Review Convergence: Justice League (2015)

Jika yang diharapkan dari tie-in Convergence: Justice League adalah tokoh-tokoh pahlawan papan atas macam Superman, Batman, dan Green Lantern, kita akan kecewa. Karena yang menjadi bintang di mini seri ini adalah superhero-superhero cewek yang meski tidak sering eksis tapi beberapa kali hadir membantu perjuangan para anggota utama Justice League. Ada Supergirl (sepupu Superman dari planet Krypton, kemampuan 11/12 lah ama sepupunya itu), Zatanna (si ahli sihir, membaca mantra dari belakang ke depan), Vixen (memiliki kemampuan segala binatang dan juga bisa berubah bentuk secara fisik menjadi binatang), Jade (anak dari Alan Scott, juga punya cincin hijau seperti ayahnya), Jesse Quick (punya kecepatan super seperti The Flash), dan Mera (ratu Atlantis alias istri dari Aquaman).

Dari deretan karakter di atas sepertinya judul ini menjanjikan sesuatu yang berbeda. Dan ternyata benar, saya sangat menikmati lembar demi lembar cerita yang disajikan oleh Frank Tieri (penulis) dan Vicente Cifuentes (tukang gambar). Duet keduanya mampu memberikan panggung yang pantas bagi gadis-gadis superhero ini.

So, let’s start the review.

Convergence: Justice League #1 (8 April 2015)

c_jl_1

Jesse Quick akan segera melahirkan, dan Kara (Supergirl) terbang secepat mungkin untuk membawanya ke rumah sakit tepat pada waktunya. Dan ia pun berhasil, walau harus dengan potong jalan.. membobol tembok rumah sakit, hehehe. Jade, Vixen, dan Zatanna menyusul, sambil membawa hadiah bagi kelahiran anak Jesse. Tepat pada saat ia melahirkan, dome pun turun menutupi kota Gotham (versi pre-Flashpoint).

Setahun kemudian, kelima superhero ini hangout bareng di sebuah nightclub, bersama dengan Mera yang masih galau karena harus berpisah dengan Aquaman. Tiba-tiba muncullah Telos, mengumumkan kewajiban dua kota untuk bertarung dalam event Convergence, dimana yang menjadi lawan mereka adalah Aquaman versi Flashpoint. Begitu kekuatan mereka kembali, mereka memutuskan untuk fokus mengevakuasi penduduk kota terlebih dahulu sebelum memikirkan masalah pertarungan.

Mera yang memisahkan diri dari rombongan karena mencoba menghubungi Aquaman berhasil diculik oleh prajurit Atlantis dan dibawa ke istana Aquaman. Meski mengetahui bahwa ia bukan Mera dari dunianya, ia tetap memaksa Mera untuk ‘jadian’ dengannya, untuk bersama-sama memimpin Atlantis. Mengetahui bahwa karakter Aquaman yang dihadapinya jauh berbeda dengan yang ia kenal, Mera pun menolak mentah-mentah dan mengatakan bahwa teman-temannya akan segera datang menyelamatkannya. Tak gentar, Aquaman menyatakan bahwa ia juga sudah menyiapkan pasukannya, termasuk para monster laut, untuk menghadapi mereka.

c_jl_ss2


I.AM.A.BIG.FANS.OF.SUPERGIRL. Seandainya cerita di edisi ini kelasnya kacangan pun, satu gambar ini sudah cukup untuk mencerahkan hati.

c_jl_ss1

Ya untungnya ceritanya juga lumayan menarik. Selain bisa melihat sosok Aquaman versi sadis yang tentunya berbeda dengan karakternya di jagad utama DC (Earth-Prime), hadirnya para pahlawan wanita sebagai tokoh utama memberikan nuansa yang berbeda, karena faktanya memang dunia DC lebih banyak dikuasai oleh superhero pria. Pun demikian dengan kualitas gambar yang tidak mengecewakan. Tapi ngomong-ngomong pas liat halaman terakhir (yang full satu halaman berisi gambar monster laut) kok jadi malah inget ama One Piece, ya?

Convergence: Justice League #2 (6 Mei 2015)

c_jl_2

Pertarungan pun dimulai. Supergirl, Zatanna, Jade, dan Jesse menghadapi kolaborasi prajurit Atlantis dan monster laut yang dipimpin oleh Ocean Master (saudara Aquaman), sedang Vixen menyusup ke istana untuk menyelamatkan Mera. Rencananya berhasil, tapi keburu ketahuan oleh Aquaman sebelum keduanya sempat melarikan diri. Di saat genting dengan tertangkapnya Jesse, Zatanna, dan Jade, Supergirl datang untuk menghajar Aquaman.

c_jl_ss3


Banyak kejutan cerita di edisi #2 ini yang saya yakin cukup untuk membuat kita bersemangat membaca hingga halaman terakhir. Udah gitu aja, bingung soalnya kali ini harus ngomong apa lagi. Pokoke baca deh kalo sempat 🙂

Reply