Review Komik The Tithe #5 (2015)

Lanjut review The Tithe nih, mumpung barusan rilis edisi teranyarnya, The Tithe #5. Cerita mulai memasuki arc kedua (baca dulu The Tithe Vol. 1) dimana Samantha Copeland, mantan bos hacker Samaritan, kini bergabung dengan agen James Miller dan agen Dwayne Campbell di FBI. Sayang tidak jelas lini masa kejadian di arc kedua ini, tapi sepertinya sudah agak lama (ya setidaknya berbulan-bulan lah) sejak Sam join. Seperti apa kisah di edisi perdana arc kedua ini? Yuk seperti biasa, cekidot sinopsisnya, reviewnya, dan spoilernya di bawah ini.

Sinopsis Komik

thetithe_5

“ISLAMOPHOBIA,” Part One. Dwayne, Jimmy, and Samaritan working together? Hypocrisy and prejudice reach an all-new level with more adrenaline-fueled heists!

Writer: Matt Hawkins
Art / Color: Rahsan Ekedal, Phillip Sevy
Tanggal Rilis: 23 September 2015

Kisah dibuka dengan aksi bunuh diri di sebuah gereja yang dilakukan oleh seorang bocah berusia 16 tahun bernama Adnan Markins. Lahir di Syria, ia kemudian diadopsi oleh Dr. Elizabeth Markins yang bekerja sebagai dokter untuk PBB di Syria. 2 tahun tinggal bersama orang tua angkatnya, Adnan juga telah mengikuti kepercayaan mereka dan berpindah menjadi pemeluk agama Katolik. Menjadi misteri kenapa tiba-tiba Adnan melakukan aksi terorisme ini (yang kemudian diketahui sebagai aksi yang terorganisir dan Adnan hanyalah sebagai ‘pengantin’ saja — istilah bagi anggota teroris yang melakukan aksi bunuh diri dengan meledakkan bom).

Ratusan orang meninggal dan terluka. FBI pun menurunkan tim mereka yang tentu sudah bisa ditebak siapa saja anggotanya. That’s right, ada agen James, agen Campbell, dan juga agen ‘magang’ Sam. Menarik untuk disimak dialog antar James dan Campbell, yang menunjukkan bahwa James menganggap bahwa aksi terorisme yang membawa nama agama adalah perintah dari tuhan mereka, sedang Campbell menanggapinya dengan bijak, bahwa pelakunya adalah oknum yang memiliki tujuan politis tertentu dan seringkali tidak terkait dengan tuhan ataupun agama mereka.

58_09

Agen Sam menyampaikan adanya video ancaman dari kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas aksi ledakan tersebut. Mereka menamakan dirinya The Brotherhood of The Islamic Crescent. Di gedung putih, presiden Wilhelms (cewek) memberikan konferensi pers yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mentolerir aksi terorisme yang terjadi, namun ia juga menyatakan bahwa Islam bukanlah musuh mereka.

Di Salem, Missouri, senator Owen McKitrick (yang juga seorang pastor) langsung bereaksi terhadap pernyataan presiden dan menyatakan bahwa Islam-lah musuh sesungguhnya. Ia menggunakan ayat Quran sebagai pendukung dari pernyataannya itu (yang dikutip di halaman pembuka The Tithe #5 ini, walau sayangnya ada kekeliruan dalam nomer ayat). Sam menyakini bahwa reaksi Owen adalah bagian dari propagandanya untuk menuju kursi US1, mengingat saat ini ia memiliki simpanan dana kampanye yang lumayan banyak.

58_15

Berpindah ke agen Campbell. Di markas FBI, pimpinan dari New York Islamic Center, imam Abi-Shamsi, menemuinya. Terungkap fakta bahwa salah satu anak Campbell adalah seorang mualaf, dan ialah yang meminta Abi-Shamsi menemui Campbell karena khawatir akan keselamatannya pasca adanya aksi terorisme tersebut. Abi-Shamsi juga menyatakan bahwa popularitas presiden Wilhelms justru ngedrop setelah ia memberi dukungan terhadap Islam.

America doesn’t like justice. It loves revenge.

Di penghujung edisi, pihak teroris mempersiapkan serangan ledakan yang berikutnya di sebuah gereja di bilangan San Diego, California. Yang lebih mengejutkan, terkuat fakta bahwa para pelaku terorisme ternyata BUKAN orang muslim, namun… baca aja sendiri deh biar greget, hehehe.


Agak deg-degan sebenarnya ketika pertama membaca komik ini. Apalagi baru halaman pertama, nomer ayat Al Qur’an yang dikutip ternyata salah. Harusnya dari surat Al Ma’idah ayat 51, bukan 54. Tapi syukurlah cerita yang disajikan cukup berimbang. Ada pihak yang pro dan ada pula yang kontra. Sesuai dengan fakta yang ada. Hawkins juga menyampaikan kekhawatiran warga muslim Amerika terhadap apa yang akan terjadi pasca serangan teroris karena seperti mungkin sudah diketahui, dulu pasca terjadinya tragedi WTC, banyak warga muslim Amerika yang mengalami tekanan dan siksaan, tidak hanya dari penduduk lainnya, tapi juga dari pihak pemerintah Amerika (yang tidak dipublikasikan tentunya). Yang sedikit disayangkan, mungkin untuk menghindari protes pembaca muslim, Hawkins langsung membeberkan bahwa pelaku sebenarnya bukanlah kaum muslim. Jadi agak berkurang kejutannya.

Poin plus ekstra dari edisi ini adalah fakta adanya hubungan romantis antara James dan Sam, yang setidaknya menunjukkan adanya perkembangan karakter. Campbell sendiri menentang hubungan mereka dan mengingatkan James bahwa apa yang ia lakukan bisa berbahaya bagi kehidupan dan juga karirnya (mengingat status Sam yang sebenarnya masih merupakan tahanan). Menarik untuk disimak bagaimana kelanjutan hubungan mereka di edisi-edisi mendatang.

Tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply