Review Komik Power Lines #2 (2016)

Meski karakter utamanya agak nyebelin gaya fashionnya, tapi (mini?) seri komik Power Lines ini tampak cukup menjanjikan. Khas terbitan Image Comics yang berani tampil beda, serial ini menyuguhkan tema SARA (khususnya masalah rasisme di Amerika) dengan balutan cerita fiksi. Tentang suatu kekuatan kuno legendaris bernama Power Lines yang tiba-tiba eksis kembali di era modern dan hadir di dalam tubuh orang-orang tertentu. Salah tiga di antaranya adalah D-Tricks, remaja berkulit hitam yang tinggal di kawasan kumuh dan bergaul dengan anak geng; Sarah Bellingham, janda muda dua anak berkulit putih; serta seorang pemuda dari suku Indian yang belum diketahui namanya. Masih belum jelas alur cerita utamanya, jadi mari kita ikuti saja perkembangan kisahnya di sinopsis komik Power Lines #2 berikut ini. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

powerlines2

“DENIAL” A local youth and a middle-aged woman struggle with their newly discovered superpowers. Meanwhile, the media invades their privacy, their families don’t understand, and worse yet—the two superheroes don’t even like each other. All that changes when a mysterious man claims to have the answers.

Story By: Jimmie Robinson
Art By: Jimmie Robinson
Cover By: Jimmie Robinson
Tanggal Rilis: 27 April 2016

Di kamarnya, Derrick alias D-Trick merenungi kembali apa yang sudah terjadi dalam 2 hari belakangan. Mulai dari dirinya yang tiba-tiba bisa terbang ke angkasa, hingga pertemuan dengan seorang wanita bernama Sarah yang memiliki kemampuan serupa tapi tak sama dengan dirinya. Ia pun memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal Sarah untuk mengembalikan tas miliknya yang dicuri oleh Tight dkk.

Meski pada awalnya Sarah tidak mau menerimanya karena curiga bahwa D-Trick bakal melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan, pada akhirnya ia mau menerima pengembalian tas tersebut. Derrick kemudian menanyakan perihal kekuatan super milik Sarah, yang oleh Sarah dianggap sebagai kekuatan ‘biasa’ yang tiba-tiba muncul pada saat seorang individu berada dalam bahaya.

Kesal tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari misteri kekuatan super, D-Trick memutuskan untuk kembali pulang. Di halte bus, dua orang wanita (kulit putih) yang melihatnya berniat untuk menunggu bus dengan sigap mengambil jarak darinya. Namun tanpa diduga, seorang pengendara sepeda nyelonong di depan bus yang melintas dan bus tersebut membanting setir ke arah halte. Dengan kekuatannya, D-Trick menghentikan bus tersebut dan membuka paksa pintu untuk memerintahkan para penumpang agar segera keluar karena api telah muncul dari mesin. Meski harus (lagi-lagi) menghadapi kecurigaan penumpang terhadap penampilannya (dan juga kulitnya), Derrick sukses menyelamatkan para penumpang keluar dari bus.

Malang tak dapat ditolak, bukannya mendapat apresiasi, tindakan Derrick justru (lagi-lagi) mengundang kecurigaan dari pihak berwajib (yang kebetulan sedang patroli di seberang TKP) dan mereka menahannya. Beberapa waktu kemudian, seorang reporter TV Action News bernama Pamela Aquino yang mempertanyakan hal tersebut kepada pihak berwajib mendapat jawaban “no comment”, meski faktanya telah beredar video handphone yang merekam aksi heroik D-Trick. Dan setelah melalui perdebatan panjang dengan pihak produser, Action News pun menayangkan berita tersebut dengan tambahan cuplikan wawancara dari masyarakat yang terlibat di TKP, yang pada umumnya berterimakasih atas aksi Derrick.

Di ruang tahanan, secara mengejutkan Sarah datang dan membebaskan D-Trick. Dalam perjalanan ke tempat tinggal D-Trick, Sarah mengakui bahwa ia memang merasakan ada sesuatu kekuatan dalam dirinya. Setibanya di rumah, kejutan kembali hadir dimana Theo a.k.a Tight sudah menunggu kedatangan D-Trick dan ia marah karena mengetahui D-Trick membantu orang-orang kulit putih. Belum sempat D-Trick memberi penjelaskan, sebuah mobil berisikan anak buah Tight melintas di jalan, sembari menembak ke arah Sarah serta D-Trick dan keluarganya!


Aura rasisme semakin terasa di edisi kali ini, terkhusus yang mengitari kehidupan D-Trick semua pemuda negro. Tidak hanya dipandang buruk oleh kaum kulit putih pada umumnya, di kalangannya sendiri pun ia harus berjuang untuk mendapat pengakuan. Ini yang bikin saya ikhlas mengacungkan empat jempol pada komik ini. Sayangnya, meski banyak kejuatan, tidak banyak aksi yang terjadi di sini. Tapi melihat cliffhanger yang tersaji di penghujung halaman, sepertinya kita bakal terpuaskan di edisi mendatang. Semoga.

Tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply