Review Komik Spidey #12 (2016)

Di cerita sebelumnya, Galactus menyerang. Spider-Man hendak turut bergabung bersama superhero lain yang sedang melawannya, namun ia dihadang oleh Scorpion. Apesnya, usai melawan Scorpion — yang ternyata bertindak di luar kesadarannya — Galactus sudah berhasil dikalahkan dan Spider-Man kebagian tugas beberes puing-puing bekas pertempuran. Segi positifnya, Gwen Stacy meminta Peter untuk menemaninya pada pesta dansa. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak deh edisi terakhir dari seri komik Spidey ini. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

spiderman_12

The Sinister Six strike! For several months, Doctor Octopus and the Six have been planning and waiting to take down Spidey, but do they have to do it on Peter Parker’s best week ever? It’s all been leading to this…can a lone Spidey defeat all six of his most powerful foes?

Story: Robbie Thompson
Art: Nathan Stockman
Color: Jim Campbell
Letter: VC’s Travis Lanham
Judul Edisi: Spidey No More!
Tanggal Rilis: 2 November 2016

Aunt May mendapatkan pekerjaan full-time di penampungan. Peter menyambut gembira berita tersebut dan menyelamatinya. Siangnya, di kantor Daily Bugle, Peter mencoba nego pada Jonah Jameson untuk mendapat gaji di muka karena ia hendak menyewa tuxedo dan butuh biaya makan malam usai acara dansa. Siapa sangka, kali ini Jonah memperbolehkannya. Pesta dansa Homecoming pun berjalan lancar. Usai pesta, Peter mengajak Gwen untuk dinner, dan lagi-lagi, siapa sangka, sebelum pulang, Gwen menciumnya.

Hari yang sempurna bagi Peter Parker a.k.a Spider-Man. Jika saja ia tidak bertemu dengan Sinister Six. Dimulai dari Mysterio, yang memancingnya dengan hologram dan membuatnya terjebak di atap gedung. Disusul dengan hadirnya Electro, yang mencoba untuk menyetrumnya dengan serangan listriknya (namun gagal). Berikutnya ada Vulture, yang mencengkeram Spider-Man dengan kakinya, membawanya ke angkasa, menabrakannya ke sebuah gedung, lantas menjatuhkannya begitu saja dari ketinggian.

Spider-Man terjatuh di hamparan pasir. Beruntung? Tidak juga, karena ternyata itu adalah Sandman. Setelah beberapa kali menghajarnya, ia mundur, digantikan oleh Kraven The Hunter. Spider-Man yang masih belum siap, kembali menerima tonjokan dan tendangan dari Kraven, hingga akhirnya ia terjatuh di hadapan Dr. Octopus. Musuh-musuhnya yang tadi bergantian melawannya juga sudah standby di belakangnya.

Saat itu Spider-Man teringat ucapan Gwen sebelum menciumnya, bahwa ia memilih Peter karena Peter tidak pernah menyerah. Itu memberinya suntikan semangat untuk kembali melawan Sinister Six dan pada akhirnya satu demi satu dapat ia kalahkan, walau harus mengorbankan kostumnya yang robek tidak karuan. Dan pada akhirnya juga, segala sesuatunya berjalan dengan baik bagi Peter. Tidak hanya kehidupan pribadinya, juga kehidupan superheronya.

Di penghujung halaman, Spider-Man membuang kostum lamannya yang telah robek ke tong sampah, dan berganti kostum yang baru sebagai The Amazing Spider-Man.


Well, saya sebenarnya mengharapkan lebih banyak aksi pertarungan melawan Sinister Six, mengingat harus menunggu sekian edisi untuk mencapai cerita ini. Tapi secara keseluruhan saya menyukai ending serial ini. Apabila Thompson tidak langsung menjejalkan semua penyelesaian masalah di satu edisi penghabisan ini saja, melainkan dicicil dalam beberapa edisi terakhir, sehingga tidak ada kesan dipaksakan.

Tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply