Review Justice League: A Villain’s Journey (2012)

Justice League: A Villain’s Journey mengambil latar masa kini atau 5 tahun setelah Justice League (JL) terbentuk (baca Justice League: Origins untuk kisah awal pertemuan ketujuh superhero anggotanya — Batman, Superman, Wonder Woman, Green Lantern, Aquaman, The Flash, dan Cyborg). Cerita yang diterbitkan dalam TPB Justice League Vol. 2 pada bulan Januari 2013 ini mencakup edisi #7 hingga edisi #12 dari terbitan bulanan komik Justice League. Selain cerita utama, masing-masing edisi juga memuat secara bersambung kisah asal usul Shazam.

jl_villainsjourney

Sebelum review dimulai, perlu diinfokan bahwa di dalam review berikut juga terdapat beberapa spoiler cerita. Untuk format review di sini tidak menggunakan review per edisi, melainkan langsung secara keseluruhan dan sinopsis mungkin tidak berurutan sesuai alur pada komiknya.

Okay, cerita dimulai dari tim A.R.G.U.S yang melawan sepasukan monster dengan dipimpin oleh Col. Steve Trevor. Jumlah dan kekuatan yang tidak sebanding membuat mereka kewalahan. Untungnya Justice League segera hadir dengan formasi lengkap. Tidak hanya mengalahkan pasukan monster, mereka juga dengan mudah menemukan sumber kekacauan tersebut, yaitu supervillain bernama Spore.

Ketidakberdayaan A.R.G.U.S. melindungi masyarakat membuat wartawan mempertanyakan eksistensi mereka. Tidak hanya itu tekanan yang dialami oleh Trevor, melainkan juga dari pemerintah, yang ingin mengetahui apa sebenarnya yang ada di dalam Watchtower dan meminta Trevor, selaku penghubung antara pihak pemerintah dengan Justice League, plus sebagai orang yang memiliki hubungan spesial dengan Wonder Woman, untuk membujuk Justice League agar mau membuka pintu mereka. Trevor menolak dengan tegas karena baginya mereka adalah pahlawan yang sudah pasti bakal membela kebenaran tanpa perlu adanya kontrol atau campur tangan dari pihak pemerintah.

Salah satu yang cukup menarik ada di edisi #8. Di sini diceritakan tentang Green Arrow yang berusaha untuk diterima menjadi anggota dari Justice League. Segala cara telah ia lakukan, mulai dari sekedar membantu mereka mengalahkan penjahat hingga menyelamatkan mereka. Tapi sayangnya, karena tidak mau mengambil resiko menerima anggota baru yang memiliki kemungkinan untuk berkhianat (note: setting cerita di sini adalah pasca Martian Manhunter sempat menjadi anggota Justice League kemudian bermasalah dengan anggota yang lain dan akhirnya keluar dari Justice league), maka tetap saja ia tidak diterima. Kasihan, ya? Di akhir edisi, Trevor mengajak Green Arrow bergabung dengan tim superhero lain yang sedang ia siapkan, Justice League of America.

ss_jl2_1

Setelah cerita selingan tentang Green Arrow yang super kocak ini, barulah cerita utama dari A Villain’s Journey dimulai. Ingat David Graves di TPB Origins? Ia adalah penulis yang membuat buku tentang Justice League. Pasca pertempuran JL melawan Darkseid, satu demi satu anggota keluarganya meninggal karena terkena penyakit yang tidak diketahui. Pun demikian dengan dirinya, yang semakin hari kondisinya semakin parah. Dan ia menyalahkan Justice League atas nasib buruk yang menimpanya. Untuk membalas dendam, ia mendatangi pegunungan Sumeru di Asia dan meminta kekuatan mistis dari (dewa?) Asura. Setelah mendapatkan kekuatan supernya yang lebih berfokus pada serangan-serangan pikiran, ia menasbihkan dirinya sebagai Graves.

Langkah pertama yang ia lakukan untuk mengalahkan Justice League adalah mencari info sebanyak-banyaknya tentang mereka. Ia tidak hanya mengorek informasi dari orang-orang di sekitar mereka, tetapi juga dari musuh-musuh mereka. Salah satu yang ikut dijadikan bahan korek mengorek info adalah Steve Trevor, yang ia sekap dan diancam untuk dihabisi keluarganya jika ia tidak mau membocorkan rahasia-rahasia Justice League. Dengan terpaksa ia pun memberitahukannya pada Graves.

Mengetahui ada seseorang yang mencari informasi tentang mereka membuat para anggota bertanya-tanya. Di sini terungkap fakta bahwa, meski di luar terlihat mereka bertujuh sangat akrab dan percaya satu sama lain, namun masing-masing memiliki rahasia yang tidak diceritakan karena faktor ketidakpercayaan. Saat itu juga, tiba-tiba Graves muncul di Watchtower dengan menggunakan akses dari Trevor. Dan dengan jurusnya yang memanfaatkan trauma terdalam dari seseorang untuk membuatnya super-stress dan super-galau (yah, dibaca sendiri aja deh ntar, susah ngejelasinnya, hehehe), dengan mudah Graves bisa mengalahkan semua anggota JL!

ss_jl2_2

Misi Graves berikutnya adalah menghidupkan kembali keluarganya. Kebetulan, salah satu orang yang paham tentang kehidupan setelah kematian adalah Tracy Trevor, saudara perempuan Steve. Setelah mendapatkan buku tentang afterlife yang ia butuhkan, ia hendak membunuh Tracy. Tapi Superman dkk — yang sudah sadar dari kegalauan — segera hadir via boom tube dan Graves pun turut menghilang.

Wonder Woman yang emosi berniat untuk mencari dan menghajar Graves seorang diri. Tapi rekan-rekannya mencegahnya. Diana tidak bergeming hingga Green Lantern terpaksa menahannya dengan kekuatan cincinnya. Tindakan Hal semakin membuat Wonder Woman emosi dan ia pun mulai menyerang Green Lantern. Superman yang berusaha menghentikan pertempuran di antara keduanya juga makin memperkeruh suasana. Atas inisiatif Batman, Cyborg kemudian membuka portal boom tube yang membawa mereka semua ke mansion milik David Graves.

ss_jl2_3

ss_jl2_4

Dari hasil penyelidikan, terungkap niat Graves untuk berkumpul kembali dengna keluarganya. Batman dkk kemudian menyusul ke pegunungan Sumeru, tempat dimana ritual akan dilakukan oleh Graves. Lagi-lagi, dengan memanfaatkan penampakan terhadap orang-orang yang dicintai oleh anggota JL yang telah mati (mulai dari ortu angkat Superman, ortu Batman, hingga Steve!), dengan mudah Graves mengalahkan mereka. Tiba-tiba Steve muncul, menyerang Graves dengan pistolnya sambil menyatakan bahwa ia belum mati. Kata-kata tersebut menyadarkan para superhero bahwa apa yang mereka lihat tidaklah nyata dan akhirnya mereka bisa berbalik mengalahkan Graves.


Terlepas dari beberapa bagian cerita yang seharusnya bisa diolah menjadi lebih baik lagi, A Villain’s Journey menyuguhkan fakta tentang Justice League (dimana masih ada trust issue di antara anggotanya) serta surprise ending yang tidak diduga. Dan kombinasinya keduanya sudah sangat layak sebagai alasan untuk membaca kisah ini. Jika ada yang membuat saya sedikit kecewa adalah, harapan saya, ketika membaca story arc bernama Villain’s Journey, adalah mendapatkan cerita tentang asal usul supervillain bagi Justice League. Yang satu level di bawah Darkseid lah kelasnya. Tidak hanya sebiji musuh yang di akhir cerita pun bisa dikalahkan semudah ia sebelumnya mengalahkan para anggota JL.

Reply