Hawkins dengan sudah dibongkarnya otak dari aksi terorisme ini?

Tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply